Dear Husband

Dear Husband
Minggu kelabu



Tujuh bulan berlalu sejak kepulangan Sofia dari rumah orang tuanya. Dia yang cukup bahagia dengan pembangunan klinik pengobatan gratis yang dibangun Nando untuk mewujudkan mimpinya menjadi lebih mengenal sifat suaminya yang memang sedikit bicara tapi lebih banyak bekerja. Pria itu tidak pernah berkata manis pada siapapun, tapi selalu melakukan tindakan pada tiap hal.


Sofia mengelus perutnya yang membuncit. Ini awal bulan kedelapan kandungannya. Bukan hanya perutnya yang makin besar, tapi tubuhnya juga sudah amat melar dengan pipi yang chuby dan menggemaskan. Nando yang menyarankan agar dia cuti lebih awal juga jadi kelimpungan karena Sofia bersikeras akan mengambil cutinya di bulan ke sembilan hingga memiliki waktu lebih banyak bersama si kecil dirumah. Dia yang biasanya bertugas di UGD juga berpindah ke poli dan punya lebih banyak waktu beristirahat seperti sekarang.


Di depannya kini ada laptop yang menyala. Ponselnya juga belum lama mati setelah Elle melakukan video call. Gadis kecilnya itu tidak pernah melupakannya walau sudah tinggal bersama Bella dan Aling. Bella memasukkannya ke sekolah plus didekat kediaman Alex hingga sore hari bersama Aling putrinya. Keduanya juga terlihat bahagia bermain bersama walau Sofia belum bisa mengunjunginya seperti biasa. Ya, Sofia dan Nando rutin datang tiap minggu pagi dan pulang malam hari demi menengok Elle.


"Elle bilang apa Fi?" Nando muncul dari pintu ruang kerjanya bersama Alex yang langsung mohon diri, takut menganggu hari libur iparnya.


"Cuma bilang kalau dia kangen kita. Minggu depan Bella akan mengantar anak-anak menginap disini."


"Baguslah." balas Nando ringan. Tangannya mengelus permukaan perut wanitanya penuh kelembutan lalu berjongkok untuk sekedar menyapa sang calon bayi.


"Anak dady sayang..kamu lagi ngapain nak?" sebuah tendangan kuat membuat Sofia meringis. Bayinya ini begitu agresif saat dadynya menyapa atau berinteraksi dengannya. Mungkin karena dia calon anak laki-laki walau sebenarnya dia sangat menginginkan bayi perempuan. Anak perempuan sangat dekat dengan ayahnya bukan? Bahkan menganggap sang ayah adalah sosok cinta pertamanya. Dan Nando ingin anaknya selalu dekat dengannya. Ya, Nando yang tidak sabaran sudah melakukan USG sejak kandungannya baru berusia 5 bulan.


"Ohh..jagoan dady, jangan sakiti momymu ya. Kasihan dia. Lihat, momy sampai meringis begitu." ujarnya lagi sembari mengecupi permukaan perut istrinya.


"Sayang, boleh minta tolong?"


"Apa mas?"


"Ada relasi bisnisku ingin meeting di hotel Azzam. Bisakah kau menemaniku kesana?" Sofia sudah tidak aneh lagi mendengarkan permintaan suaminya. Sejak mereka kembali ke Jakarta beberapa bulan lalu, pria ini bahkan tidak mau sendiri saat kemana-mana. Apalagi jika bertemu klien wanita, dia akan selalu mengajak istrinya, bahkan rela menyesuaikan jadwal meetingnya dengan jam kosong istrinya jika Alex berhalangan seperti sekarang.


"Tapi mas, lihat keadaanku. Apa kau tidak malu membawaku bertemu relasimu?" Sofia yang sekarang memang cenderung pasif dan tidak percaya diri karena bentuk tubuhnya yang aneh.


"Malu kenapa?? sayang..kau sangat seksi." bisiknya sensual ditelinga sang istri. Sofia menghadiahi sang suami dengan cubitan kecil hingga Nando meringis sepertinya.


"Jangan merayuku."


"Merayu apanya? jelas kau sangat seksi dan...hot. Kau membuatku menginginkanmu setiap saat."


