
Aku tersenyum saat melihat kereta Viscount Beltras berjalan melewati kami. Aku dan ibu terus berjalan ke dalam akademi.
"Dekan, Putri, selamat pagi..."
"Dekan, Putri, selamat pagi..."
"..."
Saat kami berpapasan dengan beberapa siswa di sepanjang jalan, mereka menyapaku dan ibu dengan senyum ramah. Kami juga menanggapi mereka dengan ramah.
"Ketua...!"
Saat aku akan berbelok di sebuah persimpangan lorong, tiba-tiba ada suara yang memanggil dari belakang. Aku dan ibu berbalik untuk melihat tiga orang anak laki-laki yang berlari dengan terburu-buru ke arah kami.
Hanya anggota dari komite siswa yang akan memanggilku dengan sebutan ketua. Melihat ban lengan mereka, aku tahu bahwa mereka merupakan anggota dari komite kedisiplinan yang bertugas untuk menjaga kedisiplinan di akademi. Bukan hanya siswa, tapi instruktur juga akan menerima sangsi jika mereka melakukan pelanggaran yang akan langsung dilaporkan kepadaku ibu.
Saat aku melihat mereka, salah satu dari mereka memiliki pipi kanan yang memerah dan bengkak. Di pipi itu, terlihat jelas jejak lima sidik jari, menandakan bahwa anak itu baru saja mendapatkan kekerasan fisik dari seseorang.
Filia:"Apa terjadi sesuatu?."
Aku bertanya dengan aneh dan mendekati mereka. Seberapa besar kemampuan orang itu hingga berani bertindak keterlaluan di dalam akademi.
Arsh:"Apa yang terjadi denganmu?."
Ibu juga melihat bekas tamparan di wajah anak itu dan membungkuk untuk menyentuhnya.
"Ahh... Sakit."
Begitu tangan ibu menyentuh bengkak di pipinya, anak itu langsung meringis kesakitan. Melihat ekspresi yang tidak dibuat-buat dari anak itu, ibu langsung menarik tangannya dengan cepat dan tidak berani menyentuhnya lagi.
Anak itu terlihat ragu, tapi tetap mengambil nafas panjang dan menjelaskannya kepadaku.
"Tadi kelompok kami bertemu dengan Viscount Beltras. Karena Viscount membawa beberapa koper besar yang mencurigakan, jadi kami bermaksud bertanya padanya. Tapi, Viscount marah dan menampar saya."
"Benar. Viscount juga mengancam kami untuk dikeluarkan dari akademi karena tidak sopan terhadap bangsawan."
Mendengar penjelasan dari anak-anak itu, tiba-tiba aku menjadi sangat geram dengan orang itu. Memangnya ada apa dengan bangsawan?. Apakah mereka begitu hebat hingga tidak memanusiakan orang lain?.
Filia:"Tidak apa-apa. Kalian pergi menemui instruktur Alneir, aku akan mengurus masalah ini."
Aku sangat geram, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Bagaimanapun, memeriksa barang bangsawan memang kurang sopan dan akan menjatuhkan harga diri seorang bangsawan.
Aku melihat mereka bertiga pergi ke arah ruang kesehatan akademi.
Arsh:"Sayang, apa yang akan kamu lakukan?."
Mendengar pertanyaan ibu, aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan lembut.
Filia:"Tidak ada yang bisa dilakukan untuk saat ini. Lagi pula dia juga merupakan seorang bangsawan. Itu hanya bisa menunggu ibu untuk melapor ke istana tentang tindak kekerasan yang dia lakukan di lingkungan akademi."
Arsh:"Yah, aku rasa memang bisa seperti ini."
Aku sebenarnya sudah memiliki rencana untuk hal ini dan untuk bangsawan lainnya supaya mereka tidak begitu angkuh di lingkungan akademi, tapi aku tidak bisa mengatakannya kepada ibu. Jika ibu tahu, dua mungkin akan membenciku.
