
Orang-orang itu berguling-guling di lantai dengan menyakitkan. Mereka memegangi wajah mereka yang penuh dengan banyak bintil-bintil putih bengkak yang mengerikan.
Sesaat kemudian, bintil-bintil di wajah mereka meledak, memuncratkan cairan putih berbau amis yang menyengat seperti nanah yang sangat menjijikan. Bersama dengan pecahannya cairan dari wajah mereka, dari dalam luka itu juga merangkak serangga-serangga yang tubuhnya gemuk penuh lemak dan berwarna putih, mirip seperti belatung pemakan daging, hanya saja ukurannya sedikit lebih besar.
Serangga-serangga putih menjijikkan itu terus merangkak di wajah dan sekujur tubuh para pejabat sial itu. Ada beberapa serangga yang jatuh dan menggeliat di lantai karena terkena gerakan tak beraturan dari orang-orang yang kesakitan itu.
Pemandangan itu benar-benar mengerikan dan membuat orang merasa mual yang tak terkatakan. Namun, orang-orang itu seakan tidak menyadarinya dan terus berteriak karena kesakitan.
Serangga yang merangkak di tubuh mereka menjadi semakin banyak bahkan hingga seluruh wajah mereka hancur dan darah serta cairan nanah yang menjijikkan membasahi tubuh mereka. Serangga-serangga menjijikkan itu tidak berhenti sampai di sana. Mereka menukik dan mengebor kembali ke bawah kulit orang-orang itu. Dapat dilihat dari permukaan tubuh mereka yang terus bergelombang, serangga-serangga itu bergerak di bawah kulit untuk memakan darah dan daging untuk membantu pertumbuhan mereka.
Teriakan orang-orang itu menjadi semakin ganas dan perlahan berhenti. Orang-orang itu terbaring di lantai dengan wajah hancur dan tidak berbentuk. Diam, hanya serangga di bawah kulit yang terus menggeliat untuk memakan daging.
Beberapa saat kemudian, gerakan pada mayat benar-benar berhenti dan tidak ada gerakan sama sekali. Mayat-mayat itu hanya menyisakan lapisan kulit pada tulang, tanpa darah dan daging sedikitpun. Kulit pada mayat tiba-tiba retak terbelah dan dari dalam muncul serangga dengan karapas ungu bergaris merah yang mirip seperti serangga induknya. Serangga-serangga itu langsung terbang ke arah pria berjubah itu dan menghilang di balik jubahnya. Tidak ada yang tahu kemana serangga-serangga itu pergi.
Pemandangan yang sangat menakutkan dan menjijikkan itu seakan menjadi mimpi buruk yang menghantui hati banyak orang. Namun, bau amis busuk di udara memberi tahuku bahwa kejadian itu sama sekali bukan mimpi, tapi sebuah kenyataan yang sangat menakutkan.
Dengan pemandangan seperti itu, banyak orang yang ketakutan sekaligus merasa jijik, terutama mereka yang takut dan jijik terhadap serangga, mereka sudah lama jatuh ke lantai dan kehilangan kesadaran mereka. Selain orang-orang seperti itu, bahkan orang normal pun merasa sangat mual. Hanya saja, melihat kedua orang berjubah itu yang masih berdiri di sana, orang-orang yang ingin muntah harus menahan sebisa mereka supaya tidak menyinggung para tamu yang seperti iblis ini.
"Kamu membuat ruangan ini menjadi kotor."
Wanita itu berkata dengan sedikit tidak puas melihat mayat-mayat di lantai yang dalam kondisi menyedihkan. Dia melambaikan tangannya dan kabut hitam segera menyelimuti mayat-mayat itu. Setelah kabut hitam tersebar, mayat-mayat itu sudah menghilang dan hanya meninggalkan jejak cairan di lantai.
Setelah membersihkan hal-hal yang tidak menyenangkan, wanita itu menoleh ke arahku dengan senyum tapi bukan senyum di wajahnya.
"Sebagai seorang kaisar, sebaiknya kamu segera mempersiapkan diri untuk menyambut Yang Mulia."
Aku terkejut untuk beberapa saat setelah mendengar apa yang di katakan wanita itu.
