Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 168: Takdir.



Pertemuan ini memang melelahkan. Meskipun hanya berlangsung sebentar, tapi energi yang perlu aku keluarkan cukup untuk menghancurkan seribu orang.


Memang benar bahwa aku mengakhiri pertemuan ini, tapi bukan berarti pertemuan berakhir. Setelah aku meninggalkan ruangan, aku masih mendengar anak-anak itu membahas lebih lebih lanjut tentang hasil pertemuan pagi ini. Yah, hal itu tidak ada hubungannya denganku, jadi aku pergi untuk menghadiri kelas yang aku rencanakan di awal.


Kelas Alchemis berada di bangunan lain yang agak jauh dari ruang rapat saat ini. Tiba di Divisi Alchemis, sudah ada selusin siswa yang duduk dengan tenang sambil mendengarkan penjelasan seorang instruktur.


Instruktur itu adalah seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan dengan senyum ramah di wajahnya.


Saat aku meminta izin bergabung dengan kelas, instruktur menyambutku dengan baik, dan entah kenapa, aku menjadi perhatian di kelas divisi ini. Aku sudah pernah ke divisi penempaan dan divisi sihir, tapi ini adalah pertama kalinya aku datang ke kelas divisi Alchemis.


Tapi yang membuatku aneh adalah banyak siswa yang sudah mengenalku dan bahkan menawarkan ku untuk duduk di samping mereka. Aku melihat sebuah tempat duduk kosong di sebelah seorang gadis berkacamata. Berbeda dengan anak lainnya, dia lebih pendiam dan menenggelamkan kepalanya untuk membaca buku catatan di depannya.


Filia:"Permisi, bisakah aku duduk di sini?."


"Ahh..."


Gadis terkejut saat aku menyapanya. Terlihat dari wajahnya, aku bisa mengetahui bahwa dia sama sekali tidak menyadari kedatanganku sebelum aku menyapanya.


"T, tentu."


Gadis itu menjawabku sambil tergagap. Dia menatapku dengan sangat asing dan langsung mengalihkan perhatiannya ke buku catatan. Saat aku melihat apa yang tertulis di dalam buku itu, aku melihat bahwa itu berisi diagram alkimia yang berfungsi untuk menstabilkan nyala api di tungku. Tapi, dilihat dari diagram itu, banyak garis yang berlebihan sehingga jika seorang Alchemis menggunakan diagram itu, Alchemis itu pasti akan kehabisan mana lebih cepat.


Filia:"Apakah kamu begitu tertarik dengan diagram cacat itu?."


Gadis itu tiba-tiba menatapku dengan aneh. Apakah ada yang salah?.


"I,ini diagram terbaru yang di keluarkan oleh institut penelitian kerajaan."


Filia:"Lalu?."


Aku benar-benar tidak mengerti. Lalu kenapa jika itu diagram terbaru yang yang di keluarkan oleh institut, tidak bisakah itu salah?.


"Ini diagram yang lebih sempurna dari diagram yang sebelumnya. Ini jauh lebih baik."


Lebih baik?. Aku tidak bisa membayangkan seberapa hancur diagram itu sebelumnya. Diagram tidak hanya di pengaruh oleh garis dan rune, tapi juga komposisi dan kalimat rune itu juga harus ditulis dengan jelas.


Berbeda dengan diagram yang tergambar di buku itu. Diagram yang tergambar di buku itu memiliki kalimat yang berlebihan dan bahkan berlawanan, untuk mengatasi itu, mereka menambahkan beberapa lapisan garis diagram lagi guna menghentikan dua rune yang berlawanan supaya tidak meledak. Itu cara yang bagus, tapi tetap saja itu akan membuat garis diagram yang tidak perlu harus di gambar dan dengan demikian, maka mana yang di perlukan juga akan bertambah.


Filia:"Tapi_"


"APA....?!"


Aku terkejut. Tiba-tiba gadis itu berdiri dan meninggikan nada suaranya hingga satu kelas dapat mendengarnya. Dia berdiri dari kursinya dan menatapku dengan ketidaksetujuan dan kemarahan. Apa yang terjadi, apakah aku melakukan kesalahan pada gadis ini?.


"Leen, apakah ini giliranmu untuk menjelaskan di kelas?!."


Instruktur langsung berbicara pada gadis itu yang masih menatapku. Nampaknya dia berdiri dan meninggikan nada bicaranya tanpa sadar. Setelah dia mendengar instruktur, gadis bernama Leen itu terkejut dan duduk setelah meminta maaf.


