Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 77: Melawan Tier Lima



monster-monster itu mati satu persatu dan perlahan semua monster menjadi nutrisi untuk perkembangan Soul Eater. garis-garis merah perlahan terbentuk di atas cangkang hitam itu seperti huruf-huruf Mingrel, memberikannya kesan yang menakutkan dan kuno.


Filia:"Arkne, Upirina. segera mundur"


"baik Yang Mulia"


mereka berdua segera kembali melayang ke arahku dan ikut bersamaku untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan itu. aku terus memperhatikan perubahan yang terjadi pada cangkang telur itu. rune merah yang berada di atasnya berkedip seperti bara api yang berpijar. setelah beberapa saat, hampir semua monster telah berubah menjadi pupuk bagi telur itu. mungkin karena energi yang dibutuhkan sudah cukup, Soul Eater menghentikan penyerapannya.


energi yang menakutkan perlahan terpancar dari telur raksasa, seperti makhluk kuno yang akan terbangun. auranya bahkan membuat hatiku berdetak kencang. aku tidak yakin apakah ini perasaan takut atau bersemangat karena ada lawan yang kuat, tapi jantungku benar-benar berdetak lebih cepat.


Arkne:"aura yang menakutkan"


Arkne bergerak maju untuk melindungiku. dia sudah mengambil posisi siap tempur sambil memegang kapak perangnya. kapak dengan gagang lebih dari dua meter itu di pegang menyamping dengan bagian bilah kapak menghadap ke belakang. kabut hitam dan suara tangisan samar yang memilukan seperti penuh penderitaan dan kesedihan. suara yang terdengar dari kapak itu bisa membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya merinding.


Upirina:"ya, tapi aura dari World Destroyer jauh lebih mengerikan"


Arkne:"kamu tidak bisa membandingkan monster itu dengan World Destroyer"


Filia:"kalian berdua, mundur"


aku memerintahkan mereka berdua yang siap bertempur kapan saja untuk mundur kebelakang ku. perlahan tapi pasti, cangkang hitam legam itu memancarkan cahaya merah seperti langit di atasnya.


Filia:"ayo pergi!"


aku menukik ke bawah hingga ketinggian beberapa puluh meter. setelah aku merasa bahwa ketinggiannya sudah sesuai, aku memasang pelindung yang menutupi tubuhku dan yang lainnya.


langit yang tadinya merah berubah menjadi semakin gelap. aku memperhatikan bahwa awan gelap mulai berputar dan mengumpul di atas telur raksasa. awan gelap yang mencakup radius setengah kilometer itu mengeluarkan aura yang menakutkan dan penuh teror. kilatan petir merah darah berkelebat seperti ular yang bergerak cepat di antara awan gelap. kilatan cahaya merah semakin intens dan semakin cerah.


sesaat kemudian, petir merah menyambar cangkang telur dan menciptakan kilatan cahaya yang menyilaukan mata. tidak berhenti, sampai disitu, sejumlah besar petir merah lain terus menyambar cangkang telur secara bergantian. cangkang telur yang di hantam oleh petir secara terus-menerus mulai menciptakan celah dan retak. sebelum cangkang telur hancur sepenuhnya, awan hitam di atas langit mulai menyebar dan menghentikan serangannya. saat petir telah menghilang, awan gelap itu menyebar secara perlahan, tapi tidak menyebar sepenuhnya.


meskipun hanya sebentar, tapi pemandangan yang baru saja aku lihat sangat spektakuler. petir-petir itu setidaknya memiliki kekuatan yang setara dengan serangan penuh dari pemain Tier tiga.


Arkne:"itu tadi cukup mengesankan"


Filia:"itu benar, tapi hidangan utamanya akan segera tersaji"


cangkang telur hitam yang retak itu masih berdiri dengan kokoh ditengah tanah yang berlubang dan meleleh karena sambaran petir.


Krak....!!


suara pecah yang tajam terdengar dari arah telur itu. sebuah cakar tajam menembus di antara celah-celah retakan cangkang telur yang di buat oleh petir. cakar itu kembali di tarik masuk dan membentur ke arah cangkang lagi, berusaha untuk menghancurkan cangkang yang keras itu.


