
"Apa, apakah isi dalam kotak itu begitu berharga?."
"Sepertinya begitu. Jika tidak, tidak mungkin Yang Mulia akan bertindak seperti itu."
.....
Banyak bisikan yang bisa aku dengarkan. Meskipun banyak orang penasaran, tapi sepertinya Yang Mulia tidak ingin hadiahku di ketahui oleh orang lain. Yah, aku juga tahu bahwa senjata setingkat itu sangat berharga saat ini.
Setelah memberikan hadiah, aku hanya mundur dan menikmati pestanya. Jika aku boleh jujur, sebenarnya pesta ini terasa sangat membosankan bagi ku. Jika bukan karena aku harus menghormati Yang Mulia, aku sudah akan pergi meninggalkan pesta ini dan melakukan sesuatu yang lain.
Selama pesta, banyak anak-anak bangsawan yang menemuiku untuk mengambil inisiatif berbicara denganku. Entah kenapa, saat mereka berbicara, mereka terus memamerkan keluarga mereka. Tidak satupun yang bisa mereka banggakan untuk diri sendiri.
Percakapan semacam ini adalah percakapan yang paling aku benci. Aku menanggapi hanya dengan beberapa patah kata hanya untuk kesopanan. Akhirnya, setelah sekitar tengah hari, pesta berakhir dan akan di lanjutkan untuk pesta dansa di malam hari.
Dikatakan selesai, sebenarnya tidak seperti itu. Meskipun pesta selesai, tapi para bangsawan tetap di izinkan di istana untuk bersosialisasi atau menunggu hingga pesta dansa. Maka dari itu, di ruangan ini masih banyak orang-orang yang bersosialisasi, tapi juga banyak orang yang kembali ke kediaman mereka untuk mengurusi beberapa hal.
Karena tadi Yang Mulia ingin berbicara denganku, saat pesta berakhir aku dipanggil oleh seorang pelayan untuk mengikutinya bertemu Yang Mulia.
Aku dibawa ke sebuah ruangan yang luas. Ruangan itu mirip dengan ruang keluarga dengan sofa dan hal-hal lain yang di butuhkan.
Di dalam ruangan itu duduk pangeran, putri, raja, dan ratu. Mereka duduk di sofa sambil minum teh selayaknya sebuah keluarga yang harmonis.
Filia:"Yang Mulia!."
Aku membungkuk sedikit dan memberikan etiket hormat seorang bangsawan. Setelah aku memberikan hormat, aku di sambut oleh mereka dengan senyuman.
Leonis:"Tidak perlu terlalu formal. Duduklah!."
Filia:"Terima kasih Yang Mulia."
Leonis:"Apa itu. Bukankah aku menyuruhmu untuk memanggil ku paman?!."
Filia:"Iya paman."
Leonis:"Itu lebih baik. Sekarang, bisakah aku menanyakan sesuatu padamu?."
Filia:"Iya, Paman."
Aku sudah bisa menebak apa yang ingin di tanyakan oleh Yang Mulia kepadaku. Aku tahu bahwa hadiah yang aku berikan akan membuat mereka terkejut.
Marieta:"Hadiah ini, apakah kamu tahu hadiah seperti apa ini?."
Filia:"Saya tahu, Yang Mulia."
Marieta:"Lalu, apakah kamu yakin ingin memberikan benda seperti ini kepadaku sebagai hadiah?."
Filia:"Saya yakin."
Leonis:"Filia, benda yang kamu berikan sangat berharga. Bahkan di kerajaan ini hanya ada tiga atau empat potong saja, itupun dengan kualitas yang lebih rendah."
Aku tahu bahwa benda Epic Tier akan sangat berharga, bahkan bagi para pemain sepertiku. Tapi, Epic Tier sekelas itu sangat mudah untuk aku buat sendiri. Tentu saja premisnya adalah bahwa aku memiliki cetak biru dan kekuatanku mencukupi.
Cetak biru itupun jika yang aku produksi adalah yang khusus, sementara yang umum aku bisa mendesainnya sendiri. Mungkin kalian berfikir: Jika pemain memiliki kemampuan untuk membuat item, kenapa mereka harus pergi berpetualang untuk mendapatkan item?.
Sebenarnya pemikiran itu tidak sangat salah. Tapi, Epic item yang di dapatkan dari quest ataupun monster drop memiliki keunggulannya sendiri. Bahkan Epic item yang setingkat bisa dua kali lebih kuat daripada yang di buat oleh pemain. Bagaimanapun, item yang di dapatkan dari quest dan monster drop adalah peninggalan dari zaman kuno sebelum kehancuran peradaban secara berulang.