Aku tidak tahu kenapa reaksi gadis itu begitu besar saat aku mengatakan bahwa ada yang salah dengan diagram itu.


Filia:"Saya juga minta maaf Instruktur!."


Bagaimanapun, sepertinya aku yang menyebabkan keributan itu, jadi aku merasa bahwa aku juga perlu meminta maaf.


"Ya. Tapi, karena kalian sudah menggangu kelas, aku rasa, akan sangat menarik untuk mengetahui apa yang sedang kalian bicarakan. Sekarang, kalian jelaskan, apa yang membuat kalian berdua menjadi begitu ribut."


Leen:"I,itu..."


Wajah Leen terlihat ragu-ragu dan dia melirikku dari sudut matanya. Aku tahu bahwa dia adalah gadis yang baik, jadi dia ragu-ragu untuk menceritakan alasannya kepada instruktur karena mungkin itu akan menyebabkan masalah untukku.


Melihat gadis kecil yang ragu-ragu itu, aku menjadi sedikit lucu. Aku melihatnya dan mengangguk untuk memberinya persetujuan supaya dia menceritakannya kepada instruktur.


"Apakah ada masalah?."


Sebenarnya instruktur melakukan ini karena dia khawatir kalau ada penindasan di dalam kelas oleh para anak bangsawan. Instruktur meminta kami untuk menceritakan keributan supaya memberi kami rasa malu di depan kelas dan tidak mengulangi apa yang kami lakukan.


Leen:"T, tidak... K, kami sedang membicarakan tentang diagram Alchemis terbaru. Nona ini mengatakan bahwa diagram terbaru ini merupakan diagram yang cacat. Tapi... Tapi saya tidak setuju. Saya melihat ayah saya dan banyak Alchemis lainnya yang meneliti diagram ini tanpa makan dan tidur, mereka berusaha sangat keras untuk membuat diagram terbaru ini hingga akhirnya diagram ini tercipta. Diagram ini juga telah di periksa oleh ayah saya selama berhari-hari dan memutuskan bahwa diagram ini jauh lebih baik daripada diagram sebelumnya. Tapi, nona ini mengatakan bahwa diagram yang di buat dengan usah yang sangat keras merupakan diagram cacat, jadi saya tidak bisa menerimanya. Um... Maaf Instruktur!.."


Nona ini?!. Gadis itu benar-benar tidak mengenalku.


Aku melihat wajah instruktur yang terkejut di dalam kelas. Mungkin dia tidak menyangka bahwa itu berhubungan dengan pelajaran Alchemis. Bisanya siswa dari keluarga bangsawan akan menindas siswa dari keluarga biasa.


Sekarang aku juga mengerti kenapa dia tidak senang saat aku menyebut diagram itu barang cacat. Bayangkan saja, kamu mengagumi orang tuamu yang bekerja sebagai seniman, dan melihat mereka berusaha keras untuk membuat sesuatu karya, tapi tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan bahwa karya seni yang di buat oleh orang tuamu merupakan sesuatu yang buruk. Tentu saja kamu akan merasa tidak nyaman dan bahkan mungkin marah. Ini sama dengan mengatakan bahwa usaha keras mereka merupakan usaha yang tidak berguna.


Hah... Mungkin lain kali aku harus memikirkan sedikit bahasa yang harus aku gunakan saat ingin menilai sesuatu.


"Aku benar-benar tidak mengharapkan hal itu."


Instruktur mengambil jeda dan berbalik ke arah papan tulis. Dia mengambil kapur tulis dan menggambar sebuah lingkaran lima lapis dengan banyak pola dan rune yang rumit. Di tengah lingkaran itu, terdapat bintang delapan sudut. Secara keseluruhan, penampilannya mirip dengan lingkaran sihir.


Jika ingin mengetahui kegunaan setiap diagram, kita hanya perlu melihat bintang bagian tengah. Jika bintang tengah merupakan Astakona, maka itu merupakan diagram yang di gunakan untuk Alchemis atau penempaan yang berfungsi untuk menstabilkan suhu nyala dan sifat bahan dalam proses peleburan.


Jika bintang tengah merupakan heksagram, maka itu merupakan lingkaran sihir yang berfungsi untuk mengoptimalkan penyerapan mana dan aether di udara. Setelah mana dan Aether di serap, lingkaran sihir juga akan membantu Caster untuk menyatukan mana sehingga terbentuk sebuah fenomena magis.


