
Dalam Alterion, jika sebuah kekuatan menemukan Treasure Land, mereka akan naik dengan cepat karena mereka mendapatkan kunci untuk membuat petarung tingkat tinggi. Mereka akan sangat melindungi Treasure Land dengan ketat untuk mencegah kekuatan lain masuk dan mengambil keuntungan.
Namun melindungi Treasure Land bukanlah hal yang mudah. Daya tarik dari Treasure Land sangat besar dan membuat berbagai kekuatan kuat lain di Alterion untuk melakukan segala cara supaya mereka bisa menguasai atau mengambil keuntungan terbesar dari tempat itu.
Bisa di katakan bahwa Treasure Land adalah emas berduri yang meskipun terlihat indah, mereka dapat melukai seseorang. Setiap di temukan, mereka akan menjadi arena pertumpahan darah dari berbagai kekuatan yang berusaha menguasainya.
Treasure Land sendiri terdiri dari beberapa tingkat, yakni: Tingkat satu hingga lima. Setidaknya aku belum pernah mendengar tingkat ke enam.
Sesuai tingkat, Treasure Land tingkat satu akan menghasilkan kristal Tier satu dan dapat membantu pemain menerobos ke tier satu. Tier dua akan memiliki kristal Tier satu dan dua, begitu juga seterusnya.
Namun, tidak mudah untuk mendapatkan kristal-kristal itu tanpa bantuan dari kekuatan yang kuat. Dalam Alterion, konsep Tier adalah batasan yang sangat besar bagi pemain yang hampir tidak bisa di lalui. Yang ingin mendapatkan kristal Tier satu hanyalah zero, dan para Zero itu perlu mengalahkan monster Tier satu di Treasure Land untuk mengambil kristalnya, terbayang betapa sulitnya hal itu.
Untuk itu, biasanya mereka meminta bantuan dari kekuatan yang lebih kuat atau ikut bergabung dengan guild besar supaya mereka bisa mendapatkan kristal. Hanya dengan seperti itu mereka mampu mendapatkan kristal Warisan.
Selain itu, Kristal juga tidak bisa di dapatkan dari semua monster. Kemungkinan monster yang memiliki kristal Warisan hanya 1:1.000.000 yang sangat langka. Mungkin aku mendapatkannya dalam satu pembunuhan karena keberuntunganku yang baik.
Tentu saja ada cara lain untuk mendapatkan warisan untuk naik Tier selain membunuh monster di Treasure Land, yakni mereka perlu untuk membunuh monster dengan darah kuno yang kental seperti: Phoenix, Naga, Piton, dan monster lain yang memiliki darah kuno kemudian mengintegrasikan esensi darah binatang buas itu ke tubuhnya sendiri.
Meskipun kemungkinan mendapatkan warisan dari cara ini jauh lebih besar dan hampir pasti mendapatkan warisan, tapi itu akan jauh lebih berbahaya dan lebih sulit.
Makhluk kuno seperti itu jumlahnya sangat sedikit dan sangat bersatu, sehingga jika ada satu anggota yang terbunuh, maka keluarga yang lain akan mengejar si pembunuh. Selain itu, ras kuno seperti itu sangat kuat dan sulit untuk di bunuh.
Aku?!. Tentu saja mereka bisa membunuhku, tapi apakah bisa...
Terlebih lagi, pemain yang mengintegrasikan darah binatang kuno hanya bisa menjatuhkan warisan apabila mereka sudah berada di Tier empat atau lebih.
Ini karena kemanusiaan mereka akan tergantikan oleh binatang buas yang sesungguhnya saat mereka mencapai Tier empat. Sama seperti Phoenix dan naga yang saat lahir mereka berada di Tier empat. Jadi, darah binatang buas akan sepenuhnya aktif saat pemain sampai di Tier empat.
Setelah mengambil semua sisa rampasan termasuk mayat monster, aku kembali berkeliling hutan. Kali ini aku mengubah pengaturan map untuk menunjukkan semua binatang yang ada di hutan ini. Setiap binatang di hutan ini memiliki warna yang berbeda tergantung kekuatannya.
