
Perbendaharaan ini berisi banyak koin emas dari Alterion yang berserakan di lantai dan menumpuk menjadi bukit emas kecil. Aku memperkirakan bahwa setidaknya ada sekitar sepuluh juta koin emas.
Aku tidak tahu berapa nilai tukar koin emas Alterion di Helheim, tapi jika itu ada di benua utama, satu koin emas Alterion bernilai dua koin benua. Jumlah uang sebanyak itu setidaknya dapat menyamai kekayaan sebuah negara kecil dan menengah.
Meskipun terdengar banyak, tapi jika di bandingkan koin emas di Moon Palace,itu hanya setetes air di lautan.
Ruangan harta ini selesai di bersihkan dalam waktu kurang dari satu jam. Dalam pencarian yang lebih lanjut, tidak di temukan ruang penyimpanan yang lain di tempat ini.
Selesai membereskan semuanya, aku pergi keluar dari ruangan ini karena sudah tidak ada lagi keperluan di tempat ini. Aku memilih salah satu sudut untuk meletakkan kursi dan duduk sambil memeriksa peta tiga dimensi dari ruang bawah tanah ini.
Tidak aku duga, sejauh ini, pasukan Arkne telah menjelajahi lebih dari seribu kilometer persegi, yang jauh lebih luas dari perkiraan awal. Sayangnya, dari lapisan tanah atas dan ruang bawah tanah ini di batasi oleh sesuatu yang dapat mengisolasi ruang bawah tanah dari berbagai gangguan eksternal. Karena itu, aku hanya bisa memerintahkan orang-orangku untuk menjelajahi ruang bawah tanah ini sedikit demi sedikit. Jika tidak ada pembatas itu, aku dapat menggunakan gelombang pendeteksi untuk secara instan memetakan seluruh ruang bawah tanah ini yang sangat menghemat waktu dan sumber daya.
Dari laporan yang di kirim kembali oleh para penjelajah, seluruh ruang bawah tanah ini terdapat banyak tempat yang mengandung konsentrasi mana ganas yang padat. Di perkirakan bahwa tempat itu dulunya merupakan Medan perang dari orang-orang kuat di kota ini melawan Abyssal Demon yang menginvasi tempat ini.
Selain itu, banyak sisa reruntuhan lain yang di temukan, tapi dengan kondisi yang jauh lebih buruk dari tempat ini dan di perkirakan hancur lebih awal daripada kota yang saat ini aku jelajahi. Setidaknya ada puluhan lokasi seperti itu dengan luas yang tidak kalah dari kota ini yang dpat menampung jutaan orang tanpa masalah.
Dari penemuan itu, dapat dilihat bahwa seluruh area ruang bawah tanah ini seperti underworld dengan banyak penduduk dan kota di dalamnya. Namun karena suatu hal, seluruh peradaban di kota ini menghilang, entah karena mereka pindah atau benar-benar di musnahkan, yang jelas saat ini keberadaan Underworld ini telah di lupakan oleh orang-orang Helheim.
Dan bahkan mungkin keberadaan tempat ini memang menjadi sebuah rahasia. Saat dunia ini masih merupakan game Alterion, banyak pemain yang datang ke Helheim, tapi tidak ada informasi apapun yang menyebutkan tempat ini.
Aku yakin bahwa reruntuhan ini berasal dari Alterion karena koin dan reruntuhan guild itu sudah menjadi bukti yang sangat kuat untuk memperkuat dugaanku itu. Dengan kata lain, setidaknya dunia Alterion berada di sekitar dua belas miliar tahun yang lalu.
Tebakan itu sekali lagi membuatku bingung. Aku ingat dengan jelas bahwa kematianku baru beberapa bulan yang lalu. Kemudian, aku tersadar di tubuh Filia, tidak lama setelah kematianku. Tapi, sisa-sisa Alterion setidaknya sudah ada sejak dua belas miliar tahun yang lalu, dan sudah mulai menghilang di telan waktu. Bagaimana, bagaiman hal seperti ini bisa terjadi?!. Kemana sisa waktu itu, apakah jiwaku tertidur selama itu sebelum akhirnya aku bangkit di tubuh ini?..