Untuk lingkaran sihir pemanggilan, maka di bagian tengah terdapat bintang pentagram yang berfungsi untuk menstabilkan celah ruang antar dimensi sekaligus untuk memperkuat hubungan jiwa antara summoner dan summon Beast. Selain pentagram yang normal, juga ada pentagram terbalik yang menandakan summoner sedang memanggil makhluk iblis atau makhluk mati (Undead).


"Ini menarik. Aku tahu bahwa kamu sangat menghargai usaha dari para Alchemis yang membuat diagram itu, tapi bukan berarti bahwa mereka tidak bisa membuat kesalahan. Saya yakin nona Filia memiliki alasan untuk mengatakan itu. Lagi pula, diagram ini di kembangkan setelah laboratorium Alchemis mendapatkan sempel potion dari nona Filia beberapa waktu lalu. Dan untuk nona Filia, karena anda mengatakan bahwa diagram baru itu cacat, maka sebaiknya anda menjelaskan letak kecacatannya, supaya yang lain tidak mengira bahwa anda menghina usaha seorang Alchemis."


Aku memikirkan kata-kata instruktur, dan sepertinya apa yang dia katakan masuk akal. Aku sebaiknya menjelaskannya kepada mereka supaya aku tidak di anggap mencoreng usaha seorang Alchemis. Dan juga, aku merasa buruk jika tidak menjelaskan kepada gadis ini.


Aku langsung pergi ke depan kelas dan melihat diagram Alchemis yang di gambar oleh instruktur. Harus aku akui, dia adalah Alchemis yang baik. Dia bisa mengingat setiap tata letak rune dan garis yang tepat, padahal gambar itu sangat rumit.


Aku mengambil kapur tulis dan menandai beberapa bagian, termasuk beberapa garis dan rune yang berlebihan.


Filia:"Kecacatannya ada di sini."


Instruktur dan semua siswa divisi Alkimia memperhatikan papan tulis dengan ekspresi bingung.


"Tapi, sepertinya tidak ada yang salah dengan tempat yang anda tandai."


Filia:"Diagram ini di katakan cacat, bukan karena ada kesalahan dalam segi desainnya."


Aku menghapus semua yang aku tandai dan menggantinya. Sambil terus memperbaiki diagram Alkimia, aku menjelaskan letak kecacatan dari diagram ini.


Filia:"Daripada menulis rune Memanas>Mendingin>Suhu>Api, lebih baik membuat rune yang bertuliskan Stabil>Temperatur."


"Oh, apakah ada perbedaan di antara keduanya?."


Filia:"Yang pertama jelas, jumlah kata lebih sedikit. Perlu di ketahui, dalam diagram, setiap kata dan garis memerlukan mana untuk di aktifkan, dengan semakin banyak kata dan garis, maka mana menjadi semakin boros. Jadi, dengan mengurangi dan mengefektifkan kata, penggunaan mana menjadi lebih sedikit dan tidak akan terjadi kehabisan mana di tengah proses pembuatan potion, yang sangat mengurangi rasio kegagalan.


Yang kedua, Ada kata "Memanas" dan "Mendingin" yang berlawanan. Panas dan dingin merupakan dua sifat yang saling bertolak belakang, sehingga membuat mana di dalam diagram menjadi tidak stabil. Untuk mengatasi itu, perlu menambahkan garis pada lingkaran, tapi penambahan garis itu juga akan menambah kembali konsumsi mana. Jadi dengan mengubah kata "Memanas" dan "Mendingin" menjadi "Stabil" atau "Stabilitas", maka garis ini tidak lagi di perlukan, dengan begitu, konsumsi mana akan dikurangi sekali lagi."


Bersama dengan kata-kataku yang berakhir, aku juga selesai menggambar ulang diagram Alchemis di papan tulis. Yang awalnya terdapat lima lingkaran dan dua puluh lima kalimat rune, sekarang hanya ada tiga lingkaran dan delapan belas kalimat rune. Dengan begitu, maka diagram ini akan dua puluh lima persen lebih hemat mana daripada yang sebelumnya, plus diagram ini lebih stabil.


Instruktur maju dan memandangi diagram yang telah aku sederhanakan.


"Tapi, dengan kata stabil, bukankah operasi diagram menjadi membingungkan, dan tidak tahu apakah suhu harus di tambah atau di kurangi?."


