Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 144: Pernyataan Perang.



Hawa membunuh yang sangat dingin tiba-tiba datang dari segala arah yang membuat tubuhku menggigil tak terkendali. Meskipun aku tahu bahwa hawa membunuh itu tidak di tujukan kepadaku, tapi aku masih bisa merasakannya dengan sangat jelas.


Brak... Brak...


Beberapa orang yang tidak dapat menahan hawa membunuh ini jatuh dan berlutut ke tanah. Keringat dingin membasahi punggung dan pelipis mereka.


Phirios:"Aku... Aku seorang pangeran. Kenapa, kenapa aku harus di perlakukan seperti ini. bukankah aku seharusnya di perlakukan dengan hormat?!."


Phirios yang bergumam dengan suara yang sangat lirih dan bergetar. Meskipun aku tidak bisa melihat ekspresinya, tapi aku bisa membayangkan wajahnya yang ketakutan tapi penuh dengan kesombongan.


Arkne:"Kehormatan?. Merupakan kehormatan besar bagimu karena dapat bertemu Yang Mulia."


Filia:"Kami sudah berbaik hati untuk membiarkan kalian hidup. Perlu kamu tahu, Moon Palace tidak akan meninggalkan musuh hidup-hidup. Kalian adalah yang pertama, bukankah itu sebuah kehormatan?."


Yang Mulia Filia bertanya dengan retoris. Jika di pikirkan, apa yang di katakan Yang Mulia Filia memang terdengar benar. Tapi, kebenaran itu sama sekali tidak membuat perbedaan sedikitpun.


Phirios:"Tapi... Tapi aku ini pangeran. Pangeran yang harusnya di hormati. Bebaskan aku, aku dapat melupakan ini semua."


Phirios yang mentalnya sudah terganggu sejak awal, saat ini dia mulai membuat ulah. Hal seperti ini merupakan hal yang sangat tidak sopan terhadap penguasa. Tanpa sadar, aku sedikit mendongak dan melihat ekspresi wajah Yang Mulia. Wajah itu tidak berubah, tapi tatapan matanya menjadi sangat suram dan dingin . Seketika, jantungku berteriak kencang, berteriak dengan peringatan... Jangan, jangan melihatnya. Aku tidak berani lagi melihat dan langsung menunduk.


Filia:"Melupakan?. Tapi, aku tidak mau kamu melupakannya."


Splash...!!.


Phirios:"Uaaaa..... Tangan, tanganku... Tanganku... Akhhhh...!"


Tubuhku bergetar mendengar teriakan menusuk hati dari Phirios. Terutama, sebuah lengan yang terpotong dari bahu jatuh di hadapanku. Entah karena reflek otot atau apa, tapi aku masih bisa melihat tangan yang terpotong itu masih sedikit berkedut.


Tidak ada di ruangan yang berani bergerak. Semua orang tidak bodoh, mereka tahu kalau mereka bergerak, mereka akan mati secara mengenaskan di ruangan ini. Phirios terus berteriak dengan darah yang terus mengucur dari bahunya yang telah kehilangan tangan.


Phirios meneriakkan supaya orang-orang menolongnya dan mengobatinya, tapi itu hanya Phirios. Tidak ada yang berani melangkah maju untuk membantu, mereka hanya terdiam sambil berkeringat dingin. Meskipun aku berlutut dan menunduk, tapi aku aku tahu bahwa di ruangan ini tidak ada yang bergerak untuk memotong tangan Phirios yang berarti tangannya terpotong tanpa ada yang harus menggerakkan satu jari pun.


Akhirnya, setelah teriakan yang memilukan untuk beberapa saat, Phirios tidak berbicara lagi karena pingsan kehabisan darah.


Filia:"Bawa dia dan lemparkan ke kamar hitam."


Dua orang kesatria bergerak dan menyeret Phirios di kerahnya. Phirios di bawa keluar dan tidak tahu kemana dia akan berakhir.


Kharel:"Y, Yang Mulia, s, saya bersedia mengabdi kepada Anda."


"Saya juga."


"Saya juga. Mohon Yang Mulia untuk mengampuni saya."


Kharel:"S, saya..."


Kharel langsung berlutut dan memohon. Kepercayaan diri dan kesombongannya benar-benar telah runtuh saat ini. Kesombongan, Kebanggaan?, semua itu adalah hal yang bisa di lempar ke tempat sampah saat nyawa sedang di pertaruhkan.


