Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 132: Hadiah Untuk Ratu



(Sudut pandang Filia)


Tiga hari telah berlalu semenjak aku kembali ke mansion. Pada saat ini, aku sudah kembali ke akademi setelah nenek kembali ke Holy Kingdom.


Awalnya aku berencana untuk leveling di malam hari. Tentu saja rencana itu terlaksana dengan baik. Setelah malam tiba aku terbang dan masuk ke dalam hutan untuk mencari monster disana. Awalnya semuanya berjalan lancar, aku bahkan menemukan pemukiman Ogre yang baru di bangun.


Di dalam pemukiman lusuh itu terdapat lebih dari enam puluh Ogre, yang merupakan jumlah kawanan kecil. Tentu saja aku menyebutkannya sebagai kawanan kecil. Terlebih lagi, Ogre ini merupakan kawanan yang tidak beradab, atau Ogre liar.


Bayangkan saja saat di Alterion dimana Ogre, Goblin, dan Orc membentuk sebuah negara dengan kekuatan militer yang tidak kalah dengan manusia. Terutama reruntuhan kota Orc yang merupakan peninggalan penting. Di bandingkan dengan itu semua, yang aku lihat saat ini tidak berbeda dengan sampah.


Aku menyerang dan membunuh semua Ogre yang aku temui di desa itu. Bukan karena aku tidak berperasaan, tapi Ogre ini membuat pemukiman yang terlalu dekat dengan wilayah manusia. Bukan masalah penyerangan yang mungkin terjadi, tapi Ogre memiliki kebiasaan untuk memakan daging dan darah manusia, jadi akan terlalu berbahaya untuk membiarkan mereka berkembang biak di daerah ini.


Dengan menggunakan «Snake Blade Whip» aku bisa menyelesaikan semuanya dengan sangat mudah. Selesai melakukan itu, aku menyisir seluruh hutan dan menghilangkan monster yang merugikan manusia, termasuk sekawanan kecil Goblin.


Tanpa di sadari, aku ternyata telah keluar dari hutan dan masuk ke wilayah hutan yang lain. Di bagian hutan ini aku menemukan banyak kelompok kecil Goblin dan tanpa pikir panjang, mereka semua tersapu bersih. Sebenarnya tidak sebersih itu. Aku harus menyisakan beberapa kelompok kecil Goblin untuk para petualang. Yah, aku melakukannya supaya tidak merusak sumber ekonomi dari para petualang di musim dingin.


Selesai membersihkan, aku bertujuan untuk kembali ke akademi, tapi aku mencium aroma darah tidak terlalu jauh dariku saat ini. Saat aku menghampiri tempat pertarungan itu, aku melihat empat orang dengan keadaan yang tragis karena di serang oleh empat Ogre.


Sepertinya ada beberapa Ogre yang keluar untuk berburu saat aku sedang membantu mereka membersihkan desa, jadi tunggu apa lagi. Aku akan membersihkan yang tersisa juga.


Ke empat petualang itu yang tertinggi adalah level seorang wanita yang terkapar dengan luka parah. Wanita itu memiliki level 45 dan seorang Swordman yang terengah-engah dengan level 40, sementara kedua teman yang lainnya mereka memiliki level yang sama, yakni level 37.


Dengan komposisi seperti itu, mereka akan mudah di pukuli oleh Ogre dengan level paling rendah 54 dan tertinggi 60.


Melihat bahwa paman itu juga akan di pukuli, aku mengulurkan bantuan untuk mereka dan membuat ke empat Ogre itu menjadi tambahan EXP bagiku.


Setelah menyelesaikan semuanya, aku melihat keadaan semua orang yang seperti itu, jadi aku memberikan pertolongan dan sekaligus memberikan mereka tempat bernaung untuk sementara. Karena aku merasa bahwa mereka akan baik-baik saja, aku bersiap untuk kembali ke akademi.


Di luar, aku melihat serangkaian bulan yang sangat indah, berlatar belakang kegelapan malam, dan berhiaskan taburan bintang yang berkilau. Tiba-tiba aku mengingat bumi. Apakah jika aku menjadi lebih kuat, suatu saat mungkin aku akan bisa kembali ke bumi?!.


