Dear Husband

Dear Husband
Sengaja



"Kak Nando keracunan." ucap Shandy dengan wajah seriusnya. Sofia yang penasaran mendekati brankar suaminya dan mencoba memeriksa sendiri keadaannya. Benar, Fernando terindikasi keracunan dengan tingkat parah.


"Tolong lakukan cek lab. Aku harus tau racun apa yang masuk ke dalam tubuh suamiku. San, dia tak mungkin meneggak racun sendiri karena aku tau mas Nando bukan pria seperti itu."ucap Sofia tak kalah serius. Shandy menurutinya, segera mengambil sampel darahnya dan menyuruh seorang perawat jaga untuk membawanya ke laboratorium.


"Analisamu bisa benar, bisa juga salah." lanjut Shandy sambil mencuci tangan di wastafel.


"Salah?" ulang Sofia tak mengerti. Dia memilih duduk di tepi ranjang suaminya sambil menunggu Shandy mengeringkan tangannya dengan kain lap.


"Enam bulan berlalu tanpa kau sama sekali mau tau. Kak Nando sedang tidak baik-baik saja selama itu." Shandy memulai ceritanya dengan tatapan menerawang.


"Apa maksudmu Shan?" Rasa ingin tau Sofia berbanding terbalik dengan keadaannya beberapa jam lalu. Jika dulu dia begitu sensitif saat ada yang membicarakan suaminya, sekarang dia malah ingin tau lebih banyak soal kehidupan lelakinya saat jauh darinya.


"Om dan tante sudah mencabut semua investasi mereka dari Hutama grup sejak kau pergi ke Jogya. Mereka bahkan membarikade semua perusahaan yang ada ingin bekerja sama dengan kak Nando. Dia dalam kesulitan besar saat ini."


"Tapi..tapi kenapa mama dan papa melakukan semua ini?" tentu saja Sofia dibuat kaget karenanya. Dia tak mengira mertuanya akan berlaku sebegitu kejamnya pada anak kesayangan mereka hingga seperti ini. Pantas saja suaminya terlihat semakin kurus dan tertekan.


"Tante Fransisca hanya ingin dia minta maaf dan membawamu pulang...."


"Aku?? apa dia sebegitu benci padaku hingga tak berniat sama sekali membawaku kembali? kenapa tidak memberitahuku? jika dia bilang apa masalahnya aku tentu akan kembali. Dia ..dia sudah banyak berjasa dalam kehidupanku dan keluargaku Shan. Aku berhutang budi padanya." Air mata Sofia luruh. Dibelainya pipi sang suami yang terlihat tirus. Membayangkan lelaki itu hidup dalam masalah saja sudah membuatnya sesak.


"Bukannya dia sudah pernah menjemputmu? kau bahkan menolak pulang."


"Tapi dia sama sekali tidak cerita apapun padaku Shan."


"Sudah tentu dia tak akan cerita. Dia tak ingin membebanimu yang sedang hamil. Dia juga tak ingin kau kembali karena terpaksa." Sofia terisak.


"Bisa aku minta dia dipindah ke ruang perawatan?" pinta Sofia yang merasa tak nyaman berada di ruangan itu. Dia sama sekali tak leluasa bicara karena takut ada orang yang mendengar masalah keluarganya.


"Tapi dia belum stabil Sofia."


"Aku yang akan mengawasinya Shan. Kau harus ingat jika aku adalah dokter aktif karena belum mengajukan cuti melahirkan." Tegas Sofia, membuat Shandy mengabulkan permintaannya. Dia cukup tau kemampuan mantan mahasiswinya itu.


"Baik. Tunggu sebentar." dan Shandy segera mengurus prosedur agar Fernando dibawa ke ruangan VIP. Dokter tampan itu juga meninggalkan pekerjaannya untuk menemani Sofia dan Hena menuju kamar perawatan.


"Hena, kembalilah ke hotel. Bawa Rafa dan Maria istirahat." perintah Sofia pada sang pengawal begitu menyadari jika putranya masih berada di ruang tunggu. Rafa pasti capek dan mengantuk. Membawa si kecil itu kemari malah akan berdampak tidak baik padanya.


"Tapi bagaimana dengan anda nyonya?" tentu saja Hena tak bisa pergi begitu saja karena Fransiscalah yang menugaskan dirinya. Dia tak ingin kecolongan yang berakibat fatal untu diri majikannya atau pada dirinya.


"Tapi....."


"Hena dengar...dia sepupu suamiku. Dan jika kau masih was-was meninggalkan aku, akan kuberitau kau satu hal. Dokter shandy ini juga seorang prajurit aktif juga dosen di fakultasku. Dan ya...jika kau berminat, dia masih lajang." Shandy tersenyum tipis melihat Hena yang langsung menundukkan pandangannya dengan pipi merona.


"Baik nyonya, saya permisi dulu." putusnya kemudian. Hena semakin menunduk saat tatapan mereka kembali bertemu.


"Jangan bilang kau tertarik dengan Hena Shan." tegur Sofia saat melihat Shandy masih saja menatap ke arah pintu saat pengawalnya itu sudah menghilang dari sana.


"Kalaupun aku tertarik, itu hal manusiawi Sofia. Kami sama-sama lajang." balas Shandy enteng. Memang tidak, Hena juga wanita yang baik dan amat bertanggung jawab pada diri dan pekerjaannya. Tapi Shandy? tidakkah nanti dia akan dicemooh banyak orang dengan menikahi seorang pengawal saja? Padahal dia masih bisa menikah dengan siapapun dengan latar belakang lebih baik seperti dirinya.


"Jangan berpikir soal strata sosial Sofia. Aku sama sekali tak pernah menyukainya. Aku bahkan tak hidup dari omongan orang lain. Jadi..stay cool saja. Tapi rasa-rasanya aku memang harus mengejarnya."


"Itu terserah kau saja." ucap Sofia yang lebih fokus pada keadaan suaminya yang terbaring tak berdaya.


Ketukan di pintu mengalihkan fokus mereka. Seorang perawat datang membawa hasil lab suaminya yang langsung diterima dan dibaca oleh Shandy.


"Kak Nando terkena racun arsenik yang dia konsumsi tiap hari." kata Shandy dengan dahi mengerut.


"Itu tidak mungkin. Mas Nando tak akan melakukan hal yang akan dilaknat Allah walau dalam kondisi susah sekalipun. Aku mengenal suamiku Shan. Dia tak mungkin bunuh diri."


"Apa kau berpendapat jika dia sengaja di bunuh pelan-pelan dengan racun itu?" tanya Shandy menyelidik.


"Apa makanan terakhir yang masuk ke dalam perutnya?" Shandy mengulurkan kertas itu agar Sofia bisa membacanya.


"Kopi.......artinya mas Nando benar-benar sengaja ingin dibunuh."


"Apa maksudmu?"


"Mas Nando tak pernah minum kopi diluar. Aku harus pulang Shan. Tolong jaga suamiku."


"Tapi kau sedang hamil Sofia. Ini berbahaya untukmu juga janin dalam perutmu." Shandy berusaha mengingatkan. Namun Sofia kukuh pada pendiriannya. Pria itu baru bernafas lega saat melihat Alex datang dan membuka pintu tergesa.


"Baik, aku akan menjaganya. Kau pergilah bersama Alex."