Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 147: Darah Pertama.



(Aneria.)


Kapal Induk kerajaan «Earth»...


Tiga hari telah berlalu. Dengan kecepatan penerbangan saat ini, hanya perlu dua hari lagi sebelum kami dapat melihat benteng terluar Xuan Ming Empire. Yang Mulia mengatakan bahwa ini adalah terbang santai, namun ini masih sangat cepat. Jika kapal udara seperti milik kami yang menempuh jarak seperti ini, aku ragu bahwa kami akan dapat tiba dalam waktu 30 kelopak.


Arkne:"Yang Mulia, kita akan tiba di benteng pertama dalam waktu dua hari. Haruskah kita mempercepat?."


Nona Arkne berbicara kepada Yang Mulia yang sedang duduk membaca buku di kursi takhta. Buku yang di baca oleh Yang Mulia masih buku yang sama seperti saat itu. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam buku itu yang bisa sangat menarik bagi Yang Mulia. Meskipun penasaran, tapi aku tidak berani bertanya secara langsung.


Filia:"Tidak perlu. Beri mereka waktu."


Arkne:"Saya mengerti, Yang Mulia."


Seperti tiba-tiba mengingat sesuatu, Yang Mulia mengalihkan perhatiannya dari buku dan melihat ke arah nona Upirina.


Filia:"Apakah ada pergerakan dari musuh?."


Upirina:"Mereka sedang mengumpulkan pasukan. Di perkirakan mereka akan tiba di benteng terluar setelah satu hari, Yang Mulia. Dengan begini, mereka akan memiliki waktu bersiap satu hari sebelum kita tiba."


Filia:"Yah, tidak masalah. Lalu, apakah ada pergerakan lain?."


Upirina:"Iya, Yang Mulia. Mata-mata kita mendeteksi bahwa ada migrasi penduduk besar-besaran dari wilayah barat. Selain itu, mereka juga meracuni dan memusnahkan sumber air serta makanan."


Filia:"Hahaha... Tujuan mereka terlalu jelas. Mereka takut jika kerajaan barat menyerang ibu kota."


Upirina:"Itu benar, Yang Mulia. Mereka takut merasakan 'Mengepung Wei menyelamatkan Zhao'."


Filia:"Yah, meskipun Lurusia bukan partner kita, tapi aku rasa memang bisa di sebut seperti itu. Tapi, jika kerajaan barat benar-benar melakukan itu, aku tidak keberatan untuk menambah warna pada catatan sejarah."


Meskipun Yang Mulia mengatakan itu dengan santai dan dengan suara yang kekanak-kanakan, tapi aku bisa merasakan dingin di tulang punggung. Aku bisa merasakan itu karena Yang Mulia benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukannya. Di tambah, aku juga terpengaruh oleh auranya yang kuat sebagai seorang penguasa.


Hah... Aku benar-benar harus merasa kasihan kepada Xuan Ming Empire karena menjadikan Moon Palace sebagai musuh. Bahkan sebelum perang, mereka sudah kalah dan menelan kerugian yang sangat besar.


Dengan meracuni sumur dan memindahkan sejumlah besar penduduk dengan waktu dan persiapan yang tidak mencukupi, aku tidak tahu berapa banyak rakyat yang akan menderita. Perlu di ketahui, masalah pemindahan penduduk bukan hanya masalah orang yang di pindahkan, tapi juga akomodasi setelah mereka di pindahkan.


Akomodasi yang tidak tepat dapat mengakibatkan ketidakpuasan dari kedua belah pihak, yang akan berakhir menjadi sebuah kekacauan di masyarakat. Kejahatan akan meningkat karena meningkatnya jumlah kemiskinan, dan kepercayaan penduduk terhadap pemerintahan mereka juga akan berkurang.


Terutama mereka meracuni sumur, aku tidak tahu berapa lama racun yang mereka gunakan akan efektif, aku hanya bisa berharap bahwa racun yang mereka gunakan untuk meracuni sumur adalah racun yang mudah untuk kehilangan efeknya dalam waktu dekat. Yah, meskipun itu racun yang hanya bersifat sementara, tapi untuk sementara itu desa awal penduduk itu juga akan menjadi desa mati.


