
melihat burung gagak hitam yang menghilang di angkasa, aku mengambil nafas dalam dan mulai memikirkan sesuatu. karena kunjungan ini terlalu mendadak, apakah persiapannya bisa memuaskan Yang Mulia??. bahkan aku tidak tahu hidangan macam apa yang disukai oleh Yang Mulia. bagaimana bisa aku menyiapkan penyambutan yang layak?.
aku berbalik dan menatap ke dua orang berjubah itu. menyadari tatapanku, mereka juga balik menatapku dari balik topeng full face mereka.
Aneria:"apakah kalian tahu hidangan macam apa yang biasanya di sukai oleh Yang Mulia?."
karena mereka juga berasal Moon Palace, mungkin saja mereka mengerti. meskipun aku tahu bahwa itu bukanlah cakupan bidang mereka, tapi pasti mereka pernah melihat atau tahu makanan yang biasanya di sukai oleh Yang Mulia, benar kan?!.
"saya tidak tahu. tapi biasanya Yang Mulia lebih menyukai manisan ataupun daging naga kuno panggang dengan madu lebah iblis beracun yang di beri makan menggunakan nektar dari bunga tulip bintang ungu. selain itu_"
Aneria:"cukup!!. tolong hentikan."
aku tidak bisa apa-apa selain memegangi dahiku yang terasa sakit. makanan jenis apa itu?. bahkan aku belum pernah mendengar bahan-bahan itu. apakah daging naga sesuai dengan namanya?!. jika memang begitu, darimana kita bisa mendapatkannya?!.
perlu di ketahui bahwa naga sejati hanya di tulis dalam literatur kuno sebagai binatang ganas dan pembuat onar. mereka merupakan binatang buas yang memiliki kekuatan mengerikan dan kecerdasan yang lebih tinggi daripada ras Animanids. aku benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa makhluk seperti itu akan menjadi hidangan di atas meja.
namun, aku juga tidak terlalu terkejut dengan hal itu. saat berkunjung ke Moon Palace aku juga melihat banyak naga yang beterbangan bebas di sekitarnya.
Aneria:"aku akan pergi melihat persiapannya."
akhirnya aku pergi menuju ke ruang perjamuan untuk melihat persiapan penyambutan Yang Mulia. sepanjang jalan, aku melihat para pelayan yang mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Aneria:"berapa lama surat itu bisa sampai pada Yang Mulia?."
"sekitar sepuluh jam."
mendengar jawaban itu aku merasa sedikit lega. waktunya cukup untuk setidaknya melakukan persiapan. sepertinya terpaksa para pelayan harus tidak tidur malam ini. tapi mengingat jumlah pelayan di istana, aku rasa mereka bisa bergantian untuk bekerja dan beristirahat.
akhirnya aku sampai di ruangan penyambutan. ruangan ini biasanya di gunakan untuk pesta, jadi ruangan ini cukup luas.
di dalam sudah di sediakan meja-meja dengan berbagai makanan dan minuman di atasnya. hiasan juga sudah mulai di pasang dan di persiapkan. mungkin kalian mengira bahwa ini terlalu cepat, tapi sebenarnya tidak. untuk peralatan pesta dan jamuan memang sudah di siapkan sejak lama. itu karena perlengkapan itu di siapkan jika ada pesta mendadak ataupun kedatangan tamu yang tiba-tiba. meskipun peralatannya sudah di siapkan, tapi untuk hidangan harus menunggu lebih lama.
"Yang Mulia"
pelayan yang sedang sibuk mempersiapkan pesta, mereka memberiku sambutan begitu aku tiba. aku hanya mengangguk ringan pada mereka dan memeriksa persiapannya.
Lusi:"Yang Mulia. semua persiapannya termasuk hidangan akan memakan waktu sekitar delapan jam. apakah kita masih memiliki waktu?."