Yah, memikirkan hal itu juga tidak ada gunanya. Aku sebaiknya menikmati apa yang ada saat ini dan terus meningkatkan kekuatanku.


Merasa bahwa udaranya semakin dingin dan angin bertiup semakin kencang, aku menduga bahwa sebentar lagi akan turun salju, jadi aku tidak banyak berfikir. dan langsung terbang ke ketinggiannya di atas awan untuk menghindari terpaan salju.


Seperti yang aku duga, setelah aku terbang beberapa saat, awan gelap mulai berkumpul dan menghalangi cahaya bulan. Aku tebang tinggi dan sampai di atas awan badai. Angin di atas sini sangat dingin dan kencang. Saat angin itu menerpa wajahku, aku merasa seperti ada pisau yang mengiris kulit.


Tapi, hal semacam itu sama sekali bukan masalah bagiku. Aku terbang dengan kecepatan tertinggi untuk segera kembali ke akademi. Sampai di akademi, aku langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri, lalu tidur untuk menghindari kecurigaan.


Karena belum terlalu lelah, aku masih membuka mata dan sulit untuk tidur. Seperti orang pada umumnya, saat-saat seperti ini aku tiba-tiba memikirkan banyak hal. Aku ingat bahwa lusa adalah hari ulang tahun ratu. Tentu saja sebagai bangsawan kelas atas, aku harus hadir. Terutama saat ibu tidak ada di rumah. Aku juga mendengar bahwa akan ada banyak anak bangsawan ibu kota yang akan hadir dalam acara itu.


Perlahan, pikiranku menjadi semakin tumpul dan akhirnya kesadaran ku melayang, jatuh dalam kondisi tertidur.


.....


Seperti biasa, aku terbangun sebelum matahari terbit. Aku menyibak tirai jendela dan melihat di luar. Meskipun masih ada awan gelap di langit, tapi badai salju semalam sudah berhenti dan menyisakan lapisan salju tebal di halaman.


Aku membersihkan diri dan mulai melakukan latihan perenggangan setelah berganti pakaian olahraga tebal musim dingin. Setelah merasa bahwa pemanasan sudah cukup dan aku sedikit berkeringat, aku kembali mandi dan berganti pakaian menjadi gaun gotik merah dengan jubah bulu binatang yang hangat.


Hanya berselang beberapa menit, ada ketukan di pintu dari Ilma yang mengantarkan sarapan untukku. Melihat dari penampilan Ilma dengan rambut yang masih agak basah, aku tahu bahwa Ilma juga baru saja selesai membersihkan diri setelah pelatihan paginya. Selama ini Ilma juga memberi tahuku bahwa embrio telah memberinya misi harian secara rutin.


Ilma:"Putri, apa yang akan anda lakukan hari ini?."


Ilma berdiri melihatku memakan sarapan dan bertanya sambil tersenyum ke arahku. Ini adalah hal yang biasa di lakukan oleh pelayan untuk melakukan persiapan yang mungkin di butuhkan oleh tuannya dalam beraktivitas. Yah, seorang pelayan yang baik memang harus selalu siap apapun yang terjadi.


Anggap saja seperti saat aku ingin berlatih pedang, Ilma akan menyiapkan beberapa hal yang aku perlukan saat itu. Begitulah cara kerjanya.


Filia:"Tidak ada yang spesial. Mungkin aku akan menyiapkan hadiah untuk ulang tahun sang ratu."


Ilma:"Oh. apakah anda akan pergi berbelanja, atau anda membutuhkan saya untuk membelikan sesuatu?."


aku memasukkan makanan ke dalam mulutku dan mengunyah perlahan sebelum menjawab pertanyaan Ilma. Setelah makanan itu tertelan sempurna, aku baru menjawab pertanyaan dari Ilma.


Filia:"Tidak, tidak perlu. Aku akan membuatnya sendiri."


Aku mengambil segelas susu dan meneguknya secara perlahan.


