Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 198: Menunjukkan Keterampilan.(4)



Kakak berjalan perlahan ke pinggir arena. Udara di sekitarnya menjadi lebih dingin dan bahkan ada uap putih tipis yang mengelilingi tubuhnya. Setiap langkah yang dia ambil akan memiliki jejak es tipis di lantai yang bisa di lihat oleh semua orang.


Di ujung arena, sebuah takhta es biru yang indah perlahan terbentuk. Di atas takhta itu terdapat patung burung Phoenix es yang bertengger. Seperti seorang ratu, kakak duduk dengan santai di atas kursi takhta sambil menunggu lawannya.


"M, mari kita lanjutkan. Penantang kedua berasal dari siswa tingkat atas, divisi kesatria, Aine Hilldeburn."


Yang datang adalah seorang gadis muda yang mengenakan armor kulit. Dia membawa sebuah pedang di pinggangnya yang ramping.


Aine:"Saya Aine Hilldeburn, menantang anda."


Filia:"Ya."


Kakak menjawab singkat sambil tersenyum. Tidak ada kebencian atu ketidakpuasan di wajahnya. Ini membuktikan bahwa kakak tidak di buat kesal oleh anak perempuan itu. Semuanya murni karena latih tanding.


"Apa kalian berdua siap?."


"Ya" 2x


Kakak menjawab tanpa beranjak dari takhtanya. Dia masih duduk dengan santai sambil melihat anak perempuan yang memasang kuda-kuda siap bertarung.


Aine:"Apakah anda meremehkan saya?!."


Filia:"Tidak."


Sambil mengatakan itu, kakak mengangkat tangannya secara perlahan. Gundukan es terbentuk sedikit demi sedikit di sekitarnya. Secara keseluruhan, ada sepuluh gundukan es yang terbentuk di sekitar. Gundukan es itu menjadi semakin besar. Tak berapa lama kemudian, gundukan-gundukan es itu sudah setinggi satu meter. Gundukan-gundukan es itu menjadi padat dan semakin memadat hingga akhir membentuk sepuluh sosok kesatria es yang berlutut ke arah kakak.


Filia:"Pergilah!."


Kesatria es biru yang berlutut itu berdiri satu persatu dengan tertib dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Aine. Meskipun hanya patung, tapi tatapan mereka terlihat begitu nyata seakan mereka adalah kesatria sungguhan.


Leonis:"Golem?. Dan masih sebanyak itu?."


"Bagaimana mungkin Golem di ciptakan dengan cara seperti itu?."


"Apakah Golem benar-benar bisa di ciptakan dengan cara seperti itu?."


"Tidak, seharusnya tidak mungkin. Jika Golem bisa di ciptakan semudah itu, bukankah kerajaan kita sudah lama menggunakan pasukan Golem dalam Medan perang?!."


"Pada dasarnya itu tidak mustahil. Meskipun untuk membuat Golem kita perlu menanam inti kristal di dalam tubuhnya, tapi hal itu bisa di lewati dan langsung membentuk tubuh Golem. Hanya saja fungsi dari inti di dalam tubuh Golem adalah untuk mensuplai mana ke seluruh tubuhnya untuk membuatnya bisa bergerak dan menyerang. Jika tanpa inti itu, tidak mungkin Golem mendapatkan suplai mana yang cukup. Jika kita ingin membuat Golem seperti nona Filia, maka kita perlu memiliki kontrol mana yang sangat baik dan kapasitas mana yang sangat besar."


"Tuan Branze, bisakah anda menjelaskannya lebih sederhana."


Branze:"Dengan kata lain, nona Filia merubah dirinya sendiri menjadi inti Golem yang akan mensuplai mana ke tubuh para Golem. Orang biasa tidak akan mungkin mampu melakukannya karena kebutuhan mananya sangat besar. Orang sepertiku mungkin hanya bisa mengendalikan tiga paling banyak. Itupun aku hanya bisa mengendalikannya dalam waktu yang sangat singkat sebelum manaku habis. Yah, aku mengatakan itu tapi sebenarnya konsep seperti itu masih merupakan sebuah konsep dan belum di uji coba secara langsung. Saya tidak menduga bahwa nona Filia akan menunjukkan hal yang nyata kepada saya hari ini. Ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk lab penelitian sihir kerajaan."


Branze adalah penyihir kerajaan yang ditunjuk langsung oleh Yang Mulia raja untuk mengawasi lab pusat penelitian sihir kerajaan. Aku mengetahui hal ini karena ayah memperkenalkanku padanya saat kami bertemu sebelum memasuki venue.