Serangkaian pertanyaan yang membingungkan mulai memenuhi kepalaku, membuat otakku sedikit pusing dengan berbagai pemikiran dan tebakan yang kacau. Tidak, tidak peduli apa, yang jelas aku hidup di tubuh ini saat ini, jadi aku hanya perlu menikmati hidupku tanpa memikirkan hal yang membingungkan itu. Mungkin suatu hari nanti aku akan bisa menemukan jawabannya. Namun untuk saat ini, aku hanya perlu fokus untuk menjalani hidupku sendiri.
Bukan karena aku tidak mau memikirkannya, tapi apa gunanya hal itu setelah aku mengetahuinya?!.
Aku menggelengkan kepalaku untuk melupakan pertanyaan yang rumit di kepalaku itu, dan kembali fokus untuk memperhatikan peta tiga dimensi yang terus meluas yang ada di hadapanku. Perluasan peta ini cukup cepat karena Arkne juga mengerahkan banyak Aracnoid untuk ikut menjelajahi Medan dan membuka peta.
Selain menunjukkan kondisi geografis dunia bawah tanah, peta ini juga menandai berbagai wilayah dengan warna yang berbeda untuk menunjukkan apa yang ada di sana. Saat aku mengklik salah satu wilayah yang di tandai dengan warna merah transparan, sederet informasi langsung muncul di layar penghantar yang lain.
Itu merupakan sebuah wilayah berupa kawah yang sangat luas dengan sisa-sisa kehancuran yang masih terlihat. Selain itu, wilayah ini memiliki konsentrasi mana kejam yang sangat padat dan masuk dalam wilayah radiasi tinggi. Dari data di atas, dapat di simpulkan bahwa wilayah ini dulunya merupakan sebuah Medan perang dari Abyssal Demon yang sangat kuat dan para Albedorian.
Selain penanda wilayah berbahaya, peta juga menandai keberadaan Abyssal Beast beserta kekuatannya.
Dari seluruh peta yang sudah di tampilkan, banyak sisa-sisa perang yang meninggalkan jejak kehancuran di tanah. Seluruh dunia bawah tanah ini merupakan Medan perang yang pernah menerima kehancuran besar dan menjadi tanah tandus, tapi setelah waktu yang lama, keadaan ekologis di dunia bawah tanah ini mulai kembali ke keadaan normal, hingga menjadi seperti saat ini.
.....
Aku beristirahat dan menutup mataku sambil menunggu perluasan peta. Satu jam kemudian, sebuah area merah besar di tampilkan dengan sangat mencolok. Saat ini, area peta tiga dimensi sudah mencapai batas, dengan luas sekitar tujuh ribu lima ratus dua puluh delapan kilometer persegi, yang setara dengan sebuah pulau sedang di bumi.
Wilayah merah itu setidaknya menempati seperlima dari seluruh luas peta yang telah di tampilkan dan berada di ujung dunia bawah tanah. Saat aku mengklik area merah itu, gambar sebuah hutan luas dengan kayu tanpa daun dengan batang berwarna abu-abu langsung di tampilkan. Setiap kayu itu memiliki cabang-cabang tanpa daun yang tajam seperti cakar monster.
Bukan hanya kayu yang terlihat aneh, bahkan rumput yang tumbuh di area itu juga merupakan rumput berwarna merah darah, bahkan tanah di bawahnya juga berwarna abu-abu yang sangat suram.
Radiasi mana kejam dari abyss juga mencapai tanda hitam, yang berarti bahwa konsentrasi mana kejam di sana sangat pekat yang akan membuat semua makhluk hidup biasa yang masuk ke area itu akan langsung berubah menjadi makhluk Abyss tanpa kesadaran.
Dengan perlindungan dari mana kejam Abyss para perintis itu terus maju untuk menjelajahi seluruh area hutan abu-abu dan terus mengumpulkan data yang berguna dari area abu-abu itu.
Kemudian di temukan sebuah data, bahwa mana kejam Abyss berasal dari area tengah hutan dan terus menyebarkan mana kejam ke seluruh ruangan bawah tanah.
Filia:"Apakah itu portal menuju Abyss world?."
Arkne:"Apakah anda ingin saya untuk memeriksanya secara pribadi, Yang Mulia?."