Filia:"Apa yang membuatmu berfikir bahwa aku membutuhkanmu?."


Kharel:"S, saya..."


Filia:"Jika tidak ada yang membuatku tertarik, kamu bisa pergi menemani gumpalan daging itu."


Yang Mulia Filia akan melambaikan tangan untuk memberi isyarat kepada kesatria untuk membawa Kharel, tapi sebelum para kesatria itu bergerak, Kharel menghentikannya.


Kharel:"T, tunggu. S, saya, saya tahu letak reruntuhan ke dua."


Filia:"Oh... Menarik. Katakan...!"


Aku bahkan tidak tahu informasi ini. Jadi memang benar bahwa selama ini Duke Kharel telah menyiapkan sesuatu untuk menjatuhkan kerajaan?!.


Kharel:"Jika, jika saya mengatakannya, bisakah anda membebaskan saya?!."


Filia:"Lancang...!"


Bang...!


Semua orang langsung terjatuh dan ke tanah dan tidak mampu berdiri, seakan beban berat menindih tubuhku dan berusaha menghancurkannya.


Aku susah payah mendongak dan melihat Yang Mulia turun dari singgasana dan berjalan perlahan ke arah kami. Matanya sangat dingin dan penuh aura membunuh. Tidak akan ada yang memperhatikan bahwa Yang Mulia hanyalah anak kecil. Bagi ku sendiri yang merasakan auranya, aku seperti melihat monster yang perlahan mendekat. Perasaan takut mencengkeram erat hatiku, membuat seluruh tubuhku bergetar dan meneriakkan peringatan bahaya.


Yang Mulia Filia berjalan perlahan dan berjongkok di depan Kharel yang meringis di lantai sambil menahan beban berat di tubuhnya.


Yang Mulia Filia menggunakan jari telunjuknya untuk mengangkat dagu Kharel. Tanpa daya, Kharel hanya bisa mendongak dan langsung bertatapan dengan mata Yang Mulia Filia.


Filia:"Sadari posisimu. Aku tidak sedang melakukan tawar-menawar denganmu, tapi aku memberimu perintah. Apakah kamu mengerti?."


Kharel:"S, saya... Saya mengerti."


Filia:"Itu lebih baik. Jadi, katakan sekarang."


Kharel:"Reruntuhan itu berada di sisi Utara kerajaan."


Yang Mulia Filia mengangguk lalu berdiri dan berbalik menuju singgasana. Seketika, perasaan beban berat yang menghimpit tubuhku menghilang tanpa bekas.


Yang Mulia kembali duduk di singgasananya yang megah, dia menyandarkan sisi wajahnya di tangan, aura malas dan dominannya terpancar dengan sangat kuat. Siapapun yang baru melihatnya, dia akan merasa seperti melihat putri kecil yang malas dan sombong, tapi memiliki pesona tersendiri.


Yang Mulia memandang ke arah kami dan tersenyum.


Filia:"Yah, aku memaafkan kelancanganmu. Bagaimanapun, apa yang kamu berikan bisa sedikit menghemat waktuku."


Kharel:"B, benarkah. K, kalau begitu_"


Filia:"Tapi..."


Duke Kharel yang sepertinya sudah mendapatkan kembali harapan, tiba-tiba dia di jatuhkan ke dalam jurang yang sangat dalam dalam sekejap.


Filia:"Tapi, aku tidak yakin bahwa harga itu dapat membeli nyawa kalian semua."


Kharel:"Tidak, tidak perlu semua. Cukup saya, biarkan saya pergi dari sini."


Mendengar jawaban Kharel, Yang Mulia Filia terkekeh, seakan jawaban Kharel adalah jawaban yang dia harapkan.


Filia:"Jadi, sepertinya yang lain harus tinggal. Karena itu..."


"Tunggu..."


Kata-kata Yang Mulia Filia kembali terpotong oleh seseorang. Seorang bangsawan memberanikan diri untuk berteriak. Aku bisa menebak bahwa inilah yang di inginkan oleh Yang Mulia Filia. Dia menginginkan rahasia yang di simpan oleh orang-orang ini.


Dengan mengumpulkan semua orang menjadi satu kapal, Yang Mulia Filia dapat menghemat banyak waktu dan bis membersihkan orang-orang yang tidak relevan. Kemudian, atas perintah Yang Mulia Filia, nona Mimosa akan menunjukkan kengerian pada orang-orang ini.