Meskipun aku tahu bahwa maksud mereka memindahkan penduduk dan meracuni sumur serta tindakan lainnya adalah untuk melindungi kerajaan, tapi tetap saja, aku merasa bahwa kerugian yang mereka ambil juga sangat besar.


Mereka melakukan semua tindakan itu demi mencegah Lurusia menyerang ibu kota. Dengan jalur persediaan yang terpotong dari belakang, serta tidak tersedianya pasokan di sepanjang perjalanan, tentu itu akan menjadi bencana bagi pasukan besar. Dengan pertimbangan seperti itu, maka raja dari Lurusia pasti tidak akan melanjutkan penyerangan ke ibu kota Xuan Ming.


Meskipun rencana Xuan Ming merugikan, tapi aku juga harus mengakui bahwa itu adalah satu-satunya jalan saat ini. Namun, dengan rencana itu juga, mereka akan kehilangan setidaknya wilayah barat. Yah, lagi pula mereka tidak perlu berfikir sejauh itu karena sebentar lagi negara Xuan Ming akan di ambil alih oleh Moon Palace.


Filia:"Karena tindakan mereka sudah terbaca, kita hanya perlu terus melakukan sesuai rencana. Oh benar, bagaimana dengan kerusuhan di Dragonis Kingdom?."


Upirina:"Dengan kembalinya Duke dan pembebasan keluarga kerajaan, kekacauan bisa kembali di tekan. Namun, saya rasa itu hanya akan bertahan sementara. Meskipun Duke sudah memadamkan ambisinya, tapi di bawah Duke juga banyak bangsawan yang masih mengejar ambisi. Jadi menurut saya, sebaiknya kita membersihkan mereka, Yang Mulia."


Filia:"Yah, lakukan saja. Tapi pastikan untuk melakukannya setenang mungkin."


Upirina:"Saya mengerti Yang Mulia. Saya akan memberi tahu sister Rubidea untuk bergerak."


Yang Mulia Filia akan berdiri, namun setelah mendengar nama Rubidea, Yang Mulia langsung menghentikan gerakannya dan menatap Nona Upirina sambil memegang dahi.


Filia:"Yang aku maksud dengan tenang bukan membakar seluruh kota, tapi tenang tanpa menimbulkan kontradiksi dengan orang-orang. Kita akan menyingkirkan mereka dengan bukti kejahatan. Aku tidak percaya bahwa bangsawan yang penuh ambisi tidak akan melakukan tindakan melanggar hukum. Aku ingin memanfaatkan hal itu untuk menjatuhkan mereka. Jadi kirim Intrometida."


Upirina:"Saya mengerti, Yang Mulia. Maaf atas ketidak tahuan hamba."


Filia:"Ya terserahlah. Aku akan menunggu di lantai atas. Suruh beberapa orang untuk membawakan teh."


Arkne:"Iya, Yang Mulia."


Yang Mulia Filia pergi ke lantai atas. Aku tahu bahwa biasanya Yang Mulia akan duduk di ruang santai lantai atas untuk menikmati minum teh. Oh, perlu aku katakan bahwa kapal udara ini setidaknya memiliki ketinggian lebih dari 45m yang terdiri dari banyak lantai dengan fungsi yang berbeda-beda, dan panjangnya sekitar 1.000m yang termasuk dalam kelas Dove. Itu yang di katakan oleh Yang Mulia.


Aku juga baru tahu bahwa kelas kapal Moon Palace di bagi menjadi tiga, yakni: Panjang 10-1.000m merupakan kelas Dove, 1.010-10.000m adalah kelas Swan, sementara 10.010-100.000+ adalah kelas Phoenix. Mendengar ukuran seperti itu aku bahkan sulit untuk membayangkannya, tapi menurut Yang Mulia ukuran seperti itu adalah wajar di lautan bintang. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi bintang-bintang, bukankah itu terdengar luar biasa?!.


