
Cukup melelahkan untuk membuat kedua benda ini. Selain kekuatan mental yang terus di konsumsi, aku juga perlu mengkonsumsi kekuatan fisik yang tidak sedikit. Jika bukan Tier dua sepertiku, aku ragu bahkan ada yang bisa menyelesaikannya selama satu atau dua minggu. Bahkan mungkin Tier dua akan sangat kesulitan untuk menyelesaikannya. Terutama dengan kekuatan mental lemah. Mereka bahkan mungkin akan menyerah di tengah proses.
Aku bisa menyelesaikannya dalam waktu satu hari karena aku sudah merupakan pseudo-Tier lima.
Aku kembali ke kamarku bersama dengan Ilma dan Liris. Karena matahari baru saja tenggelam, langit masih nampak kemerahan dan terlihat cukup indah. Aku bisa melihat cahaya di beberapa jendela kamar asrama dan beberapa ruangan yang menandakan bahwa masih ada aktifitas dari siswa di dalamnya.
Tiba-tiba aku tertarik dengan cahaya yang ada di sebuah ruangan. Ruangan itu adalah ruangan yang di khususkan untuk ibu saat akan beristirahat atau biasa di gunakan saat ibu akan lembur.
Aku berhenti untuk memperhatikan tempat itu untuk beberapa saat.
Ilma:"Putri, apakah anda berniat untuk mengunjungi?."
Filia:"Biarkan aku membersihkan diri dulu dan temani aku."
Ilma:"Sesuai keinginan anda, Putri."
Aku melanjutkan berjalan hingga kemar ku. Sesampainya di pintu kamar, Liris berniat untuk kembali, tapi aku menariknya masuk ke dalam kamar dan mengajaknya untuk membersihkan diri bersama. Awalnya Liris menolak karena takut bahwa yang dia lakukan kurang sopan, tapi dengan sedikit paksaan dariku, dia akhirnya setuju.
Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku mengajak mereka berdua untuk berkunjung ke ruangan dimana ibu berada. Tentu saja karena Liris tidak membawa pakaian ganti, aku menyerahkan pakaian kepadanya. Pakaian itu terdiri dari mantel panjang dan celana panjang berwarna putih dengan sulaman benang perak di pergelangan tangannya.
Dengan pakaian itu, aura heroik dari kesatria dapat di pancarkan dengan sangat alami. Dia sangat cocok dengan pakaian seperti itu.
Sampai di depan ruangan ibu, aku samar-samar bisa mendengar suara percakapan dan kertas yang di balik. Aku mengetuk pintu dan setelah nunggu beberapa saat, pintu perlahan di buka dari dalam.
Yang membuka pintu adalah Sae, sekretaris ibu. Aku mengangguk sopan padanya dan masuk untuk menemui ibu di dalam. Aku melihat bahwa di bawah mata ibu memiliki lingkaran hitam seperti mata panda dan kantung mata berlapis. Hal seperti ini biasanya hanya terjadi pada orang yang belum beristirahat.
Filia:"Ibu. Apakah ibu belum beristirahat?."
Arsh:"Sayang. huh... ibu memang belum beristirahat sejak kemarin."
Aku menebak dengan benar. Mungkin memang karena terlalu banyak yang harus di kerjakan sehingga ibu sampai harus melewatkan istirahat.
Filia:"Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?!. Ibu harus segera beristirahat untuk menjaga kesehatan."
Aku buru-buru menghampirinya dan mencoba untuk membujuk ibu supaya mau beristirahat. Karena aku menarik tangannya, ibu berdiri perlahan dan mengikuti ku untuk duduk di tepi tempat tidur.
Arsh:"huhh.... Mau bagaimana lagi. Banyak pekerjaan yang harus ibu lakukan: Mulai dari siswa tahun terakhir yang berangkat pelatihan luar ruangan, persiapan pembangunan dan perluasan akademi, persiapan untuk kompetisi setelah musim dingin, beberapa kegiatan yang memerlukan persetujuanku, dan besok masih harus di tabrak dengan ulang tahun ratu. Aku benar-benar tidak punya banyak waktu untuk beristirahat."
Mendengar keluhan ibu, aku bisa mengerti betapa sibuk dia. Hanya di musim dingin ini, karena mendekati kelulusan siswa tahun terakhir, jadi akan ada banyak kegiatan.