Jianlin:"A, apakah aku masih bisa hidup?."
Wanita itu melirikku dengan Sedikit penghinaan di dalam matanya.
"Ya. Yang Mulia hanya memerintahkan untuk membunuh mereka yang berusaha melarikan diri atau mereka yang mencoba untuk membuat kerusuhan. Selama kalian tidak melakukan kesalahan, Yang Mulia masih ingin bertemu dengan kalian, jadi sebaiknya kalian tidak melakukan hal aneh supaya tidak memancing amarah Yang Mulia."
Setelah beberapa saat, lelaki dengan jubah menambahkan.
"Juga, aku sudah mengirim banyak kesatria untuk menangkap dan membawa para pejabat yang bertanggung jawab atas pemerintahan ke istana ini. Oh juga, Yang Mulia akan tiba tujuh hari dari sekarang, sebaiknya persiapan untuk pengalihan Takhta segera di selesaikan."
Orang-orang itu segera berbalik dan pergi, hanya menyisakan prajurit untuk memeriksa orang-orang yang hadir. Setelah beberapa saat, kami bebas dari pemeriksaan dan di biarkan melakukan apapun asalkan tidak melewati batas istana.
Zhang Zilin:"Maafkan saya, Yang Mulia, saya akan kembali ke kamar saya..."
Aku melihat bahwa wajah Zhang Zilin telah menjadi pucat dan tidak sehat. Mungkin dia sedikit terguncang setelah melihat pemandangan yang mengerikan itu. Aku tidak punya pilihan selain membiarkan para permaisuri dan selir lainnya kembali ke kediaman mereka masing-masing untuk beristirahat dan menenangkan diri
Saat ini, di ruang takhta, hanya ada aku dan beberapa menteri yang setia di tambah dengan Tian Che.
Ruangan itu sunyi, penuh dengan suasana berat dan tertekan. Kejadian tadi, sekali lagi mengingatkan kami, bahwa musuh yang kami hadapi adalah monster dan tidak ada kesempatan bagi kami untuk melawan balik. Sasana hening dan tertekan ini bertahan untuk beberapa saat sebelum Tian Che mengajukan sebuah pertanyaan.
Tian Che:"Yang Mulia, apakah kita benar-benar tidak akan melarikan diri?."
Mendengar pertanyaan yang dia ajukan, aku menggelengkan kepala tanpa banyak memikirkannya. Melarikan diri?, apakah itu mungkin?.
Mungkin, tapi sangat kecil. Aku sama sekali tidak tahu kemampuan apa yang di miliki oleh kedua orang itu, belum lagi, prajurit mereka yang terus berpatroli dan mengawasi setiap gerak-geriknya orang yang ada di istana.
Jika pelarian gagal, sama sekali tidak ada jalan mundur dan di pastikan hanya kematian yang bisa di dapatkan. Namun, jika bertahan di istana dan mengikuti permintaan mereka, maka masih ada sedikit harapan untuk bertahan hidup. Setidaknya itu adalah satu-satunya secercah harapan yang aku pegang.
Selain itu, melihat seberapa kejam orang-orang itu, jika kami melarikan diri, maka orang-orang itu pasti akan membalik seluruh ibu kota demi menemukan kami. Aku tidak tahu akan seberapa banyak rakyat yang tidak bersalah akan mati demi keegoisanku semata.
Bukan hanya aku, bahkan dilihat dari ekspresi mereka, para pejabat dan Tian Che juga menyadari konsekuensi dari melakukan hal itu. Tidak ada pilihan lain, kami hanya bisa tetap tinggal di istana dan menunggu kedatangan dari yang mereka sebut 'Yang Mulia'.
Istana Perak...
(Zhang Zilin).
Lebih dari satu juta prajurit dan hampir semuanya di musnahkan, kekutan macam apa itu?!. Mendengar berita yang mustahil seperti itu, benar-benar membuatku takut untuk memikirkannya.
jika pada umumnya, perang yang melibatkan ratusan ribu prajurit akan berakhir paling tidak selama dua atau tiga cahaya kuning. Tapi ini, dengan jumlah prajurit yang sedemikian banyak, bahkan tidak mampu menahan musuh selama dua hari?!.
