Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 180: Danau Lava.



Star Eater adalah makhluk ekstraterestrial yang sangat menakutkan. Saat dewasa mereka adalah makhluk yang menelan planet dan bintang untuk menjadi sumber energi mereka. Bahkan dewa Tier enam tidak akan mampu melawan mereka di Tier yang sama, kecuali mereka menggunakan divine item.


Namun, seberapa mudah mendapatkan divine item?!. Yang membuat orang merasa beruntung, jumlah mereka sangat kecil karena mereka sangat sulit untuk berkembang biak. Bahkan telur mereka memerlukan waktu yang sangat lama untuk menetas.


Peluang untuk bertemu mereka di seluruh alam semesta hanya 0,00000001%. Perlu di ketahui, dalam satu kuadran, terdapat jutaan bahkan milyaran semesta. Dan sialnya, aku bertemu salah satunya di tempat ini.


Aku mendapatkan peluang 0,00000001% itu. Tapi entah kenapa, ini adalah pertama kalinya aku merasa sangat tidak bahagia karena keberuntunganku yang baik.


«Omniscient Eye»


...----------------...


Ras: Star Eater.


Species: Star-Swallowing Obsidian.


Phase: Baby.


Tier: Meteorite. (Tier 3).


Description: Ras ekstraterestrial yang sangat kuat. Meskipun jumlah mereka hanya sedikit, tapi mereka merupakan salah satu Beast yang mendiami puncak di seluruh Alterion. Dalam waktu 1000 tahun, Star Eater hanya akan menghasilkan satu telur, dan seribu tahun lagi telur itu akan menetas. Telur perlu menyerap radiasi dan panas dari lingkungan sekitar untuk membantunya menetas. Dimanapun telur itu menetas, maka tempat itu akan menjadi kehancuran setelah semua energi di tempat itu tertelan untuk membantunya tumbuh.


Special Ability: Swallowing Stars (Stage one).


Pada tahap pertama, Star Eater dapat menyerap energi di sekitarnya untuk terus tumbuh dan memulihkan diri saat terluka.


Tahap ke dua, Star Eater dapat menyerap apapun termasuk meteorit dan planet.


Tahap ke tiga, Star Eater dapat menelan bintang.


...----------------...


Sangat beruntung bahwa aku berhasil menemukannya sebelum itu tumbuh dewasa. Jika aku terlambat menemukannya, mungkin seluruh daratan utama akan berubah menjadi kekacauan yang mengerikan.


Meskipun tidak akan tertelan oleh Star Eater karena energinya yang terlalu besar, tapi mungkin permukaan daratan utama akan hancur dan makhluk hidup di atasnya akan punah di telan oleh Star Eater.


Meskipun dia setingkat denganku, tapi aku hampir tidak memiliki keyakinan untuk mengalahkannya. Dengan lingkungan penuh radiasi seperti ini, dia seperti mendapatkan suplai energi yang tidak terbatas. Apalagi, kemampuan apiku tidak akan berpengaruh besar padanya.


Ini benar-benar akan menjadi pertarungan yang sulit. Meskipun sulit, tapi sensasi melawan bos seperti ini, membuat jantungku berdetak lebih kencang. Ini mengingatkanku saat hari-hari bermain game di Alterion.


Swos....


Star Eater mengepakkan sayapnya yang besar untuk terbang ke angkasa. Meskipun tubuh dari Star Eater sangat besar, tapi mereka memiliki kecepatan yang sangat luar biasa. Saat terbang ke langit, sayapnya membuat garis cahaya merah di udara, seperti ekor meteor yang terbakar.


Star Eater terbang hingga menembus awan, membuat awan gelap itu tersebar dan menunjukkan langit biru di baliknya. Dia mengambang di udara sambil membuka sayapnya yang lebar, membuat matahari di belakangnya terhalang sehingga aku hanya bisa melihat siluet hitam darinya.


Dari siluet itu, empat pupil merah berapi-api memancarkan cahaya merah yang kejam. Mungkin dia sangat marah karena aku mengganggu istirahatnya, atau mungkin dia merasakan ancaman dariku yang sudah membunuh lima ekor kepiting saat dia menyerap energi. Dia tidak mau proses penyerapan energinya terganggu, jadi dia mungkin ingin menyingkirkanku.


