Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 70: Seorang Kenalan



pemandangan yang tidak dapat dipercaya ini membuat otakku seperti berhenti bekerja. apa yang terjadi, bagaimana mungkin barrier yang di banggakan oleh kerajaan kami hancur begitu saja?. meskipun aku enggan untuk mempercayainya, tapi semuanya terjadi tepat di depan mataku.


para kesatria berkumpul di dek dan berusaha untuk memotong rantai itu dengan pedangnya, tapi tidak peduli seberapa keras mereka mencoba, rantai itu tetap kokoh dan tidak tergores sedikitpun.


Lusi:"tuan..!!!"


tiba-tiba teriakan Lusi membangunkan ku dari linglung. aku melihat ke arah Lusi yang dengan panik menarik tanganku kembali ke dalam kabin. setelah Lusi menarikku, dia langsung menutup dan mengunci pintu. di melepas pakaian maidnya dan memperlihatkan armor di bawah pakaian maid yang longgar itu.


Lusi:"anda harus bersiap untuk melarikan diri. saya akan mencoba mengulur waktu"


sambil mengambil pedang yang ada di dinding, Lusi berbicara padaku. melarikan diri?, bukankah tujuanku kesini juga untuk mati?, lalu untuk apa aku melarikan diri?.


Aneria:"tidak, aku akan ikut denganmu"


Lusi:"tidak, anda tidak bisa mati disini. tujuan anda bukan untuk mati di tempat ini"


Aneria:"omong kosong. tujuanku adalah untuk melawan monster yang menyerang negara kita, lalu darimana kamu tahu kalau yang menyerang kita bukanlah monster itu!?, aku akan pergi bersamamu"


Lusi memandang ku selama beberapa saat dan lalu dia mengangguk ke arahku. aku langsung berjalan kembali menuju dek dengan Lusi yang mengikutiku. aku ingin tahu, monster macam apa itu. sambil mengeratkan cengkraman ku ke gagang pedang, aku menguatkan langkahku dan berjalan menuju luar kabin.


BANG....!!!!


saat aku membuka pintu, tiba-tiba ada benturan keras di dinding sebelah kanan dari pintu. benturan itu cukup keras. aku menoleh dan melihat ke arah benturan itu, yang aku lihat adalah lima orang yang terlempar ke arah dinding dengan keras. baju zirah perak yang di kenakan mengalami penyok yang dalam di bagian dada. terlihat dari bekasnya, itu merupakan bekas dari hantaman benda tumpul yang kuat.


setelah melihat mereka, aku mengalihkan pandanganku dari arah mereka terlempar, yang aku lihat adalah seorang gadis, tidak malaikat. rambut platinum rainbow yang berkilau bahkan di bawah cahaya merah, mata yang indah, dan kulit putih yang halus. dia memakai pakaian armor emas yang menutupi beberapa bagian tubuhnya, seperti dada, kaki, dan tangan. armornya terlihat ringan dan minim pertahanan, tapi terlihat mendominasi dan sangat indah dikenakan olehnya. di tangannya, dia memegang tongkat panjang agak ilusif dan memiliki berbagai rune emas yang menyala di atasnya. rune itu mirip dengan yang pernah aku lihat di reruntuhan kuno, apakah itu termasuk artefak kuno?.


aku melihat gadis cantik itu tidak mirip dengan para Animanids, tapi lebih mirip dengan makhluk yang terdapat dalam literatur kuno. mereka mirip dengan para Animanids, tapi yang membedakan adalah, bahwa mereka tidak memiliki tanduk di kepala mereka. menurut literatur kuno, mereka tidak berasal dari dunia ini, tapi berasal dari dunia yang berbeda. mereka adalah para penyintas dari dunia yang lain, dunia yang penuh warna dan indah. dulu aku hanya menganggap bahwa literatur kuno itu hanyalah dongeng, tapi sekarang aku bisa melihat dengan mataku sendiri.


gadis itu terus bergerak dan menyerang semua kesatria yang berusaha untuk mendekatinya. puluhan Kesatria elit yang telah di latih dengan keras oleh kerajaan sama sekali tidak berkutik melawan gadis kecil yang terlihat rapuh itu. bahkan dari sekian banyak dari prajurit, tidak ada yang mampu menggores ujung pakaian gadis itu.


dia seperti malaikat yang menari di sebuah Medan perang. rambutnya yang indah memantulkan cahaya merah dari bulan berdarah. setiap gerakannya sangat halus dan alami, terlihat indah seperti tarian kuno yang melambangkan sebuah keanggunan.


hanya beberapa saat, semua kesatria yang aku bawa telah di lumpuhkan dan berbaring tidak berdaya di lantai. mereka merintih dengan kesakitan, tidak mampu lagi berdiri, apalagi bertarung. gadis itu berjalan di antara orang-orang yang tergelatak di tanah dan menatapku. melihat matannya, aku merasakan sebuah ketakutan yang menghantam di dalam hatiku, aku merasa seperti di tatap oleh keberadaan yang tinggi, keberadaan yang tidak mungkin untuk dilawan.


