Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
Chapter 206: Jantung Naga.



Sosok manusia itu turun secara perlahan dari dinding tebing setinggi lima belas meter dengan menancapkan kukunya ke bebatuan tebing yang keras.


Melihat naga bumi yang menjadi semakin lemah, sosok itu melompat turun dari tebing. Dia bergerak perlahan menuju ke arah kedua tubuh monster itu terbaring. Langkah demi langkah, sangat ringan dan perlahan. Setelah tubuhnya melewati area berkabut, akhirnya sosok itu bisa di lihat dengan jelas.


Sosok itu terlihat seperti anak laki-laki berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun dengan penampilannya yang liar dan tak terawat. Bagian atas tubuhnya telanjang, memperlihatkan otot-otot ramping yang tidak terlalu menonjol. Bagian bawah tubuh di tutupi oleh kulit binatang yang di olah dengan sangat kasar.


Rambutnya hitam panjang dan berantakan. Banyak rambut yang kusut dan berdebu dengan beberapa helai daun terangkut di antara helaian rambutnya. Anak itu bergerak perlahan menghampiri tubuh naga bumi yang sedang dalam kondisi lemah itu.


Tangan kanannya memegang tongkat besi dengan lebih erat. Mata ungu ametis anak itu juga menyala dengan waspada, menatap naga bumi yang terbaring lemah di tanah.


Seperti merasakan sesuatu, naga bumi itu berusaha untuk mengangkat kepalanya dan menggeram pelan ke arah anak. Meskipun organ dalamnya terluka parah, tapi dengan vitalitas yang dimiliki oleh naga bumi, dia masih sanggup berdiri meskipun. Dalam kondisi goyah.


Dengan terhuyung, naga itu berdiri menghadap anak itu. Merasa bahwa lawannya hanya makhluk kecil yang lemah, naga itu melancarkan serangannya terhadap anak itu dengan cakar depannya yang kuat.


Melihat agresifitas naga bumi yang masih sangat kuat, anak itu sudah bersiap sejak awal. Begitu serangan naga bumi datang, anak itu melompat dengan lincah dan berhasil menghindari cakar tajam naga bumi.


Srakkk...


Cakar yang sekeras paku baja itu menggaruk batu yang keras dan meninggalkan bekas cakaran yang dalam di permukaannya. Anak itu melompat ke dinding tebing dan mengayunkan tongkat besi berkaratnya ke arah kepala naga bumi.


Kedua tangan anak itu di lapisi oleh sisik naga hitam berkilau yang terlihat kokoh. Di setiap keping sisik itu terdapat pola ungu bercahaya yang rumit dan misterius.


Aura ungu menyelimuti tubuh tongkat itu, membuat tongkat besi berkarat itu menjadi senjata yang mematikan.


Bang...!


Graooo...!


Serangan anak itu tepat mengenai bagian kepala naga bumi. Namun tubuh naga bumi yang sangat kuat, membuat serangan anak itu menjadi tidak terlalu efektif. Meskipun demikian, naga bumi yang kuat itu masih menundukkan kepala karena energi kinetik dari serangan anak itu, membuat naga bumi yang kokoh itu merasakan sakit dan pusing.


Setelah mendaratkan serangan pada naga, anak itu langsung backflip ke belakang untuk mengambil jarak. Naga yang marah tidak akan memberi kesempatan bagi anak itu untuk menstabilkan sosoknya, dan langsung mengayunkan ekor yang besar ke arah anak kecil yang masih melayang di udara.


Melihat serang yang datang dengan cepat, anak itu memposisikan tongkat besinya di depan tubuh untuk melindungi tubuhnya dari ekor naga bumi.


Bang...!


Anak itu terpukul dengan keras dan terlempar ke dinding tebing seperti bola kasti. Dinding yang keras retak dan runtuh akibat dampak benturan yang sangat keras.


Anak itu perlahan merangkak dari reruntuhan batu. Seluruh tubuhnya telah di lapisi oleh armor sisik naga hitam misterius. Selain itu, bagian kepala anak itu juga memiliki empat tanduk panjang yang melengkung ke belakang, membuat tampilan anak itu menjadi lebih ganas, tapi juga heroik dengan armor naga hitam.


Baru saja keluar dari timbunan batu dan tanah, sebuah kaki reptil besar telah tiba di depan wajahnya. Anak itu dengan segera mengangkat tongkat berkarat di atas kepalanya.


