Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 176: Putus Asa.



Ini sangat buruk. Gelombang pertama hanya beberapa jam yang lalu dan mengakibatkan beberapa ratus korban dari para kesatria. Meskipun kami berhasil memusnahkan gelombang pertama, tapi gelombang pertama hanya memiliki beberapa ribu monster yang merupakan setetes air di lautan.


Meskipun di katakan mundur, tapi bisa dilihat dari dinding kota, bahwa monster-monster itu sedang menunggu perintah menyerang. Di kejauhan, raungan monster sering terdengar yang bisa membuat bulu kuduk merinding.


Harnas:"Rovell, berapa banyak kesatria yang kita miliki saat ini?."


Rovell:"Kita hanya memiliki kurang dari seribu orang kesatria."


Sial...!!. Kota ini berisi lebih dari lima ribu orang yang merupakan kota perdagangan kecil antara kekaisaran dan kerajaan, sekarang kota ini sudah di kepung oleh monster. Jika ini waktu normal, mungkin aku bisa mengungsikan mereka dengan beberapa cara, tapi sekarang adalah musim dingin. Jika mereka pergi dari kota ini saat ini, mungkin mereka malah akan mati di tengah jalan dan menjadi patung es.


Kota terdekat dari tempat ini setidaknya akan memakan waktu satu hari perjalanan dengan kereta kuda. Siapa yang dapat memastikan bahwa selama perjalanan itu tidak akan terjadi badai atau serangan binatang buas?!.


Harnas:"Tidak peduli apa, segera atur pertahanan di atas tembok kota. Kita akan berjuang hingga akhir."


"Patuhi perintah!."


Kepalaku sakit. Aku tidak tahu apakah kota ini bertahan atau tidak. Jika aku memegang jumlah kesatria dan persenjataan yang cukup, aku masih bisa melalui bencana ini. Tidak, aku tidak boleh menyerah. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi aku tidak boleh menunjukkan wajah pesimis di depan pasukanku yang dapat mengurangi moral para pasukan.


Rovell:"Ya, kita tidak bisa menyerah. Filia masih menunggu kita."


Mendengar apa yang di katakan Rovell, tiba-tiba bayangan seorang gadis kecil muncul dalam benakku. Gadis yang bersemangat, tapi tidak dapat di andalkan, suka membuat banyak masalah, dan selalu melakukan apa yang dia inginkan...


Seorang gadis yang sangat egois dan tanpa pikir panjang...


Aku bisa membayangkan wajah sedihnya jika aku mati di tempat ini. Aku, aku masih ingin melihatnya lagi.


Tidak, aku tidak bisa mati di tempat ini. Aku hanya bisa berjuang keras dan berusaha bertahan hidup. Aku, Harnas Zilveren, sejak kapan aku menjadi selemah ini?!!. Aku sudah melalui berbagai macam pertempuran yang tragis tapi masih bisa hidup hingga saat ini, apakah aku akan menyerah di depan pertarungan ini?!. Jawabannya... Tidak, tidak akan pernah.


Harnas:"Aku akan memimpin pasukan. Eden, segera instruksikan semua pasukan untuk berperang."


Eden:"Ya!."


Eden memberikan hormat militer dan segera pergi keluar ruangan. Aku mengambil nafas panjang dan melihat Rovell yang berdiri di sampingku. Wajah yang tampan dan mata yang penuh tekad, itu adalah wajah yang membuatku menyerahkan hidupku untuknya.


Rovell juga melihat mataku dan dia maju untuk memberikan pelukan kepadaku. Udara yang dingin ini seakan di hamburkan oleh pelukan hangatnya. Aku tidak bisa untuk tidak mengeratkan pelukanku kepadanya.


Rovell:"Kita pasti bisa melalui ini. Jika tidak, aku akan membuat jalan untukmu supaya kamu bisa pergi."


Harnas:"Tidak, kita harus selalu bersama."


Aku menutup mataku dalam pelukannya sambil menikmati pelukan yang hangat itu. Aku harap, ini bukan saat terakhir aku memeluknya.


Aku melepaskan pelukanku dan menghilangkan semua perasaan negatif yang mempengaruhi pikiranku. Rovell memegang erat tanganku dan mengangguk dengan tegas dan penuh keyakinan.


Dang... Dang... Dang...!!


Tiba-tiba aku mendengar lonceng kota di bunyikan dengan panik yang menandakan bahwa bahaya datang. Tidak perlu menebak, bahaya yang datang adalah gelombang monster yang mulai menyerang.


