Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 131: Kisah Dewi Bulan (2)



ketiga Ogre yang tersisa langsung lari sambil mengaum ketakutan.


"apa kalian pikir bisa lari?!."


suara pelan gadis itu halus tapi memiliki makna membunuh yang kuat, seperti bisikan setan dari kedalaman neraka. gadis itu melecutkan cambuk yang masih memiliki darah di atasnya.


Bang...!!


suara keras cambuk bergema seperti Guntur di malam yang cerah. bersama dengan itu, darah di atas cambuk itu ikut terciprat ke permukaan salju. setelah gadis itu memandang sebentar cambuknya yang sudah bersih, dia melihat ke arah Ogre yang sedang melarikan diri dengan cepat ke arah hutan.


cambuk di tangannya mengeluarkan cahaya putih keemasan redup. saat cbuk di ayunkan, cambuk itu memanjang secara tidak normal. jauh lebih panjang dari yang seharusnya terlihat. bagian ujung cbuk itu bergerak seperti kepala ular beludak yang mengincar mangsanya.


di kejauhan, aku melihat bahwa ujung cambuk itu menembus jantung dua Ogre yang berlari secara bersamaan dari punggung mereka. ujung cambuk yang terlihat lembut itu menembus tubuh kuat Ogre seperti ujung tombak yang menembus kertas.


Ogre yang tersisa tidak berani menoleh dan melanjutkan larinya sambil terhuyung karena ketakutan. gadis itu melihat Ogre yang tersisa dan kembali menarik cambuknya yang memiliki berkas darah di atasnya. dia kembali membersihkan darah di cambuk itu dengan cara yang sama, lalu mengayunkan kembali cambuk itu ke arah Ogre terakhir.


cambuk itu melesat dengan cepat ke arah kegelapan hutan. saat cambuk di tarik kembali, ujung cambuk itu sudah mengikat leher Ogre yang melarikan diri itu.


aku bahkan tidak bisa melihat ke arah mana Ogre itu menghilang di kegelapan malam, tapi cambuk yang di ayunkan oleh gadis itu bisa menjerat leher Ogre dengan tepat, seakan cambuk itu memiliki mata untuk mengincar Ogre di dalam kegelapan.


Ogre itu di seret beberapa puluh meter dari gadis itu dengan cambuk yang masih menjerat lehernya.


aku melihat, gadis itu menatap Ogre yang ketakutan itu tanpa perubahan sedikitpun di wajahnya, seakan dia sedang melihat batu biasa di pinggir jalan.


bibir gadis itu sedikit terbuka dan sepertinya membisikkan sesuatu, tapi telingaku tidak cukup tajam untuk mendengar apa yang dia bisikkan. setelah sudut mulutnya sedikit terangkat, gadis itu menjentikkan tangannya dan kepala Ogre itu terbang ke udara. air mancur darah segera terbang dari lehernya setinggi beberapa meter, membasahi salju putih yang telah kacau itu dengan bunga-bunga darah yang mekar.


kepala Ogre itu jatuh ke tumpukan salju berdarah di ikuti dengan tubuhnya yang telah tidak bernyawa.


setelah melihat hasil itu untuk beberapa detik, gadis itu melangkah di udara kosong, seakan berjalan biasa di atas tanah dan datang ke arahku secara perlahan.


gadis itu berhenti di udara, beberapa meter dariku. kepingan salju yang jatuh dari pepohonan yang berkilau karena cahaya bulan, memberikan sentuhan magis pada gadis lembut yang berdiri di udara.


rambutnya yang panjang dan melambai karena angin, menunjukkan sentuhan seperti melihat seorang gadis peri kecil yang menyatu dengan salju.


di tambah, latar belakang bulan yang memberikan sentuhan suci pada armor gadis itu, bersama dengan penampilan dingin di wajahnya, gadis itu seakan adalah reinkarnasi Dewi Bulan yang turun ke dunia fana seperti yang selalu tertulis dalam buku dongeng.


gadis itu melihat sekeliling ke arah beberapa temanku yang terbaring di atas salju. akhirnya matanya jatuh pada Linze yang tidak sadarkan diri dengan darah di sudut mulutnya. karena ini musim dingin, darah di wajah dan pakaiannya telah membeku.


