Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 160: Demonik Lord.



Yang membuatku lebih terkejut, Aether di tempat ini sangat padat, jauh lebih padat daripada tempat latihan khusus. Selain Aether yang padat, ada juga mana kejam yang sangat mengikis dan merusak.


Mana kejam ini berbeda dengan mana pada umumnya, mereka lebih kejam dan berdarah. Mana kejam seperti ini akan mencemari mana normal dan membuat mana normal berubah menjadi mana kejam. Makhluk hidup yang menyerap esensi mana seperti ini akan ter-demonisasi dan berubah menjadi iblis yang kesadarannya terdegradasi hingga akan menjadi makhluk yang haus darah dan hanya tahu cara membuat kerusakan.


Aku berjalan perlahan sambil memperhatikan sekitar. Ini benar-benar seperti kota mati yang telah sangat lama di tinggalkan. Banyak pohon-pohon besar yang tumbuh dan akarnya menghancurkan struktur kota. Bangunan-bangunan yang terbuat dari material kokoh telah sangat rusak oleh tanaman dan lumut liar yang tumbuh di atasnya.


Kesatria yang mengawalku, mereka berpecah menjadi dua baris yang memposisikan ku di tengah. Oke, mereka sangat menghalangi visiku, Tubuhku yang hanya setinggi 1,3 meter, bagaimana bisa di bandingkan dengan kakak-kakak perempuan yang tingginya hampir dua meter?!.


Yah setidaknya aku sangat bersyukur saat ini. Waktu pertama pindah ke tubuh ini, tingginya hanya sebanding dengan anak usia 6-7 tahun yang sangat pendek bagi anak usia sembilan tahun pada umumnya. Beruntung, setelah menyerap esensi Moon Phoenix Blood, struktur tubuhku telah di sempurnakan.


Meskipun visiku terhalang, tapi dengan kekuatan mentalku, aku dapat mengetahui kondisi sekitar dengan jelas. Kota ini benar-benar sangat luas yang dapat menampung ratusan ribu orang. Kota seluas ini benar-benar di tinggalkan, apakah ini berhubungan dengan mana yang kejam ini?.


Filia:"Semua menyebar!."


"Ya!."


Dengan sekali kedipan, para kesatria itu telah pergi ke arah yang berbeda. Aku tidak pergi terlalu jauh, aku hanya perlu menunggu informasi yang di kembalikan oleh para kesatria itu kepadaku sambil menunggu peneliti untuk tiba di tempat ini.


Tidak butuh waktu lama, para peneliti itu telah tiba di kota dengan aman. Seperti yang aku harapkan, di perjalanan, mereka bertemu dengan banyak monster yang telah terkontaminasi oleh mana kejam ini dan berubah menjadi demonik beast.


Hal ini sangat umum terjadi saat ada invasi Abyssal Demon. Aku sempat penasaran, kenapa kota yang ada di bawah tanah yang terbebas dari serangan beast di permukaan, harus membaut dinding yang Sekokoh ini untuk mengelilingi kota.


Sekarang aku tahu penyebabnya. Dinding yang di bangun untuk mengelilingi kota tidak di gunakan untuk menahan gelombang binatang buas, tapi di gunakan untuk melindungi kota dari invasi Abyssal Demon dan Demonik beast yang haus darah. Pantas saja di kota ini memiliki akumulasi mana kejam yang sangat padat.


Namun, meskipun mana kejam di tempat ini sangat padat, mereka tidak dapat mempengaruhi aether yang ada di udara. Bagaimanapun, aether dan mana merupakan dua tingkat yang berbeda.


Graooo....!


Suara raungan binatang yang sangat keras tiba-tiba datang dari salah satu sudut kota. Setelah raungan itu muncul, seperti domino, raungan lain juga mengikuti dan membuat seluruh kota dan hutan menjadi sangat berisik. Berbagai raungan binatang buas menggema di seluruh tempat.


"Yang Mulia, segerombolan Demonik Beast mulai berdatangan ke arah kita."


Seorang kesatria berlari dan segera melaporkan apa yang terjadi. Mendengar laporan itu, aku segera melebarkan jaringan kekuatan mental untuk mengetahui lingkungan dalam radius sepuluh kilometer persegi. Banyak sekali Demonik Beast yang berlari ke arah kami dari dalam dan luar kota. Tapi yang paling menarik perhatian adalah seekor Demonik Beast yang membuat panggilan itu untuk memanggil Demonik Beast yang lain.