Sampai di persimpangan lain, aku dan ibu berpisah. Ibu menuju ke kantor Dekan, sementara aku kembali ke kamarku bersama Ilma.
Ilma:"Putri, kenapa anda membiarkannya?."
Sampai di dalam kamar, Ilma bertanya kepadaku. Mendengar pertanyaan dirinya, aku hanya bisa menghela nafas dan duduk di kursi sofa sambil bersandar.
Filia:"Ini belum saatnya. Bangsawan akan sulit menerima pengaturan akademi yang mengharuskan kita memeriksa barang bawaan mereka. Jika beredar kabar bahwa bangsawan yang masuk ke dalam akademi akan diperiksa barang bawaannya, akan banyak bangsawan yang marah dan mungkin menuntut kepada istana untuk membubarkan Komite siswa."
Ilma:"Jadi, Putri?."
Aku duduk tegak dan menatap Ilma sambil tersenyum. Meskipun Ilma sudah melalui banyak pelatihan tempur dan menjadi lebih dewasa, tapi untuk hal seperti ini, dia masih sedikit lebih lemah.
Filia:"Sederhana. Jika ada kejadian yang membuat bangsawan tidak bisa menolak, maka kita bisa mengimplementasikan aturan pemeriksaan barang pengunjung dengan mudah."
Ilma:"Jadi anda ingin menggunakan Viscount sebagai contoh?."
Filia:"Benar. Viscount datang ke akademi untuk membuat kerusuhan. Setelah terjadi kerusuhan, kita dapat memeriksa barang pengunjung tanpa penolakan sedikitpun dengan dalih supaya hal seperti ini tidak akan terulang lagi."
Sama seperti kejadian 9/11 yang menyebabkan perubahan keamanan di seluruh bandara dunia menjadi lebih ketat.
Dan sekarang, yang harus aku lakukan hanyalah menunggu semuanya terjadi untuk selanjutnya mengambil tindakan. Bagiamana jika terjadi korban?. Mereka berkorban demi masa depan yang lebih baik..
Sebenarnya, apakah aku melakukan sebanyak ini hanya demi memeriksa barang pengunjung?. Jawabannya tidak. Aku melakukan semua ini bukan hanya karena hal sepele seperti itu, tapi aku melakukan ini untuk menekan para bangsawan itu, terutama untuk mereka yang ingin melakukan hal-hal buruk yang mungkin bisa membahayakan orang-orang ku.
Selain itu, para bangsawan itu terlalu sombong dan merajalela. Bahkan di lingkungan akademi yang dilindungi kerajaan, mereka berani melakukan kekerasan terhadap siswa. Jika mereka terus dibiarkan, hal seperti ini hanya akan menjadi kebiasaan dan menganggap bahwa aturan adalah sesuatu yang tidak penting. Terlebih lagi, mereka akan melakukan apapun yang mereka inginkan, terutama kepada rakyat biasa dan orang lemah. Aku benar-benar muak dengan kelakuan mereka yang seperti itu.
.....
(Aria)
Akademi.....
"Lima putaran lagi!!."
Seorang instruktur berteriak memberi tahu kami. Hari ini, kami di perintahkan untuk berlatih mengelilingi lapangan pelatihan untuk memperkuat fisik kami. Di bandingkan yang lain, fisikku jauh lebih kuat karena aku mengikuti pelatihan nona Filia.
Selain diriku ada putri Sophia dan Pangeran Elion yang ikut berlari. Saat yang lain sudah mulai lelah dengan nafas tersengal, mereka masih terlihat sangat santai, meskipun ada beberapa bintik keringat di dahi mereka.
Liris:"Hay... Apa kamu sudah lelah?."
Tiba-tiba nona Liris menepuk pundaknya dari belakang dan bertanya. Dia menyapaku sambil tersenyum ramah. Rambutnya yang merah dengan ekspresi yang bersemangat itu membuatnya terlihat sangat berapi-api, seakan berlari beberapa putaran sama sekali tidak berasa baginya.
