Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 173: Membuat Skill.



Filia:"Frey, apakah kamu bisa menghubungi unit itu?."


Fray:"Tidak. Koneksi tidak dapat terhubung, mungkin karena posisi terlalu berjauhan dan sisi lain terlalu lemah."


Filia:"Jadi, kita hanya bisa menunggu sampai Embrio itu cukup kuat supaya bisa terhubung."


Frey:"Itu benar Desu~"


Jika memang seperti itu, biarkan saja dulu. Lagi pula ada perbandingan waktu antara kuadran tingkat tinggi dan tingkat rendah. Dengan begitu, mungkin aku tidak harus menunggu selama yang aku kira.


Jika orang yang berhasil mendapatkan embrio itu punya bakat, mungkin dia bisa menerobos Tier satu dan pergi ke daratan utama.


Kenapa Tier satu?. Karena syarat minimum untuk datang ke daratan utama adalah Tier satu. Jika itu masih Alterion, sebelum pemain sampai di Tier tiga, mereka tidak akan pergi ke daratan utama meskipun bisa. Alasannya, daratan utama adalah tempat dimana semua kekuatan berkumpul.


Pemain dan NPC Tier tinggi seperti awan di tempat ini. Jika mereka datang saat masih terlalu lemah, mereka tidak akan mampu untuk bersaing mendapatkan sumber daya dengan pemain dan NPC Tier tinggi. Alhasil, perkembangan mereka justru akan terhambat dan tertinggal dari yang lain.


Filia:"Frey, terus awasi unit itu. Laporkan kepadaku jika ada perkembangan terbaru."


Frey:"Ok..."


Frey langsung berubah menjadi bola cahaya kecil dan menghilang. Ini benar-benar sebuah kejutan. Aku penasaran, orang seperti apa yang tanpa sengaja mendapatkan embrio itu. Jika dia orang yang menarik, aku tidak keberatan untuk membantunya.


Yah, karena saat ini tidak ada yang bisa di lakukan, maka aku hanya bisa menunggu. Aku berbaring di tempat tidur sambil melihat salju yang berjatuhan di luar jendela.


.....


Mungkin tengah malam, aku terbangun karena suara yang menggangu. Aku menggosok mataku yang masih mengantuk dan melihat dari mana asal suara itu.


Tanpa aku duga, ternyata aku lupa untuk mengunci jendela, jadi jendela itu terbuka oleh angin yang kencang. Ada tumpukan kecil salju yang berserakan di lantai. Aku dengan malas berjalan ke arah jendela dan menutup jendela.


Dengan sihir, aku mengeringkan tirai dan lantai yang penuh salju. Badai salju malam ini cukup besar, bahkan ada suara kemeritik saat salju yang tertiup oleh angin kencang menghantam kaca jendela.


Aku memakai selimut sebagi mantel dan berjalan ke lantai satu. Karena kebiasaan di kehidupan sebelumnya, aku selalu sulit tidur setelah terbangun di tengah malam.


Cahaya di lorong lantai dua sangat redup karena pada malam hari pencahayaan di mansion banyak yang di matikan. Selain pencahayaan yang redup, suasana mansion menjadi sangat sepi.


Jika itu film horor Eropa, aku kira suasana saat ini sangat sesuai. Takut?. Jangan katakan itu. Daripada takut aku mungkin lebih ke penasaran. Aku menghabiskan hampir seluruh hidupku di rumah sakit. Untuk membunuh waktu, aku membaca, dan tidak sedikit buku kisah horor yang telah aku baca. Jadi, daripada takut, aku lebih penasaran dengan hantu. Apakah hantu itu benar-benar ada atau tidak.


Saat di rumah sakit, aku sering keluar dari kamar di malam hari untuk memeriksa apakah aku bisa menemukan hantu di rumah sakit seperti yang ada dalam cerita dan film. Tapi, semuanya sia-sia. Aku tidak pernah bertemu dengan mereka.


Aku berjalan menuruni tangga menuju ke ruang tamu di lantai pertama. Yang tidak aku duga, ada seseorang yang duduk di sofa sendirian sambil menunduk. Aku menghampiri dan menepuk pundak orang itu.


Filia:"Khaim, kamu tidak tidur?."


Ya, orang itu adalah Khaim. Aku sengaja menyuruhnya untuk beristirahat di kamar tamu lantai satu. Lagi pula kamar itu sudah lama tidak di gunakan. Aku tidak tahu bagaimana bangsawan lain memperlakukan tamu seperti Khaim, tapi aku tidak peduli dengan hal itu.