BANG....!!


saat cakar ditarik untuk yang ke tiga kalinya, cangkang telur itu meledak dan hancur berkeping-keping akibat tekanan internal. pecahan dari cangkangnya tersebar dan menusuk dalam di tanah. Karena tanah yang meleleh, tidak ada debu maupun pasir yang mengepul ke udara akibat ledakan itu yang membuat sosok didalam telur terlihat dengan jelas.


tubuhnya yang besar seukuran rumah, berdiri dengan empat kaki di tanah. kaki bagian belakang monster itu terlihat lebih kuat dari kaki bagian depan. monster itu memiliki mulut yang lebar hampir membentang sampai ke pipinya. matanya yang besar berwarna merah menyala dengan pupil ungu horizontal yang dapat memberikan perasaan menindas kepada lawannya. tubuhnya yang besar berwarna ungu kehitaman, di atas kepalanya terdapat banyak tentakel dengan ujung yang tajam dan mengeluarkan asap ungu. dari ujung tajam tentakel meneteskan semacam cairan berwarna ungu gelap yang akan menghasilkan suara mendesis saat menetes ke tanah.


melihat penampilannya, Soul Eater itu mengingatkanku pada seekor binatang yang aku lihat di Ensiklopedi tentang hewan. menurut yang tercatat di dalamnya, binatang yang mirip dengan Soul Eater adalah binatang yang disebut sebagai katak. bedanya adalah, bahwa Soul Eater memiliki tentakel di atas kepalanya dan banyak bentuk wajah manusia dan monster dengan mulut terbuka di punggungnya. setiap mulut yang terbuka mengeluarkan asap ungu samar yang terlihat menjijikkan.


sebenarnya aku belum pernah melihat penampilan katak yang sesungguhnya. itu karena katak sudah punah di abad ke 22 dan hanya beberapa klon yang di pelihara dan dilindungi di taman satwa. tentu saja aku tidak di izinkan untuk pergi ke sana saat tubuhku sangat lemah, jadi aku hanya bisa melihatnya melalui gambar ataupun Vidio. sepertinya aku tidak akan menyesali hal itu. setelah melihat langsung monster itu, aku bahkan tidak ingin melihatnya lagi.


Filia:"monster yang menjijikkan"


aku pernah melihat Soul Eater, tapi aku belum pernah melihat Soul Eater yang berevolusi menjadi makhluk yang menjijikkan seperti ini. biasanya Soul Eater Tier tiga lebih mirip binatang yang disebut kadal daripada katak.


monster itu menghadap ke arahku dan perlahan, lehernya mulai menggelembung seperti balon.


Kraookkk...!!!!


bersamaan dengan lehernya yang menggelembung, suara keras yang membuat gendang telinga hampir pecah menghantam ke arahku. kepalaku terasa berputar dan pusing. setelah beberapa saat, aku berhasil menstabilkan tubuhku yang hampir jatuh ke tanah karena kepala yang pusing. sialan, bahkan monster itu dapat bersuara tanpa membuka mulutnya!?. suara tadi bukanlah suara biasa, tapi itu adalah suara yang bercampur dengan serangan mental. jika aku bukan tipe mental dengan kekuatan mental yang kuat, mungkin kepalaku akan pecah seperti semangka karena serangan itu.


bang...!!


Arkne:"kepalaku terasa seperti tertusuk oleh banyak sekali jarum"


Upirina:"itu benar. beruntung bahwa kita membuat pelindung mental tepat waktu, jika tidak..."


aku juga tidak mengira bahwa Soul Eater Tier lima dapat memiliki serangan seperti itu. aku cukup kagum karena mereka berdua bisa membuat pelindung mental tepat waktu. sebenarnya aku bahkan tidak membuat pelindung mental saat serangan itu datang, aku hanya mengandalkan kekuatan mentalku yang kuat.


Filia:"kalian kembalilah dulu ke Aether. kemampuan mental kalian terlalu lemah untuk menghadapi monster itu"


karena takut mereka menolak dan bersikeras untuk bertarung, aku menteleportasi mereka menuju Aether dengan paksa. setelah menteleportasi mereka, aku memerintahkan Cerberus yang sejak tadi berada di Aether untuk menahan mereka supaya tidak memaksa keluar dan bertarung.


"tuan, saya tidak mungkin mampu menahan mereka berdua"


aku mendengar suara Cerberus yang mengeluh dalam telepati.


