
Perjalanan menuju ke kota, ah... tidak, sekarang itu bukan kota, itu adalah bekas kota Gerbang iblis, pergi ke sana akan memakan waktu yang cukup lama, tapi dengan kapal udara Kekaisaran Xuan Ming yang lebih canggih, kami dapat tiba jauh lebih cepat.
Saat armada hampir tiba, aku sudah bisa melihat tanah berpasir tandus yang merupakan bekas kota Gerbang iblis dari sela-sela jendela kapal. Tak jauh, pandanganku jatuh pada banyak deretan tenda-tenda yang di dirikan sekitar 500 meter dari pinggir ladang pasir. Tenda-tenda itu merupakan tenda bagi para prajurit infanteri yang sudah tiba terlebih dahulu. Kapal udara mendarat dengan jarak yang agak jauh dari deretan tenda.
Mungkin mereka menganggap ku sebagai tahanan, jadi mereka tidak mengizinkanku untuk turun dari kapal udara.
Lusi:"Yang Mulia, haruskah kita melumpuhkan penjaga itu dan melarikan diri?."
Lusi yang di tahan di kamar kapal bersamaku berkata. Hanya Lusi yang sebagai pelayan ku yang di tahan bersama. Untuk kesatria bawahan ku yang lain, mereka di tahan di kapal yang berbeda denganku. Ini semua untuk mencegah adanya perlawanan dan memperkecil kemungkinan ku untuk melarikan diri.
Aku memikirkan kata-kata Lusi sesaat dan menimbang beberapa kemungkinan. Memang mungkin untuk melakukan itu, bahkan akan sangat mudah. Lagi pula kami hanya di tahan di dalam kamar, bukan di jeruji besi.
Aneria:"Tidak. Kita masih tidak melakukannya. Kita mungkin bisa melarikan diri dari kapal ini, tapi setelah itu bagaimana kita akan melewati tenda-tenda prajurit itu?."
Jika itu hanya sepuluh atau lebih prajurit, aku dan Lusi bisa melewatinya, tapi ini ada lima ratus ribu prajurit, bagaimana aku bisa melakukannya?!.
Lusi:"Tapi jika kita tidak segera melarikan diri, kita mungkin akan mati bersama para pengkhianat itu. Sihir dari orang-orang Moon Palace itu bisa memusnahkan seluruh armada hanya dengan satu mantra. Saya khawatir jika kita akan terlibat dalam serangan seperti itu."
Aku bisa memahami perasaan Lusi saat ini. Ini memang hal yang mungkin bisa terjadi, bahkan kemungkinannya sangat besar. Meskipun demikian, aku masih menggelengkan kepala. Aku bisa melihat ekspresi bingung Lusi yang menatapku.
Aneria:"Tidak Lusi, itu tidak akan terjadi. Yang Mulia Filia tidak akan melakukan hal yang dangkal seperti itu. Aku yakin bahwa Yang Mulia telah menyiapkan rencana untuk kita."
Lusi:"Kenapa, kenapa dia mau melakukan hal itu?."
Wajar jika Lusi berfikir seperti itu. Yang Mulia Filia adalah orang yang sangat kuat, memiliki tentara yang setia, memiliki kekuasaan dan kekayaan yang tidak ada bandingannya dengan kami apa lagi yang di inginkan olehnya dari makhluk lemah seperti kami saat dia sudah memiliki segalanya?!. Itu memang pemikiran yang masuk akal, tapi... masih ada satu hal yang bisa aku lakukan dan di butuhkan oleh Yang Mulia Filia.
Aneria:"Ya, kita tidak memiliki apapun yang bisa memuaskan Yang Mulia, tapi kita masih memiliki kegunaan bagi Yang Mulia."
Lusi:"Apa itu?."
Aneria:"Stabilitas!."
Lusi:"!"
"Tepat sekali, itulah yang diinginkan oleh Yang Mulia."
Saat aku akan menjelaskan lebih lanjut kepada Lusi, tiba-tiba ada suara yang terdengar di telingaku dan Lusi. Kami berdua mendongak dan melihat sekeliling, tapi tidak menjumpai siapapun atau apapun yang menimbulkan suara itu.
Kami berdua saling memandang dan melihat kebingungan satu sama lain. Saat aku ingin menyerah memikirkan siapa yang membuat suara itu, aku melihat sebuah asal hitam yang melayang dan akhirnya berkumpul membentuk sebuah sosok.
