Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 186: Orang-orang Celt.



Tak beberapa lama kemudian, seorang lelaki yang terlihat berusia tiga sampai empat puluhan tahun memasuki kabin dengan di pandu oleh proyeksi Firstia. Kesatria itu nampak bingung dengan apa yang dia lihat. Namun, setelah dia melihatku, dia nampak mengenaliku dan membungkuk ke arahku.


"Putri...!"


Filia:"Kamu mengenalku?."


Aku ingat dengan jelas bahwa aku belum pernah melihat kesatria ini. Tapi dari caranya menyapaku, sepertinya dia mengenaliku. Bukan mengenalku hanya sebatas karena aku adalah putri dari keluarga Rosefield, tapi sepertinya dia mengenalku dengan cukup baik.


Losen:"Saya Losen. Tiga tahun lalu, saya pernah menolong seorang anak yang hampir tenggelam di kolam belakang rumah karena mau menangkap seekor capung."


Tunggu... Sepertinya aku ingat kejadian itu. Tunggu sebentar...!!! Bukankah itu aku. Setidaknya Filia. Tapi, tapi aku dan Filia sekarang satu, jadi, itu aku. Ya, kan?!.


Filia:"Paman semak...!."


Aku terkejut dan langsung berdiri. Itu adalah ingatan yang telah jauh terpendam di kepala Filia. Sekarang jiwaku dan jiwa Filia telah menyatu menjadi jiwa yang baru, jadi kami adalah satu eksistensi Filia yang baru. Dengan demikian, perasaan Filia juga menjadi perasaanku.


Filia yang dulu memanggilnya Paman semak saat bertemu di ulang tahunnya yang ke lima. Filia memanggilnya demikian karena paman itu memiliki rambut panjang yang tidak terawat seperti semak belukar. Tapi sekarang, rambutnya di potong pendek dan terlihat sangat rapi yang membuat penampilannya sangat berbeda, jadi wajar jika aku hampir tidak mengenalinya.


Kemudian suatu hari, paman itu sedang berkunjung ke mansion di Rosefield Dukedom. Karena aku kurang berhati-hati saat ingin menangkap seekor capung, akhirnya aku terpeleset dan terjebur ke dalam kolam. Jika paman itu tidak lewat dan melihatku, mungkin aku akan tenggelam.


Losen:"Hahaha... Ternyata anda masih mengingat saya. Saya sangat tersanjung."


Filia:"Bagaimana bisa saya melupakan Rahmat penyelamat nyawa waktu itu."


Losen:"Tidak ada. Saya hanya mengulurkan tangan pada seorang gadis ceroboh..."


Meskipun bukan aku yang ceroboh, tapi aku masih merasa malu. Yah, mungkin ini adalah rasa malu Filia yang dulu. Namun, aku melihat sesuatu disini. Sepertinya paman Losen tidak memiliki beban sedikitpun di hatinya setelah dia hampir terbunuh. Melihatnya seperti ini, aku memiliki tebakan samar di hatiku.


Filia:"Paman, apakah paman ingat apa yang terjadi sebelum paman tidak sadarkan diri?."


Mendengar pertanyaanku, paman Losen nampak terdiam dan memikirkan sesuatu. Hingga beberapa saat kemudian, paman Losen menatapku dan menggelengkan kepalanya.


Losen:"Saya hanya mengingat bahwa saya berangkat dari perbatasan bersama Duke dan yang lainnya. Setelah itu, saya tidak mengingat apapun."


Seperti yang aku duga. Karena luka dan kerusakan otak yang ia terima, paman Losen kehilangan ingatan jangka pendeknya. Yah, ini juga bukan masalah besar. Itu hanya ingatan jangka pendek yang tidak terlalu berpengaruh padanya. Jadi, aku tidak perlu memberikan perawatan medis lebih lanjut.


Filia:"Yah, tidak apa-apa. Paman, beristirahatlah terlebih dahulu untuk memulihkan kondisi tubuhmu."


Losen:"Tapi, sebenarnya apa yang terjadi?."


Filia:"Untuk saat ini, paman tidak perlu tahu. Nanti paman bisa bertanya pada ayah dan ibu. Saat ini mereka sedang beristirahat. Firstia, tolong antar pasien kita ke ruang perawatan."


Firstia:"Di terima, Yang Mulia."


Sebelum menjadi lebih panjang dan supaya paman tidak bertanya lebih banyak, aku langsung memberi perintah pada Firstia untuk mengantarkan kembali paman Losen ke kamar perawatan. Karena kondisinya sudah hampir pulih, jadi dia tidak perlu di rawat di kabin medis. Dia hanya perlu di berikan kamar biasa yang di awasi oleh beberapa robot medis untuk memantau kondisinya.