Rovell:"Ayo pergi."


Harnas:"Ya!."


Begitu aku keluar dari rumah wali kota, aku melihat orang-orang di kota sudah bersiap. Anak-anak dan wanita mulai memasuki rumah dan mengunci diri di bangunan yang kuat, sementara para suami yang cukup berani, mereka mengambil segala sesuatu yang bisa di jadikan senjata dan pergi bersama para prajurit yang di pimpin oleh kesatria.


Banyak pemanah yang terburu-buru menaiki tangga ke atas tembok kota. Aku dan Rovell juga naik ke atas tembok kota dan melihat dataran bersalju yang kini di penuhi oleh lautan monster.


Sejauh mata memandang, aku hanya bisa melihat monster yang tidak berujung. Mereka berbaris ke arah kota secara perlahan sambil mengaum yang memberikan penindasan yang besar pada para prajurit dan kesatria.


Harnas:"Semua pemanah segera bersiap... Tembak...!"


Ribuan panah segera diluncurkan ke arah monster seperti tetesan air hujan. Itu bukan panah biasa, tapi panah sihir yang memiliki daya tembus yang besar. Segera, monster barisan dapan terjatuh dalam genangan darah. Beberapa monster berubah menjadi landak karena ditembus oleh puluhan anak panah.


Gelombang panah pertama berhasil menjatuhkan ratusan monster dan melukai ratusan lainnya. Tapi seakan tidak memiliki rasa takut, monster-monster itu terus maju dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh monster yang terjatuh. Mayat monster yang terjatuh itu segera menjadi makanan atau di injak-injak oleh monster di belakangnya.


Panah gelombang kedua segera di luncurkan yang juga memiliki hasil yang baik. Tapi, cara ini tidak akan bisa bertahan lama. Jumlah panah yang terbatas, tidak bisa memberikan pukulan fatal kepada pasukan monster yang sangat padat itu.


Rovell:"Tembakkan sihir kalian dan musnahkan monster-monster jelek itu!."


Rovell memimpin para penyihir untuk meluncurkan sihir ke arah monster. Sihir militer Tier empat ke atas segera di luncurkan dan membombardir kawanan monster. Sama seperti anak panah, sihir setingkat itu juga tidak akan bisa memberikan pukulan fatal pada pasukan monster.


Rovell:"Ambil manaku dan bakar musuhku. Tunjukkan pada mereka, api merah yang menyala-nyala. «Fire Wave»."


Dari bawah dinding kota, api merah yang panas segera bergulung ke arah gerombolan monster seperti ombak di lautan yang menerjang pantai.


Graooo....!


Roarr...!


Mendesis...!


Monster-monster yang tergulung oleh ombak api itu mulai meronta dan mengaum karena kesakitan. Aroma daging dan darah terbakar yang memuakkan segera membumbung ke udara, membuat langit yang abu-abu menjadi lebih gelap.


Melihat pemandangan itu, monster di belakangnya menjadi panik dan barisan mereka sedikit tersebar. Tapi seperti mendapatkan arahan dari sesuatu, monster-monster yang panik itu segera kembali berkumpul.


Menderum....!


Dari barisan belakang pasukan monster, terdengar suara yang menderu yang sangat keras. Dari kejauhan, sekelompok monster besar setinggi bukit berlari ke arah kota dan menginjak-injak monster lain yang ada di depannya. Mungkin karena takut terinjak, pasukan monster yang ada di jalur monster besar itu segera terbelah menjadi dua dan membuka jalan supaya monster besar itu bisa lewat.


Itu adalah monster mammoth yang sangat besar dengan bulu coklat gelap di tubuhnya. Monster itu memiliki satu tanduk dan empat gading melengkung yang sangat besar dan tajam, seperti ujung tombak.


Sekawanan mammoth yang mendekat itu terdiri dari sekitar dua puluh mammoth. Mereka terlihat seperti binatang gila yang mengabaikan segalanya. Mereka hanya berlari lurus ke arah kota.


Harnas:"Segera hentikan mereka!!."


Aku segera memberikan perintah kepada pasukanku supaya menghentikan gerakan para mammoth itu. Jika sampai para mammoth itu menabrak tembok kota, maka kota ini akan segera berakhir dan orang-orangnya akan menjadi makanan para monster.


"Ice Pillar."


