Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 196: Menunjukkan Keterampilan. (2)



Saat aku berjalan melalui sebuah lorong yang panjang menuju ke kamarku, aku bertemu dengan Aria yang sangat jarang aku lihat. Auranya sedikit lebih kuat daripada saat terakhir kali aku bertemu dengannya di rapat komite siswa.


Melihat kekuatannya, aku bisa menebak bahwa dia sudah bekerja keras akhir-akhir ini. Meskipun terlihat seperti gadis yang lemah lembut dan tidak berdaya, tapi dia adalah gadis pekerja keras yang rela mengigit giginya saat merasa sakit.


Aria saat ini mengenakan mantel putih yang menandakan bahwa dia adalah anggota komite siswa. Saat dia melihatku, dia menyapaku sambil membungkuk.


Filia:"Aria, mau kemana kamu?."


Aku bertanya demikian karena Aria tidak menuju ke kamarnya atau ruang kelas.


Aria:"Putri, saya mau menyerahkan beberapa laporan ke sekretaris komite."


Filia:"Oh, kebetulan."


Aku mengeluarkan setumpuk kertas yang sudah aku setujui dalam bentuk kartu yang bergambar tumpukan kertas dan menyerahkannya kepada Aria.


Filia:"Tolong serahkan semua berkas-berkas ini ke sekretaris komite dan kita akan membahasnya di pertemuan sore nanti. Untuk mengeluarkan berkasnya kamu hanya perlu menyalurkan mana ke dalamnya. Apakah kamu mengerti?."


Aria melihat kartu itu bolak-balik seperti anak yang penasaran.


Aria:"Y, ya... S, saya mengerti, Putri."


Filia:"Bagus. Sampai jumpa sore nanti."


Aku pergi dan meninggalkan Aria yang membungkuk ke arahku. Begitu aku tiba di sebuah belokan, aku bertemu dengan beberapa anak bangsawan dari kelas tinggi.


Ada rasa hormat di mata mereka karena posisi bangsawan keluargaku lebih tinggi, tapi itu tidak menyembunyikan kesombongan dan rasa superioritas mereka sebagai siswa kelas atas. Ketiga anak bangsawan itu terdiri dari tiga pria dan dua wanita.


Kenapa aku tahu bahwa mereka adalah anak bangsawan?. Itu sederhana. Anak bangsawan seperti mereka akan berpakaian mencolok dan mewah hingga membuat retina mataku kelelahan.


"Putri, anda perlu lebih dari sekedar nama Rosefield untuk meyakinkan semua orang."


Seorang anak laki-laki berbicara padaku. Dilihat dari sikapnya, sepertinya dia adalah seorang keturunan bangsawan yang mencari wajah pada salah satu anak bangsawan yang berpangkat paling tinggi di antara mereka. Yah, bisa di bilang bahwa dia hanya seorang pengikut kecil.


Filia:"Seorang pesuruh dan keluarga Marquis tidak layak untuk mengajariku."


Aku mengatakan itu kepada anak menyebalkan itu dan kepada anak seorang Marquis yang berpangkat paling tinggi di antara mereka, lalu aku pergi tanpa melihat mereka lebih banyak. Dalam hati aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan berbelas kasih kepada mereka di arena tantangan besok. Mereka tidak akan bisa lari dari pertandingan karena aku akan memastikan bahwa mereka naik ke atas arena pertempuran, baik sukarela atau secara paksa.


Akan ku tunjukkan pada mereka pertandingan persahabatan yang paling bersahabat dan tidak akan pernah mereka lupakan dalam waktu dekat.


Sampai di kamar, aku hanya berbaring dan melihat beberapa pesan dari Arkne yang ada di Helheim. Perkembangan di Helheim berjalan sangat lancar dan sejuah negara lagi berhasil jatuh di bawah Moon Palace. Selain itu, ada beberapa bakat yang sangat baik yang di terima untuk belajar langsung di Moon Palace.


Singkatnya, berita-berita yang di kirimkan kepadaku adalah berita yang baik. Hanya saja, perintahku untuk menemukan berbagai sisa reruntuhan belum memiliki hasil yang berarti. Banyak reruntuhan yang di temukan, tapi itu hanya reruntuhan yang di bangun setelah masa Alterion. Meskipun juga memiliki banyak hal yang bisa di manfaatkan, tapi itu hanya beberapa.


