Dear Husband

Dear Husband
Chatt



Sofia terkapar lemah karena kecapekan akut diatas ranjang king size dikamar utama. Sejak Bella mengantarnya pulang jam dua siang tadi tubuhnya sudah serasa remuk redam. Seharian ini, adik iparnya itu mengajaknya keluar masuk butik hanya untuk setumpuk pakaian untuknya. Tak hanya sampai disana, mantan pengacara handal itu juga mengeluarkan semua pakaian yang dia bawa dari kampung dan membungnya ke tempat sampah, padahal pakaian itu masih sangat layak dipakai. Dalam hati Sofia mengeluh panjang. Orang kaya memang aneh. Mereka tidak tau rasanya berjuang hanya demi selembar pakaian.


Salah jika sang ipar hanya menyuruhnya berhenti sampai disana. Dia malah menyeret Sofia pergi ke salon dan mengajarkan turorial memakai make up secar instan namun elegan. Selain berotak brilian, Bella juga wanita yang terampil dan cekatan hingga membuat Sofia cepat menyerap apa yang dia ajarkan.


"Untuk apa semua ini Bel?" tanyanya memulai percakapan selepas pulang kerumah tadi siang.


"Untuk kebaikan kalian. Kak Nando pria yang sangat setia pada pasangannya kak. Sekali dia memilih seseorang maka dia akan mempertahankannya. Bukannya tadi kau bilang jika kau tidak ingin berpisah darinya? jika kau tak ingin berpisah, maka buatlah dia jatuh cinta."


"Kami tetap bisa berkeluarga tanpa harus jatuh cinta." balas Sofia malas.


"Kakak dengar..Pondasi dalam setiap rumah tangga adalah cinta dan kepercayaan. Jika kau memiliki keduanya maka kau akan jadi pemenangnya. Setia buka berarti kak Nando akan terus begitu selamanya. Manusia itu bukan makhluk konstan, dia bisa berubah kapan saja. Jangan sampai kak Sofia menyesal karena kehilanga pria sebaik kak Nando. Dia...pria idaman tiap wanita. Tampan, kaya raya, cerdas dan pekerja keras. Tak banyak pria seperti dia di dunia ini kak.Kau masuk dalam jajaran wanita paling beruntung didunia ini kak." ungkap Bella panjang lebar. Sofia hanya mampu meresapi setiap perkataan yang dia lontarkan.


"Tapi aku tidak yakin bisa membuat mas Nando jatuh cinta Bel. Sikap dingin dan angkuhnya kadang menyakitiku. Dia juga sudah berulang kali mengatakan jika aku bukan seleranya. Sungguh, egoku sebagai wanita sangat terinjak." Bella menarik nafas dan meraih pundak Sofia. Menegakkannya agar mengarah padanya.


"Para pria memang begitu. Apalagi yang seperti kak Nando. Dia akan selalu mengatakan hal yang sebaliknya. Percayalah, kak Nando tidak akan menikahimu jika dia tidak tertarik padamu."


"Tapi aku....."


" Semangatlah kak! kak Nando pria yang dingin dan datar seperti Alex. Jika kita sebagai wanita ingin mempertahankan rumah tangga, maka bersikaplah hangat dan buat dia nyaman. Tidak sulit bagimu mencintai kak Nando. Teruslah bertahan demi kakakku, Elle dan keluarga Hutama yang sudah sangat membuka diri untukmu." Sofia hanya menganguk-anggukkan kepalannya.


"Baiklah." putusnya kemudian. Bella bersorak girang. Dia harus membuat pengantin baru itu menyadari jika mereka saling mencintai.


"Apa kau tau kapan mas Nando akan pulang?" tanya Sofia melas. Makin lama sendirian dirumah besar ini hanya akan membuatnya semakin tersiksa.


"Aku tidak tau kak. Tapi sebelum dia pulang kau harus mempersiapkan dirimu kak. Setiap hari aku akan mengajarkanmu turtorial menjadi nyonya Hutama. Harus banyak yang berubah pada dirimu saat kak Nando pulang nanti.” lagi, pundak Sofia turun. Harapannya mendapat petunjuk kapan sang suami pulang hanya akan berakhir sia-sia. Dia tidak tau sejak kapan dirinya merasa hampa dan kehilangan separuh jiwa saat Nando tak ada disampingnya.


