Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 199: Alchemist.



Setelah kakak pergi, beberapa orang pergi ke arena untuk membersihkan sisa pertempuran. Mereka juga meletakkan beberapa benda seperti tungku besar pemanggang pizza tradisional di kehidupanku sebelumnya. Hanya saja, tungku-tungku itu terbuat dari bahan yang tidak aku ketahui. Dan ada lubang besar di atasnya.


Menurut apa yang aku ketahui, setelah tantangan pertarungan, selanjutnya adalah tantangan dari siswa divisi Alchemist. Alkimia tidak hanya sebatas membuat potion dan poison, tapi juga mencampurkan material untuk di tempa. Aku mengetahui itu semua dari kakak.


Tapi biasanya mereka akan mengambil salah satu dari sub divisi itu untuk di pelajari. Seperti untuk seorang Alchemist, mereka akan mempelajari cara membuat potion atau poison. Dan untuk para penempa, biasanya mereka akan lebih memilih untuk mempelajari pembuatan material untuk mereka gunakan. Tentu saja ada profesi khusus yang hanya mempelajari pembuatan material untuk mereka jual kepada para penempa.


Bahan-bahan yang di jual oleh orang seperti itu biasanya lebih berkualitas karena mereka hanya mendalami satu ilmu, yaitu pembuatan material, jadi pengetahuan mereka tentang pembuatan material akan lebih mendalam daripada para penempa.


Mereka memilih salah satu bukan karena mereka malas, tapi karena semua sub divisi itu merupakan sebuah pelajaran yang sangat kompleks dan rumit sehingga akan memerlukan waktu lama untuk bisa mempelajarinya. Jika mereka mengambil semua sub divisi itu, waktu mereka untuk belajar akan terbagi, alhasil mereka tidak bisa mempelajari semua pengetahuan dengan sempurna.


Seperti ahli fisika, mereka belum tentu ahli kimia, dan ahli kimi juga belum tentu ahli fisika. Mereka harus mempelajari salah satunya supaya mereka benar-benar bisa menguasainya.


Persiapan untuk tempat tantangan selanjutnya berjalan cukup lama karena banyak benda yang harus di pindahkan, termasuk berbagai jenis tanaman dan metal ore yang masih mentah.


Rovell:"Apakah semua divisi Alchemist akan menantang Filia secara bersamaan?."


Harnas:"Sepertinya begitu."


Rovell:"Lalu, bagaimana cara mereka menilai, bukankah membuat potion dan membuat material itu dua hal yang berbeda?."


Harnas:"Entahlah, aku akan bertanya pada Arsh."


Ibu berdiri dan pergi ke venue tempat para instruktur. Meskipun kepala sekolah adalah calon istri kedua, tapi mereka belum sah menikah, jadi tidak baik baginya untuk duduk bersama kami di kursi keluarga Rosefield.


Beberapa saat kemudian ibu kembali. Dia mengatakan bahwa ini adalah permintaan kakak.


Leonis:"Ah... Aku jadi ingat laporan dari tempat penelitian kerajaan. Sepertinya mereka berhasil memperbaiki resep potion karena mereka mendapatkan Sempel dari akademi."


Sophia:",Itu adalah potion yang di berikan oleh nona Filia, ayah."


Leonis:"Ohh... Jadi benar seperti itu. Jika demikian, mungkin dia bermaksud menantang divisi Alchemist secara bersamaan. Lagi pula dia juga sangat luar biasa dalam hal materi."


Elion:"Apakah yang ayahanda maksud adalah hadiah ulang tahun ibu?."


Leonis:"Iya, itu benar."


Harnas:"Tunggu, apa yang kalian maksud?."


Ibu yang baru saja duduk di kursi bertanya kepada raja dengan penasaran. Semua orang sedang membicarakan pertandingan kakak dengan divisi Alchemist, bagaimana bisa tiba-tiba pergi ke hadiah ulang tahu?.


Leonis:"Jika aku mengatakannya, kalian akan iri."


Rovell:"Apa maksudmu?."


Ayah juga bertanya kepada raja dengan tidak sabar.


Elion:"Nona Filia membuatkan tongkat sihir khusus untuk hadiah ulang tahun Ibunda."