Aria:"S, saya agak lelah. Bagaimana dengan anda?."
Liris:"Sebagai kesatria pribadi Yang Mulia, latihan seperti ini hanya bisa di anggap sebagai pemanasan."
Setelah mengatakan itu, nona Liris berlari lebih cepat dan mendahuluiku. Aku sangat mengaguminya. Meskipun bangsawan, dia bekerja sangat keras untuk menjadi lebih baik. Aku tidak bisa kalah. Aku juga kesatria Putri Filia, jadi aku tidak bisa kalah dengan yang lain.
Aku terus melanjutkan berlari hingga selesai. Saat beristirahat, aku bisa merasakan kakiku yang sedikit sakit, tapi ini semua wajar setelah berlari sebanyak itu.
Sophia:"Ini benar-benar melelahkan."
Elion:"Ya. Tapi saat nona Filia yang melatih kita, pelatihan seperti ini memang bisa dianggap ringan."
Aku mendengar percakapan pangeran dan putri yang duduk tidak jauh dariku. Memang, jika di bandingkan dengan pelatihan yang di berikan oleh Putri Filia, pelatihan seperti ini masih tergolong ringan.
Stern:"Aria, ambillah."
Sambil berjalan ke arahku, Stern melemparkan sebotol air minum kepadaku. Di belakangnya, nona Liris juga mengikuti sambil tersenyum. Meskipun bangsawan, tapi nona Liris bisa bergaul dengan siapa saja tanpa memandang asal orang itu. Kepribadiannya yang seperti itu membuatnya menjadi anak yang populer di akademi. Selain itu, sebagai garis darah elf, nona Liris terlihat sangat cantik dengan wajah yang halus.
Namun, di balik sikapnya yang seperti itu, dia menjadi sangat serius saat menjalankan tugasnya sebagai penjaga Putri Filia. Mereka berdua duduk di sebelahku sambil menenggak minuman yang ada di tangan mereka. Gerakan mereka berdua sangat selaras, seakan mereka berdua adalah satu orang. Mungkin itu terjadi karena mereka berdua sering berlatih bersama, jadi mereka menjadi selaras tanpa di sadari.
Stern:"Nona Liris, saya dengan putri Filia akan datang ke akademi hari ini, apakah itu benar?."
Liris:"Ya. Tapi aku tidak tahu kapan Yang Mulia Putri akan tiba. Aku ingin terus di sampingnya, tapi Putri menyuruhku untuk pergi ke akademi terlebih dahulu. Mungkin, Putri tidak membutuhkan perlindunganku."
Stern:"Itu karena kita terlalu lemah saat ini. Kita harus menjadi lebih kuat untuk menjadi lebih berguna bagi Putri Filia."
Nona Liris langsung berdiri dengan wajah serius.
Liris:"Kamu benar. Saat ini kekuatan kita masih belum cukup, aku akan kembali berlatih."
Sebelum aku bereaksi, nona Liris sudah mengambil langkah dan berlari mengelilingi lapangan. Setelah nona Liris pergi, Stern juga ikut berdiri. Dia tersenyum saat melihat nona Liris. Itu bukan senyum lembut atau sesuatu, tapi itu adalah senyum bahagia saat dia menemukan rival yang setara atau seseorang yang harus dia lampaui. Dengan kata lain, itu adalah senyum semangat juang.
Dulu dia adalah anak yang pendiam dan pemalu di akademi karena latar belakangnya. Namun setelah bertemu dengan Putri Filia, dia menjadi penuh percaya diri dan selalu berjuang keras untuk menjadi lebih kuat.
Aku rasa aku juga seperti itu. Aku juga ingin menjadi lebih kuat untuk bisa berguna bagi Putri Filia yang sudah banyak membantuku.