Bang...


Benturan keras terdengar. Tubuh kecil anak itu sangat tidak proporsional dengan naga bumi yang sangat besar. Namun, meskipun tubuhnya kecil, anak itu berhasil menahan injakan naga bumi yang sangat kuat. Meskipun saat ini naga bumi dalam kondisi lemah, tapi dengan bobot tubuhnya yang berat dan kekuatan otot yang masih bisa dia keluarkan, seharusnya sudah cukup untuk meratakan anak kecil itu menjadi daging geprek.


Namun hal itu tidak terjadi. Anak itu berhasil menahan kaki naga bumi dengan kedua tangannya yang menahan tongkat besi berkarat. Lantai batu padat di bawah kakinya retak dan hancur, membentuk sebuah kawah besar.


Anak itu dengan sekuat tenaga melemparkan kaki besar naga bumi itu untuk memberinya ruang melarikan diri. Saat kaki naga bumi itu tersentak, anak itu berhasil lolos dari injakan naga bumi. Dia langsung berlari dan berguling ke bawah dagu naga bumi itu.


Otot-otot tubuhnya berderit keras. Anak itu menggenggam tongkat dengan sekuat tenaga dan mengambil ancang-ancang lempar lembing.


Swoss....!


Bang...!


Garaoo...!


Anak itu melemparkan tongkatnya seperti lembing, tepat mengenai bagian rahang bawah naga bumi yang merupakan salah satu titik lemahnya. Benturan keras membuat kepala naga bumi mendongak ke langit secara paksa.


Rasa sakit yang luar biasa membuat naga bumi itu mengaum sangat keras. Anak itu tidak melepaskan kesempatan ini. Dia langsung melompat tinggi ke udara, tepat sejajar dengan tenggorokan naga bumi.


Anak itu mengayunkan tangan kanannya yang tertutup oleh armor sisik hitam. Pola misterius pada sisik tangan kanannya menyala dengan cahaya ungu yang terang.


Aura ungu terang berkumpul dengan sangat cepat dan membentuk sebuah bayangan cakar naga besar ungu transparan yang terlihat sangat kuat. Dengan suara membelah angin, cakar naga ungu transparan itu memotong luka di tenggorokan naga bumi itu, membuat arteri karotis di lehernya terputus.


Darah menyembur dari luka pada leher naga bumi itu, membuat naga bumi berteriak kesakitan. Tubuhnya yang sudah goyah langsung terjatuh ke tanah dan membuat debu di tanah terangkat.


Naga bumi yang lehernya sudah terpotong itu masih menggeram pelan, namun darah yang terus keluar dari lehernya membuat naga bumi menjadi lebih lemah dan semakin lemah. Hingga beberapa saat kemudian hanya kakinya yang sedikit berkedut.


Anak itu memerhatikan naga bumi yang mulai kehilangan vitalitas itu dari samping sambil mengambil kembali tongkatnya yang tergeletak di tanah.


Anak itu bersandar ke salah satu sisi lereng ngarai untuk memulihkan tenaganya. Meskipun terlihat baik-baik saja, tapi anak kecil itu juga terluka parah.


Sisik yang melapisi tubuhnya mulai menghilang, menunjukkan kulit yang penuh luka dan memar. Meskipun luka daging tidak seberapa, tapi gelombang energi dari serangan naga bumi itu masih menembus ke organ dalamnya, membuat beberapa kerusakan di organ dalam anak itu. Hal itu dapat dilihat dari darah di sudut mulut dan hidungnya.


Untuk beberapa saat, anak itu beristirahat di dinding tebing dengan nafas yang berat. Perlahan, anak itu tertidur di ngarai yang sepi.


Sebenarnya di dalam ngarai terdapat ekosistem yang lengkap, namun karena aura dari dua monster kuat yang bertarung, membuat monster-monster dan makhluk lain di ngarai menjauh. Setidaknya untuk setengah bulan ke depan, tidak akan ada makhluk tingkat rendah yang berani mendekat.. Untuk makhluk tingkat tinggi, mungkin mereka akan berani pergi ke tempat ini setelah beberapa hari. Lagi pula, aura naga bumi masih sangat menakutkan bagi mereka.


