Dear Husband

Dear Husband
Darah



Sofia membiarkan air matanya jatuh satu demi satu ke pipi kuning langsatnya. Tak ada niat menyeka atau menghentikannya. Demikian pula Nando yang hanya menatapnya lekat tanpa kata


"Apa aku salah berkata?" bisiknya pelan dengan wajah bingung. Sofia menggelengkan kepalanya. Yang dia lakukan hanya kembali memeluk erat suaminya dan membenamkan kepalanya di dadanya, mencari kehangatan di dada telanjang itu. Hanya detak jantung Nando dan belaian tangannya dirambut terurainya yang dia rasakan.


Andai saat ini yang dikatakan Nando tentang perasaannya adalah kebohongan, dia rela dibohongi. Andaipun hanya untuk menyenangkan hatinya, maka dia akan dengan senang hati menerimanya. Bagaimanapun Fernando adalah cinta pertamanya walau pria itu seorang duda. Dia mungkin bukan yang pertama, tapi berharap jadi yang terakhir dan satu-satunya dihati suaminya. Hampir saja dia merasa Kisah hidupnya mirip lady Diana yang dicintai banyak orang tapi sama sekali tidak mendapatkan cinta suaminya, sang pangeran yang jadi cinta pertamanya. Seorang wanita cantik jelita yang bahkan harus menyerah pada seorang Camila, cinta pertama suaminya. Diana yang malang, Diana yang hanya jadi korban perjodohan kalangan bangsawan.


"Sofia????"


"Ya."


"Apa kau mau mengabulkan permintaanku?" Pelan, Sofia mendongakkan kepalanya. Menatap Fernando yang juga menatap lurus kepadanya dengan mata teduh.


"Berhentilah kuliah."


"A..apa...apa maksudmu?" tentu saja Sofia begitu terkejut pada permintaan Nando yang membuatnya tertekan. Bagaimanapun menjadi dokter spesialis adalah cita-citanya sejak dulu. Dia begitu bahagia karena terjaring program pemerintah itu dan bertekad lulus secepatnya.


"Ke..kenapa kau memintaku berhenti?" Nando menangkup kedua pipinya dengan tangan besarnya.


"Karena ada nyawa lain dalam perutmu. Dia butuh perhatian dan perawatan ekstra. Kau tak boleh terlalu capek."


"Aku yakin bisa menjaganya tetap sehat walau aku bekerja sambil kuliah mas. Kau harus percaya itu." Kali ini Sofia mencoba meyakinkan Nando karena dia bukan wanita lemah yang mudah capek, lemah atau menyerah. Dia calon ibu yang sekuat baja.


"Padahal aku tidak meminta apapun darimu. Aku hanya ingin kau banyak dirumah dan memperhatikan calon bayi kita. Aku tidak pernah memintamu berhenti jadi dokter maupun abdi negara walau aku ingin. Aku cukup tau keinginan dan cita-citamu Sofia. Aku hanya ingin kau fokus.....ahh baiklah jika kau memang tidak ingin menurutiku." Nando melepaskan jemarinya berlahan.


"Bukan itu maksudku mas. Kesempatan ini...aku sudah lama menantikannya. Tolong ijinkan aku tetap kuliah."


"Aku bahkan masih sanggup menguliahkanmu di universitas terbaik manapun jika kau mau, tanpa ikut program itu." gumam Nando dengan tatapan menerawang. Terlalu banyak luka dan kenangan yang kembali berputar di kepalanya.


"Tapi ini impianku mas." Sofia kembali bertahan pada pendapatnya.


"Aku juga pernah membantumu mewujudkan impianmu Sofia." Wajah Sofia berubah garang saat Nando mengatakannya. Ada rasa tidak terima pada perkataan suaminya itu. Dia tau Nandolah yang sudah membantunya lulus S1 dan menjalani masa jadi koas yang lumayan lama, tapi kenapa dia mengungkitnya sekarang?