Berita seperti itu sangat sulit untuk aku percaya, tapi aku juga tahu bahwa berita itu adalah suatu kebenaran yang sangat mengerikan. Aku takut, sangat takut.
Namun, sesuatu berhasil menghilangkan semua ketakutan ku. Sudah sejak bertahun-tahun, aku menjadi seorang permaisuri.
Aku tahu bahwa Jianlin menyukaiku, tapi aku selalu berada pada posisi di bawah ratu Viil hanya karena dia memiliki latar belakang yang lebih kuat dariku. Puas?. Tentu saja aku tidak akan puas. Aku juga memiliki keinginan dan ambisiku sendiri.
Lama, sangat lama aku merasakan tekanan dan ketidakpuasan, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan untuk merubah itu.
Tapi dengan itu pula, posisiku hanya akan terhenti di titik ini yang sama sekali tidak bisa aku terima. Jika hanya berada di posisi ini, bagaimana mungkin aku bisa menghancurkan Jianlin dan seluruh anggota istana?.
Aku tidak peduli apa, bahkan jika aku harus mengorbankan segalanya, aku akan melakukannya, asalkan aku bisa membuat orang-orang itu menderita.
Cinta?. Ya, aku mencintai Jianlin dan dia juga mencintaiku, tapi apa?!. Dia pernah berkata, bahwa dia akan naik takhta demi diriku. Tapi, setelah dia naik takhta, dia meletakkan ku pada posisi di bawah ratu Viil hanya karena status sosial.
Aku yang sudah menemaninya sejak lama, memberinya dukungan supaya bisa naik takhta. Bahkan, orang tuaku harus memimpin pasukan keluarga dan gugur di Medan perang demi membelanya. Semua hal yang sangat menyakitkan dan pengorbanan yang tak terhingga telah aku berikan, tapi pada akhirnya aku hanya di letakkan pada posisi kedua dan di kalahkan oleh orang yang tiba-tiba muncul?!. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya?!.
Namun aku pada akhirnya hanya mentolerir itu semua. Hingga hal itu terjadi...
Saat itu aku sedang mengandung anakku. Usia kandunganku saat itu baru berusia satu cahaya kuning. Aku sangat bahagia dan menantikan kelahirannya.
Bagiamana pun, anak itu adalah kristalisasi dari aku dan Jianlin. Namun, semua harapanku hancur. Dengan kelicikan ratu Viil itu, dia mendorongku jatuh dari tangga hingga menyebabkan tulang rusukku patah. Dan... Dan yang paling menyakitkan, aku harus kehilangan bayiku.
Itu membuatku sangat putus asa, tapi yang paling membuatku putus asa datang setelah itu. Meskipun ratu Viil terbukti bersalah dan harus dihukum, namun karena keluarga dari ratu Viil menekan Jianlin, maka ratu Viil di bebaskan dari hukumannya dan hanya di asingkan ke istana bara untuk beberapa saat.
Saat itulah aku benar-benar hancur. Satu-satunya harapanku telah hancur. Bahkan Jianlin yang aku percaya telah meninggalkanku. Tapi dengan hal itu pula, aku sadar bahwa dia tidak naik takhta demi diriku, melainkan demi kekuasaan semata.
Sejak itu, hatiku benar-benar dingin untuknya. Aku membencinya, aku bahkan tidak ingin lagi melihatnya. Namun, aku sadar, bahwa aku tidak akan bisa melakukan apapun jika aku pergi dari istana. Aku lebih memilih tetap bertahan di Harem istana dan melakukan pergerakan-pergerakan kecil sambil mempertahankan topeng drama yang ada di wajahku.
Berulang kali aku ingin membuat mereka menderita, tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku tidak memiliki kekuatan yang cukup. Aku hanya bisa menunggu kesempatan untuk melakukan sesuatu.
Keluar dari ruang takhta, aku kembali ke istana perak bersama dengan tiga pelayan setiaku. Aku terus mempertahankan wajah wanita lemah dan lembut ini sepanjang waktu untuk menyembunyikan semua kebencianku.