Filia:"Saya tahu. Tapi, item yang saya berikan bisa saya buat sendiri, jadi Yang Mulia tidak perlu sungkan untuk menerimanya."
"APA....!!"
Leonis:"K, kamu membuatnya sendiri?."
Marieta:"Bagaimana bisa. Pengetahuan untuk membuat item seperti itu sudah hilang sejah tahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya."
Filia:"Benar, saya membuatnya sendiri dengan kedua tangan hamba."
Aku mengatakan bahwa aku yang membuat benda itu sendiri bukan untuk menyombongkan diri, tapi aku ingin mereka mengetahui kekuatanku dan bisa berdiskusi dengan mereka secara layak untuk mendapatkan «Holy Dragon Mist» yang menjadi harta kerajaan ini.
Sebisa mungkin, aku ingin mendapatkan pedang itu tanpa kekerasan. Selain karena tujuan itu, aku memiliki banyak item berharga. Jadi, jika suatu saat aku mengeluarkan item itu, aku tidak perlu menjelaskan darimana aku mendapatkannya.
Masalah?. Aku tidak takut mendapatkan masalah karena orang-orang tahu bahwa aku memiliki kemampuan untuk membuat item tingkat tinggi. Daripada meminta Masalah, aku lebih percaya bahwa mereka akan waspada. Dan jikapun ada masalah, aku memiliki kepercayaan diri untuk mengatasinya.
Sophia:"Apakah ibu terkejut?."
Tiba-tiba putri Sophia berbicara dengan bangga seakan sudah tahu bahwa aku membuat benda itu. Yah, aku tidak terkejut. Aku menebak bahwa berita itu mereka dengar dari akademi.
Ratu dan Raja menatap putri Sophia dengan heran. Mereka sepertinya heran karena putri Sophia sudah mengetahuinya.
Marieta:"Sophia, apa kamu tahu?."
Sophia:"Tentu saja."
Elion:"Berita ini telah menyebar di seluruh akademi. Nona Filia menciptakan sesuatu yang hebat dalam waktu satu hari penuh."
Sophia:"Di katakan begitu. Nona Filia membuat hal-hal itu seharian penuh tanpa istirahat dan melupakan makan. Ilma sangat khawatir waktu itu."
Mendengar cerita dari pangeran Elion dan putri Sophia, ratu menatapku dan pandangannya melembut. Ada senyum lembut di sudut bibirnya.
Ratu mengalihkan perhatiannya dariku dan meraih tongkat di dalam kotak yang di pegang oleh pelayan, ratu menatap tongkat itu dengan senyuman yang terlihat sangat menghargai.
Marieta:"Tongkat ini sangat cantik dan kuat."
Filia:"Karena saya tidak tahu apa afinitas sihir anda, jadi saya menggunakan kristal sihir kosong. Meskipun atribut tongkat itu condong ke arah elemen api, tapi tongkat itu tidak akan melemahkan kemampuan elemen lain, termasuk air. Hanya saja, jika anda menggunakan sihir api, kekuatannya akan di tingkatkan ke margin yang cukup besar."
Sederhananya, jika Yang Mulia menggunakan elemen lain, Yang Mulia akan menggunakan satu kali usaha dengan hasil dua kali lipat. Tapi, jika Yang Mulia menggunakan elemen api, Yang Mulia hanya perlu menggunakan setengah usaha untuk hasil dua kali lipat.
Marieta:"Sepertinya aku lebih condong ke arah api dan kayu. Saat menggunakan kedua elemen sihir itu, aku merasa jauh lebih akrab dan mudah daripada menggunakan elemen lain."
Filia:"Jika memang demikian, maka saya bersyukur karena hadiah saya cocok dengan anda, Yang Mulia."
Leonis:"Yah, tapi aku juga perlu membalasmu atas hadiah yang begitu berharga. Jika kamu memiliki sebuah keinginan, kamu bisa mengatakannya. Aku akan berusaha memenuhinya jika itu masih dalam lingkup kemampuanku. Apakah kamu menginginkan sesuatu?."
Filia:"Saya tidak akan menolak atas niat baik Paman. Tapi, saat ini saya belum menginginkan apapun. Jika waktunya telah tiba, saya tidak akan sopan."
