
"maaf nona Elen, tapi saya tidak bisa menggunakan sihir. saya belajar seni beladiri"
seorang anak laki-laki berambut coklat mengangkat tangannya dan berkata dengan lantang.
Elen:"eh?. ini aneh. seharusnya kalian sudah di bagi menjadi dua kelompok, antara Martial Art dan Magic Caster, kan?!"
"tidak. kami belum di bagi"
ya. memang akan aneh jika tidak di pisahkan. tidak semua orang bisa menggunakan sihir, pengguna sihir itu cukup langka. akan aneh jika hanya ada tes sihir, padahal banyak siswa yang tidak memiliki bakat sihir tapi berbakat dalam Martial Art. pasti seharusnya ada pembagian tes dulu, kan?.
Elen:"seharusnya sebelum masuk ke sini akan ada orang yang mencegat kalian di pintu dan membagi tes kalian"
"oee..."
tiba-tiba dari luar terdengar teriakan seseorang. kami semua menoleh ke arah asal suara dan melihat seorang lelaki tinggi berotot yang memiliki rambut coklat dan bekas luka di pipinya. meskipun dia memiliki bekas luka, tapi dengan tawanya yang tanpa bersalah, dia justru terlihat seperti paman yang baik, dan bekas luka itu melengkapi penampilannya.
"maaf, maaf. aku tadi harus pergi ke toilet sebentar"
Elen:"pantas saja. hah... bisakah setidaknya anda menjalankan tugas dengan serius?!"
"iya, iya maaf"
nampaknya itulah masalahnya kenapa kami tidak melihat seseorang yang bertanggung jawab untuk membagi kelompok siswa, karena orang yang seharusnya melakukannya sedang pergi ke toilet.
"nah semuanya. aku adalah Grams. aku akan menguji siswa yang bisa menggunakan Martian skill. jadi yang bisa menggunakan Martial Skill bisa memisahkan diri dari kelompok dan datang kemari".
aku sedikit terkejut, Grams adalah seorang kapten kesatria penjaga yang berada di bawah perintah langsung dari sang raja. menurut ibuku, dia berasal dari keluarga biasa. dia saat ini merupakan kapten dari pasukan khusus yang bertugas untuk menjaga keluarga kerajaan.
meskipun dia merupakan perwira pertama dan jauh lebih rendah daripada jabatan ibu, tapi dia dapat mengabaikan perintah dari seorang perwira tinggi demi melindungi keluarga kerajaan.
setelah kata-kata dari kapten Grams, para siswa mulai memisahkan diri dan di bagi menjadi dua kelompok. siswa yang awalnya berjumlah lebih dari tiga puluh, hanya sembilan yang bisa menggunakan sihir, tiga siswa dan enam siswi, termasuk aku dan anak perempuan yang tadi duduk di sebelahku. sekarang terbukti seberapa langkanya pengguna sihir.
anak-anak yang tidak bisa menggunakan sihir dibawa menjauh untuk pengujian mereka. ruangan ini cukup luas untuk di bagi dua, jadi kapten Grams membawa anak-anak itu ke sisi yang lain dari tempat kami, mungkin sejauh tiga-empat meter. bukankah jarak seperti itu masih agak berbahaya?!.
Elen:"pertama. Lucas. kamu bisa maju ke depan"
"baik"
seorang anak laki-laki yang terlihat bersemangat segera melangkah maju dan ingin memperlihatkan sihirnya.
Elen:"sihir apa yang bisa kamu gunakan?"
Lucas:"saya pandai dalam sihir api"
Elen:"baiklah. kamu bisa mengujinya ke sasaran yang ada di sana"
Mrs. Elen mencatat sesuatu di kertasnya lalu memerintahkan anak itu untuk menunjukkan sihirnya. anak itu berjalan mendekat ke arah sasaran hingga sekitar tiga meter dan mengeluarkan sebuah tongkat dengan permata merah di atasnya.
"wow. permata api level menengah"
"lumayan hanya untuk seorang anak pedagang"
"sepertinya orang tuanya menghabiskan banyak uang supaya anaknya bisa lulus"
aku mendengar berbagai macam kata-kata. ada yang terkejut dan kagum dengan tongkatnya, ada juga yang meremehkan dan merendahkannya. jika dilihat dari penampilannya, anak yang merendahkannya berasal dari keluarga bangsawan.