Aku menepuk tangan ibu dan berdiri, berjalan menuju meja yang dengan teko teh di atasnya. Aku menjangkau dan melihat bahwa teko teh itu masih memiliki teh hangat di dalamnya. Karena itu, aku mengeluarkan teko teh yang baru dan memasukkan air ke dalamnya. Aku menambahkan beberapa potong ginseng dan mulai merebusnya dengan api Phoenix secara perlahan. Tambahkan sedikit madu sebagai pemanis, dan tunggu hingga teh siap.
Setelah beberapa saat, aku menuangkan teh dan menyerahkannya kepada ibu. Ibu perlahan mendekatkan teh itu ke hidungnya dan menghirup aroma yang keluar bersama dengan uap air yang mengepul dari permukaan teh.
Arsh:"Aromanya sangat aneh, tapi hanya dengan menghirup aromanya, aku merasa menjadi lebih segar. Sayang, teh jenis apa ini?."
Filia:"Ini di sebut sebagai teh Ginseng. Teh ini akan membantu ibu menjadi lebih rileks dan menghilangkan kepenatan ibu setelah bekerja."
Ibu langsung meminum teh itu secara perlahan sambil menutup matanya untuk menikmati teh itu.
Arsh:"hah... ini benar-benar hal yang baik. Terima kasih sayang."
Ibu berhenti sebentar untuk kembali meminum teh, lalu melanjutkan.
Arsh:"Oh ya, sayang. apakah kamu sudah menyiapkan sesuatu untuk hadiah ratu?."
Filia:"Ibu tidak perlu khawatir. Saya sudah menyiapkan hadiah untuk ratu."
Arsh:"Itu bagus."
Kami berbicara untuk beberapa saat lagi sampai malam mulai menjadi lebih pekat. Karena sudah agak malam, aku pergi dan meminta ibu untuk mengambil waktu istirahat yang cukup. Sampai di depan kamar, aku meminta Ilma dan Liris untuk kembali beristirahat juga.
Malam ini aku tidak pergi untuk beristirahat, tapi setelah Ilma dan Liris pergi, aku segera menggunakan jubah tebal berwarna putih dengan tudung yang menutupi kepala. Jubah ini menutupi seluruh tubuhku selain wajah. Karena terbuat dari bulu, jubah ini mampu menghalangi hawa dingin saat aku terbang.
Selain jubah, aku juga mengeluarkan topeng kitsune yang menutupi wajah bagian atas. Topeng kitsune ini berwarna putih dengan garis-garis merah di atasnya, hanya saja di atas topeng ini tidak memiliki lubang pengelihatan.
Setelah persiapannya selesai, aku melompat dari jendela dan pergi ke alam liar untuk meningkatkan level.
.....
Pagi hari ini langit terlihat abu-abu kusam dan angin dingin menjerit membawa hawa dingin yang menyayat kulit seperti pisau tajam. Tadi malam aku pergi terlalu jauh karena di sekitar ibu kota jarang ada monster yang cukup. Lebih parahnya lagi, aku lupa untuk memasang titik teleportasi, jadi aku terbang secepat mungkin untuk kembali ke akademi.
Sampai di depan akademi, aku melihat sudah ada banyak siswa yang mulai beraktifitas dan jalanan ibu kota sudah mulai ramai. Aku mendarat di tempat tersembunyi dan menggunakan «Silent» untuk masuk ke akademi tanpa di ketahui. Sampai di dekat gedung asrama, aku langsung mengganti pakaianku dan berjalan masuk.
Ilma:"Putri?!."
Tiba-tiba saat aku baru saja memasuki pintu asrama, aku mendengar suara Ilma yang sedikit terkejut.
Filia:"Ilma?, Ada apa?."
Melihat wajah Ilma yang penuh dengan ke khawatiran, aku hanya bisa mengatakan bahwa aku berlari ke kota untuk berolah raga.
Filia:"Sudah, lupakan itu. Ayo segera bersiap dan pergi ke pesta!."
Ilma:"Oh, benar. Tadi pangeran dan putri mengajak anda untuk berangkat bersama. Apakah anda akan pergi bersama, Putri?."
Filia:"tentu. Tapi, aku tidak bisa satu kereta dengan mereka. Aku akan naik kereta sendiri dan mewakili keluarga Rosefield."
Ilma:"Saya akan segera menyampaikannya."