"Armor:«Cancel»"


"Title:«Change»"


armor gadis itu pecah menjadi ribuan cahaya putih bulan dan berkumpul kembali membentuk sesuatu seperti kartu. dengan lambaian tangannya, kartu itu menghilang entah kemana.


aku melihat bahwa setelah armor itu menghilang, pakaian gadis itu telah berganti menjadi gaun kecil berwarna putih dan kebiruan seperti kristal es, di atas gaun kecil yang lucu itu terdapat sebuah mantel bulu berwarna biru, bagian kepala gadis itu di tutupi dengan kupluk yang rajutan benang wol, serta di tangannya di lindungi menggunakan sarung tangan kecil yang hangat.


entah karena perasaanku atau apa, suasana di sekitar gadis itu menjadi sangat berubah. awalnya suasana di sekitarnya seperti memberikan ilusi bahwa dia adalah seorang ratu dingin yang mendominasi, tapi saat ini suasana di sekitarnya seperti bahwa gadis itu adalah gadis lembut dan tenang. menunjukkan bahwa gadis itu masih seorang gadis kecil, tapi tidak ada suasana ceroboh seperti gadis seusianya. sebaliknya, suasana yang dia berikan adalah gadis lembut yang tenang dan stabil seperti putri bangsawan kelas atas.


gadis itu mendarat di salju dan berjalan perlahan ke arah Linze. aku juga langsung datang dan mengangkat kepala limze.


Cliff:"Linze. oee... Linze. bangun!!"


aku mencoba untuk membangunkan Linze, tapi tidak membuahkan hasil sama sekali.


"tenang. jika kamu mengguncangnya seperti itu, dia akan mati."


aku memandang gadis yang berbicara padaku itu dengan penasaran dan bertanya tentang apa maksud yang dia katakan.


"12 servikal, pangkal torakal, dan dua lumbal yang terhubung langsung dengan servikal semuanya retak. sekaligus terdapat pendarahan di otak karena guncangan yang keras. pangkal otak dan seluruh syaraf di tulang punggung mengalami kerusakan dari berbagai tingkat. meskipun mungkin dia bisa selamat, tapi dia akan menjadi vegetatif seumur hidupnya."


aku tidak mengerti apa yang di katakan gadis itu, tapi mendengar kalimat terakhir yang dia katakan, aku tahu bahwa kondisi Linze sangat buruk.


Cliff:"apa... apa yang bisa aku lakukan sekarang..."


aku benar-benar merasa tidak berdaya saat ini. aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Linze. semenjak Alein meninggal, Linze adalah orang yang membantuku untuk merawat Milein. Linze sudah sangat banyak membantu keluarga kami dalam berbagai hal.


tapi sekarang,... saat dia seperti ini aku bahkan tidak memiliki cara untuk membantunya.


saat rasa ketidakberdayaan menerpaku, aku melihat gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Linze. di tangannya muncul cairan transparan yang mengeluarkan cahaya emas. air itu terpecah menjadi benang-benang kecil yang tak terhitung jumlahnya, dan memasuki tubuh Linze melalui pori-pori di kulitnya.


gadis itu menutup matanya dan berkonsentrasi. melihatnya seperti ini, aku tidak berani bergerak dan bersuara. bahkan aku mencoba sebaik mungkin untuk menekan nafasku dan meminimalkan gangguan sebanyak mungkin.


crak... crak...!!


tiba-tiba aku mendengar suara berderak dari tubuh Linze. suara itu seperti tulang-tulang yang bergelar dan berderak. ini bukan ilusi ku, di tanganku, aku merasakan bahwa punggung Linze menggeliat seperti ada yang bergerak di dalamnya.


di tengah malam yang sangat dingin ini, tubuh Linze mengeluarkan banyak butiran keringat, dan wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa.


jika aku tak dak tahu bahwa gadis kecil ini begitu mampu, aku kan mengira bahwa gadis ini sedang menyakiti Linze.


setelah beberapa saat, gadis itu membuka matanya. ribuan benang-benang halus yang terbuat dari air itu keluar dari tubuh Linze. tapi, kali ini benang-benang air itu berwarna hitam keunguan, dan merah cerah. seakan dinodai oleh darah.


setelah semua air di keluarkan, gadis itu melemparkan cairan berbau amis itu ke salju di sekitarnya.


"aku sudah membersihkan pendarahan dan juga menyembuhkan luka-lukanya. meskipun demikian, dia masih perlu beristirahat yang cukup untuk pemulihan."


