
aku merasakan perasaan aneh saat memegang Soul Orb. ini dingin atau hangat. rasa yang tidak konsisten terus menyerang tubuhku, menjalar dari tangan dan seperti menembus kulit ke seluruh tubuh.
[«Soul Orb» (Legendary)
terbentuk dari kumpulan kekuatan jiwa yang dipadatkan hingga ekstrim selama ribuan tahun. item ini hanya dapat di temukan di Helheim dari Soul Eater sebagai item eksklusif yang sangat langka]
deskripsi yang sangat singkat dan sederhana. pada awalnya bahkan tidak ada yang tahu manfaat dari Soul Orb dan hanya menjadikannya sebagai hiasan atau di perlakukan sebagai item sampah. tapi suatu saat ada seorang pemain yang tanpa sengaja meningkatkan kekuatan jiwanya dan menjadi Soul Master dalam waktu singkat menggunakan Soul Orb. sejak saat itu Soul Orb menjadi item yang paling di cari oleh para pemain tipe mental.
aku memasukkan kekuatan mental yang padat ke dalam Soul Orb dan menembus lapis demi lapis. Soul Orb yang awalnya padat mulai bergelombang seperti bola air yang melayang di udara. aku berusaha untuk merubhnya menjadi bentuk cair supaya bisa di manfaatkan. ini sangat melelahkan, perlu hampir setengah dari semua energi mental yang aku miliki hanya untuk merubahnya menjadi bentu cair.
ruangan kecil ini segera di penuhi oleh cairan putih berkilau seperti mutiara yang terus bergelombang. cairan itu menenggelamkan ku seperti lautan yang dalam. perasaan tertekan dan lemah langsung membuat tubuhku lemah.
ugh... sakit, sakit sekali. cairan itu menembus setiap pori-pori di tubuhku dan berusaha masuk ke dalam tubuh. aku merasa bahwa aku di tusuk oleh ribuan jarum secara perlahan dan terus menerus tanpa henti. setiap sel dan pembuluh darah seperti di tembus dan di hancurkan oleh jarum yang tak terhitung jumlahnya.
pikiranku mulai kabur seperti kabut dan kesadaran mulai menghilang seperti di telan lautan.
pemandangan yang aku lihat di depanku berubah menjadi lautan yang luas dengan sebuah bunga teratai dengan tiga warna yang mengapung sendirian. warna kelopak yang berwarna emas dengan aksen merah dan biru itu terlihat aneh tapi indah dan serasi. keindahan yang kesepian mengapung di atas lautan yang damai. lautan ini sama sekali tidak memiliki gelombang ataupun riak air. ini seperti cermin datar yang memantulkan langit biru dan awan putih yang ada di atasnya. saat aku menginjak permukaan air, saat itulah riak air baru menyebar dari kakiku.
aku melangkah perlahan menuju teratai yang kokoh di tengah lautan ini. saat aku mendekat, teratai itu memancarkan tiga warna yang indah seperti bintang. air yang semula tenang seperti cermin, sekarang mulai muncul kabut putih dan menyelimuti teratai. seperti mendapatkan nutrisi, cahaya pada teratai menjadi semakin cerah. cahaya tiga warna nampak sangat jelas di tengah kabut yang tebal.
aku terus berjalan menuju ke arah teratai dan menyentuhnya. seketika, air mulai bergelombang dengan kuat dan menjadi ombak yang tinggi seperti lautan yang sesungguhnya. aku melangkah dan masuk ke bagian tengah teratai yang cukup besar untuk menampung satu orang tanpa masalah.
setiap kelopak tiga warna itu mulai menutup dan menguncup, melindungiku dari ombak yang ganas di lautan spiritual. setelah akhirnya seluruh kelopak tertutup, cahaya akhirnya di gantikan oleh kegelapan karena kelopak bunga teratai itu menghalangi cahaya dari luar.
tenang dan nyaman seperti kembali ke pelukan ibu, itulah yang aku rasakan di dalam teratai ini. kegelapan itu tidak berlangsung lama, segera pemandangan yang aku lihat berubah menjadi langit penuh bintang yang indah dengan gugusan galaksi berbagai bentuk dan warna. pemandangan yang indah memang, bahkan aku seperti tidak ingin pergi dari sini.
tapi meskipun begitu nyaman, aku tidak bisa bersantai sedikitpun. aku dapat merasakan keadaan lautan mental di luar «Soul Core Lotus» yang mengalami badai dan kekacauan. langit yang semula cerah sekarang di tutupi oleh awan hitam yang dipenuhi oleh kilat emas yang ganas seperti naga yang mengamuk.
lautan bergelombang dan membuat teratai terombang-ambing seperti bahtera Nuh. sendiri dan kesepian di tengah ganasnya badai dan hujan. ombak besar sesekali menghantam dan mencoba untuk menghancurkan teratai seperti tebing di pinggir lautan. selain ombak dahsyat yang menghantam, petir emas dan perak kadang-kadang menyambar seperti ular piton yang marah. dentuman dan kilatan petir terus menerus menambah suasana kekacauan di lautan mental. perasaan yang nyaman seketika berubah menjadi kesakitan yang luar biasa.
ini berbeda dengan sakit fisik karena luka, sakit ini lebih seperti mengoyak dan merobek jiwa seseorang. rasa sakit terus menghantam silih berganti seperti tiada akhir. aku harus mempertahankan kesadaranku, jika sampai aku kehilangan kesadaran meskipun hanya sementara saja, mungkin teratai ini akan terkoyak oleh ombak dan petir.
