
mendengar tantangan anak itu kepadanya, Liris tersenyum dan melangkah ke platform pertempuran. meskipun masih anak-anak, tapi gaya ksatrianya sudah terbentuk. langkah kakinya ringan saat melangkah di tangga menuju platform pertempuran.
Liris:"suatu kehormatan untuk menerima tantangan dari anda"
Sian:"mari kita lihat, apakah kamu berhak menempati posisi ke empat itu"
Liris:"saya yakin saya layak, tapi saya masih belum yakin apakah anda layak menempati posisi anda sekarang"
Sian:"mungkin tidak akan berguna jika hanya berbicara. lebih baik kita buktikan saja"
Liris:"saran yang menarik"
bahkan sebelum pertandingan dimulai, aku sudah merasakan aroma api terbakar di atas arena. kesombongan dan kebanggan mereka sebagai anak emas dari kalangan bangsawan benar-benar di tampilkan saat ini. baik dalam serangan verbal maupun ilmu pedang mereka.
dengan bangga, mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak sekitar lima meter. tangan mereka menggenggam pedang dengan erat. senyum percaya diri dan aura yang mendominasi terpancar dari setiap sikap yang mereka ambil.
Alison:"Mulai...!!"
swos....!! Trang...!!
segera, setelah kata-kata instruktur jatuh mereka berdua segera melesat dan saling menghampiri seperti dua anak panah yang dilepaskan dari tali. benturan logam segera bergema bersama dengan percikan api yang terlontar ke udara. meskipun ini hanya pertarungan kelas bawah, tapi mengingat bahwa mereka masih anak-anak dan masih seorang Zero, maka pertandingan ini bisa di sebut layak.
karena tidak ada yang mendapatkan keuntungan dari benturan pertama ini, mereka berdua segera berpisah dan mengambil jarak sekitar empat meter satu dengan yang lain. meskipun terlihat begitu, tapi aku bisa tahu bahwa Liris sedikit mendapatkan keuntungan dalam konfrontasi itu. aku bisa melihat tangan anak yang bernama Sian itu sedikit gemetar setelah benturan.
Sian:"lagi..!!"
seperti mendapatkan aba-aba, mereka kembali melesat dengan cepat. anak laki-laki itu menebas secara horizontal dengan kekuatan yang besar dan cepat. meskipun begitu, Liris mampu menahan dan membaca arah lintasan dari tebasan itu dengan baik.
Trang...!!
benturan demi benturan logam menghasilkan suara yang nyaring bergema di seluruh arena. pertempuran antara anak laki-laki yang dilihat di awal benar-benar tidak ada bandingnya dengan ini. gerakan Liris dan Sian lebih halus dan lebih terjaga. Liris memiliki senyum yang masih tergantung di sudut bibirnya yang terlihat lembut seperti warna kelopak bunga plum. dia menghadapi setiap serangan dari lawan dengan percaya diri dan tanpa keraguan sedikitpun.
Sian itu juga tidak mau kalah. dia menangkis dan melakukan serangan balik yang ganas. aku harus mengakui bahwa standar mereka benar-benar berada jauh di depan generasi yang sama. meskipun dikatakan bahwa dia mendapatkan peringkat ke tujuh, tapi kemampuannya sedikit lebih baik daripada prajurit rata-rata yang jauh lebih baik dari anak-anak lain seusianya. setidaknya anak-anak yang tidak masuk dalam daftar peringkat. tapi meskipun begitu, kemampuannya belum mampu memasuki jajaran kemampuan para kesatria. setidaknya masih ada celah besar di antaranya.
pertandingan mereka berlangsung sekitar lima menit. awalnya mereka saling balas serangan dan kadang-kadang mengambil jarak untuk mengambil nafas, tapi lama kelamaan, keunggulan Liris mulai terlihat. anak bernama Sian itu sudah mulai kehabisan nafas dengan keringat yang mengucur di wajahnya. meskipun kondisi Liris juga memiliki keringat di wajahnya, tapi nafasnya lebih tenang dan teratur. itu menandakan bahwa dia masih memiliki banyak stamina yang tersisa.
lagi pula perbedaan level komprehensif mereka terpaut cukup jauh. saat ini Liris memiliki level komprehensif E8 (20%), Level 40, dan Sian memiliki level komprehensif D7 (60%), Level 40 yang terpaut 9 level komprehensif yang sangat jauh. Level komprehensif itu sendiri menunjuk kepada keseluruhan statistik mereka, termasuk Stamina, Mana, Internal Strange, dan lainnya termasuk Mental energi. level komprehensif dari yang terbawah adalah A10–A1, B10–B1, C10–C1, D10–D1 dan seterusnya hingga S10–S1, SS10–SS1, SSS10–SSS1 yang sangat kuat. setiap level dibagi menjadi sepuluh tahap mulai dari 10% hingga 100%. seperti, mulai dari A10 (10%)–A10 (20%) dan seterusnya hingga A10 (100%). setelah sampai pada A10 (100%), pemain dapat meningkatkannya ke level komprehensif A9. setiap kenaikan 10% level komprehensif, pemain akan mendapatkan bonus stat yang lebih besar.