Itu adalah seekor binatang mirip beruang dengan banyak Taji tulang putih di punggungnya, seperti seekor landak yang tingginya sekitar tujuh meter berwarna putih dengan aura ungu merah di sekitarnya.


Filia:"Bersiap, seekor Demonik Lord tipe berserker telah di temukan."


Demonik Lord, sebutan untuk Demonik Beast ataupun Abyssal Demon yang merupakan Tier empat. Dari semua tipe, selain evolver, tipe berserker adalah tipe yang paling merepotkan. Dengan kemampuan berserk yang dia miliki, Demonik Beast itu dapat meningkatkan seluruh statistiknya, dan yang lebih buruk, kita tidak akan tahu seberapa besar statistiknya itu akan meningkat sebelum binatang itu melepaskan skillnya. Jadi dengan begitu, akan sangat sulit untuk menebak seberapa kuat Demonik Beast itu, meskipun aku dapat melihat seluruh statistiknya.


Meskipun lebih banyak peneliti daripada kesatria, tapi tidak ada anggota Moon Palace yang tidak memiliki skill tempur. Bisa di katakan bahwa semua anggota Moon Palace adalah para spesialis tempur di balik job sampingan mereka. Jadi, begitu mereka mendengar perintahku, mereka langsung mengeksekusinya dan memasuki kondisi pertempuran.


Rubidea:"Hiaaa... Sudah lama aku ingin bergerak, akhirnya kesempatan itu tiba juga."


Seorang gadis dengan pedang besar dan rambut berwarna merah menyala berkata dengan penuh semangat sambil mengayunkan pedangnya.


Rubidea adalah adik ke empat dari lima bersaudara Southern Cross Sisters. Dia memiliki kepribadian yang sedikit memberontak dan gadis yang sangat bersemangat. Dia di gambarkan sebagai gadis berusia 16 tahun dengan rambut merah panjang yang agak ikal.


Filia:"Rubidea, pimpin yang lain untuk bertarung."


Rubidea:"Sesuai keinginan anda, Yang Mulia."


Dengan di pimpin oleh Rubidea, pasukan Segera membentuk sebuah lingkaran besar dan menunggu kedatangan Demonik Beast yang akan segera tiba. Aku menyadari bahwa di area perlindungan kota ini tidak di izinkan untuk terbang.


Filia:"Rubidea, jaga jarak dari pasukan utama dan bertarung lah dengan Demonik Lord itu."


Jika Rubidea bertarung dengan Demonik Lord di sekitar pasukan utama, dampak dari pertarungan antara Tier empat dan Tier lima akan mempengaruhi area yang luas dan dampak kerusakannya akan mempengaruhi pasukan ku sendiri sehingga kerugian pasukan ku akan bertambah.


Rubidea mengambil jarak yang jauh dari pasukan utama, dia pergi ke arah suara Demonik Lord itu berasal. Tentu saja aku harus mengikutinya. Lagi pula yang akan menjadi lawan kali ini adalah Demonik Lord tipe berserker yang tidak dapat di tebak. Jadi aku perlu segera bersiap untuk memberinya bantuan kapan saja saat di butuhkan.


Beberapa saat kemudian, raungan dari ribuan Demonik Beast itu datang dari segala arah. Mulai dari kota bagian dalam yang tersembunyi hingga sudut-sudut hutan, hampir di semua tempat terdapat banyak Demonik Beast yang memamerkan cakar dan taring mereka ke arah pasukanku.


Dalam sekejap, pasukanku sudah dalam pengepungan oleh Demonik Beast, bahkan gerbang besar dari kota ini masih penuh sesak dengan monster yang mencoba untuk merangsek masuk, seakan mereka sudah tidak sabar ingin segera melahap daging kami yang masih segar.


Seluruh tubuh dari Demonik Beast itu di selimuti oleh semacam aura merah ungu yang suram dengan mata merah menyala yang sangat mencolok meskipun di lingkungan yang terang.


