Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 197: Menunjukkan Keterampilan. (3)



(Felmina).


Hari ini aku pergi bersama ayah ke akademi untuk melihat kakak yang menerima tantangan dari para siswa kelas atas. Ayah mengatakan bahwa ini adalah yang pertama kali di akademi bahwa ada seorang siswa kelas rendah yang berani menerima tantangan dari siswa kelas atas.


Lagi pula perbedaan antara kemampuan dan pengalaman mereka sangat jauh berbeda. Jadi pada dasarnya tidak ada siswa yang lebih rendah berani menantang atau menerima tantangan dari siswa kelas yang lebih tinggi.


Arena akademi ini sangat luas, mirip seperti stadion bola yang pernah aku lihat. Oh, atau mungkin ini lebih mirip koloseum, hanya saja ukurannya beberapa kali lebih besar.


Ada ribuan orang yang duduk di kursi penonton. Hari ini semua siswa dan penduduk di ibu kota datang untuk melihat tantangan yang langka ini. Khusus untuk hari ini dan hari-hari tertentu, akademi akan membuka arena untuk umum supaya orang-orang yang berminat bisa menontonnya.


Di keempat arah mata angin terdapat sebuah venue khusus yang memiliki atap untuk menghalangi sinar matahari dan hujan.


Keempat venue khusus telah di tempati oleh para guru dan bangsawan. Kali ini, aku dan ayah duduk di venue barat bersama dengan raja dan beberapa bangsawan kelas atas lainnya. Venue ini di bagi menjadi dua, yakni venue atas, tempat raja dan ayah duduk, dan yang kedua adalah venue bawah yang di tempati oleh beberapa bangsawan tinggi lainnya.


Di venue atas, terdapat dua kursi panjang dengan sandaran yang di ukir indah. Salah satu kursi di tempati olehku dan ayah, sementara kursi yang satunya di tempati oleh raja, putri Sophia, dan pangeran Elion.


Leonis:"Apakah kamu juga ingin melihat kakakmu?."


Yang Mulia raja tiba-tiba bertanya kepadaku. Di tanya tiba-tiba oleh seorang raja, aku tidak bisa menanggapinya.


Rovell:"Tentu saja. Dia memaksa ingin ikut dan melihat Filia bertanding."


Ayah melihat bahwa aku gugup saat ingin menjawab raja, jadi dia mewakiliku dan tersenyum kepadaku. Sejak aku datang ke dunia ini, sepertinya aku di kelilingi oleh orang-orang baik yang sulit aku temui di kehidupanku sebelumnya.


Rovell:"Yang tidak aku duga adalah, anda yang sebagai seorang raja mau melihat pertandingan anak-anak."


Leonis:"Anak-anak macam apa?!. Yang akan bertanding adalah para siswa terlatih yang akan melindungi negeri ini. Sementara Filia, siapa yang tidak tahu kemampuannya."


Mendengar raja memuji kakak, ayah terlihat sangat bahagia dan sangat bangga. Semua bangsawan lain yang duduk di tingkat kedua di bawah kami menoleh ke belakang untuk melihat ayah yang sedang tertawa.


Mereka nampak sangat penasaran dengan kakak. Karena kakak dulunya tinggal di Rosefield Dukedom, jadi tidak banyak bangsawan ibu kota yang mengetahuinya.


Meskipun aku sering mendengar bahwa para bangsawan ini kerapkali mengirimkan surat lamaran untuk kakak, tapi mereka tidak menyelidiki lebih banyak tentang kakak. Dan lagi, kakak jarang mengikuti pesta-pesta resmi yang juga mempersulit mereka menyelidiki tentang kakak.


Memang para bangsawan ini ada beberapa yang pernah bertemu dengan kakak saat pesta ulang tahun ratu, tapi karena kakak segera pergi, jadi tidak banyak yang melihatnya.


Harnas:"Sepertinya kalian sangat bahagia."


Ibu datang dan mengusap kepalaku. Dia langsung duduk di sampingku sehingga aku berada di tengah-tengah antara ibu dan ayah. Ayah melirik ibu dengan senyum ceria di wajahnya. Aku tahu kalau kemarin ayah pergi ke akademi untuk melihat ibu, tapi ayah pulang dengan kecewa. Aku yakin ini ada hubungannya dengan kakak.