Aku tidak bisa kalah dari mereka. Aku juga pergi untuk mengikuti mereka berdua. Meskipun aku adalah yang paling lemah di antara ketiganya, tapi aku tetap tidak mau kalah. Tanpa aku sadari di sebelahku tiba-tiba ada seseorang yang berlari berdampingan denganku. Saat aku menoleh, seorang anak laki-laki dengan rambut emas yang tersenyum hadir di mataku. Dia adalah pangeran Elion.
Aria:"P, pangeran?!."
Aku terkejut melihat kehadiran pangeran, tapi aku masih terus berlari untuk mengejar nona Liris dan Stern.
Elion:"Halo nona Aria."
Aria:"P, pangeran, apa yang anda lakukan?."
Aku bingung. Pangeran yang awalnya beristirahat tiba-tiba mengikuti kami untuk berlari. Apakah ada sesuatu?.
Elion:"Entahlah. Saya hanya melihat kalian berlatih dengan penuh semangat, jadi saya rasa, saya terbawa suasana. Bukan cuma aku, tapi Sophia juga."
Pangeran Elion berbicara dan menunjukkan putri Sophia yang berlari di belakang kami. Aku benar-benar terkejut. Semenjak kami semua seorang berkumpul dengan, rivalitas di antara kami mulai terbentuk. Tidak ada tujuan lain, kami hanya ingin menjadi yang terkuat di depan Putri Filia.
Kami terus melanjutkan berlari hingga lebih dari sepuluh putaran. Nafasku sudah tidak kuat lagi, jadi aku berhenti.
Dari belakang, nona Liris dan yang lainnya juga berhenti tepat di sampingku. Mereka berlari lebih banyak dariku, jadi mereka juga lelah. Tanpa memandang identitasnya sebagai seorang putri kerajaan, putri Sophia langsung menjatuhkan dirinya di tanah.
Kami semua mengikuti dan duduk membentuk lingkaran untuk mengatur nafas kami yang sedikit berantakan. Tidak ada yang berbicara, hanya suara nafas berat masing-masing yang dapat di dengar. Kami saling memandang dan tersenyum. Sama sekali tidak ada rasa kesenjangan identitas antara rakyat jelata sepertiku ataupun Stern dan keluarga bangsawan seperti pangeran Elion dan yang lainnya.
Sophia:"Ini pertama kalinya aku berlari sebanyak itu."
Elion:"Aku juga."
Liris:"Tidak untukku. Keluarga Vermilion kami adalah keluarga kesatria penjaga keluarga Kerajaan, jadi sejak kecil, aku sudah di latih dengan keras supaya menjadi kesatria yang berkualitas."
Stern:"Saya tidak berlatih keras, tapi saya sering ikut berburu dengan ayah di hutan, jadi berlari adalah hal yang biasa."
Sophia:"Aku harus mengagumi kerja keras kalian."
Liris:"Pangeran, ada apa?."
Pangeran tidak fokus dalam percakapan. Dia tidak memperhatikan kami, tapi memperhatikan sesuatu di belakangku. Di belakangku adalah gerbang yang memisahkan area akademi dan lapangan pelatihan, jadi saat aku menoleh ke arah pandangan pangeran, aku melihat seorang anak laki-laki yang berjalan terhuyung-huyung ke arah kami. Anak itu menunduk dengan langkah yang goyah, seakan dia bisa jatuh kapan saja, namun dia masih berjalan ke arah kami.
Tangan kanannya memegang sebuah batu kristal besar berwarna ungu gelap. Kristal itu mengeluarkan asap hitam tipis yang hampir tidak terlihat. Namun dengan elemen cahaya milikku sangat sensitif terhadap aura gelap seperti itu, jadi aku menyadari bahwa kristal itu bukan sesuatu yang baik.
Elion:"Bukankah dia putra Beltras, ada apa dia di sini?."
Liris:"Sepertinya dia menggumamkan sesuatu."
Aria:"Kristal itu terasa tidak baik."
Mendengar ucapan ku dan melihat tingkahnya yang aneh, kami semua berdiri dan memperhatikannya dengan waspada.
Liris:"Aria, pergi ke belakangku."