Jika kekuatanku lebih besar, mungkin dia akan lebih memilih bersembunyi, tapi karena dia melihat bahwa kekuatanku hanya Tier tiga, dia berani keluar untuk membunuhku.


Dia sama sekali tidak memikirkan apakah aku memiliki kekuatan untuk membunuhnya di Tier yang sama atau tidak. Itulah salah satu kelemahan dari Star Eater yang masih bayi, mereka belum bisa menyerap semua warisan darah dari leluhurnya dan hanya bertindak berdasarkan insting dan perkiraan. Bisa di katakan, dia sangat impulsif.


Sayapnya sedikit gemetar dan dia langsung menghilang di tempatnya. Aku hanya bisa melihat garis merah sebelum sebuah cakar besar berada tepat di depan wajahku.


Meskipun hanya sepersekian detik, aku masih bisa mengambil waktu untuk memasang pertahanan. Aku menahan serangan cakar itu dengan bilah pedang supaya serangan itu tidak langsung jatuh ke tubuhku.


Makhluk itu tidak perlu melapisi cakarnya dengan mana, hanya dengan memanfaatkan energi kinetik yang di sebabkan oleh gerakannya yang sangat cepat, dia sudah memiliki daya hancur yang sangat besar.


Mana mungkin aku bisa menahan serangan sekelas itu?!. Alhasil, tubuhku terlempar dan membentur permukaan tanah yang tandus.


Bang...!!


Sebuah kawah besar terbentuk karena dampak benturan yang keras. Aku merasa bahwa seluruh tulang yang ada di tubuhku telah terguncang sangat parah. Tenggorokanku sedikit asin di barengi dengan rasa karat yang menyebar ke seluruh mulut.


Seteguk besar darah di muntahkan ke atas tanah tandus. Tanganku gemetar dan mati rasa hanya dari satu benturan. Aku mendongak dan melihat monster itu yang menatapku dengan keempat pupil merahnya, ada kesombongan dan meremehkan di keempat mata itu.


Filia:"Kamu hanya bayi yang sangat sombong. Lihat bagaimana aku akan mengemasmu."


Monster itu meskipun bertubuh besar, dia memiliki kecepatan yang luar biasa yang sudah aku duga dari awal. Itulah kenapa aku selalu mengaktifkan Omniscient eye supaya aku bisa mengikuti gerakan cepatnya itu. Bagaimanapun, Star Eater adalah makhluk yang hidup di ruang angkasa dan berpindah dari satu semesta ke semesta lain. Jadi, wajar jika dia memiliki kecepatan seperti itu.


Bayangkan saja jarak rata-rata antara Bumi dan Merkurius bisa mencapai sekitar tujuh puluh tujuh juta kilometer. Jika makhluk yang menjelajahi seluruh kekosongan tidak memiliki kecepatan, bagaimana mereka bisa menjelajah?. Apalagi Star Eater merupakan makhluk yang menelan bintang untuk memenuhi nutrisinya. Dan kita tahu seberapa besar jarak antara satu bintang dan bintang lainnya.


Sayap putih perak terbentuk di punggungku. aku harus memiliki kecepatan hingga Mach delapan untuk menandingi makhluk itu. Itu hanya kecepatan bayi, begitu mereka dewasa, kecepatannya akan berlipat ganda dan bahkan bisa sampai 30% kecepatan cahaya.


Itu tidak terdengar sangat cepat jika dalam kecepatan yang diperlukan untuk menjelajahi seluruh alam semesta dan kuadran, tapi mereka memiliki kemampuan lain saat mereka tumbuh dewasa, yakni melipat ruang untuk melakukan perjalanan, yang bisa mendongkrak kecepatannya hingga tiga kali kecepatan cahaya.


Gelombang sonik yang sangat keras terdengar dan menghancurkan permukaan tanah. Aku langsung mengangkat pedang dan menebaskannya ke kepala makhluk itu.


Slash....!


Dengan kilatan cahaya merah, salah satu tanduk di kepalanya terpotong sebagian.


Roarr....!


Teriakan nyaring terdengar menggema di seluruh langit. Aku berhasil memotong tanduknya karena makhluk itu terlalu lengah. Jika dia siap, aku tidak akan semudah itu untuk mendapatkan tanduknya.


