Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 177: «Rose Field»



Beberapa saat kemudian, cahaya biru juga menyusul dengan sangat cepat. Semua monster terbang yang tersisa langsung di tabrak menjadi darah dan daging.


Melihat serangkaian kejadian ini, seluruh Medan perang menjadi sunyi senyap. Apakah itu monster atau manusia yang berperang, semuanya melihat ke atas.


Cahaya biru itu melambat dengan sangat cepat dan akhirnya berhenti di udara di atas Medan perang, tepatnya di atas kepalaku. Seluruh tubuh benda itu berwarna putih dan ada gambar aneh di salah satu sudut perut bawahnya.


Gambar itu adalah seekor burung dan sebuah gambar yang nampaknya adalah bulan sabit. Beberapa saat kemudian, bagian bawah benda itu terbuka dan ratusan bola putih terbang dari dalamnya. Benda-benda itu melayang di atas semua orang dan menyinari semua orang dengan cahaya hijau.


Saat cahaya itu menyentuh tubuhku, seluruh perasaan lelah dan luka yang ada di tubuhku semakin membaik. Aku tidak tahu benda apa itu, tapi karena aku tidak merasakan bahaya, benda itu seharusnya tidak menyakitiku.


Monster yang melihat bahwa luka-luka kami mulai di sembuhkan, mereka kembali mengaum dan bergegas ke arah kami. Aku segera memegang erat pedangku dan mengencangkan pikiranku untuk siap bertemu dengan gerombolan monster yang marah. Tapi sebelum monster-monster itu mendekati kami, bola-bola putih yang tidak terlihat berbahaya itu menembakkan cahaya merah yang langsung membelah tubuh monster yang kuat itu seperti membelah lumpur.


Aroma terbakar datang dari luka monster-monster itu, menandakan bahwa mereka terbunuh oleh suhu tinggi. Apakah


ini sihir api?. Aku belum pernah melihat sihir jenis ini.


Ratusan bola putih itu tidak besar, tapi memiliki daya hancur yang luar biasa. Tidak ada monster yang bisa mendekat dalam radius dua puluh meter. Tapi bagaimanapun, jumlah monster yang terlalu besar tetap berhasil menekan bola-bola putih itu hingga mereka menyusutkan pertahannya.


Tiba-tiba, aku dan orang-orang di Medan perang di selimuti oleh bola biru transparan yang melindungi kami dari serangan berbagai monster. Bola transparan yang menyelimuti kami perlahan mulai melayang dan menerbangkan kami ke tembok kota.


Bola-bola putih itu tidak pergi, tapi mereka bercokol di tembok kota untuk terus menembak monster-monster yang mendekati tembok dari waktu ke waktu.


Bukan hanya bola-bola itu, tapi kapal aneh yang melayang di atas kota juga mengeluarkan tembakan yang memusnahkan banyak monster dalam sekali tembak.


Aku sangat bingung dengan apa yang terjadi. Persenjataan macam apa itu yang memiliki daya hancur yang sedemikian besar?. Apakah itu miliki kerajaan atau kekaisaran?!.


Tidak, jika salah satu negara memilikinya, mereka sudah pasti mengeluarkannya saat di Medan perang.


Tiba-tiba lima kilatan cahaya biru muncul di dekatku. Kilatan itu datang terlalu cepat hingga aku tidak bisa bereaksi.


Saat kilatan cahaya menghilang, aku melihat sesosok gadis kecil yang sangat akrab. Rambut perak putih yang indah dan berkilau seperti pelangi.


Gadis itu memiliki mata yang merah dan segera berlari ke pelukanku.


Filia:"Ibu... Syukurlah ibu baik-baik saja. Aku sangat khawatir."


Aku sangat terkejut. Air mata tanpa sadar menyelinap dari mataku. Aku menunduk dan memeluk Filia dengan erat. Hampir saja, hampir saja aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.


Rovell:"Filia, apa yang kamu lakukan di sini!!."


Rovell berteriak kepada Filia. Wajahnya terlihat marah dengan mata yang berkaca-kaca. Meskipun dia terlihat sangat marah, tapi aku bisa dengan jelas merasakan kekhawatirannya. Tindakannya menyadarkan ku. Benar, tempat ini terlalu berbahaya, bagaimana mungkin dia datang ke tempat ini?!.


