Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 90: Langkah Dominasi



(sudut pandang Filia)


setelah mendengarkan laporan Arkne bahwa energi kapal tidak akan bertahan lebih lama, aku memanggil Moon Palace. sebenarnya aku ingin mengembalikan kapal ini ke Alterion, tapi setelah aku melakukan panggilan ke dunia ini, hubungan antara dunia ini dan Alterion seakan terputus dan tidak dapat melakukan koneksi apapun. bisa di katakan bahwa ini adalah perjalanan satu arah tanpa jalan kembali.


yah, melakukan pemanggilan kepada Moon Palace juga bukan merupakan hal yang buruk. setidaknya aku tidak perlu repot-repot tentang mencari tempat berlindung. aku duduk di kursi takhta dan melihat putri Aneria dan yang lainnya pergi.


di ruang takhta hanya ada aku dan Arkne serta Upirina. untuk saat ini, aku memerintahkan Arkne kecil, ah, tidak. Arene untuk beristirahat. gadis kecil seperti dia telah melakukan perjalanan jauh yang tidak nyaman, aku takut kalau itu akan mempengaruhi pertumbuhannya di masa depan.


Arkne:"Yang Mulia, serangga seperti mereka, apakah layak untuk itu?"


Filia:"ya Arkne. sejak awal memang inilah yang aku tunggu"


Upirina:"sejak awal, Yang Mulia?, apakah anda sudah merencanakan ini sejak awal?"


Filia:"sebagian besar iya. sejak awal karena tujuanku dan dia adalah sama, aku menyetujui perjanjian itu. aku juga sadar bahwa dengan posisi seorang putri tidak akan bisa berbuat banyak, terutama untuk memberikan izin orang asing memasuki rahasia negara mereka"


Arkne:"apakah anda menyetujuinya karena memiliki tujuan yang sama?"


Filia:"bisa di katakan seperti itu. tanpa perjanjian pun, aku pasti akan pergi dan menghabisi monster itu, tapi tiba-tiba kesempatan di kirim ke pintu. aku sudah menduga jika keputusannya yang terburu-buru untuk membuat perjanjian dalam kepanikan akan menjadi keputusan yang salah. akhirnya terbukti bahwa dia tidak dapat memenuhi janjinya. itulah yang aku incar sejak awal".


Upirina:"apakah anda sudah menduga hal seperti itu, lalu ingin mengambil keuntungan, Yang Mulia!?"


nada Arkne dan Upirina menjadi lebih bersemangat setelah mendengar alasanku. yah aku tidak berbohong. memang itulah alasanku pada awalnya. dengan kekuatanku, aku yakin akan mendapatkan beberapa keuntungan.


Filia:"awalnya aku hanya ingin mengambil keuntungan kecil, tapi setelah memanggil Moon Palace, aku menyadari bahwa di dunia ini kita masih membutuhkan pasokan sumber daya. cara tercepat untuk mendapatkan sumber daya adalah dengan menaklukkan. jadi aku langsung memutuskan untuk menguasai negeri ini"


Arkne:"tapi bukankah lebih mudah jika kita melakukan serangan langsung dan merebut semua sumber daya, Yang Mulia?"


itu memang benar, tapi cara itu akan lebih banyak merugikan bagi ku. terutama saat ini ketika sumber daya di Moon Palace sedang terbatas.


Filia:"perang secata langsung hanyalah pemborosan. jika kita bisa melakukan secara halus dan mudah, untuk apa melakukan dengan cara yang kasar dan bar-bar seperti itu!?. lagipula jika kita melakukan itu, kita hanya akan mendapatkan sumber daya dengan jumlah terbatas. tapi itu semua berbeda ceritanya jika kita mengendalikan dari belakang. selain kita mendapatkan suntikan sumber daya secara berkelanjutan, kita juga tidak perlu menanggung masalah yang tidak perlu"


Arkne:"jadi seperti itu. jika kita menaklukan secara langsung dan kasar, kita akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan serangga-serangga itu dan mudah terjadi pemberontakan. jika hal itu terjadi, kita harus mengeluarkan tenaga dan sumber daya ekstra untuk menghadapinya. seperti yang diharapkan, Yang Mulia selalu memikirkan semuanya"


dia memang layak untuk mendapatkan gelar sebagai komandan. hanya saja kadang-kadang pemikiran rasionalnya akan terpengaruh oleh pikirannya yang kejam, jadi itulah pentingnya Upirina yang memiliki pemikiran tenang untuk selalu berada di sampingnya sebagai wakil komandan.