Khaim:"P, Putri. S, saya baru saja terbangun. A, anda belum tidur..?"


Dia menjawabku dengan suara yang terputus-putus dan kikuk. Yah, wajar saja jika seperti itu. Dia juga tidak terbiasa dengan tata Krama atau berbicara dengan bangsawan. Jadi aku bisa memakluminya.


Filia:"Aku baru saja terbangun."


Aku mengabaikan Khaim dan pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu. Mansion ini memang sepi pada malam hari karena pelayan banyak yang beristirahat. Meskipun demikian, banyak juga yang masih melakukan beberapa pekerjaan rumah mereka.


Saat berjalan ke dapur, aku juga bertemu Sebastian yang sedang mengurus beberapa pekerjaan Duke yang di tinggalkan oleh ayah. Karena aku tidak mau menggangunya, jadi aku hanya menyapa sebentar.


Di dapur, masih ada Jors dan beberapa pelayan yang menyortir bahan masakan dan bumbu untuk menyiapkan sarapan besok. Meraka benar-benar memperhatikan pekerjaan mereka.


Filia:"Kerja keras untuk kalian."


Jors:"Ini memang tugas kami Putri. Apa anda belum tidur?."


Filia:"Baru saja terbangun. Jors, apa kamu memiliki susu segar?."


Jors:"Susu segar?."


Jors memiringkan kepalanya untuk mengingat sesuatu. Dia segera meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke ruang penyimpanan. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan membawa sebotol susu yang di simpan dalam sebuah wadah kaca.


Jors:"Seperti yang anda perintahkan Putri, saya menyimpan susunya di dalam wadah botol dan diletakan di dalam kotak pendingin yang anda minta di buat oleh pengrajin tempo hari."


Filia:"Terima kasih, Jors."


Aku membawa botol susu itu kembali ke ruang tamu dan mengganti wadahnya menjadi cangkir logam. Aku menghangatkan susu itu dengan api putih milikku.


Yah, susu hangat memang hal yang baik dalam cuaca dingin seperti ini. Aku kembali ke ruang tamu dan duduk di kursi yang berlawanan dari Khaim.


Filia:"Apa kamu masih tidak bisa tidur?."


Khaim:"Saya tidak terbiasa dengan suasananya. Jadi, sulit untuk kembali tidur."


Itu juga wajar. Jika kita belum terbiasa dengan suasana di suatu tempat baru, kita mungkin akan merasa kurang nyaman. Aku rasa sebagian besar orang merasa seperti itu.


Filia:"Hmm... Apa kamu mau pergi ke perpustakaan?."


Khaim:"Eh, perpustakaan?."


Filia:"Ya, ayo pergi."


Aku menyerahkan gelas susu itu kepada seorang maid yang sejak tadi berdiri di belakangku. Dia bukan Ilma, tapi maid yang bertugas di malam hari. Saat dia melihatku turun dari lantai dua, dia langsung menemaniku tanpa berbicara sepatah katapun.


Dia menemaniku bukan hanya kerena tugasnya, tapi dia menjadi orang ketiga di ruangan ini. Fungsi dari orang ketiga adalah untuk menjadi saksi dan pengawas. Jika seorang putri bangsawan yang masih lajang berada di satu ruangan yang sama dengan seorang pria yang tidak memiliki ikatan dengan mereka tanpa orang ketiga yang menemani, maka nama dan kehormatan putri bangsawan itu akan tercemar.


Meskipun tidak ada yang terjadi, tapi orang lain tidak tahu. Karena itu, bisa saja akan ada rumor buruk yang beredar dan akan sangat mempengaruhi prestise dari putri bangsawan itu serta keluarganya.


Jadi, meskipun terlihat sepele, maid yang menemaniku saat ini memiliki tugas yang sangat penting.


Pelayan itu menerima cangkir susunya dengan nampan perak yang dia pegang. Aku memimpin mereka berdua pergi ke perpustakaan keluarga Rosefield.


Perpustakaan keluarga Rosefield terletak di bawah tanah dan sangat luas. Sampai di depan pintu menuju ke perpustakaan, aku di hentikan oleh dua orang kesatria keluarga.


"Putri, ini..."


Filia:"Tidak apa-apa, mereka bersamaku."


"Dimengerti."