Harnas:"Benar sayang, tempat ini terlalu berbahaya, kamu harus segera pergi."


Filia:"Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan ayah dan ibu."


Dia memelukku lebih erat dan menunjukkan sikap keras kepalanya. Setelah kecelakaan itu, dia menjadi gadis yang baik, tapi aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Sekarang, setelah sifat keras kepalanya muncul lagi seperti dulu, aku sadar bahwa dia bukan orang yang berbeda, tapi dia hanya tumbuh lebih dewasa.


Rovell:"Dengarkan ibumu. Tempat ini terlalu berbahaya, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu."


Dia melepaskan pelukannya dan menatap Rovell dengan matanya yang memerah. Matanya penuh dengan kekeraskepalaan yang sulit untuk di bujuk.


Filia:"Ayah, aku akan baik-baik saja."


Dia berbalik dan menatap gelombang monster dari atas tembok kota.


Filia:"Frey, lindungi kota ini, bersihkan semua monster yang mendekati tembok kota. Liris, Stern, kalian melawan monster yang berhasil masuk ke dalam kota, para kesatria dan Frey akan membantumu. Ibu, ayah, aku serahkan yang di sini kepada kalian."


Mendengar itu, firasat yang tidak di ketahui tumbuh di dalam hatiku. Aku meraihnya dan ingin mengetahui apa maksudnya.


Harnas:"Sayang, apa yang kamu bicarakan?!!."


Filia:"Ibu tidak perlu khawatir."


Dia melepaskan tangannya dari genggamanku. Suhu di sekitar tiba-tiba melonjak menjadi semakin panas.


Filia:"Tidak peduli siapa, kalian membuat kedua orang tuaku terluka. Aku akan membersihkan kalian semua."


Swoss...!


Harnas:"Sayang...!!!"


Rovell:"Filia...!!"


Sebelum aku bisa bereaksi, Filia sudah melompat dari atas tembok kota ke kawanan monster yang padat di bawah.


«Athena armor»


Kilatan cahaya perak menemaninya terjun ke dalam lautan monster. Aku bisa melihat dengan jelas, ratusan monster langsung berlari ke arah dia jatuh dan menenggelamkannya hingga aku tidak bisa melihatnya lagi.


Harnas:"Filia...!!"


Rovell:"Filia...!!"


Tidak, tidak, tidak... Ini tidak mungkin terjadi. Hatiku hancur, kemarahan seketika membakar kewarasanku. Aku dan Rovell segera melompat ke bawah, tapi sebelum kami bisa melompat, bola-bola putih yang dari tadi seakan mengabaikan kami dan hanya menembaki monster, mereka tiba-tiba mengeluarkan tentakel logam yang mengikat kami.


Rovell:"Lepaskan... Lepaskan aku!!."


Harnas:"Lepas...!"


Tentakel logam itu tidak tebal, hanya seukuran jari kelingking orang dewasa, tapi meskipun demikian, tidak peduli seberapa kuat kami meronta, tentakel logam itu masih mengikat kami dengan sangat erat.


Graoo...!


Mengaum...!


Mendesis...!


Tiba-tiba ada suara ribut dari binatang buas di bawah tembok kota. Raungan itu di sertai dengan aroma daging terbakar dan suhu udara yang semakin tinggi. Saat aku melihat ke bawah tembok kota, api putih segera menjalar ke semua binatang buas yang berkerumun itu.


Binatang-binatang itu meronta dan berlarian karena terbakar, menyebabkan api putih itu merambat ke monster lain yang ada di sekitarnya. Api putih itu sangat aneh, begitu api bersentuhan dengan es dan salju, api itu seperti di siram dengan minyak, suhu dan intensitasnya menjadi semakin meningkat.


Monster lain yang terlihat lebih kuat, mereka segera mengepung monster yang terbakar dan membunuhnya dengan skill jarak jauh supaya mereka tidak terus menyebarkan api ke kawanan.


Pemandangan ini benar-benar membuat semua orang yang melihat di atas tembok kota terdiam. Dari pusat kobaran api puti, tiba-tiba sebuah bayangan naik ke langit.


Bayangan itu di selimuti oleh api perak putih dan petir berwarna emas yang berkelebat di sekitarnya. Saat kobaran api itu tersebar, aku bisa melihat Filia dengan sepasang sayap putih perak melayang di udara dengan mengenakan armor perak keunguan.