Lusi datang menghampiriku dan bertanya dengan sedikit kepanikan di wajahnya. bukan omong kosong jika persiapannya tidak bisa tepat waktu, jadi aku mengerti perasaanya saat ini.
Aneria:"ya, kita masih memiliki waktu. tapi jika memungkinkan, tolong untuk mempercepat semuanya."
Lusi:"saya mengerti. saya permisi."
Lusi langsung pergi dan mulai memberikan instruksi kepada pelayan yang lain.
Aneria:"menurut kalian, apakah ada makanan yang tidak di sukai oleh Yang Mulia?."
aku bertanya kepada kedua orang berjubah yang berdiri dengan tenang di belakang ku. akan sangat buruk jika ada makanan yang tidak di sukai oleh Yang Mulia hadir di atas meja.
kedua orang berjubah itu melihat sekeliling dan memperhatikan berbagai hidangan di atas meja dan yang di bawa oleh para pelayan.
"ya. semuanya baik-baik saja."
aku lega setelah mendapatkan konfirmasi dari mereka berdua. dengan begini, persiapannya akan berjalan dengan lancar tanpa kendala yang berarti.
"Aneria. ada apa ini?. kenapa tiba-tiba kamu mengadakan pesta?."
aku mendengar suara yang akrab dari belakang. saat aku menoleh, aku melihat ayah dan seorang lelaki tua dengan wajah keriput dan mengenakan jubah merah di sampingnya. saat ini karena ayah telah turun takhta, dia tidak lagi menggunakan mahkota di kepalanya, dia hanya menggunakan jubah ungu longgar dengan sulaman burung bangau putih di punggungnya.
aku segera menghampirinya, tapi tidak membungkuk hormat seperti sebelumnya. bagaimanapun, saat ini aku adalah ratu di negeri ini, jadi tidak perlu lagi memberikan hormat kepada ayah. hanya saja saat tidak di depan umum aku masih harus memberikan hormat sebagai seorang anak. kan!.
Aneria:"tiba-tiba saya mendapatkan surat kunjungan mendadak dari seseorang, jadi saya harus segera mempersiapkan pesta untung menyambutnya."
"oh. siapa itu yang membuatmu sampai kerepotan seperti itu?."
Aneria:"itu_"
"hehehe... siapa yang menduga bahwa Yang Mulia Ratu akan mengetahuinya."
sebelum kata-kata ku selesai, aku di interupsi oleh pria tua berjubah merah itu. dan lagi, apa yang aku ketahui?!.
"apakah kamu mengetahuinya tetua Armes?."
Armes:"Yang Mulia Dormond, saya mendapatkan surat dari Pangeran Phirios bahwa beliau sedang dalam perjalanan untuk berkunjung. saya tidak menduga bahwa Yang Mulia Ratu akan mendapatkan surat itu juga. sepertinya Yang Mulia sedang bersiap untuk menyambut Pangeran Phirios."
melihat ekspresi ayah yang mengerutkan kening, aku bisa tahu bahwa ayah sedikit tidak puas. lagi pula para tetua yang akan mati ini tiba-tiba ingin menerima lamaran dari pangeran Phirios dan menikahkan aku dengannya. meskipun ayah seperti itu, aku menyadari bahwa ayah selalu ingin yang terbaik untukku. karena ayah mengetahui sikap dan kebiasaan pangeran Phirios, jadi ayah tidak setuju dan menentang soal perjodohan itu.
jika pangeran Phirios itu tersinggung, aku hanya perlu sedikit bicara untuk menyelesaikan masalah. lagi pula dia tidak bisa menggerakkan kekuatan militer, jadi akan sulit untuk timbul konflik besar. tapi jika yang tidak puas adalah Yang Mulia, maka bencana akan benar-benar melanda negeri ini.