"Apa...!" 2x


Ayah dan ibu terkejut mendengarnya. Aku tidak tahu apa yang membuat mereka berdua terkejut.


Harnas:"Bagaimana, bagaimana bisa dia membuatkan tongkat sihir untuk orang lain, sementara dia bahkan belum memberikanku sesuatu yang dia buat dengan tangannya sendiri. Ini... Aku harus pergi melihat benda itu sendiri."


Ibu langsung berdiri dan bersiap untuk pergi bersama ayah untuk melihat tongkat sihir yang di buat kakak untuk hadiah ratu. Sebelum ayah dan ibu pergi, raja mengehentikan mereka berdua.


Leonis:"Kalian tidak boleh melihatnya saat ini."


Rovell:"Kenapa?."


Ayah bertanya dengan tidak puas. Benar yang di katakan raja, ayah dan ibu pasti akan iri dan membuat keributan.


Leonis:"Benda itu di simpan di tempat yang aman."


Mereka bertiga saling pandang dalam diam. Setelah beberapa saat, ibu mendengus kesal lalu duduk dengan wajah cemberut. Ayah sedikit lebih baik, tapi kekesalan di wajahnya tidak dapat di sembunyikan. Aku yakin bahwa percakapan mereka mengandung arti tertentu sehingga ayah dan ibu rela untuk tidak melihat benda itu saat ini. Mungkin itu adalah sebuah rahasia yang tidak boleh di katakan di tempat ini. Jadi ayah dan ibu juga tidak mengejar hal itu karena takut bahwa apa yang akan mereka ungkapkan dapat merugikan kakak.


Meskipun persiapan untuk tantangan berikutnya cukup lama, tidak ada penonton yang beranjak dari tempat duduk mereka. Yang paling bersemangat adalah para siswa dan para petualang yang juga hadir.


Di musim dingin seperti ini, para petualang jarang keluar melakukan quest kecuali ada permintaan khusus atau quest mendesak seperti serangan monster ke desa-desa berpenduduk. Untuk mengisi waktu luang, biasanya para petualang itu akan pergi ke beberapa bar yang tersebar di ibu kota. Jadi saat mereka tahu bahwa arena akademi akan mengadakan tantangan, mereka datang untuk melihat.


Saat ini mereka yang hanya iseng ingin melihat kesenangan benar-benar ikut bersenang-senang dan menantikan tantangan berikutnya. Mungkinkah pertarungan kakak tadi membuat mereka bersemangat?.


Akhirnya tidak menunggu lebih lama, para peserta masuk ke arena satu persatu. dari keseluruhan, ada sekitar dua puluh siswa dari kelas atas dan menengah. Saat kakak datang, hanya satu tempat terdepan yang di sisakan oleh siswa yang lain. Aku tidak tahu mengapa, tapi mereka seakan ingin membuat kakak menjadi pusat perhatian. Yah, mungkin saja karena mereka takut kakak curang, jadi dengan menempatkan kakak di paling depan, kesempatan kakak untuk curang akan sangat kecil.


"Ayo... Putri Filia pasti bisa..!"


"Ya, Putri Filia, kalahkan mereka semua!."


"..."


Harnas:"Ada apa dengan mereka?"


Ibu terlihat bingung saat melihat siswa dan siswi dari kelas rendah dan menengah menyoraki kakak. Ibu bingung bukan karena mereka siswa kelas rendah yang sama dengan kakak, tapi mereka adalah siswa dari divisi Alchemist dan dari divisi penempaan dari kelas rendah dan menengah yang seharusnya mendukung divisi mereka sendiri.


Sophia:"Itu karena nona Filia mengajari mereka tentang Alkimia. Jadi, mereka percaya pada Nona Filia karena sudah pernah melihat kemampuannya secara langsung."


Ternyata seperti itu. Setelah di jelaskan oleh putri Sophia, semua orang menyadari kenapa mereka mendukung kakak.


Kakak hanya berdiri di dekat tungku ambil memperhatikan bahan-bahan yang tersedia di atas mejanya. Ada delapan jenis Ore dan beberapa set bahan untuk membuat berbagai jenis potion yang harus di olah oleh para siswa.


Delapan jenis Ore itu, siswa dapat memilih beberapa jenis ore untuk di padukan menjadi sebuah material. Aku tidak tahu material apa yang bisa di buat dari perpaduan ore-ore itu, tapi kemungkinan ada beberapa jenis material paduan yang dapat di buat.