Dia berdiri tinggi di udara dan memandang rendah dunia. Tiba-tiba, aku bisa merasakan aura kesombongan yang luar biasa saat melihat sosok itu. Apakah ini masih Filia?.


Bukan hanya aku yang bertanya-tanya dalam hati, tapi melihat penampilan Rovell, dia juga memiliki pikiran yang sama. Namun tidak peduli seberapa keras aku berfikir, aku tidak bisa memikirkan jawaban yang sesuai.


Aku hanya tahu satu hal, yang berdiri tinggi itu, dia adalah anakku, Filia Rosefield.


Filia:"Ibu, aku akan menceritakan semuanya nanti. Saat ini, aku harus membersihkan monster menjijikkan yang menyakiti kalian."


Filia saat ini benar-benar berbeda dengan gadis kecil naif yang aku kenal. Saat ini dia memancarkan aura kesombongan seperti seorang raja.


Suaranya sangat tenang. Namun, panggilan "Ibu" itu meyakinkan hatiku, bahwa dia adalah Filia, anakku.


Harnas:"Hati-hati."


Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi yang bisa keluar dari mulutku hanya dua kata itu. Saat ini aku memiliki keyakinan padanya. Meskipun dia dalam bahaya, aku yakin bahwa senjata yang dia bawa akan menyelamatkannya. Aku sudah melihat daya hancur dari kapal yang dia bawa, dengan adanya kapal ini, aku bisa yakin.


«Winter Higanbana Blooms»


Awan abu-abu di langit mulai bergejolak dan berubah menjadi awan badai hitam. Perlahan, butiran-butiran salju seperti permata turun dari langit. Tapi sangat aneh, salju itu hanya turun di area monster.


Salju itu jatuh dengan kecepatan yang semakin cepat. Saat kepingan salju mengenai monster, terdengar suara benturan keras yang mengerikan. Monster yang memiliki cangkang keras segera di hancurkan dengan suara retak seperti tembikar.


Darah di muntahkan ke udara dan langsung membeku seakan bunga merah mekar di musim dingin. Ribuan monster langsung di hancurkan dengan sihir ini. Bahkan, monster punggung baja yang memiliki pertahanan yang sangat kuat bisa di hancurkan menjadi bubur oleh kepingan salju yang turun dari langit.


Sihir area yang sangat menakutkan dan mampu merubah cuaca, seberapa kuat sihir ini?!. Tapi yang membuatku sangat beruntung, pemilik sihir ini adalah Filia. Dengannya, Holly kingdom akan menjadi kerajaan yang lebih kuat. Dan mungkin, dia adalah harapan untuk mengusir Abyss dari tanah cahaya.


Filia:"Masih terlalu lemah. Aku tidak bisa terus bertarung sambil melindungi kota."


«Magic Domain: Rose Field»


Nama sihir yang sangat akrab bagiku. Meskipun cara mengucapkannya berbeda, aku yakin bahwa itu adalah sihir keluarga yang hanya di miliki oleh keluarga Rosefield. Tiba-tiba sayap di punggung Filia menguap dan menyebar menjadi api putih. Dia perlahan mendarat ke tanah yang di penuhi oleh darah dan daging monster.


Monster yang melihat hal ini, mereka segera mengambil kesempatan untuk menyerang. Monster-monster itu meraung dan berlari ke arah Filia dengan sangat ganas. Meskipun aku mengatakan bahwa aku percaya padanya, tapi sebagai seorang ibu, hatiku tidak bisa tahan untuk melihat pemandangan ini. Tanpa sadar, aku menggigit bibir bawahku terlalu erat dan membuatnya berdarah, menyebarkan rasa besi ke seluruh mulutku.


Begitu Filia mendarat, sulur hijau berduri segera mencuat dari bawah kakinya, mengenai monster-monster yang menyerang ke arah Filia. Sekilas memang tidak terlalu berbeda dengan sihir keluarga yang biasanya aku lihat, tapi sihir yang di casting oleh Filia memiliki warna hijau yang lebih dalam dan sulur yang terlihat lebih kuat. Duri-duri pada tanaman itu juga berwarna putih bersih. Selain itu, area yang tercakup juga lebih dari dua kali lipat lebih besar dari yang pernah di casting oleh Rovell.


transparan. Itu lebih terlihat seperti karya seni yang indah.