Saat aku ingin mengayunkan kembali katana di tanganku, tiba-tiba mataku menangkap bayangan sapuan ekor yang akan mengenai tubuhku. Aku segera menggunakan kecepatanku untuk menghindari serangan itu. Beberapa saat kemudian, bayangan itu menjadi nyata. Beruntung bahwa aku menghindar sebelum serangan itu datang.


Inilah kemampuan memprediksi dari Omniscient eye yang dapat melihat masa depan, atau lebih tepatnya menghitung jalur serangan musuh sebelum serangan itu datang.


Ekornya yang sangat panjang menyapu udara dan membuat udara berteriak dengan suara yang memekakkan telinga. Karena kecepatan dari ayunan ekor itu berada di Mach dua, jadi suara angin yang terbelah itu datang setelah serangan di lakukan.


Meskipun aku menghindar, tapi angin yang di timbulkan berhasil membuatku terdorong mundur. Sebelum aku menstabilkan tubuh, monster itu kembali mengangkat cakar besarnya dan ingin memukulku.


Lima belas lapis perisai emas muncul di hadapanku. Cakar besar dari monster itu menabrak perisai, membuat perisai itu hancur satu-persatu hingga akhirnya perisai terakhir juga di hancurkan. Namun, perisai itu sudah memberiku cukup waktu untuk menghindar dan pergi dari area serangan.


Bang ...!


Sebuah lubang besar terbentuk di tanah karena efek dari pukulan itu. Meskipun pukulan itu terlihat biasa saja, tapi ada aura merah yang di padatkan di tangannya dan dapat memperluas efek penghancur dari tinjunya. Alhasil, aura yang berhasil di hindari akan terus maju ke tanah dan menghancurkannya.


Tidak mungkin aku menunggu monster itu kembali menyerangku. Aku terbang dengan kecepatan tinggi dan menusuk bagian punggung makhluk itu dengan ujung katana.


Meskipun awalnya sulit untuk masuk, tapi akhirnya pertahanannya yang sangat kuat berhasil menciptakan celah. Sebelum katana menusuk terlalu dalam, monster itu terbang berputar, dengan kecepatan terbang yang k


luar biasa, aku terlempar dari punggungnya.


Saat berputar di udara, tiba-tiba sebuah sapuan ekor mengenai tubuhku dengan telak. Aku merasa kepalaku berputar dan sangat kacau. Hanya sepersekian detik, aku merasakan bahwa tubuhku telah menabrak tanah dengan kecepatan yang mengerikan.


Tiga tulang rusuk dan sebelas tulang punggungku mengalami retakan yang parah. Karena pertanahan armor ini terlalu lemah, armor Scorpio telah banyak di hancurkan. Saat aku mencoba berdiri, beberapa potong pakaian besi terjatuh ke tanah dan berubah menjadi partikel cahaya sebelum menghilang.


Api putih segera menyala di seluruh tubuhku dan menyembuhkan luka-lukaku yang paling parah. Tidak ada waktu untuk menyembuhkan semuanya, jadi aku hanya memilih untuk menyembuhkan luka yang paling besar mempengaruhi gerakan ku.


Benar-benar mengerikan. Bahkan dengan divine weapon, aku masih sangat kesulitan untuk melukainya. Meskipun di Tier tiga aku belum bisa menggunakan seluruh potensi divine weapon, tapi senjata ini sudah sangat kuat. Buktinya, pertahanan Star Eater yang sangat kuat berhasil ditembus tanpa banyak usaha.


Jika itu hanya senjata Legendary, aku baru bisa membuat luka seperti itu setelah membuat dua atau tiga serangan di tempat yang sama secara berturut-turut. Ini membuktikan celah antara divine item dan item di bawahnya.


Aku melihat bahwa Star Eater berhenti di udara dan menatapku dengan penuh kebencian. Luka di punggungnya telah sembuh setelah dia menyerap panas dan radiasi yang ada di tempat ini.


Tidak, tidak bisa terus seperti ini. Jika aku terus mengajak monster itu bertarung di area ini, maka dia bisa mendapatkan keuntungan dari lingkungan dan selalu mendapatkan pasokan energi yang hampir tak terbatas.


Selain kekuatanku yang sedikit lebih rendah, dia mendapatkan keutungan dari lingkungan. Hal ini akan segera menyebabkan kekalahan bagiku.