Melihat bahwa ribuan Demonik Beast itu hanya terdiri dari Demonik Beast Tier zero hingga beberapa ekor Tier tiga, aku merasa lega dan bisa mempercayai pasukanku bahwa meskipun mereka kalah dalam jumlah, tapi mereka akan dapat mengalahkan Monster tanpa otak itu.


Setelah aku memastikan bahwa tidak ada yang cukup kuat untuk mengalahkan pasukanku, aku bisa bernafas lega dan langsung mempercepat langkahku untuk mengikuti Rubidea yang berlari dengan penuh semangat sambil tertawa.


Melihat kami berlari ke arah mereka, Demonik Beast yang berada di jalur kami berdua mengaum dengan tidak sabar dan segera bergegas ke arah kami dengan sangat ganas. Ada hampir seribu dari mereka yang menghadang jalan kami. Para Demonik Beast itu berlari ke arah kami seperti serigala yang lapar.


Rubidea segera memegang pedang besar yang di sampirkan di punggungnya dengan satu tangan. Pedang itu sedikit lebih tinggi dari tubuhnya sendiri dengan lebar satu jengkal. Tubuh pedang itu berwarna hitam pekat dengan banyak rune merah api yang berkedip seperti magma di atasnya.


Begitu tangan Rubidea menyentuh gagang pisau itu, rune di atasnya menjadi semakin cerah. Tanpa banyak kata-kata, Rubidea segera mengayunkan pedang berat itu secara horizontal dengan satu tangan menuju ke arah segerombolan monster lapar yang berlari ke arah kami.


«Bone Burning Slash»


Cahaya merah berbentuk bulan sabit melesat dengan cepat ke arah monster-monster itu. Tanpa ada waktu untuk bereaksi, seluruh monster itu segera di lewati oleh cahaya tebasan pedang dan terpotong dengan sangat rapi. Tapi bukan hanya itu yang paling menakutkan. Kurang dari seperempat detik setelah mereka di tebas, mayatnya langsung terurai menjadi abu tanpa sisa sedikitpun.


Cahaya pedang tidak segera berhenti, melainkan terus berlanjut ke bagian belakang barisan monster itu dan menabrak sebuah bangunan kuno yang terbuat dari batu. Seketika, bangunan itu segera di hancurkan dengan ledakan besar. Dan karena suhu yang sangat tinggi, serpihan dari batu dan pasir yang berterbangan segera di lebur dan menjadi hujan batu cair yang memberikan kerusakan area berkelanjutan pada monster di sekitarnya.


Monster level rendah mengalami berbagai luka bakar karena percikan batu cair, tapi percikan batu cair itu tidak dapat membuat kerusakan apapun pada monster level tinggi lainnya.


Saat pertarungan di area ini di mulai, pasukanku di belakang juga sudah mulai bertarung dengan ribuan monster yang ganas itu. Pakaian peneliti mereka telah lama berganti dengan senjata dan armor berbagai model dan warna.


Monster-monster itu padat memenuhi seluruh sudut kota bagian luar, tapi dengan Rubidea yang memimpin jalan, kami berdua berlari lurus membelah gelombang monster seperti Nabi Musa yang membelah lautan dengan tongkatnya.


Meskipun demikian, celah yang di buat Rubidea segera terisi kembali oleh monster-monster itu tanpa takut mati. Aku tidak perlu mengeluarkan skill hanya untuk melawan monster-monster tingkat rendah itu. Api dan petir yang mengelilingi tubuhku sudah cukup bagiku untuk merubah mereka yang mendekat menjadi abu terbang.


Semakin jauh kami berlari, monster yang kami hadapi juga semakin kuat. monster Tier dua dan tiga mulai muncul dan menghalangi jalan kami maju ke depan.


Rubidea:


«Domain:The Cursed Land of Ashes»


Lingkaran berdiameter satu kilometer segera terbentuk di sekitar Rubidea. Area yang awalnya di lapisi oleh bebatuan hitam padat penuh lumut, kini berubah menjadi pasir abu-abu yang sangat panas dengan aliran lava di berbagai tempat. Inilah domain yang dimiliki oleh Rubidea «The Cursed Land of Ashes».


The Cursed Land of Ashes adalah domain dimana dunia hanya berisi abu dan lava yang panas. Memiliki pengaruh lingkungan negatif dimana setiap pemain lawan yang memasuki domain ini akan menerima kerusakan pembakaran dari lingkungan. Juga, karena suhu lingkungan yang panas, maka stamina lawan akan terus berkurang lebih cepat daripada biasanya.