Awalnya aku hanya bisa memandang bintang-bintang di langit dan membayangkan bahwa itu adalah sebuah permata, tapi setelah aku bersama dengan Yang Mulia untuk beberapa saat, aku tahu bahwa bintang-bintang yang terlihat berkilau itu sebenarnya adalah sebuah bola raksasa panas. Selain bintang-bintang, aku juga mempelajari banyak hal di Moon Palace.


Setelah mengetahui semua itu, aku menjadi lebih bersemangat dan ingin tahu lebih banyak. Apa yang ada di antara bintang-bintang?. Apa yang ada di kehampaan tak terbatas yang di katakan Yang Mulia?. Seperti apa makhluk dari dunia yang berbeda itu?. Semua pertanyaan itu mengguncang hatiku dan selalu mengisi lamunanku. Apakah mungkin dengan mengikuti Yang Mulia suatu saat aku akan bisa mengetahui semua itu?!.


Arkne:"Nona Aneria, bisakah anda membantu membawakan teh untuk Yang Mulia?."


Lamunanku di buyarkan oleh nona Arkne yang tiba-tiba memanggilku. Melihat nampan berisi set minum teh dan sepiring kecil kue kering, aku kembali ke kesadaran ku dan mengetahui maksud dari nona Arkne.


Aneria:"Tentu."


Arkne:"Terima kasih."


Aku mengambil alih nampan dan pergi ke tempat Yang Mulia. Lusi juga mengikutiku, namun dia tidak di izinkan untuk masuk dan hanya bisa berbicara dengan penjaga pintu sambil menunggu. Aku terkejut saat itu. Aku tidak mengira bahwa para kesatria yang berwajah tegas itu juga akan mudah di dekati.


Yang lebih membuatku terkejut, sepertinya hubungan mereka berdua nampak sangat baik. Bukan hanya aku, tapi sepertinya Yang Mulia juga menyadari hal itu tapi tetap membiarkannya.


Aku membiarkan mereka berdua berbicara satu sama lain, sementara aku masuk ke dalam ruangan untuk mengantarkan teh.


.....


Dua hari lagi berlalu. Selama menghadapi waktu perang ini, Yang Mulia bertindak sangat santai seperti tidak ada yang terjadi, yang benar-benar berbeda dengan orang yang akan berperang. Seperti saat ini, Yang Mulia sedang duduk santai di dekat jendela sambil membaca buku.


Tap... Tap... Tap...!


Suara langkah kaki terdengar dari balik pintu. Tidak lama setelah itu, pintu terbuka dan menunjukkan sosok nona Arkne yang berjalan ke arah kami sambil tersenyum. Sampai di dekat Yang Mulia, nona Arkne membungkuk untuk memberi hormat.


Arkne:"Yang Mulia, beberapa jam lagi kita akan tiba di tempat tujuan."


Mendengar laporan nona Arkne, Yang Mulia menutup buku yang ia baca lalu mengangguk. Yang Mulia berdiri dan pergi ke suatu tempat.


Sebuah pintu palka terbuka, menunjukkan pemandangan luar yang penuh dengan cahaya merah. Yang Mulia berdiri di ambang pintu sambil melihat ke arah benteng musuh.


Filia:"Tetap sesuai rencana. Aku akan maju ke Medan perang, sebelum menerima perintahku, pasukan dilarang untuk bergerak."


Arkne:"Saya mengerti, Yang Mulia."


Setelah mengatakan itu, nona Arkne menarik tanganku dan mengambil jarak yang cukup jauh dari Yang Mulia. Tentu saja aku merasa bingung dengan tindakan nona Arkne. Tapi segera, kebingunganku itu terjawab.


Udara di sekitar Yang Mulia mulai terdistorsi dan bergelombang karena suhu udara yang tiba-tiba melonjak sangat panas. Tidak bisa menahan, aku mengambil langkah mundur lagi.