" Mas...." bisiknya seraya menyentuh permukaan kasur yang biasanya ditempati Fernando. Dihisapnya wangi maskulin yang tertinggal disana...lama, hingga dia tertidur pulas.


Sorenya Sofia berlari kecil memasuki area tempat kerjanya karena sudah terlambat beberapa menit. Untung saja Maria membangunkannya tadi, jika tidak mungkin dia akan tertidur hingga malam hari karena terlalu lelah. Dia juga mulai mendengarkan saran Bella untuk memakai jasa sopir keluarga untuk mengantarnya. Mungkin Bella benar, dia harus berubah untuk nama baik suaminya juga.


"Selamat sore dokter. Tumben telat. Lagi sibuk banget yaa..." goda dokter Maya yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya.


"oohh....ehh...iya dok. Maafkan saya." katanya singkat seraya memakai jas putihnya cepat. Menutupi tunik selutut berwarna kuning gading dan celana pensil yang dipilihkan Bella tadi siang. Apa boleh buat, dia harus mulai memakai pakaian barunya karena Bella sudah menyingkirkan semua pakaian lamanya.


"Maksudnya?"


"kayaknya terlihat makin fresh dan...modis aja dok." Sofia tersipu. Maya memang tipe wanita yang sangat teliti.


"Dokter bisa saja. Permisi, saya visit pasien dulu ya dok." pamit Sofia sopan. Maya mengiyakan, mereka sama-sama berpisah setelah percakapan kecil itu.


Hampir tengah malam saat Sofia duduk menyandarkan tubuhnya di dinding. Dia ingin beristirahat sebentar sebelum Maya atau Ronald bangun dan menggantikan dirinya. Mereka memang memilih tidur duluan. Hanya ada dua perawat jaga yang menemaninya.


Diusapnya benda pipih ditangannya itu. Ingin rasanya dia menelepon atau sekedar mengirimkan chat pada Nando, tapi apa dia berani? Kejadian dalam mobil itu kembali berputar dikepalanya. Dia harus minta maaf pada Fernando karena dia memang berhak marah saat itu. Bukankah tidak seharusnya dia melawan keinginan suaminya? mungkin Bella benar, dia harus banyak bersyukur.


Tangannya bergetar begitu membuka aplikas warna hijau itu. Mengumpulkan segenap keberanian, dia mulai menekan tombol hijau pada kontak Fernando. Jangan tanyakan bagaimana dirinya saat ini. Tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin entah untuk apa. Beberapa kali tak ada jawaban hingga Sofia memutuskan mengurungkan niatnya. Mungkin Nando memang masih marah padanya.


Ting...


Sofia terbelalak mengetahui pengirim pesan yang barusan masuk di ponselnya.


ada apa?


Hanya itu yang ada disana. Berulang kali Sofia mengetik dan menghapus balasan chat itu, namun dia semakin bimbang untuk menulisnya.


Maafkan aku


Lama tak ada jawaban meski tulisan sudah berubah ke centang biru pertanda Nando sudah membacanya. Sofia hanya bisa diam. Tak lagi berusaha menunggu atau mengirimkan chatt balasan pada suaminya. Dia yang belum pernah pacaran bahkan tidak tau bagaimana membuka sebuah percakapan. Sepertinya Nando juga tak begitu suka saat Sofia menghubunginya. Terlihat, pria itu begitu acuh sekarang.


Menarik nafas panjang, Sofia mencoba berdamai dengan hatinya. Bukannya tadi Bella juga bilang bahwa dia butuh semangat baja untuk meruntuhkan pertahanan Fernando? Dia juga harus agresif untuk mendekati sang pria. Tidak ada yang salah bukan? toh Nanndo adalah suami sahnya. Dia punya hak bermanja-manja padanya tanpa harus malu atau menjaga gensinya.


Aku merindukanmu


Seketika pipi Sofia merona saat mengetikkan kata itu. Sungguhkah begitu? ya...dia memang sangat merindukan seorang Fernando satria hutama.