Setelah melihat paman Losen pergi, aku duduk kembali dan merenggangkan punggungku.


Filia:"Ahhh... Lelah sekali."


Ilma:"Putri, tolong beristirahat terlebih dahulu."


Filia:"Yah, aku akan beristirahat sebentar."


Aku memikirkan saran Ilma dan akhirnya setuju. Tubuhku memang kuat, tapi melakukan sesuatu pekerjaan secara terus menerus juga akan membuat bosan. Mentalitas pekerja keras juga akan menjadi kurang bersemangat. Jadi, sebaiknya aku beristirahat untuk mengembalikan mentalitasku sendiri.


Kursi yang aku duduki segera menyesuaikan bentuknya untuk membuatku bisa beristirahat dengan nyaman. Dengan demikian, aku tidak perlu pindah ke kamar hanya untuk beristirahat.


.....


Aku bangun di keesokan paginya. Badanku terasa sangat nyaman dan menyegarkan. Saat aku bangun, Ilma sudah menyiapkan beberapa sarapan untukku.


Ilma:"Selamat pagi, Putri."


Filia:"Hoam... Pagi Ilma."


Aku menguap dan menjawab sambutan Ilma. Setelah itu, aku pergi ke kamar mandi kapten untuk membersihkan diri sebelum menyantap sarapan.


Jika aku menggunakan kecepatan kapal ini untuk kembali ke ibu kota, mungkin hanya memakan waktu beberapa saat. Tapi, karena aku harus pergi bersama dengan beberapa kapal kerajaan yang terbang sangat lambat, perjalanan akan memakan waktu selama tiga sampai empat hari tanpa istirahat.


Entah bagaimana para kesatria itu bisa mempertahankan kesabaran mereka dalam perjalanan selambat itu.


Filia:"Dimana yang lainnya?."


Ilma:"Tuan Sebas, dia sepertinya sedang membersihkan kafetaria. Untuk nona Liris dan Stern, mereka berdua berada di ruang latihan dan mendapatkan petunjuk dari Tuan Losen."


Yah, mendapatkan petunjuk dari seorang kesatria yang berpengalaman akan menjadi hal yang baik untuk mereka berdua. Jadi, aku cukup senang mendengar hal itu.


Filia:"Lalu, untuk ayah dan ibu?."


Ilma:"Tuan dan Nyonya masih beristirahat."


Oh?. Sangat tidak biasa bagi ayah dan ibu untuk bangun terlambat. Apa mungkin mereka terlalu lelah setelah banyak hal yang terjadi?!. Mungkin memang seperti itu. Biarkan saja mereka berdua beristirahat sampai lelahnya hilang. Lagi pula tidak ada yang bisa di lakukan.


Saat waktu menunjukkan pukul sembilan lima belas menit, semuanya berkumpul di ruang kontrol. Sebuah meja panjang muncul untuk mengakomodasi semua orang. Tak lama setelah itu, Ayah dan ibu juga tiba. Aku mendengar bahwa mereka baru saja sarapan dari kafetaria dan sangat memuji makanan yang di sediakan.


Kami berkumpul bukan karena ada tujuan tertentu, tapi hanya duduk santai sambil meminum teh.


Harnas:"Oh, sayang..."


Filia:"Ada apa Bu?."


Ibu menunduk dengan sedikit malu. Aku tidak tahu apa yang terjadi.


Harnas:"Itu,... Ehem...B, bisakah kamu memberitahu ibu bagaimana cara membersihkan kamar?."


Tiba-tiba ibu menanyakan sesuatu yang aneh. Ini benar-benar membingungkan. Aku tidak mengerti kenapa ibu bertanya seperti itu. Aku tidak paham dan melihat Sebas yang sedang berdiri di belakang ayah. Dia memiliki senyum di wajahnya dan nampak sangat pengertian.


Karena aku tidak mengerti, jadi aku bertanya langsung kepada ibu.


Filia:"Kanapa ibu tiba-tiba mau membersihkan kamar?."


Ehem...3x


Tiga orang termasuk Sebas terbatuk secara bersamaan. Wajah ayah sangat canggung dan terlihat aneh. Begitu juga dengan ibu, dia terlihat malu dengan ujung telinganya yang sedikit memerah.


Harnas:"Ah.. i, itu... Ibu hanya kurang nyaman setelah memakainya tanpa membersihkannya."


