
Hari ini cukup melelahkan bagiku, tapi ini belum berakhir. Setelah di pastikan bahwa aku berhasil memenangkan semua tantangan, aku tinggal menunggu keputusan ibu dan istana.
Sambil menunggu hal itu, aku mengajak mama pergi untuk meminjam meja di divisi Forger. «Damaskus Vergoldet» yang telah aku buat akan aku gunakan untuk mengupgrade pedang milik mama. Mungkin pedang itu terlibat bagus di mata orang lain, tapi sebagai seorang blacksmith yang berpengalaman, aku tahu bahwa pedang yang selalu mama gunakan hanya berupa embrio yang belum selesai di buat. Aku ingin menyelesaikan konstruksi pedang itu dan menyempurnakannya menjadi pedang yang sesungguhnya.
Harnas:"Sayang, apa kamu mau membuat senjata?."
Filia:"Ma, apakah pedang itu di temukan di reruntuhan kuno?."
Aku bertanya pada mama tentang pedang yang selalu dia bawa.
Harnas:"Ya. Kakekmu yang memberikannya pada mama..."
Menurut apa yang di katakan mama, kakek menemukan pedang itu di reruntuhan kuno bawah laut di wilayah Ocean Elf saat mama masih kecil. Sejak saat itu, mama selalu membawa pedang itu kemanapun dia pergi. Beberapa tahun kemudian, kakek turun Takhta dan pergi ke perbatasan sehingga mama jarang bertemu dengannya. Setelah menikah dengan ayah, mama bahkan belum bertemu dengan kakek lagi.
Harnas:"Apakah ada sesuatu dengan pedang ini, sayang?."
Filia:"Ma, bisakah aku melihatnya?."
Harnas:"Tentu."
Mama memberikan pedang yang ada di pinggangnya kepadaku. Jika itu orang lain, mama tidak akan pernah membiarkan orang itu memegang pedang miliknya. Sebelum mengambil pedang itu dari tangan mama, aku ingin memeriksa pedang itu terlebih dahulu.
«Omniscient Eye»
.....
Embrio pedang.
Kondisi: Penyatuan tidak lengkap.
Serangan: +10
Mana Vessel: C+
.....
Saya pedang itu masih sangat sederhana. Bagaimanapun, itu hanya embrio. Namun, sebagai embrio, pedang ini bisa di katakan cukup bagus. Yang membuatku bahagia adalah kondisi pedang itu.
Penyatuan tidak lengkap. Itu berarti pedang itu hampir menyatu dengan mama. Jika mama mau memberikan sedikit jiwanya pada pedang itu, maka pedang itu bisa menyatu sepenuhnya.
Saat pedang itu menyatu sepenuhnya, pedang itu akan menjadi beberapa kali lipat lebih kuat daripada yang seharusnya saat mama menggunakannya. Sebaliknya, jika pedang itu di gunakan oleh orang lain, pedang itu akan menjadi beberapa kali lebih lemah.
Dengan penyatuan juga, mama akan lebih mudah menggunakan pedang itu, seakan pedang adalah bagian dari dirinya sendiri. Statistik pedang juga akan semakin meningkat, mengikuti peningkatan kekuatan dari pemiliknya.
Selain keadaan yang hampir menyatu, Mana Vessel pedang yang merupakan grade C+ juga sangat bagus. Mana Vessel sebuah senjata akan di mulai dari E hingga A, untuk senjata non Divine. Hanya divine weapon yang akan memiliki tingkat dia tas grade A, yang di sebut sebagai Star Grade.
Setiap peningkatan mana vessel akan di mulai dari E. Jika penggunaan menggunakan mana pada pedang grade E, maka setiap serangan akan meningkat sebanyak satu poin di tambah serangan tambahan dari senjata itu sendiri. Setiap kenaikan satu grade, maka serangan menggunakan mana akan di tingkatkan sebanyak sepulu kali.
Berarti, Grade C+ milik mama dapat meningkatkan serangannya sebesar lebih dari seratus, tepatnya adalah 120 di tambah serangan tambahan 10, maka serangan mama menggunakan mana akan meningkat sebanyak 130 poin yang cukup bagus.
