
Kereta kuda yang aku kendarai semakin dekat ke arah kota. Sebelum kami mendekat, prajurit di atas dinding kota sudah memperhatikan kedatangan kami sejak lama.
Yah, bagaimanapun, aku menggunakan pegasus untuk menarik kereta, jadi wajar jika para prajurit itu sudah memperhatikan kami sejak lama. Lagi pula Pegasus yang memiliki bulu putih bercahaya akan sangat sulit untuk di abaikan.
Tidak mungkin untuk sampai di tempat ini dalam waktu singkat jika aku hanya menggunakan kereta kuda biasa. Dan lagi, aku tidak menyukai sensasi menaiki kereta kuda yang sering bergoyang di jalan yang tidak rata dan membuat otot-otot tubuhku kaku.
Saat kami mendekati gerbang kota, ada sekitar lima prajurit yang memegang tombak mendatangi keretaku untuk menanyakan apa yang terjadi. Tentu saja aku tidak perlu menjelaskan secara langsung. Ada seorang pejabat sebagai pemandu jalan yang menjelaskan tujuan dan siapa aku kepada para prajurit itu.
Setelah menerima penjelasan dari bangsawan itu, para prajurit yang menghampiri kami memberikan hormat lalu membiarkan kami memasuki gerbang.
Kota di balik gerbang ini cukup luas, setidaknya bisa menampung hingga ribuan orang. Lampu-lampu kristal cahaya kuning tersebar di setiap sudut kota, memberikan cahaya lembut dan memberikan sentuhan cahaya yang indah. Entah kenapa saat memasuki kota ini, aku merasa seperti menghadiri sebuah festival tradisional.
Banyak bangunan yang terbuat dari kayu dengan desain mirip seperti bangunan kuno di timur pada masa dinasti Tang. Bahkan penduduknya juga mengenakan pakaian yang hampir identik dengan dinasti Tang di bumi kuno.
Selain itu, banyak pejalan kaki perempuan dan laki-laki yang saling berbicara dan menyapa di jalanan. Semua pemandangan yang aku lihat ini benar-benar memperkental susana festival timur kuno yang dulu sering di adakan di bumi.
Tentu saja, karena di bumi dulu menggunakan berbagai hologram dan proyeksi jadi apa yang terlihat saat memberikan kesan yang berbeda dan lebih alami padaku.
"Bagaimana dengan keuntungan istrimu malam ini ?."
Tiba-tiba sebuah percakapan ganjil berhasil menarik perhatianku. Awalnya hampir tidak ada yang aneh dengan percakapan beberapa orang di jalan-jalan, tapi setelah aku mendengarkan dengan lebih seksama, aku mulai menemukan bahwa percakapan mereka sangat menjijikkan. Aku melihat keluar menggunakan Omniscient eye dan mencoba memperhatikan siapa yang mengatakan kata-kata itu. Apakah aku salah dengar?.
Filia:"Menepi, hentikan keretanya..."
Kereta segera di bawa ke pinggir jalan dan menepi di dekat sebuah bangunan besar yang nampak seperti penginapan. Banyak pasangan laki-laki dan perempuan yang berjalan dan berbicara dengan bahagia. Pakaian para perempuan itu terkesan sangat sederhana hanya dengan memakai beberapa utas kain tipis yang tidak dapat menyembunyikan lekuk tubuh mereka sama sekali.
Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan apa yang di katakan oleh orang-orang di jalanan, tapi setelah aku mendengarkan percakapan mereka secara seksama, aku tidak mungkin bisa mengabaikannya.
Kotor, tak tahu malu, busuk, sampah, tak pantas untuk hidup. Itulah yang aku pikirkan tentang orang-orang di kota ini. Semua sampah yang tidak berguna yang akan merusak keindahan negeri ini.
Filia:"Cari tempat untuk beristirahat...!"
"D, dimengerti, Yang Mulia."
Pejabat itu segera memimpin ku ke sebuah tempat makan yang di hiasi dengan banyak lentera yang menyala. Di dalam tempat makan ini terkesan sangat tradisional dengan banyak orang yang saling berbicara dan berbincang tanpa khawatir. Suasana yang damai dan di lengkapi dengan berbagai aroma makanan hangat yang enak, menjadikan penginapan ini sangat cocok sebagai tempat beristirahat setelah kelelahan bekerja seharian.