Monster-monster yang belum terjerat dalam sulur mawar segera menghentikan kemajuan mereka. Bagaimanapun, mereka tidak bodoh, di tambah dengan pengalaman mereka di awal dan insting perasaan berbahaya mereka yang tajam, mereka menghindari area mawar itu dan lebih memilih untuk melancarkan serangan jarak jauh.


Sepertinya sihir ini tidak akan efektif. Saat pikiran itu muncul di kepalaku, tiba-tiba udara di penuhi oleh aroma harum bunga mawar. Awalnya aku tidak merasa aneh dengan aroma itu, tapi aku melihat monster-monster itu berhenti meraung dan berjalan ke arah mawar seperti telah di panggil oleh sesuatu.


Aroma pemikat?. Apakah sihir ini memiliki efek seperti itu. Aku tidak bisa menggunakan sihir ini, tapi aku tahu bahwa sihir ini seharusnya tidak memiliki efek pemikat.


Monster-monster yang masuk dalam area mawar, mereka segera di ikat dan di cabik-cabik oleh sulur mawar berduri itu. Tubuh monster terpotong-potong dan semua organ dalam serta darah di tumpahkan ke atas sulur mawar.


Aroma mawar bercampur dengan aroma karat dari darah, memenuhi udara dan membuat perut bergejolak ingin muntah. Pemandangan di lapangan menjadi semakin tragis dengan mayat yang menumpuk seperti bukit. Tidak peduli apakah itu monster besar atau kecil, semua yang masuk dalam area mawar akan tercabik-cabik dan di hancurkan. Aku tidak bisa membayangkan jika manusia yang terkena sihir ini, bukankah mereka akan terjun ke kematian dengan senang hati?!.


Bahkan tidak mustahil jika dalam perang sihir ini dapat memusnahkan sebuah pasukan. Di bagian belakang kawanan monster itu banyak monster yang terlihat kuat dan ganas. Tapi, aku belum pernah melihat monster seperti itu. Apakah itu monster yang bersembunyi di kedalaman hutan?!.


Aku bisa merasakan perasaan yang sangat berbahaya dari monster-monster barisan belakang itu. Melihat dari kondisinya, mereka sepertinya tidak terpengaruh dan terus meraung kepada monster lain untuk menyadarkan mereka dari pengaruh sihir.


Monster yang lebih lemah Sepertinya tidak menghiraukan raungan mereka. Hanya monster yang terlihat sedikit lebih kuat dan jauh dari area mawar yang tersadar oleh raungan itu.


Monster-monster kuat bagian belakang itu marah dan berlari ke arah area mawar. Tubuh mereka di selimuti oleh sihir yang tebal. Beberapa menembakkan sihir untuk menyerang. Semua monster yang berada di jalur serangan mereka langsung berubah menjadi kehancuran.


Raungan penderitaan dan suara tubuh yang di hancurkan menjadi suara yang mengisi seluruh Medan perang.


Aku memperhatikan Filia yang berada di tengah area mawar. Dia berdiri di atas sebuah bunga mawar yang jauh lebih besar daripada bunga yang lainnya. Melihat gelombang monster yang menuju ke arahnya, aku melihat senyum tipis tersungging di sudut mutunya.


Aku harus mengakui bahwa penampilan Filia bisa di sebut sebagai cahaya di Medan perang.


Dia mengangkat tangannya ke udara. Seakan mematuhi perintah, semua bunga mawar seperti kristal merah yang mekar itu melayang ke udara dan berputar sangat teratur. Kelopak pada bunga mawar yang indah seperti kristal itu mulai berjatuhan dan tersebar di udara, menghiasi langit suram itu dengan kristal merah yang berkilau seperti bintang di malam hari.


«Twelve constellation armor:Leo»


Sebuah kartu emas tiba-tiba muncul entah dari mana. Kartu itu membesar dan langsung menyelimuti Filia. Dalam sekejap mata, armor perak itu sudah berubah menjadi armor emas dan merah yang sangat mendominasi dan mengeluarkan aura binatang buas.


Hahahahaha.....!


Filia tiba-tiba tertawa dan langsung berlari ke arah monster yang menghampirinya. Kelopak bunga yang mengambang di udara mengikuti Filia seperti prajurit yang taat.


