Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 109: Restoran



Bukannya aku tertarik dengan cerita yang ada di buku ini, tapi aku tertarik dengan beberapa informasi yang terkandung di dalamnya. terutama tentang serpihan pedang itu. meskipun ada kemungkinan kalau itu hanyalah kebetulan, tapi kebetulan ini akan terjadi sangat kecil. menurut yang di deskripsikan di dalam buku ini dengan pedang yang di deskripsikan di dalam game adalah sembilan puluh persen memiliki kesamaan. kebetulan macam apa itu?.


Dong...!! Dong...!! Dong...!!


suara lonceng yang keras membuatku sadar dari membaca buku ini. lonceng itu menandakan waktu bagi siswa untuk pulang. aku melihat sekeliling dan melihat banyak anak yang nampaknya tidak terlalu peduli dengan lonceng itu. mereka masih fokus membaca atau memilih buku yang ada di rak.


memang, meskipun waktunya pelajaran telah usai, tapi akademi itu sendiri tidak melarang siswa untuk tetap melanjutkan kegiatan yang mereka lakukan di akademi. biasanya siswa yang mengikuti kelompok belajar siswa yang akan pulang paling akhir. saat ini mereka biasanya masih melakukan kegiatan mereka sendiri.


aku berjalan menuju ke pengawas perpustakaan dan meminjam buku cerita tadi. prosesnya cukup mudah. kamu hanya perlu menunjukkan buku yang akan kamu pinjam lalu memasukkan mana ataupun internal energi ke dalam sebuah lembaran kertas. setelah aku memasukkan mana ke dalam kertas, data siswa milikku yang tercatat di akademi muncul. bahkan ada gambarku di atas kertas itu.


setelah data siswa milikku muncul, petugas pengawas perpustakaan itu mengambil buku yang akan aku pinjam lalu menempelkan bagian belakang buku ke atas kertas yang berisi data diriku. segera setelah itu, ada lambang transparan yang rumit tiba-tiba muncul di atas kertas itu. menimpa data diri siswa ku.


"sekarang kamu bisa meminjam buku ini selama tujuh hari. setelah tujuh hari jika buku itu belum di kembalikan, maka kamu akan terkena denda"


pustakawan itu memberitahuku dengan ramah sambil menyerahkan buku itu kembali kepadaku. aku hanya mengangguk dan pergi keluar.


cara ini sangat mirip seperti saat aku masih berada di Alterion. hanya saja mungkin ini lebih sederhana, dan mungkin keamanannya akan lebih buruk daripada di Alterion. jika di Alterion, buku yang di pinjam akan di teleportasi secara langsung kembali ke tangan pustakawan apabila belum di kembalikan sesuai waktu yang di sepakati.


karena ada kemiripan, mungkin mereka mempelajari hal itu dari relief yang pernah mereka temukan di reruntuhan. sebenarnya aku agak penasaran tentang reruntuhan yang mereka bicarakan. apakah itu memang peninggalan Alterion?. jika memang begitu, apakah mungkin aku bisa menemukan peninggalan beberapa pemain di dalamnya?.


aku berharap aku memiliki kesempatan untuk menjelajahi reruntuhan kuno di masa depan. oh, benar. itu mengingatkan ku soal reruntuhan yang ada di Helheim. aku ingin tahu bagaimana perkembangan di sana. yah, meskipun aku ragu bahwa dalam waktu yang sesingkat ini akan ada kemajuan apapun. mungkin aku kan mengunjungi ke sana setelah musim dingin.


saat aku sedang berjalan menyusuri lorong, aku melihat ibu bersama dengan sekretarisnya, Sae. mereka berjalan perlahan ke arahku dengan senyum yang tergantung di wajah ibu.


saat semakin dekat, ibu ke dua mengulurkan tangannya dan menyentuh kepalaku dengan lembut. perasaan hangat itu di transmisi kan melalui tangannya dan membuatku merasa nyaman.


Filia:"ibu"


Arsh:"ayo kita pulang!"


ibu juga menyerahkan mantel biru yang tadi aku tinggalkan di kantor kepala sekolah.


Filia:"iya"


tanpa lebih banyak berbicara, aku dan ibu berjalan bersama dengan sekretaris Sae berjalan mengikuti di belakang kami.


di bawah sudah menunggu kereta kuda milik keluarga Rosefield. ibu menyuruhku untuk naik ke kereta terlebih dahulu, dan dia membicarakan sesuatu dengan sekretarisnya. percakapan itu singkat dan ibu langsung masuk ke dalam kereta.


Arsh:"oh, benar. bukankah kamu mau pergi ke suatu tempat?"


Filia:"iya"


Arsh:"kemana itu?"