Sampai di depan gerbang istana perak, aku masuk seperti biasa. Hanya saja, hari ini suasananya sangat berbeda. Biasanya akan ada dua atau tiga prajurit yang menjaga di gerbang istana perak, namun hari ini benar-benar kosong dan sepi.
Zhang Zilin:"Kalian pergilah!."
"Baik, Yang Mulia."
Sebelum masuk ke kediamanku, aku mengusir semua pelayan yang mengikuti ku dan masuk ke dalam ruangan sendirian. Ruangan ini begitu luas dengan perabot yang terbuat dari kayu roh. Pemandangan di ruangan ini akan Indah jika saja ruangan ini tidak terlalu suram dengan cahaya yang minim.
Aku sengaja menutup seluruh gorden dan mematikan aliran sihir dari batu kristal yang biasanya menerangi ruangan. Aku berjalan masuk ke dalam ruangan yang sunyi dan dingin ini. Hanya suara langkah kakiku yang terdengar berderap.
Aku berhenti dan berlutut untuk memberi hormat pada kegelapan di sudut ruangan.
Zhang Zilin:"Saya telah menjalankan tugas."
Bayangan yang ada di sudut ruangan bergoyang dan menunjukkan sesosok wanita berjubah hitam dengan mata ungu ametis yang bersinar dalam kegelapan.
"Kerja bagus. Tugasmu selanjutnya adalah untuk mengatur dan memanipulasi kekaisaran ini atas perintah Yang Mulia."
Zhang Zilin:"Saya menerima perintah dari Yang Mulia."
Aku tidak berani mengangkat kepalaku untuk bertemu langsung dengan matanya. Aku hanya bisa menunduk saat berbicara.
"Kamu akan menjadi pengontrol kekaisaran ini dari balik layar dan memanipulasi kaisar itu untuk menggunakannya demi rencana Yang Mulia selanjutnya. Bekerjalah dengan baik dan akan ada imbalan serta remunerasi yang pantas untu kerja kerasmu."
Suara wanita berjubah itu lembut dan menyenangkan, seperti angin yang berhembus di hutan bambu. Namun, dia memiliki aura dingin dan suram yang mengelilingi seluruh tubuhnya, yang membuat siapapun menjadi merinding.
"Satu hal lagi, Yang Mulia memberiku pesan untuk memberikan hal ini kepadamu, setelah aku memberi tahu Yang Mulia tentangmu."
Mendengar bahwa akan ada sesuatu yang di berikan kepadaku, aku mendongak dan melihat wanita itu mengeluarkan sebuah botol kaca dari kehampaan. Botol itu terbuat dari semacam kaca bening transparan berukuran kecil, hanya cukup untuk di genggam menggunakan tangan.
Melalui kaca transparan itu, aku bisa melihat bahwa botol itu di isi dengan semacam cairan berwarna merah seperti darah. Cairan merah itu juga memiliki aura merah muda di sekitarnya yang terus berkelebat dan berkedip.
Aku tidak tahu apa isi botol itu, namun hanya dengan melihatnya saja, aku sudah merasa pusing, seakan kesadaranku di tarik oleh sesuatu.
Dengan tepukan ringan di bahuku, aku kembali sadar dan buru-buru mengulurkan kedua tanganku untuk menerima botol kaca itu. Ternyata, selain botol, wanita berjubah itu juga menyerahkan sebuah kertas untukku.
"Tuangkan isi dalam botol itu ke dalam air mendidih dan gunakan air mendidih itu untuk mandi. Tapi sebelum itu, kamu harus menempelkan kertas itu di tubuhmu."
Setelah mengatakan itu, wanita berjubah itu tiba-tiba menghilang seperti tidak pernah ada di sana. Aku masih berlutut dan memandangi dua hal yang ada di tanganku.
Ini adalah kesempatan yang aku tunggu selama ini. Kalian tunggulah, aku pasti akan membuat kalian semua menderita...
(Akhir dari chapter ini.)
Aku merasa akan sangat membosankan jika hanya ada pertarungan dalam novel ini, jadi aku juga ingin menyisipkan sedikit drama rumah tangga yang bahagia...
Tapi ini adalah pertama kalinya aku menulis hal tentang drama seperti ini. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus menulis plot cinta dan sebagainya, jadi maafkan aku karena penulisannya kaku...