
aku mengikuti Eden dan kesatria yang lainnya berpindah kesebuah tanah lapang di dekat mansion. tanah lapang itu benar-benar lapang tanpa rumput dan di sekitarnya di kelilingi oleh dinding tinggi serta banyak boneka kayu yang di pakaikan baju besi.
sepertinya boneka itu adalah target yang di gunakan untuk berlatih. terdapat bangunan seperti barak militer tempat berbagai macam peralatan latihan tersimpan didalamnya. saat aku memasukinya di dalam terdapat banyak jenis senjata, baik dari logam maupun kayu.
peralatan yang di gunakan untuk berlatih adalah peralatan yang terbuat dari kayu. meskipun begitu, kayu yang di gunakan adalah kayu yang keras dan padat, beratnya juga tidak kalah dengan senjata sungguhan yang terbuat dari logam.
yang aku pilih adalah dua buah longsword yang beratnya sekitar satu setengah kilogram dan panjangnya sekitar 90 centimeter. sebenarnya aku bisa menggunakan berbagai jenis senjata karena title «Weapon Goddess» yang dapat meningkatkan compatibility dengan berbagai senjata sekaligus mempermudah mempelajari skill dan memperkuat skill yang menggunakan senjata.
Eden:"apa anda yakin ingin memilih kedua pedang itu nona?".
Filia:"ya, aku yakin".
setelah memilih senjata, para kesatria berkumpul kembali di lapangan dan berlatih mengayunkan pedang atau menyerang boneka kayu berbaju besi. sambil berlatih, Eden juga memberikan beberapa arahan kepada kesatria yang lainnya.
sekitar lima belas menit kemudian, porsi latihan berganti menjadi sparring satu versus satu. aku jadi mengingat PVP di dalam game. aku sering melakukan PVP dengan banyak pemain dari berbagai negara, PVP bertujuan untuk mengukur kemampuan kita saat berduel dengan player lain.
aku jadi ingin mencobanya. tapi aku takut kalau para kesatria itu tidak akan serius saat menghadapi ku. jadi mungkin lebih baik jika aku mengajak Eden dan memintanya untuk serius.
Filia:"Eden. aku ingin coba bertarung dengan mu".
Eden:"apa anda yakin nona?"
Filia:"ya!"
aku melihat wajah Eden yang nampak ragu-ragu dan terkesan tidak percaya kepadaku. oke aku bertubuh kecil dan terlihat lemah, tapi aku cukup kuat untuk setidaknya membuatmu menangis.
Eden:"bagaimana kalau nona melawan salah satu dari mereka dulu?".
Eden menunjuk ke sekumpulan kesatria yang sedang berlatih menggunakan pedang kayu dan memukuli boneka kayu.
Filia:"baik. tidak masalah"
setelah aku menyetujui usulan Eden, dia memanggil seorang kesatria. kesatria itu bertubuh tinggi dengan rambut coklat gelap yang di potong rapi dan ada beberapa bekas luka di wajahnya, tapi meskipun begitu dia masih terlihat cukup tampan, dan justru bekas luka itu menambah kesan keren di wajahnya.
Eden:"George. kamu akan menemani putri berlatih pedang"
George:"baik komandan"
para kesatria yang lain mulai beristirahat di dekat dinding dan memperhatikan aku dan kesatria yang di sebut George itu yang sedang berdiri berhadapan di tengah lapangan dan bersiap untuk melakukan sparring.
Eden juga ada di sana sebagai wasit pertandingan.
Filia:"mohon bantuannya dan jangan menahan diri"
George:"suatu kehormatan bagi saya untuk berlatih pedang dengan putri"
Filia:"karena kalian tadi meremehkan ku, maka aku akan memperlihatkan kemampuan ku".
setelah beberapa kata-kata sopan aku segera memasang kuda-kuda dengan satu pedang kayu di tanganku, semetara satu pedang lagi aku meletakkannya di tanah. aku memegang longsword menggunakan dua tangan secara Horizontal di depan dadaku.