"api merah yang membara, tunjukkan padaku kengerian mu. bakar musuhku, dan ubah menjadi abu"
puff.... apa ini?. aku, aku akan mati karena tertawa. apakah harus menggunakan pose yang memalukan seperti itu?. dan apa lagi itu?, apa dia menggunakan mantra?!. oh sial, aku akan tertawa sampai mati.
oke, tahan. huh... perhatikan saja Filia, kendalikan dirimu. setelah aku menenangkan diriku sendiri, aku melihat permata yang berada di ujung tongkat itu menyala merah dan mulai berkobar dengan api. sesaat kemudian, api yang menyala di ujung tongkat itu terlempar ke arah target dan menimbulkan suara pluff... lalu padam tanpa meninggalkan bekas hangus sedikitpun.
Lucas:"eh?, kenapa tidak terbakar?. biasanya aku bisa membakar kayu"
Elen:"meskipun target yang kamu serang adalah kayu, tapi kayu itu merupakan jenis kayu yang bisa menyerap sihir. selain itu, kayu-kayu itu sudah di berikan sihir pertahanan, jadi serang saja sekuat kalian"
Mrs. Elen menjawab setelah mencatat beberapa hal di kertasnya.
Elen:"Gerard Aglerman"
"yah. akan aku tunjukkan seperti apa itu sihir api"
seorang anak yang sepertinya berasal dari keluarga bangsawan melangkah maju dengan angkuh dan berkata dengan sombong kepada anak laki-laki yang baru saja selesai melakukan tes.
dia menjulurkan tangannya ke depan dengan jarak sekitar tiga meter dari target dan mulai merapalkan mantranya.
"tombak merah yang menyala-nyala. tembus musuhku dan bakar manjadi abu"
meski aku sudah mempersiapkan diri, tapi aku masih ingin tertawa saat melihatnya. perlahan api mulai muncul di depan tangannya dan mulai membentuk kerucut yang berkobar sepanjang satu jengkal. kemudian kerucut itu meluncur dengan cepat ke arah target.
aku memperhatikan ekspresinya yang bangga dan sombong menjadi lebih sombong. apa yang perlu kamu banggakan?. bahkan sihir itu lebih lemah daripada «Fire Lance» level satu.
Elen:"selanjutnya..."
Elen terus memanggil anak-anak yang lain hingga hanya aku dan gadis pemalu ini yang tersisa. dari mereka semua ada seorang anak perempuan yang bisa menggunakan sihir air. terlalu lemah, bahkan semburan air dari mulut akan lebih kuat daripada itu. ada juga anak laki-laki yang memiliki elemen angin, tapi apakah angin sepoi-sepoi juga di anggap sihir?.
Elen: selanjutnya_"
"kakak!"
sebelum Ms. Elen mamanggil sebuah nama, ada sebuah teriakan anak kecil dengan suara yang manis. aku bisa mengenali suara itu, itu adalah Felmina yang datang bersama Sebastian dan Ilma serta Rurui. mereka menghampiriku dan memberikan hormat yang sopan.
Sebastian:"maafkan kami Mrs. Elen karena menganggu anda"
Elen:"oh, tidak masalah"
Filia:"kenapa kalian datang ke sini?"
Felmina:"tentu saja untuk melihat kakak"
saat aku sedang asik mengobrol dengan Felmina dan yang lainnya. tiba-tiba Sebas memperhatikan seorang anak yang tidak mencolok, lalu..
Sebastian:"hormat kami putri Sophia"
Sebas membungkuk dan memberi hormat kepada gadis pemalu yang tadi duduk di sebelahku. tunggu, tunggu. dia sang putri?.
benar-benar mengejutkan, aku benar-benar tidak menyangka bahwa gadis pemalu itu adalah sang putri. apa aku tadi bersikap kurang sopan padanya, ya?!. sepertinya tidak.
Filia:"o, oh.. maafkan saya atas ketidak sopanan yang telah saya lakukan. saya benar-benar tidak tahu bahwa anda adalah sang putri"
aku sedikit membungkuk dengan sopan sebagai permintaan maaf.
Sophia:"t, tidak, tidak masalah"
dia benar-benar adalah gadis yang pemalu. wajahnya mulai memerah dan panik saat semua orang membungkuk dengan sopan ke arahnya.
Elen:"ehem... mari kita lanjutkan. selanjutnya Sophia Regulus"
putri Sophia melangkah maju, tapi dia menghampiri Mrs. Elen dan mengatakan sesuatu. tiba-tiba Mrs. Elen mengeluarkan sebuah pisau lalu mengiriskannya ke jari nya sendiri. darah mulai menetes dari jari telunjuknya.
Sophia memposisikan kedua telapak tangannya di atas jari telunjuk Mrs. Elen yang terluka, dan mulai merapalkan mantra. cahaya hijau samar mulai berkedip di telapak tangannya. luka Mrs. Elen perlahan tertutup dan mulai di sembuhkan. nampaknya putri Sophia bisa menggunakan sihir penyembuhan meskipun masih di level awal.