"Selamat datang dan salam hormat kepada semuanya. Hari ini siswa kelas rendah akan menerima tantangan dari siswa kelas atas dan membuktikan kelayakannya untuk memimpin Siwa di seluruh akademi. Semua yang telah hadir, saya berharap untuk bisa menjadi saksi."


Seorang siswa mengumumkan dari tengah arena tentang acara hari ini. Banyak orang yang bingung karena mereka kira ini adalah pertarungan antara siswa. Tidak ada yang menduga bahwa ini adalah tantangan dari siswa kelas atas ke siswa kelas rendah.


"Apa-apaan ini?. Apakah mereka bercanda?."


"Mereka ingin mengadu anak kelas rendah melawan anak kelas tinggi. Ini sudah jelas siapa yang akan kalah, kan?!."


"Semuanya jangan khawatir. Kami siswa kelas atas juga akan menyesuaikan kemampuan kami supaya tidak menyakiti anak kecil itu."


"Itu benar. Hahahaha..."


"Jadi seperti itu."


"Yah, ini semua bisa di maklumi."


Siswa kelas atas yang mendengar berbagai pendapat dari para penonton terlihat sangat bahagia dan nampak ingin menunjukkan superioritas mereka.


Humph... Terlalu sombong. Berharap saja bahwa kakak tidak akan membakar kalian menjadi debu atau membekukan kalian menjadi balok es. Bahkan aku bisa membuat kalian semua menjadi babak belur hanya dengan satu tangan, apalagi kakak yang bisa mengalahkan ku hanya dengan satu pandangan mata.


Kakak mungkin terlihat tenang dan lembut, tapi begitu Kakak berada di mode bertarung, dia akan menjadi orang gila. Bahkan saat melatih aku dan Ilma, kakak benar-benar tanpa belas kasihan dan mematahkan beberapa tulangku. Meskipun setelah itu kakak akan mengobati kami, tapi tetap saja rasa sakit dari tulang yang patah itu sangat mengerikan.


"Baiklah, tanpa banyak basa-basi, inilah penantang pertama, Dior Diamisus!."


Seorang anak laki-laki yang tampan memasuki arena dengan pedang di tangan kanannya. Dia tersenyum sinis dan melihat para penonton dengan bangga.


Leonis:"Oh, apakah dia putra kedua dari Baron Diamisus?."


Elion:"Ya ayah. Dia baru saja kembali dari pelatihan di alam liar."


Leonis:"Ya, aku sudah bisa merasakan aura liar dari tubuhnya. Dia akan menjadi petarung yang baik di masa depan."


"Akhirnya, inilah sang penerima tantangan yang berambisi untuk menjadi siswa terbaik di akademi, Filia Rosefield!."


Begitu kata-kata itu jatuh, seluruh tempat menjadi hening. Semua orang melihat ke arah pintu keluar Utara.


Tap... Tap... Tap...!


Suara langkah kaki yang pelan terdengar di lingkungan yang sangat hening ini. Dari pintu keluar Utara, sesosok gadis kecil berjalan perlahan menuju arena.


Tidak ada ketegangan ataupun keraguan di wajahnya. Rambutnya perak dan memantulkan cahaya matahari seperti bias cahaya pelangi. Telinga nya runcing dan panjang yang unik, tapi sangat anggun membuat semua orang terdiam.


Wajahnya penuh percaya diri dan tersenyum santai yang memberikan bayangan bahwa dia bukanlah anak kecil, melainkan seorang pejuang wanita yang berdiri tegak saat menghadapi musuh-musuhnya. Aura yang kakak berikan benar-benar mengejutkan semua orang.


Kakak memakai gaun merah yang sederhana tapi tidak menganggu penampilannya. Berbeda dengan lawannya, kakak tidak membawa senjata apapun selain sarung tangan kain berwarna hitam yang telah dia kenakan di tangannya.



Setiap langkah yang di ambil oleh kakak sangat santai seperti berjalan di taman. Dia seakan tidak melihat banyak orang yang melihatnya.