Mereka membahas Golem yang di ciptakan oleh kakak dengan penuh semangat. Konsepnya memang bagus, tapi apa yang mereka tebak itu hanya sedikit kebenaran. Golem yang di buat oleh kakak bukan hanya Golem yang ber IQ rendah seperti Golem yang biasa di temui.


Golem yang telah di buat oleh kakak akan memiliki kemampuan bertarung sesuai job yang telah di berikan. Seperti saat ini, kakak memberikan job knight kepada para Golem, yang akan membuat Golem-golem itu menjadi seorang kesatria dengan keterampilan bertarung seorang kesatria.


Selain kontrol mana dan kapasitas mana, untuk membuat Golem seperti itu memerlukan kekuatan mental yang sangat kuat.


Kakak duduk di takhta es bukan tanpa sebab, tapi takhta itu di gunakan sebagai pemancar untuk kekuatan mental yang akan di salurkan ke para golem supaya kakak bisa menyalurkan kekuatan mentalnya lebih baik dan kontrolnya lebih halus.


Tentu saja hanya sepuluh Golem zero tidak akan membebani kakak sedikitpun. Tapi entah kenapa kakak memilih melakukannya. Aku dan Ilma juga pernah di latih oleh kakak menggunakan Golem. Tepatnya ratusan Golem dari berbagai job. Dan itu, belum satu persen dari kemampuan kakak.


Tubuh Aine di lapisi oleh internal mana berwarna merah berapi. Pedang yang semula berwarna perak metalik di tangannya juga berubah menjadi warna merah seperti besi panas.


Kesatria ws itu juga tidak mau kalah. Bagian tangan mereka meleleh seperti air kemudian membeku lagi membentuk pedang es di tangan kanan dan perisai kristal es di tangan kiri.


Seorang kesatria maju dengan sangat cepat sambil mengayunkan pedangnya. Reaksi anak perempuan itu juga sangat cepat. Dia segera mundur dan melakukan serangan balasan. Melihat serangan yang datang, kesatria es mengangkat perisainya untuk melindungi tubuhnya. Saat pedangnya menyentuh perisai es, suara denting yang renyah terdengar. Ada juga suara mendesis seperti air mendidih disertai dengan uap air.


Anak perempuan itu langsung mundur dengan tangan yang bergetar karena pedagang mengenai benda yang sangat keras. Bekas pedang tikus di permukaan perisai itu menghilang seakan perisai itu bisa menyembuhkan diri.


Sebelum anak perempuan itu menarik nafas lega, sebuah tebasan pedang tepat mengarah ke kaki, bermaksud untuk memotong kakinya.


Tidak ada cara lain, selain melompat ke udara. Saat dia melompat itulah bagian tubuh sebelah kanannya terhantam oleh permukaan perisai yang merah hingga membuat anak itu tempat ke sisi arena. Perlu di ketahui, Arena berbentuk melingkar ini memiliki diameter hingga dua ratus meter. Jadi, dapat di bayangkan seberapa keras gadis itu hingga terlempar ke sisi arena.


Gadis itu berusaha berdiri sambil memegangi bahu bagian kanannya yang mungkin terluka. Ada jejak es biru di permukaan bajunya yang bersentuhan langsung dengan perisai kesatria es.


Kulitnya juga menjadi lebih pucat dengan bibir yang mulai memburu karena suhu dingin. Baru tiga Golem yang maju, tapi gadis itu sudah berantakan.


«Fiery blade, burning dragon»


Dia memaksakan tangannya yang terluka untuk mengayunkan pedang. Pedang merah seperti ujung solder itu menjadi lebih panas. Api oranye merah perlahan muncul dari pedang itu dan membakar semua bagian bilahnya.


Api di bilah pedang itu menjadi semakin menggila dan akhirnya menutupi setengah arena dengan api. Seekor ular naga panjang muncul di antara api, seperti seekor ular yang berada di semak-semak.


Kepala ular naga muncul secara perlahan dan naik dari lautan api. Naga itu mengelilingi gadis di tengah api dengan tubuhnya yang panjang.


Ular naga yang terlihat sangat keren dan indah. Naga itu melihat ke arah kakak yang sedang duduk di takhta dengan santai. Sembilan kesatria segera membentuk formasi untuk melindungi kakak sementara salah satu kesatria berdiri di depan formasi itu dan bersiap menerima serangan.


Filia:"Sangat bagus. Mari kita lihat seberapa kuat serangan itu."