Siswa Alkemis dari kedua sub divisi sudah mulai menyalakan api. Itu bukan api sungguhan, tapi itu adalah api esensi dari mana mereka. Kakak pernah menyebutkan bahwa api esensi mana seperti itu akan membawa sifat khusus dari jenis mananya.


Misal, seseorang memiliki mana tipe air. Jika orang itu ingin melakukan alkimia, maka api esensi yang dapat ia ciptakan juga akan memiliki sifat air. Begitupun dengan dengan mana tipe lainnya. Setiap tipe mana, memerlukan kontrol yang berbeda karena sifat setiap jenis mana akan berbeda-beda.


Namun, ada cara supaya seseorang bisa mendapatkan esensi api tipe api meskipun dia memiliki mana tipe air. Yaitu dengan cara mengambil esensi mana tipe api dari alam dan menyimpannya dalam Mana Vessel khusus di dalam tubuh sehingga tidak berbenturan dengan mana aslinya.


Karena manusia pada umumnya tidak memiliki mana vessel seperti itu, jadi mereka perlu membuat mana vessel baru dalam tubuhnya dan itu akan menimbulkan rasa sakit yang sangat luar biasa saat pembentukannya.


Aku pernah ingin mencobanya, tapi kakak melarangku karena tubuhku masih terlalu rapuh. Kakak takut jika aku melakukannya, maka mana vessel dalam tubuhku justru akan rusak karena energi liar saat mencoba membentuk mana vessel baru.


Seperti yang pernah di jelaskan oleh kakak, esensi api dari para siswa itu memiliki warna yang berbeda tergantung dari tipe mana yang mereka miliki.


Melihat mereka sudah mulai, kakak hanya merenung di dekat tungku tanpa melakukan tindakan apapun seakan kakak sedang memikirkan sesuatu.


Api berwarna-warni menyala di seluruh arena. Hawa dingin di musim dingin menghilang karena suhu udara mulai naik yang di sebabkan oleh nyala api. Semua peserta mulai memilah bahan yang ingin mereka gunakan untuk alkimia.


Seorang siswa perempuan kelas atas terlihat sangat mencolok. Penampilannya anggun dengan rambut pirang panjang yang sedikit bergelombang. Dia memakai gaun putih yang cantik dengan sulaman perak. Wajahnya terlihat serius saat dia memilah berbagai jenis tanaman aneh yang aku tidak tahu apa gunanya.


Tidak ada ketegangan atau kesenangan di wajahnya. Dia terlihat sangat tenang dan fokus untuk mengurus urusannya sendiri tanpa memperhatikan sekitarnya.


Setelah dia memilih bahan yang dia inginkan, dia mulai memasak bahan-bahan itu. Dia memasukkan sebuah tanaman berwarna merah ke dalam tungku. Api di tungku bergoyang lembut mengikuti kontrol mananya.


Suhu nyala harus di kontrol secara tepat supaya saripati tanaman itu tidak ikut terbakar. Tanaman itu mulai layu dan mendesis mengeluarkan busa dari batangnya. Mirip seperti kayu basah yang di bakar api.


Branze:"Siswa itu sangat tenang dan kontrolnya sangat stabil."


"Ya, itu adalah putri pertama Viscount Sapientia , Rumi Sapientia."


Branze:"Dia memiliki bakat yang luar biasa. Mungkin yang bisa mengalahkannya hanya..."


Dia tidak menyelesaikan kata-katanya, tapi matanya melihat ke arah kakak yang masih dengan tenang memilih bahan tanpa terburu-buru. Melihat mata itu, semua orang jelas. Bahkan Viscount Sapientia yang juga berada di venue ini hanya bisa tersenyum tak berdaya.


Setelah memilih bahan, kakak tidak langsung memulai, tapi kakak berhenti melakukan urusannya, dan beralih untuk memperhatikan peserta lainnya yang fokus pada tungku masing-masing.


Pandangan kakak juga menuju ke gadis bernama Rumi itu. Kakak memiliki senyum di sudut mulutnya. Saat kakak tersenyum seperti itu kepada seseorang, berarti kakak tertarik pada orang itu.