Filia:"Ilma, tolong tanyakan pada siswa dari divisi Forger apakah masih ada tempat untuk aku pinjam nanti siang."


Ilma:"Saya mengerti. Saya permisi."


Tanpa lebih banyak bertanya, Ilma pergi sambil membawa piring kosong. Sambil menunggu Ilma, aku kembali mengecek beberapa materi yang telah aku pilih untuk membuat hadiah untuk sang ratu di awal.


Ilma kembali beberapa saat kemudian bersama dengan seorang anak laki-laki yang sedikit lebih dewasa. Mungkin dari tahun ke-2.


Ilma:"Ini adalah Britson."


Britson:"Salam kenal, Putri. Saya akan mendampingi anda untuk pergi ke tempat divisi Forger."


Filia:"Kalau begitu, aku akan merepotkan mu."


Britson:"Tolong jangan di pikirkan."


Aku mengikuti Britson pergi ke divisi Forger dengan di dampingi oleh Ilma dan Liris yang sudah lama tidak aku lihat. Musim dingin ini Liris tidak akan pulang ke Holy Kingdom dan akan tinggal di akademi.


Filia:"Liris, lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu?."


Liris:"Saya baik-baik saja, Yang Mulia."


Kami memiliki beberapa percakapan dan terus berjalan mengikuti arahan dari Britson. Akhirnya kami sampai di sebuah bangunan berdinding batu coklat dengan pintu besi. Bangunan ini cukup besar dan luas.


Britson:"ini adalah gedung tempat divisi kami berada."


Aku mengangguk dan menyuruh Britson untuk langsung membawa kami masuk. Di dalam terdapat meja-meja batu tebal dengan berbagai macam jenis senjata dan logam, baik yang sudah jadi atau setengah jadi. Meskipun demikian, ruangan ini cukup bersih dan rapi.


Di dinding terdapat berbagai macam jenis senjata yang telah di tempa. Aku memperhatikan bahwa ada beberapa senjata sihir kelas rendah yang ikut di pasang. Di beberapa meja terdapat beberapa anak yang masih setia menempa dan menimbulkan suara denting palu dan logam yang khas untuk para penempa.


Selain mereka yang menempa, ada beberapa anak juga yang memperhatikan atau mencatat sesuatu. Setelah mereka menyadari kedatanganku, entah kenapa tiba-tiba aku menjadi pusat perhatian dari banyak orang. Tiba-tiba ada seorang anak yang berlari ke arahku dengan terburu. dia adalah anak yang merupakan ketua dari divisi Forger yang ikut dalam Prapat Dewan siswa waktu itu. Kalau tidak salah, namanya adalah Rendal Orcum.


Semua anggota Dewan siswa memanggilku sebagai ketua. Aku juga baru tahu saat masuk kemarin bahwa aku menjadi ketua dari Dewan siswa. Sejak saat itu, aku mulai membiasakan diri dengan panggilan itu.


Filia:"Iya. Saya berniat untuk meminjam sebuah meja untuk melakukan sesuatu."


Meja yang di maksud disini adalah meja untuk menempa.


Rendal:"Tentu. Ada banyak meja yang kosong, atau mungkin anda memerlukan ruangan khusus?."


Filia:"Tidak perlu."


Dengan kilatan cahaya, pakaian yang aku kenakan langsung berubah menjadi pakaian penempa yang agak tebal untuk menahan percikan api. Selain itu, di tanganku juga muncul sarung tangan tebal untuk keselamatan. Sarung tangan ini juga berguna untuk meningkatkan keberhasilan dalam menempa.


Tentu saja, sebagai seorang penempa, akan tidak lengkap rasanya jika tanpa palu. Aku mengeluarkan palu berkualitas Epic yang juga akan meningkat keberhasilan dan kesempurnaan dalam menempa.


Aku meletakkan semua bahan yang telah aku persiapkan di atas meja dengan rapi. Bahan-bahan yang berkilau itu langsung menarik perhatian. Anak-anak yang tadinya sangat fokus dalam menempa, mereka menghentikan pekerjaan mereka dan datang untuk melihatku.


