Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 81: Divine Weapon



jauh dari harapanku. sebelum debu mengendap, sesosok hitam keluar dari debu dengan keadaan yang sangat tragis. saking tragisnya, aku bahkan tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. tubuhnya sudah hancur berkeping-keping, dan hanya menyisakan sepertiga yang masih ada, termasuk kepala hingga separuh dada. bagian tubuh yang tersisa pun dalam keadaan rusak parah. luka bakar yang menjijikkan dan kulit serta daging yang terbakar, penampilannya mirip dengan zombi yang hanya sisa kepala serta setengah dada.


vitalitas yang sangat mengerikan. sebutan Demigod bukan hanya hisapan jempol belakang. dengan vitalitas seperti itu, akan sangat sulit atau bahkan hampir mustahil untuk membunuhnya. tapi saat ini, keadaanya sudah sangat lemah. aku yakin jika Arkne dan Upirina berkerjasama, mereka mampu membunuh monster itu.


Filia:"aku serahkan kepada kalian"


"sesuai keinginan anda Yang Mulia"


sebelum kembali ke pertempuran, Arkne memberikan instruksi kepada Cerberus untuk menjagaku saat sedang melakukan pemulihan. aku melihat punggung mereka berdua yang melesat dan bergerak cepat menuju monster itu. monster itu dapat bertahan dari serangan seperti itu, selain karena vitalitas yang kuat, pertahanan terakhir yang di bentuk nampaknya berhasil menahan sebagian besar dampak serangan.


aku memperhatikan bahwa pedang di tangan Arkne kembali melayang di belakang punggungnya dan ditangannya telah memegang sebuah tombak emas dengan ukiran yang rumit dan indah.


saat Arkne menuju ke monster itu, dia mengacungkan ujung tombak untuk menikam ke tubuh monster itu. kecepatannya sangat mencengangkan, tombak emas itu mengeluarkan pita cahaya emas seperti ekor komet. setelah dirasa cukup dekat, Arkne melemparkan tombak itu seperti melempar lembing ke arah Soul Eater. saat tombak dilemparkan, aura emas menyelimutinya dan menjelma menjadi sesosok naga emas panjang yang mengaum.


Souuu...!!!


kecepatan tombak itu sangat cepat, saking cepatnya, tombak itu membelah udara dan menimbulkan suara nyaring yang menggema. entah karena terlalu lemah atau apa, monster itu tidak bereaksi dan tombak tepat mengenainya.


Bang...!!


tubuhnya langsung tertembus dan karena momentum yang tersisa, tubuhnya terlempar dan ditancapkan ke tanah dengan keras. tidak berhenti sampai disitu, tombak yang telah tertancap mengeluarkan banyak rantai emas ilusi dengan ujung tajam yang menusuk dan mengikat tubuh Soul Eater dengan erat.


graoo..


menerima serangan seperti itu, Soul Eater meraung keras. kulit dan dagingnya yang menyentuh rantai itu mengeluarkan asap dan mendesis seperti diikat oleh rantai besi yang panas. monster itu terus meronta di tanah. menjerit dan mengaum karena kesakitan.


melihat kondisi yang nampaknya sudah terkendali, aku memfokuskan diri untuk mengembalikan kekuatan mentalku. aku menutup mata dan merasakan lingkungan sekitar. tentu saja itu tidak akan mengembalikan semua kekuatanku, tapi setidaknya aku bisa menenangkan diri.


tidak, jika aku hanya seperti ini, pemulihan ku akan terlalu lambat. aku membuka mata dan melihat Arkne dan Upirina yang membombardir Soul Eater dengan berbagai serangan.


Filia:"Cerberus, aku akan kembali ke Aether dan memulihkan diri"


Ignis:"Baik tuan"


aku langsung berteleportasi kembali kedalam Aether. aku muncul di geladak dan di sambut oleh kesatria ku dan orang-orang nona Aneria. nona Aneria datang tak lama setelahnya dengan wajah yang khawatir. apakah dia mengkhawatirkan ku!?.


dia langsung maju dan memegang bahuku. dengan wajah yang menunjukkan ekspresi menyesal. aku tidak tahu apa yang membuatnya memiliki ekspresi seperti itu.


