
(Sudut pandang Aneria).
Aneria:"Duke Kharel, apa maksudnya semua ini?!."
Aku bertanya sambil marah pada Duke Kharel. Duke Kharel tidak ikut dalam pertemuan dengan yang mulia Filia pada waktu itu. Dia lebih memilih mengabaikan perintahku karena dia adalah orang yang paling menolak kenaikan takhta ku pada waktu itu.
Selain itu, kami, anggota kerajaan telah menemukan pergerakan aneh dari Duke Kharel yang ingin melakukan pemberontakan terhadap keluarga kerajaan. Hanya saja, Duke Kharel belum mengumpulkan kekuatan dan dukungan yang cukup. Namun, kali ini dia memanfaatkan ketidakpuasan para bangsawan lain atas keputusanku untuk menghimpun kekuatan bagi dirinya sendiri dan melakukan pemberontakan sebelum keluarga kerajaan sempat mengambil tindakan.
Kharel:"Apa maksudnya?!. Maksudnya, anda sudah tidak layak lagi untuk memimpin negara ini, Yang Mulia!."
Dia menjawab ku dengan wajah menyeringai, seakan kemenangan sudah ada di tangannya. Melihat seringainya, aku menjadi semakin kesal dan ingin memukul wajahnya yang menjijikkan itu.
Aku mengambil pedang di sebelah kanan kursi takhta dan berdiri menyambut para kesatria yang menodongkan tombak ke arah ku.
Dentang...!!
Suara benturan antara ujung tombak dan pedang membuat suara dentang dan percikan api yang menyebar di sekitar. Dari tujuh kesatria, empat terjatuh karena terkena dampak ayunan pedang ku. Aku melanjutkan serangan ku, pedang di ayunkan secara horizontal untuk mengincar leher seorang kesatria, tapi karena kesatria itu terlatih, dia berhasil menahan tebasan pedangku dengan gagang tombak. Karena pedang ku berhasil di tahan, aku mengayunkan kaki ku dan menendang perut kesatria itu hingga dia menjerit dan tersungkur ke tanah dengan kesakitan.
Luik:"Seperti yang di harapkan dari Yang Mulia yang sudah berada di Medan perang selama bertahun-tahun. Mundur...!"
Dua kesatria yang masih menghalangiku mundur setelah mendengar perintah dari Marshal Luik. Marshal Luik menghunus sebuah longsword dari pinggangnya dan berjalan menuju ke arahku secara perlahan.
"Yang Mulia, kami akan membantu...!!"
"Hiya..."
Beberapa bawahan ku yang setia, mereka berlutut di lantai dengan di todong tombak di punggung mereka. Melihat Marshal Luik berjalan ke arahku, mereka mencoba melawan dan mencoba berdiri untuk membantuku. Aku bisa merasakan kesetiaan dan semangat kesatria mereka. Aku sangat bersyukur memiliki anak buah seperti mereka.
Luik:"Tahan mereka!."
"Baik!."
Para kesatria yang menahan anak buah ku menggunakan ujung gagang tombak yang tumpul untuk memukul perut mereka. Setelah mereka meringkuk karena rasa sakit di perut, para kesatria itu melanjutkan untuk memukul bagian belakang kepala.
Luik:"Sekarang, tidak ada lagi yang akan menggangu kita."
Tanpa banyak kata tambahan, Marshal langsung mengayunkan longsword nya kepadaku dengan sekuat tenaga. Menghadapai serangan berkekuatan besar seperti itu, aku hanya bisa sedikit membelokkan arah tebasannya dengan pedang ku dan aku sendiri pergi ke samping untuk menghindari tebasan itu.
Dentang...!!
Karena aku berhasil sedikit membelokkan arah pedang itu dan menghindarinya, aku berhasil selamat dari serangan pertamanya. Meskipun demikian, aku merasa bahwa tanganku mati rasa dan gemetar hebat. Untuk mencegah gemetar di tanganku terus berlanjut, aku mengeratkan pegangan ku ke gagang pedang.
Hiaaaa...!!
Aku kembali maju dan mengadu pedang dengan pedang.
Dentang...!!
Sebuah ayunan besar kembali menahan pedangku dan membuatku mundur beberapa langkah. Karena hentakan yang keras, organ dalam ku sedikit terguncang dan akhirnya rasa asin dengan sedikit manis terasa di tenggorokan ku, seteguk darah keluar dari sudut mulut ku dan menodai pakaian ku.