Putih menunjukkan zero, kuning Tier satu, biru Tier dua, ungu Tier tiga, dan merah di atas Tier tiga. Jika aku memfokuskan konsentrasiku ke salah satu titik, maka penampilan, data, dan perkiraan kekuatan monster itu akan muncul dalam benakku.
Setelah mengganti pengaturan map, aku tahu bahwa tempat ini adalah tanah warisan tingkat dua karena monster terkuat yang aku temui dari awal hingga saat ini hanya berada di Tier dua. Itupun mereka tinggal di tengah hutan.
Aku terus berjalan menyusuri hutan. Seperti yang aku duga, tempat ini memiliki banyak sekali tanaman obat yang berguna. Memang bukan semuanya tingkat tinggi, tapi semuanya memiliki fungsi tertentu yang bisa aku manfaatkan. Aku sudah memanen lebih dari seratus jenis tanaman obat di tempat ini.
Tidak akan cukup bagiku untuk mencari tanaman obat di seluruh tempat dalam waktu singkat. Jadi, aku meninggalkan hutan dan langsung menuju ke gunung berapi tanpa mencari lagi. Aku hanya mengirim kordinat tempat ini ke Moon Palace dan menghubungkan tempat ini dengan gerbang ruang Moon Palace supaya aku bisa datang dan pergi sesuka hati.
Dan karena tempat ini memiliki tanah yang bagus untuk budidaya obat, aku juga ingin membuat tempat ini menjadi perkebunan obat untukku. Untuk kristal Warisan, penggunaannya terlalu terbatas saat ini. Mungkin jika ada teman atau keluargaku yang ingin naik ke tier dua, aku akan membantu mereka mencari kristal Warisan di tempat ini.
Jalan ke gunung berapi itu cukup jauh. Bahkan saat aku terbang dengan Mach tiga, aku perlu memakan waktu selama satu jam untuk sampai. Aku tidak menggunakan kecepatan yang lebih cepat karena aku ingin melihat keadaan geografis di tempat ini.
Aku berhenti di udara dan menatap gunung besar yang berdiri dengan gagah. Bagian puncak gunung menembus awan di langit dan terus memuntahkan asap debu. Ini adalah gunung terbesar yang pernah aku lihat. Tidak ada gunung di bumi yang bisa menyamai ukurannya.
Seluruh gunung berwarna hitam dengan beberapa tanaman tangguh yang tumbuh. Aku terus terbang ke puncak gunung dan melihat kawah di puncaknya. Magma merah panas menggelegak di dasarnya.
Meskipun suhu di kawah gunung berapi ini sangat panas, tapi itu bukan tanpa kehidupan. Ada banyak jenis tanaman yang tumbuh di dinding kawah. Mereka adalah jenis tanaman obat yang memerlukan suhu tinggi untuk tumbuh dan biasanya tanaman itu sangat berharga.
Tapi aku mengabaikan semua itu dan memfokuskan mataku pada lautan magma di tengah kawah.
Kawah ini sangat luas dan suhunya sangat tinggi. Di tengah kawah, terdapat sebuah pulau yang di kelilingi oleh lautan magma yang mendidih dengan suhu tinggi. Sebuah api merah hitam menyala dengan sombong di tengah pulau. Di bawahnya ada kristal merah yang menopangnya. Aku yakin bahwa api itu adalah inti nyala yang aku cari.
Dari jarak yang sedemikian jauh, aku bisa merasakan suhu mengerikan dari inti nyala itu yang bahkan membuatku merasa merinding. Nyala dengan suhu seperti itu bisa membakar Tier lima menjadi abu jika mereka menyentuhnya.
Tapi karena aku Phoenix, aku tidak terlalu takut dengan hal itu. Aku terbang mendekati nyala itu. Semakin dekat, aura nyala semakin padat dan tubuhku mulai di selimuti oleh api merah hitam.