Aneria:"n, nona Filia. t, tangan anda..."


Filia:"ya, ini sangat menyakitkan"


ini memang sangat menyakitkan. selama ini aku menggunakan sebagian energi mentalku untuk menahan sebagian besar rasa sakitnya. jika aku tidak melakukan itu, aku yakin bahwa mungkin saja aku akan kehilangan kesadaran karena rasa sakitnya.


Filia:"maaf nona Aneria, saya harus segera menyembuhkan diri"


aku tidak membuang banyak kata lagi dan langsung menuju ke ruang takhta. meskipun monster itu terlihat lemah, tapi aku tahu bahwa monster Tier lima akan sangat sulit untuk dibunuh. apalagi monster ini jauh berbeda dengan saat masih di Alterion, saat ini mereka tidak lagi dibatasi oleh sistem. mereka dapat memiliki kecerdasan yang lebih fleksibel daripada saat di Alterion. dengan keadaan seperti itu, itu membuat banyak faktor yang tidak pasti.


sesampainya di ruang takhta, aku langsung duduk di singgasana. singgasana ini dapat mempercepat kemampuan pemulihan pada pemiliknya. meskipun ini bukanlah fungsi utamanya, tapi kemampuan ini sudah sangat kuat. aku melihat tubuhku yang sudah sangat ilusif, dan bahkan hampir menghilang. aku benar-benar kehabisan energi mental saat melawan monster itu.


apalagi saat tubuhku adalah tubuh mental, melawan Soul Eater adalah kelemahan terbesar bagi tubuh mental. itu karena setiap serangan mereka dapat melemahkan energi mental dan menyerapnya. inilah kenapa hanya menggunakan beberapa item saja sudah menghabiskan sebagian besar energi mentalku. jika itu normal, seharusnya aku tidak mengalami kelelahan tubuh mental saat menggunakan Armor of the Twelve Constellations bahkan dengan penggunaan penuh.


aku menutup mata dan merasakan sensasi hangat mengalir ke seluruh tubuhku. aku merasa bahwa energi mentalku mulai terisi sedikit demi sedikit. dengan kecepatan ini, setidaknya akan memakan waktu sekitar lima menit untuk memulihkan semuanya. karena energi mentalku semakin terisi, rasa sakit di lenganku juga semakin berkurang. meskipun sakitnya berkurang, tapi tidak akan mungkin untuk mengembalikan lenganku yang hilang. jika ini adalah tubuh fisik, maka aku masih bisa menggunakan sihir, ramuan, atau item untuk memulihkannya, tapi jika ini adalah tubuh mental yang dihancurkan oleh serangan Soul Eater, maka akan sangat sulit untuk menyembuhkannya.


....


GRAOOO...!!


sekitar tiga menit kemudian, aku mendengar auman keras lainnya dari Soul Eater. selain auman itu, aku juga merasakan aura menakutkan yang memenuhi udara. aku segera membuka mataku dan menggunakan pikiranku untuk memunculkan layar di depanku. di layar itu menunjukkan arwah abu-abu yang jumlahnya sangat banyak bergerak cepat di udara dan berkumpul kesebuah bidang tanah yang merupakan kawah ledakan.


apa yang terjadi?.


arwah itu terus berkumpul dan masuk ke dalam tanah. aku merasakan firasat buruk soal ini. bukan hanya aku, tapi di layar menunjukkan bahwa Arkne dan yang lainnya juga memiliki ekspresi bingung yang sama.


aku mengalihkan layar untuk menunjukkan kondisi Soul Eater. Soul Eater masih terbaring dengan di ikat menggunakan rantai emas ilusif. hampir seluruh tubuhnya tercabik-cabik oleh serangan terus menerus Arkne dan Upirina. saat itulah aku melihat keanehan. tubuh dari Soul Eater itu mulai meleleh dan menjadi cairan hitam seperti tinta.


ini benar-benar buruk. aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi firasatku selalu mengatakan bahwa ini bukanlah hal yang bagus.