Dior:"Gadis kecil, jangan khawatir, aku akan menahan diri."


Saat ini mungkin wajah kakak terlihat sangat santai, tapi aku yang sering di latih olehnya tahu bahwa kakak kesal dengan orang ini. Apakah karena dia di panggil gadis kecil?!.


Rovell:"Sepertinya Filia sangat kesal dengan anak itu?."


Harnas:"Oh, Filia pernah bilang kepadaku tadi malam. Dia bercerita saat dia akan kembali ke kamar, dia bertemu dengan beberapa anak bangsawan yang membuatnya kesal. Mungkin anak itu salah satunya."


Elion:"Sepertinya anak itu akan sial."


Sophia:"Ayah, apakah tim medis sudah siap?."


Leonis:"Tenang saja. Meskipun dia akan kejam, tapi dia tidak akan membunuh."


Para bangsawan lain yang sedang berbicara dan mengkritik tentang pertandingan ini langsung diam saat mereka mendengar percakapan ayah dan yang lainnya.


Seorang instruktur berambut coklat terbang dari venue Utara dan mendarat di atas panggung, di antara kakak dan anak laki-laki itu.


Dior:"Apakah kamu tidak menggunakan senjata?."


Filia:"Tanganku adalah senjata terbaik."


Anak laki-laki itu melirik kakak dari atas ke bawah dan tersenyum, nampak menemukan sesuatu.


Dior:"Oh, aku tahu. Sarung tangan yang kamu pakai itu adalah alat sihir kan?!."


Filia:"Kamu terlalu percaya diri. Aku menggunakan sarung tangan karena aku tidak mau menyentuh sampah sepertimu dengan tanganku."


Dior:"Apa kamu bilang?!."


Filia:"Ternyata kamu memiliki gangguan pendengaran."


"Cukup...!"


Saat kakak dan anak itu mulai saling menyerang secara verbal, instruktur menghentikan mereka.


"Pertandingan akan di mulai. Apakah kalian siap?."


"Ya." 2x


Kakak dan anak itu menjawab dengan serentak. Begitu mereka berdua sudah bersiap untuk bertarung, pelindung transparan terbentuk dan mengisolasi arena supaya tidak ada pengganggu dari luar atau untuk mencegah serangan nyasar dari dalam ke arah penonton.


"Mulai!!."


Anak laki-laki itu langsung melesat ke arah kakak sambil berteriak. Jarak mereka berdua hanya sekitar lima puluh meter. Gerakan anak itu memang sangat cepat, tapi reaksi kakak jauh lebih cepat dari pada itu. Pedang yang di ayunkan oleh anak itu berhasil di hindari oleh kakak dengan jarak yang sangat tipis.


Melihat serangannya yang gagal, anak itu langsung kembali mengangkat pedangnya lalu menyapu ke arah kakak secara horizontal, mencoba menebas kakak.


Jika mengenai, serangan itu akan tepat mengenai dada. Kakak bersandar ke belakang untuk menghindari serangan itu, dan lagi, kakak lolos dari serangan siswa itu di jarak yang sangat dekat.


Grams:"Putri Filia sengaja menghindar setiap serangan dari anak itu dengan selisih yang sangat tipis dan gerakan seminimal mungkin untuk menghemat staminanya."


Harnas:"Kamu salah. Filia tidak sedang menghemat staminanya, tapi dia hanya bermain-main. Kalian bisa melihat dari nafasnya yang sangat santai dan tenang."


Grams:"Sepertinya memang begitu."


Mereka berdua mengawasi kakak dan mengutarakan pendapat mereka. Tapi aku tahu seberapa kuat kakak yang sesungguhnya. Kakak tidak perlu menghemat stamina, tapi kakak memang sedang bermain-main dengan anak itu.


Saat aku mendengarkan obrolan mereka, aku sedang melihat lusinan gerakan dari keduanya. Selama pertarungan, kakak hanya menghindar tanpa melakukan serangan balasan. Anak laki-laki yang melawan kakak terlalu aktif menyerang, sehingga energinya akan terkuras sangat cepat dan sekarang dia sudah kelelahan dengan nafas tersengal-sengal yang berat.


