Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 151: Requiem. (Nyanyian untuk mereka yang sudah mati)



(Perhatian: Bagi penderita entomofobia di harap untuk skip chapter ini.)


Filia:"Valkyrie: Requiem...!"


Tombak cahaya emas yang di pegang oleh para Valkyrie langsung hancur menjadi partikel cahaya yang tidak terhitung jumlahnya kemudian menyatu kembali menjadi berbagai instrumen musik.


Violin, guqin, guzheng, harpa, seruling, dan berbagai alat musik tiup lainnya menggantikan tombak cahaya yang di pegang oleh para Valkyrie, membuat penampakan tentara Valkyrie yang agung berubah seketika menjadi pemain orkestra yang khidmat dan suci.


Aaa...!


Suara para Valkyrie yang merdu, bersenandung bersama seperti paduan suara.


Ting...


Bel emas berbunyi, di ikuti oleh suara violin yang mengalun dengan merdu dan nada yang panjang. Setiap instrumen mulai di mainkan menurut bagian masing-masing. Sangat tertata dan rapi, tanpa kesalahan sedikitpun.


"Semoga tuhan membimbing jalan arwah kalian yang telah tiada, pejuang yang telah berperang demi keyakinannya..."


"Berdiri untuk mati, tak pernah berlutut untuk hidup..."


"Tak pernah tenggelam dalam kegelapan, bangkit kembali bagi kalian yang masih menginginkan masa depan..."


"Beristirahat dengan tenang bagi pejuang yang telah mati..."


"Bangkitlah kembali, bagi jiwa yang abadi..."


"....."


Musik dan nyanyian yang khidmat bergema di angkasa. Bersama dengan lagu itu, cahaya emas datang dari ujung Utara dan membuat dunia yang suram ini mendapatkan sedikit warna kehidupan.


Filia:"Beristirahatlah bagi pejuang yang telah jatuh (Musuh). Bangkitlah prajuritku dengan jiwa yang teguh... «Forbidden Magic, Tier 3: Resurrection»"


Cahaya emas yang cerah segera menyelimuti seluruh Medan perang yang sangat luas. Jiwa-jiwa prajurit Moon Palace terlihat seperti bola-bola cahaya putih yang langsung terbang ke arah kapal induk dan berkumpul di sebuah tingkat kristal yang di pegang oleh Selene.


Tongkat kebangkitan, setiap guild pasti akan memiliki tongkat kebangkitan untuk membangkitkan kembali NPC atau member guild mereka yang telah mati dalam perang tanpa kehilangan exp.


Namun, tongkat ini hanya membangkitkan orang atau NPC yang datanya telah terdaftar di guild house dan hanya bisa di gunakan sekali setiap tujuh hari. Setiap kali tongkat itu di gunakan, maka perlu untuk mengkonsumsi beberapa item material untuk membentuk kembali tubuh yang telah hancur karena peperangan.


Selain itu, untuk dapat membangkitkan prajurit yang telah mati, tongkat kebangkitan perlu di bawa kembali ke Moon Palace dan meletakkannya di platform khusus.


Selain jiwa prajurit Moon Palace yang terlihat seperti bola putih, ada juga jiwa prajurit musuh yang langsung berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang. Mereka bukan menghilang karena jiwa mereka akan berubah menjadi mana dunia, tapi jiwa mereka akan di hancurkan untuk mengisi kembali kekuatan jiwa dari para prajurit Moon Palace.


Dalam Medan perang, hanya tersisa tubuh mayat tanpa jiwa yang tersebar, bercampur bersama dengan lumpur.


Kapal induk yang mengambang diam di udara tiba-tiba membuka pintu palka di kedua sisi tubuhnya. Ribuan drone berukuran 4m terbang dari dalam kapal induk seperti sekawanan lebah yang terbang dari dalam sarangnya.


Drone-drone itu terbang ke seluruh Medan perang untuk mencari sesuatu. Laser deteksi selalu mereka pancarkan ke permukaan tanah. Seperti telah menemukan apa yang dia cari, salah satu drone membuka bagian perutnya dan dari sana keluar sebuah tangan mekanik yang dapat memanjang hingga 2m.


Tangan mekanik fleksibel itu masuk ke dalam tanah lumpur dan mengambil sesuatu yang mirip seperti sebuah lempeng besi berukuran 2mm yang tertutup lumpur.