Kali ini aku tidak menggunakan api Phoenix untuk melindungi tubuhku, tapi aku lebih memilih untuk menyerap aura api yang menghampiriku dan menggunakannya untuk memperkuat nyala Phoenix ku sendiri. Dengan begitu, energi yang aku gunakan hampir tidak berkurang. Tapi jangan mengira bahwa ini adalah hal yang mudah. Ini seperti menuangkan air mendidih ke tubuh hingga melepuh. Jika bukan karena resistensi panasku yang tinggi, mungkin kulitku akan terbakar meskipun sudah di lindungi oleh armor.
Setiap pori-pori kulitku seperti terbakar oleh aliran panas yang meresap ke seluruh tubuhku hingga ke pembuluh darah, membuat seluruh kulitku menjadi memerah seperti tomat.
Sayap putih perak di belakangku juga mulai ternoda oleh warna merah hitam dan terlihat sangat jahat. Saat aku ingin mendarat di pulau itu, sebuah tekanan besar menghantam ku hingga aku terjatuh dari ketinggian. Aku mendarat di batu yang keras dan panas seperti wajan penggorengan.
Ini, apakah ini sebuah larangan?!. Aturan larang untuk terbang seperti ini sangat umum di tempat khusus. Sebagai contoh, tidak ada seorangpun pengunjung yang bisa terbang di Moon Palace. Jika ada yang melanggar, mereka akan terhantam oleh tekanan besar dan memaksa mereka jatuh.
Aku tidak menyangka bahwa ada larangan seperti itu di tempat ini. Apakah larangan ini terjadi secara alami atau buatan, aku tidak tahu. Yang jelas, saat ini aku hanya bisa berjalan kaki ke tempat inti nyala itu berada.
Saat aku akan berjalan, tiba-tiba dari dasar lautan magma melompat seekor makhluk yang terlihat seperti kadal dengan sisik merah yang kasar.
Ekor di belakangku berayun dan menusuk tenggorokan monster itu. Itu hanya monster Tier dua, jadi mudah bagiku untuk membunuhnya.
Semakin dekat ke arah inti nyala, suhu yang di terima tubuhku juga semakin tinggi. Beberapa bagian kulitku sudah mulai melepuh dan terkelupas.
Rasa panas dan perih di kulit benar-benar sangat mengerikan. Aku lebih kagum pada kristal yang menyangga api itu. Dengan suhu yang setinggi itu kristal penyangga itu masih kokoh tanpa jejak terbakar sedikitpun.
Jarak antara aku dan inti nyala hanya terpisah sekitar dua ratus meter. Sebuah teratai emas merah muncul di atas kepalaku. Saat teratai itu perlahan terbuka, sosok bayangan transparan yang duduk di atas teratai itu juga membuka matanya. Pupil mata emas merah itu menatap inti nyala dengan seksama dan nampak serius.
Tekanan pada tubuhku langsung berkurang banyak.
Inilah saatnya...
Bayangan Moon Phoenix dengan bulu putih bersih dan bercorak perak emas yang sangat cantik muncul di belakangku, tumpang tindih dengan teratai emas. Bayangan Phoenix itu sangat besar dengan bentang kedua sayap lebih dari dua ratus meter dan panjang ekor lebih dari seratus meter.
Seluruh tubuh burung Phoenix di kelilingi oleh nyala api berwarna putih perak dengan kilatan petir emas di sekitarnya.
Menciaakkk...!
Bayangan burung Phoenix menciak ke langit dan menggemakan suara yang keras. Mulutnya terbuka untuk melahap nyala api merah hitam.
Bagaimana bisa sebuah nyala yang sangat sombong bisa menyerah semudah itu untuk di telan?!. Burung Phoenix perak langsung terbakar dengan api merah hitam dari kepala ke seluruh tubuh.
Burung Phoenix itu menjerit dengan kesakitan. Rasa sakit itu juga di transmisikan ke tubuhku, jadi aku juga ikut merasakan sakitnya terbakar.