Selain itu, karena semuanya terdiri dari abu dan tidak ada tanah padat, pada dasarnya akan mempengaruhi pergerakan lawan terutama pergerakan yang membutuhkan momentum dari tumpuan tanah padat seperti berlari ataupun melompat.


Bagi diri sendiri, domain ini dapat meningkatkan atribut api dan bumi dari Rubidea dan melemahkan atribut milik lawan, terutama atribut kayu dan air.


«Sharing Authority»


Biasanya tidak mungkin bagi orang lain untuk memiliki otoritas terhadap domain orang lain. Tapi, dengan Rubidea yang membagikan Otoritasnya kepadaku, aku juga memiliki kontrol terhadap domain ini.


Aku merasa bahwa atribut api di dalam tubuhku menjadi lebih bergejolak dan di perkuat beberapa kali.


Rubidea:"Sha.... Datanglah dan jadilah abu di hadapanku."


Monster-monster itu langsung membanjiri bidang domain Rubidea seperti tsunami yang menerjang daratan. Namun begitu mereka menginjakkan kaki ke wilayah domain, pergerakan mereka melambat dan bahkan monster Tier dua di bawahnya langsung jatuh ke tanah karena pijakan yang tiba-tiba tidak stabil dan tekanan spiritual dari tingkat kehidupan Rubidea yang lebih tinggi. Tubuh monster itu berasap secara terus menerus, kulit monster-monster itu banyak mengelupas dan terbakar melepuh.


Namun, sebelum monster tingkat rendah itu bisa berjuang untuk berdiri ataupun berteriak, mereka telah mati karena terinjak-injak oleh monster lain yang berlari ke dalam domain dengan terburu-buru. Sebagian besar kematian tidak di sebabkan oleh domain, tapi sebagian kematian dari monster itu karena mereka terjatuh dan terinjak-injak oleh monster yang lain.


Meskipun demikian, masih sangat banyak monster yang terus berlari ke arah kami. Tanpa menunggu mereka menjangkau kami, Rubidea telah berlari dengan pedang besarnya dan memotong monster-monster itu seperti memotong rumput liar.


Darah ungu kemerahan yang busuk segera membasahi abu di bawahnya dan membuat abu menjadi lumpur berdarah. Namun karena lingkungan yang sangat panas, darah langsung di uapkan menjadi kabut dan menghilang tanpa jejak.


Tidak peduli dari arah mana monster itu menyerang, Rubidea tetap bisa melihatnya seakan dia memiliki mata di seluruh tubuhnya.


Inilah salah satu kegunaan domain yang lain, yaitu persepsi. Tidak peduli seberapa lemah ataupun kecilnya hal itu, selama memasuki wilayah domain, maka pemilik domain itu akan dapat merasakannya. Ini mirip seperti kulit manusia. Meskipun manusia tidak bisa melihat punggung mereka, selama bahkan seekor semut merangkak di kulit punggung mereka, pasti manusia itu akan merasakannya.


Bukan hanya Rubidea yang sibuk melawan monster. Bahkan di pihakku juga sangat banyak monster yang maju tanpa pikir panjang. Karena kebanyakan dari mereka adalah monster Tier dua dan di bawahnya, jadi aku juga tidak perlu terlalu berjuang keras. Kebanyakan monster Tier tiga menargetkan Rubidea yang lebih kuat dan berbahaya dariku.


Entah kenapa aku merasa sedikit di remehkan oleh monster tak berotak ini.


Sebuah pedang perak ramping muncul di tanganku. Pedang ini mengeluarkan cahaya putih yang sangat lembut seperti cahaya bulan.


«Epic Tier Weapon: Wuye Yueliang»


«Teknik Pedang Angin: Teknik 1: Angin Hutan Bambu»


Aku langsung berlari ke arah kumpulan monster itu dan mulai menebas. Tidak peduli seberapa banyak dan cepat monster-monster itu, mereka tidak dapat menyentuhku sama sekali. Tebasan demi tebasan, sayatan demi sayatan, para monster itu mulai terluka dan berdarah. Setiap gerakan pedang sangat halus dan lembut. Tidak peduli seberapa banyak monster yang berkumpul, pedang itu dapat melewati setiap celah dan membuat luka pada tubuh mereka, seakan hembusan angin melewati hutan bambu bersama dengan suara siulan lembut dari setiap celahnya.