Filia:"itu..."


aku memberitahu ibu tentang arah umum kemana aku ingin pergi supaya ibu bisa menyampaikannya ke kusir. hanya dengan beberapa petunjuk kasar, kusir kuda itu bisa menemukan arah yang tepat.


.....


tidak butuh waktu terlalu lama untuk sampai ke wilayah restoran yang ingin aku bangun. bangunan itu jika dilihat dari luar tidak memiliki banyak perubahan. yang berbeda mungkin sekarang di bagian depan terdapat papan nama restoran. «Moon Phoenix» sebagai nama restoran.


aku mengambil nama ini dari toko pemain yang dulu ku buat di Alterion saat aku masih seorang pemain. namun, saat di Alterion toko itu merupakan sebuah toko senjata bukan restoran.


awalnya ibu bingung melihat bangunan tiga lantai itu. menurutnya, ibu belum pernah melihat bangunan itu sebelumnya. kemudian aku hanya mengatakan bahwa itu adalah bangunan baru yang aku beli untuk bersenang-senang. mendengar jawabanku, ibu tidak banyak bertanya dan terus memperhatikan bangunan itu.


kereta kami berhenti di depan tangga yang menuju ke pintu masuk restoran. ada Sebas dan seorang lelaki tua dengan wajah yang tegas dan penuh gairah.


Sebastian:"selamat datang, putri, nyonya"


ibu dan aku hanya menjawab ringan sambil sedikit mengangguk. pandanganku beralih ke orang tua dengan mata berkilauan seperti bintang itu.


Filia:"lama tidak berjumpa, tuan. Joseph"


Joseph:"itu benar. saya benar-benar berterima kasih atas pekerjaan ini. pekerjaan ini benar-benar mampu menyalakan kembali semangat orang tua ini"


Filia:"saya juga ikut senang mendengar nya"


Joseph:"saya akan mengantarkan anda berkeliling"


Sebastian dengan hormat membuka pintu dan membiarkan Joseph memimpin kami masuk ke dalam. sampainya di dalam, pemandangan yang aku lihat merupakan dekorasi mewah bergaya istana Eropa.


di bagian atas akan ada plafon dengan ukiran yang indah dan lampu gantung kristal utama yang besar. selain lampu gantung utama yang besar, terdapat beberapa lampu gantung kristal lainnya yang sedikit lebih kecil di seluruh ruangan. meskipun lebih kecil, tapi lampu kristal itu berdiameter lebih dari 1meter. jadi itu tidak sekecil yang di bayangakan. lampu-lampu kristal itu membuat cahaya kuning keemasan yang memberikan kesan indah kepada ruangan ini.


lantainya di lapisi dengan ubin cream dengan motif garis-garis coklat seperti retakan alami di atasnya. di beberapa tempat terdapat ubin yang lebih gelap sebagai hiasan untuk mempercantik. segera setelah masuk, kami di sambut oleh anak tangga yang meliuk dengan cantik dan di lapisi dengan karpet merah dengan hiasan sulaman warna emas di pinggirnya.


selain itu, pegangan tangga itu seperti terbuat dari batu giok putih yang di ukir dengan cantik. di bagian kanan dan kiri anak tangga terdapat pilar gelondong putih yang terbuat dari batu alam. di bagian pilar itu terdapat ukiran burung Phoenix yang bercokol, menunjukkan keanggunannya. kedua pilar itu masing-masing memiliki ketinggian sekitar 3-4 meter dengan dan besarnya mungkin sebesar lingkar kedua tangan orang dewasa.


karena tangga itu tepat membelah ruangan, jadi di sebelah kanan dan kiri tangga, tepat di sebelah pilar merupakan tempat kosong. tadinya begitu, tapi aku memerintahkan Sebas untuk membuat pengaturan seperti yang aku inginkan. sekarang di sebelah kanan merupakan rak-rak kaca dan platform-platform dengan penutup kaca di bagian atasnya. ini lebih mirip seperti lemari kaca tempat penyimpanan benda kuno di museum. untuk saat ini, tempat-tempat kaca itu kosong, tapi aku berencana untuk meletakkan coklat di dalamnya sebagai pameran.


aku tidak akan meletakkan coklat itu sekarang. aku masih harus membuat beberapa pengaturan lagi untuk tempat-tempat meletakkan coklat itu. kau tahu, coklat sebenarnya sangat mudah berubah bentuk dalam suhu ruangan. jadi untuk mencegah perubahan atau rusaknya patung-patung coklat, aku harus membuatnya persiapan yang di perlukan.


beralih ke sebelah kiri. disana terdapat beberapa meja kaca transparan dengan rangka besi hitam. di sekitar meja-meja itu di kelilingi oleh empat kursi santai yang lembut seperti restoran modern. inginnya begitu, tapi kerena teknologi di masa ini masih terlalu supel, jadi aku hanya bisa mengadopsi pengaturan kuno.


sedikit jauh di sebelah kanan, terdapat meja panjang terbuat dari giok putih. mirip seperti tempat resepsionis di sebuah hotel. di bagian belakang meja panjang itu terdapat sebuah bendera yang di gantung. gambar pada bendera itu mirip seperti bendera yang ada di Moon Palace. itu adalah lambang kebanggaanku, bagaimana mungkin aku tidak meletakkannya di sini.