Saat aku mengambil pedang itu dari tangan mama, seluruh statistik pedang itu turun drastis. Serangan tambahan hanya berada di angka 3 poin. Melihat pedang ini, aku mengangguk dengan puasa.
Filia:"Ma, pedang ini masih bisa di tingkatkan. Bolehkah aku meningkatkannya?."
Harnas:"Benarkah?!... Ya, ya. Lakukan apa yang kamu mau sayang."
Mama menjadi sangat bersemangat dengan mata cerah yang berkilau. Jika ada orang lain yang berani mengatakan hal ini kepada mama, aku yakin mama akan mengabaikannya atau malah memukulnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari mama, aku mulai mempersiapkan semua peralatan yang aku perlukan. Meskipun ini hanya senjata tingkat rendah, tapi aku harus berhati-hati. Bagaimanapun, ini adalah senjata kesayangan mama, aku tidak mau membuat kesalahan yang akan membuat mama kecewa.
Selain mama, karena aku tidak menggunakan ruangan khusus, ada banyak orang yang memperhatikanku dari jarak aman. Untuk anak-anak divisi Forger, aku sudah terbiasa, tapi haruskah instruktur dan yang lainnya juga memperhatikanku?!.
Aku mulai menenangkan hatiku dan fokus dalam penempaan. Api Phoenix perak menyala dengan tenang di dalam tungku. Selain «Damaskus Vergoldet», aku juga harus menambahkan beberapa jenis logam lain untuk menjaga keseimbangan bahan.
Setelah semua bahan dan peralatan siap, aku memasukkan pedang ibu ke dalam tungku. Bagian gagang pedang mulai terbakar menjadi abu karena hanya terbuat dari kayu. Saat awal di temukan, pedang itu hanya berupa bilah tanpa gagang.
Desain seperti itu terlalu kuno bagiku, jadi aku bermaksud memodifikasi sedikit bagian yang kurang menarik.
Saat bilah pedang mulai memerah karena panas,aku memasukkan bubuk logam Asteri ke dalamnya. Bubuk logam yang hanya seukuran pasir itu segera di lebur menjadi logam cair. Logam cair bergerak perlahan menuju ke bilang pedang yang berwarna merah menyala.
Aku memanaskan bilah pedang ibu supaya pori logam yang sudah di padatkan itu sedikit merenggang. Setelah setiap pori logam merenggang, cairan besi Asteri akan menyelinap melalui pori-pori itu dan menyatu dengan bilah pedang.
Aku memilih logam Asteri karena sifat logam Asteri memiliki kompatibilitas yang sangat besar terhadap elemen api dan cahaya. Dengan demikian, senjata ini akan lebih sesuai dengan elemen cahaya bulan milik ibu.
Namun, cahaya bulan merupakan cahaya elemen dingin Yanga akan sedikit berlawanan dengan sifat panas Asteri. Untuk menghilangkan hal itu, maka aku perlu menambahkan jenis logam lain yang beratribut dingin.
Setelah logam Asteri menyatu dengan pedang, aku mengeluarkan dua bubuk logam yang lain. Bubuk logam pertama adalah logam es yang beratribut dingin, sementara logam yang satunya merupakan logam kekacauan yang berwarna abu-abu. Logam kekacauan memiliki sifat netral sehingga dapat menstabilkan logam yang beratribut berlawanan saat di satukan.
Setelah kedua jenis logam itu melebur, aku juga menyatukan kedua jenis logam itu ke dalam bilah pedang yang sedikit mendingin. Kenapa aku tidak memasukkan ketiganya dalam waktu yang bersamaan?.
Logam Asteri yang beratribut panas aku satukan pertama kali supaya logam itu bisa sedikit mendingin karena jika masih dalam keadaan panas, sifat logam Asteri akan menjadi lebih liar. Setelah sifat panasnya sedikit mereda, aku baru menggabungkan kedua jenis logam yang lain.
Saat logam es dan logam kekacauan menyelinap melalui pori-pori bilah logam, tiba-tiba bilah logam yang melayang dengan tenang di tungku mulai bergetar. Permukaan pedang yang halus seperti besi mendidih dengan banyak gelembung.
