
Filia:"Sepertinya tubuhmu sudah pulih."
Khaim:"I, iya. Terima kasih atas bantuannya."
Filia:"Tidak masalah. Oh, untuk yang aku katakan sebelumnya, mari kita bicarakan."
Khaim:"B, benarkah?!."
Filia:"Tentu."
Aku terlalu bersemangat dan tanpa sadar meninggikan nada suaraku. Saat aku kira akan ada ekspresi penghinaan di wajahnya, dia menjawabku sambil tersenyum. Aku sudah sering mendapatkan ekspresi mencemooh dan menghina dari anak bangsawan lain, tapi tidak aku duga, dia akan membuat ekspresi seperti itu saat menanggapi ku . Dia sangat berbeda dari anak bangsawan yang biasanya aku temui.
Filia:"Duduklah."
Liris:"Tapi Yang Mulia..."
Filia:"Tidak apa, aku yang mengundang kalian minum teh, jadi kalian bisa duduk dan minum teh bersamaku."
Aku sedikit ragu, tapi dengan desakan nona Filia, aku hanya bisa duduk dengan canggung. Agak tidak nyaman bagiku duduk di tempat ini, lagi pula hanya aku sendiri yang menjadi rakyat jelata. Stern juga orang biasa, tapi dia telah di akui menjadi kesatrian magang Rosenfield, jadi hanya aku yang orang asing di meja ini.
Filia:"Ilma."
Seorang maid yang berdiri di belakang nona Filia mengangguk dan pergi untuk memanggil pelayan kafetaria. Tak lama kemudian, dia kembali bersama dengan seorang pelayan perempuan.
Nima:"Pesanan anda, nona."
Filia:"Pesan seperti biasa."
Nima:"Saya mengerti."
Mendengar bagaimana nona Filia memesan, dia sepertinya sering memesan hal yang sama saat datang kemari. Terlebih lagi, nona Filia sepertinya akrab dengan pelayan itu. Sangat jarang seorang bangsawan mau memperhatikan seorang pelayan rendah di kafetaria, ini membuktikan bahwa nona Filia benar-benar berbeda dengan anak bangsawan lain dan dia juga lebih mudah di dekati.
Nima:"Dan untuk yang lain?."
Liris:"Sama dengan Yang Mulia."
Stern:"S, saya juga."
Khaim:"S, saya juga sama."
Nima:"Baik kalau begitu. Tolong tunggu sebentar."
Aku melihat nona Filia menutup buku yang tadi ia baca dan kemudian buku itu tiba-tiba lenyap dari tangannya. Sihir ruang?. Sihir ruang adalah sihir tingkat atas yang sangat sulit untuk di pelajari. Apalagi tidak ada buku atau catatan yang dapat menjelaskan tentang apa itu sihir ruang. Jika seseorang ingin mempelajari sihir ruang, maka dia perlu menjadi penyihir magang dan di ajari langsung oleh pengguna sihir ruang.
Sepertinya rumor bahwa dia adalah siswa tahun pertama tingkat rendah yang dapat mengalahkan para penyihir ahli, dan bahkan, ada yang mengatakan bahwa kemampuannya setara dengan penyihir istana, sepertinya rumor itu benar.
Dengan kemampuan itu, dia sudah tidak memerlukan pendidikan di akademi. Aku masih penasaran kenapa dia masih mau berada di akademi ini.
Filia:"Menurutmu, apa itu kesatria?."
Tiba-tiba dia bertanya padaku. Pertanyaan ini terlalu mendadak yang membuatku tidak siap untuk menjawabnya. Pikiranku menjadi kosong sejenak saat pertanyaan itu di ajukan kepadaku.
Khaim:"Em.. I, itu. Kesatria adalah orang pemberani yang kuat dengan pedang."
Mendengar jawabanku yang terkesan asal, dia hanya sedikit tersenyum dan mengalihkan perhatiannya kepada nona Liris dan Stern yang duduk diam memperhatikan kami.
Filia:"Kalian berdua, menurutmu, kesatria itu apa?."
Mungkin karena jawabanku tidak memuaskan, dia melemparkan pertanyaan itu kepada nona Liris dan Stern. Mereka berdua sedikit merenungkan jawaban dari pertanyaan Nona Filia.
Liris:"Kesatria adalah orang yang memiliki kemampuan dan keyakinan untuk menjalankan kewajibannya."