Filia:"Tentu saja. Tapi, stabil adalah kata yang akan membuat suhu tetap bukan merubah suhu, dengan kata lain, yang mengatur suhu bukanlah diagram itu sendiri, melainkan kesadaran dari sang Alchemis. Dan untuk diagram, itu hanya akan membantu membuat suhu tetap stabil dan tidak berubah-ubah."


"Kesadaran?."


Ini agak membingungkan. apakah mereka bahkan tidak tahu apa itu kesadaran dari seorang Alchemis?. Lantas, bagaimana selama ini mereka membuat potion dan obat-obatan dengan cara penyulingan?.


Filia:"Kesadaran adalah kekuatan mental. Membuat seorang Alchemis mampu menyadari bagian paling sederhana dan paling tersembunyi dari proses pembuatan potion. Tanpa kekuatan mental yang cukup, mereka bukan Alchemis, melainkan seorang apoteker peracik obat, karena mereka hanya mampu mencampurkan berbagai bahan untuk membentuk efek tertentu. Sementara Alchemis, mereka mampu menyuling bagian paling berharga dari obat dan mengambil manfaat dari bahan obat tersebut untuk membuat potion dengan efek yang mereka inginkan.


Sebagai contoh, bunga malam merah memiliki efek untuk menggantikan darah yang hilang serta memberikan efek kegilaan. Efek kegilaan itu terjadi karena bunga malam merah mampu merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak adrenalin.


Seorang apoteker peracik obat, hanya mampu mengolah tanaman itu menjadi obat dengan cara yang paling sederhana, seperti menumbuk atau menyeduhnya dan mencampurnya dengan herbal lain, lalu langsung di berikan ke pasien tanpa memisahkan kedua efek dari tanaman itu. Sementara Alchemis, mereka mampu memisahkan kedua afek tanaman itu dan memutuskan efek mana yang akan di hilangkan atau di gunakan. Dengan demikian, seorang Alchemis bisa memilih, apakah akan membuat potion penambah darah atau potion kegilaan."


"Jadi seperti itu!."


Ya, memang demikian. Jika seorang apoteker memanfaatkan bunga malam merah, mereka hanya mampu membuat bunga itu mengeluarkan kurang dari sepuluh persen manfaatnya karena kedua manfaat bunga itu bercampur dan akan memberi efek buruk bagi tubuh.


Entah kenapa, tiba-tiba aku jadi yang mengajar di kelas divisi Alchemis ini, sementara instruktur, dia duduk di bangku sambil mencatat sesuatu di sebuah buku.


Kelas berlangsung selama dua jam dan akhirnya selesai. Setelah selesai, aku tidak bisa langsung pergi karena banyak siswa dari divisi Alkimia yang mengerubungi ku untuk bertanya tentang Alkimia. Aku hanya bisa menghela nafas dan bertahan untuk menjawab semua pertanyaan mereka.


Aku tidak menyangka bahwa sekolah yang selama ini aku harapkan ternyata melelahkan. Tapi, ini juga sangat menyenangkan.


Tentu saja jika aku terus melayani teman sekelas yang tidak pernah puas dengan pengetahuan ini, aku mungkin tidak bisa meninggalkan kelas hingga malam hari. Jadi, aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal pada mereka dan beranjak pergi dengan Ilma.


Filia:"Huh... Ini sangat melelahkan."


Ilma:"Kerja keras, Putri."


Filia:'Ya, ini memang kerja keras."


Aku tidak kembali ke kemar, tapi aku pergi ke kebun di belakang akademi. Kebun ini seperti sebuah hutan kecil. Jika bukan di musim dingin, kebun ini akan di penuhi oleh rumput hijau dan pepohonan, serta banyak binatang kecil yang berlarian. Tapi, karena saat ini adalah musim dingin, jadi hutan ini di selimuti oleh salju putih dan sangat sepi.


Ilma:"Putri, mantel ini sangat hangat."


Ilma berkata dengan mengelus mantel berbulu di tubuhnya.


Filia:"Tentu saja. Aku membuat mantel itu dari bulu serigala es yang memiliki ketahanan tertentu terhadap lingkungan bersuhu rendah."


Sebenarnya tidak ada tujuan pasti kenapa aku datang ke kebun ini, aku hanya ingin melepas lelah dan berjalan-jalan. Sayang sekali, akan lebih sempurna jika itu tidak di musim dingin. Yah, sudahlah.