Jika penempa biasa yang melakukan proses ini, dia hanya akan menciptakan ledakan besar dan menghancurkan semua bahan. Namun aku yang pernah menciptakan berbagai jenis senjata dengan berbagai bahan sudah terbiasa melihat pemandangan ini. Langkah selanjutnya yang perlu aku ambil hanyalah untuk mencoba mencari keseimbangan dari ketiga bahan itu.
Percikan-percikan logam panas itu seperti kembang api yang terlontar ke sekitar dan menghantam tungku. Cairan besi yang terpisah itu segera melayang kembali ke bilah pedang dan kembali memercik. Proses seperti itu berlangsung secara terus menerus hingga beberapa saat.
Setelah mulai tenang, aku mengeluarkan bilah pedang itu dari dalam tungku. Permukaan pedang yang halus sudah hilang, dan di gantikan oleh permukaan pedang yang penuh tonjolan logam tak beraturan, membuat bilah pedang yang semula indah menjadi sangat jelek.
Warna memerah logam panas mulai menghilang karena semakin dingin. Setelah bilah pedang itu dingin, saatnya aku menggunakan «Damaskus Vergoldet» untuk menyelesaikannya.
Aku memasukkan «Damaskus Vergoldet» ke dalam tungku dan mulai meleburnya. Logam emas berlapis yang indah itu menjadi merah dengan cepat dan akhirnya meleleh menjadi logam cair yang panas. Cairan logam itu terus melayang di dalam tungku dengan sedikit bergelombang di permukaannya.
Bilah pedang yang terlihat penuh tonjolan dan jelek itu melayang secara perlahan ke dalam tungku. Mulai dari ujung pedangnya menembus ke dalam bola cairan logam panas hingga ke bagian pangkal pedang.
Reaksi logam yang keras kembali terjadi. Setelah logam panas menutupi seluruh bagian bilah pedang, permukaan kembali mendidih dengan keras.
Aku bisa merasakan kekhawatiran mama setelah melihat kondisi pedangnya, tapi dia tidak mengatakan sepatah katapun. Aku memanaskan bilah pedang itu kembali hingga berwarna merah. Ujung pedang aku pegang menggunakan penjepit besi dan mengambil palu milikku. Setelah itu meletakkan bilah pedang yang masih merah itu ke atas Paron dan siap menempa.
Dentingan besi dan cipratan kotoran besi yang terkelupas menjadi pemandangan di sekitarku. Setelah bilah pedang mendingin, aku memanaskannya lagi dan menempanya. Proses seperti ini harus di lakukan secara berulang-ulang hingga pedang terbentuk sempurna.
Entah berapa lama waktu berlalu, akhirnya bilah pedang itu sudah terbentuk sempurna. Di bagian gagangnya adalah gumpalan besi persegi. Seluruh tubuh pedang terlihat abu-abu saat mendingin karena bekas terbakar.
Bilah pedang itu sudah terlihat sempurna. Pedang ramping bermata dua itu terlihat ramping dan tipis. Panjangnya beberapa senti lebih panjang daripada di awal. Saat ini panjang dari pedang itu sekitar 1,6m dan yang cukup panjang untuk ukuran pedang. Lebar bilahnya sekitar 30-35cm.
Meskipun terlihat ringan, tapi sebenarnya pedang ini cukup berat dengan berat sekitar lima kilogram. Setelah pedang benar-benar mendingin, aku mulai membuat bagian gagang pedang. Gumpalan logam persegi itu di ukir dan di bentuk menjadi bentuk yang sederhan dan indah. Bagian cros guard di buat melingkar seperti katana. Di atasnya terdapat ukiran Totem bulan sabit.
Sekarang adalah pengujian titik gravitasi. Aku menguji titik gravitasi dengan jari. Setelah titik gravitasi dirasa bagus, aku masih perlu memasukkan pedang ini kembali ke dalam tungku untuk di panaskan. Setelah panas, aku memasukkan bilah pedang itu langsung ke dalam minyak khusus secara berulang-ulang untuk penyepuhan.