Jangan memandang bahwa ini hanya sebatas perpustakaan. Perpustakaan ini di jaga dengan sangat ketat oleh para kesatria. Alasannya, selain berisi buku pengetahuan umum, di dalam perpustakaan juga berisi banyak catatan rahasia keluarga atau bahkan catatan kerajaan yang tidak seharusnya di ketahui dunia luar. Jadi wajar jika harus di jaga dengan ketat.


Perpustakaan di bagi menjadi tiga ruangan. Ruangan pertama berisi buku pengetahuan umum serta buku yang mencatat tentang berbagai keluarga bangsawan. Untuk ruangan kedua, itu di jaga lebih ketat karena berisi semua sejarah dan seluk beluk dari berbagai keluarga bangsawan yang cukup sensitif. Sementara di ruangan terdalam, di sana adalah bagian perpustakaan yang di jaga paling ketat.


Yang aku tahu, di ruangan terdalam di jaga oleh Bibi Rusia Rosefield dan Paman Barton yang keduanya adalah penyihir dan kesatria di atas level 150. Oh, paman Barton adalah guru yang mengajari Eden, sekaligus dia adalah suami dari bibi Rusia.


Mereka berdua berasal dari keluarga samping yang ditugaskan oleh ayah untuk bertanggung jawab atas perpustakaan terdalam. Perpustakaan terdalam tidak sama dengan dua bagian perpustakaan sebelumnya. Di perpustakaan terdalam, hanya berisi sedikit buku. Meskipun aku bilang sedikit, tapi itu relatif terhadap ratusan ribu buku, jadi itu sebenarnya masih cukup banyak.


Perpustakaan terdalam berisi catatan rahasia keluarga dan juga istana. Selain itu, di dalam juga tersimpan banyak buku sihir inti keluarga Rosefield, jadi selain anggota keluarga inti, yang lain dilarang masuk atau mereka akan di bunuh di tempat.


Tujuanku hari ini hanyalah perpustakaan terluar, jadi tidak masalah untuk mengajak pelayanan dan Khaim. Begitu pintu perpustakaan terbuka, aroma kertas segera tercium. Di bagian dalam terdapat banyak rak buku yang bertingkat-tingkat hingga ketinggian tujuh atau delapan meter. Buku yang tersimpan di tempat ini beberapa kali lebih banyak daripada buku yang ada di perpustakaan akademi. Beberapa juga merupakan buku yang langka yang sulit di temukan di tempat lain.


Mungkin perpustakaan ini terdengar sangat besar, tapi jika di bandingkan dengan perpustakaan Rosefield di Dukedom, ini masih beberapa kali lebih kecil.


Di tengah ruangan terdapat beberapa bangku yang tertata rapi. Ruangan baca ini cukup terang karena di terangi oleh lampu kristal di langit-langit.


Filia:"Apakah ada buku yang mau kamu baca?."


Aku bertanya pada Khaim sambil menghampiri seorang lelaki tua sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun yang duduk di meja pengawas perpustakaan. Di mata kanannya dia mengenakan lensa baca berbingkai emas yang sederhana tapi nampak elegan. Melihatku menghampirinya, dia tersenyum ramah kepadaku. Senyum itu terlihat sangat ramah dan baik hati.


"Ada yang bisa saya bantu, Putri?."


Filia:"Kakek Grant, adakah buku yang mencatat tentang beladiri tongkat?."


Kakek Grant selalu sangat bahagia saat aku memanggilnya dengan sebutan kakek. Dia adalah pria tua sebatang kara tanpa keluarga. Dia tidak memiliki anak dan tidak pernah menikah lagi setelah istrinya tiada saat dia masih muda karena perang. Karena dia merupakan anak dari teman seperjuangan ayah di Medan perang, jadi ayah mengajaknya untuk bekerja di keluarga Rosefield.


Karena waktu itu kakek Grant masih mengalami kesedihan yang membuatnya terpuruk dan ayah tidak mau memaksanya bekerja, jadi sangat sedikit pekerjaan yang cocok untuknya. Alhasil, karena kepercayaan ayah kepadanya, dia di jadikan sebagai penjaga perpustakaan yang bertanggung jawab untuk mengawasi perpustakaan bagian luar.