Dengan perintahku, kami mendapatkan sebuah tempat duduk di sudut ruangan yang tidak mencolok dengan pencahayaan yang agak redup. Hanya aku yang duduk di tempat ini sementara yang lainnya tetap berdiri di samping tempat dudukku tanpa sepatah katapun. Tidak ada hal lain yang aku lakukan selain mendengarkan berbagai macam percakapan di tempat ini.
"Hei, apa kamu tahu, hari ini aku mendapatkan beberapa pelanggan."
"Sepertinya keberuntunganmu baik."
"Yah, istri dan adik Perempuanku berhasil mendapatkan beberapa pelanggan malam ini."
"Hei, itu uang yang besar. Bagaimana?."
"Apa?."
"Apa kamu mau bermain dengan istriku malam ini, aku akan memberimu diskon."
.....
"Aku dengar kamu mendapatkan budak baru hari ini?."
"Ya. Itu masih beberapa wanita segar dari pengungsi setelah perang."
"Aku ingin satu."
"Jika ada uang, semuanya akan baik-baik saja."
"Uang apa?. Apa kamu lupa bahwa setelah perang ini akan menjadi banyak janda, kita hanya perlu menggunakan kembali janda di kota ini untuk uang. Dengan begitu kita bisa mendapatkan keuntungan tanpa pengeluaran..."
"Dasar bodoh, jangan merusak bisnis orang lain...!"
"Itu benar, daripada membeli budak, lebih baik kamu bermain dengan istriku, dia baru mendapatkan dua pelanggan malam ini."
"Tidak, aku lebih menyukai laki-laki."
"Hahahaha....".
.....
Percakapan mereka sangat semarak dengan di selingi oleh tawa yang bahagia. Namun, isi dari percakapan mereka benar-benar membuatku marah dan merasa menjijikkan. Meskipun aku tidak terlalu mengetahui banyak hal tentang dunia seperti ini, tapi aku masih bisa memahami satu atau dua.
Filia:"Shadow!."
Swos....
"Apa perintah anda, Yang Mulia."
Sebuah bayangan bergoyang di samping kursiku dan langsung mengembun menjadi sosok manusia yang di selimuti kegelapan. Hanya dua bola mata merah bercahaya yang terlihat.
Filia:"Kumpulkan seluruh informasi tentang kota ini segera tanpa ada kekurangan!."
"Dimengerti, Yang Mulia."
Shadow menjawab dengan suara yang sangat suram dan hormat. Dengan sedikit gerakan, shadow menghilang di antara bayangan tanpa ada jejak ataupun suara.
Melihat shadow telah pergi, aku mengalihkan perhatianku kepada pejabat yang berdiri diam di sudut dengan rasa keberadaan yang sangat minim.
Filia:"Ceritakan apa yang terjadi di kota ini!."
"B, baik, Yang Mulia."
Ternyata kota ini adalah kota hiburan dengan penghasil pajak terbesar ke tiga di negeri ini setelah kota pertambangan dan kota tekstil. Penghasilan terbesar di kota ini berasal dari penjualan budak dan prostitusi.
Di tempat ini hal-hal seperti prostitusi dan berbagai kegiatan hitam lainnya sudah menjadi landasan bagi penghasilan seluruh penduduknya.
Karena hal itu, negara ini seakan tutup mata terhadap berbagai kegiatan ilegal di tempat ini demi pajak yang besar.
Dalam masyarakat yang sangat kacau seperti ini, prostitusi mungkin sesuatu hal yang di anggap wajar bagi penduduknya, tapi semakin lama, aturan di tempat ini menjadi semakin tidak jelas. Penjualan obat-obatan terlarang, kelompok pembunuh, perampok, suap, dan berbagai tindakan keji lainnya ada di tempat ini tanpa pengawasan sedikitpun. Bisa di katakan, bahwa aturan di tempat ini melegalkan tindakan apapun yang dapat menghasilkan uang.