Cliff:"t, terima kasih. terima kasih banyak."


aku berlutut dan membenamkan wajahku ke dalam salju yang dingin untuk berterima kasih kepada gadis itu.


"tidak perlu seperti ini, paman. lebih baik, paman segera mencari tempat berlindung sementara dan membawa teman-teman paman yang lainnya."


aku mengangkat kepalaku dengan penuh rasa syukur yang dalam. gadis itu nampak akan pergi, tapi segera berhenti dan memandang Linze.


huh...!


aku mendengar helaan nafas pelan dari gadis itu. aku tidak tahu apa yang dimaksud dari helaannya, tapi aku juga tidak berani bertanya.


gadis itu mengeluarkan sesuatu seperti papan kayu entah dari mana dan melemparkannya ke ruang terbuka yang cukup bersih. setelah menyentuh permukaan salju, papan kayu itu mengeluarkan cahaya yang cerah seperti siang hari.


yang lebih mengejutkan, selang beberapa saat, posisi dimana papan kayu itu berada telah berubah menjadi sebuah cottage dua lantai yang terbuat dari kayu. ukurannya cukup besar seperti sebuah rumah yang bahkan lebih besar dari milikku sendiri.


di beberapa sisi bangunan itu terdapat jendela dari kaca transparan yang harganya sangat mahal. dari jendela itu dapat di lihat pancaran cahaya kuning hangat dari dalam Cottage.


gadis itu sedikit melambai dan tubuh Linze melayang di udara mengikuti gadis itu. sebelum masuk ke dalam rumah, gadis itu berbalik menatapku.


"dua teman paman yang lain aku serahkan kepada paman."


setelah mengatakan itu, gadis itu masuk dan menghilang dari balik pintu. tentu saja aku tidak akan lambat dan menggendong Croom yang tidak sadarkan diri. aku menggendongnya dan ingin menghampiri Rule, tapi sebelum aku menyentuhnya, Rule mengangkat tangannya dan berkata dengan lemah:


Rule:"aku bisa jalan sendiri."


Rule mencoba untuk berdiri sambil menitih batang pohon di belakangnya. meskipun dia bilang untuk berjalan sendiri, aku membantunya berjalan dan membawa mereka berdua ke dalam rumah kayu itu.


sampai di dalam rumah, aku melihat ruangan yang cerah dan hangat. di dalam ruangan itu terdapat beberapa perabotan, seperti: sofa panjang dari kulit, meja kayu yang di plitur, dan berbagai macam perabotan yang lainnya.


melihat perabotan di dalamnya dan membandingkannya dengan penampilan kami yang lusuh, Rule dan aku tidak berani menyentuhnya. karena itu, aku meletakkan Croom di lantai, serta Rule juga duduk di lantai sambil bersandar di dinding.


setelah tenang, aku mendengar suara air dari lantai atas. selang beberapa saat, seorang gadis kecil yang cantik dan tenang menuruni tangga secara perlahan. dia menghampiri kami dan membawakan dua buah kotak yang di tumpuk.


"ini berisi beberapa potion yang aku buat, sementara kotak yang lain berisi peralatan mandi serta pakaian ganti."


bukan hanya itu, luka Rule dan Croom juga sembuh. setelah Croom sadar, kami bertiga pergi mengikuti petunjuk gadis itu. sampai di tempat mandi yang di tunjuk gadis itu, kami bertiga terkejut dengan penampilan mewah di dalamnya.


setelah kekacauan awal, akhirnya kami bisa menggunakan fasilitas untuk mandi dan membersihkan diri.


(kakacauan di awal yang mereka maksud adalah cara menggunakan shower. di latar cerita ini belum ada teknologi seperti itu, jadi mereka kesulitan untuk menggunakannya.)


pakaian yang di serahkan gadis itu pas dan sangat halus. awalnya kami sangat ragu untuk menggunakannya, tapi melihat pakaian usang dan kotor kami, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan pakaian itu.


setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, kami datang kembali ke ruangan luas di awal. kami melihat gadis itu duduk dan memperhatikan tas bawaan kami.


Cliff:"a, apakah anda tertarik dengan hasil buruan kami?."


aku berusaha untuk memberanikan diri untuk bertanya kepada gadis itu.


"aku tertarik pada tanduk kristal ini. bisakah paman menjualnya kepadaku?."