Anak laki-laki yang terhuyung-huyung itu berhenti sekitar dua puluh meter dari arah kami. Mulutnya terus bergumam dengan pelan, terlihat menakutkan bagiku.
Saat anak itu mengangkat kepalanya, wajahnya berkeringat dan menjadi keunguan. Matanya yang merah menatap kami dengan senyum menakutkan di wajahnya.
Nona lIris dan Stern langsung mengeluarkan pedang mereka bersiap untuk menyerang kapan saja.
Bukan hanya mereka berdua, aku dan yang lainnya juga bersiap untuk serangan. Pangeran Elion memiliki kilatan petir di sekitar tubuhnya, dan Putri Sophia di kelilingi oleh aura hijau zamrud yang indah.
"Hahahaha.... Kalian pantas mati... Kalian harus mati....!"
Krak...!!
Anak itu tertawa dengan gila dan mengucapkan kata-kata yang menakutkan. Sesaat kemudian, kristal ungu di tangannya retak, aura gelap dan menjijikkan langsung tersebar ke sekitar yang langsung dapat kami rasakan.
Angin kencang dan cahaya ungu yang menyilaukan keluar dari kristal yang retak itu.
"Pergi...!"
Karena cahaya yang menyilaukan, aku menutup mataku. Saat itulah, aku mendengar suara pangeran yang berteriak kepada kami. Tiba-tiba, aku merasa ada sebuah lengan yang mengait ke pinggangku dan membawaku pergi.
Boomm...!!
Hampir seketika, suara ledakan keras terdengar dan bergema. Gelombang kejut mendorongku dan yang lainnya menjauh dari tempat itu.
Saat aku membuka mata, aku tahu bahwa orang yang membawaku pergi adalah nona Liris.
Liris:"Apakah kalian semua baik-baik saja?."
Elion:"Ya."
Sophia:"Aku baik."
Stern:"Tidak apa-apa."
Aria:"S, saya baik-baik saja. Terima kasih."
Kami menjawab satu persatu dan segera berdiri, melihat ke arah ledakan. Di tempat ledakan itu sebuah ****** beliung api ungu setinggi sepuluh meter terbentuk, menarik daun-daun dan benda-benda ringan di sekitarnya ke dalam pusaran api.
"Hahahaha.... Kuat... Sekarang aku sangat kuat...!."
Dari dalam pusaran api itu, terdengar tawa keras yang menakutkan. Itu bukan lagi suara tawa sebelumnya, melainkan itu adalah suara tawa yang berat dan tumpang tindih, seakan beberapa orang sedang berbicara secara bersamaan.
Swos....!
Sebuah lengan besar berwarna ungu dengan cakar hitam mengkilat terbentang dari dalam api. Pusaran api itu di robek oleh lengan itu sehingga kami dapat melihat apa yang ada di dalamnya. Sesosok makhluk ungu besar setinggi empat atau lima meter berdiri di sisa tornado api.
Badannya besar dengan bentuk perpaduan antara manusia dan kambing. Tubuhnya sedikit bungkuk dengan lengan berotot besar yang panjang hingga bisa menyentuh tanah. Kedua kakinya terlihat kuat dan ramping seperti kaki belakang serigala tanpa rambut.
Matanya merah tanpa pupil dengan aura ungu di sekitar matanya. Dilihat dari sisi manapun, itu hanyalah monster.
Elion:"Apakah itu putra keluarga Beltras?."
Liris:"Benda jahat macam apa yang dia gunakan, itu membuatnya menjadi lebih jelek dari sebelumnya."
Elion:"Itu agak jahat, tapi saya setuju. Semuanya berhati-hati."
"Kalian harus mati.... Kalian harus mati...!"
Swoss...!
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba makhluk itu menghilang dari tempatnya. Aku hanya bisa mendengar suara angin bersiul dan tiba-tiba tubuh besar monster itu muncul di depan nona Liris.
Stern:"Sword intent."