Gadis Rumi itu berhasil menyelesaikan ekstraksi pertamanya. Cairan yang agak keruh menetes dari tanaman merah itu dan melayang di atas api. Cairan bergerak perlahan ke arah gadis itu dan dia menampungnya dalam sebuah wadah kaca tertutup.


Kakak mengangguk tapi dia juga menggelengkan kepala. Karena kakak menjadi pusat perhatian, semua orang melihat ekspresi kakak.


Gadis itu terus mengekstraksi tanaman-tanaman obat lainnya ke dalam tungku lalu memisahkan setiap cairan di botol kaca yang berbeda. Salah satu botol kembali di masukkan ke dalam tungku bersama cairan di dalamnya. Setelah beberapa saat, cairan itu mendidih dalam suhu tinggi.


Setelah warnanya kecoklatan, gadis Rumi itu kembali mengambil botol. Dia mendinginkannya selama beberapa saat. Setelah mendingin, cairan itu mengeras seperti gula yang di panaskan. Cairan yang sudah berubah menjadi padat Lalau di hancurkan menjadi bubuk putih yang halus.


Ada beberapa cairan lagi yang di ubah menjadi bubuk. Setelah semua bahan di proses, dia mencampurkannya dalam urutan tertentu sambil di panaskan dalam api bersuhu tinggi.


Sesaat kemudian, semua bahan yang di campurkan mulai bereaksi saat di didihkan bersama. Setiap gelembung uap yang meletus akan menyebarkan aroma yang harum dan menyegarkan.


Sebuah benda bulat terbentuk secara perlahan dan akhirnya menjadi bulat sempurna di tengah nyala api biru elemental air.


Kakak pernah mengatakan padaku bahwa ada tiga jenis potion. Yang pertama adalah pil. Potion dalam bentuk pil lebih mudah di gunakan saat pertempuran, tapi memerlukan waktu tertentu sebelum efeknya aktif karena perlu di cerna terlebih dahulu.


Obat di tangan gadis itu sebesar kelereng dan berwarna hijau murni yang sedikit transparan seperti bola kaca kecil. Di dalamnya terlihat seperti ada awan yang terus bergolak di bawa angin.


"Obat apa ini?"


"Aku sepertinya pernah melihatnya."


Branze:"Ini adalah «Recovery cloud pill». Jika ada orang yang meminum pil ini, maka tubuhnya akan mengeluarkan semacam kabut yang dapat terus menyembuhkan dirinya dalam pertempuran. Biasanya pil seperti ini akan di gunakan oleh prajurit di Medan perang. Pil ini sendiri memerlukan keterampilan yang sekelas Alkemis kerajaan untuk membuatnya."


"Benar-benar bakat. Selamat untuk Viscount karena memiliki keturunan yang luar biasa."


Hugo:"Ya, mungkin ini memang keberuntungan saya karena memiliki anak yang berbakat."


....


Proses pembuatan potion oleh gadis Rumi itu memakan waktu sekitar satu jam. Selama waktu ini, kakak hanya melihatnya tanpa melakukan sesuatu yang lain.


Setelah selesai membuat potion, gadis Rumi itu memasukkan pil ke dalam botol kaca lalu duduk di kursi dekat tungkunya sambil melihat semua peserta yang lain. Akhirnya pandangannya jatuh pada kakak yang tersenyum ke arahnya. Gadis Rumi itu balas tersenyum dan mengangguk.


Akhirnya setelah sebagian besar peserta hampir menyelesaikan alkimia mereka, kakak mulai bergerak. Bahan pertama yang kakak pilih adalah tanaman yang memiliki banyak daun kecil-kecil bulat yang belum pernah di pilih oleh peserta lainnya.


Daun tanaman itu berwarna hijau yang indah tanpa bercak warna lainnya. Itu adalah daun terhijau yang pernah aku lihat.


Branze:"Oh, nona Filia memilih manik zamrud untuk bahan pertama."


"Sebelumnya saya belum pernah melihat peserta lain memilih tanaman itu. Pakah ada yang aneh dengan tanaman itu?."


Mendengar pertanyaan itu, tuan Branze menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Branze:"Tidak ada yang salah dengan tanaman itu. Hanya saja ukuran daunnya yang kecil akan sangat mudah terbakar sebelum cairan di dalamnya di ekstrak. Untuk memproses tanaman itu, kontrol mana seorang Alkemis harus sangat tinggi. Jadi siswa yang lain tidak mau mengambil resiko kegagalan."


