Dear Husband

Dear Husband
Seminggu kemudian



Satu minggu tinggal dirumah sederhana Sofia membuat Nando sedikit banyak berubah. Sang tuan muda yang awalnya hidup mewah diistananya dengan banyak pelayan berubah menjadi suami siaga yang tak segan membantu kerepotan istrinya. Kadang dia memasak, bersih-bersih atau membantu hal-hal kecil atas kemauannya sendiri.


Melihat Sofia yang berangkat pagi dan pulang malam karena sibuk kerja dan kuliah membuatnya iba. Apalagi istri cantiknya itu sama sekali tidak mengeluhkan keadaan mereka. Yang ada Sofia malah terlihat sangat menikmati kehidupannya. Tak pernah Nando melihatnya berbelanja hal yang tidak penting. Semua yang dia beli adalah kebutuhan pokok, itupun sudah diperhitungkan secara cermat hingga mereka tak merasa kekurangan.


"Sayang kau baru pulang?" tanya Sofia setelah membuka pintu dan mencium punggung tangan suaminya. Dihari sabtu dia memang pulang lebih dulu karena tidak ada mata kuliah. Nando mencium keningnya lembut lalu menutup pintu rumah.


"Apa kau baik-baik saja? kau terlihat capek mas."


"Banyak laporan yang harus kuperiksa." jawab Nando sambil melepas kaos kakinya. sofia menuju dapur dan membuatkan jahe hangat untuk suaminya. Ekstrak jahe sangat baik untuk menghangatkan tubuh saat hawa dingin menyergap seperti sekarang. Apalagi Nando juga terlihat lelah. Bagaimana tidak lelah? suami tampannya itu hampir tiap malam meminta haknya hingga lupa waktu. Untung saja rumah kanan kiri mereka belum berpenghuni hingga membuat mereka leluasa mendesah hingga pagi.


"Kau masak apa?"


"hmmm...bagaimana kalau kukatakan aku tidak memasak sore ini?"


" Kau lelah? kita delivery order saja."


"Jangan!" Nando yang akan masuk kamar mandi menghentikan langkahnya dan menoleh pada Sofia.


"sayang jangan memaksakan diri. Walau aku tak sekaya dulu tapi gajiku masih cukup untuk menghidupimu." Begitulah. Nando selalu marah jika melihat Sofia berhemat soal menu makanan. Dia hanya tak ingin istrinya itu sakit karena kurang asupan gizi.


"Bukan itu mas..."


"Lalu?" tanya Nando menaikkan alisnya.


"Bolehkah aku minta sesuatu?"


"hmmmm...tentu. Katakan."


"Maukah kau mengajakku kencan?" kali ini pipi Sofia merona. Kencan? bahkan mengatakan kata itu saja sudah membuatnya malu. Alasanya adalah seumur-umur dia belum pernah berkencan dengan siapapun.


"kencan?"


"Ya. Hanya ditempat biasa saja. Yang murah meriah saja. Aku janji tidak akan menghabiskan gajimu." Hampir saja Nando tertawa ngakak melihat ekspresi Sofia yang penuh harapan juga ketakutan. Wanita muda itu juga sudah meletakkan kedua tangannya di dada Fernando tanpa sengaja.


"Sofia kau tau? Jangankan seluruh gajiku...kau minta jiwaku saja aku akan memberikannya secara suka rela. Aku akan berusaha mengabulkan semua keinginanmu." bisik Nando lirih. Seketika senyum lebar terbit dari bibir merah merekahnya. Refleks dia memeluk leher Nando dan mengucapkan terimakasih.


"Tunggu!" Nando meraih pinggang Sofia dan merapatkannya pada tubuh kekarnya, membuat Sofia gugup seketika.


"ke...kenapa mas?"


"Ada syaratnya." kata Nando sambil tersenyum smirk.


"Syarat?" beo Sofia bingung memahami pikiran suaminya. Bukannya tadi pria itu bilang akan memberikan dan mengabulkan apapun permintaanya? kenapa sekarang harus pakai syarat segala? ahhh..plin plan sekali.


"Ya. Tak ada yang gratis di dunia ini nyonya Fernando." balas Nando makin gencar menggoda istrinya.


"Asal tidak susah saja." gumam Sofia sambil mencebik kesal. Nando yang gemas langsung mengecup bibirnya sambil tertawa ringan. Ahh...tawa itu???