Dengan waktu aktifasi skill gadis itu yang memakan waktu cukup lama, sebenarnya kakak bisa menyerangnya di antara waktu itu. Tapi kaka memilih untuk melihat seperti apa serangan gadis itu. Aku harus mengakui bahwa kontrol mana internalnya cukup baik. Tapi, jika dia menggunakan mana internal dengan cara itu, dia mungkin akan segera kehabisan mana internal.


Gadis di tengah api itu mengambil kuda-kuda untuk bersiap menyerang. Dia mengangkat tinggi pedangnya dan mengayunkan pedang itu vertikal ke bawah dengan sangat cepat. Bersamaan dengan itu, ular naga itu juga mengaum dan langsung meliuk-liuk menuju ke arah kakak sambil membuka mulutnya yang penuh dengan gigi api.


Suhu panas yang menakutkan membuat es tipis di lantai arena mencair dan menguap. Tapi Kakak sama sekali tidak melirik serangan itu dan malah bersandar di kursi dengan malas.


Kesatria es di posisi terdepan juga mengambil posisi menyerang. Dia memegang pedangnya dengan kedua tangan di samping tubuh, lalu mengayunkannya ke arah ular naga api yang panas secara horizontal.


Dari lantai arena yang tidak ada apa-apa, tiba-tiba kristal es biru tumbuh sangat cepat ke arah naga api. Itu bukan sekedar balok-balok es, tapi jika di lihat lagi, itu adalah naga yang biru yang terbuat dari es yang sangat dingin.


Bang...!


Dua serangan dari suhu panas dan dingin berbenturan hingga membuat udara terdistorsi dan menciptakan ledakan keras. Uap naik ke angkasa dan mengaburkan pandangan. Tapi itu bukan uap panas, melainkan semburan uap dingin yang sangat mengerikan. Lapisan pelindung arena membeku bersama dengan seluruh permukaan arena yang juga ikut membeku karena suhu yang sangat dingin.


Serangan gadis itu langsung menghilang dan sisa energi dari serangan kesatria es itu terus melaju dengan sangat cepat ke arah gadis itu. Gadis itu terkejut dan mencoba untuk menahan serangan kesatria es. Tapi itu mustahil.


Gadis itu langsung terhantam oleh gelombang kejut dan dia terlempar sangat keras menghantam perisai pelindung arena. Es yang menutupi perisai pelindung itu langsung retak dan jatuh bersama anak perempuan yang sudah tidak sadarkan diri itu. Di permukaan tubuh gadis itu tertutupi oleh lapisan es tipis yang membuat kulitnya menjadi pucat karena kedinginan.


Tapi itu adalah serangan yang sudah terkontrol oleh kakak, sehingga gadis itu tidak akan terluka serius. Aku tahu karena sesaat sebelum serangan itu mengenai targetnya, kakak mengangkat tangannya untuk menghentikan naga es. Jadi yang mengenai gadis itu hanyalah gelombang kejut yang tersisa dari serangan es yang berhenti secara tiba-tiba.


Pertarungan selesai begitu saja dengan sangat cepat. Bahkan serangan terkuat dari gadis itu tidak mampu melukai kakak.


Saat perisai pelindung di hilangkan, es yang menempel di perisai pelindung itu langsung runtuh dan berjatuhan ke lantai. Namun sebelum pecahan es itu jatuh ke tanah, serpihan es itu berhenti di udara dan melayang menuju ke arah kakak.


Tim medis segera memasuki arena dan memeriksa keadaan dari gadis itu. Tidak ada luka parah padanya. Gadis itu hanya menerima luka ringan dan kedinginan. Dia tidak sadarkan diri selain karena serangan itu, gadis itu juga kehabisan mana internalnya akibat melakukan serangan terakhir tadi.


Karena gadis itu hanya perlu beristirahat dan perawatan ringan, semua orang lega. Itu adalah hal yang dapat di terima saat duel dalam arena.


Kali ini kakak tidak bergerak. Dia hanya duduk disana sambil memandang orang-orang yang membantu gadis itu berdiri. Setelah semua orang pergi, di arena hanya menyisakan kakak dan instruktur yang menjadi wasit pertandingan.


"Dua kemenangan berturut-turut melawan siswa kelas atas. Apakah masih ada siswa yang ingin menantang?."