Kakak memilih tanaman yang sulit di awal. Hal itu menarik perhatian semua orang. Bahkan peserta yang sedang beristirahat setelah menyelesaikan alkimia mereka juga mengalihkan perhatiannya ke arah kakak.


Di tungku kakak yang semula diam, tiba-tiba seberkas api perak putih menyala di dalamnya. Nyala itu tidak sebesar nyala api peserta yang lain. Ukurannya hanya sebesar ibu jari. Saat tanaman obat melayang di atas api, api kecil itu sedikit bergoyang dan berubah menjadi banyak untaian benang perak.


Benang api yang bergoyang-goyang itu perlahan menyentuh setiap daun-daun kecil dari tanaman itu. Benang api perak menusuk permukaan daun seperti jarum kecil yang tajam.


Daun-daun kecil yang semula berwarna hijau tiba-tiba mulai kehilangan warnanya. Permukaan daun yang halus mulai berkerut dan layu. Cairan hijau murni mengambang perlahan dari permukaan setiap daun dan menggumpal menjadi satu gumpalan sebesar ujung jari kelingking.


Itu bukan cairan keruh seperti yang di ekstraksi siswa lain, melainkan cairan yang benar-benar hijau murni tanpa jejak kotor sedikitpun. Setelah cairan di dalamnya berhasil di ekstraksi, tanaman itu berubah menjadi abu yang di singkirkan oleh kakak di wadah khusus.


Branze:"Sangat murni. Biasanya cairan yang di ekstraksi akan berwarna keruh karena bercampur dengan kotoran jelaga tanaman yang di bakar, tapi ini sangat bersih. Meskipun dia adalah seorang Alkemis tingkat tinggi, tidak mungkin untuk menyingkirkan kotoran itu sepenuhnya. Tapi ini benar-benar murni. Bagaimana mungkin?."


Leonis:"Apakah itu benar-benar sulit?."


Branze:"Yang Mulia. Selama ini para Alkemis di lab terus bertanya-tanya apakah mungkin mengekstraksi cairan obat yang sangat murni. Tapi, sampai sekarang belum ada yang berhasil. Cairan obat termurni yang berhasil kami ekstrak hanya sekitar 60% saja. Tapi cairan yang telah di ekstraksi oleh nona Filia memiliki kemurnian setidaknya di atas 80% atau bahkan 90%."


"Ini bukan lagi bakat."


"Mengerikan. Kemampuannya luar biasa."


"Sekali lagi, House of Rosefield akan memiliki penyangga yang kuat."


Dua jenius, yakni ayah dan ibu juga berasal dari keluarga Rosefield. Dan kali ini, kakak di nilai memiliki bakat yang jauh lebih tinggi dari ayah dan ibu. Tentu saja semua orang akan iri.Tapi itu juga bukan hal yang baik untuk kakak. Orang yang iri kepada keluarga Rosefield tidak akan membiarkan keluarga Rosefield menjadi lebih kuat lagi.


Dari beberapa tempat, aku sudah merasakan beberapa pandangan tidak menyenangkan yang di tujukan ke arah kami. Intuisiku menjadi sangat kuat setelah pelatihan keras dari kakak dan penyelesaian quest embrio.


Tapi aku tidak terlalu khawatir. Dengan kekuatan kakak, orang yang bisa merugikannya mungkin sudah mati di masa lalu dan tidak akan terlahir kembali.


Kakak masih tidak peduli dengan diskusi para penonton, dia masih fokus mengekstraksi tanaman obat selanjutnya. Kali ini kakak memilih buah-buahan yang mirip seperti anggur, tapi berwarna merah gelap.


Saat di panaskan, buah itu gemetar dan bersinar dengan cahaya merah redup seakan ingin melawan nyala api. Meskipun ada perlawanan, api kakak membakar tanaman itu dengan mudah.


Cairan merah sebening kristal muncul dari tanaman itu. Berbeda dari siswa lainnya yang perlu memasukkan cairan hasil ekstraksi mereka ke dalam botol, cairan yang telah di ekstraksi oleh kakak tetap melayang di sudut tungku tanpa perlu di pindahkan ke wadah yang lain terlebih dahulu.