Sha... Sha... Klik...


Saat aku sedang berjongkok dan membuat sebuah bola salju, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari salah satu sudut kebun. Karena penasaran, aku pergi untuk melihat asal suara itu. Dari balik pohon, aku melihat seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tua dariku sedang mengayunkan pedang kayu ke sebuah batang pohon. Anak itu hanya mengenakan pakaian tipis dan membuat kulitnya agak membiru karena kedinginan. Tapi mungkin karena dia beraktifitas berat, jadi tubuhnya tidak sepenuhnya kedinginan.


Aku tidak tahu sudah seberapa lama anak itu berlatih di tempat ini, tapi aku bisa melihat bahwa dari telapak tangan yang membiru itu, ada setetes darah yang menyelinap. Bahkan telapak tangannya terluka setelah terlalu banyak mengayunkan pedang, seberapa keras dia berlatih.


Ilma:"Putri..."


Filia:"Tidak apa-apa, ayo kita lihat anak itu."


Aku memimpin Ilma untuk menghampiri anak itu. Sebelum aku menyapa, anak itu tiba-tiba berlutut di salju dan menatap telapak tangannya. Dia mengepalkan kembali telapak tangannya yang berdarah dan tergores itu dengan keras sehingga lukanya menjadi lebih buruk.


"Apa, apakah aku memang tidak memiliki bakat untuk berpedang?!."


Aku mendengar gumamannya. Apa yang terjadi pada anak itu sebenarnya?.


"Tidak, tidak bisa seperti ini. Aku pasti bisa."


Anak itu kembali berdiri dengan keras kepala dan kembali mengayunkan pedang kayu itu ke batang pohon. Tapi mungkin karena tangannya yang kelelahan, pedang kayu itu terjatuh ke salju.


Melihat pedangnya yang jatuh, anak itu membungkuk dan mengambilnya, tapi setelah mengambil pedang kayu, dia langsung menjatuhkan dirinya dan berbaring telentang di atas salju seakan tidak merasakan dingin.


"Apakah mustahil untuk berlatih pedang?!."


Dia terus bergumam dengan kesedihan dan ketidakterimaan atas keadaannya saat ini. Dia menutupi matanya dengan tangan kanan. Sesaat kemudian, aku melihat air mata jernih yang menetes di sudut matanya.


Aku tidak memperhatikan hal itu lagi dan melangkah maju untuk menyapanya.


Filia:"Apakah kamu baik-baik saja?"


Anak itu membuka matanya dan langsung duduk sambil menghapus sisa air mata yang hampir membeku di pipinya. Aku mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menyerahkannya kepada Ilma untuk di berikan kepada anak itu.


Kanapa aku tidak menyerahkannya secara langsung?. Karena di negeri ini, jika seorang wanita yang belum bertunangan atau menikah menyerahkan sebuah sapu tangan ke seorang pria secara langsung, itu berarti bahwa wanita itu ingin pria itu melamarnya atau wanita itu menerima lamaran dari si pria. Jadi untuk menghindari itu, aku memerlukan perantara dari Ilma.


Ilma menyerahkan sapu tangan ke anak laki-laki itu. Awalnya anak laki-laki itu agak ragu menerima sapu tangan dariku, tapi akhirnya dia menerima sapu tangan itu dan menggunakannya untuk menyeka wajahnya.


"M, maaf. Akan saya ganti."


Anak itu melihat keadaan sapu tangan yang kotor dan terlihat kaku. Yah, dia anak yang baik.


Filia:"Ada apa, kenapa kamu berlatih sendirian di tempat ini?."


Mendengar pertanyaan ku, anak itu memegang erat pedang kayunya dan berbalik memunggungi ku untuk kembali menebas batang pohon.


"Kamu tidak akan mengerti."


Ilma:"Tidak sopan... Kamu_"


Filia:"Ilma."


Melihat sikap anak itu, Ilma hampir marah. Tentu saja sebenarnya aku juga tidak keberatan dengan sikap anak itu. Apalagi, melihat kondisinya saat ini, dia sepertinya sedang mengalami masalah.


Filia:"Bagaimana aku memahaminya jika kamu tidak memberitahuku. Tapi, jika kamu memang tidak ingin memberitahuku, tidak apa-apa. Tapi, kamu harus segera kembali, kondisi tubuhmu sedikit buruk."