Mungkin Luka-luka itu tidak langsung membunuh monster tingkat tinggi, namun dengan luka yang semakin menumpuk dan efek bleeding dari pedang ini sudah cukup untuk membunuh musuh secara perlahan dan menyakitkan.


Lama kelamaan, semakin banyak monster yang berjatuhan di bawah kakiku dengan banyak luka sayatan di tubuh mereka. Demonik Beast memiliki pemulihan yang sangat kuat, namun pemulihan mereka berasal dari menyerap mana kejam di udara.


Efek bleeding sendiri dapat terus mengurangi hp lawan secara terus menerus dan efeknya akan semakin kuat dengan semakin banyak sayatan yang di berikan. Selain itu, cahaya bulan suci di pedang ini merupakan pembunuh terbaik bagi Demonik Beast karena sayatan dari pedang cahaya bulan ini dapat melemahkan mana kejam di tubuh monster, dengan hal itu, maka efek regenerasi mereka juga akan di perlambat. Tentu saja efek dari pedang itu terbatas, namun setidaknya ini akan membunuh mereka dengan lebih mudah.


Melihat banyak monster yang semakin banyak tumbang, tiba-tiba tiga monster Tier tiga muncul dan langsung menyerangku dari ketiga arah. Ini bukan kecerdasan, melainkan hanya insting binatang buas mereka yang berusaha untuk menghindari kerugian sehingga mereka akan secara intuitif menyerang lawan dari titik terlemah mereka.


«Teknik Pedang Angin: Teknik 4: Daun Gugur»


Teknik ini merupakan teknik gerak tubuh yang akan memaksimalkan kelincahan dan memungkinkan pengguna untuk menghindari banyak serangan seperti daun jatuh yang berayun bersama angin dan sulit untuk di pukul.


«Teknik Pedang Angin: Teknik 2:Angin Ribut»


Dengan sekali tebasan, angin kuat bersama dengan bilah pedang yang bercampur di dalamnya langsung meniup monster-monster itu dan menyayat tubuh mereka.


«Racial Magic: Eternal Flame»


«Teknik Pedang Angin: Teknik 3: Tornado»


Api putih perak dengan badai petir emas segera menyelimuti tubuh dan pedangku. Aku mengayunkan pedangku membentuk lingkaran 360⁰ penuh, membentuk tornado yang berputar.


Tornado itu berputar dengan sangat cepat, di dalam tornado itu juga terdapat banyak bilah angin yang siap untuk mencabik-cabik musuh yang terperangkap di dalamnya dan merubah mereka menjadi daging cincang. Tornado itu juga membawa badai api putih perak dan semakin meluas dengan aku sebagai pusatnya.


Semua musuh yang ada di sekitarku tersedot sesuai efek bernoulli dan langsung tertelan oleh tornado api setinggi puluhan meter itu. Baik monster Tier tiga dan di bawahnya tidak ada waktu untuk mengeluarkan skill ataupun sihir mereka sebelum tornado menelan mereka. Apalagi dengan tidak adanya tanah padat di dalam domain ini, jadi monster-monster itu tidak dapat menemukan cengkraman dari hisapan tornado.


Graooo...


Roarr...


...


Berbagai raungan monster segera terdengar, namun di biaskan oleh suara api dan petir yang menggelegar. Seharusnya hanya dengan teknik pedang itu tidak akan dapat membunuh mereka, namun di tambah dengan Racial Magic, monster-monster itu akan terbakar menjadi abu terbang.


Saat tornado berhenti secara bertahap, banyak abu beterbangan dan beberapa potong tulang monster berwarna perunggu yang jatuh ke abu. Yang dapat bertahan dari serangan itu adalah material yang berharga dari monster, jadi ini akan di kumpulkan. Dengan lambaian tangan, semua item itu langsung masuk ke dalam storage milikku.


Aku memperhatikan sekitar dan melihat Rubidea yang mengamuk dan membakar semua monster yang menyerangnya menjadi abu sambil tertawa bahagia. Itulah kenapa aku tidak mengizinkannya untuk pergi ke Dragonis Kingdom dan memadamkan pemberontakan di ibu kota. Jika aku melepaskannya ke tempat itu, seluruh ibu kota akan berubah menjadi abu.


