
total dua kelopak telah jatuh setelah kami meninggalkan gua, ini menandakan bahwa kami sudah berjalan selama setidaknya dua hari. selama dua hari, aku terus berlari tanpa memperlambat sedikitpun dan hanya beristirahat sejenak untuk mencari makanan. aku tidak masalah jika tidak makan, tapi bagi Arkne, makanan masih sangat di perlukan.
aku juga tidak mau Arkne kelaparan. sebagai seorang anak, dia masih memerlukan banyak nutrisi untuk pertumbuhannya. setelah beristirahat sejenak, kami kembali melanjutkan perjalanan menelusuri sungai.
perjalanan kami sejauh ini berjalan lancar tanpa halangan yang berarti. mungkin memang kami bertemu berapa monster, tapi mereka adalah Tier dua kebawah, jadi sangat mudah untuk membersihkan mereka. aku juga mengambil inti monster untuk kegunaan di masa depan.
anggap saja ini juga mengumpulkan beberapa sumberdaya di jalan. selain banyak inti monster, aku juga menemukan banyak tanaman yang bisa aku gunakan untuk membuat potion tingkat rendah dan menengah. aku sangat senang menemukan bahan-bahan untuk pembuatan potion tingkat rendah dan menengah. aku memang memiliki potion di storage, tapi semua yang aku miliki adalah bahan dan potion tingkat tinggi dan di atasnya. bukankah akan sangat sayang menggunakan potion tingkat tinggi dan di atasnya untuk mengobati luka ringan yang bisa di sembuhkan dengan tingkat rendah dan menengah?!.
setelah melanjutkan perjalanan cukup lama, tiba-tiba Arkne menyuruhku untuk berhenti, dia menunjuk ke kejauhan ke sebuah batu tajam yang melengkung dan menjulang tinggi ke angkasa. tingginya bahkan melebihi ketinggian pohon-pohon besar di hutan ini dengan selisih yang jauh. seakan hutan memiliki taring tajam yang siap untuk merobek langit.
Arkne:"kakak, setelah kita sampai di batu itu, kita akan melihat sebuah danau besar yang tepat berada di pinggir hutan"
oh, itu berarti aku sudah cukup dekat untuk keluar dari hutan ini. aku juga ingin segera melihat kota peradaban di dunia ini. apakah kota itu mirip dengan di Alterion ataukah berbeda?!.
Filia:"itu berarti kita akan segera keluar dari hutan, kan?!"
Arkne:"iya, tapi setelah kita keluar, kita akan memasuki wilayah Padang rumput yang di penuhi oleh monster raksasa"
Filia:"lalu, bagaimana kalian melewati wilayah itu?"
Arkne:"kami cukup beruntung karena tidak menemukan monster pemakan daging. kami juga mengikuti gerombolan monster bison supaya terhindar dari pemangsa"
itu cara yang cukup cerdas. monster bison berukuran sangat besar, mereka juga sering berkumpul untuk menghindari berbagai jenis pemangsa yang ada di Padang rumput. karena animanids berukuran jauh lebih kecil daripada mereka, mereka tidak akan menyerang makhluk yang tidak dapat membahayakan kehidupan mereka. paling-paling mereka hanya akan di anggap seperti serangga yang berjalan bersama. lagi pula mereka bisa menginjak para animanids itu sampai menjadi bubur daging, jika di anggap membahayakan.
perlu di ketahui, monster bison berukuran sangat besar. mereka setinggi lebih dari lima meter dengan perisai kulit yang kuat dan tebal. bahkan mereka terkenal karena memiliki pertahanan yang dua kali lebih tinggi daripada tank di Tier yang sama, tapi mereka tentunya jauh lebih baik daripada tank dengan tingkat yang sama karena HP monster jauh lebih tinggi daripada pemain.
sangat wajar monster sebesar itu ada di Padang rumput. Padang rumput adalah rumah bagi segala monster raksasa. mereka bisa hidup di Padang rumput dengan tubuh raksasa mereka dan bergerak dengan bebas tanpa terhalang oleh pepohonan. karena itulah, Padang rumput menjadi tempat grinding terbaik saat masih di dalam game. tapi dengan syarat, pemain memiliki kekuatan yang memadai atau mereka akan mati dengan cepat. itu karena jika monster di Padang rumput itu besar, mereka juga akan memiliki predator yang tidak kalah besar.
aku segera bergerak dengan cepat ke arah batu menjulang itu tanpa menunggu lebih lama. aku melompat di antara cabang-cabang pohon raksasa dengan Arkne di punggungku. melihat dari dekat, ternyata batu ini jauh lebih besar daripada yang aku harapkan. batu ini sangat padat, pantas saja bisa berdiri dengan bentuk seperti itu.
Arkne:"kak, apa kita akan berhenti disini sebentar?"
Filia:"tidak, kita lanjutkan saja"
aku langsung melesat dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. meskipun aku tidak merasakan monster yang kuat di sekitar sana, tapi tidak ada gunanya membuang lebih banyak waktu di tempat seperti itu.
setelah perjalanan yang agak panjang, akhirnya aku bisa melihat sebuah danau besar. aku berhenti di sebuah dahan pohon yang besar dan memandangi danau itu. danau itu sangat luas, lebih dari 1.200 km². karena airnya memantulkan cahaya merah, danau itu terlihat seperti sebuah genangan darah raksasa yang menyeramkan.
meskipun terlihat menyeramkan, tapi menurut Arkne, danau itu memiliki air yang layak di minum. bahkan tempat itu merupakan sumber air utama bagi semua makhluk hidup di sekitar hutan dan Padang rumput karena danau itu tepat di perbatasan antara hutan dan Padang rumput.