"Kenapa?" tanya Nando saat melihat Sofia yang berubah bengong didepannya.


"Kau...tertawa mas? Ahh Ya Tuhan...kau sangat manis dan tampan suamiku." ujar Sofia setengah sadar tanpa mengalihakan pandangannya dari wajah Nando yang benar-benar terlihat lain hari itu. Tampan dan maskulin. Sejak mereka menikah, baru kali ini dia melihat Nando tertawa begitu lepas dan terlihat sangat bahagia.


"A ..apa?"


" Masih mau kencan?"


"Ya. Tentu saja."


" Kalau begitu mandikan aku."


"heh??"


"Mandikan aku Sofia." tegas Nando sambil melempar kemejanya asal.


"Kau bisa mandi sendiri mas. sudah gede pula."


"Baik jika kau tak mau. Tapi jangan harap ada kencan malam ini."


"Maassss!!!" bentak Sofia merajuk. Wanita itu bahkan sudah menghentakkan kakinya bak anak kecil yang ngambek karena minta mainan.


" Mau tidak?" Sedikit menggerutu Sofia mengikuti suaminya masuk ke kamar mandi. Jangan membayangkan ada bathtub disana. Ini hanya kamar mandi biasa yang walau ada shower tapi hanya punya bak mandi didalammya. Wanita itu terpaksa menurut. Tangannya mulai menyabuni tubuh Nando lembut, sesekali memijatnya ditempat tertentu hingga membuat Fernando merasa nyaman.


Setelah drama syarat kencan berakhir, disinilah mereka sekarang. Tepian danau yang disulap menjadi kafe romantis, menghabiskan waktu berdua setelah menikmati makan malam mereka disana. Sofia bersandar pada dada Nando yang memeluknya dari belakang, menatap rembulan dan kelap-kelip lampu di kejauhan sana. Tetap asyik, tak terusik oleh kehadiran beberapa pasangan lain yang memadu kasih atau sekedar berkumpul dengan temannya.


"Sayang..."


"Hmmmm..." Sofia menolehkan kepalanya kekanan. Tepat pada wajah tampan Nando yang tiba-tiba sudah berada dipundaknya. Tangan kanannya membelai kepala itu lembut.


" Apa kau bahagia dengan pernikahan kita?"


"Kenapa tanya begitu?"


"Hanya ingin tau."


"Ya. Aku bahagia. Sangat bahagia malah. Aku punya suami yang tampan, mapan dan penuh kasih sayang. Itu sudah cukup buatku mas."


" Mapan? aku bahkan tidak punya apa-apa untuk membahagiakanmu sekarang. Maafkan aku Sofia." Sontak Sofia memutar tubuhnya. Memegang kedua pipi Fernando lembut.


" Kau bekerja dan bertanggung jawab saja aku sudah sangat bahagia mas. Apa-apa yang kau maksud akan kita cari berdua." Nando mengecup kedua tangan itu singkat.


"Bagaimana jika ada anak diantara kita. Saat kita masih seperti sekarang."


"Jika Allah memberikan kepercayaan pada kita, maka aku akan dengan senang hati menerimanya mas. Anak akan membawa rejekinya sendiri." Terlihat sekali binar bahagia dimata Sofia saat Nando bicara tentang seorang anak. Dia sudah tidak muda lagi. Tahun depan usianya sudah 29 tahun meski masih terlihat muda dan cantik. Demikian pula Nando yang langsung mengecup singkat bibirnya.


"Apa kau juga akan menurutiku untuk fokus mengurus anak-anak kita dan meninggalkan pekerjaanmu?" kali ini Nando bertanya dengan sangat hati-hati. Takut merusak moment romantis mereka.


" Nanti jika kau kembali kaya raya, aku akan memikirkannya. Tapi sekarang...kita fokus menata diri dan ekonomi kita dulu. Aku tak mungkin membiarkanmu mencari nafkah sendirian mas."


"Apa kata-katamu bisa dipegang sayang?" Fernando masih menatap lekat istrinya, meyakinkan perkataanya.


"Sekarangpun jika kau memintanya ...aku akan berhenti bekerja dan kuliah mas." Entah bagaimana perasaan Fernando sekarang. Kebahagiaan itu serasa membuncah di dadanya. Jawaban dan keputusan Sofia benar-benar membuatnya merasa dihargai dan dicintai.