«Soul Force:Activate»


Bayangan teratai emas merah raksasa mengambang di atasku. Sebuah bayangan manusia transparan duduk di tengah bunga teratai dengan mata tertutup. Bayangan itu membuka matanya secara perlahan. Mata itu berwarna emas dan merah yang sangat mirip dengan Omniscient eye seperti milikku. Bukan hanya mata yang mirip, seluruh fitur dari sosok itu benar-benar mirip denganku.


Bang...!


Namun, sebelum aku menyatukan diri dengan kekuatan jiwa, monster itu sudah tiba di depanku dan membuka mulutnya yang besar.


Dia membuka mulutnya dan mengigit lengan kiriku. Bukan hanya monster itu yang bergerak cepat, bayangan transparan di atas bunga teratai itu juga mengayunkan tangannya. Seperti ada kekuatan yang tak terlihat, monster itu langsung terlempar ke tanah dan jatuh seperti meteor.


Akh...!


Namun itu juga sedikit terlambat. Lengan kiri bawahku sudah tercabik oleh monster. Tapi tidak ada darah yang menetes dari luka itu. Tangan kiriku sudah di selimuti oleh api merah kehitaman yang terus merambat dan membakar tanganku.


Melihat api merah yang meradang, aku dengan terpaksa mengigit bibir bawahku dan memasukkan katana merah di antara tangan dan tubuhku lalu mengangkatnya ke udara dengan keras. Potongan tangan yang terbakar terlempar ke udara bersama dengan pancuran darah merah.


Aku terpaksa untuk memotong seluruh tangan kiriku supaya api merah hitam itu tidak menyebar ke seluruh tubuhku. Api ini sangat menakutkan. Aku belum pernah mendengar bahwa Star Eater memiliki teknik bertarung api seperti ini.


Api putih segera menyelimuti bahuku yang terpotong dan menghentikan pendarahan. Aku menatap ke bawah dan melihat monster itu berdiri perlahan dari tanah sambil menggelengkan kepalanya yang pusing.


Serangan itu tidak membunuhku, tapi bayangan teratai di atas kepalaku juga telah menghilang. Aku bisa melihat kilatan kebanggan di mata monster itu.


Sialan. Kamu monster kecil yang berani menghinaku. Tanpa basa-basi, aku mengangkat pedang merah darah itu dan langsung terbang menuju ke arah monster itu. Kamu ingin bertarung?!. Maka ayo bertarung dengan seluruh kekuatan kita.


«Twelve Constellation Armor: Capricorn»


Armor emas ungu telah berubah menjadi armor emas dengan paduan biru seperti air. Untuk bertarung dengan Star Eater yang memiliki elemen api, aku menggunakan armor dengan elemen air.


Tentu saja ada armor dengan elemen air yang kuat, termasuk Aquarius. Tapi Aquarius adalah armor untuk penyihir yang akan sangat buruk dalam pertarungan ini. Aku memilih Capricorn karena Capricorn merupakan armor khusus untuk pejuang sihir yang memadukan pertarungan fisik dan sihir. Mirip seperti Magicswordman, tapi mereka hanya menggunakan sihir untuk pertarungan jarak dekat yang berupa tangan kosong atau senjata tumpul.


«Martial Arts Technique: Thousand Raindrops»


Kepalan tangan dan kakiku di tutupi oleh gumpalan air yang berwarna biru transparan. Sebelum monster itu benar-benar berdiri, aku menghantam lehernya dengan satu pukulan.


Bang...!


Pukulan itu mendarat dengan berat. Saat pukulan mengenai sasaran, ada cipratan air yang besar dan membasahi tubuh monster itu. Tidak sampai di sana, aku juga mendaratkan sebuah tendangan ke tubuh monster itu. Semakin banyak serangan, tubuh monster itu semakin basah dengan air berwarna biru.


Bagaimanapun ini adalah serangan dari pejuang Tier tiga, meskipun dia memiliki pertahanan yang sangat tangguh, serangan seperti itu bukan serangan yang bisa di tahan dengan tubuh fisik tanpa pandang bulu.


Aku terus mendaratkan serangan yang mengenai tubuh monster itu. Dengan serangan yang kuat, monster itu terombang-ambing seperti perahu di lautan, kulit keras yang melindunginya memiliki banyak retakan dan darah merah mengalir melalui celah ratakan.