Semakin lama, orang-orang di kota ini mulai bertindak lebih jauh dan lebih menjijikkan. Karena kelonggaran peraturan di tempat ini, banyak pendatang baru ataupun pengunjung yang ingin menikmati kehidupan bebas di kota ini. Semakin banyaknya pengunjung, maka itu juga akan membuat pengasihan penduduknya semakin baik.
Tapi, penghasilan itu tentu saja tidak akan merata. Cara paling mudah untuk mendapatkan penghasilan dari para pengunjung itu adalah dengan berbagai tindakan hitam.
Mereka yang menjual obat-obatan terlarang, mereka yang memiliki rumah bordil, dan mereka yang memiliki sekelompok budak yang siap di jual adalah yang paling mendapatkan keuntungan.
Lalu, bagaimana dengan orang biasa?. Dengan keadaan lingkungan dan keuntungan yang besar, mereka mulai ikut bercampur dengan berbagai tindakan itu.
Untuk obat-obatan terlarang dan budak, mereka harus memiliki saluran tersendiri. Hal itu tentu saja sangat tidak praktis dan hampir tidak mungkin bagi orang biasa. Cara yang paling sederhana supaya mereka juga dapat menikmati keuntungan adalah dengan prostitusi.
Namun, jika ingin memiliki bisnis itu, mereka perlu mempekerjakan para wanita. Dan hal itu masih sangat sulit karena wanita-wanita itu pasti akan di ambil oleh rumah-rumah bordil dengan penghasilan yang lebih stabil.
Jadi para orang biasa itu hanya bisa memutar otak, yakni mereka akan menggunakan istri, saudara, anak, dan kerabat mereka sendiri demi mendapatkan keuntungan itu. Mereka tidak akan segan untuk berbuat hal yang sangat menjijikkan seperti itu.
Lama-kelamaan, hal seperti itu menjadi kebiasaan dan akhirnya mendarah daging di antara masyarakat, seakan hal itu adalah hal yang normal untuk di lakukan demi menghasilkan uang.
Menjijikkan, sangat menjijikkan. Dimana harga diri seorang wanita yang selama ini aku dan keempat saudariku kagumi?!. Dimana kehormatan wanita itu di letakkan?!.
Meskipun di bumi masa lalu kesetaraan sudah di angkat tinggi, tapi akan tetap ada orang yang memperlakukan seorang wanita lebih rendah daripada pria.
Dulu aku dan keempat saudari Moon Palace selalu sangat menghargai seorang wanita karena kami sendiri adalah wanita. Kami percaya bahwa bagaimanapun dan di manapun, wanita tidak akan pernah lebih lemah daripada pria.
Namun, setelah aku tiba di kota ini, wanita hanya di perlakukan seperti binatang ternak yang bisa di ekploitasi. Mereka di perjualbelikan seakan mereka hanyalah barang. Terlihat begitu tidak berharga dan tanpa harga diri.
Mereka di injak dan di permalukan seperti kain lap yang usang. Yang lebih membuatku marah, wanita itu juga memperlakukan diri mereka sendiri dengan cara seperti itu tanpa rasa keberatan.
Aku merasakan bahwa keyakinanku dan saudariku selama ini telah di injak-injak dan di hina di kota ini...
Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatiku yang bergejolak. Cangkir teh yang ada di tanganku sudah berubah menjadi cairan panas yang meleleh Karena suhu tinggi.
Sekitar tiga jam kemudian, Shadow kembali dan memberikan semua informasi tentang kota ini. Pejabat yang memimpin kota ini adalah pejabat yang sangat korup dan serakah. Dia sering memberikan dan menerima suap dari berbagai pihak, termasuk pejabat-pejabat di istana.
Selain dari laporan itu, isi laporan lainnya sembilan atau sepuluh mirip dengan apa yang di katakan pejabat itu.
Filia:"Ikut aku...!"
Dengan sekali flash, aku membawa Arkne dan yang lainnya pindah ke atas dinding kota. Para prajurit penjaga yang melihat kami tiba-tiba muncul, mereka terkejut dan segera memberikan hormat. Tanpa mempedulikan mereka, aku melihat ke arah kota ini, yang cukup luas untuk setidaknya bisa menampung sekitar 300.000 orang tanpa masalah.