Elen:"selanjutnya. Filia Rosefield"
Felmina:"kakak semangat!"
Filia:"terima kasih"
aku segera maju beberapa langkah ke depan, berjarak sekitar lima meter dengan target. aku masih memikirkan sihir apa yang ingin aku gunakan. baiklah, sudah di putuskan. aku akan menggunakan sihir yang lemah saja. yang akan aku gunakan adalah sihir api «Flame Lance» yang merupakan evolusi dari «Fire Lance».
Flame Lance. sihir kelas menengah ber elemen api. apabila sihir ini mengenai target, dia akan memberikan kerusakan sebesar (2000 magic damage + 1500 burst damage) dan memberikan kerusakan 1300 burst damege ke area sekitar.
Filia:"apa tidak masalah jika saya menggunakan sihir yang sedikit lebih kuat?"
aku harus memastikannya dulu kan. aku tidak ingin meledakkan tempat ini.
Elen:"tidak masalah. dinding dan lantai di tempat ini sudah di perkuat menggunakan sihir pertahanan, jadi santai saja"
baiklah jika Mrs. Elen mengatakannya. aku bisa tenang dengan menggunakan sihirku. aku mengulurkan tanganku ke depan, tapi telapak tanganku menghadap ke atas, bukan menghadap ke target.
"apakah dia mau membakar atap?"
"diam!. jangan asal bicara, dia bukan sesuatu yang rakyat jelata seperti kalian bisa singgung"
ada percakapan di belakangku, tapi apa peduliku. aku hanya fokus dengan sihirku sendiri.
perbandingan 1:4. dimana satu molekul mana internal akan memandu empat mana eksternal dan menciptakan fenomena magis. setara dengan satu kali usaha dengan empat kali hasil. tapi semakin besar perbandingannya, maka sihir yang di keluarkan akan semakin lemah. 1:4 akan lebih lemah daripada 1:2.
aku merasakan mana hangat yang mengalir ke telapak tangan ku, lalu sebarkan dan tarik mana eksternal. perlahan kobaran api ungu kehitaman mulai berkobar dan memadat membentuk kerucut tajam. meskipun tanganku menghadap ke atas, tapi arah tajam dari kerucut api itu menghadap ke target.
"tanpa mantra?"
"apa-apaan ini?"
"aku belum pernah melihat sihir seperti ini"
Elen:"suhunya semakin tinggi «magic barrier»"
"aku masih merasakan kepanasan"
Elen:"t, tunggu. nona_"
Filia:"pergi!"
setelah perintah aku ucapkan, tombak api ungu itu menyeret ekor seperti komet di belakangnya dan dengan cepat melesat ke arah target. kurang dari satu detik menempuh jarak sekitar lima meter. bisa di bayangkan kecepatannya.
*BANG...!!!
ahhh*.....!!
sesaat setelah tombak api menyentuh target, suara ledakan keras bergema bersama teriakan beberapa orang. debu dan asap mengepul ke udara, serpihan batu dan puing bangunan terlempar ke udara, dan gelombang kejut mengguncang tanah.
banyak serpihan batu dan debu yang mengarah ke padaku, tapi sebelum pecahan puing itu mengenaiku, mereka sudah di blokir oleh layar cahaya transparan di depanku. ini merupakan pasif skill yang dimiliki oleh semua pemain yang akan mencegah damage dari skill sendiri.
itulah kenapa aku tidak merasakan panas saat menggunakan sihir api. itu karena perisai cahaya ini yang mendistorsi Caster supaya tidak terkena damage dari skill miliknya sendiri.
bukankah tidak lucu saat kamu menggunakan sihir api kemudian kamu membakar tanganmu sendiri sebelum menggunakannya untuk menyerang musuh!.
asap dan debu mulai mengendap dan yang aku lihat adalah sebuah kekacauan. dinding dan lantai marmer di sekitar target menghilang, digantikan dengan lubang besar seperti kawah meteor di tanah yang memanjang keluar dan merusak taman yang ada di balik dinding, menciptakan parit sepanjang 3-4 meter, dan dinding yang kokoh sudah menjadi puing.
i, ini, ini bukan salahku. aku sudah mendapatkan izin kan?. t, tidak, tidak, aku tidak bersalah dalam hal ini. bukankah mereka sudah memperkuat bangunan ini dengan sihir?!.
aku hanya menatap sisa-sisa kehancuran itu dengan bodoh.
kurasa aku akan mendapatkan masalah lagi kali ini...
(akhir dari chapter ini)