Benda yang mereka ambil adalah Nanite Brain dari para prajurit mekanik. Meskipun otak itu berukuran kecil, tapi dapat menyimpan data sebesar 10Tera dan memiliki daya komputasi hingga 1,2PetaFlops yang sangat cepat, sebanding dengan super komputer generasi pertama.


Dari seluruh pembuatan prajurit mekanik, bagian tersulit adalah saat pembuatan Nanite Brain Core yang mengandung teknologi inti dari seluruh prajurit mekanik.


Tidak seperti prajurit biologis yang harus di bangkitkan menggunakan jiwa, pembangkitan prajurit mekanik hanya perlu memasang kembali Nanite Brain mereka ke dalam tubuh yang baru dan menginstal ulang beberapa data yang telah rusak dalam pertarungan.


Namun, bagian terpentingnya bukanlah Nanite Brain, melainkan data yang tersimpan di dalamnya. Meskipun data tidak hanya tersimpan di Nanite Brain, tapi memasang kembali Nanite Brain yang sudah jadi juga memiliki keunggulan sendiri. Dengan menggunakan kembali data yang ada di dalam Nanite Brain, aku tidak perlu menginstal ulang data yang tersimpan di Moon Palace yang ukurannya cukup besar dan akan memakan waktu lebih lama.


Jika Nanite Brain mereka hancur dalam pertarungan, untuk membangkitkan kembali pasukan mekanik, aku perlu membuat Nanite Brain yang baru dan menginstal data mereka yang masih tersimpan dalam data base Guild yang pasti akan memakan lebih banyak material dan waktu.


Namun, sama seperti jiwa prajurit biologis yang dapat di hancurkan dengan sihir tingkat tinggi, maka data prajurit mekanik juga dapat di hapus dengan sihir tingkat tinggi dan tidak mungkin untuk membangkitkan ulang mereka.


Jalan satu-satunya adalah dengan membuat prajurit mekanik yang baru dengan program data yang baru. Tentu saja, pembuatan program yang baru tidak akan bisa membuat program yang sama dengan data yang telah terhapus. Jadi, jika data base terhapus, maka prajurit mekanik juga akan lenyap sepenuhnya tanpa dapat di pulihkan.


Melihat para Drone yang sibuk bekerja, aku meninggalkan mereka dan langsung terbang kembali ke dalam kapal induk.


"Yang Mulia!."


Begitu aku masuk, Arkne dan yang lainnya berlutut di hadapanku. Aku duduk di singgasana sambil mendengarkan lantunan nyanyian dari Valkyrie yang menggema di angkasa.


Filia:"Pergi ke ibu kota Xuan Ming...!"


"Ya, Yang Mulia...!."


.....


(Kaisar Xuan Jianlin)


Istana kekaisaran...


Perang dengan kekuatan yang tidak di kenal itu mengalami sebuah kerugian besar. Dari satu juta lebih prajurit, hanya selusin yang kembali?.


Bagaimana, bagaimana mungkin hal yang mustahil seperti itu terjadi?. Tidak peduli seberapa buruk perhitungan yang aku ambil, pada akhirnya hal yang paling mustahil terjadi.


Aku sudah memikirkan cara apa yang akan aku ambil saat kami kalah perang, tapi... tapi aku sama sekali tidak memperhitungkan pembantaian satu sisi seperti ini. Bagaimana kekaisaran ini bisa terus berlanjut?.


Semenjak aku duduk di kursi kaisar, baru kali ini aku merasakan penyesalan dan ketidakberdayaan. Perasaan ini, sangat buruk.


Xuan Jianlin:"Katakan, ceritakan apa yang terjadi!."


Aku menyuruh jenderal Zhao dan Tian Che yang sedang berlutut di hadapanku untuk menjelaskan pa yang terjadi. Penampilan mereka yang dulu luar biasa, menjadi pujaan bagi para wanita, sekarang mereka sangat kacau selayaknya pengemis dengan pakaian mereka yang compang-camping dan beberapa bekas luka berdarah di tubuhnya.


Tian Che:"Yang Mulia kaisar..."


Tian Che mulai menceritakan apa yang terjadi. Mulai dari ribuan kapal udara besar dan kecil, kekuatan penghancur musuh, dan pasukan yang mereka bawa.