Tiba-tiba, api perak putih menyala dari telapak kaki dan menyelimuti seluruh tubuh Yang Mulia tanpa terkecuali. Di atas api itu juga terdapat kilatan petir emas yang berderak dengan sangat ganas. Mendengar suara berkicau dari listrik tegangan tinggi itu sudah bisa membuatku gemetar karena rasa takut. Aku tidak akan ragu bahwa jika seseorang terkena derak petir itu, orang itu pasti akan menjadi kokas hangus.


Swos...!!


Api yang menyelimuti Yang Mulia tiba-tiba berkibar dan melonjak, menjadi sepasang sayap putih bersih yang sangat halus yang membentang sekitar 7m. Setiap bulu pada sayap itu dihiasi pola emas berulir yang sangat rumit, nampak seperti sebuah mutiara putih yang di gambar menggunakan tinta emas di atasnya, membuat sayap itu terlihat sangat indah dan mulia.


Di permukaan sayap putih itu terdapat percikan api dan petir yang menambah rasa suci pada sayap itu. Melihat Yang Mulia saat ini, aku seperti melihat seorang malaikat putih dalam legenda dan cerita yang turun dari langit ke dunia yang gelap ini.


Filia:"Sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini..."


Dengan mengatakan itu, Yang Mulia mengepakkan sayapnya dengan ringan, seakan mencoba untuk melemaskan otot-otot sayap yang kaku. Setiap kepakan ringan dari Yang Mulia akan menimbulkan semburan suhu panas yang di barengi dengan suara berkobar api dan derak petir yang menakutkan.


Kepakan sayap ringan itu perlahan menjadi semakin kuat hingga Yang Mulia terbang keluar dari kapal udara. Yang Mulia melayang di depan kapal udara sambil membelakangi ku dengan sosoknya yang luar biasa.


Filia:"Aku akan pergi dulu."


Yang Mulia mengatakan itu tanpa berbalik. Dengan sedikit mengatur posisi dan menentukan arah, Yang Mulia mengepakkan sayapnya dengan kuat. Dengan kepakan yang kuat itu, Yang Mulia menghasilkan ledakan sonik dan gelombang kejut yang sangat kuat. Jika bukan karena nona Arkne yang melindungiku dari dampak itu, aku mungkin sudah terlempar ke belakang.


Setelah aku kembali membuka mataku, yang aku lihat adalah Yang Mulia yang telah terbang di kejauhan. Saat terbang, sayap putih Yang Mulia membuat jejak cahaya putih panjang di langit seperti ekor komet.


Arkne & Upirina:"Sungguh sangat indah..."


Upirina:"Sayang, ini bukanlah bentuk sempurna dari Yang Mulia."


Aneria:"Bentuk sempurna?."


Arkne:"Ya. Bisa di katakan bahwa Yang Mulia baru sampai pada bentuk awal Moon Phoenix. Bentuk sempurna dari itu adalah tiga pasang sayap yang sangat indah. Saat terbang di langit, sayap-sayap itu akan menimbulkan suara api berkobar yang membakar langit dan derak halilintar emas yang mengamuk di langit."


Mengetahui hal itu, aku kembali menatap jejak putih yang di tinggalkan oleh Yang Mulia dengan perasaan kagum dan takjub. Sangat luar biasa.


Arkne:"Argus, perlihatkan keagungan Yang Mulia kepada kami."


Nona Arkne berkata seperti itu sambil berjalan menuju ruangan takhta bersama dengan nona Upirina. Tentu saja aku harus mengikuti mereka. Aku juga penasaran apa yang akan terjadi.


Setelah kami sampai di ruang Takhta, aku melihat sebuah layar besar yang menunjukkan sebuah komet perak putih dengan ekor yang panjang. Aku tahu bahwa itu adalah Yang Mulia. Yang Mulia terbang dengan kecepatan yang sangat mengagumkan, melintasi langit dan membelah langit merah dengan cahaya api putih suci.


Arkne:"Hey, Upirina, menurutmu bagaimana di masa lalu jika ada orang yang melihat komet putih?."


Upirina:"Komet putih yang melambangkan kehancuran dan malapetaka. Jika ada orang yang memiliki item berharga atau mereka yang baru menyelesaikan dungeon, mereka akan langsung teleportasi ke kota aman dan langsung log out."