Rule:"tidak, tidak, tidak. jika nona, ah... Putri ini menginginkan hal ini, Putri bisa memilikinya. lagi pula kami tidak memiliki apapun untuk membalas kebaikan Putri."


panggilan Putri yang dilakukan Rule merupakan alamat kehormatan dan sanjungan. meskipun kami tidak tahu apakah gadis di depan kami ini adalah manusia, tapi kami memutuskan untuk memanggilnya sebagai Putri.


"kalau begitu aku tidak akan sopan. oh ya, Paman. sepertinya istrimu akan sadar besok."


istri?!!. setelah kebingungan sesaat, akhirnya aku mengingat Linze.


Cliff:"t, tidak...!!. Linze bukan istri saya. dia adalah rekan petualang saya."


"aku sempat mengira bahwa itu adalah istri paman. kalau begitu, aku akan meletakkan barrier untuk melindungi lantai dua. sangat tidak baik jika perempuan tidur di kelilingi oleh laki-laki yang tidak memiliki hubungan."


"untuk tidur, di lantai satu ada empat buah kamar, paman-paman ini bisa memilih sesuka hati."


setelah mengatakan itu, gadis itu perlahan berdiri dan keluar dari pintu. kami secara kolektif mengikuti gadis itu di belakangnya. gadis itu hanya berdiri di bawah langit berbintang dan mendongak untuk memandang ke serangkaian bulan di langit yang sangat cerah.


"apakah mungkin suatu saat aku bisa kembali ke rumah..."


gadis itu memandang bulan dengan rasa melankolis dan membisikkan kata-kata pertanyaan untuk dirinya sendiri.


setelah memandangi bulan, gadis itu berbalik ke arah kami bertiga sambil tersenyum manis. senyumnya seakan adalah bunga Plum yang mekar di musim dingin. memberikan pesona keindahan yang sulit untuk di lupakan.


"selamat tinggal paman semua. jika ada takdir, kita mungkin akan bertemu lagi..."


gadis itu perlahan melayang dan terbang ke arah bulan tinggi di langit.


Cliff:"tunggu...!."


gadis itu berhenti sebentar di udara dan berbalik menatap kami dengan tatapan yang penuh kebingungan.


Cliff:"b, bagaimana dengan semua ini?."


yang aku maksud adalah rumah dan semua pakaian ini. bagaimana kami bisa mengembalikannya.


"tidak apa. kalian bisa memilikinya."


gadis itu kembali terbang ke angkasa. aku sudah mencoba untuk menghentikannya, tapi gadis itu tidak menghentikan terbangnya lagi. entah karena apa, tiba-tiba awan menjadi gelap dan menutupi bulan yang cerah di langit. bayangan gadis itu menghilang tertutupi oleh awan hitam.


Rule:"Dewi telah kembali ke tempatnya."


Rule menatap arah menghilangnya gadis itu dan bergumam hingga hanya kami bertiga yang mendengarkannya. aku dan Croom diam dan menyetujui pernyataan Rule secara default.


kami tidak membahas hal itu lagi dan masuk ke dalam untuk menghindari salju yang akan segera turun.


.....


cahaya pagi ini begitu cerah, meskipun hawa dingin masih terasa tajam seperti pisau yang menembus hingga ke tulang. aku benar-benar tidak menyangka bahwa kamar yang di maksud oleh gadis itu merupakan kamar dengan kasur empuk yang sangat jarang di temui oleh orang biasa.


karena istirahat yang baik, aku merasa sangat segar setelah bangun tidur. aku pergi setelah membersihkan diri dan duduk bersama yang lain di sofa bulu. karena Linze belum terbangun, kami masih harus menunggunya.


Croom:"sambil menunggu Linze, sebaiknya kita urus dulu mayat-mayat Ogre di luar."


Rule:"ya kamu benar."


mayat yang di biarkan tanpa di urus akan mengundang karnivora yang mungkin berbahaya bagi kami, jadi kami harus segera mengurusnya. awalnya kami berencana untuk mengurusnya di malam hari, tapi siapa yang menduga setelah gadis itu pergi akan ada badai salju yang cukup kuat tadi malam. terima kasih kepada rumah kayu ini. jika tidak, kami mungkin sudah terkubur salju dalam badai semalam.


Cliff:"aku ikut."