Bahan-bahan yang aku siapkan: Sebatang kayu nadi mana yang terlihat seperti potongan kayu biasa, 3 ingot Magic Metal, 2 ingot Mitril, 1 ingot Asteri, 7 keping kristal sihir kosong empat ukuran kecil, dua ukuran sangat kecil berwarna merah, dan satu ukuran sedang, 10 gulung sutra ulat emas, bulu rusa merah, dan bulu dari ekor rubah salju berlian.


Saat semua bahan terkumpul, kilau dari material tingkat atas sangat indah. Bahan-bahan itu berkilau dengan berbagai warna seperti lampu redup yang sangat menarik perhatian.


Aku mengeluarkan sebuah tungku bulat yang bentuk dan ukurannya sangat mirip dengan tempat dupa. ini sangat berbeda dengan bentuk tungku penempaan biasa yang berupa Pawon tertutup. Setelah itu, aku memasukkan arang yang terbuat dari kayu urat naga sebagai bahan bakar. Kayu urat naga bukanlah kayu yang sangat berharga, tapi arangnya sangat berkualitas.


Di tanganku muncul sekelompok api berwarna putih perak dengan plasma petir berwarna emas yang berderak di sekitarnya. Saat sekelompok api ini muncul, suhu udara langsung meningkat tajam. Anak-anak yang tidak tahan dengan suhu panas ini menjauh untuk mencari jarak aman.


Aku melemparkan api itu ke atas tungku pembakaran yang telah berisi arang di dalamnya. Melihat nyala api putih perak yang menyala dengan semangat, aku mengambil nafas panjang dan bersiap untuk memurnikan material.


Pertama, Aku mengambil batang kayu urat mana yang panjangnya sekitar dua meter itu dan membuatnya melayang di atas api. Saat kayu itu melayang di atas api, api langsung menyalat dan membungkus batang kayu itu dengan selimut api.


Saat batang kayu itu terbungkus api, aku bisa mendengar suara mendesis seperti kayu basah yang sedang terbakar. Setelah beberapa saat, api yang menyelimuti batang kayu itu memudar dan memperlihatkan batang kayu yang permukaannya terbakar menjadi arang. Meskipun demikian, bentuk dari batang kayu itu tetap tidak berubah. Karena itu merupakan ranting kayu, jadi bentuknya memang tidak mulus dan lurus sempurna.


Bentuk batang kayu itu mirip dengan batang kayu yang di jumpai sehari-hari. Orang yang tidak tahu, mungkin menganggap ini adalah kayu biasa, tapi ini merupakan material tingkat Epic dan sangat sempurna sebagai katalisator mana. Singkatnya, kayu ini sangat cocok untuk membuat tongkat sihir.


Di atas batang kayu itu ada bara yang menyala, tapi bara yang menyala itu membentuk garis-garis api yang teratur dan terlihat seperti pembuluh darah yang seperti bernafas dengan bara api yang berkedip antara terang dan redup.


Melihat hasil seperti ini, aku mengangguk puas. Aku segera melemparkan ingot Mitril dan ingot Magic Metal ke dalam api. Kedua jenis logam itu melayang di atas api dan perlahan mulai berubah merah. Tidak berhenti sampai di situ, kedua jenis logam itu mulai mencair hingga akhirnya berubah menjadi dua kelompok logam cair yang terpisah.


Aku menggerakkan kemampuan mental ku dan memberikan instruksi supaya kedua jenis logam itu menyatu secara perlahan. Saat kedua kelompok cairan logam itu bersentuhan dan mulai menyatu, tiba-tiba cairan logam itu mendidih seperti air panas yang di rebus. Asap hitam keluar dari setiap letupan gelembung logam itu. Aku bisa melihat bahwa ada bubuk arang yang keluar dari dalam logam itu dan perlahan berjatuhan ke dalam tungku. Sesuatu yang terlihat seperti arang terbakar yang jatuh itu merupakan kotoran dari kedua logam itu yang telah di pisahkan.