Oh, ternyata seperti itu. Aku kira kamar itu terlalu kotor setelah lama tidak di gunakan. Tapi sepertinya hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Dengan berbagai sistem perawatan otomatis di kapal ini, pembersihan akan di lakukan secara rutin dan mencegah kotoran di interior kapal. Hampir tidak mungkin ada kotoran dan debu di dalam kapal.


Filia:"Ibu tidak perlu repot. Ada sistem pembersihan otomatis di kapal ini. Jadi, tidak peduli sekotor apa, sistem akan membersihkan kamar dan mengganti semua peralatan tidur setelah di gunakan."


Harnas:"O, oh.. Jadi seperti itu. Benar-benar kapal yang sangat canggih."


Firstia:"Yang Mulia, ada seseorang yang meminta izin masuk."


Layar proyeksi menunjukkan gambar paman Losen di depan pintu ruang kontrol.


"Losen...!" 2x


Melihat gambar itu, ayah dan ibu langsung berdiri dengan terkejut. Kebahagiaan segera terpancar dari wajah mereka berdua. Paman Losen, selain bawahan ayah, dia juga teman ayah yang sangat berharga.


Filia:"Izinkan dia masuk."


Pintu terbuka dan paman Losen masuk ke dalam ruangan. Begitu melihat ayah dan ibu, paman Losen membungkuk dan menyambut mereka berdua. Ayah dan ibu juga segera meninggalkan tempat duduknya dan pergi menghampiri paman Losen yang sedang membungkuk.


Rovell:"Losen. Syukurlah kamu baik-baik saja."


Harnas:"Ya. Tidak sia-sia aku melatih mu."


Rovell:"Tapi bagaimana..?. Aku dengan jelas melihat mu..."


Meskipun wajah ibu terlihat tangguh, tapi aku bisa melihat kepuasan di matanya. Ayah juga sangat bahagia. Ayah penasaran dengan bagaimana paman Losen bisa selamat, tapi dia tidak melanjutkan pertanyaannya.


Losen:"Duke, Marshal, sebenarnya apa yang terjadi?."


Paman Losen nampaknya masih penasaran dengan apa yang terjadi padanya hingga dia di rawat di ruang medis kapal ini. Mendengar pertanyaan paman Losen, ayah dan ibu saling pandang dan nampak tidak mengerti kenapa paman Losen mengajukan pertanyaan ini.


Filia:"Meskipun luka dan cidera pada tubuh paman Losen berhasil di sembuhkan, tapi karena sebelumnya otak Paman Losen mengalami beberapa cedera, Paman Losen melupakan ingatan jangka pendeknya."


Harnas:"Jadi seperti itu. Aku mengerti."


Losen:"Syukurlah... Syukurlah..."


Mendengar cerita dari ayah dan ibu, paman Losen sama sekali tidak memiliki perasaan menyesal atau takut. Justru paman Losen memiliki perasaan bersyukur yang aneh.


Losen:"Syukurlah, Duke dan Marshal selamat."


Rovell:"Ya!."


Percakapan di meja menjadi sangat bahagia setelah beberapa momen mengharukan.


Hari-hari yang tersisa di kapal dihabiskan dengan banyak kegembiraan. Hingga beberapa hari kemudian, tembok ibu kota bisa di lihat di kejauhan. Beberapa prajurit naik di atas tembok dengan mantel tebal dan tombak di tangannya. Salah satu dari mereka melihat ke arah kapal kami datang menggunakan teropong.


Setelah menkonfirmasi bahwa itu adalah kapal kerajaan, beberapa prajurit segera melambaikan bendera merah yang menandakan bahwa kapal bisa lewat langsung tanpa pemeriksaan.


Ahhh... Akhirnya tiba juga.


.....


(Ruang Independen.)


Matahari bersinar sangat terik seperti biasa. Seekor rusa jantan bertanduk putih sedang menikmati rumput sendiri di bawah pohon dengan damai. Tapi rusa itu tidak menyadari bahwa di beberapa semak, ada lima pasang mata yang mengawasi.


Sebuah moncong dari kayu menjulur secara perlahan dari celah semak, membidik tepat ke arah rusa itu.


Sputt...!


Dengan suara angin teredam, sebuah proyektil seukuran pensil terbang dari moncong itu dan tepat mengenai bagian belakang rusa.


Mbeee...!


Dengan suara keras, rusa jantan itu terkejut dan langsung lari ke kejauhan, meninggalkan posisinya semula. Melihat rusa yang lari, lima sosok berdiri di antara semak dan melihat ke arah perginya rusa jantan itu. Mereka memiliki rambut hitam dengan pakaian terbuat dari kain yang di tenun menggunakan serat kapas yang halus.