Langkah terakhir adalah mengasah dan membersihkan kotoran di permukaan pedang.
Proses mengasah tidak istimewa. Aku hanya perlu mengasahnya menggunakan batu asah selama beberapa saat. Dan memasukannya ke dalam cairan khusus untu memberikan perlindungan pada bilah pedang. Setelah mencelupkan bilah pedang ke dalam cairan dan mengangkatnya kembali, lapisan abu-abu pada pedang benar-benar menghilang.
Seluruh pedang terlihat berwarna perak murni dengan motif emas yang meliuk-liuk indah. Saat terkena cahaya, akan ada kilatan merah dari logam Asteri yang membuat pedang itu terlihat sangat menawan dan misterius.
Tidak peduli seberapa mudah atau sulit benda yang kita buat, kita akan merasa puas setelah hasilnya sesuai dengan harapan kita. Aku berulang kali mengangguk saat melihat bilah perak emas yang berkilau di depanku.
Setelah memeriksanya dengan Omniscient eye, seluruh statistik pedang sudah sangat meningkat. Serangan tambahan yang di berikan menjadi 100 dengan kesempatan 60% untuk memberikan serangan kritis.
Mana vessel dari senjata ini juga telah meningkat menjadi grade B+ yang akan meningkatkan serangan mama lebih dari seribu poin selain peningkatan yang di bawa pedang itu sendiri.
Selain itu, pedang ini memiliki dua skill senjata, yaitu: «Thirsty for Light» dan «Thousand Bright Swords» yang sangat kuat.
«Thirsty for Light» (Pasif): Menyerap cahaya di sekitarnya dan mengkonversinya menjadi mana bagi pengguna atau merubah kelebihan mana pengguna menjadi serangan cahaya beratribut dingin.
«Thousand Bright Swords»(Aktif): Menciptakan seribu bayangan pedang beratribut cahaya dingin yang dapat di kontrol oleh pengguna untuk menyerang lawan. Setiap bilah pedang akan membawa 20% dari kekuatan pengguna.
Level saat ini 1: Menciptakan sepuluh bayangan pedang. Tingkatkan ke level selanjutnya untuk membuat seratus bayangan pedang.
Aku menyerahkan pedang itu kepada mama supaya mama mencobanya. Aku memberitahu mama bagaimana cara untuk membagi jiwanya kepada bilah pedang.
Lambang bulan di kening mama kembali muncul Dengan Omniscient eye, aku bisa melihat aliran cahaya biru dari Totem bulan itu dan masuk ke dalam bilah pedang. Pola emas pada bilah pedang seperti bergerak dan menata dirinya sendiri, membentuk pola Totem yang terlihat acak.
Setelah selesai, wajah mama menjadi lebih pucat. Ini wajar jika Mama akan mengalami kelemahan selama beberapa saat setelah sebagian kecil jiwanya di masukkan ke dalam pedang.
Saat mama menggunakannya, statistik pedang menjadi meningkat lima puluh persen dan skill pedang «Thousand Bright Swords» sudah meningkat ke level dua.
Ini sangat bagus. Aku membantu mama pergi ke kamarku untuk beristirahat. Aku menyarankan supaya mama beristirahat di kamarku untuk malam ini. Karena mama tinggal malam ini, aku bisa memberinya beberapa suplemen untuk menutrisi jiwanya supaya pulih lebih cepat.
Mengetahui bahwa mama akan tinggal di akademi, ayah pulang bersama dengan Felmina. Di malam hari, mama tidur dengan sangat nyenyak sambil memelukku. Dengan adanya mama di sampingku, aku tidak bisa keluar berburu monster malam ini.
Mama pulang di siang hari setelah kekuatan jiwanya pulih. Tapi Mama tidak langsung menuju ke rumah, melainkan dia pergi ke arena latihan di istana untuk menguji pedangnya yang telah di perbarui.
Ini membuatku sedikit khawatir. Aku takut kalau mama terlalu bersemangat dan akhirnya tidak bisa menahan diri. Jika itu terjadi, aku rasa akan ada kekacauan di arena.