Singkatnya, kekuatan penghancur mereka sama sekali tidak dapat di bandingkan dengan kekuatan manapun yang pernah aku lihat. Satu kapal dari mereka, berhasil menjatuhkan seluruh kapal dari kekaisaran Xuan Ming. Dari sini saja, aku dapat membayangkan seberapa kuat musuh itu.


Selain itu musuh juga memiliki bala tentara yang sangat mengerikan. Jumlahnya jauh lebih besar dari bala tentara kami. Aku sangat bingung, darimana mereka mendapatkan bala tentara seperti itu.


Perlu di ketahui, kekaisaran Xuan Ming mampu mengumpulkan sebegitu banyak bala tentara karena aku juga mengumpulkan para prajurit dari berbagai negeri bawahan. Tapi, bagaimana dengan kekuatan tidak di kenal itu?!.


Nama mereka sama sekali belum pernah aku dengar, tapi mereka mampu mengumpulkan bala tentara seperti itu?.


Tian Che:"Terutama yang terkuat adalah seorang gadis kecil..."


Jianlin:"Gadis kecil?."


Tian Che:"Ya, dia memiliki sayap perak dan rambut perak. Di seluruh sayapnya tertutupi oleh api dan kilat yang menggelar. Dia berperang dengan armor emas dan membantai pasukan kita..."


Tian Che menceritakan apa yang dia lihat. Seorang gadis kecil turun ke Medan perang dan melakukan pembantaian terhadap ribuan pasukan sendirian. Bahkan meriam penghancur yang merupakan senjata andalan dari pasukan kami tidak mampu untuk membunuhnya..


Tian Che dan Zhao Yun terus menceritakan pengalaman Medan perang mereka. Pengalaman itu hanya seperti buku cerita yang hampir tidak masuk akal sama sekali. Namun, dilihat dari ekspresi dan saksi dari para Prajurit yang kembali, semua yang mereka katakan nampaknya adalah kebenaran.


Dengan mendengar cerita itu, tanganku bergetar dan keringat dingin mengucur dari punggungku... Kesalahan, ini adalah sebuah kesalahan besar.


Jianlin:"Ini sudah berakhir..."


Musuh yang kami hadapi sangat kuat, tidak ada kemungkinan untuk melawan balik. Mereka adalah monster. Apakah hanya sampai seperti ini...?


"Yang Mulia, kita tidak bisa menyerah!."


Aku mengangkat mataku dan melihat salah satu pejabat berbicara.


"Mungkin, mungkin kita bisa menyerah dan menjadi negara bawahan?."


Jianlin:"Apakah menurutmu itu mungkin?!."


Aku benar-benar geram dengan orang ini. Menyerah, aku tidak terlalu peduli dengan harga diri, tapi apakah mereka akan menerima penyerahan?.


Negara dengan pemerintahan yang begitu kuat dan pasukan yang sangat mengerikan, apakah mereka masih perlu negara bawahan?.


Ini semua adalah salah perhitungan kami. Jika sejak awal kami menyerah, mungkin masih ada pilihan untuk bertahan hidup. Tapi, kami memilih untuk berperang dengan mereka dan dengan sombongnya ingin mengalahkan mereka.


Menyesal?. Ya, aku menyesal. Tapi, apa gunanya penyesalan itu, di dunia ini, tidak ada yang menjual obat penyesalan.


"Y, Yang Mulia... S, saya masih ada urusan yang belum selesai, saya mohon undur diri."


"S, saya juga harus kembali mengatur beberapa prajurit untuk perbatasan."


"Maaf Yang Mulia, saya sepertinya harus memeriksa pengiriman barang..."


"..."


Para menteri sialan ini. Mereka mencoba untuk melarikan diri dan menyelamatkan kehidupan mereka. Merekalah yang bercicit paling keras untuk memberi pasukan asing itu pelajaran dan pemukulan, tapi saat sampai pada kondisi saat ini, merekalah yang lari paling cepat seperti kaki kelinci...


Menteri Fang:"Omong kosong. Kalian adalah pengecut, pencatut. Saat ada keuntungan, kalian akan berkerumun seperti lalat, namun saat negara sampai pada posisi saat ini, kalian lari seperti kaki kelinci...!"


Menteri Zhuo:"Jangan kira kami tidak tahu seberapa banyak uang negara yang kalian gelapkan. Kalian masih ingin lari setelah menjadi lintah untuk negeri ini?!."