Semenjak saat itu, kakek Grant selalu menenggelamkan kepalanya di perpustakaan dan sangat jarang keluar hingga saat ini. Dia biasanya tidak terlalu ramah kepada orang lain, tapi dia sangat ramah kepadaku. Mungkin karena hati orang tuanya yang melihatku seperti cucunya sendiri. Tidak peduli seberapa keras hati manusia, mereka akan selalu merindukan kehangatan dan perasaan memiliki keluarga, terutama orang tua yang sudah kesepian sejak lama seperti kakek Grant.


Aku juga sangat senang jika keberadaan ku bisa sedikit mengisi lubang di hatinya. Ini membuatku merasa bahwa keberadaan ku datang ke dunia ini memiliki sebuah arti.


Grant:"Tentu saja ada. Tolong tunggu."


Kakek Grant menyentuh bola kristal transparan di atas meja dan memasukkan mananya ke dalam bola kristal. Setelah bola kristal di induksi dengan mana, bola kristal transparan itu menyala dengan lampu biru redup. Meskipun redup, tapi cahaya itu masih cukup jelas.


Tak lama kemudian, muncul sebuah layar biru transparan yang melayang di atas bola kristal itu. Karena layar itu membelakangi ku, jadi aku hanya bisa melihat papan biru transparan yang kosong.


Layar transparan itu sangat mirip dengan yang ada di Alterion. Mungkin itu merupakan teknologi Alterion yang masih tersisa hingga saat ini.


Setelah memeriksa selama beberapa saat, kakek Grant melambaikan tangannya dan membuat layar itu berbalik menghadapku. Aku melihat bahwa di antar muka layar itu tercatat ratusan judul buku dan dimana buku itu di simpan. Yang membuatku terkejut, teknik bertarung tongkat sangat jarang di gunakan, tapi di perpustakaan ini setidaknya ada lebih dari tiga ratus buku yang mengajarkan dan mencatat teknik beladiri menggunakan tongkat.


Filia:"Terima kasih, kakek."


Grant:"Sama-sama. Apakah anda membutuhkan bantuan saya, Putri?."


Aku melambaikan tanganku dan dari berbagai sudut ruangan itu ratusan buku melayang ke arahku dan berhenti di sekitarku seperti tanpa gravitasi.


Aku menggunakan kekuatan mental telekinesis untuk mengambil buku-buku itu dari tempatnya. Dari pertama kali aku melihat daftar buku itu, aku sudah menandai buku-buku itu dengan kekuatan mental, jadi aku tidak perlu bolak-balik di ruangan yang luas ini untuk menemukan buku.


Aku mengabaikan mata terkejut dari kakek Grant dan yang lainnya lalu pergi memilih sebuah tempat duduk di tengah ruangan untuk mulai membaca.


Filia:"Oh benar. Khaim, apakah tidak ada yang mau kamu baca?."


Khaim:"T, tidak. Saya tidak perlu."


Filia:"Akan sangat sia-sia jika kamu tidak membaca sesuatu setelah datang ke perpustakaan."


Khaim:"K, kalau begitu, saya akan mencoba membaca beberapa buku."


Filia:"Ya. Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa mengatakannya pada kakek Grant."


Aku duduk sambil melihat punggung Khaim yang pergi untuk menemui kakek Grant dan menanyakan beberapa buku.


Aku berhenti memperhatikannya dan mengalihkan perhatianku ke tumpukan buku yang berada di depanku. Aku suka membaca, tapi tidak mungkin untuk memeriksa ratusan buku tebal satu persatu dalam semalam.


Tiga buah bola logam putih seukuran ibu jari orang dewasa melayang dan menghampiri buku-buku di atas meja. Ada semacam lensa di bagian depan bola-bola kecil itu yang mengeluarkan cahaya biru yang mengenai buku-buku itu.


Di belakang ketiga drone itu, muncul sebuah layar biru yang seukuran latar komputer. Dalam beberapa saat, berbagai algoritma segera muncul di dalam layar dan berkelebat sangat cepat hingga sulit untuk di perhatikan menggunakan mata telanjang.


Hanya dalam waktu sekejap, ratusan buku selesai di scan dan datanya di salin ke dalam otak kuantum dari ketiga drone itu. Drone-drone itu akan menganalisis isi dari setiap buku dan merangkum serta membantuku untuk membandingkan isi buku-buku itu yang membuatku lebih mudah menarik kesimpulan.