Sosok itu berupa seorang wanita tinggi (1,8m) dengan telinga panjang dan runcing. Di memiliki mata emas dengan sklera merah. Kulit wanita itu berwarna abu-abu keunguan yang aneh, tapi meskipun demikian, wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik yang sangat jarang untuk di temui.
Dengan mata tajam burung Phoenix yang sangat cantik yang menambah daya keanggunan, tapi juga menambahkan sedikit rasa kejam pada kilatan matanya.
Melihatnya, aku merasakan getaran di hatiku. Aku tidak tahu perasaan macam apa ini, Apakah ini takut, hormat, atau perasaan yang lain, aku tidak mengerti. Aku hanya bisa menatapnya berjalan perlahan ke arahku sambil tersenyum dengan memperlihatkan taring kecil di sudut mulutnya.
"Aku datang untuk memberi tahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya."
Seperti yang aku duga bahwa Yang Mulia akan menyiapkan rencana untukku.
Aneria:"Yang Mulia ini, tolong katakan."
Aku tidak tahu siapa dia, tapi dari kilau dingin di matanya serta aura mencekam yang ia pancarkan, aku tahu bahwa dia sudah mengambil banyak nyawa dengan tangannya. Bagaimana aku tahu?, pengalaman di Medan perang selama bertahun-tahun telah mengajariku. Bertemu dengan sosok seperti ini, aku hanya bisa memasang sikap yang sangat rendah. Aku bisa memastikan bahwa jika aku memasang sikap yang tidak memuaskannya, dia akan langsung membunuhku.
"Tidak banyak..."
Singkatnya, wanita itu hanya mengatakan hasil dari rencana Yang Mulia Filia dan memintaku untuk berimprovisasi dengan apa yang akan terjadi. Tidak peduli bagaimana caraku melakukannya, Yang Mulia hanya ingin supaya hasilnya sama seperti apa yang dia rencanakan.
Yang Mulia hanya menginginkan supaya orang-orang yang penting dalam perang ini untuk tidak terbunuh. Yang Mulia Filia hanya memberiku sebuah tugas untuk menyatukan mereka semua dalam satu kapal. Memang tugas ini terdengar mudah, tapi karena mereka adalah bangsawan dari negara yang berbeda dan memiliki konflik, akan sulit untuk menyatukan mereka dalam satu kapal, itu karena mereka tidak pernah saling mempercayai, tapi mereka saling mewaspadai.
Lusi:"Yang Mulia, apakah Yang Mulia Filia akan menggunakan mereka dengan tujuan yang sama seperti menggunakan anda?."
Sebenarnya kata-kata Lusi sedikit menyakitiku. Aku tahu bahwa aku hanya sebuah alat, tapi apakah dia harus mengatakannya secara terang-terangan?!. Ya sudah lah, lagi pula aku memang di gunakan oleh mereka. Tapi, apa yang bisa aku lakukan, dimana di dunia ini yang lemah adalah makanan yang kuat, kelemahan adalah dosa asal, jadi tidak ada sanggahan untuk kata-kata Lusi.
Aneria:"Tidak, Yang Mulia Filia tidak akan menggunakan mereka dengan tujuan yang sama."
Lusi:"Kenapa, bukankah mereka juga orang yang berkuasa?."
Aneria:"Alasannya cukup sederhana, yaitu: Kesetiaan. Mungkin awalnya aku merasa tidak nyaman di gunakan oleh mereka, tapi setelah melihat kekuatan Moon Palace, aku sadar, bahwa cara yang paling tepat untuk bertahan hidup dan melindungi sesuatu yang berharga bagi kita adalah patuh tanpa perlawanan, tapi mereka berbeda, mereka bermaksud menentang Yang Mulia sejak awal, jadi Yang Mulia tidak akan menggunakan orang seperti mereka untuk menjadi orangnya. Mungkin, mereka hanya akan menjadi alat sekali pakai."
Aku menarik nafas sebentar dan memikirkan keadaan saat ini di Dragonis Kingdom yang terlihat damai. Siapa yang tidak tahu bahwa meskipun terlihat damai di luar, tapi penuh kekacauan di dalamnya. Banyak bangsawan yang tidak mempedulikan keadaan rakyatnya, mereka sibuk bermain intrik demi kekuasaan dan keuntungan.
Aneria:"Entah kenapa, jika aku mengikuti Yang Mulia Filia, aku merasa bahwa keadaan Dragonis Kingdom akan menjadi lebih baik, setidaknya tidak akan seburuk saat ini."