George juga memasang kuda-kuda standar dengan sebuah pedang dua tangan. dia memegang pedang itu menggunakan dua tangan dan mengacungkannya ke arahku.
Eden:"Mulai!"
aku segera melesat ke depan dengan cepat dan langsung mengayunkan pedang itu secara horizontal dengan tenaga yang besar.
meskipun terkejut, George bisa menangkis serangan pertamaku meskipun dia terlempar ke samping sejauh lebih dari satu meter dan menghantam tanah dengan keras. pedang yang dia pegang juga patah menjadi dua.
aku langsung melesat kembali ke arahnya dengan ujung kaki kanan sebagai tumpuan untuk merubah arah. bisa di bilang aku sampai di tempatnya kurang dari satu detik dan mengarahkan ujung pedangku langsung ke tenggorokannya.
Filia:"bagaimana?. apa kamu menyerah?"
gulp....
terdengar suara menelan dari para kesatria di sekitar. aku juga memperhatikan tonjolan di tenggorokan George yang naik turun tanpa berbicara. matanya menunjukkan ekspresi terkejut dan nampak tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
George:"s, saya menyerah".
Eden:"pertandingan selesai!"
setelah hening selama beberapa saat, Eden mengumumkan hasil latih tanding ku. karena George sudah menyerah, aku juga menurunkan pedang kayu itu kembali.
Filia:"lain kali, selemah apapun musuh-musuhmu, jangan pernah meremehkannya dan menurunkan penjagaan mu!".
George berdiri dan menepuk tanah yang ada di tubuhnya. sepertinya tangannya mengalami cedera setelah benturan keras tadi. dia memberiku hormat dengan sungguh-sungguh.
George:"saya akan mengingat nasehat putri"
kerena akan buruk jika dia terluka, maka aku memberinya obat pemulihan yang akan mengobati cideranya.
Eden:"saya tidak ingat kalau nona bisa berlatih berpedang"
Filia:"mungkin kamu melupakannya"
aku tidak mau menjelaskan lebih banyak kepada Eden, jadi aku mengatakan itu saja. percaya atau tidak, itu terserah kamu.
seperti yang aku duga, Eden tidak mempermasalahkannya dan hanya mengangguk meskipun ekspresi nya agak aneh.
aku melihat telapak tanganku yang aku gunakan memegang pedang tadi. dulu saat bermain Alterion, banyak orang biasa yang berubah menjadi seniman bela diri atau ahli pedang yang kuat. di Alterion pemain akan mempelajari teknik bertarung dan menggunakan berbagai senjata. efeknya tidak kalah dengan saat kita berlatih bela diri di dunia nyata, hanya saja jika kamu ingin menjadi seniman bela diri di dunia nyata, kamu masih harus melatih kembali teknik itu dengan tubuh nyata.
saat di dalam game kamu hanya bisa berlatih menggunakan tubuh virtual dan akan lebih mudah untuk bergerak. tujuan dari pelatihan ulang di dunia nyata adalah untuk membuat tubuh nyata supaya dapat mengikuti gerakan yang ada di pikiran kita. singkatnya adalah untuk menyinkronkan antara pikiran dan tubuh.
meskipun pikiran mampu memprediksi gerakan dan juga mampu memikirkan tindakan yang tepat untuk menahan ataupun melakukan serangan balasan, tapi jika tubuh tidak mampu mengikutinya, maka semua itu akan tetap sia-sia.
dan saat ini sepertinya tubuhku belum terbiasa dengan gerakan seperti ini. aku masih harus melakukan banyak latihan supaya tubuh ini bisa mengikuti pikiranku saat dalam pertarungan.
aku mengangkat kepalaku dan melihat banyak kesatria lain yang sedang beristirahat di sekitar tempat pelatihan sambil memberikan pujian ke arahku.
Filia:"kalian semua maju bersama!. ini perintah"
aku meneriakkan kata-kata itu dan langsung membuat tempat itu hening. setelah itu wajah-wajah itu di gantikan dengan ekspresi yang tidak yakin.