Bukan karena reruntuhan peninggalan dari Moon Palace itu sudah sepenuhnya hancur, namun reruntuhan dari masa Moon Palace telah terkubur terlalu dalam, jadi sulit untuk menemukannya.


Yah, biarlah. Lagi pula aku tidak terlalu terburu-buru untuk menemukan hal-hal itu. Tidak ada terlalu banyak hal yang bisa menarik perhatianku selain divine item atau serpihan dari pedang cahaya tak bernama dan serpihan jiwa dari Teleia Vradia.


Untuk pedang cahaya tak bernama, aku sudah dimana salah satu bagiannya berada, yakni di dalam gudang harta kerajaan sebagai pusaka kerajaan. Aku harus mencari cara untuk mendapatkannya. Tapi tidak sekarang, aku harus menemui waktu yang tepat.


Aku hanya berguling-guling di kasur untuk beberapa saat hingga Mama mengetuk pintu kamarku.


Tok... Tok... Tok..


Harnas:"Sayang, bisa aku masuk."


Filia:"Iya."


Pintu di dorong terbuka sambil tersenyum ke arahku. Dia berjalan perlahan lalu duduk di sampingku sambil mengusap kepalaku seperti biasa.


Filia:"Apakah pembicaraannya selesai?."


Harnas:"Ya, itu hanya mengobrol dengan teman lama, tidak ada yang spesial jadi selesai dengan cepat."


Filia:"Lalu, apakan Mama akan pulang sekarang?."


Jujur, aku sedikit merasa kesepian saat Mama akan jauh dariku.


Harnas:"Tadinya seperti itu, tapi saat datang kemari, aku melihat kertas pengumuman pertandingan, jadi aku akan menginap. Aku ingin melihat kehebatan dari putriku yang cantik."


Filia:"Ya. Aku pasti akan menunjukkan yang terbaik."


Awalnya aku akan mengira bahwa pertandingan besok akan membosankan. Lagi pula lawanku hanya Zero, apa yang bisa aku harapkan?!. Tapi karena Mama mendukungku dan ingin melihat sisi baikku, maka aku akan sedikit lebih serius.


.....


Saat mengobrol dengan Mama, tanpa terasa waktu sudah sore. Aku harus segera pergi ke tempat pertemuan semua komite siswa dan membahas beberapa hal dengan mereka. Aku meninggalkan Mama di kamar sendiri dan pergi ke ruang pertemuan dengan Ilma.


Aku bertemu banyak siswa yang memakai seragam khusus komite siswa yang juga pergi ke tempat ketemuan. Tempat pertemuan hari ini berbeda dengan sebelumnya yang hanya di sebuah ruangan.


Kali ini Komite Siswa telah mendapat izin untuk menggunakan gedung tiga untuk menjadi pusat operasi dari Komite Siswa. Dengan kata lain, gedung ini sudah sepenuhnya berada di bawah komite siswa dan di bawah pengawasan para instruktur.


Gedung ini berlantai dua dengan tuju ruangan di lantai satu termasuk lobi yang luas dan delapan ruangan di lantai dua. Bisa di katakan bahwa bangunan ini juga sangat luas. Di depan bangunan itu terdapat sebuah taman yang indah dengan jalan lebar dan air mancur.


Di perjalanan, selain para siswa dan anggota komite, banyak instruktur yang hari ini juga akan mengikuti pertemuan ini. Di dalam bangunan itu juga sudah banyak siswa dan para instruktur yang sedang memeriksa berkas di tangan mereka yang telah di bagikan oleh anggota komite bagian sekretariat.


Pertemuan ini akan di laksanakan di ruangan serba guna lantai dua yang cukup luas dan bisa menampung banyak orang. Sebenarnya ruang utama di bangunan ini juga cukup besar, tapi karena di fungsikan sebagai lobi, jadi agak kurang pantas untuk melakukan pertemuan di lobi.


Begitu aku memasuki ruang pertemuan, yang lain juga mengikuti di belakang dan mencari tempat duduk masing-masing.


Ada sekitar empat puluh kursi yang di susun sejajar dengan meja panjang dengan dua puluh kursi di masing-masing sisinya. Aku duduk di bagian paling ujung dan putri Sophia ada di sebelahku.


Di sisi yang berlawanan denganku ada pangeran, kemudian berderet siswa dan instruktur yang mengambil posisi paling ujung karena hari ini mereka hanya akan menjadi pengawas.


"Kepala sekolah!."