untuk menaikkan level komprehensif itu sendiri cukup sulit. bukan hanya perlu melatih fisik, tapi juga teknik dan penguasaan teknik pertempuran. sebenarnya menurut berita yang pernah aku dengar saat di Alterion, untuk menaikan level komprehensif memiliki banyak cara yang berbeda, tapi aku juga tidak tahu seperti apa itu. level komprehensif ku sendiri akan naik dengan sendirinya saat aku berlatih, jadi aku tidak perlu terlalu memikirkan hal itu. oh, untukku?. saat ini tubuhku memiliki level komprehensif G6 (80%) Tier dua, Level 39, jadi perbedaan antara aku dan anak-anak lain sangat jauh bagaikan langit dan lumpur. bukan maksudku sombong, tapi memang seperti itulah kenyataannya.
level komprehensif itu sendiri tidak sama seperti konsep Tier. masih banyak cara untuk mengalahkan lompat level, baik dengan taktik yang tepat ataupun tipu daya, tapi jika itu adalah perbedaan Tier, kecuali memiliki senjata Divine, maka akan mustahil untuk melawan musuh dengan Tier yang lebih tinggi. karena taktik seperti apapun tidak akan berguna melawan kekuatan absolut.
Trang...!!
Ahhh...!!
Brak...!!
pikiranku di kejutkan oleh suara benturan logam yang sangat keras bersama dengan suara teriakan dan suara hantaman benda tumpul. aku melihat bahwa anak laki-laki bernama Sian itu terlempar beberapa meter dan menghantam platform pertempuran setelah menahan serangan Liris. ada aroma rambut terbakar yang tajam mengepul ke udara. aku melihat pedang liris telah di lapisi oleh api merah yang menyala-nyala. sepertinya api itulah yang membakar rambut Sian itu. yah, meskipun terbakar, itu hanya bagian ujung saja dan tidak mempengaruhi penampilannya. itupun berkat perlindungan yang ada di arena, jika tidak ada perlindungan mungkin saja wajah Sian itu akan hangus terbakar.
Alison:"Cukup...!!. pemenangnya adalah Liris Vermilion!"
instruktur mengumumkan pemenangnya dan sorakan terdengar. aku tidak tahu kapan, tapi anak-anak yang awalnya berada di platform pertama dan ke tiga juga mulai berkumpul di sekitar platform ke dua tempat kami berlatih, selain itu di tribun juga terdapat lebih banyak anak-anak laki-laki dan perempuan dari berbagai kelas yang berbeda.
Liris membungkuk sedikit dan turun dari panggung dengan senyum bangga. keringat masih menetes dan nafasnya terdengar kasar karena kelelahan fisik. entah kapan, tapi tiba-tiba ada beberapa pelayan yang datang dan menghampiri untuk menyerahkan handuk kering dan membantu Liris menyeka keringatnya.
Filia:"pertandingan yang bagus Liris"
aku menghampiri dan menyapa Liris. melihatku, dia nampak antusias dan senyumnya menjadi lebih lebar. dia segera membungkuk hormat ke arahku bersama pelayan yang ada di belakangnya juga membungkuk mengikuti tindakan Liris. apakah pelayan itu miliknya?, tapi sepertinya aku tidak melihat bahwa dia membawa pelayan.
Liris:"suatu kehormatan mendapatkan pujian dari Yang Mulia Putri Filia"
Filia:"seharusnya sayalah yang berterima kasih karena telah diperlihatkan penampilan yang luar biasa"
Alison:"Selanjutnya!!"
aku mendengar teriakan instruktur supaya siswa berikutnya segera naik ke atas platform. aku kembali menuju ke arah platform dan melihat pertandingan yang akan datang sementara Liris berbicara dengan Sian itu sambil beristirahat. yah, lawan yang saling mengakui dan akhirnya berubah menjadi teman. kurasa seperti itulah hubungan mereka sekarang. syukurlah, aku kira anak laki-laki yang terlihat sombong itu akan menyimpan dendam, tapi ternyata dia bisa menerima kekalahan itu dengan baik.
anak yang naik selanjutnya adalah seorang anak perempuan dengan zirah yang nampak biasa saja berwarna coklat gelap. anak perempuan itu membawa pedang panjang dengan sarung pedangnya terbuat dari kayu yang di pernis coklat. rambutnya berwarna coklat gelap agak kemerahan dengan warna mata yang serasi. tingginya sekitar 2 cm lebih pendek dariku.
tiba-tiba anak perempuan itu mencabut pedangnya dengan suara mendesing yang tajam karena gesekan antara bilah pedang dan sarungnya. anak itu menunjuk ke seorang anak di bawah panggung dengan bilah pedangnya dan memberikan tantangan.