Sebenarnya tujuanku datang ke perpustakaan ini dengan Khaim karena aku ingin menciptakan sebuah teknik beladiri tongkat yang sesuai untuk Khaim. Lagi pula tidak ada yang bisa aku lakukan di malam hari di tengah badai seperti ini. Jadi, aku berfikir untuk membuatkannya teknik pertarungan tongkat.


Setelah semua dat telah di slin ke dalam otak kuantum drone, ada tiga buah proyeksi keyboard di atas meja.


Filia:"Sister Lean, bisakah pencahayaan di perpustakaan di kurangi?!."


Lean:"Tolong tunggu sebentar, Putri."


Siter Lean segera meletakkan susu yang dia pegang di mejaku dan pergi untuk mengatur intensitas pencahayaan di ruangan ini supaya tidak terlalu silau. Intensitas cahaya hanya dikurangi setengah dari awalnya supaya tidak menggangu Khaim yang membaca buku.


Merasa bahwa cahayanya cocok, aku segera mengoperasikan papan ketik dan membuat sebuah program serta pengaturan. Aku harus memeriksa semua perbandingan antara setiap teknik beladiri yang tercatat dan mengambil kesimpulan terbaik sebagai referensi untuk membuat teknik beladiri yang baru.


Ini perasaan yang sangat nostalgia...


Setelah semua datanya selesai di atur, kebetulan Khaim datang sambil membawa sebuah buku di tangannya.


Filia:"Buku apa yang itu?."


Khaim:"I, ini tentang bintang."


Filia:"Bintang?."


Khaim:"Benar. S, saya ingin tahu tentang bintang."


Khaim menjawabku sambil melihat ke atas, melihat tiruan rasi bintang yang di buat menggunakan batu cahaya di sekitar lampu kristal.


Filia:"Yah. Oh, aku butuh bantuan mu untuk sesuatu."


Khaim:"Tolong katakan, Putri."


Filia:"Kemarilah!."


Khaim berjalan ke arahku dengan tatapan bingung. Matanya juga terlihat sangat penasaran saat melihat layar komputer di depanku.


Saat dia mendekat, aku menyerahkan sebuah tongkat kayu kepadanya.


Filia:"Cobalah menggunakan tongkat."


Meskipun bingung, dia mengangguk dan mulai mengayunkan tongkat panjang itu. Sebuah lensa tembus pandang muncul di mat kiriku untuk mengambil data dari konfigurasi tubuh Khaim.


Filia:"Cukup. Kemari!."


Khaim:"B, baik."


Filia:"Ulurkan tangan mu."


Aku merah tangan Khaim dan merabanya sebentar. Oh, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin mengetahui seperti apa bentuk otot di tangannya dan membuat senjata yang tepat untuknya.


Filia:"Yah, otot tangan kananmu lebih dominan dan keseimbangan otot tubuh sedikit miring ke sisi kanan. Kamu.... Ada apa denganmu?."


Saat aku mendongak, aku melihat Khaim dengan wajah merah dan menunduk. Aneh, apa dia sakit?. Sepertinya tadi dia baik-baik saja. Mungkin itu karena suhu dingin dan dia kurang tidur.


Khaim:"T, tidak. Saya tidak apa-apa."


Filia:"Mungkin tubuhmu lelah. Sebaiknya kamu beristirahat."


Khaim:"I, iya."


Setelah mendapatkan data tubuh khaim, aku bisa menyesuaikan skill yang tepat untuknya.


Lean:"Putri, apa yang sedang anda lakukan?."


Sepertinya Lean tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya. Sebagai pelayan, seharusnya dia tidak perlu bertanya apa yang di lakukan tuannya jika itu tidak perlu. Tapi bagaimanapun, Lean adalah gadis muda yang pasti sedikit impulsif dan penasaran. Aku juga tidak keberatan, lagi pula ini bukan hal yang sangat rahasia.


Filia:"Oh, aku sedang membuat skill."


Lean:"Skill...?!!."


Dia terkejut dan meninggikan nada suaranya hingga Kakek Grant mendengarnya. Mungkin karena juga penasaran, kakek Grant mendekat dan melihat apa yang aku lakukan.


Filia:"Ya. Aku membuat skill pertarungan tongkat untuk Khaim."


Khaim:"Untuk saya?. Kenapa?."


Filia:"Apa maksudmu kenapa. Tentu saja supaya kamu punya skill yang sesuai."


Aku berhenti dan melihat kemajuan data di layar komputer. Yah ada beberapa masalah di tubuhnya.