Filia:"Kalian semua, segera mundur..!!"


aku menghubungi mereka dan memerintahkan mereka untuk mundur. aku sudah menduga ini. monster Tier lima tidak akan mati semudah itu. tanpa menunggu mereka untuk menjawab, aku langsung menteleportasi mereka secara paksa ke dalam kapal. saat mereka bertemu akan diteleportasi, rantai-rantai hitam tajam mencuat dari tanah dengan sangat cepat. rantai-rantai hitam itu berusaha meraih Arkne dan yang lainnya yang melayang di udara. sebelum rantai itu bisa menyerang mereka bertiga, mereka sudah di teleportasikan ke dalam kapal.


aku terus memperhatikan layar yang menunjukkan kondisi daratan dibawah. ratusan rantai hitam itu masih bergoyang-goyang dari dalam tanah seperti rumput yang di tiup oleh angin. di bagian arwah itu berkumpul, tanah mulai retak dan keluar sosok Soul Eater humanoid dengan wujud lengkap sempurna. apa yang terjadi, apakah itu Soul Eater kedua?. tidak, bukan itu. aku bisa merasakan bahwa energi dalam tubuhnya sama.


meskipun wujudnya sempurna, tapi dia lebih lemah. mungkin arwah-arwah itu menyembuhkannya, tapi tidak mampu seratus persen. aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. aku hanya bisa bertarung lagi dengannya. saat ini kekuatanku sudah terisi lebih dari tujuh puluh persen, aku bisa bertarung lagi. aku tidak bisa menundanya, atau monster itu akan menemukan kapal ini dan membantai semuanya. ini bukan sesuatu yang ingin aku lihat.


aku segera berdiri, mengganti armor, dan berjalan keluar. saat ini tubuhku sudah tidak lagi terlihat ilusif. aku bejalan dan melihat Arkne dan yang lainnya yang baru saja di teleportasi.


"Yang Mulia..."


mereka berteriak secara bersamaan dengan nada yang khawatir. meskipun aku ingin menjelaskannya, tapi sudah tidak ada waktu lagi.


Filia:"jangan khawatir. aku akan menggunakannya..."


tanpa membuang lebih banyak kata, aku langsung melompat dan terjun menuju ke arah monster itu. sebuah kartu hitam legam dengan garis merah darah berputar di sekitarku. di sekitarnya tidak ada cahaya seperti kartu lainnya, tapi hanya dilapisi oleh aura hitam legam yang bahkan mampu meredupkan cahaya.


aura kehancuran langsung menekan semua keberadaan yang lain. armor merah Tier Legendaris yang aku kenakan langsung meredup karena tekanan yang di berikan kartu ini. meredup bukan berarti melemah, justru ini menjadi semakin kuat, hanya saja armor legendaris ini seperti binatang yang tidak berani menyalat kepada binatang yang jauh lebih kuat.


kali ini aku tidak akan menyimpan apapun. aku akan menggunakan ini untuk membunuhnya dengan cepat.


aku terus terjun kebawah dengan cepat. saat hampir sampai di jangkauan rantai hitam, aku melambat dan berhenti di udara. kartu hitam itu berputar perlahan di atas telapak tanganku. memberikan rasa dominasi yang tidak dapat di goyahkan oleh keberadaan lain.


"manusia. kekeke... kamu akan segera mati"


tawa mengejek dan serak monster itu memberikan suara hinaan dan celaan kepadaku. apakah dia merasa bisa menang hanya karena menyembuhkan dirinya?, sungguh konyol.


monster itu mengayunkan tangannya dan rantai-rantai itu menjadi lebih panjang untuk menjangkau ku. kekuatan rantai-rantai itu jika di gabung setidaknya akan setara dengan serangan Tier lima. serangan seperti itu akan mampu menyebabkan kerusakan parah padaku dan bahkan mungkin bisa membunuhku dalam sekejap, tapi saat ini aku sedang memegang kartu ini...


ratusan rantai hitam itu berayun dan membuat suara gemerincing saat dengan cepat bergerak ke arahku. kartu yang ada di tanganku mengeluarkan riak spasial dan...