Saat matahari mulai tenggelam dan empat bulan besar menjadi lebih cerah, anak itu membuka matanya secara perlahan. Cahaya dari keempat bulan yang cerah itu tidak bisa menembus ke dalam ngarai karena terlalu dalam dan di penuhi kabut, sehingga membuat dasar ngarai terlihat gelap dan dingin.


Anak itu meraih tongkat besi di dekatnya dan berdiri secara perlahan. Lingkungan yang gelap sama sekali tidak mempengaruhi visibilitas anak itu. Dia berjalan perlahan ke arah tubuh naga bumi itu.


Dia awalnya hanya ingin berburu untuk makan, namun suara dari pertarungan kedua monster bos itu menarik perhatiannya sehingga dia datang ke tempat ini untuk mencoba mengambil keuntungan dari pertarungan.


Melihat naga bumi yang lemah, dia tidak ragu untuk membunuhnya dan menggunakan dagingnya sebagai makanan untuk bertahan hidup.


Saat anak itu mendekati naga bumi, dia menyodok tubuh naga bumi itu menggunakan ujung tongkatnya.


Swoss...


Bang...


Ekor naga bumi itu berayun dan hampir memukul anak itu. Anak itu terkejut, dia langsung melompat ke belakang dan siap bertarung. Namun gerakan naga bumi itu hanyalah gerakan pasca kematian sehingga setelah beberapa saat, gerakan itu menjadi lebih lemah.


Anak itu mengambil sepotong daging berdarah dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya.


Karena insting, anak itu menggunakan cakarnya untuk menggali tubuh naga bumi itu . Meskipun sulit, kulit dan daging naga bumi yang sangat kuat dapat di robek oleh cakarnya. Anak itu terus merobek dan menggali tubuh naga bumi hingga akhirnya dia melihat jantung yang sudah berhenti berdetak. Berbeda dengan makhluk pada umumnya, pembuluh darah kecil di jantungnya berwarna emas karena mengalirkan darah emas.


Di dekat jantung terdapat kantong kedua yang memiliki pembuluh berwarna hijau menyala. Saat anak itu merobek kantung di dekat jantung, kantung itu memiliki batu kristal berwarna hijau bercahaya seukuran dua kali kepalan tangan orang dewasa.


Anak itu tidak tahu apa-apa, namun saat melihat darah emas pada jantung dan kristal hijau, insting memberitahunya bahwa kedua hal itu sangat berguna baginya. Karena anak itu hanya mengandalkan insting seperti binatang buas, dia tanpa ragu-ragu membuka mulut kecilnya dan langsung menggigit jantung naga bumi.


Beberapa saat kemudian, jantung naga bumi sudah di makan sebagai dan warnanya menjadi pucat karena darahnya sudah habis di sedot ke dalam perut oleh anak itu. Selesai makan dan mengisap darah pada jantung naga bumi, anak itu mengambil kristal hijau dan membawanya ke samping. Dia duduk sambil memperhatikan kristal hijau bercahaya itu dengan sangat penasaran.


Saat memperhatikan kristal hijau, tiba-tiba anak itu berteriak dan berguling-guling di tanah. Pembuluh darah di bawah kulitnya terlihat jelas dan memancarkan cahaya keemasan.


Kristal hijau yang masih dia pegang di tangannya tiba-tiba bersinar lebih cerah dan berubah menjadi aura hijau yang terus masuk ke dalam tubuhnya. Karena rasa sakit yang sangat luar biasa, anak itu menjerit seperti binatang buas dengan mata yang merah.


Dia terus berguling-guling di tanah seperti orang gila. Dia merasakan bahwa seluruh tubuhnya seperti di robek dari dalam. Namun yang paling membuatnya tersiksa adalah rasa panas luar biasa yang membuat dia merasa seperti di bakar.


Anak itu sudah kehilangan kewarasannya, dia berdiri dan berlari liar di sekita dasar ngarai itu. Tangan dan kakinya memunculkan sisik hitam dan berubah menjadi cakar naga. Cakar yang kuat dan tajam menusuk jauh ke dalam dinding batu dan membantu anak itu untuk naik ke permukaan.


Di permukaan ngarai itu adalah tanah tandus yang luas, tapi dapat di lihat bahwa ada hutan lebat di kejauhan. Anak kecil yang sudah gila karena rasa sakit itu hanya bisa meraung di bibir ngarai dan berlari liar ke arah hutan lebat tanpa mempedulikan apapun di sekitarnya.