Rambut adalah bagian tubuh yang paling mudah terbakar. Saat ini, kepalaku mungkin sudah botak tanpa rambut. Tapi tidak ada waktu untuk memperhatikan hal sepele seperti itu. Rasa sakit di tubuhku seperti merobek hati dan bahkan pikiranku menjadi sangat kacau balau.
Phoenix besar itu menjadi tenang dan langsung menelan api merah hitam. Bagian dalam tubuh seakan di bakar oleh lava yang sangat panas dan menyakitkan.
Filia:"Inilah saatnya... Ayo.. Tier empat!"
Sedikit demi sedikit bagian kulitku mulai terbakar dan terkelupas. Daging dan darah mendesis karena suhu panas. Aroma daging panggang memenuhi seluruh kawah, mengalahkan aroma sulfur yang kuat.
Tier empat berbeda dengan Tier sebelumnya. Tier empat adalah lompatan murni dari kekuatan. Saat Tier empat, pemain tidak hanya harus mempelajari skill warisan, tapi juga harus membentuk Mana Body.
Menguras seluruh mana dalam tubuh dan merubah seluruh mana dalam tubuh menjadi Eter. Eter adalah penyusun mana yang paling dasar.
Dengan menyerap Eter dan merubah seluruh sel hidup dalam tubuh menjadi Eter, maka tubuh manusia itu akan sepenuhnya tergantikan oleh mana. Semakin banyak sel hidup yang di gantikan oleh Eter, maka akan semakin murni juga tubuh mana yang akan terbentuk.
Namun, biasanya manusia paling banyak hanya bisa menggantikan 60% sel hidup menjadi Eter. Dan akan menjadi Epic Mana Body. Jika mereka bisa lebih dari enam puluh persen, maka mereka akan berubah menjadi Legendary Mana Body.
Untukku itu berbeda. Phoenix mati menjadi abu dan dapat bangkit kembali dari abunya. Aku tinggal menghancurkan seluruh sel hidup Avatar dan menggantinya dengan Eter.
Asalkan jiwaku dalam teratai jiwa masih utuh, pembentukan kembali Avatar bukanlah masalah. Itulah kenapa aku tidak pernah takut untuk menghancurkan Avatar.
Setiap inci tubuhku mulai terbakar. Darah yang akan meluap langsung mendidih dan menguap menjadi ketiadaan. Semakin lama, rasa sakit di tubuhku mulai berkurang karena syarafnya sudah mulai hangus terbakar.
Aku bisa melihat seluruh tubuhku yang sangat mengerikan. Setelah daging terbakar, organ dalam terlihat dan mulai berantakan. Sesaat kemudian, organ dalam yang rapuh itu juga mulai terbakar.
Suara mendesis dan terbakar dari darah dan daging itu benar-benar membuatku merinding. Ini adalah pertama kalinya aku melihat pemandangan yang begitu kejam di tubuhku sendiri. Dalam Alterion, saat Avatar di hancurkan untuk membentuk Mana Body, aku hanya melihat bahwa tubuh Avatar menjadi partikel cahaya berwarna-warni yang indah. Tapi ini...
Aku menguatkan hatiku dan terus menonton. Saat ini rasa sakit yang merobek jiwa itu sudah menghilang.
Saat seluruh tubuh telah terbakar menjadi abu, hanya sepuluh tetes darah emas merah dengan garis perak yang masih mengambang di tumpukan abu.
Darah itu mulai menyatu menjadi satu tetes yang lebih besar dan mulai mendidih seperti air di panci panas. Rasa sakit yang telah mereda langsung meledak dalam jiwaku. Sakit ini hampir sepuluh kali dari sakit sebelumnya. Tahan, aku harus bertahan... Jika sampai kesadaranku jatuh dalam tidur saat ini, maka mungkin tubuhku akan gagal terbentuk.
Darah yang mengambang itu mulai menyatukan ketiga warna di atasnya dan merubah tetesan darah itu menjadi merah terang dengan cahaya emas dan perak yang muncul secara bergantian. Terlihat aneh tapi juga sangat indah.