Bang... (retak)


seluruh rantai yang mencoba meraihku hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan riak spasial dari kartu hitam ini. meskipun mereka setara dengan kekuatan serangan Tier lima, tapi jika itu bergabung menjadi satu. saat mereka masih terpisah-pisah mereka akan mudah di hancurkan. ini mirip dengan pepatah soal lidi yang bergabung menjadi satu.


Filia:"sekarang aku tidak akan memberimu kesempatan lagi..«Téleia Vradia»"


kartu yang ada di tanganku mulai mengeluarkan aura cahaya hitam yang menyelubungi tubuhku..langit merah nampak berubah menjadi lebih gelap. cahaya bulan darah mulai meredup tanpa bisa di jelaskan. angin dingin yang membuat bulu kuduk merinding mulai bertiup. ini bukan angin dingin karena suhunya, tapi karena aura kengerian yang di bawa bersamanya.


hawa teror dan kengerian menyebar keseluruhan tempat. bahkan arwah-arwah yang berputar di sekitar Soul Eater tidak berani berteriak dan hanya menyusut kembali seperti tikus yang ketakutan.


sebuah sabit kematian muncul di tanganku. sabit itu memiliki dua buah bilah berwarna hitam dan bagian tajamnya berwarna merah darah. di bagian gagang terdapat tengkorak bertanduk yang memberikan kesan menakutkan.



aku memegang sabit itu dengan tanganku yang masih tersisa. di sekitar tubuhku dilapisi oleh aura merah darah dan hitam yang membentuk jubah bertudung seperti legenda Grim Reaper.


«Divine Weapon: Téleia Vradia»


meskipun belum lengkap, senjata ini sudah menimbulkan fenomena alam yang sangat besar. seluruh tempat menjadi gelap seperti malam telah tiba tanpa peringatan.


aku menatap monster itu yang juga sedang menatapku dengan wajah heran dan terkejut. sekarang meskipun aku adalah Tier Empat, tapi kekuatanku sudah menyamai Tier lima awal.


Filia:"sekarang matilah"


aura hitam pekat menyelimuti bagian bilah sabit. saat aku mengayunkannya, aura hitam itu melesat ke arah monster itu dengan cepat. mau bagaimanapun, aku tidak bisa meremehkan monster Tier lima. monster itu bereaksi cukup cepat dan membuat perisai dari arwah abu-abu seperti yang dia lakukan untuk menghadapi serangan Cerberus.


dua aura hitam dari dua bilah sabit berbenturan dengan perisai yang dibuat oleh Soul Eater. saat benturan terjadi, tidak ada gelombang kejut atau apapun. dua aura hitam itu terus melaju tanpa terhalang dan tanpa menyebabkan efek apapun, Bahakan perisai itu masih utuh tanpa tersentuh. tapi...


GRAOOO...


teriakan keras dan memilukan dari Soul Eater terdengar. perisai abu-abu menyebar dan memperlihatkan Soul Eater yang setengah perut dan dada bagian kirnya telah terpotong dan hampir membuatnya terbagi menjadi tiga bagian.


«Space Cutter»


skill yang dapat mengabaikan semua bentuk pertahanan dan memberikan 200% true damage +100% magic damage kepada lawan.


cooldown:5 menit


ini merupakan salah satu dari skill senjata ini. serangan ini adalah serangan pembunuh para tank. meskipun kuat, tapi cooldown dari skill ini terlalu lama dan tidak mungkin digunakan secara berulang dalam pertarungan.


tanpa menunggu monster itu untuk bereaksi, aku menggunakan skill selanjutnya.


«Eternal Night»


(akhir dari chapter ini)


update terlalu malam. maafkan aku, ada beberapa tugas sekolah yang mendesak, jadi aku update agak terlambat..


karena terburu-buru, jadi jika ada salah pengetikan mohon di maafkan dan beritahu aku supaya bisa segera diperbaiki.


semoga menikmati. see you next time:)