Ilma pergi, dan aku naik ke atas untuk mandi dan berganti pakaian. Merupakan hal yang tabu untuk anggota keluarga bangsawan lawan jenis tanpa status pernikahan untuk naik di satu kereta dan menghadiri acara resmi. terutama jika itu adalah perempuan. Itu karena seorang wanita bangsawan akan ikut bersama dengan suaminya setelah pernikahan, yang berarti, wanita bangsawan itu akan menjadi bagian dari keluarga laki-laki. Jadi, jika aku menaiki kereta bersama pangeran dengan kereta berlambang keluarga kerajaan, itu mengindikasikan bahwa aku sudah menikah dengan keluarga kerajaan.
Setidaknya aku harus menggunakan kereta keluarga Rosefield untuk menunjukkan identitas ku sebagai nona muda keluarga Rosefield. Bahkan ibu Arsh tidak akan di izinkan untuk pergi menggunakan kereta keluarga Rosefield. Itu karena ibu belum memiliki status pernikahan resmi dengan ayah.
Hari ini aku menggunakan Hanfu putih dengan kombinasi pink transparan yang memberikan kesan lembut seperti bunga sakura. Aku menata rambutku dengan gaya ekor kuda tinggi dan menggunakan hiasan rambut di bagian kiri dan kana yang memiliki aksesoris bunga Plum merah muda yang lembut. Aku menyisakan beberapa helai rambut supaya tetap menggantung di setiap sisi wajahku untuk memberikan kesan tradisional dan lembut. Untuk mencegah kesan yang terlalu dewasa, aku menambahkan dua kepang kecil di kiri dan kanan yang di hias menggunakan hiasan rambut bunga tadi.
Karena pakaian dan rambutku di dominasi oleh warna putih dan perak, aku menggunakan riasan pink lembut di sekitar mata untuk memberikan kesan lebih segar. Karena jika aku tidak memberikan sedikit riasan, dengan pakaian dan warna rambut serta kulit bayi ku yang putih, aku justru akan terlihat pucat. Jadi aku menggunakan riasan ini hanya untuk memberi kesan segar.
Aku berdiri di depan cermin dan mengagumi sosok itu. Di cermin aku melihat seorang gadis kecil yang lucu dengan kulit putih bersih dan lembut, seperti telur yang baru di kupas. Rambut perak lurus yang berkilau dengan cahaya kaleidoskop saat bergetar, seakan Aurora muncul di langit bersama dengan untaian benang perak yang indah. Mata besar itu berkilau seperti bintang-bintang di langit malam yang penuh dengan kelincahan tapi juga ketenangan.
Heh... Fitur wajah ini sangat baik. Tapi saat aku memperhatikan dengan seksama, entah kenapa wajah ini hampir mirip dengan wajahku yang dulu. Hanya saja wajahku yang dulu terlihat pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata dan agak kurus karena penyakit, jadi yang ini entah beberapa kali lipat terlihat lebih baik.
tok... tok... tok..
Ilma:"Putri, apakah anda sudah siap?."
Saat aku masih tenggelam dalam pemikiran dan kekaguman, ada ketukan pintu dari luar yang segera di ikuti oleh suara Ilma. Aku segera membereskan semuanya dan berjalan keluar dari kamar untuk menemui Ilma. Tentu saja Ilma akan ikut menghadiri pesta bersama sebagai pelayan.
Saat aku keluar, aku melihat Ilma dengan pakaian pelayanan hitam-putihnya berdiri di depan pintu dengan wajah yang tersenyum lembut. Aku menyadari bahwa dari pakaian Ilma, itu terlihat jauh lebih formal dan lebih baik daripada pakaian maid yang biasa dia kenakan di hari-hari biasanya.
Selain itu, hari ini Ilma menggunakan sarung tangan putih berenda dengan sulaman emas di tepinya. Di dada sebelah kirinya juga terdapat sebuah bros kecil berbentuk perisai pentagram dengan gambar bunga mawar yang di hiasi dengan batu rubi merah di atasnya.
Filia:"Ilma, apa kamu yakin tidak ingin menggunakan gaun?."
Ilma:"Apa yang anda katakan, Putri?. Pakaian maid ini adalah pakaian kebanggaan kami. Tidak semua pelayan bisa mengenakan pakaian maid seperti ini. Ini adalah tanda status kami sebagai pelayan pribadi yang melayani seorang bangsawan."
Itu memang benar. Tidak semua pelayan bisa mengenakan pakaian maid seperti ini. hanya pelayan pribadi dan pelayan kepala saja yang berhak menggunakannya. biasanya para pelayan biasa hanya mengenakan pakaian maid yang biasa, dan meskipun perbedaan tidak besar, tapi pakaian maid yang di kenakan oleh Ilma memang merupakan sebuah tanda bahwa mereka adalah pelayan pribadi seorang bangsawan yang menandakan bahwa mereka lebih unggul daripada pelayan yang lain.