Dior:"Jika... Jika memang memiliki kemampuan.. Kamu, kamu jangan menghindar!."


Anak laki-laki itu berteriak kepada kakak sambil terengah-engah. Nafasnya sudah sangat berat dan kakinya tidak stabil untuk menopang tubuhnya karena terlalu lelah.


Kakak tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya mengangguk. Dia memasang kuda-kuda pertarungan tangan kosong. Kakak tidak menyerang, tapi menunggu anak laki-laki itu menyerang terlebih dahulu.


«Wrath of the Wind King»


Seluruh tubuh anak laki-laki itu di selimuti oleh angin cyan redup. Dia berlari sangat cepat ke arah kakak. Dengan memanfaatkan karakteristik angin, gerakannya menjadi sangat cepat dan lincah. Dia melompat ke kanan dan ke kiri dengan sangat cepat hingga seakan-akan dia berubah menjadi beberapa orang secara bersamaan.


Semua bayangan itu menebas secara bersama ke arah kakak. Aku bahkan kesulitan untuk melihat dimana sosoknya yang asli. Dengan teknik pertarungan angin seperti itu, itu benar-benar bisa di katakan sangat kuat untuk anak seusianya.


Leonis:"Sepertinya keluarga Baron memiliki penerus yang cukup bagus."


Grams:"Benar Yang Mulia. Saat ini bahkan kakaknya telah menjadi wakil kapten kesatria."


"Keluarga yang sangat menjanjikan."


"Hahaha.. Itu benar. Mungkin kita harus memupuk hubungan yang lebih baik dengan mereka."


"..."


Semua orang mulai membahas keluarga Baron yang memiliki keturunan yang baik setelah melihat teknik dari anak laki-laki itu. Semua orang membicarakannya, tapi aku masih fokus pada pertarungan di arena.


Lusinan bayangan yang berkedip-kedip mendekati kakak dengan sangat cepat. Jika kakak salah mengidentifikasi serangan mana yang asli, maka serangan yang asli akan segera mengenainya.


"Perintahkan angin yang mengamuk untuk menjadi senjataku: Hurricane."


Melihat serangan yang datang ke arahnya, kakak nampak tetap tenang. Dia melambaikan tangannya dan gelombang angin yang sangat kuat seperti gelombang kejut ledakan meniup semua bayangan dan serangan anak itu yang di tunjukkan padanya..


Ahhhh...


Anak itu terlempar oleh angin yang sangat kuat dengan kecepatan seperti bola meriam. Saat semua orang masih terkejut, kakak melangkah dan tiba-tiba menghilang dari tempatnya. Hanya dengan kedipan mata, kakak sudah tiba di belakang anak yang terlempar di udara itu.


Sebelum anak itu membentur perisai pelindung, sebuah tendangan keras mengenai punggungnya.


Bang...!


Krak...


Uhukk...


Suara patah tulang yang sangat renyah bisa terdengar oleh penonton. Cipratan muntah darah terbang mewarnai lantai yang berubin coklat. Siswa dan para penonton terkejut. Tidak sedikit dari mereka yang tidak berani melihat serangan kakak yang sangat brutal.


Setelah anak itu mendarat dengan keras di lantai, tulang punggungnya sudah patah dan terlihat meliuk-liuk seperti ular, dan anak itu tidak sadarkan diri dengan darah segar di sudut mulutnya.


"Medis...!"


Banyak orang divisi medis yang segera menghampiri anak itu. Seorang pengawas kesehatan wanita datang untuk memeriksanya. Seorang pria melompat dari venue penonton yang tingginya sekitar empat meter langsung ke tanah. Orang itu berlari dan menghampiri anak itu.


"Instruktur Alneir, bagaimana keadaan anak saya?."


Dia berdiri di belakang instruktur itu sambil melihat bocah yang tidak sadarkan diri dengan darah di mulutnya. Wajahnya nampak sangat tenang, tapi kilatan khawatir dan kemarahan pria itu bisa di rasakan oleh semua orang.


Alneir:"Dia tidak akan mati, tapi..."


"Tapi apa?."