Aku dan Lusi berbicara untuk waktu yang lama, hingga pintu kamar di ketuk dari luar. Saat Lusi membukakan pintu, berdiri empat orang di luar pintu, satu adalah pembawa makanan, dua adalah prajurit pengawal, dan yang terakhir adalah Phirios yang menatapku dengan senyum menjijikkannya itu.
Phirios melangkah maju dan menghampiriku yang sedang duduk di tempat tidur. Melihat hal itu, Lusi segera bergerak dan menghalangi di depanku. Prajurit yang mengawal Phirios juga bergerak cepat, melihat Lusi melakukan tindakan, mereka langsung berdiri di antara Lusi dan Phirios sambil menodongkan tombak mereka ke arah Lusi. Di lihat dari sikap mereka, mereka sudah di latih khusus untuk melindungi keluarga kerajaan.
Phirios:"Mundur!."
Mendengar perintah Phirios, kedua prajurit itu mundur kembali, tapi mereka tidak pernah mengendurkan kewaspadaan mereka. Melihat bahwa Phirios tidak akan bersikap kasar, aku juga memanggil Lusi dan menyuruhnya mundur.
Aneria:"Oh... Bisakah saya tahu kenapa pangeran yang terhormat mau mengunjungi saya?."
Wajah Phirios sedikit berubah, tapi dia terlihat menahan ekspresinya supaya tidak terlalu terpengaruh.
Phirios:"Aku akan mengabaikan nada bicaramu. Sekarang, kamu harus memberi tahuku, apa rahasia dari reruntuhan kuno itu!."
Aku sudah menduga akan hal itu. Sejak awal, kekaisaran Xuan Ming memang mengincar reruntuhan itu, tapi mereka tidak mau menjadi orang yang memulai karena mereka tidak ingin mengalami kerugian. Mereka biasanya menghasut Astium Union untuk memulai dengan kerajaan ku dan kekaisaran Xuan Ming akan menjadi nelayan yang mengambil keuntungan.
Selain mereka takut menderita kerugian, mereka juga belum mengetahui apakah berperang demi sebuah reruntuhan itu layak. Jadi, mereka mencoba mencari tahu keuntungan macam apa yang bisa mereka dapatkan. Jika mereka bisa mendapatkan keuntungan yang lebih, mereka pasti tidak akan ragu untuk menggerakkan pasukannya.
Mereka mencoba mencari tahu rahasia apa yang ada di reruntuhan melalui berbagai cara, tapi mereka selalu gagal karena semua hasil ekspedisi ke reruntuhan itu di rahasiakan oleh kerajaan. Memang ada beberapa bangsawan tingkat tinggi lain yang mengetahuinya, tapi mereka tidak akan sebodoh itu menyebarkan informasi yang dapat mempengaruhi keuntungan mereka.
Itulah kenapa Phirios berusaha untuk mencari tahu langsung dariku. Dia adalah pangeran yang tidak memiliki kekuatan, tapi jika dia berhasil membawa informasi tentang reruntuhan itu, dia akan mendapatkan dukungan dari kaisar.
Aneria:"Maaf pangeran. Tapi, apa yang membuat anda berfikir bahwa saya akan memberi tahu anda?."
Senyum di wajah Phirios langsung menghilang dan di gantikan dengan wajah katak yang cemberut. Aku hampir tertawa melihatnya.
Phirios mencoba meraihku, tapi sebelum tangannya menyentuhku, Lusi langsung bergerak dan menggenggam erat lengan gemuk Phirios. Bagaimanapun Phirios hanyalah orang yang lemah, jika di bandingkan dengan Lusi yang sudah melihat darah sejak kecil, dia hanya bagaikan ikan di talenan.
Srakkk....!
"Lepaskan pangeran...!"
Phirios:"Lepaskan... Ahh sakit...!."
Phirios menjerit saat pergelangan tangannya di genggam erat oleh Lusi. Lusi hanya menatap prajurit yang menodongkan tombak ke arahnya dengan mata dingin dan membunuh. Melihat keadaan yang seperti ini, aku berdiri dan menepuk pundak Lusi.
Aneria:"Lepaskan!."
Lusi masih memegangnya dan baru melepas setelah beberapa detik. Karena pergelangan tangannya sudah terlepas, Phirios mundur dengan cepat sambil memegangi pergelangan tangannya yang sudah membiru.
Phirios:"Dasar wanita J***ng, lihat saja sampai kapan kamu akan tetap sombong di hadapanku!."