Joseph:"pekerjaan seperti ini. alat-alat, perabotan, dan pengaturan ruangan ini sangat baru bagi kami. kami harus berterima kasih kepada anda karena mempercayakan pekerjaan yang begitu berharga kepada kami"


aku juga setuju dengan ucapannya. baik perabotan dan tata ruang ini merupakan hal yang baru bagi mereka. bahkan mungkin pekerjaan yang paling sulit yang mereka lakukan sebelumnya hanya membangun rumah bangsawan paling baik. sekarang mereka menyentuk konstruksi yang melompat zaman dan itu merupakan pengalaman yang berharga bagi mereka.


Arsh:"ini benar-benar luar biasa. tapi,... sebenarnya apa yang akan kamu lakukan dengan bangunan ini?"


ibu bertanya dengan bingung sambil matanya yang berkilau memperhatikan sekitar dengan penasaran.


Filia:"saya ingin membuat restoran. sebenarnya awalnya hanya ingin membuat toko manisan, tapi karena di sepanjang jalan saya selalu mendapatkan rencana baru, jadi buat saja restoran".


aku menjelaskan banyak hal kepada ibu termasuk rencana ku mengenai anak-anak saat naik ke lantai selanjutnya. ibu merenung sambil mengangguk saat mendengar apa yang aku katakan.


saat sampai di lantai dua, suasana di sini mirip dengan restoran Prancis yang mewah dengan taplak meja merah berhiaskan bordir Phoenix perah di atasnya. cahaya disini juga lebih redup yang memberi kesan eksklusif bagi pengunjung. di sekeliling tempat makan ini terdapat beberapa ruangan yang tertutup. aku berencana untuk membuat ruang pribadi di ruangan itu bagi para pengunjung yang membutuhkan privasi tinggi. tentu saja akan ada biaya tambahan.


karena tidak ada banyak yang bisa di lihat di sini, jadi aku melanjutkan naik ke lantai tiga. di lantai tiga lebih mirip dengan hotel dimana bagian kanan dan kirinya terdapat deretan pintu menuju ke kamar. kamar-kamar ini aku ingin membuatnya sebagai kamar anak-anak. aku ingin anak-anak itu tinggal di tempat ini sambil mengurus restoran.


jadi rencana begini. untuk lantai satu merupakan lobi dan restoran, lantai dua khusus bangsawan, sementara lantai tiga merupakan tempat tinggal anak-anak. inilah sebabnya aku ingin mencarikan anak-anak pengasuh yang kompeten dan mampu mengajari mereka tentang etika dasar. aku ingin anak-anak itu bekerja dan melayani di restoran ini. dengan begitu, anak-anak itu bisa menghasilkan uang sendiri dan bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.


.....


beberapa jam kemudian, aku dan ibu selesai berkeliling tempat ini dan membuat pengaturan lebih lanjut. aku ingin membiarkan Sebas membawa anak-anak dan pelayan yang aku sewa segera pindah ke tempat ini supaya bisa segera membiasakan diri. selanjutnya aku hanya perlu mencari pelayan yang lebih berpengalaman sebagai contoh bagi anak-anak dan untuk mengisi beberapa posisi yang tidak dapat di isi oleh anak-anak. kemudian koki, aku mendengar bahwa sahabat masa kecil Jors memerlukan pekerjaan. karena Jors sendiri yang merekomendasikannya, jadi aku bisa percaya.


karena semua sudah di lakukan, aku pulang bersama dengan ibu kembali ke kediaman Rosefield. sebenarnya ibu ke dua hanya mengantarkan ku. sebelum menikah, ibu ke dua tidak tinggal di mansion. lagi pula ibu ke dua juga dari keluarga bangsawan, jadi ibu juga akan tinggal di mansionnya sendiri.


ahhh... lelah sekali. aku merasa hari ini aku bekerja keras. selanjutnya, apa yang bisa aku lakukan...


(akhir dari chapter ini)


sebenarnya aku ingin update kemarin, tapi setelah mengetik sekitar 500 kata, jari-jari tangan ku berhenti dan tidak tahu harus mengetik apa lagi. hingga hari ini aku mendapatkan beberapa ide.


terima kasih dukungannya, see you next time;)