Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 49: Jobs



aku membuka mataku dan merenggangkan pinggangku yang malas. dengan mata yang masih agak kabur, aku melihat bahwa matahari belum terbit. ini adalah waktu yang tepat untuk latihan pagi dan memperkuat tubuh.


aku segera pindah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu berganti ke pakaian yang cocok untuk olahraga pagi. saat aku keluar kamar, aku melihat Ilma yang sedang membawa pakaian kotor untuk di cuci.


Filia:"mau aku bantu?"


Ilma:"Aaa... p, putri"


Ilma berteriak karena terkejut. apa seharusnya aku tidak memanggilnya dari belakang, ya?. aku juga tidak menduga kalau Ilma akan terkejut seperti itu.


Ilma:"anda mengejutkan saya putri"


Filia:"maaf. apa kamu butuh bantuan?"


Ilma:"tidak, tidak apa putri, saya bisa melakukannya sendiri"


Filia:"sudahlah, tidak masalah, aku akan membantumu"


aku langsung merebut keranjang pakaian di tangan Ilma dan membawanya.


Ilma:"p, putri"


Filia:"tidak apa. ayo cepat, kamu bawa keranjang yang satunya lagi"


Ilma:"t, tapi_"


Filia:"cepat"


Ilma hanya bisa tanpa daya mengambil keranjang cucian yang lain dan pergi ke suatu arah. aku tidak tahu kemana cucian ini akan di bawa. aku hanya mengikuti Ilma di sampingnya.


Filia:"ini mau di bawa kemana?"


tanyaku penasaran.


Ilma:"kita akan menyerahkannya kepada bagian mencuci. mereka bertugas untuk mencuci pakaian kotor dan yang lainnya, putri"


Filia:"oh..."


betapa kayanya. bahkan memiliki pekerja khusus yang bertugas untuk mencuci pakaian. aku bahkan bertanya-tanya, apakah setiap pekerjaan di mansion ini memiliki pekerjanya sendiri?!.


Ilma:"apakah putri ingin latihan pagi?"


Filia:"itu benar. lalu bagaimana dengan mu, apakah kamu memiliki pekerjaan setelah ini?"


Ilma:"seharusnya setelah mengantar cucian ini saya harus menyiapkan kebutuhan anda dan membangunkan Anda, tapi putri, anda selalu bangun pagi, jadi saya tidak punya pekerjaan apapun setelah ini"


Filia:"itu bagus. kalau begitu, apakah kamu mau ikut latihan denganku?. lagi pula usiamu sudah cukup untuk mempelajari seni bela diri, dan aku juga akan membimbingmu untuk mempertajam kemampuan mentalmu"


aku ingin melatih Ilma untuk memperkuat kemampuannya. mungkin setelah aku masuk ke akademi, meskipun Ilma ikut bersamaku, kami tidak akan ada waktu untuk berlatih.


jadi, aku ingin melatih Ilma sebanyak mungkin sebelum aku pergi ke akademi besok. kemarin adalah tes untuk para bangsawan dan hari ini adalah tes untuk anak-anak orang biasa, jadi aku akan datang besok ke akademi. dan lusa akan ada acara peresmian siswa di akademi.


aku mengetahui ini dari ibu yang menceritakan banyak hal tentang akademi. setelah acara peresmian juga akan ada latih tanding dari para siswa baru. biasanya latih tanding seperti ini akan menentukan kelas siswa dari kelas D yang paling rendah atau kelas S yang tertinggi.


Ilma:"benarkah putri?"


Filia:"tentu saja"


Ilma mempercepat langkahnya menuju ke sebuah bangunan di belakang mansion. bangunan itu seukuran rumah berlantai dua dan terlihat cukup mewah. di bagian depan dari bangunan itu terdapat sebuah halaman yang luas dan tali-tali tempat untuk menjemur pakaian. meskipun matahari belum terbit, ada banyak pelayan perempuan yang mengenakan pakaian maid, mereka sibuk membawa keranjang-keranjang berisi pakaian, baik pakaian basah setelah di cuci maupun pakaian kotor yang akan di cuci.


pelayan yang melihat kami datang langsung menghentikan kegiatannya dan membungkuk hormat ke arahku. aku hanya menyapa dan segera mengikuti Ilma masuk ke dalam untuk menyerahkan cucian.