Aku merenung sejenak dan mengangguk pada Arkne.
Filia:"Ya, ayo kita pergi."
Rubidea:"Tunggu, apakah anda juga akan pergi Yang Mulia?!. Area itu mungkin akan sangat berbahaya, jadi biarkan kami yang pergi, anda hanya perlu menunggu di sini, Yang Mulia."
Arkne:"Saya juga sependapat dengan Rubidea."
Entah kenapa setelah tubuhku menjadi seperti ini dan kekuatanku belum pulih ke puncak seperti sebelumnya, mereka selalu memperlakukan ku seperti vas bunga yang akan sangat mudah retak jika tersentuh.
Filia:"Meskipun kekuatanku belum kembali seperti semula, tapi aku juga tidak selemah itu."
Tidak mendengarkan mereka lagi, aku langsung berdiri dari tempat duduk dan pergi menuju lokasi area hutan abu-abu itu. Arkne dan Rubidea, mereka juga mengikutiku tanpa daya dengan kewaspadaan penuh.
Dengan kecepatan kami bertiga, untuk menempuh jarak dari satu ujung dunia bawah tanah ke ujung lain hanya perlu memakan waktu sekitar satu setengah jam, itupun d
kami harus mengalami beberapa pertemuan tidak beruntung dengan Abyssal Beast di sepanjang perjalanan. Namun dengan kekuatan kami bertiga, Abyssal Beast itu dapat di pecahkan dengan mudah. Meskipun demikian, mereka juga sangat menghambat perjalanan kami.
Kami bertiga berdiri di puncak pohon, melihat hutan mati abu-abu di kejauhan. Hutan bagian itu sangat sepi dengan kabut merah samar yang melayang di antara pepohonan.
Filia:"Ayo!."
Arkne:Ya."
Rubidea:"Ya."
Kali ini yang memimpin jalan adalah Arkne, sementara aku berada di posisi tengah. Begitu aku memasuki hutan abu-abu ini, aku merasakan aroma pahit yang tidak ada, seakan aroma itu hanya tercetak di kedalaman kesadaran dan tidak ada aroma yang nyata.
Kabut berdarah yang melayang di antara pepohonan memberikan suasana kejam yang sangat menindas. Semakin dalam aku masuk ke dalam hutan, konsentrasi mana kejam menjadi semakin padat dan bahwa hampir mengembun menjadi kabut tebal.
Pepohonan di hutan ini juga tumbuh sangat aneh dengan batang bengkok dan ranting-ranting tajam seperti pohon mati, tapi saat aku mendekati pohon-pohon itu, aku masih merasakan vitalitas dari pohon itu yang berarti bahwa meskipun terlihat mati, pohon-pohon ini masih hidup.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya aku tiba di tempat dimana mana kejam paling padat. Itu adalah sebuah danau yang sangat luas. Danau itu berbentuk lingkaran sempurna seperti buatan manusia. Air di danau itu berwarna merah gelap yang hampir mendekati hitam.
Di pinggir danau terdapat sembilan menhir berwarna hitam setinggi lima atau enam meter. Menhir-menhir itu di ukir dengan berbagai gambar dan bentuk yang sangat rumit sekan menggambarkan kejadian tertentu.
Pedang itu menancap secara vertikal ke kedalaman danau tanpa terlihat bagian ujungnya. Seluruh pedang berwarna hitam dengan karat tebal dan akar ungu lunak yang berdetak seperti pembuluh darah melilit tubuh pedang itu hingga ke bagian gagang yang terhubung dengan rantai.
Meskipun ada karat tebal yang menutupinya, tapi dapat dilihat bahwa di seluruh pedang itu terdapat ukiran rune merah yang sangat rumit dan akan menyala secara teratur setiap beberapa saat seperti rune yang ada di rantai.
Setiap rune menyala dan merambat ke rantai, aura mana kejam segera terpancar dari kesembilan menhir yang ada di pinggir danau, menyebarkan radiasi mana kejam ke sekitarnya.
Aku ingin mendekati menhir itu dan menyentuhnya, tapi sebelum ujung jariku menyentuh menhir, aku segera di hentikan oleh Arkne.