Setelah itu, tinggal membawa mereka ke istana dan menunjukkan kekayaan Moon Palace. Langkah selanjutnya adalah meminta informasi. Tidak perlu interogasi atau penyiksaan yang merepotkan, Yang Mulia Filia hanya perlu menunjukkan sedikit ancaman. Bagaimanapun, mental mereka sudah di jatuhkan sejak awal.


Saat inilah fungsi dari menunjukkan kekayaan akan berguna. Dengan imbalan sesuatu yang menarik, mereka dapat mendapatkan kehidupan. Mereka akan menunjukkan atau memberikan informasi yang menurut mereka menarik bagi Yang Mulia. Mereka akan menggunakan tolak ukur kekayaan Moon Palace, dengan begitu mereka akan mengeluarkan benda atau rahasia yang paling berharga menurut mereka.


Aku bisa menebak sedikit bulu dari rencana ini dengan memperhatikan tindakan Moon Palace sejak awal, lalu menyusun seluruh teka-teki hingga menjadi puzzle yang utuh. Setelah melakukan semua itu, hanya kesimpulan dangkal inilah yang aku pahami, mungkin akan ada hal yang lebih besar di balik semua ini yang belum bisa aku mengerti.


Filia:"Siapa kamu?."


"S, saya, saya Kanselir Barumus."


Kanselir Barumus. Salah satu dari ketujuh kanselir kekaisaran Xuan Ming. Dia juga memegang kekuatan politik yang cukup kuat di tangannya. Mungkin, dia datang ke Medan perang kali ini karena di perintahkan untuk mengawasi Phirios. Bagaimanapun, pasukan sebesar itu tidak akan mungkin bergerak atas keinginan Phirios.


Filia:"Lalu, apa yang bisa kamu tawarkan kepadaku?."


Kanselir Barumus ragu-ragu untuk sesaat. Dia perlahan mengambil sesuatu dari dalam kantung kulit yang diikatkan ke pinggangnya.


Barumus:"S, saya tidak tahu apakah ini akan berguna, tapi hanya inilah yang saya miliki."


Barumus mengulurkan kedua tangannya ke depan, seperti akan mempersembahkan sesuatu. Di tangannya terdapat sebuah batu kristal yang memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Saat batu itu keluar, ada perasaan tidak nyaman di hatiku.


Aku mengalihkan perhatianku dari batu itu dan melihat ekspresi membeku dari Yang Mulia Filia. Dari ekspresi itu, aku tahu bahwa batu bercahaya yang di keluarkan oleh Barumus memiliki kegunaan tertentu bagi Yang Mulia.


Barumus:"Kami tidak tahu batu jenis apa ini, tapi saat batu ini di keluarkan dari wadah kulitnya, mana yang ada di sekitar batu ini akan berkumpul."


Filia:"Darimana kamu mendapatkan batu itu?."


Filia:"Hahahaha..... Sepertinya, reruntuhan yang sedikit lengkap ada di kekaisaran Xuan Ming."


Nona Arkne mengambil kristal itu dan menyerahkannya kepada Yang Mulia Filia dengan penuh hormat.


Arkne:"Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Haruskah kita tetap pada rencana awal, atau langsung menghancurkannya."


Filia:"Tidak perlu terburu-buru... Mari kita nikmati proses sedikit demi sedikit."


Arkne:"Sesuai keinginan anda, Yang Mulia."


Nona Arkne yang mendapat jawaban dari Yang Mulia, dia tersenyum senang, tapi jika senyum itu di perhatikan dengan baik, maka orang akan mengetahui bahwa senyum itu memiliki kekejaman yang haus darah. Memikirkan hal ini, aku menjadi merinding.


Yang Mulia Filia yang mengambil kristal itu memandangi kristal itu untuk beberapa saat sebelum membuat batu kristal itu menghilang.


Yang Mulia Filia memandang ke arah kami dengan sedikit lebih baik. Setidaknya, dia tidak memandang kami layaknya batu yang tidak berguna.


Filia:"Karena suasana hatiku sedang baik, jadi kalian bisa pergi. Galerina, antarkan mereka ke tempat beristirahat."


Galerina:"Sesuai perintah anda, Yang Mulia."