Stern:"M, menurut saya. Seorang kesatria adalah orang yang dapat di percaya dan setia kepada tuannya. Mereka akan rela mengorbankan segalanya demi sang tuan."
Filia:"Jawaban yang bagus. Tapi, itu belum benar."
Nima:"Tolong."
Pelayan itu datang sambil membawakan pot teh porselen putih dan lima gelas yang sudah berisi teh dengan warna gelap. Asap yang mengepul dari cangkir itu membawa aroma teh yang menyegarkan. Dari aromanya, aku tahu bahwa itu bukanlah jenis daun teh yang murah.
Sebelum nona Filia mengambil cangkir teh, pelayan yang selalu berdiri di belakangnya maju dan mengambil salah satu cangkir teh. Sia menghirup aromanya dan mencicipi teh tersebut. Setelah dia mencicipi teh, dia mengelap bibirnya dengan sapu tangan putih dan kembali berdiri diam. Setelah sekitar lima tiga menit, pelayan itu mengangguk ke arah nona Filia.
Bukankah seorang pelayan yang mendahului tuannya saat makan atau minum merupakan tindakan yang tidak sopan?. Sebenarnya apa yang terjadi?.
Mendapatkan persetujuan dari pelayannya, nona Filia mengambil salah satu cangkir dan mulai menikmatinya setalah dia menghirup aroma teh yang menenangkan itu.
Setelah meminum teh, bibirnya yang merah muda dan lembut mirip kelopak bunga plum di musim semi sedikit terangkat dengan senyum ringan. Dia meletakkan cangkir teh itu dan memandang kami.
Filia:"Kesatria bukanlah orang yang kuat, kesatria bukanlah orang yang dapat di percaya, kesatria bukanlah orang yang paling setia atau paling berani, tapi Kesatria adalah orang yang mencoba untuk menjadi itu semua. Mereka adalah orang yang bekerja keras untuk menjadi orang yang di harapkan oleh orang lain. Tapi, meskipun jawaban kalian salah, tapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa jawaban kalian benar-benar salah. Bagaimanapun, setiap orang memiliki pemahaman mereka sendiri tentang apa itu kesatria."
Kesatria bukan orang yang kuat, kesatria bukan orang yang dapat di percaya, kesatria bukan yang paling setia atau paling berani, tapi kesatria adalah orang yang berusaha untuk mencapai itu semua. Entah kenapa, kata-kata itu seperti memberiku semangat baru.
Aku bukanlah orang yang kuat, aku juga bukan orang yang berbakat. Tapi selama aku terus berusaha keras untuk mencapai itu semua, apakah aku juga bisa di sebut sebagai seorang kesatria?!.
Liris:"Jadi seperti itu. Saya sepertinya mengerti sesuatu."
Mata nona Liris menjadi berkilau dan cerah. Nona Filia melihat perilaku nona Liris sambil tersenyum dan meminum teh yang ada di cangkirnya. Perasaan yang di berikan nona Filia saat ini bukanlah perasaan yang dapat di berikan oleh seorang anak perempuan yang seusia denganku, tapi perasaan yang dia berikan lebih ke arah seorang instruktur wanita dewasa yang telah melihat dunia.
Filia:"Itu bagus jika kalian memahaminya. Mungkin saat ini kalian masih jauh dari kata kesatria, tapi asalkan kalian bekerja cukup keras, kalian akan meraih kata itu suatu hari nanti. Jadi, jangan khawatir tentang hal-hal itu, kalian hanya perlu berlatih dengan baik."
Jangan khawatir untuk menjadi lebih kuat, aku hanya perlu berusaha sebaik mungkin. Itulah yang dia maksud. Jangan khawatir, ya, aku tidak perlu kahwatir lagi.
Filia:"Dan untuk mu..."
Nona Filia memandangku. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu tentangku.
Filia:"Selama ini kamu berlatih dengan rajin, tapi setiap berlatih, hatimu dan pikiranmu selalu diliputi dengan rasa kekhawatiran sehingga kamu melewatkan pemahamanmu tentang apa yang kamu latih. Itulah kenapa kemampuanmu berkembang dengan lambat. Dan juga, aku harus mengatakan bahwa kamu tidak memiliki bakat dalam berpedang..."
Khaim:"A, aku tahu. T, tapi..."