Setelah banyak mencaci, menteri Zhuo dan Menteri Fang langsung maju dan berlutut di hadapanku.


Menteri Zhuo:"Yang Mulia, hidup dan mati kami akan bersama negeri ini. Kami akan selalu setia dan bersama anda, Yang Mulia."


Menteri Fang:"Itu benar, Yang Mulia. Kami akan selalu bersama anda hingga akhir."


Jianlin:"Ya."


Setelah mengetakan itu, aku memerintahkan seseorang untuk mengundang datang seluruh ratu dan selir istana dan datang ke ruangan pertemuan.


"Yang Mulia, apa yang harus kita lakukanlah, kamu harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan anak-anak kita. Jika tidak_"


Jianlin:"Diam...!"


Begitu datang, sebelum memasuki ambang pintu, Ratu Viil berkata dengan lantang. Dia benar-benar mulai menguras kering kesabaranku yang tersisa saat ini.


Jianlin:"Jika bukan karena perbuatanmu yang menggerakkan pasukan sesukanya dan mendukung si bodoh Phirios itu bertindak seenaknya, apakah mungkin hal ini terjadi?!."


Aku menarik nafas panjang dan mencoba untuk menenangkan diri dari kemarahan. Dalam kondisi saat ini, kemarahan hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk.


Aku memandang semua orang yang hadir. Mereka saat ini menundukkan kepala dan berwajah gelap. Aku bisa melihat banyak ekspresi ketakutan dan ketidakberdayaan pada mereka.


"Yang Mulia, saya mohon permisi...!"


Seorang pejabat, tiba-tiba berkata dan bersiap untuk pergi.


"S, saya juga...!"


"Saya juga...!"


Beberapa pejabat yang telah di marahi oleh menteri Fang dan Menteri Zhuo mulai mengambil keputusan dan bersiap untuk pergi.


Menteri Zhuo:"Yang Mulia, haruskah kita_"


Jianlin:"Tidak, biarkan merek pergi."


Menteri Zhuo bermaksud untuk menghentikan mereka pergi, tapi aku menolak gagasan itu. Mungkin mereka pergi untuk mengungsikan anggota keluarga mereka atau yang lain. Aku tidak bisa seenaknya memotong garis hidup mereka.


Dari 8 Menteri dan 10 pejabat tinggi, hanya 4 menteri dan 6 pejabat tinggi yang akan pergi. Selain mereka, nampaknya menteri yang tersisa sedikit lebih pintar. Para menteri itu, selain mereka yang benar-benar setia kepadaku, mereka hanya tinggal di sini untuk mencoba mempertahankan posisi mereka di pemerintahan baru.


Aku juga memperhatikan para selir yang ragu-ragu apakah mereka akan tetap tinggal atau pergi bersama dengan para pejabat. Bagaimana mungkin aku tidak mengenal para selir yang sudah lama bersamaku. Aku tahu bahwa mereka sedang mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari setiap keputusan yang akan mereka ambil.


Viil:"Yang Mulia, h, haruskah kita juga pergi...?"


Jianlin:"Aku tidak pergi, jika kalian ingin pergi, kalian bisa pergi sendiri."


"Saya akan tetap tinggal...!"


Suara lembut seorang wanita menyela pemikiran para selir. Saat aku mendongak, aku melihat bahwa itu adalah seorang wanita dengan wajah lemah lembut, tapi ada ketegasan di matanya. Wanita itu hanya berpakaian sedikit sederhana dan riasan seadanya, meskipun begitu, dia terlihat seperti bunga yang mekar, begitu indah dan rapuh.


Kecantikannya hanya sedikit di bawah ratu Viil, tapi dia memiliki temperamen yang lebih tenang dan berfikiran lebih luas. Dia adalah Zhang Zilin. Zhang Zilin adalah sahabat masa kecilku yang selalu menemaniku bagaimanapun kondisinya. Dia sangat baik dan sangat cakap, tapi posisinya selalu ditekan oleh ratu Viil dan pada akhirnya dia hanya menempati posisi permaisuri.


Untuk perang di dalam Harem, aku hanya bisa sedikit mengambil tindakan. Tentu saja aku ingin membantunya baik ke posisi ratu, tapi dengan dia berada di posisi ratu, dia mungkin akan mengalami lebih banyak kesulitan daripada posisinya saat ini. Apalagi, ratu Viil memiliki posisi sosial yang lebih tinggi, jadi juga akan sulit bagiku menjatuhkan ratu Viil dan mengganti dengan Zhang Zilin.