Lusi menarikku ke belakangnya dan melindungiku. dia menghunuskan pedang ke arah gadis itu.


Lusi:"jangan mendekat, atau..."


meskipun Lusi bertindak kuat, aku bisa melihat bahwa tubuhnya sedikit bergetar. bahkan Lusi yang sudah mengalami medan perang yang tak terhitung jumlahnya, masih merasakan ketakutan?.


"atau apa?... apakah kalian layak menjadi lawanku?. tadinya aku ingin melepaskan kalian, tapi karena kalian mengancam keluargaku, maka aku tidak akan segan"


gadis itu terus berjalan dengan wajah yang muram. cahaya merah memberikan bayangan yang menakutkan pada penampilan gadis cantik itu. aura dingin dan menakutkan yang terpancar oleh gadis itu membuat kakiku lemas dan seluruh tubuhku berteriak untuk melarikan diri.


sekarang aku mengerti. sebelumnya aku terlalu sombong untuk melawan monster dan berani mati, tapi sekarang, menghadapi kekuatan absolut, keberanian sekuat apapun akan menguap seperti minyak yang terbakar.


Lusi:"aku tidak akan membiarkanmu mendekat lebih dari ini..hiaaa...!!!"


Lusi berlari ke arah gadis itu dan mencoba untuk meretas gadis itu menggunakan pedangnya, tapi sebelum Lusi bisa mendekat, dia berlutut di tanah dan aku juga mengikutinya. tubuhku terasa berat seperti di tekan oleh beban ribuan kilo. aku bahkan hampir menghancurkan lututku karena berlutut terlalu keras.


"lemah...!"


suara tenang gadis itu menusuk kedalam telinga seperti paku yang tajam. lemah...!. ya, aku sadar bahwa kami tidak layak di depannya. kemampuan yang sudah aku latih sejak kecil, sekarang terlihat sangat rendah di hadapan gadis itu. ternyata seberapapun kerasnya latihan yang aku lakukan, aku tidak akan bisa menyamai level dari kekuatan yang sesungguhnya.


Lusi:"aku, aku tidak akan menyerah...!!!"


Lusi berteriak dan mencoba untuk berdiri dari tekanan yang sangat berat ini. meskipun perlahan, Lusi mulai berdiri. keringat mengalir dari seluruh wajahnya, dan kakinya bergetar karena menahan beban yang sangat berat. benar, aku juga tidak bisa menyerah. jika memang harus mati, aku tidak keberatan. kegigihan Lusi kembali menyalakan semangat bertarungku. meskipun sangat sulit, aku bisa berdiri dengan memanjat pedang yang aku tancapkan di lantai kabin.


"menarik..."


meskipun suara gadis itu lembut, tapi suaranya membawa tekanan yang besar ke arah kami. kesatria yang sudah lemah dan terjatuh ke tanah, mereka tidak sadarkan diri karena menerima tekanan seperti itu. bahkan beberapa dari mereka memuntahkan darah karena lukannya semakin parah.


Lusi:"aku, aku kan terus bertarung... terus bertarung bahkan sampai akhir"


"aku tidak peduli. aku benci membuang omong kosong dalam pertarungan"


Bang....!!!


Lusi:"ugh.... maaf karena tidak bisa melindungi anda putri"


Aneria:"apa yang kamu katakan. kamu sudah banyak membantuku"


Lusi:"meskipun begitu, aku masih belum membalas hutang budi kepada orang itu"


Lusi berusaha untuk duduk dengan memegangi lukannya. meskipun tekanan tadi sudah menghilang, tapi karena benturan keras dan rasa sakit, di tambah dengan ancaman kematian yang begitu dekat, tubuhku tidak bisa di gerakkan.


aku melihat tongkat yang ada di tangan gadis itu menjadi kabut transparan dan mengembun kembali menjadi pedang panjang ilusif yang memiliki rune emas, mirip dengan tongkat tadi. gadis itu terus berjalan ke arah kami dan berdiri di depanku dan Lusi.