Jalan-jalan yang semarak dan ramai seperti festival dengan berbagai lampu-lampu berkelip dan orang-orang yang penuh semangat.
Filia:"Bagi kalian yang ingin meninggalkan kegiatan busuk kalian dan merubah cara hidup kalian, maka aku perintahkan untuk keluar dari gerbang kota setelah tiga jam. Yang masih berada di dalam kota setelah waktu yang di tentukan, maka aku tidak akan memberikan belas kasihan."
Dengan bantuan fluktuasi mental, suara yang aku sampaikan akan langsung bisa di dengar oleh seluruh orang yang ada di kota. Aku terus berdiri di dinding kota dan terus mengawasi orang-orang di dalamnya.
Mendengar apa yang aku katakan, orang-orang yang sedang berjalan dan berbicara dengan bahagia mereka terhenti sejenak, lalu melanjutkan kegiatan mereka seperti tidak ada yang terjadi.
"Apa kamu dengar tadi?."
"Suara bodoh itu?. Siapa yang ingin meninggalkan kesenangan ini?!."
"Itu benar. Itu terlalu bodoh hahaha...!"
"Gadis, apa kamu ingin pergi?!."
"Bagaimana mungkin. Suamiku ingin aku menemanimu malam ini, bagaimana mungkin aku pergi?!."
"Kalau begitu, ayo kita menikmati malam."
.....
Seperti yang aku duga. Orang-orang di kota ini telah membusuk hingga ke akar-akarnya. Tidak mungkin mereka akan meninggalkan kolam terkutuk ini dan merangkak ke jalan yang seharusnya setelah mereka menikmati kenyamanan yang di berikan.
Waktu terus berjalan. Waktu yang aku tentukan akan segera tiba, tapi aku hanya melihat beberapa orang yang keluar dari kota. Hanya ada sekitar lima orang yang nampaknya mereka adalah keluarga. Satu orang gadis muda dengan penutup kepala, seorang anak kecil sekitar 5-6 tahun, sepasang suami istri, dan seorang lelaki tua yang berjalan menggunakan kruk.
Dilihat dari penampilan mereka, mereka adalah orang biasa yang miskin dengan pakaian kain sederhana dan kasar. Saat keluar dari kota, mereka tepat melewati gerbang di bawah kakiku dan melirikku. Mereka melihat sekeliling dengan sangat hati-hati sambil menghalangi gadis berkerudung itu dari mata orang lain.
Hanya dari melihat tindakan mereka, aku bisa menyimpulkan satu atau dua hal tentang apa yang terjadi pada mereka.
Setelah waktu yang ditentukan tiba, tidak ada lagi orang yang ingin keluar. Aku sengaja untuk tidak memperingatkan mereka lebih lanjut karena dalam hatiku, aku tidak ingin melepaskan mereka.
Biarkan mereka memilih karena hati mereka sendiri, bukan karena rasa takut terhadap ancaman.
Cara itu tidak akan efektif, tapi menurutku akan lebih baik seperti itu. Lebih baik jika mereka semua yang menghina kepercayaan ku dan saudariku mati di tempat ini.
Filia:"Mata yang dapat melihat dosa dan kegelapan hati manusia. Bersihkan semua orang selain anak-anak dan orang yang terpaksa tidak bisa pergi, semuanya layak untuk mati...!"
Arkne:"Dimengerti, Yang Mulia."
Enam kaki laba-laba hitam yang berkilau dengan ujung tajam seperti tombak mencuat dan muncul dari punggung Arkne. Aura dingin yang mencekam penuh dengan kematian segera mengembun menjadi kabut, membentuk banyak wajah manusia terdistorsi dan menderita yang mengelilingi Arkne.
Tutup mata yang selalu dia kenakan, tiba-tiba terbakar dengan api hitam, menampakkan delapan pupil merah yang aneh dan menakutkan. Kedelapan pupil dalam dua mata itu terus berputar ke arah yang berbeda-beda seakan mencari kejahatan hati manusia di seluruh kota.
Bayangan wanita tinggi ramping dengan roh jahat dan kaki laba-laba yang setajam tombak, dibayangi oleh cahaya merah gelap dari bulan yang tinggi menggantung di udara, memberikan dampak yang sangat besar pada mental seseorang. Seakan Dewi kematian dari dasar tanah asura yang penuh derita bersiap memanen jiwa-jiwa manusia.