Saat ibu memasuki ruangan, kami semua berdiri dan menyambutnya. Ibu hanya mengangguk dan mengambil kursi di antara para instruktur lain. Di depan setiap orang sudah ada beberapa berkas yang telah aku setujui dan telah di susun oleh divisi sekretariat komite.


Filia:"Karena semuanya sudah berkumpul, mari kita langsung membahas ke intinya. Pertama, adalah tempat pertukaran khusus siswa. Siapa yang mengusulkan ini?."


"S, saya Putri."


Seorang siswa perempuan yang terlihat berusia dua sampai tiga belas tahun berdiri. Dia adalah siswa kelas menengah tahun pertama yang sudah bergabung dengan komite siswa sejak awal.


Filia:"Jelaskan proposal yang kamu kirim kepadaku!."


"B, baik. Saat berjalan di sekitar akademi, saya melihat beberapa orang siswa yang melakukan pertukaran dari kelas yang berbeda. Jadi saya berfikir untuk menyediakan tempat khusus bagi mereka untuk saling bertukar dengan mudah dan mendapatkan apa yang mereka inginkan."


Siswa itu selesai menjelaskan dan berdiri diam hingga aku mengangguk padanya untuk memberinya isyarat bahwa dia sudah selesai.


Filia:"Ya. Aku menyetujui hal itu."


"Untuk apa rencana seperti itu. Saya rasa itu tidak akan banyak berpengaruh."


Seorang instruktur bertanya. Inilah gunanya membahas semua masalah bersama dan menyelesaikan kebingungan.


Filia:"Mungkin orang hanya berfikir bahwa itu hanya sebuah pertukaran. Tapi bagaimana jika sesuatu yang mereka pertukaran bukan hal yang di izinkan di akademi."


"Apakah maksud anda ilegal?."


Filia:"Tepat sekali. Jika kita menyediakan tempat pertukaran bagi siswa, kita juga bisa mengawasi apa yang mereka pertukaran. Untuk itu, saya sudah menyediakan berkas lanjutan untuk rencana itu."


Aku melambaikan tangan dan di depan semua orang muncul beberapa lembar kertas yang padat dengan tulisan. Aku sudah membuat proposal itu dan membahasnya dengan Mama.


Di dalam proposal itu, aku menuliskan bagaimana melaksanakan rencana itu. Di lobi bangunan ini akan di pasang papan pengumuman yang dapat di isi oleh siswa tentang beberapa tugas atau sesuatu ya g mereka perlukan.


Sebagai contoh, seorang siswa dari divisi Alchemist membutuhkan sebuah tanaman obat tertentu, maka dia hanya perlu membuat pengumuman dan menempelkannya di papan pengumuman supaya bisa di lihat oleh semua orang. Jika ada orang yang memiliki hal itu, maka kami akan membantu mereka bertemu dan saling membicarakan kesepakatan. Itu sangat sederhana tapi juga bisa mengontrol pergerakan barang di dalam akademi.


Arsh:"Sebenarnya ini cukup bagus. Aku tidak perlu terlalu khawatir dengan pertukaran yang mungkin merugikan. Tapi, bagiamana jika mereka melakukan pertukaran secara sembunyi-sembunyi?."


Filia:"Jika ketahuan, mereka akan di hukum. Jika sebelumnya akademi tidak bisa mencurigai siswa yang melakukan pertukaran pribadi Karena hal itu sangat umum, maka sekarang jika ada pertukaran pribadi secara sembunyi-sembunyi, itu sudah sangat membuktikan bahwa transaksi mereka ilegal. Jadi, akademi bisa langsung bertindak."


Ini bukan untuk menghilangkan transaksi pribadi di akademi, tapi hanya untuk mengurangi resiko. Lagi pula, jika pertukaran mereka tidak melanggar peraturan, mereka akan merasa lebih aman dengan komite siswa yang menjadi mediator.


"Saya..!"


Seorang anak laki-laki yang juga terlihat lebih dewasa mengangkat tangannya. Dia terlihat lebih dewasa dan sepertinya berasal dari siswa kelas atas yang ikut bergabung hari ini. Ada sekitar lima orang sebagai perwakilan siswa kelas atas yang ikut menghadiri pertemuan ini.


Filia:"Silahkan bicara."


"Jika hal seperti ini di lakukan, bukankah itu akan terlalu membatasi siswa?."