selesai melakukan itu semua, aku menyuruh Ilma untuk segera mengganti pakaian. pakaian yang di kenakan Ilma mirip dengan yang waktu latihan pertama, hanya saja warnanya berbeda.


aku dan Ilma segera menuju ke tempat latihan para kesatria. lapangan pelatihan masih sangat kosong, hanya ada beberapa kesatria yang bertugas untuk menyiapkan peralatan latihan yang tinggal di sini. kesatria yang lain termasuk Eden sedang melakukan pemanasan, lari sampai ke gerbang bangsawan.


aku mengajak Ilma untuk memilih senjata untuk latihan. di tempat penyimpanan, aku melihat bibi Rogis yang sedang membersihkan sebuah pedang menggunakan kain dan minyak khusus untuk mencegah karatan. di samping bibi Rogis terdapat banyak senjata yang berjejer, senjata-senjata itu sudah bersih dan tampak berkilau. aku yakin kalau bibi Rogis sudah di sini cukup lama. semua senjata itu sepertinya di bersihkan oleh bibi Rogis.


Filia:"selamat pagi bibi Rogis"


aku menyapanya. awalnya bibi Rogis tidak memperhatikan ku saat masuk karena dia terlalu fokus untuk mengelap setiap inci dari senjata yang ada di tangannya. tapi setelah aku memanggil, bibi Rogis langsung mendongak dan melihatku.


bibi Rogis langsung meletakkan pekerjaannya dan berjalan ke arahku. dia membungkuk dengan hormat ke arahku.


Rogis:"putri, apa yang anda lakukan disini?"


Filia:"aku ingin mengambil beberapa senjata kayu untuk berlatih. dan bibi Rogis, apa bibi tidak ikut kesatria yang lain berlatih?"


Rogis:"tidak, putri. ini karena saya nanti harus mengantarkan Aria ke akademi, jadi komandan memerintahkan saya untuk tetap di barak, tapi karena merasa bosan dan tidak ada yang bisa saya lakukan, saya pergi ke gudang senjata untuk melakukan perawatan"


Filia:"jadi seperti itu".


sambil mengatakan itu, aku berjalan menuju rak yang berisi senjata kayu. aku memilih pedang yang pernah aku gunakan saat itu. aku mengambil dua buah pedang karena ingin melatih kedua tanganku.


Rogis:"apakah putri berlatih pedang?"


Filia:"itu benar. aku berlatih pedang untuk memperkuat tubuhku. meskipun begini, aku cukup baik dalam menggunakan pedang"


Ilma:"jika anda mengatakannya seperti itu, saya tidak tahu akan seperti apa kapten Grams di sebut"


Ilma yang sedari tadi berdiri diam di sampingku, tiba-tiba menjawab dengan datar.


Rogis:"kapten Grams?"


Ilma:"itu benar. putri pernah mengalahkan kapten Grams dalam pertandingan satu lawan satu"


Rogis:"benarkah?. itu sangat luar biasa. putri benar-benar mengagumkan"


tiba-tiba bibi Rogis menjadi sangat bersemangat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


Ilma:"iya, itu benar. putri sangat luar biasa"


ehem.. aku berdehem untuk mengehentikan percakapan memalukan mereka. aku tidak keberatan untuk di puji, tapi jika terlalu berlebihan, aku merasa sedikit tidak nyaman.


Filia:"Ilma, segera pilih senjatamu dan segera pergi berlatih!"


aku segera mengalihkan pembicaraan. aku tidak akan tahan mendengarkan mereka terus memberikan pujian yang membabi buta.


Ilma:"b, baik putri"


Ilma segera berjalan menuju rak senjata kayu. dia memperhatikan dan mencoba mengangkat berbagai jenis senjata. kapak, tombak, palu. Ilma mencoba mengayunkan berbagai jenis senjata kayu untuk mencoba sensainya.


karena Ilma masih terlalu lemah, ada beberapa senjata yang tidak mampu dia angkat. perlu di ingat, bahwa berat dari senjata kayu itu tidak berbeda jauh dengan senjata aslinya, jadi wajar kalau Ilma tidak mampu mengangkat senjata yang terlalu berat. lagi pula dia hanya orang biasa.


sekitar lima menit, Ilma akhirnya selesai memilih senjata yang dia inginkan. setelah memilih, Ilma membawa senjata itu kepadaku. senjata yang Ilma pilih adalah sepasang dangger yang panjangnya antara 20-30 cm.