Saat Filia mengayunkan cakarnya, kelopak bunga itu mengikuti gerakan tangan Filia dan menabrak monster yang ada di depannya. Sesuatu yang sangat luar biasa terjadi, kelopak bunga itu mengoyak monster itu seperti pedang yang sangat tajam.


Cakar pada zirah emas itu juga mampu menembus pertahanan monster yang tebal seperti menembus lumpur lunak. Di tambah dengan kelopak mawar yang setajam bilah pedang, monster di sekitarnya langsung di hancurkan menjadi potongan-potongan.


Sebuah sihir dengan cepat melesat ke arah punggung Filia yang sedang membunuh monster.


Harnas:"Filia...!"


Aku tidak bisa menahan diri untuk berteriak dan memperingatkan. Namun, saat sihir itu akan mengenai punggungnya, kelopak mawar yang terlihat rapuh itu berkumpul di punggungnya dan membentuk perisai pertahanan berlapis-lapis. Sihir itu langsung mengenai perisai yang terbentuk oleh kelopak bunga.


Bang...!


Ledakan keras yang memekakkan telinga menggema di seluruh Medan perang. Seluruh tubuh Filia di selimuti oleh bola api yang membara dan mendidihkan udara di sekitarnya.


Saat asap hitam mengendap, aku bisa bernafas lega karena aku melihat bahwa tidak ada yang terjadi pada Filia. Hanya dua lapis kelopak bunga yang hancur menjadi serpihan karena dampak sihir itu.


Filia Maju dan menari di antara kerumunan monster ganas bersama bunga kristal yang indah. Jika kita mengabaikan mayat dan darah dari para monster tragis yang ada di sekitarnya, aku bisa mengatakan bahwa dia terlihat seperti peri.


Perasaan bangga tumbuh di hatiku. Dia adalah anak yang aku lahirkan. Bagaimana bisa aku tidak bangga melihatnya?!.


Tidak peduli dimana Filia dan kelopak bunga lewat, mayat monster yang tercabik-cabik dan organ dalam yang berantakan akan di tinggalkan dan membentuk jalur darah panjang seperti sungai.


"Ini... Dia sangat luar biasa!!."


"Dia tuan putri House of Rosefield?."


"Hahahaha... Aku melayani tuan yang sangat luar biasa. Aku bisa mati dengan bangga saat ini."


"..."


Harnas:"Berhenti bicara, ayo kita bersihkan monster jelek yang masuk ke dalam kota."


Suara kekaguman terus berdering di tembok kota. Melihat bahwa Filia pasti baik-baik saja, aku segera mengintruksikan pada orang-orang yang masih bisa bertarung untuk membersihkan kekacauan di kota dan membunuh monster yang berhasil lolos dari jaring.


.....


Medan perang....


Sihir keluarga Rosefield adalah sihir area, tapi mereka tidak tahu bahwa ini adalah sihir domain yang sangat langka. Seperti yang di ketahui, hanya Tier empat dan paling beruntung Tier tiga supaya bisa menggunakan domain. Tapi dengan adanya sihir ini, bahkan pemain Tier zero dapat menggunakan domain.


Hanya saja, sihir keluarga dalam keadaan tidak lengkap. Saat memperbaiki skill book untuk Khaim, aku juga sekalian memperbaiki sihir ini dan menyempurnakannya.


Tidak peduli siapa, jika kalian masuk ke dalam domain ini, maka kalian adalah bonekaku.


Seekor monster menerkamku dari belakang. Dengan sekali sapuan tangan, ribuan kelopak mawar merah langsung menghalangi dan berputar di sekitar monster itu.


Kelopak bunga yang membentuk pusaran itu menyayat dan memotong-motong seluruh tubuh monster berbentuk singa itu menjadi daging giling yang tersebar di tanah.


Domain ini akan meningkatkan kekuatan bertarungku hingga 20%. Meskipun lebih lemah daripada domainku yang asli, ini sudah sangat baik. Terlebih, kekuatan mental yang di butuhkan untuk menggunakan skill domain ini jauh lebih sedikit daripada menggunakan domain yang sesungguhnya.


Sebelum aku menarik nafas, seekor monster berbentuk banteng dengan tanduk yang terbakar langsung menyerangku dari samping. Sekelompok bunga mawar itu berkumpul membentuk pusaran tornado yang tajam dan langsung mengebor ke kepala monster itu, meledakkan kepalanya dan membuat plasma otak terciprat ke segala arah.