Filia:"Itu benar. Orang pergi ke akademi karena mereka harus belajar disiplin dan pengetahuan yang di perlukan di masa depan. Demi hal itu, tidak bisa di hindari bahwa akademi pasti akan mengekang kebebasan mereka. Tidak ada manusia yang tidak terkekang jika mereka hidup dalam masyarakat yang beradab demi kehidupan bersama yang lebih baik. Jika ingin bebas, mereka bisa menjadi manusia liar di hutan."


"Saya mengerti."


Orang itu nampaknya juga menyetujui kata-kataku tanpa banyak penolakan. Tapi aku tahu bahwa mereka berada di sini bukan hanya ingin mengikuti pertemuan ini, tapi juga tentang tantangan itu.


Pembahasan tentang rencana ini telah berakhir karena semua orang telah menyetujuinya. Dan jika ada kekurangan, itu bisa di perbaiki setelah kita bisa melihat implementasinya yang sesungguhnya.


Filia:"Jika sudah di tentukan, maka kita akan melanjutkan ke pembahasan selanjutnya."


"Ini tentang tantangan besok. Apakah anda yakin menyetujui surat tantangan ini, Putri?."


Seorang gadis kelas atas yang mewakili siswa kelas atas bertanya kepadaku. Karena ini memang berhubungan dengan mereka, jadi merekalah yang akan membahas masalah ini.


Filia:"Ya. Apakah ada sesuatu yang perlu kalian sampaikan?."


"Kami belum memutuskan tantangan yang tepat. Seperti yang di ketahui semua orang, akademi ini terbagi menjadi menjadi beberapa divisi yang ahli dalam kemampuan masing-masing. Jadi, kami tidak bisa memutuskan tantangan seperti apa yang dapat di ikuti oleh semua Divisi. Jika tantangan untuk bertarung, maka divisi penempa dan divisi enchantress tidak akan cocok karena kemampuan pertarungan mereka yang lemah."


Yah, aku juga memahami kesulitan itu. Setiap divisi ahli dalam bidangnya masing-masing, jadi akan sulit jika hanya satu jenis tantangan.


Filia:"Itu memang benar. Jadi, bagiamana menurut kalian?."


"Setiap divisi mengajukan pendapat mereka masing-masing. Namun, ini benar-benar sulit untuk memutuskan karena proposal yang mereka ajukan lebih condong ke divisi mereka masing-masing."


Filia:"Kalau begitu, aku akan menerima semua tantangan mereka."


Ruangan seketika terdiam dan semua mata menatapku. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. Tapi tidak ada cara yang lebih baik untuk menyakinkan mereka selain memukul mereka dengan keras. Pukulan terkeras bagi seseorang adalah dimana saat mereka di kalahkan oleh orang lain di bidang yang paling mereka kuasai.


"A, apakah anda yakin?."


Filia:"Ya. Tapi, aku ingin beberapa anak maju ke arena pertarungan."


"Bisakah anda memberitahu saya siapa orang-orang itu?."


Aku melambaikan tangan dan kertas dengan beberapa daftar nama jatuh ke depan siswa perempuan itu.


"Kebetulan mereka adalah anak yang berada di divisi pertarungan. Jadi, ini bisa saya atur."


Aku mengangguk sambil tersenyum ke arahnya. Aku tahu bahwa gadis ini tidak memiliki ketidak luasan terhadapku.


Pertemuan ini membahas beberapa hal lagi termasuk penataan komite siswa. Komite siswa akan di bagi seperti sebelumnya, namun akan ada perwakilan dari setiap kelas.


Setelah pertemuan selesai, langit sudah menjadi gelap, pertanda malam sudah tiba. Salju yang jarang melayang di antara langit, membuat suhu udara menjadi lebih dingin.


Semua orang mulai membubarkan diri dan pergi untuk beristirahat. Saat aku melewati taman dengan Ilma, aku melihat seseorang yang akrab.


Filia:"Ayah, kenapa ayah ada di sini."


Aku memanggil ayah dari belakang. Di samping ayah ada seorang laki-laki yang menjadi pelayan pribadinya. Ayah menoleh ke arahku dengan wajah yang nampak sedikit malu.


Rovell:"A, anu... Ayah hanya ingin memastikan keberadaan ibumu. Dia belum pulang, jadi aku khawatir bahwa terjadi sesuatu padanya."


Ah, ternyata ayah sedang mengkhawatirkan Mama. Tapi, Mama lebih kuat dari ayah, lalu mengapa ayah mengkhawatirkannya?. Yah, mungkin ini adalah hal yang normal setelah menikah.