Kedua cairan logam itu terus menggelegak di udara seakan kedua jenis logam itu seperti menolak untuk menyatu. Jika logam biasa mungkin bisa menyatu dengan mudah, tapi begitu dua logam sihir menyatu, mereka akan menimbulkan reaksi berlawanan yang khas seperti minyak goreng mendidih yang di beri air. Hal itu di sebabkan karena kandungan sihir yang berbeda, sehingga reaksi ini dapat terjadi.


Tugas seorang Master Forger dalam proses ini adalah menyeimbangkan kandungan kedua logam itu dalam komposisi yang tepat dan membuatnya menjadi jenis logam gabungan yang baru dengan kandungan sihir yang seimbang.


Proses ini terdengar mudah, tapi sebenarnya sangat menuntut kekuatan mental dan konsentrasi dari sang Master Forger. Jika dalam proses ini kita kehilangan konsentrasi, kedua gabungan logam itu bisa tidak stabil dan menimbulkan ledakan yang dapat melemparkan cairan logam panas ke segala arah. Itulah bahaya dari menjadi pemain gaya hidup. Dulu, aku bahkan tidak jarang untuk mati beberapa kali dalam memalsukan senjata.


Setelah kedua logam itu stabil dan menyatu dengan sempurna, langkah selanjutnya adalah menggabungkan cairan logam dengan batang kayu urat mana yang telah dimurnikan dari kotoran. Cairan logam yang telah menyatu itu mulai mendekati batang kayu yang melayang di atas api itu.


Saat semakin dekat, cairan itu berubah menjadi untaian benang seukuran nano yang tak terhitung jumlahnya. Untaian benang cairan logam itu masuk langsung ke dalam kayu melalui setiap celah dan pori-pori, menyatu menjadi kayu logam.


Kayu yang hangus terbakar itu perlahan berubah warna menjadi perak keemasan seperti logam yang di bentuk menjadi batang kayu. Meskipun seluruh sel kayu telah menyatu sempurna dengan logam, tapi pembuluh kayu yang menyala itu tetap tidak tersentuh oleh cairan logam itu. Urat-urat itu masih terus terbakar.


Aku memang sengaja untuk membiarkan cairan logam itu supaya tidak menyentuh pembuluh pada kayu. Tidak mudah untuk melakukan itu karena urat-urat itu bukan hanya yang terlihat di luar, tapi di bagian dalam juga terdapat urat-urat yang sangat rumit yang hampir mirip dengan pembuluh darah manusia, jadi perlu sangat berkonsentrasi untuk melakukannya.


Aku tidak membiarkan cairan logam itu memasuki bagian urat, Itu karena pembuluh pada kayu itu merupakan urat mana yang sangat penting. Anggap saja itu seperti kabel yang akan mengalirkan listrik. Hanya saja, listrik di sini di gantikan dengan mana.


Untuk mengisi bagian itu, di perlukan logam yang memiliki konduktivitas mana yang sangat baik. Sebagai contoh, Asteri merupakan pilihan yang tepat.


Aku segera melebur Asteri dan menggabungkannya dengan tongkat itu. Cairan logam Asteri itu mengalir mengikuti pembuluh mana pada kayu yang telah berubah perak itu.


Selesai semuanya, Aku membuat batang kayu yang telah menyatu dengan logam itu untuk melayang ke atas meja. Aku ingin menunggu kayu logam itu sedikit mendingin dan menyatu sempurna dengan cairan logamnya.


Sambil menunggunya mendingin, aku mengambil kesempatan itu untuk mengambil nafas dan mengistirahatkan kekuatan mental ku. Mulai dari mengontrol gerakan logam u tuk melayang, kontrol api, hingga menyatukan material, semuanya memerlukan kekuatan mental yang besar. Singkatnya, menempa merupakan kegiatan yang sangat memakan kekuatan mental.


Merasa bahwa aku logam itu sudah cukup dingin, aku kembali mengontrolnya untuk melayang ke atas api dan membakarnya lagi hingga berwarna merah. Setelah berwarna merah, letakkan kayu logam itu di atas angin, jepit ujungnya menggunakan penjepit besi, lalu pukul menggunakan palu yang sudah di sediakan.