Sepuluh serangan...


Seratus serangan...


Seribu serangan...


Setelah serangan ke seribu, tubuh monster itu sudah terlempar jauh dari tempatnya semula. Ini belum berakhir...


Bom...!!


Roar...!


Suara dentuman teredam yang sangat keras terdengar dari tempat monster itu berada. Air yang menyelimuti tubuhnya, bukan hanya efek dari serangan, tapi itu adalah serangan yang sesungguhnya. Saat air itu di serang oleh seribu pukulan, air itu akan menyimpan kekutan serangan itu dan menirunya


Kemudian, air itu akan terkompresi ke tubuh musuh sebagai pusatnya dengan sangat tiba-tiba yang sebanding dengan seribu serangan di tumpuk menjadi satu. Sehingga, musuh akan menerima tekanan air yang sangat kuat.


Karena tekanan kuat itu, pelindung luar yang kuat dari monster itu menjadi retak dengan banyak darah yang mengalir. Dari sudut mata dan mulutnya juga mengalirkan darah yang menandakan bahwa organ dalamnya terluka.


Roar....!


Aku ingin memberinya serangan lagi, tapi monster itu melihat ke arahku dan mengaum sangat keras. Muncul pita merah kehitaman dari danau lava yang menuju ke arah tubuh monster. Itu adalah energi yang di serap. Luka-luka pada tubuhnya di pulihkan dengan sangat cepat.


Swoss...!


Api merah hitam langsung menyala dan menyelimuti tubuh monster itu. Meskipun api merah hitam itu terlihat sangat ganas, tapi aku tahu bahwa itu hanya aura. Mungkin inti apinya berada di kedalaman danau lava.


Karena menyerap terlalu banyak energi api, monster itu bisa memvisualisasikan api palsu dan memanipulasi aura nyala untuk menjadi keuntungannya sendiri.


Ini sulit. Selain api itu sangat ganas, api itu juga dapat membakar mana dari tubuhku. Jadi, serangan sihir hampir tidak berguna.


Aku mengganti armor supaya bisa kembali menggunakan katana dengan lebih efektif. Armor libra terlihat seperti Armor Yoroi seorang samurai yang di sederhanakan. Namun, bagian sode dan koshi-ate tetap di pertahankan dalam bentuk yang lebih simpel dan ringan sehingga tidak mempengaruhi gerakan.


Armor ini sangat sesuai untuk menggunakan katana dan dapat memaksimalkan penggunaan Juuchi Yosamu.


Monster itu terbang dengan cepat ke arahku, cakar besar yang di selimuti api menjadi lebih besar dan mematikan. Kali ini aku tidak menghindar, tapi langsung berbenturan dengan monster itu.


Bang...!


Gelombang kejut langsung membuat ombak di atas danau dan mengusir awan hitam di langit. Suhu panas dari nyala merah hitam menyebar dan membakar tanah di bawah.


Percikan api itu mengenai armorku, tapi karena itu hanya tiruan, efeknya tidak terlalu besar. Aku masih bisa merasakan panas dari api itu, tapi api itu tidak akan bisa menembus armorku, setidaknya tidak dalam konsentrasi yang sangat rendah seperti ini.


Sepertinya monster itu juga menyadarinya. Dia meningkatkan konsentrasi aura nyala merah hitam itu sehingga terlihat lebih solid. Suhu nyala itu juga meningkat dengan tajam.


Bagaimana bisa aku membiarkan dia membakar ku tanpa perlawanan?!. Aku langsung menjauhkan diri dari cakar monster itu dan beralih ke bagian belakangnya untuk menyerang.


Sapuan ekor yang ganas menyambutku dan hampir memukul tubuhku. Karena itu ekor, saat dia mengayunkan ke kiri, bagian kanan pasti akan terbuka. Saat menghindari sapuan ekor, aku langsung pindah ke tubuh bagian kanannya dan menebas ekor bagian kanan yang terbuka.


Splash...!


Darah merah di muncratkan dari bekas sayatan. Meskipun itu bukan luka fatal, tapi itu sudah cukup. Kabut merah berdarah pada katana ini menjadi semakin banyak dan hampir mengembun menjadi cairan. Sungguh darah yang kuat.