Ada sekitar dua puluh bahan yang kakak gunakan dari berbagai jenis tanaman. Tidak ada yang bisa menebak obat macam apa yang ingin di buat oleh kakak. Bahkan para Alkemis dan para instruktur juga tidak dapat mengidentifikasi abat macam apa yang di buat kakak berdasarkan bahan yang di pilih.


Sekilas kakak hanya asal memilih bahan, namun jika kalian memiliki mata yang jeli, kakak memilih setiap bahan dengan cermat dan memasak setiap bahan dalam ritme tertentu. Dan hal itu tidak akan lepas dari mata orang-orang berpengetahuan yang menonton di tribun.


Setelah kedua puluh bahan berhasil di ekstraksi, api perak putih dalam tungku menjadi padam. Cairan obat masih melayang di dalam tungku tanpa gangguan. Menurut penjelasan dari tuan Branze, seharusnya cairan obat akan rusak jika di biarkan di udara terbuka terlalu lama. Tapi bahan obat kakak tidak, karena ada api perak putih yang sangat tipis membungkus cairan-cairan itu untuk menjaga kualitas dan suhunya supaya tetap stabil.


Melihat dua puluh jenis cairan berwarna-warni di dalam tungku, kakak tersenyum. Dia nampak puas dengan hasilnya. Berbeda dari siswa lain yang kelelahan, kakak tetap tenang seperti biasa, seakan kakak hanyalah orang yang melihat dari samping tanpa melakukan apapun.


Kedua puluh cairan obat itu terbang perlahan dari dalam tungku dan melayang di atas tangan telapak tangan kakak. Bukan hanya cairan obat, tapi beberapa jenis ore yang berada di atas meja juga terbang ke telapak tangan kakak yang lain.


Api putih perak dengan kilatan listrik di sekitarnya langsung menyala dari tangan kakak. Membuat suhu udara di sekitarnya menjadi panas. Derak listrik terdengar seperti kicauan burung yang riuh.


Cairan obat terbang ke api yang ada di tangan kanan kakak, sementara Ore berkumpul di tangan kiri kakak.


Kedua puluh cairan obat itu berputar perlahan di tengah nyala api dan mulai menyatu menjadi satu. Kedua puluh cairan yang bergabung membentuk gumpalan sebesar dua telapak tangan orang dewasa. Cairan itu terus berputar dan menggeliat.


Reaksi keras terjadi yang membuat permukaan cairan itu sangat bergolak dan tidak stabil. Orang yang melihatnya akan khawatir bahwa cairan obat itu akan meledak di saat berikutnya.


Tapi itu tidak terjadi. Cairan obat berwarna-warni itu semakin bercampur menjadi warna merah kehijauan. Asap putih mengepul dari cairan itu dan menyebarkan aroma herbal yang sangat halus ke seluruh tempat.


Saat kakak mengepalkan tangan kanannya, cairan di dalam api itu juga mulai menyusut. Cairan yang sudah kental kembali di tekan oleh tekanan besar yang tidak terlihat hingga terkompresi menjadi sebuah pil merah padat dengan garis-garis hijau transparan yang indah di permukaannya, seperti bola kaca hiasan. Pil yang melayang di tangan kakak tidak bisa di sebut pil, tapi kayak untuk di sebut sebagai bola permata.


Cahaya hijau dan merah keluar dari pil di tangan kakak seperti matahari kecil. Kakak segera meraih pil itu dan memasukkannya ke dalam botol kaca.


Setelah selesai, kakak tidak bersantai. Tapi dia mengalihkan perhatiannya ke tangan kiri, tempat dimana lima jenis ore berputar-putar.


Kelima Ore itu mulai meleleh menjadi cairan merah panas. Kakak menyatukan kelima cairan itu menjadi satu. Seperti saling menolak, kelima cairan itu langsung berpisah. Aku mengira bahwa itu gagal, tapi ekspresi kakak terlihat sangat santai, jadi aku yakin bahwa kakak memang sengaja melakukan itu.


Sekali lagi, kelima cairan saling bertabrakan. Setiap tabrakan akan menciptakan percikan api ke sekitarnya. Banyak serpihan logam dan kotoran besi yang jatuh ke tanah. Proses itu terus di ulang-ulang puluhan kali dengan sangat cepat.