Cara memukulnya juga tidak boleh asal. Kita harus terus menjaga alur urat mananya supaya tidak rusak. suara berdentang dengan percikan logam panas menjadi musik dan pemandangan yang tersaji pada saat ini.


Kayu logam yang awalnya bengkok dan terbentuk tidak beraturan, perlahan mulai menjadi bentuk lurus sepanjang lebih dari dua meter karena pertambahan panjang setelah di tempa. Setelah beberapa saat di pukuli, besi merah itu perlahan mendingin dan berubah hitam. Saat warna besi seperti ini, aku perlu membakarnya lagi hingga warnanya kembali berubah merah menyala.


Proses ini terus berlanjut secara berulang-ulang hingga batang kayu itu lurus sempurna seperti tongkat. Setelah proses ini selesai, aku kembali membakar salah satu ujung tongkat hingga berwarna merah panas. Ujung itu aku tempa, dan aku mulai membentuknya menjadi bentuk melebar yang indah. Bentuk ujungnya melebar dan mirip seperti bentuk burung Phoenix. Secara garis besar, tongkat sihir ini sudah selesai terbentuk.


Proses selanjutnya adalah mendinginkan kembali embrio dari tongkat ini. setelah dingin, embrio dari tongkat ini berwarna hitam karena kokas yang masih menempel di permukaannya.


Aku mengeluarkan logam baru yang memiliki warna emas. Setelah peleburan sesaat, logam emas ini menyelimuti ujung tongkat yang telah berbentuk dan sisanya menggumpal di bagian bawah tongkat, membentuk bola.


Setelah dingin, aku kembali mengeluarkan alat pahat dengan berbagai ukuran. Alat pahat ini berwarna biru metalik dengan rune emas di atasnya. Ini merupakan perlengkapan tingkat Legendary yang aku beli dengan harga yang sangat mahal.


Aku membersihkan tubuh tingkat itu menggunakan cairan khusus untuk menghilangkan kokas hitam di atasnya. Saat kokas di bersihkan, sebuah embrio tongkat perak keemasan dengan garis-garis kemerahan halus terpapar ke udara. Di bagian atas dan bawah tongkat itu di selimuti oleh logam berwarna emas yang indah.


Meskipun demikian, embrio ini masih terlalu kasar untuk di sebut sebagai tongkat yang indah. Itulah fungsi alat ukir disini. Aku mengukir tongkat itu secara perlahan. Jangan kira proses ini mudah. Aku harus mengukir logam sihir yang sangat keras menggunakan tangan kosong dan kekuatan mental, jadi proses ini tidak kalah melelahkan. Jika bukan karena peralatan Legendary, aku rasa akan sulit melakukannya.


Akhirnya setelah beberapa waktu berlalu, aku selesai membuat ukiran pada tongkat itu. Aku mengukir seekor burung Phoenix emas yang melebarkan sayapnya di atas tongkat dengan ekor panjangnya yang melingkari bagian tubuh tongkat. ukiran ini sangat detail dan mirip seperti burung Phoenix dalam bayanganku. Selain itu, bagian logam emas yang membentuk bola di bagian bawah telah berubah menjadi ukiran seperti kuncup bunga teratai dengan bagian atasnya menghadap ke batang tongkat, jadi bagian bawah tongkat itu tumpul.


Aku kembali menambahkan ornamen gelang logam emas di bawah burung Phoenix, jadi saat tongkat di hentakkan, itu akan menghasilkan suara gemerincing yang berasal dari benturan logam.


Setelah semua itu selesai, aku mengambil tujuh buah kristal yang sudah aku siapkan. Kristal ukuran besar itu hanya sebesar ibu jari. Aku memasang kristal terbesar yang memiliki warna putih di bagian kening burung Phoenix, dua kristal merah sangat kecil sebagai mata, dan empat kristal oranye berukuran kecil membaginya masing-masing dua di setiap sayap.


Sekarang adalah langkah paling penting....


(akhir dari chapter ini)


aku tidak mengira akan sepanjang ini. maaf kalau membuat kalian bosan membaca.


apapun itu, terima kasih sudah mau membaca. see you next time:)