«Juuchi Yosamu:Ten Thousand Chilling Night Slashes»


Aura merah darah itu memadat di sekitar katana, membuat bilah Katana menjadi lebih panjang dan tajam. Api pada tubuh monster itu sangat panas, tapi bukan berarti aku tidak berdaya.


Aku mengayunkan katana itu dan sepuluh ribu bulan sabit merah darah muncul di udara. Bulan sabit itu langsung terbang ke arah monster itu dengan sangat cepat. Suara memotong daging terdengar sangat nyaring bersama dengan jeritan monster itu.


Seharusnya tebasan itu memiliki efek pembekuan yang akan membekukan darah dari korbannya, tapi karena energi api yang pekat di dalam tubuh monster itu, maka efeknya menjadi sangat kecil.


Di tengah rasa sakit yang luar biasa, monster itu membuka lebar mulutnya dan menghisap semua energi yang ada di sekitarnya. Bola cahaya merah gelap muncul di mulutnya dan langsung di semburkan ke arahku.


Cahaya merah gelap yang panjang datang ke arahku dengan sangat cepat. Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menghindari serangan itu. Meskipun demikian, suhu panas dari serangan itu masih membakar armor ku dan salah satu pelindung bahunya telah terbakar menjadi ketiadaan. Hanya beberapa sentimeter lagi, separuh tubuhku akan lenyap.


Sial... Aku lengah. Serangan itu tepat menuju ke arah benteng. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya, tapi cahaya merah gelap itu ternyata memiliki jangkauan yang sangat jauh. Aku takut jika serangan itu bisa mencapai benteng. Jika itu terjadi, maka di pastikan bahwa seluruh benteng akan lenyap.


Cahaya merah darah itu membelah langit seakan akhir dunia telah tiba. Udara di sekitar mendidih dan mendesis karena suhu tinggi serta kecepatan dari cahaya merah gelap itu.


Filia:"Arkne, jawab aku!.."


"Yang Mulia, apakah ada instruksi baru?."


Filia:"Bagaimana keadaan benteng?."


"Tidak ada yang terjadi. Hanya saja, tadi ada serangan yang cukup kuat, tapi saya bisa menahannya."


Filia:"Itu bagus."


"Yang Mulia, apakah anda membutuhkan bantuan?."


Filia:"Tidak perlu, pertarungan ini hampir berakhir."


"Dimengerti."


Aku mengatakan itu bukan tanpa alasan. Aku melihat bahwa luka pada tubuh monster itu belum di pulihkan dan darah masih menetes dari bekas lukanya. Selain itu, monster itu nampak lebih lamban dan terlihat lelah. Aku mulai memiliki tebakan yang berani. Apakah monster itu menggunakan seluruh energinya untuk melakukan serangan tadi?. Tapi, darimana keyakinannya bahwa dia bisa membunuhku dengan serangan itu?!.


Mungkin monster itu telah di kuasai oleh kegilaan dan akhirnya menyerangku dengan seluruh kekuatannya dalam keadaan marah. Jika aku terkena serangan itu, aku tidak ragu bahwa serangan itu bisa membunuhku.


Aku tidak membuang kesempatan ini dan segera terbang ke arah monster itu untuk terus bertarung. Pertarungan ini menjadi lebih brutal dan berdarah karena monster itu mengabaikan seluruh pertahanan dan fokus menyerangku dengan gila, tapi sayangnya, aku bisa menghindari serangan itu.


Kilatan cahaya pedang merah dan api merah hitam bisa di lihat dari waktu ke waktu. Langit di penuhi oleh kekerasan mana yang mengamuk. Sementara tanah telah di penuhi dengan lubang dan kehancuran.


Aku tidak tahu berapa lama pertarungan ini berlangsung. Tiba-tiba sebuah hantaman ekor mengenai tepat di punggungku, melemparkanku ke tanah dan membuat lubang besar seperti kawah meteorit.


Aku tidak terlalu memikirkannya, tapi luka pada tubuhku sudah sangat parah. Jika armor yang menutupi tubuhku bukan armor magis yang akan berubah menjadi partikel cahaya setelah di hancurkan, maka mungkin tubuhku akan di penuhi oleh serpihan armor yang hancur dan masuk ke dalam daging.


Ugh...!!


Tenggorokanku mengeluarkan rasa asin dan aku tidak bisa menahan diri untuk memuntahkan seteguk darah. Dadaku terasa sangat sesak karena benturan keras.