Arkne:"Yang Mulia, mungkin itu terlalu berbahaya. Bagaimana jika kita perintahkan beberapa orang untuk meneliti tentang situs ini terlebih dahulu?."
Filia:"Aku tahu."
Meskipun Arkne berkata seperti itu, aku tetap menyentuh menhir itu. Saat ujung jariku menyentuh menhir, aku bisa merasakan mana kejam yang di salurkan oleh pedang itu ke menhir untuk di lepaskan ke udara. Sepertinya pedang itu menyerap mana kejam dari dasar danau dan menyalurkannya melalui rantai ke menhir untuk di lepaskan secara bebas.
Aku bisa merasakan itu tapi aku tidak tahu apa tujuan dari pembuat situs ini untuk melakukan hal yang sangat merugikan tersebut. Setelah beberapa saat, aku melepaskan tanganku dari permukaan menhir dan menghubungi beberapa orang untuk mulai meneliti tempat ini.
Aku juga melanjutkan untuk mengelilingi tempat ini. Di salah satu sudut hutan, aku menemukan sebuah gua di tebing batu setinggi sekitar lima meter dengan mulut gua yang langsung menghadap ke danau ini.
Saat aku mendekati gua itu, tiba-tiba sebuah tekanan yang sangat berat menimpa tubuhku. Bahkan jiwaku yang berada di Tier lima sangat tertekan di tempat ini. Mana di seluruh tubuhku seakan berhenti dan tersumbat, hampir tidak mungkin untuk menggerakkan sedikit kekuatan.
Karena fisik Arkne dan Rubidea yang jauh lebih baik daripada tubuhku, kondisi mereka tidak separah sepertiku, tapi mereka juga menerima tekanan yang sama beratnya dan hampir berlutut di tanah karena tekanan yang sangat berat.
Filia:"Tekana ini..."
Arkne:"Apakah mungkin?!."
Aku bisa melihat ekspresi terkejut yang sangat luar biasa di wajah Arkne dan Rubidea. Kami bertiga saling memandang dengan wajah pahit dan pupil yang bergetar. Meskipun mata Arkne tertutup oleh kain, tapi aku bisa menebak bahwa matanya juga penuh dengan keterkejutan dan keheranan. Hanya ingin berbicara, tapi tenggorokanku seakan tercekat dengan sesuatu, membuatku sulit untuk mengungkapkan kata-kata.
Filia:"Tapi, tekanan ini terlalu rendah."
Aku pernah merasakan tekanan seperti ini. Ini adalah tekanan yang dimiliki oleh pemain Tier enam ke tier yang lebih rendah. Mungkinkah?!. Apakah mungkin ada Tier God di tempat ini?!.
Tidak, tekanan ini memang mirip seperti tekana dari Tier enam, tapi ini terlalu rendah. Jika itu adalah Tier enam yang bonafid, maka tubuhku mungkin bis hancur langsung ke tanah, bahkan Arkne dan Rubidea yang merupakan Tier lima tidak akan bisa berdiri.
Tekanan spiritual bisa berasal dari tingkat kehidupan yang lebih tinggi, sebagai contoh, Tier satu akan memberikan tekana yang sangat besar ke zero, dan begitu seterusnya. Namun, tekanan dari Tier enam sangat berbeda dengan Tier lain. Jika Tier lain tekana mereka berupa rasa takut dan ancaman, namun tekan dari Tier enam berupa rasa hormat, kagum, dan keinginan untuk berlutut. Tekanan dari Tier enam pun, merupakan tekana yang murni dan bukan tekana yang di paksakan.
Meskipun terdengar sederhana, tapi perbedaan di antara keduanya tekanan itu sangat besar. Yang pertama adalah tekanan yang mempengaruhi mental, sementara tekana dari Tier enam merupakan tekana yang langsung mempengaruhi jiwa dari pemain lain.
Tubuh Arkne mengeluarkan rune ungu bercahaya di samping wajah sebelah kirinya. Enam lengan laba-laba yang setajam tombak menembus bagian punggung, menunjukkan bentuk demon dari Arkne.
Dengan mengaktifkan darahnya secara langsung, Arkne dapat mengurangi tekana yang sangat besar ini karena dia merupakan salah satu ras dengan tingkat kehidupan yang tinggi.