Monster-monster tingkat rendah dan binatang yang hidup di hutan itu berlari liar karen aura anak itu yang menakutkan. Namun dari sekian banyak monster level rendah, beberapa dari mereka tidak berlari cukup cepat dan menghalangi jalan anak itu.


Anak kecil yang kehilangan kewarasannya itu melihat ada binatang yang menghalangi, dia langsung merobek binatang itu dengan cakarnya, membuang mayat berdarah itu di belakang tanpa mempedulikannya.


Dia terus berlari dan menghancurkan apapun yang menghalangi jalannya. Apakah itu pohon besar atau batu besar, anak itu akan langsung menghancurkannya sambil berteriak marah.


Anak itu berlari hingga sejauh beberapa kilometer, meninggalkan jejak kehancuran di belakangnya. Tidak jauh di depannya, dia melihat sungai besar. Sungai itu memiliki lebar sekitar lima kilometer dengan arus yang deras. Karena rasa sakit terbakar yang parah, anak itu tanpa pikir panjang langsung melompat ke aliran sungai.


Desis...!


Begitu dia melompat ke aliran sungai, air yang dia sentuh langsung menguap menjadi uap air, membuktikan betapa tinggi suhu tubuh anak itu. Meskipun sudah berada di dalam air, panas yang dia alami tidak mereda sama sekali, membuatnya semakin gila dan terus berteriak di dalam air. Dia memunculkan kepalanya di atas permukaan air untuk mengambil nafas dari waktu ke waktu untuk mencegah dirinya mati lemas kekurangan oksigen.


Tanpa di sadari, arus air yang cukup deras itu membawanya hingga ke sebuah air terjun yang sangat tinggi. Anak itu sudah lama kehilangan kesadaran dan mengambang di permukaan air seperti batang kayu mati. Tubuhnya terjatuh dari air terjun dan menghilang di bawah derasnya air terjun.


.....


Mansion of Rosefield...


(Area pelatihan kesatria.)


Filia:"Coba lagi...!"


Aku melatih Felmina dengan bertarung denganku supaya dia bisa lebih memahami «Mist Cloud Swordsmanship» yang kemarin aku ajarkan.


Tubuh kecilnya terus berayun bersama pedang untuk menyerangku. Pakaiannya sudah di basahi oleh keringat hingga menempel pada kulitnya. Meskipun nafasnya berat, dia terus berusaha mengayunkan pedangnya ke arahku dengan wajah serius.


Jujur, aku merasa ekspresinya saat ini sangat lucu dengan lemak bayi yang membuat wajahnya terlihat agak bulat. Sambil memperhatikan, aku tersenyum dengan senang hati.


Sebuah ayunan pedang horizontal menyasar ke arah pinggangku, namun gerakannya terlalu lambat yang membuatku bisa menangkisnya dengan mudah.


Filia:"Terlalu kaku. Gerakanmu terlalu monoton dan mudah di tebak, ini sama sekali tidak mencerminkan teknik pedang awan kabut."


Aku mengevaluasi gerakan Felmina. Dia masih benar-benar kaku dan tidak terbiasa dengan teknik pedang ini. Namun, di bandingkan dengan beberapa saat lalu, dia sudah mengalami kemajuan. Dengan begini, aku memperkirakan bahwa dia mungkin bisa menguasai teknik pedang ini paling lambat dalam waktu setengah bulan.


Filia:"Ok berhenti, beristirahatlah terlebih dahulu."


Felmina:"Huh... Terima kasih, kakak."


Dia menghembuskan nafas panjang dan langsung terbaring di tanah tanpa mempedulikan kotoran yang mungkin menempel di tubuhnya.


Filia:"Dengar Felmina!. Teknik pedang awan kabut ini di dasarkan pada awan dan kabut yang fleksibel dan selalu berubah bentuk mengikuti angin. Jadi, teknik pedang ini dapat berubah sesuai dengan kondisi saat pertarungan. Cara membuat teknik pedang ini agar fleksibel adalah dengan cara memvariasikan setiap gerakan dan menggabungkan langkah yang berbeda setiap saat. Dengan begitu, teknik pedang ini akan menjadi sangat sulit ditebak oleh lawan."


«Mist Cloud Swordsmanship» terdiri dari lima gerakan, yakni: Tiga serangan, satu gerak kaki, dan satu gerak tubuh. Dengan kata lain, teknik pedang ini termasuk lengkap dan mencakup berbagai aspek, termasuk aspek serangan, penghindaran, dan pertahanan.