Tinggi kelima sosok itu hanya sekitar 1,6 meter dengan wajah yang masih agak kekanak-kanakan. Penampilan mereka seperti manusia normal tanpa ada karakteristik apapun. Beberapa dari mereka, memiliki busur di punggungnya, sementara salah satu dari mereka memegang batang panjang yang lurus dengan lubang di tengahnya.


"Pergi, kejar rusa itu...!"


Salah satu pria langsung memberi perintah kepada yang lainnya. Melihat dari pakaiannya yang lebih baik daripada yang lain, orang itu dapat di pastikan bahwa dia adalah pemimpin dari kelompok lima orang ini.


Mendapatkan perintah dari sang pemimpin, keempat lainnya segera pergi mengejar ke arah rusa dan meninggalkan pemimpin sendirian. Mereka tidak akan terlalu khawatir bahwa rusa itu akan melarikan diri karena di amunisi sumpit itu telah di lumuri menggunakan racun syaraf yang dapat melumpuhkan makhluk hidup.


Grosa... Grosa...!


Setelah keempat orang itu pergi, ada suara gemerisik dari semak-semak sekitar. Dari balik semak, muncul selusin orang dengan baju besi kulit yang menghampiri pemuda itu.


"Pangeran, kenapa anda melarikan diri?."


"Jika kalian terus mengikutiku, bagaimana bisa aku menemukan mangsa untuk di buru,?!."


Anak yang di panggil dengan sebutan pangeran itu menjawab pertanyaan salah satu prajurit dengan sangat kesal. Memang seperti itu. Semenjak datang ke hutan ini, binatang yang akan dia buru selalu lari terlebih dahulu saat melihat rombongan mereka dari kejauhan, jadi jika pangeran tidak meninggalkan rombongan dan mengajak sedikit orang, mungkin dia tidak akan pernah mendapatkan binatang buruan.


"Tapi pangeran, hutan ini sangat berbahaya. Di katakan bahwa banyak monster legendaris yang mendiami hutan ini."


Pengarwal itu masih sangat khawatir dan menjelaskan kepada sang pangeran tentang bahaya di dalam hutan. Dia terus mengoceh tentang seberapa mengerikan monster di dalam hutan dan seberapa menakutkannya hutan itu.


"Ya ya, aku tahu. Kita hanya di pinggir hutan, jadi jangan terlalu khawatir."


Pangeran berjalan dengan santai ke arah monster itu berlari dengan di ikuti oleh selusin pengawal. Beberapa saat kemudian, pangeran itu kembali bertemu dengan empat anak lainnya yang mengerumuni rusa yang lemah di tanah.


"Selesaikan!."


"Baik!."


Seorang pemuda segera mengeluarkan sebuah pisau dari pinggangnya dan menusuk langsung di tenggorokan rusa jantan itu. Darah merah menodai rumput dan dengan rengekan terkahir, rusa itu mati.


Grosa....!


Tiba-tiba ada suara di semak-semak. Semua orang segera waspada dan menggenggam senjata mereka. Pangeran yang terlihat lembut itu meraih busur di punggungnya dan mulai membidik ke arah suara berasal.


Seekor kelinci melompat dari semak. Sebelum kelinci itu mengambil lompatan ke dua, sebuah anak panah meluncur dengan cepat dan menembus tubuhnya.


"Kemampuan memanah pangeran semakin baik."


"Itu benar."


"Luar biasa pangeran."


Anak-anak muda lain dan pengawal yang bersamanya memberikan pujian tanpa ragu. Memang benar bahwa kemampuan memanah sang pangeran lebih unggul dari orang lain dan bahkan bisa di katakan cukup baik di seluruh kerajaan.


"Itu hanya binatang biasa. Jika itu monster, maka akan sulit membunuhnya tanpa menggunakan aura."


Pangeran itu tidak menunjukkan wajah bangga atas pujian semua orang. Jika di bandingkan dengan monster, binatang biasa memang sangat mudah. Selain memiliki refleks dan gerakan yang lincah, monster juga memiliki tubuh yang sangat kuat dan sulit untuk di tembus menggunakan senjata biasa. Tapi yang paling merepotkan adalah bahwa monster bisa menggunakan aura dan bertarung dengan para pejuang.


Rombongan itu kembali melanjutkan perburuan. Tapi, mereka tidak masuk lebih jauh ke dalam hutan. Hutan ini belum di kembangkan oleh manusia bukan tanpa alasan, tapi hutan ini terlalu menakutkan. Monster legendaris yang bisa menghancurkan kerajaan dalam semalam berkeliaran dengan bebas di tempat ini.