Setelah suara itu jatuh, arena menjadi hening. Dua orang yang maju pertama adalah dua orang yang secara sukarela mendaftar untuk menantang. Sebenarnya banyak yang ingin menantang, tapi setelah melihat keadaan penantang sebelumnya, aku rasa mereka mulai ragu. Karena itulah suara itu bertanya.


Filia:"Jika tidak ada yang bicara, biarkan aku yang memilih."


Setelah hening selama beberapa saat, kakak berbicara. Naga dan kesatria es langsung hancur menjadi serpihan-serpihan es yang tajam dan terbang mengitari kakak seperti meteorit yang mengelilingi sebuah planet.


Kakak mengeluarkan sebuah kertas yang melayang ke arah instruktur. Instruktur itu mengambil kertas yang melayang di depannya lalu membacanya secara perlahan.


"Morys Grimestone, Alexia Runbard, Bartome Brankirs, Luca Zarenburg. Kalian mendapatkan tantangan dari nona Filia Rosefield. Apakah kalian ingin menerimanya?."


Suasana hening untuk beberapa saat. Nama Morys Grimestone keluar mengejutkan semua orang. Dia adalah anak kedua dari keluarga Marquis Grimestone. Yang membuat semua orang terkejut adalah kakak yang mencatat nama itu.


Tidak mungkin kakak akan menyiapkan daftar seperti itu tanpa tujuan tertentu. Orang yang sedikit berfikir akan tahu bahwa kakak sengaja menargetkan mereka berempat karena suatu hal.


Bagaimana mungkin kakak melakukan hal yang begitu jelas. Mereka berempat pasti juga menyadari bahwa kakak sedang menargetkan mereka. Bukankah mereka akan menolak?!.


Jauh dari apa yang aku harapkan, tiba-tiba dari salah satu pintu keluar, muncul empat sosok, dua pria dan dua wanita yang berjalan ke arah arena pertandingan.


"Kami menerima!." 4x


Semua orang terkejut karena nama-nama yang di panggil oleh kakak mau menerima tantangannya. Apakah mereka tidak menyadarinya, atau mereka terlalu bodoh?!. Tidak, tidak seperti itu. Saat mereka berjalan ke arena, aku bisa melihat bahwa mata dan ekspresi mereka tampak sangat kosong seperti boneka kayu.


Banyak orang yang menyadari keanehan ini, tapi mereka tidak membicarakannya.


"Apakah kalian yakin?."


Morys:"Ya, kami yakin."


Instruktur hanya mengangguk dan perisai kembali di tutup. Setelah perisai tertutup, ekspresi keempat orang itu tiba-tiba berubah menjadi ekspresi yang kebingungan dan terkejut.


Mereka terlihat seperti berteriak-teriak, tapi suaranya sama sekali tidak terdengar. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba arena menjadi kedap suara sehingga para penonton tidak bisa mendengar apa yang di katakan oleh orang-orang di atas platform pertempuran.


Serpihan-serpihan es yang melayang di sekitar kakak mulai mendekat dan menempel di tubuhnya, membentuk armor es yang indah. Kakak seperti mengatakan sesuatu kepada mereka, tapi karena arena menjadi kedap suara, aku tidak tahu apa yang di katakan kakak.


Keempat orang itu sepertinya sangat marah. Mereka segera mengeluarkan senjata mereka dan mengacungkannya ke arah kakak. Melihat hal seperti itu, kakak hanya tersenyum kecil tanpa mengambil hati.


Seorang perempuan di kelompok itu adalah seorang penyihir. Dia mengeluarkan tingkat sihirnya dan mulai merapal mantra. Bola air perlahan terbentuk di ujung tongkat itu. Ketiga temannya yang lain menghalangi di depannya untuk menjaga anak perempuan itu saat merapal mantra nya.


Tapi, sebelum mantra selesai, tiba-tiba kakak sudah berada di depan gadis itu. Sebuah pukulan keras mengenai perut gadis itu hingga tubuhnya membungkuk seperti udang rebus. Gadis itu terlempar membentur perisai pelindung dan memuntahkan seteguk darah segar.


Ketiga temannya yang lain terkejut saat mengetahui bahwa kakak sudah melewati mereka tanpa mereka sadari. Kakak tidak berhenti di sana, tapi kakak langsung mendaratkan tendangan di tubuh salah satu anak laki-laki dalam kelompok itu.


Sebelum anak laki-laki itu membuat pertahanan diri, dia sudah terlempar jauh karena tendangan. Anak laki-laki yang di sebut Morys itu ingin mengambil kesempatan untuk menyerang kakak, sebelum kakak menarik kembali kakinya.