"Kami, kami juga akan tinggal...!"


"Ya..."


"..."


Para selir yang masih ragu-ragu, mereka juga di yakinkan oleh permaisuri Zhang Zilin dan akhirnya memilih untuk tetap tinggal.


Aku mengangguk ke arah mereka dan menatap punggung para pejabat dan menteri yang akan melarikan diri. Mereka berjalan ke arah pintu keluar dengan tergesa-gesa.


Namun, saat mereka akan keluar dari pintu, salah seorang yang paling depan tiba-tiba menabrak sesuatu dan terhuyung mundur karena dampak benturan.


"Apakah kalian ingin berlari?."


Sebuah suara tenang dan dingin seorang wanita tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Di sana, seorang wanita berjubah hitam dengan topeng yang menutupi wajahnya, sedang berdiri di ambang pintu sambil mengulurkan tangannya ke depan.


Tangan itulah yang menghalangi menteri itu untuk keluar pintu dan akhirnya di tabrak. Perlahan, wanita itu menarik tangannya dan melepas topeng yang menutupi wajahnya.


Wajah di balik topeng adalah seorang wanita berkulit putih dengan mata ungu seperti batu ametis. Wanita itu memiliki wajah dingin yang sangat cantik dengan rambut hitamnya. Tapi, di seluruh tubuhnya di selimuti dengan aura dingin yang mencekam.


"Mereka belum berlari?."


Di belakang wanita itu tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sedikit teredam. Aku melihat ada seorang pria berjubah hitam yang memimpin beberapa prajurit dengan armor perak di belakangnya. Para prajurit itu bukanlah prajurit dari Xuan Ming.


Wanita itu mengalihkan perhatiannya kepadaku yang sedang duduk di kursi takhta dengan wajah tetap tanpa ekspresi.


"Kami di perintahkan oleh Yang Mulia untuk mencegah siapapun melarikan diri atau melakukan berlawanan..."


Mendengar itu, semu menjadi jelas. Mereka adalah prajurit dari kekuatan asing itu dan datang untuk menenangkan situasi dan mencegah gelombang datang.


Jianlin:"Aku tidak akan pergi...!"


Wanita itu hanya mengangguk dan matanya beralih kepada sekelompok pejabat yang mencoba untuk melarikan diri tadi. Matanya tetap dingin dan acuh tak acuh. Di bawah tatapan yang menindas itu, seorang menteri di kelompok itu tiba-tiba maju dengan wajah yang menyanjung dan senyum berminyak.


"Nona dan tuan ini, kami tidak melarikan diri. Kami hanya ingin... ingin menyambut kedatangan anda."


Melihat bahwa tidak ada respon dari pria dan wanita berjubah itu, menteri itu masih ingin melanjutkan.


"Untuk perang itu, saya sudah mengusulkan untuk perdamaian, tapi Yang Mulia menolak dan memilih perang..."


Jianlin:"Kamu..."


Aku tidak menyangka bahwa menteri itu akan benar-benar menjualku. Dialah menteri yang mengusulkan perang dan ingin membuat kekuatan asing itu menerima pelajaran. Dialah yang mengusulkan perang lebih keras daripada siapapun, namun sekarang, dia ingin aku membawa pot hitam untuknya?!.


"Diam!. Jika anda mengikuti pendapat saya dari awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi."


Menteri itu berteriak ke arahku dan mencoba untuk menunjukkan sisi baiknya kepada kedua orang berjubah itu. Setelah rencana pelariannya gagal, dia mencoba untuk merubah cara lain dan menyenangkan musuh demi keselamatannya.


"Tuan dan nona ini, say... ugh... uhuk...!."


Tiba-tiba, menteri itu tersedak sesuatu dan mencoba untuk memudahkannya. Setelah itu, wajahnya menjadi terdistorsi dan dia memegang lehernya dengan erat, nampak sangat kesakitan dan tersiksa. Dia berguling-guling di lantai dengan kesakitan yang tertulis jelas di wajahnya.


Sesaat kemudian, menteri itu tiba-tiba berlutut dan berteriak ke arah langit.


Swos...!