Setiap gerakan teknik pedang ini di bagi menjadi tiga bagian, mulai dari bagian satu hingga bagian tiga. Jadi, Felmina bisa membuat komposisi yang berbeda di setiap kondisi, seperti: Gerak tubuh bagian tiga di kombinasikan dengan serangan pertama bagian satu, dua atau tiga, dan di padukan dengan gerakan kaki atau serangan lain.


Jadi, hasil dari tekni pedang ini sangat berbeda dan sulit di tebak karena setiap bagian gerakannya merupakan gerakan terpisah yang dapat di kombinasikan.


Namun, syarat dari menggunakan teknik pedang ini cukup berat, yakni Felmina perlu menguasai tekni pedang ini hingga keadaan penguasaan mahir.


Penguasaan skill di bagi menjadi enam, yakni: Dasar, pemula, menguasai, mahir, penguasaan penuh, dan penyatuan. Penguasaan 0-20% di sebut sebagai dasar, 21-40% di sebut pemula dan begitu seterusnya hingga penguasaan 100% yang di sebut sebagai mahir. Namun, jika seseorang bisa menguasai teknik itu hingga melebihi ambang batas 100%, maka penguasaan skill bisa di sebut sebagai penyatuan karena mereka bisa dengan mudah menggunakan skill dan sangat memahami kapan skill itu digunakan atau tidak dalam sebuah pertarungan seakan skill itu adalah bagian dari tubuhnya sendiri.


Mendengar penjelasanku, Felmina menutup matanya. Dadanya masih naik turun dengan keras dengan nafas berat, tapi wajahnya terlihat sangat tenang. Aku tidak bisa menahan diri untuk berjongkok di sampingnya dan menyentuh pipi bayi itu.


Felmina:"Kakak, aku sedang berusaha memahami teknik pedang, tolong jangan ganggu."


Melihat wajahnya yang cemberut, aku merasa geli. Aku hanya bisa tertawa dan terus mencubit pipinya yang lembut hingga pipinya sedikit memerah.


Filia:"Ok, kamu beristirahat dulu, aku akan melihat Ilma dan Rurui."


Aku berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Felmina menuju ke sudut lain arena pelatihan. Di sana, Ilma dan Rurui sedang bertarung satu sama lain. Aku memasangkan mereka karena mereka cocok untuk berlatih bersama. Baik Ilma dan Rurui adalah tipe Melee fighter, hanya saja, Ilma bertarung menggunakan dua pisau pendek, sementara Rurui menggunakan tangan kosong. Karena itu, aku membuatkan sepasang gauntlet yang sesuai untuknya. Meskipun Ilma lebih sesuai untuk serangan menyelinap dan Rurui untuk pertarungan secara langsung, tapi karena pengalaman Ilma yang lebih banyak, pertarungan mereka terlihat seperti Ilma yang sedang mengajari anak kecil.


Aku memperhatikan bahwa gerakan Rurui cukup bagus untuk ilmu bela dari, setidaknya penguasaannya terhadap teknik bela diri sampai pada tahap pemula yang cukup bagus untuk anak seusianya, tentu saja ini jika di bandingkan dengan orang di dunia ini saat ini. Namun Jika di bandingkan dengan para player, itu masih jauh.


Aku terus memberi mereka petunjuk saat berlatih..Secara perlahan, gerakan Ilma dan Rurui menjadi lebih halus dan tertata. Bukan hanya aku yang melihat pertarungan mereka, tapi para kesatria yang sedang beristirahat juga melihat pertarungan Ilma dan Rurui sambil duduk minum air dan memberikan komentar.


Komentar mereka akan sang membantu pelatihan Ilma dan Rurui. Bagaimanapun, jika di bandingkan dengan kesatria yang sudah memasuki Medan perang yang tak terhitung jumlahnya, Ilma dan Rurui bisa di katakan sangat mentah. Dengan bantuan para kesatria, Ilma dan Rurui dapat lebih memahami kelemahan dan ketidakefektifan dari setiap gerakan mereka.


Saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya, semua orang kembali ke barak militer sementara aku membawa Felmina dan yang lainnya untuk membersihkan diri sebelum makan malam.


(Akhir dari chapter ini.)


Jika menemukan kesalahan atau ketidak sesuaian kata mohon segera memberitahuku melalui kolom komentar...