Bagaimanapun, meskipun aku termasuk dalam kesatria yang cukup hebat, Marshal Luik adalah guruku yang sudah melatihku berperang sejak kecil. Wajar jika dia mengetahui setiap gerakan ku dan kebiasaan ku ketika bertarung.
Aneria:"Royal sword technique: Soul Liberation Sword."
Pedang di tanganku menyala dengan cahaya biru redup seperti kristal sihir. Aku merasa bahwa energi di tubuhku mengalir ke pedang di tanganku. Aku menggunakan kecepatan penuh dan membuat dua belas tebasan dengan sangat cepat. Dua belas cahaya biru bersinar dan meluncur sangat cepat ke arah Marshal Luik tanpa meninggalkan jalan retreat untuknya.
Bang... Bang... Bang.....!!
Dua belas suara ledakan bergema dari arah Marshal Luik berdiri. Asap dan puing-puing bangunan terangkat tinggi ke udara seperti bekas ledakan sihir.
Huh... Huh...
Karena menghabiskan hampir seluruh kekuatanku, nafasku menjadi tersengal-sengal. Aku terus memperhatikan arah asap yang mengepul itu. Dengan serangan itu, tidak mungkin dia masih bertahan, kan?.
Lusi:"Yang Mulia!."
Aneria:"Aku_"
Melihat Lusi yang di tahan di tanah dengan wajah senang karena keberhasilanku, aku ingin menjawabnya, tapi sebelum itu terjadi, aku merasakan sakit yang sangat luar biasa di perutku. Aku memandang orang yang memukul perutku dengan keras.
Aneria:"Mar... Shal... Luik...!."
Luik:"Tekhnik pedang kerajaan memang kuat, Yang Mulia. Namun, sangat di sayangkan bahwa anda belum bisa menguasainya dengan baik. Jika anda sudah bisa menguasainya, mungkin itu tidak akan hanya memotong tangan kiri ku."
Mendengar itu, aku menatap tangan kiri Marshal Luik yang terpotong dari atas siku. Bekas luka itu masih meneteskan darah segar ke tanah. Dia menahan serangan ku dengan tangannya?.
Karena rasa sakit yang parah di perutku, aku terjatuh ke tanah, pandanganku kabur dan tidak jelas. Meskipun demikian, aku bisa melihat Lusi yang mencoba berdiri dan di pukuli oleh kesatria pemberontak.
Aneria:"Lusi... Jangan melawan lagi!."
Aneria:"Marshal... Tidak, guru, kenapa kamu melakukan ini?."
Luik:"Maafkan saya Yang Mulia. Saya merasa kecewa kepada keputusan anda untuk menyerahkan kerajaan ini ke kekuatan lain. Kerajaan kami sudah di serang oleh banyak musuh sejak awal berdiri, tapi kita bisa melewati itu semua karena semangat juang kesatria kita. Namun saat ini, anda lebih memilih menyerah daripada berjuang sampai akhir."
Aneria:"Hahahaha...!!!."
Mendengar apa yang di ucapkan oleh Marshal Luik, aku tidak bisa menahan tawa ironis untuk mereka. Melawan sampai akhir?. Mungkin mereka tidak tahu, tapi aku sedikit mengetahui tentang kekuatan Moon Palace.
Kharel:"Apa yang anda tertawakan, Yang Mulia?."
Wajah marah Duke Kharel karena mendengar tawaku sedikit membuatku senang.
Aneria:"Inilah kenapa sebaiknya kamu hadir saat ada panggilan dari istana."
Kharel:"Apa maksud mu?."
Aneria:"Kekuatan yang telah di tunjukkan oleh Yang Mulia Filia jauh lebih kuat dari kerajaan kita. Bahkan Marshal, apakah kamu lupa waktu itu?."
Marshal Luik tidak menjawab dan membuang muka ke arah lain. Melihat bahwa Marshal Luik tidak menjawab, Duke Kharel menjawab dengan marah.
Kharel:"Lalu kenapa?. Dengan bantuan kapal udara dan pasukan serta persenjataan dari pasukan Kekaisaran Xuan Ming, kita pasti bisa membuat mereka tunduk kepada kita."
Luik:"Kita akan melakukan perlawanan hingga akhir!."
Jadi, semua ini karena dukungan dari Kekaisaran Xuan Ming. Si bodoh Phirios itu tidak mengetahui apapun, dia hanya mengandalkan kesombongannya. Dan apa itu perlawanan hingga akhir?!.
Aneria:"Perlawanan hingga akhir?!. Akhir dari perlawan yang akan kalian lakukan hanyalah menumbalkan nyawa ratusan ribu kesatria dan prajurit yang tidak berdosa. Akhir dari kita hanyalah seonggok daging busuk di pinggir jalan. Apa kalian sadar itu?!."