"Stone pillar"


"Earth Wall ..."


Es dan batu serta berbagai sihir lainnya yang sekiranya bisa menghalangi kemajuan dari monster itu segera di tampilkan. Pilar Es dan batu itu menjulang tinggi dari tanah. Tapi, monster mammoth itu hanya mengabaikannya dan langsung menabrak segala sesuatu yang menghalangi mereka menjadi serpihan di tanah.


Penyihir tidak bisa menggunakan sihir secara langsung ke monster mammoth karena mereka memiliki ketahanan sihir yang tinggi. Jadi, mereka hanya bisa menghalangi kemajuan dari kelompok mammoth itu dengan membuat penghalang bagi mereka. Tapi itu juga bukan keputusan yang baik, fisik mereka yang besar dan sangat kuat, bahkan mampu mengabaikan Diding baja, apalagi hanya penghalang yang di bentuk oleh tanah dan es.


Kelompok mammoth itu semakin mendekat ke arah kota dan membuat kota menjadi berantakan karena guncangan tanah yang di hasilkan. Kota ini seperti dilanda gempa bumi besar dengan bangunan yang tidak cukup kokoh akan runtuh. Beruntung bahwa orang-orang telah diungsikan ke rumah yang lebih kuat.


Harnas:"Rovell...!"


Rovell:"Ya!."


"Dalam lautan hijau seperti emerald, mekarlah bunga merah seperti lentera pada malam hari yang penuh bintang. Tumbuh dan mekarlah, tunjukkan warna pada dunia yang kelabu ini, «Rose Field»."


Dari bawah dinding kota, tanaman hijau bersulur segera tumbuh dengan sangat cepat. Sulur-sulur hijau itu memiliki duri yang sangat tajam seperti jarum baja. Tanaman itu terus tumbuh dan bertabrakan dengan pasukan monster. Semua monster yang bersentuhan dengan sulur tanaman berduri itu akan di ikat dengan erat seperti ular yang melilit mangsanya.


Kelopak bunga mawar berwarna putih bersih seperti salju mulai mekar dan menebarkan aroma yang sangat harum. Sekelompok mammoth yang mendekat juga terjerat oleh sulur tanaman berduri itu dan berhasil menghentikan mereka.


Kelopak bunga mawar yang berwarna putih itu secara bertahap berubah menjadi kelopak bunga merah karena duri yang menusuk tubuh monster itu akan menyerap darah dan daging mereka sebagai nutrisi.


Monster-monster yang tidak terlalu kuat akan segera di keringkan menjadi mayat setelah mereka terjerat, tapi mammoth, mereka adalah monster yang sangat kuat dengan tubuh yang besar. Mereka meronta dan berhasil memutuskan sulur yang menjerat mereka.


Namun, sihir area keluarga Rosefield bisa mendapatkan reputasi sebagai sihir yang mengerikan bukan tanpa sebab. Satu sulur putus, puluhan sulur lain segera menjerat ke arah kelompok mammoth itu.


Menderum...!


Menderum...!


Mungkin karena merasakan bahaya, monster mammoth yang terjerat itu segera mengeluarkan suara keras ke langit. Tubuh mereka bersinar merah dan kekuatan mereka berlipat ganda. Sulur yang tadi bisa sangat menghambat mereka, kini terpotong seperti tak ada artinya.


Seharusnya sihir ini masih bisa menahan mereka, tapi jumlah sulur terbatas dan harus di gunakan untuk mengikat jumlah monster yang sangat besar.


Seekor mammoth berhasil lolos dan berlari menuju kota dengan amarah yang terlihat jelas di matanya. Dia memimpin sekelompok banteng api di belakangnya untuk menghancurkan tembok kota.


Rovell:"Jangan terlalu berharap!."


Hanya beberapa meter dari tembok kota, sulur berduri yang lebih tebal segera mengikat mammoth itu dan sulur yang lebih kecil mengikat kelompok banteng api di belakangnya. Api pada tubuh banteng itu segera berkibar menjadi banteng merah untuk mencoba membakar sulur yang mengikat mereka.


Harnas:"Tidak bisa seperti ini terus. Eden, bawa pasukanmu dan ikuti aku. Cleric, segera beri dukungan!."


"Ya..!!"