Croom:"tidak. kamu bisa menggunakan batu api di dapur untuk membuatkan kami masakan."


mereka melangkah pergi sambil tersenyum ke arahku. yah, di antara kami bertiga, akulah yang paling baik soal memasak. lagi pula aku harus mengurus gadis kecil sendiri selama bertahun-tahun, jadi aku terbiasa untuk memasak.


tak sampai siang hari, masakan sudah selesai. yang aku masak hanyalah hidangan sederhana menggunakan daging rusa yang telah kami biru waktu itu. bersamaan dengan masakan yang sudah jadi, Rule dan Croom masuk sambil membawa sebuah kantung kain.


aku bisa menebak apa isi kantong kain itu. kantung kain itu mungkin berisi daun telinga kiri Ogre yang telah mereka potong sebagai bukti pemburuan yang harus di serahkan kepada Guild.


saat kami bertiga ingin makan siang, kami mendengar langkah kaki dari tangga yang ternyata adalah Linze yang telah sadar. kami bertiga dengan semangat menghampirinya dan ingin membantu, tapi saat kami ingin menaiki tangga, kami seperti menabrak dinding keras yang tidak terlihat.


melihat kejadian ini, Linze tahu apa yang harus di lakukan. menurut Linze itu adalah barrier tingkat rendah, jadi dia bisa melepas barrier itu sendiri.


Linze:"ini, darimana kalian mendapatkan item sihir kelas atas seperti ini?."


mata Linze berkeliaran di seluruh rumah dan bertanya kepada kami dengan nada yang terkejut.


Rule:"alat sihir kelas atas?."


Linze:"itu benar. aku pernah melihat hal yang sama dengan hal ini. itu di miliki oleh ketua serikat penyihir ibu kota. tapi, alat sihir yang dia miliki jauh, jauh lebih buruk dari ini."


Croom:"kalau begitu, benda ini pasti sangat berharga."


Linze:"berharga?!!. ini jauh dari kata berharga. menilai dari fasilitas serta nilai strategis yang dimiliki alat sihir ini, setidaknya kalian bisa menjual dengan harga 100 Continent Gold Coin, tapi meski kalian memiliki uang segitu, kalian belum tentu bisa membelinya."


kami semua terperangkap basah dengan harga itu. aku bahkan belum pernah memegang 1 Continent Gold Coin, apalagi seratus.


akhirnya kami menceritakan asal mula semua benda ini kepada Linze. tanpa banyak berfikir, Linze langsung mempercayai cerita kami. itu karena saat dia terluka, dia tahu seberapa parah luka yang dia derita, tapi setelah bangun tidur, dia tidak merasa ada yang salah dengan tubuhnya. jadi dia langsung percaya pada cerita Dewi Bulan itu.


kami langsung berkemas dan mengemasi rumah portabel ini untuk segera kembali ke kota. sampai di kota kami menyerahkan hasil buruan ke guild petualang. dengan hasil seperti itu, banyak petualang yang penasaran dengan bagaimana cara kami mengalahkan Ogre.


akhirnya kami menceritakan pertemuan kami dengan gadis Dewi Bulan. awalnya banyak yang tidak percaya dan menganggap bahwa kami melakukan omong kosong, tapi setelah seorang Magic Caster melakukan sihir khusus mereka percaya.


Magic Caster itu bisa merefleksikan ingatan orang lain menjadi seperti gambar bergerak di dinding (seperti film di bioskop). dalam gambar itu, ada siluet gadis melayang yang memiliki penampakan agak kabur tapi penuh dengan pesona. di belakang gadis itu adalah serangkaian bulan yang cerah dengan cahaya lembut menyinari gadis itu. dalam siluet bayangan wajah gadis itu terlihat mata cerah dan indah bagikan langit berbintang.


meskipun itu hanya gambar yang sebentar, tapi gambarnya begitu mulia dan cantik. bercahaya seperti Dewi yang membawa rahmat dari bulan yang agung.


akhirnya semua orang percaya bahwa kami telah bertemu dengan Dewi Bulan. kisah Dewi Bulan menyebar sangat cepat seperti api yang membakar rumput kering di musim kemarau. entah sejak kapan, saat aku kembali ke guild, banyak petualang yang masuk ke dalam hutan akan memasang liontin bulan sabit di leher mereka sebagai jimat.


(akhir dari chapter ini)


langsung beri tahu author jika menemukan kesalahan atau ketidak sesuaian apapun.


oh, benar. jika tidak terlalu sibuk, aku akan melanjutkan menulis nanti malam, tapi jangan terlalu berharap.