Saat monster itu mengayunkan lengan besarnya ke arah nona Liris, tiba-tiba sebuah pedang perak besar menghalangi di antara cakar dan nona Liris.
Bang.... Retak...!
Sebuah benturan keras terdengar. Meskipun sangat kuat, tapi pedang perak besar itu langsung membentuk banyak celah retakan di permukaan. Kurang dari satu detik, bayangan pedang perak itu hancur berkeping-keping seperti kaca.
Ahhh....!
Karena gelombang kejut dari benturan itu, kami semua terlempar ke belakang. Tubuh nona Liris yang paling dekat dengan area benturan menghantam tubuhku, membuat kami berdua terlempar secara bersamaan.
Dadaku terasa sangat sakit, tapi itu lebih baik daripada nona Liris yang menghalangi dampak langsung gelombang kejut untukku.
Kami terlempar sekitar lima meter dari tempat kami semula. Putri Sophia sama sepertiku, dia di lindungi oleh pangeran Elion.
Liris:"Stern, bangun..."
Nona lIris tidak memperhatikan rasa sakitnya dan langsung menghampiri Stern yang tidak sadarkan diri dengan darah di sudut mulutnya. Diantara kami semua, mungkin Stern adalah orang yang menerima dampak paling besar dari serangan monster itu tadi.
"Sia-sia, Sia-sia.... Kalian semua akan mati dan menjadi makananku hahaha.....!"
Liris:"Dia bukan lagi manusia, kita harus melawannya."
Elion:"Ya. Melihat kecepatannya dalam bergerak, kita tidak akan bisa melarikan diri. Kita hanya bisa melawannya hingga para instruktur datang."
Liris:"Saya akan menahannya sebisa mungkin dengan pangeran. Putri Sophia, anda berusahalah untuk menyembuhkan Stern, dan untuk Aria, kamu akan menyiapkan sihirmu."
"Ya!." 3x
Di kaki putri Sophia muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hijau dengan gambar daun semanggi berdaun empat di tengahnya. Aura hijau menyelimuti kami, semua rasa sakit dan ketidaknyamanan di tubuhku menjadi sangat berkurang.
Elion:"Petir perak yang bercahaya, tahan kejahatan itu untukku... «Lightning Chain»."
Kilat perak seperti ular muncul dari telapak tangan pangeran dan langsung menuju ke arah monster itu. Petir itu meliuk-liuk seperti hidup, menjerat tubuh monster itu seperti tali perak.
"Akhhh.... Sialannn..... Semut kecil...!"
Monster yang tertahan oleh rantai Petir itu berteriak keras. Kilatan petir menyengat tubuh monster itu, membuat beberapa bagian kulitnya terbakar.
Elion:"Saya tidak bisa menahannya terlalu lama."
Liris:"Saya tahu... Pedang merah menyala, terbakar lah seperti matahari di langit, bakar ketidakmurnian itu menjadi debu «Annihilation flame sword »"
Pedang merah di tangan nona Liris terbakar oleh api. Warna api itu menjadi semakin dalam dan akhirnya berubah menjadi warna merah yang tidak normal. Suhu panas membuat kulitku terasa sedikit kering.
"Semut...!."
Monster itu merobek rantai Petir dengan tangannya, membuat rantai Petir itu menghilang dan monster itu bisa membebaskan diri. Namun, sebelum monster itu bisa tertawa, sesosok manusia yang membawa pedang yang menyala-nyala sudah muncul di hadapannya.
Liris:"Matilah monster jelek....!"
Nona lIris mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat dan membuat luka miring yang panjang dari bahu kiri hingga perut bagian kanan monster itu. Nona lIris langsung berlari menjauh dari tubuh monster itu. Seperti api yang membakar minyak, luka pada monster itu mulai menyala dan...
Boomm...!
Ledakan keras di sertai api merah yang sangat panas meledak dari bekas luka monster itu.
"Akhhh.... Semut sialan....!"