Arkne:"Hahaha.... Ya, mereka akan langsung lari seperti seekor tikus. Mereka takut mendapatkan «Sign of death»."


(penjelasan lebih lanjut di chapter yang lain).


.....


(Zhao Yun)


Benteng Longshan, Kapal udara Kekaisaran Xuan Ming...


Seluruh pasukan telah tiba di benteng ini kemarin. Seluruh benteng memiliki udara yang tegang. Baik di dalam maupun di luar benteng, terdapat banyak prajurit yang sedang bersiap untuk menghadapi musuh kapan saja.


Dari atas kapal aku bisa melihat ratusan ribu tenda yang di dirikan di depan benteng sebagai tempat perlindungan sementara bagi para prajurit dari dinginnya malam. Saat ini, tenda-tenda itu sudah mulai di bongkar. Dengan tenaga dari banyak prajurit, tenda-tenda itu di bongkar dengan sangat cepat, menyisakan sebuah lapangan yang sangat luas.


Jika kamu melihat jauh ke depan, kamu akan melihat dataran yang sangat luas, inilah Medan perang yang akan datang, tanah yang akan segera di pupuk dan di sirami menggunakan darah dan daging.


Zhao Yun:"Perintahkan para prajurit untuk segera bersiap."


"Baik."


Wouuu... Wouuu...!


Suara terompet perang yang menggelar terdengar menggema di seluruh tempat. Para prajurit yang mendengar suara terompet itu segera membawa peralatan perang mereka dan berbaris menuju dataran yang luas. Lebih dari satu juta prajurit berlari ke barisan masing-masing, terlihat nampak seperti gerombolan semut hitam yang menemukan tumpukan gula. Dataran berpasir kuning itu seakan di lapisi lapisan hitam.


Kapal-kapal kekaisaran mulai naik ke angkasa. Lebih dari 50 kapal besar itu mulai menutupi langit, seperti tangan-tangan kegelapan yang menggapai tanah terkutuk ini.


Perasaan bangga merekah di dalam hatiku. Aku, Zhao Yun, pemimpin di atas lebih dari satu juta orang. Dengan kekuatan seperti ini di tanganku, apalah itu kerajaan barat, bahkan seluruh benua bagian Timur ini dapat aku kuasai.


Tian Che:"Benar-benar pemandangan yang spektakuler."


Zhao Yun:"Kamu benar."


Aku melihat ke kejauhan, menunggu musuh yang akan datang. Dengan kekuatan ini, siapapun musuhnya, datanglah.... Aku akan menghancurkan mu.


Tiba-tiba, aku melihat langit yang mulai memunculkan banyak retakan, menunjukkan kegelapan di belakang retakan itu. Saat aku memperhatikan lubang di langit itu, sebuah bola mata merah ganas terbuka di dalam kegelapan, menatapku dengan rasa jijik dan penghinaan. Di tatap oleh mata itu, aku seakan di telanjangi, perasaan yang sangat tidak nyaman karena semua terlihat oleh musuh, benar-benar sangat buruk.


Secara keseluruhan, di langit muncul 99 mata merah yang menatap seluruh Medan perang. Inikah musuh yang kami hadapi?. Saat pemikiran seperti itu muncul di pikiranku, aku segera menolak gagasan ini. Meskipun ada kilatan jijik dan penghinaan di mata itu, tapi aku tidak bisa merasakan niat membunuh di dalamnya. Aku menduga bahwa mata itu hanya sebagai pengawas untuk melihat kami.


Dalam perang, informasi juga merupakan senjata yang sangat kuat, jadi jika musuh memiliki informasi lebih banyak tentang kami daripada kami tahu tentang mereka, maka kami akan berada dalam pihak yang sangat di rugikan. Menanggapi hal itu, aku memerintahkan prajurit untuk segera mengirimkan mata pengawas.


Mata pengawas merupakan bola mata seukuran kepalan tangan yang kami dapatkan dari reruntuhan kuno. Bola mata itu akan menampilkan apa yang dia lihat di sebuah perangkat khusus yang sudah di siapkan.