Roarrr....!!


Teriakan keras bergema di Medan perang. Saat aku menoleh ke asal suara, tiba-tiba sebuah cakar besar muncul di depan mataku. Dalam waktu yang mendesak ini, aku langsung menggunakan kekuatan jiwaku untuk melindungi tubuhku dari tamparan besar itu.


Bang...!


Tamparan besar langsung mengenai tubuhku. Aku hanya merasa bahwa aku baru saja di tabrak oleh kendaraan berkecepatan tinggi yang langsung melemparkan tubuhku.


Kepalaku terasa berputar. Aku terlempar dengan kecepatan tinggi seperti bola meriam dan menghantam bangunan berjarak beberapa kilometer dari tempatku semula. Seluruh bangunan batu itu langsung meledak dan runtuh bersama dengan bangunan di sekitarnya.


Uhuk...


Seteguk darah merah keemasan keluar dari mulutku dan jatuh ke tanah. Karena efek dari benturan yang sangat keras, wilayah sekitarku membentuk kawah yang cukup luas. Jika bukan karena pakaianku merupakan armor tingkat tinggi, aku mungkin akan di hancurkan menjadi daging cincang.


Dari bagian luar domain, aku tidak bisa melihat perbedaannya dengan tempat lain, yang bisa aku lihat hanyalah lapisan tipis transparan yang di dalamnya terdapat gerombolan monster dan Rubidea yang masih bertarung.


Melihat jauh ke tempatku berdiri, aku melihat seekor beruang besar dengan dua kepala setinggi tujuh meter. Seluruh tubuhnya di lapisi oleh eksoskeleton tulang putih dengan banyak Taji tulang di punggungnya. Cakarnya seputih mutiara dan sangat panjang serta tajam seperti belati.


Seperti Demonik Beast pada umumnya, seluruh tubuhnya di kelilingi oleh aura ungu merah dari mana kejam yang menumpuk.


Sial, aku lengah. Aku benar-benar tidak menyadari kedatangan monster itu bahkan di dalam domain. Ini adalah kejadian yang sangat, sangat langka dan hampir mustahil untuk terjadi.


«Grumpy Bone Bear» (The Silent Ripper)


Unique Skill: Absolute Silence.


Sialan, itu adalah monster dengan title. Ini lebih buruk daripada yang aku duga. Pantas saja dia mampu menghindari persepsi dari domain, itu adalah efek dari skill uniknya yang mampu memblokir segala persepsi dan membuatnya mampu bergerak tanpa di sadari oleh mangsanya dalam waktu singkat. Dengan kata lain, itu adalah skill unik yang sangat cocok untuk serangan menyelinap.


Aku segera berlari dan melompati monster yang ada di sekitarku. Aku melompat ke arah gedung tinggi beberapa kilometer dari lokasi Rubidea dan monster itu saling berhadapan.


Rubidea:"Sungguh lancang. Berani sekali monster sepertimu melukai Yang Mulia. Aku akan membunuhmu."


Api merah cerah menyala di sekitar Rubidea. Suhu semakin meningkat dan api merah berubah menjadi biru dan selanjutnya berubah menjadi biru muda yang hampir memutih. Binatang iblis di sekitarnya langsung berubah menjadi abu dan tenggelam ke dalam lava yang terbentuk oleh tanah yang meleleh.


Rubidea langsung melesat dan berlari ke arah monster itu sambil mengayunkan pedang besarnya menggunakan kedua tangan. Tak mau kalah, monster itu juga mengaum ke arah Rubidea dan menebaskan cakarnya yang seputih mutiara dalam lautan.


Cahaya api kebiruan dan cahaya putih keruh berbenturan, menciptakan gelombang udara yang sangat kuat yang membuat kehancuran di daerah sekitarnya. Bahkan bangunan dan semua monster dalam radius satu kilometer tertiup oleh gelombang kejut itu.


Beruang dengan title itu benar-benar kuat, tapi bagaimana bisa Tier empat melawan Tier lima?!. Seperti yang aku duga, Monster itu segera terlempar ke belakang dan menghancurkan segala yang di laluinya. Bagian depan armor tulang dan cakar monster itu terbakar menjadi kokas hitam dengan bau tidak sedap.