Tapi apa yang bisa aku lakukan. Aku tahu bahwa aku tidak berbakat dalam berpedang, tapi demi menjadi seorang kesatria, aku harus terus belajar pedang.
Filia:"Tapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa, kan?!. Aku tahu, tapi tidak peduli seberapa keras kamu berlatih pedang, tanpa bakat, kamu tidak akan bisa menguasainya. Itu seperti penghalang yang tidak bisa kamu lalui untuk terus maju."
Itu benar-benar menyakitkan. Apakah semua usahaku salama ini sia-sia?!. Bakat, apakah bakat begitu kejam untuk melemparkan orang sepertiku?.
Khaim:"Lalu, apa yang bisa aku lakukan?!."
Aku bertanya pada nona Filia. Mendengar pertanyaan ku, dia tersenyum dan nampaknya sudah mengharapkan pertanyaan ku.
Khaim:"Bakat yang lain?."
Nona Filia tidak menjawabku. Tiba-tiba di telapak tangannya muncul sebuah tongkat kayu yang lurus sempurna dengan diameter sekitar dua sentimeter dan panjang sekitar dua meter. Nona Filia memandangi tongkat itu sebentar sebelum menyerahkannya kepadaku.
Aku mengulurkan tangan dengan bingung dan mengambil alih tongkat itu.
Ahhh... Bang...!.
Jauh dari dugaanku, ternyata tongkat ini cukup berat. Karena aku menggunakan satu tangan untuk mengambilnya, tanganku terkejut dan menjatuhkan tongkat di atas meja hingga menimbulkan suara yang sangat keras.
Cangkir teh dan teko yang berada di atas meja ikut terkejut dan menjadi berantakan bersama isinya. Tapi sebelum teh dan cangkir itu benar-benar berantakan atau jatuh ke lantai, teh dan cangkir itu melayang di udara. Aku melihat nona Filia sedikit mengayunkan lengannya dan teh yang melayang di udara itu segera kembali ke dalam cangkir seperti tidak ada yang terjadi.
Khaim:"M, maafkan aku..."
Aku sadar bahwa kali ini aku membuat masalah. Ini sangat memalukan, apalagi banyak orang yang makan di kafetaria mengalihkan perhatiannya kepadaku dengan beberapa orang yang menunjukkan mata menghina.
Filia:"Jangan khawatir."
Dengan lambaian tangan, tongkat itu melayang ke arahku. Aku segera memeluk tongkat itu supaya tidak terjatuh.
Filia:"Tongkat itu terbuat dari rotan besi putih. Tongkat itu lentur dan sangat kuat, beratnya sekitar sepuluh kilogram. Mulai sekarang, kamu akan berlatih untuk menggunakan tongkat. Setiap hari, cobalah untuk mengayunkan tongkat itu sebanyak seratus kali dan beristirahat. Jika kamu sudah merasa terbiasa, selanjutnya ayunkan sebanyak seribu kali. Setelah tiga bulan, aku akan mengajarimu teknik bertarung menggunakan tongkat."
Khaim:"Benarkah?!."
Filia:"Aku tidak perlu berbohong padamu."
Khaim:"K, kalau begitu_"
Filia:"Kamu tidak perlu berlatih sekarang. Sebaiknya kamu berlatih besok saat tubuhmu dalam kondisi terbaiknya. Kamu akan datang ke arena besok dan berlatih bersama Liris dan Stern."
Khaim:"Mengerti."
Setelah ini, kami membicarakan tentang pelatihan dan banyak hal lainnya sambil menikmati teh hingga seduhan teh terakhir.
Filia:"Oh benar, Nima, bagaimana dengan tehnya di musim dingin ini?."
Nona Filia bertanya pada pelayan itu tentang teh saat pelayan itu sedang merapikan teko dan cangkir di yang ada di atas meja.
Nima:"Dalam musim dingin seperti ini, tidak mungkin untuk memanen teh. Dan lagi dengan udara yang lembab di musim dingin, teh akan mudah berjamur, tapi setelah saya melakukan seperti yang anda katakan, persediaan teh yang di panen sebelum musim dingin dapat tersimpan dengan baik, jadi tidak ada masalah stok untuk saat ini."
Filia:"Itu bagus. Oh, dan juga aku ingin kamu untuk menambah pengiriman teh hitam putih ke Lounge."
Nima:"Saya mengerti."
Aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi setelah aku tahu, aku terkejut bahwa nona Filia membuka sebuah lounge yang bisa di kunjungi oleh siapapun. Terlebih lagi, aku mengetahui bahwa ada banyak makanan unik di tempat itu yang tidak dapat di temukan di tempat lain.
Aku mendengar nama Chocolate House dari anak bangsawan yang sering membicarakan tempat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka pernah masuk dan menikmati makan unik yang lezat di tempat itu. Saat aku mendengar mereka berbicara tentang itu, aku hanya bisa membayangkan seperti apa makanan yang bahkan para bangsawan akan menganggapnya enak.
Itu adalah salah satu tempat yang paling terkenal di ibu kota baru-baru ini. Siapa yang menduga bahwa tempat itu ternyata adalah milik pribadi nona Filia.
Filia:"Jika kalian tertarik mungkin kita bisa pergi ke sana besok. Aku akan memberitahu orang-orang ku di sana bahwa aku akan datang."
"Apakah kami juga di undang?."
Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku. Saat aku menoleh, ada seorang anak laki-laki dengan rambut emas tersenyum ramah sambil melangkah ke arah kami. Di sampingnya ada seorang anak perempuan yang terlihat sedikit pemalu bersama dengan beberapa pelayan yang mengikuti.
Khaim:"P, pangeran?!!."
Filia:"Pangeran Elion, Putri Sophia."
Liris:"Pangeran, Putri."
Stern:"Yang Mulia Pangeran, Putri."
Khaim:"M, maafkan ketidaksopanan saya."
Elion:"Tidak apa-apa."
Hanya aku yang terkejut. Aku melihat bahwa nona Filia dan yang lainnya hanya berdiri dengan tenang dan membungkuk untuk menyambut kedatangan pangeran dan putri.
Elion:"Apakah saya menggangu?."
Filia:"Tidak sama sekali. Kami hanya membicarakan beberapa hal umum, jadi tidak ada masalah jika anda ingin bergabung dengan pembicaraan yang membosankan ini."
Sophia:"N, nona Filia. Saya mendengar bahwa anda ingin pergi ke tempat itu, bisakah saya juga ikut?."
Filia:"Tentu, tapi bukankah anda bisa pergi dengan mudah?."
Putri Sophia menghampiri kami dan memegang lengan baju nona Filia sambil menunduk dan tampak sangat pemalu. Nona Filia tidak menolak interaksi itu, malah nona Filia mengangkat tangannya untuk mengusap kepala putri Sophia.
Jika itu orang lain, aku yakin orang itu sudah kehilangan seratus kepala jika berani melakukannya. Tapi tidak ada reaksi dari orang lain, seakan itu adalah hal yang biasa terjadi.
Elion:"Itu benar, tapi di musim dingin, itu hampir mustahil."
Pangeran mengatakan bahwa di musim dingin akan banyak orang yang kehilangan mata pencaharian dan angka kejahatan meningkat, jadi tidak aman untuk pergi ke kota tanpa pengawalan yang ketat.
Elion:"Tidak menyenangkan untuk pergi dengan banyak pengawal, tapi jika saya pergi dengan nona Filia, maka tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Filia:"Saya merasa sangat terhormat dengan kepercayaan anda, Yang Mulia."
Dengan itu, nona Filia memutuskan bahwa semua orang harus pergi ke rumah coklat itu hari ini. Aku tidak menyangka bahwa aku juga akan di ajak ke tempat itu. Tapi melihat barisan ini, aku merasa rendah diri.
Nona Filia mengeluarkan mantel berbulu untuk kami satu-persatu untuk menahan dingin. Di depan akademi sudah terparkir sebuah kereta kuda besar yang dapat menampung delapan orang.
Kereta itu menjadi sebuah pusat perhatian di depan akademi hingga banyak siswa yang mengelilinginya. Seluruh kereta kuda berwarna perak putih dengan lambang burung aneh dan sebuah bulan sabit di belakangnya. Kereta itu di tarik oleh binatang buas seperti kuda putih dengan sayap yang indah.
Ini... Terlalu berlebihan, bukan?!.
Aku benar-benar tidak akan mengerti kemewahan seorang bangsawan....
(Akhir dari chapter ini).
Sampai jumpa di next update.
Berhati-hatilah saat membaca untuk menjaga kesehatan mata kalian.