Dengan di lindungi oleh dua pengawal, Phirios berbelok dan berjalan pergi menuju pintu. Sambil berjalan, dia mengibaskan tangannya dan menjatuhkan nampan yang di pegang oleh salah satu prajurit itu hingga nampan yang seharusnya berisi makananku dan Lusi jatuh berhamburan ke tanah.
Aneria:"Pangeran, kenapa anda terburu-buru?!."
Sebelum Phirios keluar dari pintu, aku langsung menghentikannya. Mendengar ku, Phirios berhenti dan berbalik menatapku dengan wajah gelap dan penuh amarah. Yah, jika tanduk di dahinya adalah cerobong asap, aku kira akan keluar asap yang mengepul dari sana.
Phirios:"Apa, apakah kamu tahu bahwa nasibmu akan sangat buruk setelah ini?!. Sudah terlambat untuk memohon, aku pasti akan menyiksamu hingga aku puas."
Menyiksaku?, akhir mu hanya akan menjadi bidak catur, masih bisakah kamu menyiksaku?!. Meskipun aku penuh penghinaan dan jijik terhadap kata-katanya, aku tetap mencoba untuk mempertahankan senyumku.
Aneria:"Sepertinya anda salah paham. Bukankah besok anda akan mulai menyerang?!, karena itu, saya memiliki saran yang mungkin menarik bagi anda."
Phirios:"Bicara...!"
Melihat sikap sombongnya, aku tidak sabar untuk melihat wajahnya setelah berperang.
Aneria:"Daripada anda bekerja keras mencari tahu informasi reruntuhan dari saya, dan tidak mungkin anda bisa mendapatkannya, kenapa anda tidak mencoba cara yang lain?!."
Aku berhenti berbicara dan memberikan godaan untuk menarik perhatiannya dan membuat minatnya meningkatkan.
Phirios:"Katakan apa maksudmu?."
Inilah yang aku harapkan.
Aneria:"Bukankah anda memiliki pasukan yang kuat, lalu, kenapa anda tidak menggunakannya?!. Di pasukan ini selain dari kekaisaran Xuan Ming, ada juga orang-orang dari Dragonis Kingdom, termasuk Marshal dan Duke, apakah anda tidak menemukan bahwa mereka tidak terlalu menghormati anda?. Bukankah lebih baik anda menunjukkan kemampuan anda?. Bawa Marshal dan Duke satu kapal dengan anda dan biarkan pasukan anda menyerang terlebih dahulu. Saat pasukan Dragonis Kingdom melihat kekuatan dari kekaisaran Xuan Ming, mereka akan jauh lebih hormat kepada anda. Tapi..."
Phirios:"Tapi hal itu tidak akan cukup untuk menyakinkan Marshal dan Duke. Lanjutkan!."
Yah, dia bisa menebaknya. Meskipun dia bodoh, tapi bukan berarti bahwa dia tidak memiliki IQ sama sekali.
Aneria:"Tepat sekali. Itulah gunanya mereka berada di satu kapal dengan anda. Anda dapat menunjukkan kemampuan memimpin anda dan mengambil rasa hormat dari mereka. Dengan begitu, anda mungkin bisa menaklukan mereka di bawah tangan anda dan mengambil wilayah Dragonis Kingdom. Bayangkan, apa yang akan di berikan kekaisaran Xuan Ming kepada anda jika anda berhasil melakukannya!."
Phirios merenung dan mempertimbangkan apa yang aku katakan, setelah merenung untuk beberapa waktu, dia menatapku dengan mata curiga dan aneh.
Phirios:"Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini. Dimana sikap keras kepalamu tadi?!."
Aneria:"Sikap keras kepala tidak ada gunanya dalam kondisi seperti ini. Saya tidak mau memberitahu anda rahasia reruntuhan karena saya tidak mau di cap sebagai pendosa di kerajaan, tapi saya tidak menolak untuk membantu anda memiliki kekuatan dan memungkinkan anda meraih kursi takhta. Tentu saja semua ini tidak ada yang gratis, setelah rencana ini berhasil, saya ingin anda menjadikan saya seorang ratu dan menghukum bangsawan yang telah berkhianat kepada saya. Saya bisa membiarkan Anda menjadi raja baru di wilayah kerajaan, dan setelah anda menjadi raja, bukan hanya rahasia reruntuhan, tapi juga teknik pedang rahasia keluarga kerajaan."
Aku melihat wajah Phirios yang tersenyum dengan pandangan kosong. Aku bisa yakin bahwa dia sedang tenggelam dalam bayangan indahnya.