"Jadi kau ingin mengatakan aku berhutang budi padamu dan sekarang aku wajib membayarnya dengan menurutimu? Begitu? Kau sungguh naif mas. Kau bahkan memberikan apapun untuk Emma tanpa meminta apapun dari dia, tapi padaku?? Kenapa tidak sekalian kau ungkit semua pemberianmu pada adik-adik dan orang tuaku? atau sumbangan pada desaku hingga aku akan lelah membayarnya padamu seperti Emma yang lelah berada disampingmu." Fernando mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. Giginya bergemletuk menahan amarah. Cepat dia bangkit dari atas ranjang Sofia.


Kenapa nama itu kembali disebut dan dikaitkan saat dia ingin membuka lembaran baru dengan wanita baru dalam kehidupannya kini? kenapa dia selalu mencintai wanita yang salah? sekuat tenaga Nando memukul cermin di depannya hingga terdengar bunyi yang memekakkan telinga. Tangannya terluka, penuh darah tapi tak sesakit hatinya yang juga berlumuran darah. Lahir sebagai tuan muda kaya raya, tampan dan punya segalanya tetap tak bisa membeli kebahagiaan dan sebuah cinta untuk dirinya. Dia tetap hampa, sendiri dan menyedihkan. Nando terduduk lemas disudut kamar. Tak dia hiraukan tetesan darah yang mengotori lantai dan pakaiannya. Jiwanya kosong, terluka dan hampa. Teriakan kerasnya membahana memenuhi seisi kamar. Tak ada gunanya lagi membuka hati, mungkin memang seluruh hidupnya akan habis ditelan kegelapan dan nestapa.


"Apa yang terjadi?? Ohh astaga...tuan muda." pekik Alex yang langsung menghampiri sang tuan muda. Baru saja dia keluar dari ruang kerja Nando untuk mengantarkan beberapa berkas, tapi telinganya mendengar bunyi berisik dari kamar sang tuan muda yang pintunya belum terkunci seperti semestinya.


"Biarkan aku sendiri Lex." perintah Nando liriih. Alex menghentikan langkahnya, urung mendekat karena mematuhi perintah. Tapi dia begitu mengkhawatirkan keselamatan majikan sekaligus saudara iparnya itu. Tapi dia bisa apa? Sedikit membungkuk dia kembali kearah pintu dan keluar dari sana. Langkah panjangnya menuntun dirinya ke kamar Sofia dilantai satu.


"Kak." panggilnya saat melihat Sofia menangis dikamarnya yang setengah terbuka. Wanita itu menatapnya lalu menghampirinya.


"Ada apa?" kali ini suara serak Sofia mendominasi. Matanya masih merah, demikian pula hidungnya. Alex tau jika pasangan ini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


" Kak Nando terluka."


"A ..apa?? ke..kenapa?" panik, hanya itu yang terjadi pada Sofia. Mendengar suaminya terluka saja sudah sangat membuatnya ketakutan. Tanpa pikir panjang tangannya menarik kotak P3K lalu berlari ke atas secepatnya, membuka pintu kamar Nando.


"Astaghfirullahaladzim...apa yang kau lakukan mas?!! pekiknya hingga membuat Nando menoleh dan melayangkan tatapan membunuh padanya.


"Pergi!" sentak Nando dengan mata berkilat marah, tapi sama sekali tak menyurutkan langkah Sofia untuk mendekat. Sang nyonya muda malah makin mendekat.


"Pergi kataku!!" teriak Nando keras hingga Alex berjingkit kaget. Dia tidak pernah melihat sang tuan semarah dan sehancur ini karena wanita.


"kak ...ayo..."


"Kau pergilah."


"Tapi...


"Dia suamiku Lex, dan aku tidak ingin pergi darinya." Kali ini Sofia memaksa meraih tangan Nando yang terluka, namun berhasil dihempaskan dengan kuat oleh Nando hingga tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh.


"Pergi kalian berdua!!" teriak Nando lagi sambil berdiri menuju pintu. Sofia memburunya dan memeluk tubuh tegap itu dari belakang. Tangisnya pecah.


"Mas...tenangkan dirimu. Demi bayi ini...calon anakmu...anak kita." ucap Sofia terisak. Tubuh Nando menegang, tak bergerak dari tempatnya. Alex yang cukup tau diri berinisiatif keluar dari kamar. Memberi ruang bagi pasangan suami istri itu untuk menyelesaikan masalah mereka. Dia yakin, baik Nando maupun Sofia sudah cukup dewasa untuk menghadapi masalah.