Mereka semua segera menjawab dengan tegas. Aku memimpin Eden dan para kesatria untuk melompat dari tembok kota yang setinggi delapan meter langsung ke punggung monster. Meskipun sangat tinggi dan seperti melompat ke kematian, para kesatria itu tidak ada yang ragu sedikitpun dan langsung mengikutiku melompat ke kerumunan monster. Inilah kualitas seorang kesatria yang paling menonjol jika di bandingkan dengan prajurit. Mereka tidak akan ragu atau takut untuk mengeksekusi perintah demi melindungi orang lain di balik punggung mereka.


Harnas:"«Pelana»."


Aura putih perak seperti cahaya bulan menyelimuti tubuhku. Bukan hanya aku, Eden dan kesatria lainnya juga memiliki aura yang menyelimuti tubuh mereka, hanya saja semuanya memiliki warna yang berbeda tergantung mana internal mereka.


Ini adalah skill dari seorang kesatria yang terbentuk dari mana internal yang di kentalkan diluar tubuh untuk meningkatkan pertahanan dan juga merangsang syaraf supaya meningkatkan seluruh statistik tubuh termasuk kelincahan dan kecepatan reaksi. Skill ini khusus di kembangkan untuk para kesatria untuk pertarungan. Meskipun kuat, tapi teknik ini akan memakan banyak mana internal.


Aku segera mendarat di atas kepala mammoth itu dan Eden serta kesatria yang bersamanya mendarat di antara kelompok banteng api.


Harnas:"«Moonlight Focal Point»."


Pedang di tanganku menyala dengan cahaya perak dan aku langsung menikahkannya ke kepala mammoth yang ada di bawah kakiku.


Tapi sebelum ujung pedang bisa menusuk kepala mammoth, belalai itu melambai ke arahku dengan kecepatan yang luar biasa. Aku hanya bisa meninggalkan kesempatan ini dan melompat ke udara untuk menghindari sapuan belalai mammoth yang mengerikan. Aku berputar di udara dan segera mengambil kesempatan ini untuk menghujamkan sebuah tikaman ke tengkorak mammoth yang besar itu.


Menderum...!


Splash...!!


Meskipun sangat sulit, akhirnya pedang itu masuk ke dalam tengkorak binatang itu dan membuatnya menggeram kesakitan. Tapi karena tengkorak dan kulitnya yang tebal, pedang itu tidak segera mengenai otaknya.


Harnas:"Tingkat dua...!!"


Pedang di tanganku segera bersinar dengan sangat menyilaukan dan berubah menjadi bilah perak yang panjang hingga menembus seluruh kepala mammoth itu dari atas ke bawah. Darah merah segera di semprotkan ke lautan sulur mawar di bawahnya, mewarnai hijau dengan merah gelap dari darah.


Tubuh besar itu segera jatuh dan menjadi makanan bagi sulur mawar untuk memulihkan diri dari kerusakan.


Swos...!!


Sebelum aku bisa bernafas, suara tajam angin yang terbelah memasuki telingaku, dengan refleks yang di perkuat, aku melompat ke kiri dan menghindari serangan itu. Saat aku melihat dari mana serangan itu berasal, aku melihat mammoth lain yang terikat itu berhenti melawan dan mulai menghisap salju dengan belalainya yang panjang.


Mereka menyemprotkan kembali salju itu menjadi tombak es tajam seperti kristal transparan yang berkilau di bawah cahaya. Setiap mammoth bisa menyemburkan hingga puluhan tombak es yang membelah udara dengan sangat cepat ke arah tembok kota dan ke arah ku.


Tidak mungkin untuk menghindari jumlah tombak es yang sangat padat itu. Aku hanya bisa bertahan. Sial, jika seperti ini, aku hanya akan sangat pasif dalam pertarungan ini.


Eden dan kesatria lain yang sudah membunuh lawan mereka melihat pemandangan ini dan segera berkumpul ke arahku.


Eden:"Bertahan!."


Mereka membentuk perisai mana kuning transparan di depanku untuk melindungi ku.


Rovell:"«Magic Shield»"


Perisai kuning tambahan yang tidak kalah tebal dengan perisai gabungan dari ratusan Kesatria itu segera memberikan lapisan lain pada kami dan mencegah tombak es itu menerobos.


Dentang... Dentang... Dentang...!


Suara tabrakan tombak es dan perisai membuat suara berdentang yang sangat keras sebelum tombak itu hancur seperti kaca yang pecah dan menyebarkan serpihannya ke area sekitar.


Dengan di lindungi oleh Shield, kami mundur ke arah tembok kota dan menempelkan punggung kami di tembok supaya tidak terjebak dalam pengepungan monster.