"T terima kasih atas kemurahan hati anda Yang Mulia."


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Terima kasih..."


"..."


Kami berdiri dan siap untuk pergi dengan mengikuti maid Galerina. Tapi sebel aku bisa melangkah jauh, Yang Mulia menghentikan ku .


Filia:"Oh... Nona Aneria, bisakah anda tetap tinggal sebentar?."


Meskipun nada yang dia gunakan terdengar sopan dan bertanya, tapi aku tahu bahwa itu adalah perintah.


Aneria:"Dengan senang hati, Yang Mulia."


Aku hanya berdiri diam di bawah tangga menuju singgasana sampai semua orang di bawa pergi. Setelah mereka pergi untuk beberapa saat, Yang Mulia Filia melambaikan tangannya dan para kesatria serta maid yang berbaris tadi semuanya membungkuk, lalu mereka pergi dengan rapi. Di dalam ruangan hanya tersisa 20 orang termasuk aku.


Filia:"Kalian bisa pergi."


"Baik, Yang Mulia."


Enam belas yang lainnya pergi termasuk nona Mimosa dan wanita bertelinga runcing. Di dalam ruang Takhta yang sangat besar dan luas ini hanya tersisa empat orang, yakni: aku, Yang Mulia Filia, nona Arkne, dan nona Upirina.


Filia:"Kerja bagus Aneria. Setelah ini, kamu akan mengikuti ku menuju Medan perang."


Aneria:"Medan perang, Yang Mulia?"


Aku masih bingung, dengan siapa Yang Mulia akan berperang. Yang lebih membuatku bingung, Yang Mulia mengajakku?.


Filia:"Benar. Saat ada seekor tikus berani menginjak bulu Phoenix, maka tikus itu harus mati, terbakar hingga menjadi abu."


Aku tidak tahu apa yang di maksud Yang Mulia, tapi aku masih bisa menebak makna kasar di balik kata-katanya.


Aneria:"Saya akan dengan senang hati mengikuti anda, Yang Mulia."


Filia:"Kalau begitu, sekarang kita tinggal membicarakan sesuatu yang lain. Meskipun tugasmu sederhana, tapi kamu sudah melakukannya dengan baik. Jadi, apakah kamu memiliki permintaan sebagai hadiahmu?."


I, ini...


Keringat dingin tidak pernah berhenti menetes dari keningku. Pertanyaan ini terdengar mudah dan sederhana, tapi bagiku, pertanyaan seperti ini penuh dengan pisau dan tombak. Jika aku menginginkan sesuatu maka kesetiaan ku hanya akan di anggap sebagai mencari keuntungan. Meskipun itu benar, tapi aku tidak mau niat itu terlalu kentara.


Di sisi lain, ini adalah kesempatan ku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Jika aku kehilangan kesempatan ini, belum tentu kesempatan kedua akan datang.


Setelah pemikiran pro dan kontra yang panjang, akhirnya aku mengeratkan gigi dan memberanikan diri untuk mengatakan keinginanku.


Aneria:"Jika memang di izinkan, saya... Saya berharap untuk memiliki hak penuh dalam pengelolaan Dragonis Kingdom."


Arkne:"Lancang...!. Apa kamu meragukan kemampuan Yang Mulia untuk memerintah?!. Kamu_"


Filia:"Arkne!."


Yang Mulia Filia menghentikan nona Arkne yang marah padaku. Aku tahu bahwa ini keterlaluan, Tapi...


Filia:"Yah, aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Kamu belum bisa sepenuhnya mempercayai kami, jadi wajar untuk itu. Kamu hanya takut bahwa kami akan menyakiti orang-orang, kan?!."


Aneria:"Tidak. Tidak seperti itu. Tapi..."


Filia:"Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskannya lebih jauh lagi. Lagi pula, sejak awal aku memang tidak mempunyai keinginan untuk mengatur wilayah itu. Jadi, aku bisa memberikan hak otonomi kepadamu. Aku tidak akan ikut campur urusan negaramu."


Aneria:"T, terima kasih Yang Mulia. Terima kasih atas kemurahan hati anda."


Aku benar-benar lega. Memang itu yang aku khawatirkan sejak awal. Bukan karena aku takut kehilangan kekuasaan, tapi aku takut bahwa rakyatku akan menderita. Dengan janji Yang Mulia, aku bisa tenang dan meletakkan kekhawatiran ku selama ini.