"ayo kita bertanding...!!"
anak itu memberikan tantangan dengan lugas tanpa menyebutkan nama ataupun identitasnya. tapi tidak akan ada yang keberatan soal itu, mungkin hanya beberapa anak bangsawan yang akan menilainya sebagai anak yang kurang sopan. mau bagaimanapun, dilihat dari sikap dan perilakunya anak itu mungkin bukan merupakan anak bangsawan.
"Abel... haruskah kita melakukan ini?"
ada suara anak perempuan lain yang terdengar tidak berdaya dan seperti tidak menginginkan adanya pertandingan ini. aku sepertinya pernah mendengar suara ini, tapi aku tidak ingat dimana pernah mendengarnya.
Abel:"jangan banyak bicara. cepat naik. aku akan membuatmu merasakan kekuatanku"
nada bicara anak perempuan Abel itu menunjukkan kebencian yang sangat jelas kepada lawannya. mungkin mereka memiliki perselisihan.
"t, tapi aku tidak mau melawanmu. aku... aku..."
meskipun ini bukan pertandingan hidup dan mati, tapi dengan hubungan mereka saat ini, jika pertandingan itu dilakukan maka hubungan mereka akan semakin retak. jadi aku paham apa yang di rasakan gadis di bawah panggung itu.
aku melihat seorang anak perempuan dengan pakaian armor kulit yang agak usang dengan pedang yang dilapisi oleh sarung aus di pinggangnya. gadis itu menaiki tangga dengan menunduk. meskipun menunduk, aku bisa dengan jelas melihat ekspresinya yang tidak berdaya.
setelah melihat anak itu akhirnya aku mengingat dimana pernah mendengar suaranya. dia adalah anak perempuan yang berkenalan denganku. kalau tidak salah dia bernama Stern yang merupakan anak biasa.
anak itu berjalan di atas panggung dan berhenti lima meter dari jarak anak Abel itu. mereka saling berhadapan dengan ekspresi yang berbeda. Abel memiliki ekspresi penuh kebencian, sementara Stern memiliki ekspresi sedih dan tidak berdaya di wajahnya.
Alison:"aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian, tapi ini adalah pertandingan latihan, aku harap kalian tidak menyimpan niat buruk pada lawan kalian dan melakukan pertandingan dengan adil. Mulai...!"
Abel itu langsung melancarkan serangan tebasan horizontal mengarah ke tubuh Stern dengan kekuatan besar. Stern mencoba untuk menangkisnya, tapi mungkin karena tenaga yang digunakan lawannya cukup besar, dia mundur beberapa langkah. tanpa memberi Stern kesempatan, Abel terus meluncurkan serangan ke arah Stern dengan brutal. serangan ini tanpa teknik apapun, tapi hanya menggunakan kekuatan kasar untuk menekan lawan.
alasan kenapa Stern mudah terpojok karena dia tidak memiliki niat untuk bertarung dengan musuhnya. Stern terus mundur dan terus di tekan oleh serangan lawan.
Abel:"semua orang bilang bahwa kamu lebih baik daripada aku. sekarang aku akan memperlihatkan siapa yang terbaik...hahaha...!"
Abel itu menyerang sambil berkata, mengungkapkan keluh kesahnya dan tertawa gila. sangat tidak cocok dengan gambaran seorang wanita.
Abel:"kamu selalu memandang rendahku dan menghinaku di belakang, bukan!!. sekarang aku akan membuatmu melihat aku yang sebenarnya...hahaha..."
Trang...!!
Ahhh...!!
Stern terjatuh ke belakang karena tumpuan kaki yang tidak sempurna saat menangkis serangan dari Abel. sebelum dia sempat berdiri, Abel sudah melancarkan serangan vertikal ke bawah, berusaha untuk melukai Stern. kejam dan brutal. tawa dan senyum menyeringai sinis dari Abel terlihat jahat dan kejam. aku bahkan tidak mengira bahwa seorang anak akan memiliki ekspresi seperti itu.
Trang...!!
beruntung bahwa Stern cukup cepat untuk mengangkat pedangnya dan menghalangi serangan itu tepat di atas kepalanya. tangan kirinya menahan bilah pedangnya supaya serangan itu dapat di tahan dengan sempurna.
Abel:"sekarang kamu lihat siapa yang lebih baik di antara kita...hahaha...!!"