Serangan tombak es itu sangat lebat seperti tak ada akhir. Seperti yang aku duga, kami benar-benar pasif dan sulit untuk menyerang. Dari balik perisai yang transparan, aku melihat kawanan monster itu tumpah ke arah kota seperti gelombang tsunami yang tak berujung.


Lebih buruk, di kejauhan aku melihat awan gelap yang menutupi langit. Awan itu terbentuk dari monster terbang yang tak terhitung jumlahnya.


Rovell:"Perkuat tembok kota."


Saat monster-monster barisan terdepan mulai berbenturan dengan tembok kota, sulur mawar berduri yang menjerat monster segera beralih untuk melilit tembok dan memperkuatnya. Meskipun monster yang menabrak tembok mawar itu mati tertusuk duri mawar yang seperti paku baja, tapi mereka tidak memiliki rasa takut dan terus menabrak tembok dengan tubuh mereka. Salju di bawah sudah lama hancur dan bercampur dengan darah merah yang sangat pekat.


Rovell:"Burning wall !."


Sebuah dinding api segera membakar sesuatu di sekitar kami dan membuat ruang kosong yang cukup luas.


Rovell:"Ikut aku!."


"Ya!."


Pasukan penyihir di atas tembok kota turun ke arah kosong di sekitar kami dengan di pimpin oleh Rovell.


Rovell:"Kita akan bertarung bersama."


Harnas:"Ya!."


Rovell dan penyihir lainnya segera memberikan kami ruang untuk bergerak melawan balik. Dengan dukungan para penyihir, kami semua maju untuk bertemu dengan lautan monster.


"Aku menjadi kesatria untuk mendapatkan uang. Sekarang, aku tahu nikmatnya mati demi melindungi sesuatu. Saudaraku, terima kasih selama ini. Hahahaha....!"


"Hey, kamu bisa berterima kasih kepadaku setelah kamu selamat. Tidak ada gunanya mendapat ucapan terima kasih dari orang mati..."


"Hey, kalian bisa mati, aku masih ingin menikahi Rosete...!"


"Omong kosong, siapa yang mau menikah denganmu...!."


Harnas:"Oh, sepertinya kamu akan mati dengan kesepian."


"Marshal, kamu menusuk lukaku..."


"Hahahaha....."


Dalam keadaan yang sangat berbahaya seperti ini, para kesatria dan penyihir saling bercanda dan tertawa. Mereka menghadapi kematian tanpa rasa takut sedikitpun.


Bercanda kadang-kadang memang sesuatu yang buruk, tapi dalam keadaan saat ini, ini bisa menguatkan tekad para pasukan yang bertarung.


Lebih dari seribu orang kami bertarung dengan lautan monster, hanya seperti batu karang di tengah lautan yang terus di hantam ombak. Tapi ini sudah cukup, keberadaan kami berhasil menarik perhatian monster-monster itu dan mengalihkan mereka dari menyerang tembok kota.


Dengan dukungan tembakan sihir dari belakang, aku memimpin Eden dan kesatria lain maju bertemu dengan pasukan monster. Pedang menebas dengan gila, membuat sungai darah hangat di tengah musim dingin.


Sepanjang pertarungan, berbagai skill bertarung dan sihir di tampilkan dengan gila-gilaan seperti tiada hari esok.


Aku melihat beberapa kesatria yang mati karena serangan cakar monster atau tertusuk oleh tanduk monster yang setajam tombak baja.


Tapi tidak ada yang akan memberikan rasa simpati pada keadaan seperti ini. Baik manusia dan monster, semuanya tenggelam dalam pertarungan kegilaan.


Meskipun para Cleric terus memberikan dukungan dan sihir penyembuhan dari kejauhan, tapi mereka tidak akan mampu mengakomodasi seluruh luka dalam pertarungan. Jadi mereka hanya bisa menghambat pendarahan dari luka yang lebih parah. Meskipun demikian, rasio kematian masih sangat besar.


"Ahhhh....!"


Aku mendengar jeritan dari belakang. Di Sana, seorang penyihir tertusuk oleh tombak es di perutnya hingga menembus punggung. Tapi penyihir itu tidak menyerah, dia meninggalkan barisan dan berlari maju ke kawanan monster yang padat dengan nafas terakhirnya. Tubuhnya menyerap mana eksternal dengan gila hingga keadaan jenuh, lalu....