Monster itu berteriak saat api merah membakar tubuhnya. Aku mengambil kesempatan saat monster itu di selimuti oleh api dan merapal mantra milikku sendir.
Aria:"Cahaya keemasan yang mulia, tunjukkan keagunganmu pada kegelapan yang menghalangi jalanku «Shining Javelin»"
Partikel cahaya yang kecil mulai berputar di sekitarku dan berkumpul untuk membentuk sebuah lembing sepanjang dua meter.
Kurang dari satu nafas, lembing itu terbentuk sempurna dan langsung melesat ke tubuh monster itu seperti anak panah yang terlepas dari tali.
Swoss....!!
Lembing itu sangat cepat hingga membuat udara menjerit.
Jleb...
"Ahhhhh....!"
Jeritan monster itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada dua serangan di awal. Aura ungu merah yang menyelimuti tubuhnya langsung tersebar. Lembing yang menembus tubuh monster itu langsung pecah menjadi partikel cahaya sebesar biji kedelai yang terbang sangat cepat mengelilingi monster itu dengan membawa ekor cahaya seperti bintang jatuh.
Partikel cahaya itu seperti pisau tajam yang berputar cepat di sekitar monster itu, menembus dan merobek tubuhnya hingga darah ungu merah mengalir dari tubuhnya.
Ini adalah pertama kalinya aku menggunakan sihir ini setelah di ajarkan oleh Putri Filia. Menurut apa yang dia katakan, sihir ini merupakan sihir dengan kerusakan berkelanjutan yang akan terus memberikan luka kepada target selama satu menit.
Dengan sejumlah besar luka robek dan luka bakar di tubuhnya, monster itu jatuh berlutut di tanah tanpa bergerak. Kepalanya menunduk dan menyembunyikan wajah monster itu. Luka-luka di tubuhnya terus mengalirkan darah yang jatuh ke tanah di bawahnya.
Kami melihat monster itu dengan waspada, namun setelah beberapa saat, monster itu tetap tidak bergerak.
Liris:"A, apakah ini sudah berakhir?."
"Ugh...!"
Sebelum ada yang menjawab, kami mendengar batuk pelan dari belakang. Aku melihat bahwa Stern yang berada di pangkuan putri Sophia mulai terbangun. Meskipun wajahnya pucat, tapi ini lebih baik daripada sebelum mendapatkan perawatan dari putri Sophia.
Aria:"Syukurlah kamu_.... Monster itu belum mati...!!!"
Tiba-tiba aku merasakan aura kegelapan dari monster itu yang awalnya melemah menjadi sangat kuat seperti sebuah ledakan.
Saat kami berbalik, tiba-tiba monster itu sudah mengayunkan cakarnya di depan mataku... Cakar itu diperbesar dengan sangat cepat dan membuat ku tidak bisa bereaksi. Pikiranku kosong dan hanya satu kata yang dapat aku pikirkan... MATI...
BANG....!!
Saat cakar monster itu hanya beberapa sentimeter dari wajahku, tiba-tiba sebuah benda kecil seukuran ibu jari berwarna biru melewati sudut mataku dan menghantam tepat ke tubuh monster itu hingga membuat suara tabrakan yang keras, membuat tubuh monster itu terlempar ke belakang.
Aku langsung terduduk dengan kaki lemas. Keringat dingin membasahi tubuhku dan ketakutan yang luar biasa membuatku gemetaran.
Sebuah suara yang jernih dan lembut masuk ke telingaku. Seakan memiliki kekuatan mistis, hatiku yang ketakutan menjadi lebih tenang.
"Siapa yang membuatmu berani menyentuh orang-orang ku..?!."
(Akhir dari chapter ini.)
Aku lama tidak update karena ada beberapa hal di rumah, jadi aku baru bisa update hari ini.
Jika ada kesalahan dalam pengetikan, aku harap kalian akan memaafkan ku dan memberitahuku di mana letak kesalahannya... Terima kasih sudah setia menunggu update terbaru...