Aku menjawab pertanyaan Yang Mulia dengan tegas tanpa keraguan. Aku memang menginginkan harta kerajaan, tapi aku tidak bisa langsung memintanya saat ini. Aku tidak mau menghancurkan kesan baik mereka kepadaku. Aku akan menunggu kapan waktu yang tepat untuk memintanya.
Leonis:"Yah, jika demikian, aku akan menunggunya."
Marieta:"Filia, seharusnya kamu tidak perlu memberikan hadiah untukku. Nana telah mengirimkan hadiah dari garis depan kepadaku."
Ratu melambaikan tangannya ke pelayan dan pelayan itu membungkuk sebagai isyarat bahwa dia tahu dan akan melakukan perintah dari sang ratu. Pelayan itu pergi ke luar ruangan dan kembali setelah sekitar lima atau enam menit.
Pelayan itu kembali sambil membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat sebuah longsword. Bagian Cross-guard berbentuk seperti sayap burung berwarna merah dan kombinasi emas. Dilihat dari bentuknya, sepertinya pedang itu awalnya terlihat sangat cantik, tapi saat ini, longsword itu dalam kondisi yang mengenaskan.
Bagian bilah pedang itu hanya tinggal separuh dan terlihat tumpul serta terdapat banyak retakan di sisa bilahnya. Dapat di lihat bahwa pedang itu telah melalui banyak pertempuran yang sangat intens.
Marieta:"Pedang itu adalah hadiah dari ibumu. Dia mengatakan dalam suratnya, bahwa pedang itu adalah milik dari komandan musuh yang berhasil dia kalahkan."
Jujur, aku terkejut mendengarnya. Ibu memberikan sang ratu hadiah seperti itu. Aku benar-benar mulai meragukan pola pikir ibu. Aku akan mulai percaya bahwa ibu adalah maniak pertarungan.
Marieta:"Yah, ini adalah hal yang biasa. Tahun lalu, Nana memberiku sebuah armor dada dengan bekas sayatan pedang di atasnya. Nana selalu memberikan hadiah seperti itu kepadaku saat terjadi perang."
Sambil mengatakan itu, aku sama sekali tidak melihat ketidakpuasan dari Yang Mulia. Sebaliknya, aku melihat bahwa ada Kilauan bahagia dan senang dari Yang Mulia saat membahas hal itu.
Saat aku penasaran kenapa seperti itu, Yang Mulia mulai menceritakan kisah di masa lalu. Ternyata Yang mulia raja dan ratu merupakan teman seperjalanan ayah dan ibu. Dulu ibu sempat berkunjung ke negara sebelah saat masih muda. Karena sifat ibu yang mudah penasaran dan senang menjelajah, ibu lari dari pengawasan pengawalnya dan akhirnya dia tersesat jauh dari kota karena menumpang kereta kuda pedagang secara sembarangan.
Saat ibu menyadarinya, dia mencoba untuk kembali ke kota sendirian, tapi ibu malah tersesat jauh ke dalam hutan. Saat itulah rombongan ayah dan yang lainnya, termasuk raja dan ratu yang saat itu berstatus sebagai putra mahkota lewat sana. Kemudian ibu bertemu dengan kelompok petualang yang di pimpin ayah dan entah apa yang di pikirkan, ibu ingin ikut dalam petualangan itu.
Karena ibu memakai cara khusus dan menyembunyikan identitasnya, rombongan ayah tidak tahu siapa ibu. Pada akhirnya, mereka menjadi teman berpetualang. Waktu terus berjalan dan ayah serta ibu mulai menumbuhkan perasaan satu sama lain. Hingga satu tahun kemudian, ibu ditemukan oleh para kesatria dari Holy Kingdom dan di bawa kembali ke kerajaan.
Karena ayah dan yang lainnya tidak mengetahui identitas ibu, mereka mengira bahwa ibu akan di culik, jadi mereka memberikan perlawanan. Begitupun sebaliknya, para kesatria itu mengira bahwa ayah dan yang lainnya adalah orang yang menculik ibu, jadi pada akhirnya mereka bertarung.
Karena waktu itu Marshal dari Holy Kingdom memimpin secara langsung, kelompok petualang yang di pimpin ayah tidak bisa melakukan perlawanan dan akhirnya mereka di tangkap dan di bawa ke Holy Kingdom untuk di jatuhi hukuman.
Akhirnya kelompok petualang ayah di bebaskan setelah sampai di Holy Kingdom setelah beberapa bulan di penjara. Mereka bebas karena identitas mereka sebagai bangsawan kelas atas telah di ferifikasi dan terbukti tidak bersalah.