Jika monster-monster itu menyerang wilayah manusia, maka manusia akan musnah dalam sekejap. Tapi beruntung bahwa manusia hanya mendiami bagian terluar dari daratan. Bagian dalam di katakan memiliki monster yang lebih mengerikan.


.....


"Matahari sudah mulai terbenam, segera bereskan semuanya dan kembali ke istana."


"Baik pangeran!."


Kelompok orang itu segera mematikan api unggun dan membersihkan sisa api yang mereka nyalakan untuk membakar beberapa binatang buruan.


Fiuittt....!


Seorang pria muda di kelompok itu membunyikan peluit menggunakan jarinya ke arah luar hutan. Sesaat setelah itu, lebih dari selusin kuda datang dengan bersemangat. Tapi ada satu bintang selain kuda yang memimpin kawanan itu. Itu adalah seekor harimau putih yang berukuran besar.


Harimau itu mengaum dan segera menggosokkan kepalanya pada sng pangeran. Pangran itu juga dengan sabar membelai bulu dari harimau itu yang membuat harimau itu mendengkur seperti seekor kucing. Dilihat dari interaksi keduanya, monster dan manusia itu terlihat sangat akrab.


Harimau putih adalah simbol dari kerajaan si pangeran. Dan harimau yang bersama pangeran, itu adalah keturunan dari monster harimau putih yang menjaga kerajaan.


Sebelum pergi, mereka membiarkan binatang tunggangannya untuk makan terlebih dahulu. Untuk harimau, pangeran itu melemparkan beberapa binatang yang telah ia buru.


Setelah semua binatang tunggangan selesai makan, pangeran itu segera menaiki punggung harimau dan memimpin pasukan untuk pergi. Saat mereka meninggalkan hutan dan menaiki bukit tinggi, tiba-tiba burung-burung beterbangan menjauhi hutan dengan sangat aneh.


Saat matahari tenggelam, seharusnya burung-burung itu kembali ke sarang atau mencari dahan untuk beristirahat, tapi ini, burung-burung itu justru meninggalkan hutan dengan sangat cepat.


Melihat keanehan itu, rombongan orang yang di pimpin pangeran melihat jauh ke dalam hutan. Di atas lautan hutan yang hijau, burung-burung terbang dengan sangat panik. Bahkan suara monster-monster yang menyeramkan menggeram dengan penuh ketakutan.


Karena pangeran dan rombongannya berada di atas bukit dan bisa melihat ke kejauhan hutan tanpa terhalang apapun, mereka bisa melihat semua keanehan itu.


"Apa yang terjadi?."


Melihat kawanan burung yang panik, seorang pemuda yang mengendarai kuda hitam di samping pangeran bertanya dengan bingung. Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu karena memang tidak ada yang tahu jawabannya.


Swoss.....!!


Tiba-tiba angin berdesir ke arah hutan. Pangeran dan yang lainnya sangat terkejut merasakan angin itu. Itu bukan hanya sekedar hembusan angin, tapi angin itu adalah manifestasi dari aura yang berkumpul dengan sangat cepat dan dalam jumlah besar.


"Lihat itu..!."


Tiba-tiba seorang pengawal berteriak sambil menunjuk ke kejauhan hutan. Sebuah cahaya merah melesat ke langit seakan menghubungkan antara langit dan bumi. Di langit yang semakin gelap, cahaya merah itu terlihat sangat jelas dari jarak yang sangat jauh.


Burung-burung dan binatang buas mulai panik dan berlarian. Meskipun dari jarak yang sangat jauh, pangeran dan para pengawalnya juga merasakan perasaan tertindas dari cahaya itu.


Karena hutan ini sangat luas, cahaya itu datang seakan dari kedalaman hutan. Tapi pangeran itu tahu bahwa itu bukan cahaya dari dalam hutan, melainkan dari Padang rumput yang di katakan berada di ujung hutan monster ini. Padang rumput yang sangat luas, tapi tidak dapat di sentuh oleh manusia.


Pangeran itu melihat pilar cahaya yang bersinar terang dengan penuh kebingungan dan ketakutan di matanya...


Sebenarnya, apa itu....?


(Akhir dari chapter ini.)


Aku mengetik menggunakan ponsel dan beberapa hari ini ponselku bermasalah. Aku tidak tahu kenapa, tapi ponselku sangat sering restart sendiri dan kadang-kadang skrip novel yang sudah aku tulis menghilang yang membuat suasana hatiku sangat buruk.


Aku tidak tahu ada masalah apa dengan ponselku. Yah, lagi pula ini hanya ponsel tua yang aku beli beberapa tahun lalu, jadi mungkin wajar jika rusak.


Karena itu, aku harus minta maaf atas keterlambatan updatenya...