Seperti yang aku duga, beberapa hari kemudian aku mendengar kabar bahwa House of Rosefield harus mengganti rugi kepada istana karena menghancurkan arena latihan kesatria. Itu bukan uang besar, tapi dengan munculnya berita itu, kekuatan House of Rosefield sekali lagi membuat orang lain hanya bisa melihat ke atas.
.....
Udara mulai menghangat. Sudah lebih dari dua bulan setelah pertandingan tantangan di akademi. Salju putuh yang menyelimuti seluruh tempat mencair sedikit demi sedikit, mengalir ke suangan dan meninggalkan jejak gerusan air yang panjang di tanah.
Binatang-binatang kecil yang berhibernadi mulai terbangun dan menyoraki matahari yang bersinar dilangit. Hutan-hutan yang awalnya terlihat begitu sepi, kini mulai kembali riuh oleh suara burung-burung dan binatang lain yang baru bangun dari hibernasi.
Tanah yang membeku mulai memunculkan beberapa jenis tanaman hijau yang biasanya sulit di lihat di musim dingin.
Musim dingin tahun ini lebih panjang dari yang di perkirakan, mencapai lebih dari seratus hari.
Hari ini, aku berjalan-jalan di sekitar akademi, melihat burung-burung yang mulai mengisi kekosongan hutan. Tidak ada yang bisa aku lakukan setelah pertemuan komite siswa pagi ini, jadi aku hanya menghabiskan waktu berjalan-jalan di akademi bersama Ilma dan Liris. Untuk Stern, dia sedang mengurus beberapa hal di komite siswa, bersiap untuk penyambutan siswa yang sebentar lagi akan kembali ke akademi di musim semi.
Filia:"Ilma, sebentar lagi pernikahan ayah dan ibu, kan?."
Ilma:"Benar, Putri."
Filia:"Menurutmu, hadiah apa yang bisa aku berikan kepada mereka?."
Aku benar-benar bingung. Aku tidak tahu hadiah macam apa yang paling tepat untuk pernikahan ayah dan ibu. Mama juga beberapa kali datang ke akademi untuk membahas pernikahan antara ayah dan ibu.
Ilma:"Menurut saya tuan dan nyonya ke dua akan menerima apapun yang anda berikan, Putri."
Filia:"Aku tahu, tapi... Liris, hadiah apa yang akan kamu berikan?."
Aku bertanya pada liris yang berjalan di belakangku.
Liris:"Saya sudah memesan buket Bunga api abadi dari Holy Kingdom sebagai hadiah."
Bunga api abadi. Itu merupakan Bunga merah yang menyala seperti bunga yang terbuat dari api. Bunga itu akan layu setelah mekar selama dua tahun penuh. Karena itulah, bunga api abadi menjadi lambang dari cinta abadi.
Itu sebenarnya adalah ide yang bagus, tapi aku tidak bisa memberikan buket bunga. Mungkin aku akan memberikan sepasang liontin. Tapi bagiaman dengan perasaan mama jika ayah memakai liontin yang sama dengan ibu, tapi mama tidak mengenakannya?.
Ini membuatku bingung sejenak. Atau mungkin, aku berikan saja kepada ketiganya?!. Tidak, itu juga tidak akan berhasil.
Pikiranku terus melayang. Aku pergi ke hutan belakang akademi tanpa di sadari. Aku melihat Khaim yang berlatih di antara pepohonan dengan menggunakan tongkat.
Perkembangannya sangat bagus setelah mendapatkan skill book yang aku berikan. Aku ingin tahu akan seberapa jauh dia berkembang di masa depan.
Aku menyapanya dan memberikan beberapa petunjuk saat dia berlatih, kemudian aku pergi ke kafetaria. Sepanjang jalan, aku memperhatikan bahwa akademi menjadi semakin ramai dengan semakin bertambahnya siswa yang kembali ke akademi.
(Akhir dari chapter ini.)
Maaf Khaim, ini belum waktumu untuk bersinar...
Jika menemukan kesalahan dalam pengetikan atau peletakan kata yang tidak tepat, tolong segera memberi tahu author. Aku akan segera memperbaikinya.