Ilma:"bagaimana dengan ini putri, bisakah saya menggunakannya?"


Filia:"aku akan melatihmu untuk menggunakannya. aku akan melatihmu untuk menjadi seorang assassin"


Ilma:"assassin?. jika saya boleh tahu, putri, assassin itu seperti apa?"


apakah di dunia ini tidak mengetahui tentang assassin?. jika Memang seperti itu, maka aku akan mendapatkan keuntungan jika melatih Ilma sebagai seorang assassin.


Filia:"assassin berfokus pada kerusakan yang tinggi dan kecepatan serta kelincahan. di tambah dengan kemampuan tipe mental sensorik yang kamu miliki, kamu akan menjadi pembunuh yang hebat dan banyak membantuku"


Rogis:"pembunuh?"


bibi Rogis dan Ilma nampak terkejut dengan apa yang aku katakan. mungkin karena mereka belum pernah mendengar istilah assassin, jadi mereka agak terkejut saat mendengar penjelasan ku.


Filia:"itu benar. tugas seorang assassin adalah untuk melakukan pembunuhan secara diam-diam atau melancarkan serangan saat kritis. mereka termasuk dalam jobs yang strategis dalam sebagian besar kondisi, tapi mungkin kondisi pelatihannya akan sedikit berat"


jika itu di Alterion, kamu hanya perlu memilih jobs dan menyelesaikan beberapa tugas untuk membuka jobs tersebut. tapi kerena ini di dunia nyata, maka aku perlu untuk melatih Ilma dari awal, termasuk: kelincahan, kecepatan, kecepatan reaksi, serangan kritis, silent skill, penyamaran, dan kemampuan lainnya yang di butuhkan sebagai seorang assassin, jadi aku memperkirakan kalau latihan ini akan cukup berat.


Ilma:"j, jika itu bisa membantu putri, m, maka saya akan melakukannya. tidak peduli seberapa berat latihannya, saya akan melakukannya"


Ilma langsung menjawab tanpa ragu. saat aku melihat sorot matanya, aku bisa melihat keteguhan dan keyakinan di matanya. aku tidak menduga kalau Ilma akan memiliki semangat seperti itu. dan lagi, dia ingin berlatih sebagai seorang assassin demi aku.


Filia:"terima kasih Ilma. aku berjanji akan melatihmu dengan baik"


Ilma:"baik putri"


setelah beberapa percakapan lagi, aku dan Ilma langsung memulai latihan. pertama, kami lari mengelilingi lapangan beberapa putaran untuk pemanasan. setelah sekitar sepuluh putaran, keringat mulai menetes di sekujur tubuhku.


meskipun belum merasa lelah, tapi aku tetap berkeringat karena otak berusaha untuk mendinginkan suhu tubuh. jika aku berkeringat, apalagi Ilma, dia sudah terduduk di tanah karena kelelahan.


Filia:"apa kamu baik-baik saja?"


aku berjalan mendekati Ilma sambil mengusap butiran keringat yang ada di dahiku. aku melihatnya terengah-engah dan sepertinya kesulitan untuk mengatakan sesuatu.


Ilma:"s, saya hah... hah... saya tidak apa-apa... hah... hah.. saya hanya sedikit lelah"


Ilma menjawab pertanyaannku sambil terengah-engah. dia mencoba untuk berdiri dengan kakinya yang goyah. aku segera membantunya bersandar di dinding untuk beristirahat.


Filia:"tidak apa-apa. kita akan beristirahat terlebih dahulu, kita akan melanjutkan latihannya setelah istirahat sebentar"


Ilma:"i, iya"


selesai membantu Ilma yang kecapekan bersandar ke dinding, aku melanjutkan latihan berpedangku sendiri. aku mencoba berbagai teknik berpedang yang aku kuasai.


tanpa memperhatikan matahari yang mulai terbit. pancaran cahaya keemasan mulai menyelimuti tanah lapangan pelatihan yang dingin.


(akhir dari chapter ini)


ajak yang lain mampir ya!.


oh, jika ada kesalahan pengetikan, dimohon untuk di beritahukan kepada author.


ok, see you next time ;)