Sebenarnya ayah dan yang lainnya bisa langsung di jatuhi hukuman mati, tapi karena sejak awal ayah dan Yang Mulia mengatakan identitasnya, mereka hanya bisa di penjarakan sebelum identitas mereka di ferifikasi. Bukan berarti mereka tidak bisa di hukum mati meskipun mereka adalah bangsawan. Tapi untuk melakukan itu, perlu untuk melewati prosedur tertentu.
Mendengar cerita seperti itu dan cerita perjalanan mereka, itu membuatku tertawa. Aku tidak tahu bahwa ibu yang sekarang menjadi seorang Marshal dan wanita yang hebat akan membuat banyak masalah. Terutama banyak keonaran yang di lakukan ibu selama mereka menjadi tim petualang.
Click...!!
Saat berbicara dengan ratu dan yang lainnya, tiba-tiba aku merasakan sesuatu di kepalaku. Itu seperti ada suara di kepalaku yang hanya bisa aku dengar sendiri. Aku tahu sensasi ini.
Aku memusatkan perhatianku dan segera menghubungkan. Ini adalah pengingat komunikasi melalui telepati dengan orang lain. Segera, permintaan komunikasi itu terhubung, dan aku mendengar suara wanita yang halus dan lembut di kepalaku.
"Yang Mulia. Ngengat terbang ke api...!."
Mendengar itu, seketika aku merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat. Aku senang mendengar berita itu. Tanpa sadar, aku tersenyum karena berita yang di kirim oleh Selene kepadaku.
Filia:"Bersiap untuk bergerak!."
Selene:"Baik, Yang Mulia."
Panggilan segera di akhiri. Karena berita yang tiba-tiba, aku ragu bahwa aku akan bisa menghadiri acara pesta dansa malam ini. Aku harus segera bersiap dan kembali ke Helheim untuk melanjutkan rencana ku.
Awalnya aku mengira bahwa orang-orang itu dapat menahan diri lebih lama dan membuatku menunggu, tapi mereka melakukannya secepat ini yang sedikit lebih baik dari yang aku harapkan.
Leonis:"Filia, ada apa?."
Aku kembali ke kesadaran ku setelah dipanggil oleh Yang Mulia.
Filia:"Tidak, tidak ada apa-apa, paman."
Sophia:"S, senyum itu..."
Filia:"Apakah ada yang salah?."
Aku bertanya dengan bingung. Aku melihat bahwa putri Sophia sedikit aneh saat menatapku. Matanya penuh dengan kebingungan, pemikiran, dan ada kilatan rasa takut. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi mendengar dari pertanyaannya, sepertinya berhubungan dengan senyumku, kan?!.
Sophia:"T, tidak ada apa-apa."
Putri Sophia menggelengkan kepalanya dengan keras. Karena dia mengatakan tidak ada apa-apa, jadi aku tidak terikat oleh topik ini lagi.
Filia:"Yang Mulia, saya baru saja ingat bahwa saya harus melakukan sesuatu. Saya juga harus meminta maaf kepada Yang Mulia. Mungkin, untuk pesta dansa di malam hari, saya tidak dapat menghadirinya."
Marieta:"Aku mengerti."
Filia:"Terima kasih atas pengertian Yang Mulia. Saya permisi."
Aku segera pergi bersama Ilma dan meninggalkan istana untuk kembali ke akademi. Untuk ibu, dia masih ada beberapa hal yang harus di lakukan, jadi aku kembali hanya bersamaan Ilma.
Sampai di akademi, aku langsung naik ke asrama dan masuk ke dalam kamar. Aku memperingatkan Ilma untuk melarang siapapun masuk sebelum aku keluar sendiri. Meskipun awalnya Ilma sangat menentang, dengan beberapa penjelasan dan alasan, akhirnya aku bisa menyajikannya.
Aku segera mengeluarkan tiruan diriku dari tanah liat dan meletakkannya dalam posisi bersilah di atas tempat tidur. Aku segera menggunakan teleportasi dan pergi ke Helheim.
(Akhir dari chapter ini)
Mungkin aku tidak akan update untuk beberapa hari ke depan. Aku harus melakukan perbaikan dan pemeriksaan serta penyesuaian di chapter-chapter awal supaya memenuhi syarat kontrak. Maafkan aku dan jangan bosan menunggu. see you next time:)