Sebuah papan batu persegi panjang hitam selebar 40 cm dan sepanjang 70 cm mulai menyala dengan garis-garis rune biru halus. Sesaat kemudian, garis-garis rune itu berubah menjadi pemandangan seluruh Medan perang yang sangat detail, seakan aku melihat langsung. Ini adalah rahasia kemenangan kami dalam perang.


Kami menunggu untuk beberapa saat, tapi aku belum melihat seorang prajurit pun dari pasukan musuh. Bahkan orang yang aku kirim untuk melihat jauh ke depan melaporkan bahwa mereka belum melihat seorang pasukan pun.


Menanggapi laporan itu, Tian Che merenung sesaat.


Tian Che:"Apakah mereka sedang beristirahat di suatu tempat?."


Pendapat Tian Che memang masuk akal. Aku juga memikirkan hal seperti itu. Lagi pula jarak yang mereka tempuh sangat jauh. Mereka pasti perlu beristirahat di suatu tempat untuk memulihkan energi mereka.


Tian Che:"Tapi di katakan bahwa mereka memiliki kapal udara yang sangat canggih, apakah menurutmu mereka masih butuh beristirahat?."


Zhao Yun:"Meskipun mereka memiliki kapal canggih, tapi menurutmu berapa banyak pasukan yang bisa di angkut oleh kapal udara?!."


Tian Che:"Tapi_"


Sebelum kata-kata Tian Che di ucapkan, semua mata terpaku pada satu arah. Aku mengikuti pandangan itu dan melihat sebuah cahaya putih panjang yang membelah langit dan membawa suara kobaran api serta petir. Cahaya itu terbang dengan sangat cepat ke arah kami.


Zhao Yun:"Bersiap untuk serangan..!"


Seluruh pasukan mulai menyiapkan perisai mereka bersama dengan para penyihir yang juga menyiapkan pelindung sihir.


Namun serangan yang kami tunggu tidak datang. Cahaya putih itu berhenti di udara dan menunjukkan sosoknya. Itu adalah seorang gadis kecil dengan sepasang sayap di punggungnya. Gadis itu melayang di atas Medang perang, seperti Dewi yang menyaksikan makhluk rendahan yang merangkak di tanah.


Tian Che:"Arahkan mata pengawas untuk mendekati gadis itu."


Dengan mata pengawas yang semakin mendekat, aku bisa melihat penampakan gadis itu dengan lebih jelas. Sayap putih bercorak emas yang di lapisi oleh api putih dan derak petir emas. Gadis itu memiliki mata yang indah dan menatap ke tanah. Di dalam mata yang indah itu aku bisa melihat kilatan kebahagiaan dan semangat yang sangat aneh.


Perlahan, gadis itu menurunkan ketinggiannya hingga mendarat di tanah. Sebuah kilatan emas yang menyilaukan menutupi sosok gadis itu. Sebuah gambar ilusif kepala singa emas muncul di belakangnya dan bergabung dengan cahaya itu.


Saat cahaya sudah mereda dan gambar gadis itu kembali muncul, gadis itu sudah berubah. Gadis itu sekarang memakai sebuah armor full plate berwarna emas dengan aksen merah. Kepala dan wajah gadis itu di tutupi oleh penutup berbentuk kepala singa yang sangat indah. Hanya bagian rambut perak putihnya yang tergerai keluar, seakan itu adalah surai singa.


Gadis itu menatap tangannya yang saat ini tertutupi oleh armor emas. Di tangan itu setiap jari-jari rampingnya telah di selimuti oleh cakar panjang yang berkilau dan terlihat sangat tajam. Bahkan aku yang melihat dari sini bisa membayangkan ketajaman cakar itu.


Setelah puas dengan penampilannya sendiri, gadis itu beralih dan menatap ke arah mata pengawas yang melayang di sekitarnya. Mata pengawas itu dapat tidak terlihat, bagaimana gadis itu bisa menyadari keberadaannya?!. Aku ragu apakah gadis itu sudah menemukan keberadaan mata pengawas, tapi segera keraguanku itu terjawab.