Aneria:"tetua Armes, kenapa anda tidak memberitahukan kabar ini sesegera mungkin?!."
aku benar-benar marah dengan kejadian ini. itu akan baik-baik saja jika Yang Mulia akan tiba lebih dulu, tapi bagaimana jika pangeran Phirios yang lebih dulu tiba di istana. bukankah Yang Mulia akan menganggap bahwa kami tidak tulus dan menggunakan sisa sebagai sambutan untuknya?!.
Armes:"jika saya memberitahu, bukankah itu tidak lagi menjadi kejutan?. saya tahu anda sangat bahagia karena calon raja akan berkunjung."
melihat senyum menjijikkan yang di tunjukkan oleh Armes, rasa marahku hampir meledak seketika. dia adalah pemimpin penatua dan bangsawan lama. dia sering sekali mengusulkan atau mengambil keputusan yang bertentangan dengan perintah istana, dan melakukannya untuk kepentingannya sendiri.
bahkan akhir-akhir ini, aku mendengar bahwa dia sedang melakukan pergerakan-pergerakan kecil dan mengumpulkan kekuatan bangsawan, sekaligus menghimpun kekuatan bangsawan jatuh yang baru saja aku bersihkan saat naik takhta.
jika tebakanku tidak salah, dia sepertinya mencoba untuk membuat kekuatan yang sedang terbakar dan marah olehku sebagai kekuatannya pribadi. dia ingin memanfaatkan kebencian untuk melakukan sesuatu.
dan menurut mata-mata yang aku kirim, sepertinya akan ada kemungkinan besar bahwa dia akan melakukan sebuah pemberontakan.
meskipun begitu, aku tidak bisa melakukan apapun sebelum mendapatkan bukti. jika aku bergerak secara membabi buta tanpa bukti, dan memberikan hukuman kepada mayat kering ini, aku akan mendapat masalah besar.
hal itu akan menyebabkan ketidakpuasan para bangsawan yang berkuasa ataupun yang berpengaruh karenanya. terutama pihak oposisi yang belum di bersihkan seratus persen. ketidakpuasan itu akan semakin parah setelah aku membersihkan para bangsawan saat kenaikan takhta.
jika ketidakpuasan itu dan kebencian para bangsawan jatuh terkumpul, aku tidak perlu untuk menunggu biang keladi pemberontakan. secara otomatis, pemberontakan itu akan langsung terjadi dan segera meluas seperti api yang membakar kain. ini bisa menjadi penyebab besar kehancuran negara. oleh karena itu, aku tidak bisa bergerak kepada orang tua ini sebelum mendapatkan bukti yang kuat.
Aneria:"bahagia?. aku bahkan memilih untuk menjadi wanita tua seumur hidup daripada menikah dengan kumpulan lemak babi itu!!."
Armes:"Yang Mulia!. apakah anda tahu apa yang anda katakan?. jika sampai kata-kata anda di dengar oleh pangeran Phirios, maka kerajaan kita akan mendapat masalah yang lebih besar."
tetua Armes berkata dengan sedikit sindiran dan ketidakpuasan kepadaku. masalah?, masalah apa yang akan di berikan oleh pangeran omong kosong itu?!.
Aneria:"masalah?. apakah aku peduli dengan masalah seperti itu?!. apakah kamu tahu bahwa kamu, orang tua bau tanah, telah mengundang masalah yang jauh lebih besar?!."
kemarahan ku benar-benar meledak pada saat ini. darahku panas dan jantungku berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya. perasaan ini seakan darah dan jantungku akan meledak kapan saja. baru kali ini aku mendapatkan perasaan marah seperti ini.
semua yang aku perjuangkan, semua usahaku untuk menyenangkan Yang Mulia supaya memberikan perlindungan pada negeri ini, apakah semua itu akan sia-sia hanya karena kesalahan bodoh ini?. tidak!, aku tidak bisa berdamai dengan ini. yang membuatku lebih marah adalah, bahwa orang tua ini mengambil keputusan seenaknya tanpa memberitahukannya terlebih dahulu kepadaku. dengan sikapnya, apakah dia masih menganggap ku sebagai Ratu di negeri ini?!
