Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 213: Tiba.



Di depan bidang pandangku, aku melihat sebuah daratan besar bertingkat dua yang melayang di langit. Di sekitar daratan itu terdapat pulau-pulau kecil yang di hubungkan ke daratan besar oleh akar pohon.


Antara daratan besar pertama dan kedua juga di hubungkan melalui akar-akar yang saling terkait. Di atas pulau terdapat hutan melingkar seperti cincin dan di tengahnya terdapat sebuah kota yang sangat luas tanpa aku bisa melihat ujungnya.


Sebuah istana megah berwarna putih mutiara berdiri dengan kokoh di tengah daratan, menjulang tinggi seperti gunung. Saat kapal semakin mendekati daratan melayang itu, aku bisa melihat ukurannya dengan jelas.


Besar, sangat besar. Seakan seluruh langit di tutupi oleh benua yang melayang itu. Kapal terus maju dan terbang di atas benua terapung. Saking luasnya daratan ini, aku sampai tidak bisa melihat ujungnya.


Semua orang terkesima dengan pemandangan yang mereka lihat saat ini. Kota yang sangat luas dengan bangunan-bangunan tinggi yang menjulang ke langit. Setiap bangunan berkilau seperti mutiara, membuat kota terlihat sangat indah.


Dari jendela kapal luar angkasa, aku bisa melihat tembok-tembok kota berlapis yang sangat besar, membatasi setiap bagian kota.


Aku terlalu sibuk melihat pemandangan di bawah sampai-sampai aku tidak sadar bahwa kapal yang membawaku sudah berhenti. Kapal terparkir di sebuah bangunan besar yang melayang di udara di atas kota. Bangunan ini melingkar seperti mahkota yang melayang di atas benua terbang.


Saat turun dari kapal udara, aku mendongak untuk melihat atap bangunan ini. Bangunan ini terlihat sangat kokoh dengan dinding abu-abu. Selain kapal kami, tiga kapal udara lainnya juga terparkir di peron pendaratan yang bersebelahan dengan kami.


"Bangunan ini bisa melayang di udara!."


"Luar biasa...!"


"Apa yang mengagumkan dari bangunan yang melayang di udara?. Bukankah kalian juga melihat sebuah daratan luas yang melayang di udara."


"Ahh... Kamu benar."


Semua orang berseru dan melihat sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. Hal-hal seperti ini tidak pernah di jumpai sebelumnya, jadi wajar jika kami bersemangat.


Firias:"Bangunan ini adalah dermaga udara. Setiap kapal udara yang mendarat akan mendarat di tempat ini. Hanya kapal perang yang tidak mendarat di dermaga udara ini."


"Jadi seperti itu..."


"Instruktur, kapan kita akan pergi ke akademi?."


Firias:"Seharusnya akan ada jemputan sebentar lagi, jadi kita tunggu saja."


Yang berbicara adalah seorang gadis berambut pirang panjang bergelombang dengan mata biru. Wajahnya cantik dan halus dengan nuansa bangsawan yang kental. Aku tahu dia. Dia adalah putri ketiga dari Duke Lambrugh, Aqila Del Lambrugh.


"Saya juga."


"Saya juga. Kakak saya bilang bahwa dia mau menjemput saya."


"..."


Anak-anak lain yang juga akan di jemput oleh anggota keluarga mereka yang telah pergi ke akademi terlebih dahulu, juga segera mengikuti nona Aqila untuk memberitahu instruktur Firias.


Firias:"Tidak apa-apa. Kalian juga bisa menunggu mereka."


Beberapa saat kemudian, aku melihat bintik-bintik hitam dari kejauhan yang semakin membesar menuju ke arah kami. Saat bintik-bintik itu menjadi jelas, ada beberapa benda terbang yang menuju ke arah kami dengan cepat.


Benda-benda terbang itu berhenti tepat di depan kami. Perlahan, pintu dari benda-benda terbang itu terbuka. Dari dalam muncul anak-anak muda yang seusia dengan kami. Begitu keluar, mereka tersenyum dan melambaikan tangannya lalu datang ke arah kami.


"Itu kakak. Jemputanku sudah datang."


"Itu saudaraku..."


Aku melihat nona Aqila yang tidak berbicara di sebelahku. Matanya menuju ke suatu arah dengan kilau yang bersemangat. Saat aku mengikuti bidang pandangnya, aku melihat seorang anak laki-laki tampan dengan wajah yang tenang dan senyum lembut.


Anak laki-laki itu juga melihat ke arah nona Aqila. Dia melangkah perlahan ke arah kami dengan langkah yang mantap.


Aqila:"Lusian."


(Akhir dari chapter ini.)


Chapter kali ini akan sangat pendek karena aku harus segera pergi memperbaiki ponselku. Jadi aku mungkin tidak akan bisa update untuk beberapa waktu. Maafkan aku semuanya... Setelah ponselku selesai di perbaiki, aku akan segera memperpanjang chapter ini.