Filia:"Kamu berbakat menggunakan tongkat, tapi karena kamu terlalu lama berlatih pedang, jadi konfigurasi tubuhmu menjadi sedikit melenceng dan kaku untuk menggunakan tongkat. Aku hanya bisa membuat teknik dasar pengolahan tubuh untuk menyesuaikan otot-otot tubuhmu dan juga skill yang dapat terus berkembang tanpa harus terus mempelajari skill baru."


Khaim:"S, saya tidak perlu membuat anda repot, Putri. S, saya bisa mempelajari skill di akademi."


Filia:"Apa maksudmu?!. Kamu tidak bisa menggunakan skill yang tidak sesuai. Mungkin skill itu cocok untukmu, tapi tingkat kesesuaiannya tidak akan tinggi dan perkembangannya akan terbatas di masa depan."


Aku berhenti dan meminum susu di atas meja untuk melegakan tenggorokanku yang agak kering.


Filia:"Skill itu seperti sebuah armor. Anggap saja kamu membeli armor yang di jual secara masal, meskipun ukurannya sesuai, tapi akan tetap ada kekurangan jika di bandingkan dengan armor yang di buat khusus untukmu, yang di buat dengan mempertimbangkan keseimbangan otot dan caramu bertarung."


Tentu saja aku memiliki skill bertongkat yang kuat, tapi itu skill tingkat tinggi. Dengan mana vessel Khaim yang masih sangat rapuh, skill itu justru akan merusak aliran mana internalnya. Jadi, aku perlu membuatkannya skill yang kelas rendah, tapi yang bisa terus berkembang mengikuti pemiliknya. Dengan demikian, dia tidak perlu terlalu sering mempelajari skill baru.


Dan untuk Ilma dan Felmina, kenapa aku tidak membuat skill baru untuk mereka, itu karena tubuh mereka belum di sesuaikan dengan latihan tertentu, jadi tubuh mereka mudah untuk di bentuk supaya sesuai dengan skill yang aku berikan. Sementara Khaim, dia telah berlatih pedang selama bertahun-tahun, jadi tubuhnya telah terbentuk untuk menggunakan pedang.


Sebenarnya meskipun tanpa bakat berpedang, itu tidak akan menutup kemungkinan bahwa Khaim bisa menggunakan pedang, tapi meskipun bis menggunakan pedang, kemampuannya akan tetap berada di bawah orang dengan bakat pedang dan dia tidak akan bisa berkembang lebih jauh karena terbatas pada bakat.


Saat ini dia masih sangat muda dan belum terlambat untuk di perbaiki. Jadi aku ingin supaya Khaim berjalan di jalur beladiri yang sesuai dengan bakatnya. Dengan begitu, mungkin suatu saat, dia bis menjadi kesatria yang kuat dan berguna untukku.


Aku mengoperasikan papan ketik dan mengetik berbagai macam program. Banyak huruf dan angka yang berkelebat di layar dengan sangat cepat seperti hembusan air. Beberapa jam kemudian, akhirnya skill berhasil di buat.


Aku memperhatikan bilah pemuatan yang terus berjalan di layar. 10%... 20%... 30%... 100%.


Setelah bilah pemuatan penuh seratus persen, layar komputer segera menghilang dan ketiga bola itu berubah menjadi mesin cetak tiga dimensi.


Sebuah buku perlahan di cetak secara utuh, mulai dari sampul hingga isi buku di cetak secara bersamaan dan mengambang di udara.


Beberapa saat kemudian, buku itu selesai di cetak.


«Ding... Berhasil menciptakan skill Saint Class... Tolong beri nama.»


Filia:"Aku menyebutnya «The Eight Pillars of World Destruction»."


«Nama terkonfirmasi «The Eight Pillars of World Destruction». Skill telah di catat dalam catatan dunia.»


Nama yang mendominasi. Nama yang tepat untuk sebuah skill tingkat saint. Aku memberinya nama delapan pilar karena buku skill ini mengandung delapan teknik bertongkat dan juga latihan tubuh untuk menyesuaikan tubuh dengan skill supaya tingkat kesesuaiannya lebih tinggi.


Satu hal yang mengejutkanku. Aku tidak menyangka bahwa skill ini menjadi skill tingkat saint.


Hahahaha.... Ini hebat. Aku bisa bangga dengan hal ini.


(Akhir dari chapter ini.)


Jika menemukan kesalahan, tolong segera memberitahu Author.