Darah yang mendidih itu mulai menjadi tenang dan mengambang diam di udara. Eter di udara di serap oleh tetesan darah dengan gila-gilaan. Seperti benih yang di sirami dan mulai bertunas, tetesan darah itu mulai menyebar dan bercabang-cabang seperti akar yang sangat rumit. Tidak, itu bukan akar, tapi itu adalah pembuluh darah.
Pembuluh darah mulai terbentuk dan menjadi semakin rumit dan lebih rumit. Setelah pembuluh darah, tulang daging dan organ mulai kembali terbentuk. Rasa sakit yang hampir menghilang kembali lagi secara perlahan karena syarafnya juga mulai terbentuk ulang.
Sakit itu sangat menyakitkan dan semakin menghilang seiring berjalannya waktu. Kulit yang putih dan halus seperti porselen mulai menyelimuti daging yang merah itu. Rambut yang botak juga mulai tumbuh dengan sangat cepat hingga tersebar ke seluruh lantai.
Pemandangan yang agak menakutkan berakhir dan sesosok gadis kecil yang sedang bersilah sambil menutup mata di tengah darah kering dan abu bekas pembakaran muncul di depan mataku.
Kulitnya sangat putih dan halus tanpa cacat seperti porselen. Bibir merah muda yang lembut seperti kelopak bunga ceri yang baru mekar. Bulu mata yang panjang dan lentik seperti ujung ilalang yang tajam, seakan bisa melambai saat terkena angin sepoi.
Alisnya tajam dan lembut seperti daun pohon dedalu. Yang membuatku terkejut, telinga sosok itu menjadi lebih panjang dan ramping, sama seperti telinga elf yang ada di Alterion.
Aku mulai berfikir apakah darah elf juga terintergrasi secara sempurna dan tidak tertelan oleh darah Phoenix??. Yah, mungkin memang seperti itu. Dan untuk darah manusia, aku tidak bisa memastikannya karena darah manusia tidak memiliki karakteristik khusus.
Setelah tubuh itu terbentuk secara sempurna, teratai jiwa mulai tertutup secara perlahan dan menghilang, hanya menyisakan tubuh yang kesepian dan bayangan Phoenix besar yang sedang menelan api merah hitam secara perlahan, membuat nyala Phoenix menjadi semakin panas dan mengerikan.
Saat aku membuka mata, aku mulai melihat tubuhku yang baru. Sangat ringan dan kuat. Segel yang aku bentuk di awal sudah tidak ada lagi karena aku tidak memerlukannya. Kekuatan Tier empat sudah mampu untuk menahan seluruh mana dalam tubuhku, tapi aku masih tidak bisa menggunakan mana di tubuhku secara berlebihan. Kalau tidak, mana vessel dalam tubuhku juga akan mengalami kerusakan tertentu.
Bagaimanapun, mana di tubuhku sekuat Tier lima, jadi tubuhku masih cukup jauh untuk mampu menampung semuanya.
Aku berdiri dan mulai melihat tubuhku secara menyeluruh. Woaahhh... kulit ini benar-benar halus dan lembut... Sangat menyenangkan untuk di sentuh.
Ahh....!
Saat aku menyentuh telingaku, aku terkejut karena telingaku sangat sensitif. Aku merasa geli saat menyentuhnya. Mungkin ini karena baru terbentuk, jadi sarafnya masih sangat sensitif.
Ehemm...
Mari berhenti mengagumi diri sendiri dan mulai memakai pakaian. Setelah memakai pakaian, aku melihat bayangan Phoenix yang masih menyerap api merah hitam itu.
Sangat sulit untuk di cerna. Api merah hitam itu masih ingin melawan dan mencoba membakar Phoenix. Tapi perlawanannya semakin melemah dan cepat atau lambat pasti akan tercerna.
Entah berapa lama waktu berlalu, akhirnya api itu tercerna sepenuhnya. Data dari api itu juga muncul di kepalaku.
«Primordial Flame»
(Akhir dari chapter ini.)