Filia:"bukan hanya itu, pemberontakan dan perang akan menyebabkan kematian yang tidak perlu. aku juga menganggap orang-orang sebagai sumber daya untuk dipekerjakan, jadi kehilangan mereka, itu sama dengan kehilangan sumber daya. jika kita mengendalikan dari balik layar, kita akan bisa memanfaatkan mereka dengan lebih mudah. lagipula mereka akan lebih percaya terhadap pemimpin lama daripada pemimpin baru yang belum mereka kenal"


aku berdiri dari kursi takhta dan berjalan menjauh bersama dengan Arkne dan Upirina. tujuanku adalah ruang harta karun untuk mengambil dan melihat beberapa item. aku menelusuri lorong panjang yang cerah, tapi agak sepi hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah pintu besar yang di jaga oleh dua kesatria wanita dengan tombak dan armor perak. di sepanjang koridor tadi terdapat banyak patung monster dan kesatria yang sebenarnya adalah Golem untuk lapisan penjaga keamanan ruang harta.


"Yang Mulia...!"


kedua kesatria itu memberikan hormat yang dalam kepadaku. yah, aku sebenarnya agak gugup dengan perilaku mereka, tapi aku harus selalu bersikap menjadi penguasa yang layak bagi mereka. sebenarnya apakah wajah gugup ku terlihat?. tidak, tidak terlihat, kan?


Filia:"ya"


tapi aku terkejut bisa menjawab hal itu dengan tenang tanpa suara yang bergetar. umumnya jika kamu gugup atau ragu, suaramu akan bergetar saat menjawab. apa mungkin ini efek dari title Holy Queen?. berharap saja seperti itu.


aku meletakkan tanganku di ambang pintu dan membukanya. sebenarnya pintu ini bisa di buka oleh siapapun, tapi jika tidak menggunakan manaku, setelah pintu terbuka hanya akan menjadi ruangan biasa, setidaknya akan menjadi ruangan penyimpanan Golem. Golem-golem itu akan menyerang penyusup yang tidak di kenal. yah, sebut saja ini adalah pintu jebakan.


ada sebuah tangga di samping yang akan memutari lautan emas ini dan langsung menuju ke pintu di seberangnya. aku menaiki tangga dan melihat lautan emas itu dari atas. aku bahkan ingat tokoh lama bernama Gober dari animasi kuno yang tersisa di bank data. jika aku membawa beberapa milyar GC, yang berada di sini mungkin berkali-kali lipatnya dengan yang aku bawa. di kejauhan aku melihat beberapa orang kesatria yang menuangkan emas dari peti dan menggabungkannya dengan emas yang lain. di belakang mereka masih terdapat deretan peti-peti harta yang lain. semua peti-peti harta itu berasal dari pertarungan dengan monster-monster itu. sepertinya hasil dari pertarungan itu tidak terlalu buruk.


di tengah-tengah lautan emas itu terdapat seorang gadis kecil yang meneriaki dan memberi perintah kepada para kesatria supaya menuangkan emas dengan hati-hati. aku melihat anak itu melambaikan tangan kecilnya ke arahku dengan senyum cerah. aku hanya menyapa dan membiarkan dia melanjutkan pekerjaannya.


akhirnya aku sampai di ujung jalan dan pergi menuruni tangga untuk menuju ke arah pintu selanjutnya. pintu ini besar dan berwarna hitam. di permukaannya terukir gambar lima ekor naga dengan permata berbagai warna di mulut mereka. di tengah pintu, terdapat ukiran mulut iblis yang mengerikan dan menghadap tepat ke arahku. apakah desain yang aku buat agak norak?. yah, tidak masalah. setidaknya tempat ini akan memberikan kesan yang menakutkan.


aku memasukkan mana ke arah sebuah Orb merah yang berada di hadapanku. warnanya yang kontras dengan pintu akan membuatnya mencolok dan mudah di temukan. tapi jika ada orang lain yang mencobanya, mereka hanya akan menerima sihir kutukan sebagai balasannya.


saat aku memasukkan mana ke dalamnya, Orb merah itu bercahaya dengan aura merah hitam yang melekat. dari dalam keluar duri-duri tajam berwarna merah yang akan meliliitku, tapi duri itu segera hancur seperti kaca. lima permata yang lain segera memancarkan cahaya dan pintu perlahan terbelah dan terbuka.