.....
entah berapa lama aku berada di tempat ini. karena rasa sakit yang terus-menerus, kesadaranku akan indera waktu sama sekali tidak ada. aku hanya memiliki kesadaran untuk menahan rasa sakit yang merobek ini. kelopak teratai mulai terkoyak dan rontok terbawa oleh badai yang menakutkan. setiap kali kelopak terkoyak atau jatuh, aku merasa seperti setengah dari jiwaku menghilang.
aku tidak pernah mengira bahwa rasa sakit yang di timbulkan akan jauh melampaui yang ada di Alterion berkali-kali lipat. tidak, aku tidak boleh menyerah dengan rasa sakit ini. aku tidak ingin kehilangan kesempatan kedua ku untuk hidup, setidaknya tidak untuk sekarang. aku terus menyakinkan diriku untuk menahan rasa sakit ini bahkan jika harus mengeratkan dan menghancurkan seluruh gigi dan rahang.
indera perasa waktu benar-benar kacau. bahkan aku tidak memiliki pikiran lain selain untuk menjaga kesadaran dan menahan rasa sakit.
setelah kehancuran yang terus-menerus di lautan jiwa, teratai mulai hancur perlahan. bahkan kelopak yang menutupi tubuh jiwaku hancur dan petir menghantam inti jiwa ku secara langsung yang sudah kehilangan perlindungan dari bunga teratai. semakin aku menahan, semakin sakit yang aku rasakan.
waktu yang tak diketahui pun berlalu. badai dan rasa sakit mulai memudar. aku bahkan kagum dengan diriku sendiri yang mampu menahan rasa sakit seperti itu hingga akhir. kesadaranku menipis dan aku tidak bisa lagi mempertahankannya dan akhirnya jatuh dalam tidur lelap. akhirnya penderitaan yang sangat mengerikan sudah berakhir...
.....
(sudut pandang Arkne)
ini sudah satu bulan setelah Yang Mulia melakukan retreat tertutup. entah apa yang terjadi, tapi selama satu bulan itu tidak ada aktifitas yang dari dalam ruangan itu. jika di katakan Khawatir, tentu saja aku sangat khawatir. saat itu aku hanya bisa menuruti perintah Yang Mulia untuk pergi dan mengatur semuanya. sejujurnya daripada berurusan dengan makhluk menjijikkan dan lemah itu, aku lebih memilih untuk melindungi Yang Mulia dan menjaga selama penyerapan Soul Orb itu.
selama satu bulan ini, makhluk-makhluk lemah itu sudah pergi dari Moon Palace untuk menjalankan tugas dari Yang Mulia. aku hanya perlu memberikan instruksi kepada mereka melalui seorang pengawal yang aku tugaskan untuk selalu bersama mereka dan mengawasi tindakan serangga itu. jika mereka berani mengacaukan rencana sempurna dari Yang Mulia, aku akan langsung mengeksekusi mereka dengan kejam.
"sister...!"
Upirina:"apakah Yang Mulia sudah keluar dari retreatnya?"
Arkne:"belum. aku juga sangat khawatir".
aku hanya bisa menjawab dan menggelengkan kepala kepada Upirina yang mengkhawatirkan keadaan Yang Mulia.
"kalian tidak perlu cemas. sekarang Yang Mulia sedang dalam tidur lelap dan pemulihan jiwa".
suara yang lembut seperti lonceng angin terdengar di telingaku.
Arkne:"benarkah itu, sister!?"
"itu benar. kalian hanya perlu menunggu Yang Mulia sadar dan terus menjalankan rencana yang telah di putuskan oleh Yang Mulia. jika sampai kalian mengacaukannya, kalian akan tahu akibatnya "
meskipun aku telah melakukan banyak pertarungan dan melewati hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya, tanpa sadar aku masih gemetar saat mendengar kata-kata dari sister Selene.
"k, kami tidak akan pernah mengecewakan harapan Yang Mulia"
aku dan Upirina menjawab secara bersamaan tanpa penundaan.
"aku harap begitu"
suara itu menghilang segera setelah mengucapkan itu. sungguh, berbicara dengan sister Selene seperti memotong hidupmu sendiri.
Upirina:"sepertinya kita memang hanya bisa menunggu"
Arkne:"itu benar. lagipula jika sister Selene mengatakan demikian, itu memang hanya bisa seperti itu"
sayang sekali kami tidak memiliki akses ke ruangan itu. hanya sister Selene lah yang memiliki akses pengawasan ke seluruh bagian dan sudut Moon Palace tanpa terkecuali.
.....
kami menunggu untuk beberapa hari lagi dan pada hari ke empat puluh, gelombang lonjakan energi mental yang kuat menyapu seluruh istana dan memberikan tekanan yang kuat seperti badai.
aku dan Upirina segera tenggelam dalam gelombang mental ini seperti hembusan angin dingin secara tiba-tiba. meskipun ini adalah gelombang mental yang kuat, gelombang mental ini lembut dan nyaman tanpa perasaan bahaya sedikitpun.
Arkne:"ini pasti Yang Mulia"
Upirina:"tidak salah lagi"
kami segera melihat ke arah takhta yang kosong. di detik berikutnya, kursi takhta yang kosong itu muncul sosok Yang Mulia dengan aura yang sangat kuat. tanpa pikir panjang, kami langsung berlutut dan memberikan hormat kepada Yang Mulia. bukan hanya aku dan Upirina, sesosok wanita yang di selimuti oleh cahaya hingga tidak terlihat sosok aslinya juga muncul. dia adalah sister Selene. tubuhnya seakan terbentuk dari cahaya putih yang suci. tapi karena menyilaukan, akan sangat mustahil untuk melihat sosoknya yang diselimuti oleh cahaya itu.
"selamat atas keberhasilan anda Yang Mulia"
(akhir dari chapter ini)
chapter selanjutnya: "kembali"
segera beritahu aku di kolom komentar jika ada salah ketik atau kekurangan.
see you next time;)