Filia:"Tapi aku punya syarat untuk itu."


Aneria:"Tolong katakan, Yang Mulia. Jika saya bisa, saya akan melakukannya."


Tidak peduli apa permintaannya, asalkan itu tidak keterlaluan, aku akan berusaha untuk mewujudkannya.


Filia:"Kamu bebas untuk mengarahkan bagaimana negara itu akan berkembang. Tapi, jika aku tidak setuju pada arah perkembangan itu, aku berhak untuk mengubahnya. Selain itu, sebaiknya Negera itu menunjukkan nilainya padaku, karena aku tidak suka sesuatu yang tidak bernilai."


Aneria:"Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan harapan anda, Yang Mulia."


Meskipun ini tidak semuanya benar-benar bebas, tapi ini jauh lebih baik daripada nasib negara jajahan yang lain. Setidaknya, kami hanya perlu menunjukkan nilai kami dan menuju ke arah perkembangan yang sesuai dengan keinginan Yang Mulia. Selain itu, Yang Mulia tidak akan campur tangan dan justru akan membantu jika Dragonis Kingdom dalam bahaya.


Filia:"Simpan rasa terima kasihmu itu untuk bekerja keras. Kamu bisa pergi!."


Aneria:"Terima kasih, Yang Mulia. Tapi... sebelum itu bisakah saya mengunjungi adik saya?."


Aku tidak tega untuk menyakiti Uliminus, jadi dengan alasan bahwa negeri sedang tidak aman, aku berhasil mengasingkan Uliminus dan menjadi ratu. Dengan tawaran Yang Mulia, Uliminus saat ini di izinkan tinggal di Moon Palace. Bukan kerugian juga dia tinggal di sini. Dengan dia tinggal di sini, dia akan mendapatkan pembelajaran yang lebih baik daripada di Dragonis Kingdom yang mengalami kekacauan di mana-mana.


Filia:"Ya, kamu bisa menemuinya kapanpun. Kamu juga bisa mengajak orang tuamu menemuinya. Tapi, mungkin jika kamu ingin menemuinya sendiri, kamu akan tersesat, jadi biarkan pelayan mengantarmu menemuinya."


Aku pergi meninggalkan ruang takhta dan mencari seorang pelayan untuk memandu jalan.


(Sementara itu...)


Di atas langit ibu kota kekaisaran Xuan Ming, tiba-tiba langit terbelah, menunjukkan kekosongan hitam yang ada di baliknya. Semua orang berhenti dan mendongak untuk melihat fenomena itu.


Tidak perlu waktu lama, berita itu segera menyebar ke telinga keluarga kerajaan. Mereka ikut melihat fenomena itu dari wilayah istana.


Tak beberapa saat, dari balik retakan itu muncul, terlihat sebuah bola mata merah berapi yang tiba-tiba terbuka, seakan makhluk raksasa yang menakutkan terbangun. Bola mata itu sangat besar dan menyala merah berapi, seakan bulan merah kedua muncul secara tiba-tiba.


Bola mata itu berkedip dan memandang ke arah istana, tepatnya ke keluarga kerajaan.


"Kalian Makhluk rendahan, kalian telah melakukan kesalahan besar. Kalian telah menyulut kemarahan Yang Mulia. Maka dari itu, sebaiknya kalian bersiap, pasukan Moon Palace akan segera tiba."


Suara yang mengucapkan kata-kata itu terdengar sangat jahat dan kejam. Terutama melihat bola mata merah itu, perasaan dingin dan merinding akan menyelimuti hati orang-orang yang mendengarkannya.


Perang... Ini adalah pernyataan perang...


(Akhir dari chapter ini).



New project: Masih dalam tahap penulisan.


Saat keputusasaan, kebencian, keegoisan, ketamakan, dan berbagai perasaan negatif lainnya mulai menguasai manusia, manusia itu akan mencari cara apapun untuk menyelesaikannya. Mereka akan menghalalkan segala cara dan mengambil berbagai jalan. Bahkan jika mereka tahu, bahwa jalan yang mereka ambil.... adalah Jalan para iblis.


Kalian yang ingin segalanya, datanglah ke toko kami. Kami akan menyediakan apapun yang kalian inginkan, tapi.... Apakah kalian sanggup membayarnya?.


#Store No: 4.