Alneir:"Tapi dia akan terus tertidur.... Sulit untuk mengatakan apakah dia akan sadar di masa depan atau tidak. Dan meskipun dia sadar, dia mungkin akan lumpuh."


Terus tidur berarti bahwa anak itu akan koma dalam jangka waktu yang tidak di ketahui. Lagi pula tulang punggungnya benar-benar di hancurkan oleh kakak yang kemungkinan besar luka itu juga akan merusak sarafnya.


Kakak melangkah perlahan dengan wajah yang tetap santai. Dia melihat kondisi anak itu tanpa fluktuasi emosi di wajahnya.


"Tidak adakah cara untuk menyembuhkannya?"


Alneir:"Sayangnya, dengan kemampuan medis saat ini, hal itu sangat mustahil."


Lukanya mungkin sembuh, tapi hubungan setiap saraf tidak akan bisa di perbaiki dengan pengetahuan medis di negeri ini. Mendengar jawaban dari instruktur kesehatan itu, Baron Diamisus menarik nafas panjang sambil mengeratkan genggaman tangannya. Dia melirik ke arah kakak dengan kemarahan yang terlihat jelas.


"Kamu masih kecil, tapi begitu kejam. Apakah kamu tidak memiliki hati?."


Kakak hanya tersenyum lembut lalu menjawab.


Filia:"Orang tuaku adalah orang yang hebat. Mereka mengajariku banyak hal, tapi ada satu hal yang tidak pernah mereka ajarkan kepadaku, yakni belas kasihan. Aku tidak akan memiliki belas kasihan sedikitpun kepada musuhku, terutama kepada orang yang telah menyinggungku."


Meskipun kakak berkata seperti itu, Dia masih melambaikan tangannya dan api perak putih membakar luka anak laki-laki itu. meskipun awalnya semua orang panik, tapi mereka segera menjadi tenang setelah melihat bahwa luka yang terbakar oleh api itu mulai di sembuhkan.


Kakak berbalik dan menuju ke ujung arena untuk menunggu lawan selanjutnya.


Filia:"Anggap hari ini aku sedang berbaik hati."


Sebelum berjalan menjauh, kakak mengatakan itu tanpa menoleh. Saat api padam, semua kecacatan di tulang punggungnya telah hilang.


Alneir:"Lukanya termasuk luka dalam sudah di sembuhkan, tapi dia masih harus terus menerima perawatan lebih lanjut."


"Aku mengerti. Tapi kenapa dia belum bangun?."


Alneir:"Baron, ini adalah mekanisme perlindungan diri. Setelah beberapa saat, dia akan sadar kembali."


Pria itu hanya mengangguk dan membawa anak laki-laki itu. Sebelum pergi, dia berbalik untuk melihat kakak dan mengangguk ringan pada kakak.


"Kuat, cantik, cerdik, dan tidak pernah ragu untuk mengambil keputusan. Menantu perempuan seperti inilah yang di butuhkan oleh keluarga Marquis ku."


"Earl ku juga membutuhkan menantu yang baik ini."


"Jangan banyak bicara kalian. Aku dengar House of Margreve sudah mengajukan lamaran untuk House of Rosefield. Jadi, kesempatan untuk kalian hampir nol."


"Belum tentu..."


"Benar. Jika tidak di coba, siapa yang akan tahu..."


Mendengar percakapan dari para bangsawan itu, wajah ayah menjadi sangat gelap dengan aura membunuh yang padat. Bukan hanya ayah, ibu juga sangat tidak senang.


Berbeda dari ayah dan ibu, raja hanya tersenyum dan menahan tawa saat melihat tingkah ayah dan ibu. Aku yakin jika tidak di hadapan banyak orang, ayah dan ibu akan segera melompat untuk memukuli para bangsawan itu.


Aku sebenarnya juga tidak rela jika kakak dimiliki oleh orang lain. Dia hanya akan menjadi milikku. Kakak hanyalah milikku....


(Akhir dari chapter ini.)


Mungkin akan banyak kesalahan. Maka dari itu, aku meminta bantuan kalian untuk memberitahuku jika kalian menemukan kesalahan ketik.


Punya pertanyaan dan saran bisa langsung di lempar ke kolom komentar. Author akan memungutnya dengan senang hati...