Tapi monster Tier empat adalah Tier empat. Luka semacam itu tidak dapat menyebabkan luka fatal pada tubuhnya dan langsung dapat di sembuhkan dengan waktu singkat.


«Teknik Pedang Besar: Tebasan Seribu Pembakaran»


Tanpa menunggu monster itu untuk berdiri di antara reruntuhan, Rubidea langsung melesat ke arahnya dan menebaskan pedang yang di lapisi oleh api biru muda.


Bang....


Graoo...


Tebasan itu menyebabkan sebuah ledakan dan langsung melempar monster itu ke kejauhan. Tidak berhenti sampai di sana, Rubidea terus melancarkan serangan bertubi.


Satu tebasan...


Dua tebasan...


Tiga tebasan...


...


Tebasan yang tidak terhitung terus mengenai monster itu di udara, menyebabkan banyak suara ledakan dan mengombang ambingkan monster itu seperti bola voli. Armor tulang dan taji-tajinya hancur serta terbakar, membuat monster itu terlihat sangat menyedihkan.


Rubidea:"Seribu...!."


Bang...Ledakan...!!


Rubidea menebas monster itu saat masih di ketinggian dengan serangan yang sangat kuat, membuat monster itu terlempar ke tanah seperti meteor, menciptakan sebuah kawah besar yang melelehkan tanah di sekitarnya karena suhu yang sangat panas.


Keadaan monster itu sangat buruk. Seluruh armornya telah retak dan kulit serta dagingnya terbakar. Yang lebih parah, lengan kanan dan kepala kanannya terbakar memperlihatkan daging yang berubah menjadi arang dengan darah mendidih yang menggelegak, menyebarkan aroma daging hangus ke udara.


Mengaum.....!!!.


Seluruh mana kejam di udara langsung berkumpul ke arah monster itu seperti banjir. Selubung ungu kemerahan menyelimuti tubuh monster itu dan menyembuhkan luka-lukanya.


Selama satu kepala masih tersisa, monster itu dapat menumbuhkan kepala lainnya yang telah rusak. Seluruh tubuhnya yang terluka parah sembuh dengan sangat cepat. Bahkan armornya yang telah hancur berkeping-keping telah tumbuh kembali, tapi kali ini armor itu berbeda dari yang sebelumnya. Armornya berubah menjadi warna perunggu dengan Taji tulang yang berubah menyerupai tombak logam perunggu yang berkilau.


Graoooo....!!


Monster itu meraung dan lingkaran sihir ungu merah terbentuk di sekitarnya. Dari lingkaran sihir itu muncul banyak sekali tombak perunggu sepanjang empat meter. Tombak-tombak itu terbang ke arah Rubidea dengan kecepatan sonik.


Suara tombak yang menembus udara dengan kecepatan sonik membuat telinga menjadi berdengung. Untuk menghadapi serangan itu, Rubidea mengayunkan pedang besarnya dan menangkis tombak yang terbang ke arahnya.


Dentang... Dentang...!


Suara logam yang berbenturan menggema di udara ke Sagala arah. Ada ribuan tombak dengan kecepatan yang sangat luar biasa sehingga membuat Rubidea terdorong ke arah belakang.


Beberapa menit kemudian, serangan itu berhenti. Tapi, sebelum Rubidea mengambil nafas, monster itu melompat ke arahnya dan mendaratkan pukulan telak ke arah Rubidea sehingga membuatnya terlempar jauh ke belakang, menghancurkan segala yang dia lalui.


Mengaum....!


Monster itu meraung ke arah Rubidea yang terlempar, seakan mengejek Rubidea yang dia kalahkan.


Namun, setelah debu mengendap, sosok Rubidea berdiri di antara reruntuhan dengan tenang dan menyeka jejak debu di armornya.


Rubidea:"Serangan putus asa yang sia-sia."


Api biru muda menyala jauh lebih kuat di sekitar tubuhnya, memakan area beberapa meter. Namun tidak seperti sebelumnya, api itu mulai menyusut dan membentuk selubung pelindung di sekitar tubuhnya, seakan tubuhnya telah di lapisi oleh cahaya biru muda tanpa jejak api sedikitpun.