Gadis itu mengacungkan jarinya ke arah mata pengawas, seakan menunjukku. Yang membuatku jengkel, gadis itu membuat isyarat 'Datanglah' menggunakan gerakan jarinya.


Zhao Yun:"Perintahkan Jenderal Liang untuk mengajari gadis kecil itu."


Beraninya seorang gadis kecil berdiri sendiri di tengah Medan perang. Aku yakin bahwa gadis itu adalah anak yang di manja dan belum pernah melihat Medan perang.


Dari mata pengawas, aku melihat seorang prajurit tinggi dan berotot membawa Guan Dao di tangannya. Jenderal Liang menunggangi seekor Enderhorse yang berlari kencang ke arah gadis itu. Jarak antara Jenderal Liang dengan gadis itu sekitar 500m, tapi dengan enderhorse jarak itu dapat di tempuh dengan seketika.


Melihat bahwa ada seseorang yang berlari ke arahnya, gadis itu nampak tidak takut. Gadis itu mengambil langkah dan berlari menghampiri jenderal Liang. Cara berlari gadis itu tidak seperti manusia, tapi lebih seperti seekor cheetah yang mengejar mangsanya.


Jarak antar keduanya terus menyempit dan akan segera bertemu.


Zhao Yun:"Huph... Mencari kematian."


Aku menganggap bahwa gadis itu sedang mencari kematian, namun yang aku lihat selanjutnya benar-benar mematahkan anggapanku itu.


Saat jarak di antara keduanya semakin sempit dan akan segera berbenturan, jenderal Liang tanpa belas kasihan mengayunkan Guan Dao nya ke arah gadis itu, berniat untuk menebas gadis itu. Tapi, hanya jarak beberapa cm, tiba-tiba gadis itu melompat ke udara dengan punggung menghadap ke bawah sementara dia terlentang di udara.


sampai di atas kepala jenderal Liang, gadis itu melakukan backflip yang indah. Saat melakukan backflip dan masih melayang di udara, tiba-tiba gadis itu mencengkeram rambut jenderal Liang dengan tangan kirinya dan merapatkan keempat jari tangan kanannya. Gadis itu mengayunkan tangan kanannya secara horizontal dan melakukan tebasan ke arah leher jenderal Liang dari belakang.


Semua gerakan berlangsung sangat cepat seperti kedipan mata. Kuda jenderal Liang terus berlari ke depan dengan jenderal Liang di punggungnya. Tapi, jenderal Liang di punggung kuda itu hanyalah tubuh tanpa kepala. Darah menyembur dari posisi lehernya dan berceceran membasahi kuda dan tanah.


Hanya beberapa meter lagi, tubuh jenderal Liang terjatuh yang mengejutkan kuda itu sehingga membuat kuda berlari ke kejauhan dengan panik dan menghilang dari pandangan.


Aku terkejut dengan pemandangan itu. Bukan hanya aku, tapi seluruh Medan perang menjadi senyap, semua orang menatap ke arah gadis berarmor emas yang berdiri di tengah Medan perang dengan tenang, menghadap ke arah jutaan prajurit dan puluhan kapal udara.


Udara seakan membeku dan menyaksikan gadis itu mengangkat tangan kirinya. Di tangan kirinya terdapat kepala jenderal Liang yang masih meneteskan darah dari lehernya yang terpenggal.


Jenderal Liang yang mengabdi pada kekaisaran selama bertahun-tahun dan di akui kemampuannya oleh semua orang akhirnya mati dalam Medan perang.


Jenderal Liang, adalah darah pertama yang tumpah di Medan perang ini...


(Akhir dari chapter ini.)


Chapter selanjutnya tidak akan lama, jadi sabarlah menunggu.


Oh benar, sepertinya aku lupa ambisi dari kekaisaran Xuan Ming. Apakah mereka berambisi menguasai seluruh benua bagian timur atau bagian lainnya. Yang masih ingat tolong beri tahu aku, aku lupa menaruh informasi itu di chapter mana.