Filia:"Ayah tidak perlu khawatir. Mama sekarang sedang tidur di kamarku dan Mama bilang dia akan menginap malam ini."


Rovell:"O, oh... Kalau begitu, aku akan pulang."


Ayah segera pergi bersama pelayanannya. Sebelum pergi, aku bisa melihat raut wajah kecewa dari ayah. Entah kenapa ayah membuat ekspresi seperti itu yang membuatku tidak bisa memahaminya. Aku bisa membaca pikirannya, tapi aku tidak mau melakukannya.


Filia:"Ayah, hati-hati di jalan."


Rovell:"Iya."


Ayah menjawabku tanpa membalikkan badan dan terus berjalan menuju ke halaman depan akademi. Setelah ayah menghilang dari pandanganku, aku juga pergi untuk beristirahat.


Mama masih tertidur lelap di ranjang ku. Wajah tidurnya terlihat sangat tenang. Namun saat aku mendekat, bulu matanya sedikit bergetar dan Mama terbangun. Matanya yang berwarna toska kebiruan terbuka perlahan, di tambah dengan Kilauan air mata yang jernih, mata Mama terlihat indah seperti pirus yang baru di buka dari kotak perhiasan.



Harnas:"Sayang, kamu sudah kembali?."


Mama bertanya padaku sambil menggosok matanya yang masih lelah.


Filia:"Ya. Baru saja kembali."


Aku mengganti pakaianku menjadi piyama dan ikut berbaring di samping Mama. Mama langsung meraihku ke dalam selimutnya dan kembali tidur sambil memelukku. Ini sangat hangat.


Tanpa sadar, aku mulai tertidur di dalam pelukannya yang hanya dan nyaman.


.....


Saat bangun keesokan harinya, aku mendapati bahwa Mama sudah bangun lebih pagi dariku, tapi dia terus berbaring di ranjang sambil memelukku dan sesekali akan bermain dengan rambutku.


Harnas:"Selamat pagi, sayang."


Filia:"Pagi, Ma."


Begitu aku bangun, ibu juga ikut bangun dari ranjang. Tidak perlu waktu lama bagi kami berdua untuk membersihkan diri dan sarapan. Hari ini Mama tidak akan pergi ke istana karena dia ingin melihat tantangan siang ini.


Bukan hanya Mama, tapi ayah kemungkinan besar juga akan hadir nanti.


Saat aku menuju ke kantor kepala sekolah, aku melihat banyak siswa yang berlalu-lalang sambil membicarakan tentang tantangan siang ini. Akademi terlihat sedikit lebih ramai setelah kembalinya siswa kelas atas dari pelatihan alam liar mereka.


Arsh:"Filia, Nana, selamat pagi."


Filia:"Selamat pagi, Bu."


Arsh:"Bagaimana, apakah kamu sudah siap?."


Filia:"Ya. Aku selalu siap "


Arsh:"Kalau begitu, ayo kita pergi."


Kami berempat pergi meninggalkan kantor kepala sekolah dan langsung menuju ke arena. Tantangan pertama adalah dari kelas pertempuran, jadi aku menjadi sedikit bersemangat.


Sampai di arena, kami berempat berpisah menjadi dua kelompok dengan aku dan Ilma bersama. Kami pergi ke ruang persiapan, sementara Mama dan Ibu akan pergi ke venue yang telah di sediakan. Dari ruang ganti, aku bis mendengar keramaian di arena.


Arena di akademi berbentuk seperti sebuah stadion melingkar dengan arena di tengah dan di kelilingi oleh kursi penonton. Di keempat arah mata angin terdapat venue khusus yang di sediakan untuk bangsawan dan para instruktur saat mereka menghadiri suatu acara di arena akademi ini.


Ilma:"Putri, apakah anda tidak ingin memakai armor?."


Filia:"Tidak perlu."


"Putri Filia, semuanya sudah siap."


Seorang siswa tahun menengah memberitahuku bahwa semua persiapan di arena telah selesai termasuk lawan yang sudah menunggu.


(Akhir dari chapter ini.)


Aku menulis Chapter ini dengan mencicil karena beberapa urusan. Maafkan aku...


Hey, ternyata ini sudah jam 01:00. Aku benar-benar tidak menyadarinya. Aku akan beristirahat, jadi chapter hari ini hanya sampai disini. See you next time.