Sebelum aku berdiri, suara angin kencang dan suhu tinggi datang kepadaku. Sebuah bola api merah gelap meluncur ke arahku dengan sangat cepat. Aku langsung terbang dan menghindari serangan itu.


Bang...!!


Ledakan besar terdengar dan tanah di mana aku berdiri di awal telah berubah menjadi ladang magma yang menyala-nyala, hasil dari tanah yang di lelehkan oleh api bersuhu tinggi.


Setelah menghindari serangan itu, aku berhenti di udara dan menarik nafas. Aku melihat bahwa tubuh monster itu juga sangat tragis. Dua buah tanduk telah terpotong dan seluruh tubuhnya memiliki banyak sayatan yang mengeluarkan darah merah. Keempat pupilnya masih menatapku dengan tajam, namun matanya terlihat sayu, menunjukkan bahwa dia kelelahan.


Serangan cahaya merah di awal juga menguras seluruh energinya. Sebelum energinya terisi, aku sudah menyerangnya dan menimbulkan banyak luka, jadi monster itu sedang dalam kondisi kelelahan saat ini.


Filia:"Lihat siapa yang bisa bertahan hingga akhir."


Aku melesat terbang ke arah monster itu dan melanjutkan pertarungan. Pertahanan?, apa itu pertahanan?. Saat ini yang ada di pikiranku hanya menyerang, menyerang, dan menyerang.


Aku bisa merasakan kebahagiaan setiap kali katana di tanganku menembus pertahanan monster itu dan melukainya. Aku sangat senang saat melihat monster itu meneteskan darah. Setiap tetesan darah dari monster itu seperti tonik yang merangsang tubuhku untuk menghasilkan lebih banyak dopamin.


«Racial Magic: Phoenix Claw»


Sebuah bayangan cakar Phoenix besar muncul di belakangku. Saat aku mengayunkan katana di tanganku, cakar itu juga melesat ke arah monster itu untuk memberikan serangan.


Bang...!


Tabrakan keras terdengar antara cakar Phoenix dan tubuh monster itu. Monster itu langsung terlempar ke tanah. Luka di tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih terbuka kembali dan darah di muntahkan dari mulutnya.


Aku berdiri dan melihat monster itu yang masih terbaring di tanah dengan lemah.


«Juuchi Yosamu:Final Execution»


Darah di seluruh area bertarung langsung berubah menjadi kabut darah dan berkumpul di atasku. Kabut berdarah itu berubah menjadi bayangan seorang samurai yang lengkap dengan baju zirahnya. Samurai itu mengangkat katana merah berdarah nya dan bersama dengan gerakan ku, bayangan samurai itu juga menebaskan pedangnya ke arah monster itu.


Slash...!


Splash..!


Tebasan itu langsung memenggal kepala Star Eater. Darah merah menyembur dari lehernya dan seluruh tubuh dari Star Eater jatuh lemah. Kehidupan di mata Star Eater itu perlahan memudar dan akhirnya menghilang sama sekali.


Aku tidak sempat untuk menikmati kemenangan ini. Kepalaku pusing dan pandanganku menjadi sangat kabur. Seluruh tubuhku lemah.


Aku merasa bahwa seluruh tubuhku mulai jatuh ke tanah dengan sangat cepat. Namun sesaat kemudian, sebuah tangan halus memelukku dan mencegahku jatuh ke tanah dari ketinggian.


Filia:"Arkne...!"


Arkne:"Saya selalu di samping anda, Yang Mulia."


Orang yang memelukku adalah Arkne. Dia menatapku dengan mata yang lembut namun penuh kesedihan. Setelah itu, aku tidak tahu apa-apa lagi dan kesadaranku jatuh dalam tidur.


.....


Entah seberapa lama aku tak sadarkan diri, namun setelah aku bangun, aku melihat bahwa aku sudah dikerumuni oleh beberapa orang termasuk ibuku yang memelukku sambil menangis. Matanya merah seperti batu delima dan air mata turun di pipinya tanpa henti.


Aku berusaha untuk bangun, tapi aku merasakan sakit di seluruh tubuhku. Saat aku memperhatikan rasa nyeri yang teramat hebat di lengan kirriku, aku menyadari bahwa lenganku telah terpotong saat pertarungan tadi.