Anak itu menghentikan ayunan pedang kayunya dan berbalik kembali untuk menatapku. Setelah beberapa detik, anak itu mengalihkan perhatiannya dariku. Dia terduduk di salju sambil bersandar di batang pohon yang telah dia tebas dengan pedang kayu.


"Sebenarnya..."


Dia menceritakan apa yang terjadi. Anak itu bernama Khaim. Dulu ayahnya adalah seorang prajurit, hanya saja ayahnya telah gugur di Medan perang. Ayahnya berharap bahwa Khaim suatu saat akan menjadi kesatria yang kuat.


Beberapa tahun setelah ayahnya gugur dalam Medan perang, ibunya sakit dan juga harus meninggalkan Khaim sendirian. Namun, dalam surat terakhir ibunya, dia menulis bahwa dia sudah mengumpulkan uang yang cukup supaya Khaim dapat masuk ke akademi.


Hanya saja, beberapa waktu yang lalu, Khaim di beritahu bahwa dia tidak memiliki bakat berpedang. Nilai akademisnya bagus, tapi dalam praktik, dia selalu menempati urutan terbawah di kelasnya.


Dia sudah berlatih keras untuk menjadi seorang kesatria, tapi dia tetap tidak bisa setara dengan teman-teman sebayanya saat menggunakan pedang.


Hal itu benar-benar membuatnya putus asa. Dia tidak ingin mengecewakan harapan kedua orang tuanya yang telah tiada, tapi tidak peduli seberapa keras dia berlatih, dia tetap tidak bisa memenuhi kriteria untuk menjadi seorang calon kesatria.


Yang lebih buruk, karena nilai praktiknya selalu buruk, dia tidak mendapatkan beasiswa. Sehingga, dia memiliki banyak tunggakan biaya. Jika ini terus berlanjut dia akan segera di keluarkan dari akademi.


Yah, aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Ini berhubungan dengan bakat. Kemampuan berpedang Khaim saat ini mungkin sudah lebih kuat daripada orang biasa, tapi jika dia ingin menjadi salah satu kandidat calon kesatria, maka itu masih jauh.


Kandidat calon kesatria adalah siswa yang terpilih dan akan secara khusus di bimbing untuk menjadi kesatria elit masa depan. Semua anak yang masuk dalam kandidat calon kesatria, mereka adalah anak berbakat di antara para bakat. Di tahun kedua kelas bawah, kemampuan mereka sudah setara dengan seorang prajurit.


Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah anak ini. Aku menggunakan Omniscient eye dan mencoba melihat apakah ada yang bisa aku lakukan.


«Talent:Tyrant's Stick Martial Art»


Sepertinya ada yang bisa aku lakukan untuk membantu anak ini. Ini benar-benar mengejutkan.


Filia:"Sepertinya aku bisa membantumu."


Anak itu langsung bersemangat dan melihatku dengan mata terbakar.


Khaim:"Benarkah?!."


Bukankah anak ini terlalu polos. Dia bahkan mempercayai orang yang baru pertama kali dia temui. Ini agak lucu.


Filia:"Ya. Tapi, tidak sekarang. Tubuhmu sudah lemah karena kedinginan."


Khaim:"Tidak, aku sama sekali tidak lelah."


Dia berdiri dengan bersemangat, tapi dia segera terhuyung dan hampir jatuh ke tanah. Beruntung dia masih bisa menstabilkan dirinya sebelum terjatuh.


Filia:"Lihat, tubuhmu sudah kelelahan dan kedinginan."


Aku mengeluarkan sebuah mantel bulu dan menyerahkan ke anak itu melalui perantara Ilma.


Sebelum anak itu memakai mantel, tubuhnya kembali tidak seimbang dan dia terjatuh ke tanah. Sebelum dia terjatuh ke tanah, aku menggunakan sihir untuk menahan tubuhnya dan membuat tubuhnya melayang di udara. Kesadarannya memudar dan dia menutup matanya dengan tenang.


Aku melihat telapak tangan anak itu yang kasar dan berdarah, bukti dari usaha kerasnya selama ini. Tidak bisa di pungkiri bahwa aku kagum dengan usaha keras anak ini.


Aku memerintahkan Ilma untuk menyelimutkan mantel ke tubuh anak laki-laki yang tidak sadarkan diri itu. Aku membawa tubuhnya dengan sihir menuju ke akademi.


(Akhir dari chapter ini)


Jika menemukan kesalahan, mohon untuk segera memberitahu Author supaya bisa segera di perbaiki.