Itu bukan karena apinya menghilang, melainkan apinya memadat ke arah dalam dan suhunya terus meningkat.


Api biru muda itu berubah menjadi putih dan beralih lagi menjadi warna abu-abu suram dengan suhu yang mengerikan.


Rubidea:"Aku akui bahwa kamu cukup kuat untuk monster Tier empat. Mungkin kamu dapat hidup ratusan ribu tahun lagi, tapi sayang, kamu membuat kesalahan yang tidak dapat di ubah, dengan lancang kepada Yang Mulia."


Meskipun Rubidea tahu bahwa kata-katanya tidak akan dimengerti oleh monster itu, tapi dia terus berbicara kepada monster itu seperti hakim yang memberikan keputusan terakhir.


«Teknik Pedang Api: Infernus Ignis»


Rubidea melesat sangat cepat ke arah monster itu, dia melesat hingga menembus penghalang kecepatan suara dan membawa ekor putih abu-abu seperti komet. Dalam sekejap mata, jarak beberapa kilometer langsung tertutup.


Rubidea:"Matilah..!"


Dia mengayunkan pedangnya dengan keras ke arah monster itu tanpa menahan kekuatannya.


Bang... Ledakan...!


Bersamaan dengan tebasan itu yang menyentuh monster itu, sebuah cahaya putih yang menyilaukan langsung menerangi area yang sangat luas dengan Rubidea sebagai pusatnya. Cahaya itu langsung padam seakan terhisap ke pusat, membuat dunia menjadi hening.


Namun, keheningan itu hanya berlangsung kurang dari sepermili detik dan di lanjutkan dengan sebuah ledakan besar seperti bom hidrogen. Gelombang kejut dan gelombang panas menyapu ke segala arah dengan ganas, membakar dan menguapkan monster yang dekat dengan area itu.


Karena cahaya itu terlalu cerah, aku menutup mataku dan menghalangi mataku dengan tangan. Aku bisa merasakan gelombang kejut dan udara panas yang menerpaku, namun suhu semacam ini masih dapat di tahan dengan pertahanan ku.


Saat aku membuka mata dan melihat dampak dari serangan itu, aku melihat bahwa area sekitar lima kilometer telah tersapu bersih dan berubah menjadi magma yang meleleh dengan suhu tinggi. Rubidea berdiri di antara lava panas itu dengan rambut merahnya yang masih berkibar. Monster itu sudah menghilang dan menyisakan beberapa serpihan berwarna perunggu gelap yang bercahaya redup.


Mati... Benar-benar mati.


Rubidea menghela nafas dan mengambil jarahan yang di tinggalkan oleh monster itu lalu datang ke arahku dengan cepat sambil menyerahkan barang rampasan.


Rubidea:"Yang Mulia."


Meskipun Rubidea sering bersikap seperti anak-anak yang bersemangat dan seenaknya sendiri, tapi dalam keadaan tertentu dia juga akan bersikap serius selayaknya seorang kesatria.


Dia berlutut ke arahku sambil menyerahkan kepingan tulang monster yang ada di tangannya.


Filia:"Kerja bagus Rubidea, kesatria ku."


Rubidea:"Iya, Yang Mulia."


Meskipun itu adalah pujian yang sederhana, tapi wajah Rubidea menunjukkan kebahagiaan yang sangat besar dengan mata merah rubinya yang berkilau.


Setelah menyuruh Rubidea berdiri, aku melihat ke sekitar reruntuhan. Para monster yang selamat, mereka telah kehilangan pemimpinnya sehingga insting rasa takut mulai menguasai mereka. Para monster itu mulai berlari dengan kacau ke arah hutan dan menghilang di antara bayangan pohon.


Pertarungan berakhir...


(Akhir dari chapter ini)


Karena lama tidak update, jadi aku akan memberikan lebih banyak kata.


Oh, aku juga tidak menunjukkan banyak senjata kuat di chapter ini supaya kelangkaan dari senjata itu terlihat. Aku juga ingin membuat ulang urutan senjata supaya lebih mudah dimengerti.


Urutan senjata dari yang terendah:


Sampah.


Biasa.


Langka.


Super Langka.


Epic.


Legendary.


Divine.


Item dan material memiliki tingkat yang sama, jadi daftar di atas juga sama untuk material.