Meskipun seluruh tubuhku sakit, tapi aku masih bisa bangun dan duduk.


Filia:"Ibu.. Uhuk...!!"


Harnas & Rovell:"Filia..!!"


Sebelum aku selesai bicara, tiba-tiba aku terbatuk dan memuntahkan seteguk darah. Dengan darah Phoenix, seharusnya aku bisa menyembuhkan luka dengan sangat cepat, tapi luka ku saat ini masih belum sembuh. Ini membuktikan bahwa luka yang aku terima tidaklah ringan.


Aku melambaikan tangan kepada ayah dan ibu supaya mereka tidak panik.


Filia:"Aku baik-baik saja."


Harnas:"Bagaimana bisa baik?!. Lihat, kamu terluka sedemikian parah. Dan... Dan tanganmu....hiks..!"


Aku melihat kekhawatiran dan kesedihan ibu.


Filia:"Ibu, aku baik-baik saja. Lagi pula ini hanya tangan yang patah."


Rovell:"Ya, ayah akan segera memanggilkan Cleric terbaik di negeri ini untuk menumbuhkan tanganmu."


Ayah terlihat seperti seorang yang menemukan cahaya dalam kegelapan dan ingin langsung berlari untuk memanggil seorang Cleric.


Filia:"Ayah tidak perlu khawatir."


Aku mencoba berdiri. Ibu langsung ingin mencegahku, tapi karena aku meminta supaya ayah dan ibu tidak khawatir, mereka membantuku untuk berdiri. Aku melihat Arkne yang berdiri di belakang ayah dan ibu sambil menatapku.


Filia:"Arkne...!"


Arkne:"Bawahan ada di sini, Yang Mulia."


Filia:"Berapa lama aku tak sadarkan diri?."


Arkne:"4 jam, 23 menit, 12,4 detik."


Aku mengangguk pada jawaban Arkne. Aku tidak menyangka bahwa aku tak sadarkan diri selama itu. Aku menarik nafas dalam dan menghampiri mayat dari Star Eater yang terbaring di kubangan darah dengan kepala yang terpisah.


Matanya yang menyala merah, kini menjadi lebih kusam dan nampak kosong.


Aku mengulurkan tanganku ke kepala monster itu. Kelima jariku terbakar oleh api perak putih dengan kilatan listrik di sekitarnya. Saat tanganku menyentuh kepala monster itu, untaian merah hitam segera menyusup dari kepalanya dan menghampiri api putih di tanganku.


Api putih yang agak ilusif itu menjadi semakin solid dan nyata. Aku sedang menyerap aura api merah hitam itu untuk menyembuhkan diriku sendiri. Perlahan, rasa tidak nyaman di tubuhku mulai berkurang dan sembuh sepenuhnya.


Ini hanya aura, aku tidak tahu akan seberapa kuat jika aku bisa menyerap inti sesungguhnya dari nyala ini.


Tanganku yang terpotong juga tumbuh secara perlahan hingga akhirnya benar-benar kembali seperti semula.


Setelah menyelesaikan semua itu, aku melihat mayat monster yang besar ini dan tersenyum. Hatiku penuh dengan kebanggaan setelah berhasil mengalahkannya.


Filia:"Arkne, pindahkan mayat ini ke dalam Sylph."


Arkne:"Ya, Yang Mulia."


Bagaimanapun, mayat dari Star Eater adalah harta Karun. Di tambah item drop yang masih ada di dalam tubuhnya juga belum di ambil.


Akhirnya, aku melihat danau lava yang ada di tengah area tandus ini. Awalnya aku mengira bahwa tempat itu terjadi karena perbuatan dari Star Eater, tapi aku menghilangkan pikiran itu setelah melihat aura api merah kehitaman yang keluar dari permukaan danau.


Aku berjalan menuju ke arah danau dan memperhatikannya lebih lama.


Filia:"Kalian tunggu aku, aku akan segera kembali."


Api putih menyelimuti seluruh tubuhku dan aku langsung terjun ke arah danau.


Aku penasaran, apa yang di simpan di dasar danau ini....


(Akhir dari chapter ini)


Maafkan aku karena kemarin tidak update. Banyak saudara jauh yang datang ke rumah kemarin. Bahkan hari ini, masih banyak yang berdatangan... Ini adalah momen yang sangat jarang terjadi.