Begitu dia membuka mulutnya, banyak serangga hitam yang merangkak keluar dari dalam mulut dan dari dalam lubang hidungnya. Serangga-serangga itu terus merangkak dari dalam mulutnya dan akhirnya memenuhi seluruh wajahnya. Setelah serangga hitam itu keluar dari mulutnya, serangga-serangga itu langsung membuka mulutnya untuk menggigit dan memakan kulit serta daging di wajah menteri itu.


"Hie..."


Banyak teriakan ketakutan yang terdengar. Menteri dan para pejabat yang tadi dekat dengan menteri itu tiba-tiba mereka mundur dan mengambil jarak yang cukup jauh dengan wajah yang jijik sekaligus ketakutan.


Pemandangan itu sangat menakutkan dan membuat siapapun yang melihatnya merasa merinding di sekujur tubuhnya. Serangga-serangga itu terus mengigit dan memakan kulit dan daging dari menteri itu hingga habis.


Hanya suara tersedak dari menteri sial itu yang membuktikan bahwa dia masih hidup. Justru inilah yang paling menakutkan, serangga-serangga itu memakan setiap bagian kulit dan dagingnya saat orang itu masih hidup. Jika kamu membayangkan rasa sakit yang dia derita, maka mungkin kamu kan mengerti seberapa menakutkannya hal itu.


"Aku benci orang seperti ini."


Suara dingin pria itu bercampur dengan suara gesekan sayap dan suara mengunyah dari serangga, memberikan tambahan hawa dingin yang mencekam dan sangat suram.


Entah sejak kapan, pria berjubah itu mengulurkan tangannya. Di sekitar tangannya, aku bisa melihat banyak serangga yang merangkak. Tapi, serangga yang merangkak itu sedikit berbeda. Karapas luarnya berwarna ungu gelap dengan corak merah yang mencolok.


Meskipun berbeda, tapi aku yakin bahwa kematian dari menteri itu terkait dengan pria itu. Dia tiba-tiba mengarahkan tangannya ke sekelompok menteri dan pejabat yang ingin melarikan diri tadi lalu berkata dengan dingin.


"Aku akan membantu kalian pergi, Selamanya!."


Banyak serangga berwarna ungu yang tiba-tiba terbang dari tangan pria itu dan pergi menuju ke sekelompok orang itu. Orang-orang itu tidak tahu serangga macam apa yang akan menyerang mereka, namun setelah mereka melihat nasib sial dari menteri itu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menghindari segerombolan serangga yang terbang ke arah mereka.


Tapi, apakah itu akan semudah itu?!. Serangga-serangga ungu itu terbang dengan sangat cepat dan langsung mengerumuni orang-orang itu.


Para menteri dan pejabat itu berusaha untuk melambaikan tangan dan apapun yang bisa mereka raih untuk mengusir serangga-serangga itu, namun semuanya hanya sia-sia.


Serangga-serangga itu terus mengerumuni mereka dan membuat para pejabat itu berguling-guling di lantai serta berteriak kesakitan seperti seekor babi.


Tidak Lama kemudian, serangga-serangga itu terbang kembali ke pemilik aslinya dan meninggalkan orang-orang itu yang masih terbaring di lantai.


Saat aku melihat orang-orang di lantai, aku sedikit bingung. Keadaan mereka saat ini hanya kelelahan dan terengah-engah di lantai. Tidak ada kulit yang hilang, atau bekas gigitan di tubuh mereka selain bekas bintik merah dan bengkak yang mirip seperti tersengat oleh lebah.


Pemandangan ini jauh dari apa yang aku harapkan. Sebenarnya setelah aku melihat nasib menteri sial itu, aku menduga bahwa orang-orang sial lainnya akan di makan habis, tapi sepertinya tidak.


Namun aku juga sedikit ragu. Apakah serangga yang terlihat menakutkan itu hanya akan memiliki efek seperti ini.


"Mereka yang tidak patuh pada Yang Mulia, berhak mati...!"


Suara pria dingin itu kembali terdengar. Dan lalu, sebuah pemandangan yang membuat hati orang lain bertambah dingin terjadi...


(Akhir dari chapter ini.)


Apakah terlalu brutal dan agak menjijikkan?.


Mungkin kalian bisa memberi tahuku pendapat kalian di kolom komentar dan aku akan membuat sedikit perubahan...


Ok, see you next time...(≧∇≦)//~