Arkne mengetahui hal itu kerena saat mereka melewati tempat ini, mereka sempat mengisi pasokan air di danau ini.
Filia:"sepertinya kita tidak boleh membuang waktu lebih banyak lagi di tempat ini. kita harus segera pergi dari sini"
Arkne:"kenapa?"
Filia:"karena ini adalah sumber air utama di Padang rumput dan hutan, jadi dapat di pastikan bahwa kebanyakan monster akan berkumpul di tempat ini untuk minum. jadi, kesempatan kita untuk menjumpai monster kuat akan lebih besar"
Arkne:"jadi kerena itu orang-orang yang bersamaku dulu hanya menyuruh ibu dan aku untuk mengambil air sementara mereka menunggu di tempat yang jauh sambil bersembunyi?!"
aku mendengar nada gadis itu menjadi kesal setelah menyebutkan hal itu. sepertinya dia dan ibunya di perlakukan dengan tidak adil di kelompok itu. bahkan di manapun tempatnya, bajingan seperti itu akan selalu ada. mereka bersedia mengorbankan orang lain demi diri mereka sendiri. yah, tapi apa yang bisa aku lakukan?!, aku juga memahami, dimana ada cahaya, disitu akan ada bayangan. jadi tidak ada hal yang benar-benar bersih di dunia fana ini.
aku melompat dari atas pohon dan turun menuju ke sekitar pinggir danau. meskipun aku terburu-buru untuk melewati danau ini, tapi aku tidak dapat memikirkan cara yang tepat untuk menyeberanginya. jika aku mengitari di sekitar danau, selain jaraknya yang jauh, di sekitar danau pasti akan terdapat lebih banyak monster.
tapi, jika aku menyeberangi danau secara langsung, aku tidak tahu seberapa dalam, dan makhluk apa yang menanti di kedalaman danau. jika aku menggunakan kekutan mental untuk terbang di atas danau, aku takut jika tiba-tiba akan ada monster terbang yang menyerang secara tiba-tiba, apa lagi di atas danau adalah ruang terbuka tanpa adanya dahan yang menghalangi pandangan monster terbang, dan juga mereka dapat dengan leluasa menyambar mangsanya tanpa hambatan. jika aku melakukan pertarungan di udara, aku akan menghabiskan sebagian besar kekuatan mental ku sebelum mampu menyeberangi ke sisi lain dari danau. lagi pula danau itu juga sangat luas, juga perlu di ketahui, penggunaan kekuatan mental di dunia ini dua kali lipat lebih besar di banding benua utama.
aku masih bingung bagaimana para animanids yang lemah itu bisa menyeberangi danau itu. mungkin aku bisa mengadopsi cara mereka untuk menyeberangi tempat ini.
Filia:"Arkne, bagaimana kalian menyeberangi danau ini?"
Arkne:"kami mengitari danau untuk melewatinya"
Filia:"apa kalian tidak bertemu monster?"
aku tidak menduga bahwa mereka benar-benar melewati pinggir danau untuk melaluinya. apakah mereka ingin menjadi santapan monster?.
Arkne:'tidak, kami menggunakan sebuah tanaman yang di benci oleh monster, tapi kami bertemu Terror bat yang sedang dalam masa perkawinan, jadi dia marah dan menyerang kelompok kami"
jadi seperti itu, aku tidak heran jika penduduk asli dunia ini akan memiliki cara tersendiri untuk melintasi hutan.
Arkne:"apa kamu tahu tempat mendapatkan tanaman itu?"
Arkne:"saya tidak tahu. bahkan saya tidak pernah mengetahui tanaman macam apa itu. saat mereka memberikannya, itu sudah di tumbuk dan dioleskan ke tubuh kami. jadi saya tidak mengetahuinya"
Filia:"yah, tidak apa-apa. kita pasti akan menemukan cara lain untuk menyeberangi danau ini"
meskipun cara yang di katakan Arkne tidak dapat di lakukan, bukan berarti tidak akan ada cara yang lain. jika memang aku tidak menemukan caranya, maka dengan terpaksa, aku akan mengitari danau ini. meskipun aku bertemu dengan monster Tier empat, aku yakin dapat membunuhnya, meskipun itu akan melelahkan kekuatan mentalku. setelah kekuatan mentalku terkuras, aku perlu untuk menyembuhkan diri untuk sementara waktu.
dan hal itu akan menunda perjalanan kami selama beberapa hari. selama itu, aku bahkan tidak yakin jika monster itu masih ada di kota. lagi pula semua penduduk yang selamat sudah mengungsi, jadi tidak ada yang bisa menjadi sumber makanan bagi monster itu. langkah seperti ini adalah langkah yang sangat tidak ingin aku lakukan, tapi jika memang hanya ini caranya, maka kurasa tidak masalah untuk sedikit berkorban waktu... aku harap monster itu masih ada di kota.
setelah mengambil keputusan, aku ingin segera melakukannya, tapi tiba-tiba aku mendengar suara yang menggema di pikiranku.
"*tuan, apakah tuan melupakan kami?!"
(akhir dari chapter ini*)
selamat membaca. jika kurang puas dengan ceritanya, kalian bisa menuliskan saran di kolom komentar supaya aku dapat membuat cerita yang lebih memuaskan di masa yang akan datang....
terima kasih karena telah membaca, dan see you next time ;)