Tebasan pedang yang sangat cepat dari anak laki-laki itu langsung menebas kakak. Yang tidak terduga, kakak hanya menangkap ayunan pedang itu dengan tangannya. Kakak meremas bilah pedang itu dengan kuat dan pedang itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah.


Tanpa menunggu lawan bereaksi, kakak mengayunkan kakinya dan menendang lutut anak laki-laki itu. Lutut anak itu langsung menjadi bengkok ke belakang secara tidak normal seperti kaki unggas.


Anak itu jatuh dan berguling-guling di lantai sambil berteriak kesakitan. Air mata tumpah dari sudut matanya yang memerah karena rasa sakit.


Kakak tidak berhenti di situ. Saat lawannya terjatuh, kakak menendang lagi bagian rusuk kiri anak itu hingga anak itu terlempar ke perisai pembatas. Kejam, tanpa ampun, itulah yang bisa aku amati dari kakak saat ini.


Sebuah tebasan pedang mendarat di punggung kakak. Serangan itu berasal dari seorang anak perempuan yang tersisa. Meskipun dia berhasil menyerang, tapi serangan itu sama sekali tidak melukai kakak yang tubuhnya di lapisi oleh armor es.


Kakak menoleh ke arah anak perempuan itu. Melihat mata kakak, anak perempuan itu bergetar sambil mencoba memegang erat pedangnya. Kakak hanya melangkah perlahan ke arahnya. Setiap satu langkah kakak maju, maka anak perempuan itu akan mengambil satu langkah mundur.


Wajah kakak tanpa ekspresi saat melihat gadis itu yang membuatnya menjadi lebih ketakutan. Keringat dingin menetes dari pipinya dan jatuh ke lantai arena.


Tanpa di sadari, gadis itu sudah mundur hingga punggungnya menyentuh perisai pembatas. Kakak yang sudah berada di depannya mengulurkan tangan untuk memegang tangan gemetar gadis itu.


"Hentikan. Sudah cukup!!."


Sebelum kakak melakukan sesuatu, perisai terbuka dan instruktur segera menghentikan pertarungan kakak. Kakak yang di hentikan tetap memiliki wajah yang tanpa ekspresi. Dia meraih pedang gadis itu dan mengambilnya.


Anak perempuan yang ketakutan tidak bereaksi saat pedang di tangannya di rebut. Dia hanya bisa melihat kakak dengan mata ketakutan tanpa menyadari bahwa pedangnya telah berpindah tangan.


Api putih menyala di tangan kakak dan membakar seluruh pedang itu, membuat pedang baja padat menjadi lemas dan akhirnya meleleh menjadi cairan besi yang menetes ke tanah.


Setelah itu, kakak langsung berbalik dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kakak langsung pergi dan meninggalkan arena dan kembali ke arah pintu dimana dia datang


Tantangan bertarung sudah tidak di perlukan lagi. Setelah ini, aku ragu jika ada anak yang mau menantang kakak. Maka dari itu, tidak masalah jika kakak pergi saat ini.


Tim medis segera memeriksa keadaan semua orang. Selain gadis terakhir yang syok, yang lain menderita patah tulang dan guncangan pada organ dalam.


Terutama Morys itu. Tempurung lututnya hancur dan otot-otot kaki robek. Empat tulang rusuk sebelah kiri juga patah dan menembus ke paru-paru, membuatnya mengalami pendarahan internal. Semua orang panik, tapi saat itu, tiba-tiba api putih menyala dan menyembuhkan luka pada Morys.


Luka pada tubuhnya tidak sembuh sepenuhnya, tapi lukanya tidak akan membahayakan kehidupan. Tulang dan otot-otot di kakinya juga sembuh, tapi masih akan menyisakan rasa sakit yang luar biasa selama beberapa waktu. Seperti itulah yang di katakan instruktur itu.


Melihat hasil pertarungan seperti itu, semua orang diam. Di mata para bangsawan, ada kilau aneh yang tidak aku pahami.


Berbeda dari para bangsawan. Mata ayah dan ibu sangat cerah dan senyum muncul di sudut mulut mereka. Para siswa juga bersemangat saat melihat kekuatan kakak.


Siapa di dunia yang kacau ini tidak mau menjadi sekuat kakak?. Aku juga mau untuk menjadi orang yang sekuat itu...


(Akhir dari chapter ini.)


Seperti biasa. Jika kalian menemukan kesalahan, kalian bisa melaporkannya kepadaku supaya aku bisa segera memperbaikinya.