Dear Husband

Dear Husband
Suapi aku



Fernando menatap wajah tenang Sofia yang tertidur lelap dalam pelukannya. Begini saja...ya, begini saja sudah cukup baginya. Mendekap wanita yang dia rindukan dua bulan belakangan, mengelus perut dimana bayinya bersemayam dan menatap wajah ayu itu tanpa takut kehilangan.


Gerakan Rafa yang cukup kuat mengubah posisi tidurnya dari terlentang menjadi tidur nyaman memeluk guling yang merapat ke tembok kamar mengusik tidur Sofia. Ya, kamar itu memang didesain demikian oleh sang mertua. Berlahan dokter cantik itu membuka matanya. Sontak dia terdiam saat menyadari sebuah lengan kekar sudah memeluk pinggangnya lengkap dengan kaki yang mengunci pahanya agar tak bisa bangkit. Jangan lupakan netra blue ocean yang menatapnya entah dengan artian apa. Sofia menundukkan wajahnya. Sebuah gerakan salah yang sempat membuatnya meruntuk dalam hati. Bagaimana tidak? dia menghindari bersitatap dengan Fernando, namun malah disuguhi pemandangan yang membuatnya kesulitan menelan ludahnya sendiri. Bagaimana tidak, iris coklatnya langsung bersitatap dengan dada bidang dengan perut sickpack yang amat dia rindukan.


"Bisa lepaskan aku? aku ..aku mau ke kamar mandi." ujarnya terbata. Bukannya melepaskan, Nando malah mempererat pelukannya.


"Aku tidak mau!" tegas Nando datar. Mau tak mau Sofia menatap suaminya.


"Lalu apa maumu?" Fernando diam sesaat, berusaha berpikir cepat untuk tetap menahan dokter cintanya berada disisinya.


"Aku suamimu. Minta dengan benar. Kau sama sekali tidak sopan." gerutu Nando tanpa mengalihkan tatapan elangnya. Terus terang jantung Sofia berpacu cepat karenanya. Kerinduan itu amat sulit dia sembunyikan. Api cinta itu bahkan berpijar bak lava gunung berapi yang akan erupsi.


"A...aku sudah minta dengan benar." salah tingkah dan tergagap adalah kelemahan Sofia yang mendasar. Hanya dengan mendengar suaranya saja Fernando jadi tau jika istrinya itu sedang salah tingkah. Moment yang sama sekali tak ingin dia lewatkan.


"Benarkah? yang kudengar kau malah bersikap tak menghargai suamimu. Mana ajaran ibu yang menyuruhmu berbakti pada suami? jangan-jangan kau ingin kuingatkan sekali lagi." Fernando bergerak berlahan mendekatkan kepalanya, namun pria berdarah Eropa itu harus menelan kekecewaannya karena jemari Sofia sudah lebih dulu menutup bibirnya.


"Jangan mencoba mencari kesempatan didalam kesempitan tuan muda Hutama. Aku diam bukan berarti aku memaafkan atau mau menerimamu kembali. Bukannya dari awal aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak ingin di duakan?" desis Sofia dengan wajah dingin. Nando menjauhkan wajahnya, melepas pelukannya pada tubuh Sofia, juga kungkungan kakinya. Sofia segera duduk diikuti oleh Nando.


"Kau bahkan sama sekali tak ingin menyebut namaku Sofia. Aku tidak pernah menduakanmu. Tak akan ada perselingkuhan atau perpisahan dalam rumah tangga kita. Itu janjiku." tegas sang tuan muda dengan mimik serius. Sayangnya Sofia tak menggubris perkataannya. Wanita itu memilih segera turun dari tempat tidurnya, mandi.


Tak lama wanita muda nan jelita itu keluar dengan daster rumahan bermotif bunga sebatas lutut yang menampilkan kaki jenjangnya. Tak sekalipun dia ingin melihat atau sekedar melirik Fernando yang terus menatapnya intens. Dia melenggang turun lalu menuju dapur.