"Dia tidak memukul besi untuk menghilangkan kotorannya, tapi saling membenturkannya. Aku baru pertama kali melihat hal seperti itu."


Seorang pria pendek dengan otot-otot besar dan janggut lebat berkata dengan bersemangat. Dia adalah seorang dwarf yang memiliki bengkel di ibu kota. Meskipun pakaian terlihat kacau dan agak kotor, dia adalah penempa yang sangat di percayai oleh kerajaan, sehingga dia memiliki tempat di venue ini.


Setelah puluhan kali benturan, kakak berhenti melakukannya. Kelima cairan logam panas itu terus mengambang di dalam nyala api. Kali ini, kelima cairan panas itu mulai mengalir perlahan dan bertemu pusat lingkaran yang terbentuk oleh kelima cairan logam yang saling kejar-kejaran.


Kalima cairan logam di campur secara perlahan dan stabil. Tidak perlu waktu lama, kelima cairan panas bersatu sepenuhnya.


Tidak berhenti di situ, kakak mengeluarkan sebuah palu emas di tangan kanannya. Setelah menunggu cairan besi memadat, kakak menempa cairan itu menjadi ingot logam, lalu di pukul terus-menerus hingga menjadi lempengan logam tipis yang memanjang.


Kakak melipat kembali lempengan logam itu dan terus memalunya. Kakak mengulangi proses itu puluhan kali tanpa henti. Suara dentingan keras dari logam yang saling berbenturan memenuhi seluruh tempat, menarik perhatian semua orang.


Siswa yang belum menyelesaikan pekerjaan mereka juga berhenti untuk melihat apa yang kakak lakukan. Setelah beberapa saat, kakak berhenti dan membiarkan ingot logam itu mendingin dengan sendirinya.


Setelah dingin, semua orang bisa melihat ingot logam persegi berwarna abu-abu kusam. Daripada logam, itu lebih terlihat seperti batu persegi yang tidak mencolok.


"Sayang sekali...!"


"Apakah itu gagal?."


"Mungkin dia sebenarnya tidak bisa menempa dan hanya mencoba saja. Sungguh sayang."


"Ya, tapi kemampuan memurnian obatnya benar-benar sangat mengagumkan. dia masih layak menjadi seorang pemenang."


"Ya!."


.....


Para penonton mulai menyesali kegagalan kakak dalam membuat material. Tapi apakah itu benar-benar gagal?. Melihat dari ekspresi kakak yang tidak kecewa, aku yakin itu tidak gagal.


Meskipun beberapa bangsawan di venue ini juga membicarakannya, tidak ada yang berbicara buruk. Mereka hanya menggelengkan kepala dengan kecewa.


Kakak kembali mengeluarkan sebuah wadah kaca besar dengan cairan biru transparan di dalamnya. Dengan sebuah penjepit logam, kakak mengambil ingot itu dan mencelupkannya ke dalam cairan.


Setelah membiarkan ingot logam itu selama beberapa saat di dalam cairan, kakak kembali mengambilnya. Saat ingot di keluarkan, cairan biru di permukaan ingot segera mengering. Lapisan abu-abu pada permukaan ingot mulai terkelupas dan jatuh ke tanah sedikit demi sedikit, menunjukkan cahaya emas di dalamnya.


Kakak meletakan ingot itu dia atas nampan logam perak yang sudah di sediakan oleh akademi. Semua orang bisa melihat ingot logam berwarna emas murni dengan garis berlapis kemerahan seperti baja damaskus yang berwarna emas.


Ingot logam itu mengeluarkan cahaya emas kemerahan yang sangat mempesona. Melihat hasilnya, kakak mengangguk sedikit, seakan puas dengan apa yang dia buat. Di samping ingot itu, kakak juga meletakkan botol kaca yang berisi pil untuk di serahkan kepada juri yang menilainya.


Melihat ekspresi kakak yang sedang menunggu penilaian dengan tenang sambil duduk, aku sedikit kesal. Sudah jelas siapa yang menang, apakah penilaian masih di perlukan?!.


(Akhir dari chapter ini.)


Jika menemukan kesalahan dalam pengetikan tolong segera melapor kepadaku.