"Mau ya?? sayang please...." mana bisa Sofia menolak wajah penuh harapan didepannya. Wajah innocence dan pupy eyesnya selalu membuatnya tak bisa berkata apa-apa selain setuju.


"Baiklah." Nando langsung berdiri dan memeluk erat Sofia, tak ketinggalan mengecup bibir dan keningnya sekilas sebelum duduk disampingnya dan memeluk bahunya.


"Lagian kenapa hari minggu sih mas? bukannya sejak kita menikah kamu tidak kerja dihari minggu ya?"


"Besok mereka sudah kembali ke Singapura. Maafkan aku sayang, mungkin ini akan membuatmu tidak nyaman." sepenuh hati, Nando mencium lembut punggung tangan Sofia, membuat wanita cantik itu tersipu. Selalu begitu...Nando seolah punya sisi lain dalam dirinya sejak dia mengandung buah hati mereka. Pria dingin ini berubah menjadi lembut dan sangat romantis. Sofia selalu berdoa semoga selamanya dia begitu.


"Tidak apa-apa." pungkasnya kemudian.


"Apa kau ingin mampir kesuatu tempat? atau kau menginginkan sesuatu? ayolah sayang..kau sama sekali tidak ngidam seperti wanita hamil diluar sana. Mintalah sesuatu, suamimu ini pasti akan mengabulkannya." bujuk Nando yang selalu khawatir akan sikap istrinya yang tidak pernah ngidam. Dia takut sang bayi didalam sana kenapa-napa.


Sofia bukannya tidak ngidam, hanya Nando yang tidak menyadarinya karena yang dia inginkan bukan suatu barang atau makanan tertentu. Sofi hanya bisa tidur jika Nando sudah memeluk dan mengelus kepalanya. Anehnya, dokter cantik itu juga tidak bisa jauh-jauh dari suaminya. Dalam bayangannya adalah si kecil akan 99% mirip dadynya.


"Aku tak ingin apapun." Sofia menyusupkan kepalanya ke dada bidang sang suami yang akan dengan senang hati membelai dan mengecup pucuk kepalanya, bercerita banyak hal hingga membuat istrinya tertidur dalam dekapannya. Tipe suami penyayang.


Malampun tiba. Sofia sudah mematut dirinya didepan cermin. Tubuh berisi dan perut membesarnya sudah terlihat rapi dalam balutan gaun hitam dengan aksen renda dan lipit dilengkapi dengan jilbab cantik berwarna keabuan, senada dengan kemeja yang dipakai Nando malam itu. Hanya pakaian semu formal mengarah ke kasual, tapi sungguh membuat lelakinya menjadi teramat tampan. Sofia mengelus perutnya.


"Sayang, semoga nanti kamu akan mirip dady tampanmu." gumamnya lirih, namun membuat Nando bergerak cepat memeluk dan melakukan hal yang sama pada perutnya.


"Akhirnya momymu mengakui kalau dadymu ini amat tampan. Baiklah...kau boleh setampan dadymu, tapi kau harus sepintar momymu sayang, agar kau jadi perpaduan sempurna kami." bisiknya sensual. Sofia hanya menundukkan kepalanya, entah sejak kapan suami dinginnya itu jadi tukang gombal.


"Ayo." ajak Nando menuntun Sofia keluar dari kamar dadakan mereka dilantai satu. Sejak memasuki bulan ke tujuh Nando sudah memutuskan pindah kamar karena tak ingin Sofianya kelelahan.


Mereka tiba di area hotel satu jam kemudian. Kemacetan begitu mendominasi jalanan malam itu. Nando masih menutup pintu mobil yang berada di depan lobi sebelum sopir membawanya pergi ke parkiran. Anehh, hotel yang biasanya ramai itu terlihat sepi. Dengan senyum lebar, dia membawa Sofia masuk saat tiba-tiba sebuah mobil warna hitam bergerak cepat melintasi lobi dan menabrak keduanya keras dan berlalu dengan kencang tanpa sempat dicegah. Nando berguling-guling diatas aspal, sedang Sofia terpelanting jauh darinya.


"Sofiiiiaaaaaaaa...!!!!" teriaknya keras lalu berari ke arah istrinya, tak peduli pada luka ditubuhnya.