Aku tersenyum dan berjalan perlahan melewati Ilma yang berdiri dengan tenang di depan pintu.
Filia:"Ayo!."
Ilma:"Baik, Putri."
Ilma mengikuti ku berjalan ke bawah. Di halaman akademi yang di bersihkan dari salju, di sana terdapat lebih dari sepuluh kereta dengan ukuran, warna, dan lambang keluarga yang berbeda. Kereta-kereta itu merupakan kereta bangsawan lain yang menjemput anak-anak mereka yang masih tinggal di akademi untuk ikut menghadiri pesta.
Di barisan paling depan dari barisan kereta-kereta itu, ada tiga buah kereta dengan warna dan lambang yang berbeda. Satu kereta berwarna ungu yang di tarik oleh enam kuda hitam yang kuat dan tegap seperti kuda perang. Di bagian belakang kereta itu terdapat lambang pedang dan sabit yang merupakan lambang dari keluarga Guilotin, yang merupakan keluarga dari ibu Arsh.
Di sebelahnya terdapat sebuah kereta Kuda berwarna hitam dengan ornamen emas dan terdapat lambang keluarga kerajaan di bagian belakang kereta itu. Kereta kuda itu juga di tarik oleh enam kuda.
Di bagian paling kanan, terdapat sebuah kereta kuda berwarna putih perak dengan ornamen emas yang memiliki lambang keluarga Rosefield di bagian belakang. Kereta itu di tarik oleh enam kuda putih bersih dengan Surai panjang yang di sisir dengan rapi.
Ketiga kereta itu lebih besar daripada kereta yang lain. Tidak akan masalah untuk mengangkut delapan orang di dalamnya tanpa berdesakan.
Aku berjalan menuju ke arah ketiga kereta itu di parkir. Sampai di sana, aku di sambut oleh ibu dan yang lainnya. Banyak orang yang mengarahkan pandangannya ke arah kami.
Kami segera masuk dan berangkat ke istana dengan di pimpin oleh kereta kuda kerajaan. Hanya saja bangsawan yang berkumpul di akademi tidak akan pergi bersama kami karena bukan merupakan kelompok ini.
Di sepanjang perjalanan, aku melihat jalan-jalan ibu kota yang sangat sibuk. Selain dari berbagai kereta mewah para bangsawan, di jalanan juga banyak kereta tentara dan kesatria yang berlalu lalang dan mengetuk rumah-rumah penduduk.
Pesta kerajaan biasanya juga akan mengundang semua warga di ibu kota untuk ikut merayakan di halaman istana, tapi karena pesta ulang tahun ratu selalu terjadi di musim dingin, jadi para tentara dan kesatria akan berkeliling ke seluruh ibu kota untuk membagikan makanan kepada para penduduk supaya mereka juga ikut merasakan kegembiraan hari ini.
Aku bisa melihat wajah-wajah bahagia dari orang-orang itu. Mereka juga membuka jendela dan bersorak untuk ucapan selamat ulang tahun. Bisa di katakan bahwa seluruh ibu kota hari ini sangat meriah.
Perjalanan dari akademi ke istana setidaknya memakan waktu lebih dari dua jam. Sampai di gerbang istana, ada barisan kesatria yang menjaga dan seorang pelayan laki-laki yang berada di dekat gerbang untuk memeriksa undangan. Begitu kereta pangeran lewat, para kesatria dan pelayan tua itu membungkuk hormat.
Kami juga ikut masuk tanpa pemeriksaan apapun karena berasal dari keluarga Rosefield dan Guilotin, yang merupakan dua keluarga bangsawan dengan kontribusi yang besar terhadap kerajaan.
Kami memarkir kereta kuda di halaman istana, di tempat yang telah di sediakan. Sudah ada banyak kereta kuda lain dan bangsawan yang saling berbicara di sekitar kereta mereka. Karena musim dingin, pesta akan langsung di adakan di dalam aula pesta kerajaan.
Saat kereta kami tiba, banyak mata yang tertuju kepada kereta kami. Setelah kereta di parkir dengan sempurna, Ilma turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untukku.
Ilma:"Putri, silahkan."
(akhir dari chapter ini)
Aku mempelajari beberapa saat untuk tata rias perempuan demi chapter ini. Jika ada kesalahan, aku harap yang mengetahui segera memberi tahuku segera. Terutama kalian yang mengetahui tentang berdandan.