«Racial Magic:Death Thread Prison»
Ribuan benang putih perak yang sangat tipis tiba-tiba muncul dari dalam tanah dan menyelimuti seluruh kota membentuk kubah sangkar burung yang rapat dan mustahil untuk di tembus.
Benang-benang itu sangat halus dan tipis. Jika bukan karena memantulkan bias cahaya bulan, hampir tidak mungkin untuk melihatnya.
Ribuan benang itu membuat sulur-sulur tipis dan memanjang ke seluruh kota. Orang yang tanpa sengaja melewati benang itu, tubuh mereka akan terpotong dengan sangat halus, membuktikan bahwa benang tipis itu sangat tajam.
Bukan hanya manusia ,tapi kayu, batu, besi dan apapun yang di lewati oleh benang itu akan terpotong sangat halus, sehalus permukaan cermin.
Namun, Ini hanyalah awal dari kengerian yang sesungguhnya. Benang-benang itu terus berayun dan memanen kehidupan dari orang-orang yang ada di kota. Tidak peduli apakah itu wanita atau pria, tua atau muda, mereka akan di tebas oleh benang-benang itu semudah pisau mengiris tahu.
Akhirnya orang-orang di kota itu sadar akan kematian yang akan datang dan mulai berlari dan berteriak dengan panik. Namun, kepanikan itu membuat mereka tanpa sengaja menabrak utas benang dan membuat tubuh mereka terpotong menjadi beberapa bagian.
Teriakan dan tangisan ketakutan segera bergema di seluruh kota. Aroma darah yang padat membumbung tinggi ke angkasa, mencekik indera pernapasan orang yang menghirupnya.
Darah merah tumpah seperti tanpa biaya, membanjiri setiap sudut jalan yang gelap. Berbagai organ tubuh dan potongan manusia tersebar di tanah, seperti daun-daun pada musim gugur.
Banyak orang yang ingin pergi keluar kota melalui gerbang, tapi begitu mereka melewati gerbang, tubuh mereka terpotong dan tercabik menjadi potongan daging kecil.
Arkne melihat pemandangan itu dengan wajah yang tenang. Tubuhnya sedikit bergetar dan dia melompat turun dari tembok kota.
Splas... Splas...!
Kakinya menginjak ringan ke tanah yang penuh darah, membuat suara gemericik yang ringan. Perlahan, Arkne menjelajahi kota satu demi satu untuk mencari orang yang masih layak untuk hidup.
Dengan setiap langkah yang dia ambil, akan ada jiwa manusia berwarna hitam yang berkumpul di sekitarnya, bergabung bersama dengan jiwa berdosa lainnya.
Aku tidak mau terlalu memperhatikan hal itu. Aku membawa beberapa orang itu untuk turun dari tembok kota keluar kota. Dengan kilatan cahaya, kereta kuda Pegasus muncul di hadapanku bersama dengan satu kereta kuda normal di sebelahnya.
Filia:"Salah satu dari kalian akan membantu orang-orang yang masih hidup untuk mengungsi!."
Aku berbicara kepada salah satu pejabat yang mengikutiku. Aku tidak membutuhkan banyak pejabat untuk menunjukkan jalan, jadi aku memerintahkan sisanya untuk membantu orang-orang yang masih berhak hidup mengungsi.
Aku tidak menunggu jawaban mereka dan langsung pergi memasuki Ketata kuda Pegasus.
Filia:"Jalan!."
Penunjuk jalan yang masih bergetar ketakutan tiba-tiba sadar, dia dengan buru-buru meninggalkan pejabat lain dan duduk di sebelah kusir untuk memberikan arah.
Kereta kembali melanjutkan perjalanan dengan dikawal oleh kesatria diamond class di belakangnya.
Mereka yang tidak layak untuk ada, tidak perlu ada...!
(Akhir dari chapter ini.)
Yang mungkin lupa desain mata Arkne:
Jika menemukan kesalahan dalam pengetikan, tolong segera di beritahukan.
Semoga menikmati chapter kali ini...