Bukan hanya Arkne, Rubidea juga merangsang darahnya untuk mengurangi tekanan yang dia terima. Pupil matanya menyala seperti delima dengan warna oranye cerah dan pupil vertikal seperti reptil. Ada sepasang tanduk kristal yang muncul di kedua sisi kepalanya, dan sisik merah halus di bagian tulang pipinya.
Aku juga merangsang darah Phoenix yang ada di tubuhku. Di tambah dengan bantuan dari Arkne dan Rubidea, tekanan yang aku terima menjadi sangat berkurang yang membuatku bisa bergerak seperti semula.
Kami bertiga terdiam beberapa saat sebelum Arkne angkat bicara.
Arkne:"Saya akan masuk terlebih dahulu."
Arkne langsung mengambil langkah dan memasuki gua, Rubidea berada di urutan kedua, sementara aku berada di urutan paling belakang. Bagian dalam gua ini seperti dunia yang terpisah, tidak ada mana kejam di dalam gua, seakan ada pembatas yang mencegah mana kejam itu untuk masuk.
Dinding dan lantai gua ini tidak rata, sama seperti gua pada umumnya. Ada suara air menetas dari atas gua ke lantai gua, membentuk stalaktit dan stalakmit yang tajam seperti tarung makhluk prasejarah.
Kami berjalan dengan sangat hati-hati dan masuk ke bagian gua yang lebih dalam. Di kedalaman beberapa ratus meter, aku merasakan aura aether yang sangat padat. Tempat ini sangat cocok untuk berlatih.
Selain itu, di bagian terdepan gua, terdapat kolam-kolam air bertingkat dan danau bawah tanah dengan air berwarna biru menyala seperti di penuhi oleh photobacterium. Airnya sangat jernih dan bahkan aku bisa melihat bagian dasarnya di dalam gua yang gelap ini. Selain air yang menyala, ada banyak tanaman bunga aneh dan lumut yang juga dapat menyala dalam gelap, sehingga pemandangan di dalam gua ini menjadi sangat indah.
Saat aku melihat lebih jauh, aku terkejut. Di tengah salah satu kolam air terbesar, di sana terdapat sebuah altar bundar yang terbuat dari batu. Di atas altar itu terdapat sebuah patung wanita dengan pakaian yang sederhana. Patung itu memiliki postur yang anggun dan aura yang mulia.
Aku mendekat dan melihat patung ini. Dari sinilah tekanan itu berasal. Hanya sebuah patung, tapi memiliki tekanan yang sangat kuat. Aku yakin bahwa patung ini merupakan patung dari orang yang sangat kuat dan telah di berkahi dengan aura orang itu.
Aku melihat, bahwa di salah satu tangan patung itu memegang sebuah buku tebal dengan sampul berwarna merah.
Tiba-tiba, buku itu bergetar dan melayang secara perlahan ke arahku.
Arkne & Rubidea:"Yang Mulia."
Mereka berdua segera memasang postur defensif dengan senjata di tanah mereka, siap untuk melakukan pertarungan.
Filia:"Tidak apa!."
Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aura di buku itu tidak memiliki sedikitpun aura berbahaya untukku. Bahkan, aura dari buku itu memberikan perasaan damai dan sangat dekat, sama seperti perasaan yang di berikan patung itu untukku.
Buku merah itu perlahan melayang ke arahku dan mendarat di tanganku. Di bagian depan sampulnya terdapat gambar sebuah lingkaran merah dan ukiran floral yang rumit.
Ada beberapa kalimat di bagian sampulnya yang ditulis dengan huruf yang tidak aku ketahui. Meskipun mungkin buku ini dan penulisnya berasal dari saat dunia ini masih Alterion, tapi di Alterion sendiri memiliki banyak sekali tulisan dan bahasa yang berbeda.
Namun, dengan skill penterjemah, aku bisa mengartikan tulisan yang tercetak di sampul buku ini.
Di bagian sampulnya tertulis...
Red Moon God...
(Akhir dari chapter ini.)
Update selanjutnya akan cepat... Mungkin.
Jika menemukan salah ketik dan kalimat yang tidak tepat, mohon untuk segera memberitahukannya pada author supaya bisa segera di perbaiki.