Bang...!


Sebuah ledakan besar bergema, menghancurkan dan melukai monster yang ada di sekitarnya.


Tragis, sangat tragis...


Rovell:"Harnas, awas...!"


Tanpa aku sadari, seekor macan hitam melompat ke arah punggungku, memamerkan taring dan cakarnya yang bisa mengoyak tubuhku...


Rovell hanya bisa memperingatkanku karena saat ini dia juga sedang menahan seekor monster serigala bermata biru dengan tongkat sihirnya.


Meskipun sudah di peringatkan, tapi aku tidak punya waktu untuk menghindarinya karena di depanku juga ada seekor monster serigala yang menerkam.


Aku hanya bisa mengigit lidahku dan meminum darah yang keluar dari bekas gigitan.


«Blood Sacrifice»


Merubah darah menjadi mana internal. Armor perak di tubuhku langsung di warnai merah dan pertahanannya di tingkatkan dua kali lipat.


Bang...!


Cakaran monster itu mengenai pelana milikku dan menciptakan kilatan api. Meskipun serangan itu berhasil di tahan, tapi tubuhku juga terlempar karena kekuatan sisa dari monster itu.


Saat aku berguling-guling dan terjatuh ke tanah, monster banteng segera mengangkat kaki depannya dan berusaha menginjak ku. Aku tidak akan bisa menahan serangan itu karena tenagaku belum terkumpul setelah terjatuh.


Tiba-tiba, sebuah tongkat sihir memukul bagian kepala monster itu dan membuat monster itu terjatuh ke samping. Aku melihat Rovell berdiri di depanku untuk menghalangi monster lain yang mencoba menyerangku.


Aku bisa melihat bekas cakaran yang dalam di punggungnya. Aku tahu, setelah dia melihatku terjatuh dan dalam bahaya, dia mengabaikan monster yang menyerangnya dan langsung berlari ke arahku. Alhasil, bagian punggungnya terkena serangan dari monster serigala bermata biru.


Rovell:"Saat pernikahan, aku sudah bersumpah untuk melindungimu, bahkan dengan hidupku. Aku akan membantumu membuka jalan, kamu bisa segera mundur... Uhuk...!."


Rovell berbicara dan segera meludahkan sepotong besar darah. Dia membakar mananya untuk mendapatkan kecepatan supaya tepat waktu untuk melindungi ku. Mungkin mana vesselnya rusak karena penggunaan mana yang di paksakan.


Harnas:"Tidak. Kita akan maju dan mundur bersama. Kita pasti akan bisa melalui ini. Lagi pula, kamu tidak akan membiarkan Arsh menunggu lebih lama kan?!."


Aku berbicara sambil mencoba berdiri dan mengeratkan kembali peganganku pada gagang pedang.


Rovell:"Hahaha... Apa boleh buat. Kalau begitu, ayo kita berjuang hingga akhir."


Kami berdiri berdampingan dan menghadap ke arah gerombolan monster yang ganas dan gila. Ini hanyalah pertarungan yang sangat putus asa...


Gerombolan monster menerjang ke arah kami dari kejauhan terlihat sangat ganas dan mengerikan.


Harnas:"Jika ini akhirnya, aku bersyukur karena telah bertemu denganmu..."


Rovell tidak menjawab dan matanya yang penuh tekad menatap kawanan monster tanpa rasa takut.


Saat kami bersiap untuk berbenturan dengan gelombang monster itu lagi, tiba-tiba sebuah cahaya keemasan yang sangat panjang melesat dan membelah ujung langit di kejauhan. Cahaya itu setebal batang pohon dan bergerak sangat cepat. Sebelum mendarat di tanah, cahaya itu terpecah menjadi ratusan ribu cahaya keemasan yang sebesar anak panah dan langsung menghujani gelombang monster, membunuh dan memusnahkan mereka.


Kawanan monster terbang yang padat juga berjatuhan dari langit. Hujan darah dan daging segera menyelimuti seluruh Medan perang.


Tidak peduli seberapa keras dan tebal pelindung eksternal monster itu, mereka bisa di tembus dengan mudah oleh cahaya keemasan itu.


Apa yang terjadi...


(Akhir dari chapter ini.)


Aku rasa ini pertama kalinya aku menulis pertarungan Harnas dan Rovell.


Karena kemarin aku tidak bisa update, jadi aku update 3000+ kata. Semoga suka.