"maaf. bukan maksud saya untuk tidak sopan, tapi meskipun putri kuat bukankah Anda terlalu meremehkan kami".
ada seorang kesatria yang mengatakan itu. dari awal berlatih aku sudah memperhatikan kesatria itu yang selalu melihatku dengan meremehkan. dia adalah lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun dengan dagu tajam dan kumis tipis. tadi saat pertama aku ingin ikut latihan, dia melihatku dengan senyum sinis yang menjijikkan.
meskipun para kesatria yang lain tidak ikut menyuarakan pendapat mereka, mereka juga ikut mengangguk mendengar ucapan orang itu.
Filia:"siapa namamu?"
"nama saya Müll"
Filia:"sepertinya kalian para kesatria masih terlalu membanggakan kemampuan kalian!"
aku berkata seperti itu sambil melirik Eden. nampaknya Eden memahami maksudku, dia mengangguk tanda persetujuan.
Eden:"kalian akan melawan putri secara bersamaan".
"komandan. apa anda serius?".
"jangan bercanda"
Eden:"Cukup!. ini adalah perintah!".
Eden meninggikan nada suaranya hingga para kesatria itu terdiam dan mulai mengambil senjata kayu mereka. mereka mulai maju ke tengah lapangan secara bergerombol.
Müll:"kami akan memberikan keringanan kepada sang putri"
ada sekitar lebih dari seratus kesatria yang berlatih saat ini. Müll memimpin sekitar dua puluh orang untuk maju bersama. nampaknya keringanan yang dia maksud adalah, mereka akan maju dengan jumlah sekitar dua puluh orang terlebih dahulu. sebenarnya aku ingin semua kesatria maju bersama.
aku berjalan untuk mengambil pedang kayu satu lagi yang tadinya aku letakkan di tanah saat bertanding melawan George di awal. aku memegang dua buah pedang di kedua tangan ku dan berjalan menghadap kerumunan.
Müll:"hehehe... jangan salahkan kami jika putri terluka".
Filia:"mari kita lihat kemampuan yang kalian banggakan".
Müll:"serang!!"
Müll langsung memimpin untuk melakukan serangan dengan senyum sinis di wajahnya. wajahnya benar-benar membuatku jijik.
Filia:" «Martial Arts: Double Sword Dance»"
tujuan awalku meminjam dua pedang kayu tadi adalah untuk mencoba skill ini. ini merupakan salah satu skill yang aku sukai.
aku segera masuk dan menerjang kelompok kesatria yang menuju ke arahku. aku menghindari serangan mereka dan meliuk-liuk di tengah-tengah keramaian. meskipun longsword agak sulit di gunakan dalam keadaan seperti ini, tapi aku bisa dengan mudah mencari celah untuk mengayunkan pedang itu ke titik-titik buta para kesatria.
aku memukul salah satu titik buta seorang kesatria dan dia terlempar ke tanah. aku melompat dan menangkis serangan dari banyak kesatria yang mengarahkan pedang kayunya ke arahku. aku mengakui bahwa kerja sama mereka cukup baik, bahkan dalam kondisi seperti ini, mereka masih bisa melakukan serangan terkoordinasi tanpa kekacauan.
aku terus menari-nari di tengah-tengah begitu banyak serangan dan juga dengan cepat melancarkan serangan balik kepada para kesatria itu. mereka mulai terlempar dan jatuh ke tanah satu persatu dengan mengerang kesakitan.
semua proses itu hanya berlangsung selama sekitar dua menit dan semua kesatria itu jatuh di tanah tidak bisa melanjutkan pertarungan lagi. aku sengaja menyisakan satu orang yang masih berdiri, dia adalah Müll.
bagaimana bisa aku melepaskannya dengan mudah. aku berjalan perlahan dengan para kesatria yang berjatuhan di sekitar kaki ku. saat ini senyum sinis yang menjijikkan itu telah di gantikan dengan ekspresi ketakutan. keringat dingin terus mengalir di wajahnya.
Filia:"bagaiman?. apa aku masih meremehkan kalian?"
aku terus berjalan perlahan ke arahnya sambil tersenyum. saat aku melangkah ke depan, Müll melangkah mundur.