"Yang Mulia. selamat datang kembali"


sebuah suara lembut dan manis bergema di seluruh ruangan. aku akan selalu mengenali suara ini.


Filia:"Selene. terima kasih. bagaimana keadaanmu?"


"saya sangat baik"


Filia:"terima kasih, kerja keras untuk mu karena menjaga Moon Palace"


meskipun suaranya bergema di sini, tapi aku tahu bahwa Selene yang sesungguhnya sedang berada di menara pusat untuk mengawasi semua yang terjadi di pulau terbang. tugasnya untuk memantau dan mengawasi para kesatria cukup sibuk, jadi dia baru saja menyapaku saat ini. yah, lagi pula ruang harta adalah tempat yang paling dekat dengannya saat ini.


aku langsung memasuki ruangan yang cerah ini. di bagian dalamnya adalah ruangan yang sangat luas dengan berbagai benda. di setiap dinding terdapat rak-rak yang menyimpan banyak item dan equipment. banyak juga rak-rak kaca seperti di sebuah toko tradisional dengan berbagai macam kartu di dalamnya. kaca yang di gunakan adalah lapisan sihir dan mantra perlindungan, jadi akan sangat aman di sini. semua benda yang tersimpan di sini setidaknya berasal dari Tier Epic dan di atasnya. aku terus berjalan dan melihat lima altar dengan berbagai karakteristik yang berbeda. salah satu altar membeku dengan asap putih tebal seperti es. altar ini membeku karena dingin dari sebuah busur es di atasnya. selain es, altar yang lain menyala-nyala seperti api dengan tombak hitam bergaris api seperti magma di atasnya. lima altar ini adalah altar penyimpanan khusus untuk senjata Legendaris teratas yang hampir menyamai divine item.


memang aku bisa membuat mereka menjadi kartu dan meletakkan di dalam rak kaca, tapi demi estetika, aku membeli altar ini dengan sejumlah uang dari sistem. setelah memikirkannya, sepertinya aku memang boros akan uang.


meskipun banyak harta langka, tapi aku langsung menuju ke arah dimana Soul Orb tersimpan dan mengambilnya. sebenarnya jika diperhatikan lebih lanjut, ruangan yang super luas ini memiliki sisi gelap di salah satu sudutnya. sudut gelap itu sangat kontras dengan ruangan yang cerah ini. samar, tapi dapat di lihat sebuah Kilauan logam tinggi berbentuk humanoid yang berdiri di sudut itu. tinggi benda itu sekitar empat atau lima meter, tapi karena di selimuti oleh kegelapan, akan sulit untuk melihat keseluruhan bentuknya.


aku hanya memperhatikannya untuk beberapa saat dan pergi ke sebuah ruangan lain yang lebih kecil. ruangan itu kosong dan di dalamnya hanya terdapat Aray sihir biru yang bercahaya.


Filia:"Arkne, Upirina"


"ya, Yang Mulia"


Filia:"kalian tahu apa yang harus di lakukan dengan langkah selanjutnya. aku akan berada di masa penyembuhan saat ini, jadi lakukan dengan baik"


"baik, Yang Mulia"


mereka berdua menjawab secara bersamaan lalu segera pergi meninggalkan tempat ini. pintu yang tadinya ada di sana perlahan mulai ilusif dan menghilang tanpa jejak. aku melangkah ke dalam Aray sihir dan mengeluarkan Soul Orb yang bersinar cerah.


berhasil atau gagal akan diputuskan saat ini...


(akhir dari chapter ini)


selamat menikmati membaca. see you next time;)