Banyak darah merah yang menodai armorku, tapi akan segera menguap menjadi asap karena suhu tinggi.


«Burning Rose Petals»


Kelopak bunga mawar di sekitarku segera di selimuti oleh api putih dan terbang sangat cepat ke depan seperti anak panah. Semua monster ya tertembus oleh kelopak bunga itu akan terbakar dan menjadi abu. Api putih terus menyebar dan menguapkan darah di Medan perang, membentuk kabut beraroma anyir yang menjijikkan.


Aku sudah bertarung cukup lama, tapi jumlah monster itu seakan tidak berkurang. Bahkan di barisan belakang, monster Tier dua sudah mulai bergerak dan menyerangku. Melihat hal ini, aku sangat bersyukur. Jika aku datang terlambat, entah apa yang akan terjadi pada orang tuaku.


Roarrr....!!


Saat pertarungan menjadi semakin sengit, tiba-tiba aku mendengar suara raungan yang sangat keras dari kejauhan. Mendengar raungan itu, monster yang menyerangku juga ikut meraung ke angkasa seakan menanggapi raungan yang sombong itu.


Aku benar-benar terkejut. Bahkan aku merasakan bahaya saat mendengar raungan itu. Ini sangat jarang terjadi setelah aku datang ke dunia ini. Ini bukan ketakutan, lebih seperti lawan yang jauh lebih kuat dariku.


Cara bertarung monster itu juga berubah. Mereka yang awalnya memfokuskan seluruh serangan mereka padaku, kini sebagian besar dari mereka berlari ke arah kota.


Filia:"Kalian mencari kematian...!."


Seluruh kelopak bunga langsung terbang dengan sangat cepat untuk menghalangi kemajuan dari gelombang monster itu.


Tidak cukup, ini terlalu buruk. Jumlah monster ini terlalu padat. Aku tidak akan bisa bertarung sendiri sambil terus melindungi kota. Jika aku memanggil Moon Palace, itu akan menambah masalah yang tidak perlu. Aku hanya bisa melakukan taktik pemenggalan kepala.


Tapi sebelum itu, harus ada yang cukup kuat untuk melindungi kota. Seseorang yang cukup untuk melakukan pertarungan dengan kelompok besar.


Filia:"Arkne, aku membutuhkanmu...!."


Lingkaran sihir ungu hitam delapan lapis terbentuk di udara. Saat lingkaran sihir itu terbentuk, aura gelap yang suram dan menindas segera terpancar ke seluruh Medan perang tanpa halangan sedikitpun.


Dari tengah lingkaran sihir, ada kabut abu-abu yang keluar dan membentuk ribuan wajah menderita. Kabut abu-abu yang membentuk ribuan wajah kesakitan itu berkumpul di antara lingkaran sihir dan menjerit-jerit dengan penuh penderitaan. Udara abu-abu menggumpal dan membentuk sesosok wanita cantik dengan enam kaki laba-laba setajam tombak di punggungnya.


Empat senjata besar melayang di punggungnya dan terus berputar searah jarum jam.


Dia berubah kembali menjadi asap abu-abu dan melayang ke arahku. Saat muncul kembali dia berlutut dengan satu kaki dan merendahkan kaki laba-labanya.


Arkne:"Bawahan mematuhi perintah, Yang Mulia."


Filia:"Arkne, kamu jaga tempat ini. Jangan biarkan ada monster yang masuk ke dalam kota."


Arkne:"Sesuai perintah."


Aku langsung terbang ke kejauhan dan.meninggalkan Medan perang ini untuk Arkne.


Sebelum aku terbang terlalu jauh, aku melihat ruang retak dan menunjukkan kegelapan di baliknya. Ratusan ribu Aracnoid keluar dari retakan ruang angkasa dan langsung bertarung dengan monster-monster itu.


Melihat bahwa tempat ini terkendali, aku mengepakkan sayap api dengan keras sehingga api putih membentuk ekor komet di angkasa.


Di bawahku, aku melihat lautan monster yang mengerikan dan terus maju ke arah Medan perang seperti tanpa akhirnya.


Aku penasaran, monster macam apa yang bisa memimpin monster sebanyak ini....!


(Akhir dari chapter ini.)