"matilah"


mata gadis itu tidak menunjukkan ekspresi apapun saat dia mengangkat pedang itu tinggi ke udara. apakah ini akhirnya?, sebagai seorang kesatria, aku hanya bisa tergeletak tak berdaya dan menunggu kematian yang akan datang. gadis itu mengayunkan pedangnya dengan cepat ke bawah, aku hanya bisa menutup mata dan menunggu untuk mati.


"kakak... tunggu"


di saat-saat terakhir aku mendengar suara seorang gadis yang berteriak. aku menunggu cukup lama untuk pedang itu memisahkan antara leher dan tubuhku, tapi aku tidak merasakannya. aku membuka mata dan melihat bahwa gadis itu mengalihkan perhatiannya ke belakangnya. aku mengikuti arah pandang gadis itu dan melihat sesuatu yang hampir membuat mataku terjatuh.


seekor anjing, atau mungkin serigala yang sangat besar. makhluk itu memiliki tiga kepala dengan sayap kelelawar hitam raksasa di punggungnya. dia memiliki tiga kepala dengan permata yang berbeda di masing-masing kepalanya. dia mendarat di dek kapal dengan tubuh besar.


dek dengan panjang lebih dari lima belas meter dan lebar enam meter hampir penuh dengan tubuhnya. makhluk itu menjulang tinggi hingga kurang lebih tujuh meter. setiap kepala memberikan rasa krisis yang besar dan rasa ancaman yang menakutkan. meskipun tubuhnya besar, dia tidak menginjak seorangpun kesatria yang tergeletak di lantai. sebelum dia mendarat, ada angin yang menghempaskan tubuh orang-orang itu dan membuat ruang terbuka sebagai pendaratannya.


"ada apa?"


gadis itu mengangkat kepalanya dan bertanya dengan tenang tanpa sedikitpun rasa takut. aku melihat bahwa dari belakang punggung makhluk itu muncul seorang gadis yang lebih kecil daripada gadis berambut perak di bawa oleh angin dan di turunkan tepat di depan gadis kecil itu. melihat dari penampilannya, gadis kecil itu adalah seorang Animanids, tapi dia memiliki tato aneh di bagian kanan wajah dan tanduknya. setelah gadis aneh itu turun, dia mendekati gadis berambut perak itu.


"kakak, saya mohon jangan sakiti kakak Lu"


"kakak Lu?"


"itu benar, kakak Lu sudah sangat baik pada saya, jadi tolong jangan sakiti mereka"


gadis aneh itu berbicara pada gadis berambut perak dengan nada yang memohon. sepertinya dia mencoba untuk menyelamatkan kami, atau orang yang di sebut sebagai kakak Lu.


Lusi:"Arkne... apakah itu kamu?"


Lusi berdiri dan berjalan menuju gadis itu dengan memegangi dadanya. di sudut mulutnya masih terlihat dengan jelas bekas darah yang masih basah. Lusi terhuyung-huyung menghampiri gadis itu. gadis itu segera menghampiri Lusi dan membantunya. gadis aneh itu membawa Lusi duduk dan menyandarkannya di pagar pembatas kapal.


Lusi:"syukurlah kamu baik-baik saja. bagaimana dengan bibi?"


Arkne:"ibu, dia sudah meninggal karena serangan monster"


aku melihat ekspresi gadis yang di panggil Arkne itu dan juga ekspresi Lusi, mereka berdua terlihat sedih. Lusi mengeratkan giginya dan memukul lantai dengan keras.


Lusi:"sial, sial..."


aku merasakan bahwa semua tekanan dan ancaman menghilang secara tiba-tiba dengan sangat cepat. gadis berambut perak itu juga menghampiri Lusi dan Arkne, dia menepuk kepala Arkne yang terlihat murung.


"tidak apa, sekarang kamu memiliki ku, aku akan melindungimu"


Arkne:"iya..."


suasana yang mencekam tadi menghilang. aku berjalan menuju mereka, gadis berambut perak itu tersenyum pada gadis kecil Arkne. senyum itu sangat berbeda dengan wajah dingin tadi. saat ini dia terlihat seperti Dewi yang menawan. aura di sekitarnya akan memberikan seseorang rasa nyaman dan aman.


melihatku mendekat, gadis itu berjalan ke arahku dan membantuku berjalan. aku merasakan gadis kecil yang lebih pendek dariku, dia membantuku berjalan. sulit di percaya bahwa dengan tubuh sekecil ini dia memiliki kekuatan yang diluar akal sehat.


dunia ini sungguh sangat misterius...


(akhir dari chapter ini)


woahh... maaf karena update yang terlambat. semoga kalian menikmati chapter kali ini.


see you next time:)