"Putri ku, Yang Mulia Ratu. bisakah aku mengetahui apa yang terjadi?."
huh...!!
aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya untuk menenangkan hatiku. setelah merasa bahwa amarahku sedikit mereda, aku mulai berbicara dengan ayah tentang apa yang terjadi dengan pesta penyambutan ini.
setelah mendengar penjelasan ku bahwa aku ingin menyambut seorang penguasa dengan kekuatan besar yang misterius, ada sedikit kilatan aneh dan ketidak percayaan di mata ayahku. meskipun demikian, ayah menghela nafas dan melihat lelaki tua Armes yang berwajah hitam karena marah dan tidak puas kepadaku. bahkan orang buta pun bisa melihat kilatan kebencian di mata tetua Armes.
"tetua Armes, seharusnya kamu melaporkan hal itu kepada Yang Mulia Ratu."
Armes:"Yang Mulia, pangeran menginstruksikan dalam surat itu supaya kedatangannya di rahasiakan, jadi saya hanya mengikuti perintah itu."
Aneria:"kamu orang tua yang mati, apakah kamu lupa kewajiban mu kepadaku?!. kamu lebih memilih untuk mengikuti instruksinya daripada melapor kepadaku tentang hal-hal yang sebagaimana jadi kewajibanmu!. apakah aku atau dia yang penguasa negeri ini?!. apakah kepadaku atau kepadanya kesetiaanmu?!."
dia di angkat sebagai salah satu tetua dan dewan pengambil keputusan istana, tapi dia lebih memilih untuk mendengarkan perintah orang luar daripada keluarga istana sendiri. hal seperti ini benar-benar membuatku tidak tahu lagi harus berkata apa terhadap kelancangan mayat kering ini.
seperti tanpa menyadari kesalahannya, Armes berkata dengan sinis.
Armes:"apa yang kamu tahu. kamu hanya anak kemaren sore. apakah kamu tidak tahu bahwa dengan bersama dan berada di sisi baik pangeran Phirios kita bisa mendapatkan kedamaian di negeri ini?!. dan kekuatan misterius yang anda katakan, mungkin itu hanyalah pengemis di pinggir jalan yang menipumu."
Aneria:"Kamu_"
Armes:"orang yang kamu sambut dari kekuatan misterius itu, apakah dia bisa di bandingkan dengan pangeran Phirios dan kekaisaran Xuan Ming?!. apakah kamu lebih percaya pada orang udik desa bodoh Yang_"
splass...!
kluthuk...!!
sebelum kata-kata sinis itu selesai, aku mendengar suara benda tajam yang menembus daging dan benda berat yang jatuh. aroma darah yang anyir langsung memenuhi seluruh ruangan.
aku melihat bahwa di belakang Armes berdiri seorang pria berjubah hitam. tubuh Armes masih berdiri tanpa kepala, bagian tengah dadanya berlubang dan terlihat empat jari dengan kuku tajam yang menembus dari punggungnya. bekas leher tanpa kepala itu menyemburkan darah ke atas seperti air mancur dan jatuh menodai ubin putih di lantai. adegan ini seakan membuat seluruh waktu telah membeku dan menjadi senyap.
dalam kesunyian, terdengar suara lembut yang mengandung rasa dingin yang di penuhi niat membunuh, seakan orang yang mendengarnya memiliki kerucut es yang menusuk jantung mereka.
"menghina Yang Mulia, tidak ada jalan lain untuk pergi selain mati."
(akhir dari chapter ini)
aku kehilangan mood menulis beberapa hari ini. maafkan aku, untuk ini. aku harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan mood menulisku, dan akhirnya dapat menulis bab ini. maaf keterlambatannya . see you next time:)
salah kata atau salah ketik dimohon untuk segera melapor di kolom komentar.