Maria dan Hena sudah menyambutnya di dapur. Kedua wanita muda itu sama-sama kompak meski jarang bertemu karena bekerja ditempat berbeda meski sama-sama berada pada keluarga Hutama.


"Selamat pagi nyonya muda." sapa keduanya ramah. Sofia mengangguk sembari tersenyum ramah.


"Kalian bikin apa?" Asap dan aroma masakan yang tercium dari dalam panci membuat Sofia tertarik. Sepertinya wangi.


"Anu nyonya..kuah bakso." jawab Maria malu-malu. Selama berada di kediaman Fernando dia memang tak pernah memasak. Pekerjaannya hanya sebagai baby sitter Elle hingga ke Rafa. Sedang Hena...dia juga sama saja. Tak pernah menyentuh dapur karena hanya sebagai pengawal untuk Fransisca saja.


"Ehh..i..iya nyonya." Maria makin salah tingkah saat Sofia mengambil sendok besar dan mencicipi masakannya.


"Ini terlalu asin. Tambahkan sedikit air dan penyedap rasa." Keduanya segera menuruti saran Sofia. Pantas saja kuah itu terasa pahit, terlalu asin rupanya.


"Nyonya mau masak juga? atau..mau makan bersama kami?" tanya Hena hati-hati. Sofia menggelengkan kepalanya.


"Bukannya tidak mau sarapan bersama kalian, tapi dadynya Rafa ada disini. Kami akan sarapan bertiga diatas. Kalian tidak usah tegang. Tuan Fernando tak akan menjahati kami." tentu saja keduanya menghembuskan nafas lega mendengar perkataan Sofia. Hal yang mereka takutkan ternyata tak teejadi. Sofia malah akan memasak untuk suami dan anaknya.


Satu jam kemudian, Sofia sudah menyelesaikan capjay goreng kesukaan sang suami juga bubur ayam untuk Rafa yang sedang dalam masa pemulihan. Dia memberikan dua porsi kecil untuk Maria dan Hena sebelum membawa nampan ke atas. Dibelakangnya, Maria mengikuti dengan nampan lain berisi kopi susu dan segela susu hamil untuk majikannya.


"Letakkan saja disini Maria. Lalu pergilah sarapan. Kalian bisa bersantai hari ini." Sofia menunjuk sebuah meja makan persegi empat yang menghadap ke halaman belakang tempatnya biasa bersantai selepas seharian bekerja sambil belajar. Makan sambil menatap rerumputan dibawah sana punya sensasi tersendiri baginya.


"Saya permisi nyonya." pamit Maria lalu segera turun saat Sofia sudah menganggukkan kepalanya. Setelahnya, dia memasuki kamarnya. Alangkah terkejutnya Sofia saat mendapati putranya sudah bersih dan wangi dengan setelan baju bermainnya. Disampingnya sang dady juga tampak segar dengan celana pendek dan kaos oblong berwarna putih yang entah dari mana dia dapatkan.


"Cepatlah sarapan, aku sudah menyiapkan makanan diluar." ucap Sofia sambil berusaha meraih Rafa dan menggendongnya. Tapi tangan itu sudah ditepis halus oleh Fernando.


"Biar aku saja. Kau sedang hamil, jaga bayi kita baik-baik." lirih Nando sambil berjalan keluar lebih dulu. Pria itu bahkan menyuapi Rafa dengan telaten.


"Sofia aku ingin meminum kopiku."


"Minumlah." ucap Sofia seraya mengangsurkan gelas kopi pada suaminya. Tapi Nando menatapnya dingin.


"Apa kau tak lihat aku sedang menyuapi Rafa??" katanya dengan nada ketus. Sofia menghela nafasnya dalam.


"Lalu apa maumu?" tanyanya malas berdebat. Nando tiba-tiba menjadi sosok menyebalkan pagi itu.


"Minumkan lalu suapi aku." perintah Nando tegas. Sofia hingga dibuat melongo karenanya