Phirios:"Ambilkan makanan lagi untuk mereka!."
Setelah beberapa saat, Phirios sadar dan berbalik pergi dengan senyuman sambil berbicara kepada prajurit yang mengantarkan makanan tadi.
.....
Keesokan harinya, aku mendapatkan kabar dari prajurit yang berjaga bahwa para atasan akan berkumpul dan mendiskusikan rencana perang di kapal ini. Bagaimanapun ini adalah kapal Phirios, jadi ini adalah kapal terbaik saat ini.
Dengan dalih supaya rencana penyerangan berjalan lancar dan tidak ada Miss komunikasi antar pasukan, Phirios berhasil mengumpulkan para komandan dan petinggi dalam satu kapal. Cara ini lebih berhasil daripada yang aku harapkan.
Saat ini, karena aku memberikan "saran yang baik" untuk Phirios, dia mengizinkanku untuk berjalan-jalan bebas di kapal. Aku datang ke geladak bersama Lusi. Aku melihat di sekeliling, di bawah cahaya merah yang cerah, aku bisa melihat kapal-kapal udara berukuran ratusan meter dan prajurit infanteri yang berbaris dengan rapi di tanah dan bersiap untuk berperang dengan penuh keyakinan.
Pemandangan ratusan ribu prajurit berbaju besi yang berbaris rapi terlihat sangat kuat dan ganas, tapi aku tahu bahwa mereka hanya akan menjadi domba yang di sembelih.
Aku berhenti memperhatikan umpan meriam itu dan melihat Phirios serta petinggi militer lain berdiri di geladak. Di tangan Phirios terdapat dua buah emblem berbentuk Phoenix dan perisai segi lima berwarna perak.
Dengan disaksikan oleh banyak petinggi serta prajurit di kapal, Phirios mendekatkan kedua tangannya dan menyatukan kedua emblem itu. Setelah kedua emblem itu bersatu, emblem itu segera melayang ke udara dan dari emblem itu memancarkan sebuah cahaya putih perak yang menyilaukan terpancar dan melesat menjadi pilar cahaya yang menembus angkasa.
Setelah menunggu sekitar lima tarikan nafas, tiba-tiba tekanan udara yang sangat kuat muncul dari atas. Saking kuatnya tekanan udara itu, kapal-kapal yang melayang segera berguncang dengan kuat.
Perlahan, sebuah lubang terbuka di antara kekosongan. Dari sela di lubang itu, aku bisa melihat sebuah daratan yang sangat luas dengan bangunan yang padat. Sesekali dari dalam lubang itu terdengar auman yang mengerikan (Auman naga).
Tidak ada yang membuat suara pada saat ini, bahkan Phirios yang selalu sombongpun terdiam seribu bahasa, yang bisa di dengar hanyalah nafas tergesa-gesa dari semua orang.
Beberapa saat kemudian, dari dalam lubang itu, terlihat seorang wanita berjalan dengan anggun di udara kosong menuju ke arah pasukan.
Wanita itu tersenyum anggun dengan wajah cantik dan lembut seperti kakak perempuan yang baik. Dia memiliki tubuh yang tinggi dan ramping dengan rambut panjang lurus berwarna hitam pekat yang menambah aura lembut padanya.
Dia memakai pakaian aneh berwarna ungu muda yang sangat anggun. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah pedang tipis berwarna lavender dengan motif merah yang menyatu dengan cahaya.
melihat pemandangan seperti itu, orang-orang yang semula terdiam mulai menarik nafas panjang di udara dingin. Bukan hanya mereka yang terkejut, aku juga terkejut. Aku tidak melihatnya di Moon Palace waktu itu, dan ini adalah pertama kalinya aku melihatnya. Seberapa banyak kekuatan yang di sembunyikan Moon Palace?. Memikirkan hal ini, aku menjadi lebih yakin bahwa keputusanku untuk menyerah kepada Yang Mulia Filia adalah keputusan yang tepat.
Kami terus memperhatikan wanita itu dalam diam, hingga dia berhenti dan berdiri diam di udara kosong beberapa puluh meter dari barisan kapal udara paling depan. Sambil memandang pasukan kapal udara dan infanteri di tanah sambil tersenyum.
"Yang Mulia sangat baik hati dan memberikan kalian kesempatan untuk segera menyerah."
(Akhir dari chapter ini.)
Beri tahu aku di kolom komentar jika kalian menemukan kesalahan pengetikan dalam bentuk apapun.