Filia:"seret mereka ke ruang takhta"


"baik"


aku memutuskan komunikasi pada Cerberus dan memfokuskan perhatianku kepada Soul Eater yang sedari tadi hanya menatapku. monster Tier ini seharusnya memiliki kecerdasan yang tinggi, jadi saat ini mungkin dia sedang mengamatiku.


Filia:"baiklah, mari kita lihat seberapa kuat Soul Eater Tier lima"


dua belas kartu dengan cahaya emas melayang di sekitarku seperti cincin yang mengelilingiku. cahaya emas yang indah memberikan sentuhan suci di tanah kehancuran dan kematian ini.


«The Holy Goddess: Virgo»


salah satu kartu yang melayang di sekelilingku memisahkan diri dan membesar seukuran denganku. kartu itu terbelah menjadi dua dan menghimpit bagian depan dan belakangku. saat kedua bagian itu menyatu dan menghimpit ku, cahaya emas menyilaukan mataku. sesaat kemudian armorku sudah berganti menjadi armor emas yang di padukan dengan jubah penyihir berwarna putih dengan bordir emas yang indah.


dengan menggunakan armor ini aku dapat mengontrol mana dan kembali menggunakan sihir, hanya saja aku tidak bisa menggunakan sihir lain kecuali elemen cahaya.


selain armor ringan itu, di tanganku juga muncul sebuah tongkat berwarna emas dengan permata ungu di atasnya. di sekeliling tongkat itu melayang partikel-partikel cahaya yang seperti membentuk rasi bintang di langit malam.


«Tier Four Magic: Sword of Judgment»


di atas kepalaku muncul sebuah pedang raksasa sepanjang lebih dari sepuluh meter yang terbuat dari cahaya keemasan. disekitar pedang besar itu, ada ratusan pedang kecil lainnya yang menghadapkan ujung tajamnya ke arah monster itu.


aku mengayunkan tongkatku dan semua pedang itu meluncur dengan cepat dan menghujam ke bawah menuju monster itu. ledakan besar mengangkat puing-puing tinggi ke udara. debu dan tanah mengepul ke udara seperti bekas ledakan bom dengan daya ledak tinggi. mungkin tanah itu meleleh, tapi dampak dari kekuatan sihir Tier empat terlalu menakutkan, bahkan kota yang sangat luas itu hancur tanpa sisa.


GRAOOO...!!!


bersamaan dengan itu, suara jeritan keras terdengar dari kepulan asap dan debu. tanpa menunggu debu mengendap, aku melihat ada benda besar yang meluncur dari kepulan itu menuju ke arahku.


«Protection of the Holy Goddess»


cahaya emas transparan membentuk bola dan melindungiku didalamnya. saat benda yang meluncur ke arahku berbenturan dengan perisai pelindung emas, suara kaca pecah yang nyaring seperti menusuk jantungku. perisai itu dengan cepat hancur berkeping-keping dan benda itu menghantam langsung ke arahku. karena refleks, aku mengangkat tongkat sihir itu untuk menahan benturan.


hantaman yang sangat kuat menghantam tongkat itu dan membuat tanganku seperti akan hancur. karena dampak hantaman yang keras, aku merasa tubuhku terhempas ketanah dengan cepat.


Bang...!!!.


ugh... punggungku menghantam tanah dari ketinggian sepuluh meter dengan kecepatan tinggi dan menciptakan kawah besar di tanah. aku merasa bahwa tubuhku baru saja di tabrak oleh kereta cepat. jika tubuh ini memiliki nya, rasanya seperti seluruh tulangku bergeser dan organku mengalami hentakan keras. jika ini bukan tubuh jiwa, maka mungkin aku akan memuntahkan darah saat ini.


meskipun tubuh ini berupa jiwa, tapi tubuhku masih merasakan sakit seperti tubuh normal seperti tubuh dengan darah dan daging. melawan monster Tier lima benar-benar tidak bisa menyimpan kekuatan. saat aku mencoba berdiri dari tanah, aku mendengar sebuah suara yang mengerikan dari monster itu sampai di telingaku.


"bagaimana mungkin makhluk dari zaman ketiga para dewa masih ada?"


(akhir dari chapter ini)


selamat menikmati, semoga kalian suka.


see you next time;)