Abel terus menekan pedang itu ke bawah dan membuat tangan Stern bergetar karena tekanan yang besar. Abel mengangkat kembali pedangnya dan berusaha untuk meluncurkan serangan vertikal selanjutnya, tapi saat dia mengangkat pedangnya, Stern berguling ke samping hingga serangan Abel hanya menghantam platform dan menghasilkan suara nyaring serta percikan api.
wajahnya nampak sangat marah saat melihat Stern berhasil menghindari serangannya. segera, Abel mengejar ke arah Stern dan meluncurkan serangan horizontal kepada Stern yang baru saja akan berdiri.
Abel:" Sword Skill:«Two Slashes In One»"
tangan Abel menyalakan aura merah yang menyelimuti pedangnya kemudian dia menebaskannya ke udara kosong. cahaya merah melesat dari pedangnya menuju ke arah Stern yang berada dua meter jauhnya dari Abel saat ini. tidak berhenti di situ, pedang Abel masih memiliki aura merah dan dia berlari cepat ke arah Stern. karena kecepatannya, dia berhasil menyusul cahaya tebasan yang ia keluarkan di awal dan menyapu cahaya tebasan itu Dangan tebasan ke dua sehingga ke dua cahaya itu terlihat menempel kembali ke bilahnya. pedang itu terlihat menyala merah.
mata Stern terbelalak kaget melihat serangan itu. dia berusaha membuat pedangnya berada di posisi memblokir pedang Abel.
Trang...!!
Prang...!!
ahhh...!!
bang...!!
Stern berusaha untuk memblokir serangan itu, tapi karena kekuatan serangan itu terlalu besar, Stern terlempar dan pedang yang ia gunakan untuk menahan serangan itu hancur seperti kaca. pecahan yang tajam terlempar dan mengenai bahu serta pipi kanannya. darah merah mengalir dan menetes ke armornya.
aku melihat bahwa bahkan instruktur tertegun oleh serangan itu. meskipun berusaha untuk menghentikan serangan itu, tapi langkah instruktur sedikit terlambat. meskipun di arena ini terdapat penghalang yang akan melindungi penonton serta memberikan perlindungan suci kepada petarung supaya tidak mengalami cidera fatal, tapi tetap saja mereka akan menerima damage.
instruktur segera memegang tangan Abel supaya tidak melanjutkan serangannya. mendapat tatapan penuh kebencian dari Abel, instruktur nampak mengabaikannya dan berjalan cepat menuju Stern yang terbaring di arena.
sebenarnya mudah bagiku untuk menghentikan serangannya, tapi karena aku merasa bahwa serangan itu tidak akan membunuhnya, jadi aku tidak menghentikan serangan itu. lagi pula aku juga ingin melihat sampai sejauh mana kemampuan anak itu. ternyata sedikit menyenangkan.
seperti yang aku duga, Stern segera berdiri dan memegang pedangnya yang telah patah di tangan kanannya dengan darah yang mengalir perlahan dari bahu ke pedang. instruktur menanyakan kondisinya, tapi Stern terus menunduk dan tidak menjawab. dia memegang bahu kanannya yang terluka sambil meneteskan air mata. perlahan, dia mengangkat kepalanya dan wajah sedihnya jelas terlihat. ini bukan air mata karena rasa sakit fisik. sebaliknya, ini adalah air mata karena rasa sakit kehilangan sahabatnya. dapat dipastikan setelah hari ini hubungan mereka telah berakhir.
Stern menghapus air matanya dengan tangan kirinya yang memiliki bekas darah di telapak tangan karena memegang luka di bahunya. matanya menjadi lebih tajam dan kuat. awalnya mungkin dia tidak mau melawan karena Abel masihlah temannya, tapi sekarang...
sungguh anak yang kuat. aku terkejut dengan anak ini. aku menyukainya...
aku bisa dengan jelas melihat bahwa tiba-tiba matanya yang berwarna coklat memancarkan cahaya perak yang menunjukkan sinar tajam. pedang yang awalnya hanya tersisa bagian gagang itu di selimuti oleh cahaya perak dan membentuk bilah baru dari cahaya perak.
perasaan tajam yang dia berikan seperti mampu menyayat dan memotong apapun. meskipun hanya berdiri di sana, dia sudah memancarkan perasaan tajam yang samar. seakan ada pedang yang di arahkan ke jantungmu, perasaan yang mampu membuatmu ketakutan.
ini. tidak mungkin...
Filia:"«Sword Intent»!!!"
karena terlalu terkejut, aku kehilangan ketenangan dan tanpa sengaja berteriak.
tidak mungkin. ini, ini adalah «Sword Intent»...
(akhir dari chapter ini)
maaf kemarin tidak update. Minggu ini aku harus menghadapi Ujian akhir semester 6, jadi aku benar-benar sibuk. sekali lagi aku minta maaf.
ok, see you next time;)