Kharel:"CUKUP!. Aku tidak mau mendengar omong kosong mu tentang hal itu lagi. Prajurit, ikat dan bawa dia ke kapal. Hanya dia yang tahu cara pergi ke tempat itu, dan hanya dia yang memiliki kuncinya!."
"Baik, Duke!."
Mereka mengikatku dan yang lainnya, lalu membawa kami ke atas kapal. Ayah dan bangsawan serta kesatria lain yang setia kepadaku, mereka telah di jebloskan ke penjara bawah tanah dengan di jaga ketat oleh prajurit.
Di perjalanan saat mereka membawa kami ke atas kapal, aku bertemu dengan Phirios dengan perut buncitnya.
Phirios:"Kamu bekerja cepat, Duke!."
Kharel:"Terima kasih atas pujian anda, Yang Mulia Pangeran Phirios."
Phirios:"Aku mendengar bahwa pemimpin dari negeri yang akan kita serang hanya anak-anak."
Kharel:"Saya juga mendengar hal seperti itu, dan berita itu sudah di konfirmasi."
Phirios:"Seorang pemimpin yang hanya anak-anak, mungkin dia hanyalah boneka bagi para bangsawan. Aku yakin bahwa banyak bangsawan yang akan menggulingkannya. Setelah para bangsawan itu melihat kekuatan kita, mereka akan bekerja sama dengan kita untuk mengkhianati pemimpin mereka."
Aneria:"Hahahaha... Tidak heran kamu tidak di izinkan untuk menggerakkan pasukan, itu karena otakmu terlalu tidak berguna."
Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mengetahui semua tentang Yang Mulia Filia, tapi aku tahu bahwa semua bawahannya memiliki keyakinan buta untuknya. Selain itu, kemampuan Yang Mulia Filia sendiri aku sudah melihatnya, meskipun aku tidak yakin bahwa itu adalah kemampuan penuhnya.
Phirios:"Wanita... Tutup mulut bau mu."
Phirios datang mendekat ke arahku dan memegang pipiku dengan tangannya.
Phirios:"Setelah perang ini berakhir, aku akan menjadikanmu sebagai mainan di tempat tidurku..."
Aneria:"Kamu tidak akan pernah punya kesempatan itu, karena menghadapai Yang Mulia Filia, kalian semua ditakdirkan untuk mati secara menyedihkan."
Phirios:"Kita lihat saja!."
Aneria:"Ya. Kita lihat saja."
Mereka memasukkan ku ke dalam sebuah ruangan kamar di dalam kapal terbang dengan empat penjaga di depan pintu supaya aku tidak melarikan diri. Tujuan mereka adalah kota iblis, itu karena mereka mendapatkan informasi bahwa ada hal aneh di sana yang di duga cara menuju ke Moon Palace.
Kapal terbang melaju cepat ke arah kota iblis yang telah hancur. Dari jendela, aku bisa melihat dua puluh kapal besar dengan panjang ratusan meter dan lebih dari dua ratus ribu prajurit di dalamnya. Selain prajurit yang mengendarai kapal terbang, lebih dari tiga ratus ribu prajurit infanteri sedang menempuh jalur yang berbeda dan akan bertemu di kota iblis.
Karena waktu perjalanan tidak sebentar, para kesatria dan prajurit dari kekaisaran Xuan Ming, serta dari kerajaan, mereka bersenang-senang dan mabuk-mabukan di geladak kapal. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa mereka akan bermain-main dengan wanita cantik yang akan mereka temui di Moon Palace atau hal vulgar lainnya.
Ya, lihatlah wajah bahagia mereka, dengarlah hal-hal bahagia yang mereka katakan setelah perang berakhir, tapi aku tahu bahwa kalian hanya akan melihat keputusasaan dan ketakutan setelah perang di mulai. Bahkan tidak akan cukup banyak orang yang hidup dari kalian untuk menghitung mayat teman-teman kalian yang telah mati.
Mereka berkumpul, tertawa, membahas hal yang bahagia. Tapi mereka tidak tahu bahwa mereka hanya akan pergi mengantarkan nyawa...
(Akhir dari chapter ini)
Chapter ini agak sedikit dari biasanya. Itu karena aku sedang di rawat karena menderita sakit tipes. Oh ya ampun, aku tidak di izinkan untuk makan apapun selain benda-benda hambar yang sulit di telan. Aku akan update lagi setelah sembuh, see you next time;).