Müll:"p, putri... s, saya salah"
Filia:"Maju!"
Müll:"s, saya.."
Filia:"Maju!!"
mungkin karena paksaan dariku, dia mulai mengeratkan cengkeramannya ke pedang kayu itu lalu berteriak dan langsung maju menyerang ku dengan semua kekuatannya.
dia mengayunkan pedang itu secara vertikal ke bawah dengan tenaga yang besar.
Eden:"HENTIKAN!!"
Filia:"heh.. terlalu lambat"
aku maju dengan cepat lalu melancarkan serangan ke arah perutnya yang terbuka lebar tanpa pertahanan.
BANGG!!!...
benturan keras terdengar dan Müll terlempar cukup jauh lalu menabrak boneka kayu dengan keras. darah di muntahkan dari mulutnya.
aku memujinya karena masih sadar setelah benturan itu. bahkan dia masih memegang pedang kayu di tangannya. perbedaannya adalah, saat ini wajahnya penuh ketakutan yang lebih daripada tadi.
aku mendekatinya lalu mengarahkan ujung pedang ke tenggorokannya seperti saat aku mengalahkan George di awal.
Filia:"dengan kemampuan lemah seperti ini kamu berani membanggakannya di depanku. aku tidak membutuhkan orang sepertimu, kamu bisa pergi dari sini. mulai sekarang, kamu bukan lagi kesatria dari keluarga Rosefield".
setelah mengucapkan itu, aku berbalik dan pergi, tapi setelah beberapa langkah, Müll berdiri dan melancarkan serangan ke arahku. kali ini aku merasakan niat membunuh yang kuat darinya, serangan ini benar-benar bertujuan untuk membunuhku.
aku segera berbalik dan mengayunkan pedang kayu yang ada di tangan kanan ku untuk menyambut serangan Müll. Müll tidak terlempar seperti sebelumnya, tapi pedang kayu yang dia pegang sudah patah menjadi dua. ini bukan seperti patah karena benturan keras, tapi ini patah seperti di potong menggunakan pedang yang sangat tajam. bekas potongan itu rapi dan bersih.
aku segera melihat Müll yang jatuh terduduk di tanah dengan ketakutan.
Filia:"bawa dia pergi dari sini"
tanpa banyak bicara, para kesatria yang tidak bertarung dengan ku langsung menyeretnya pergi dengan kasar.
huh...
aku menghela nafas panjang. benar-benar kejadian yang tidak terduga. aku melihat para kesatria yang sudah aku kalahkan tadi, mereka di bantu oleh kesatria lain untuk berdiri dan membungkuk ke arahku.
Filia:"berikan semua obat-obatan ini pada mereka yang terluka".
aku menyerahkan potion penyembuh berkualitas rendah kepada para kesatria yang terluka. meskipun itu tingkat rendah, itu sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan mereka.
mereka segera membungkuk lagi dan berterima kasih kepadaku. aku tidak mungkin mengabaikan mereka setelah menunjukkan tindakan yang kejam. kan?!. jika kamu hanya menunjukkan kekerasan dan tidak menunjukkan kelembutan di depan bawahanmu, mereka akan ketakutan terhadapmu dan akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan mereka suatu saat nanti. ini adalah definisi dari memberikan tongkat dan wortel.
Eden segera menghampiriku dan bertanya dengan prihatin.
Eden:"apa anda baik-baik saja nona. saya sangat menyesal karena terlambat bereaksi dan tidak bisa melindungi nona"
aku menghentikan Eden yang akan berlutut di hadapanku.
Filia:"ini bukan salahmu. aku akan membersihkan diri dulu. kalian bisa melanjutkan kegiatan selanjutnya".
aku segera pergi dan meninggalkan tempat itu. ini sepertinya sudah waktunya untuk sarapan. waktu sarapan di sini agak siang, karena beberapa putri bangsawan akan bangun terlambat. lagipula mereka anak bangsawan, jadi tidak perlu khawatir.
(akhir dari chapter ini).
tolong beritahu author jika ada kata-kata yang salah ketik. ok, see you next time;)