
Hari-hari yang melelahkan untuk seorang Sofia menjadi sosok ibu dalam kondisi lumpuh walau sementara. Fokusnya bukan hanya anak dan suami tapi juga kesembuhannya. Yang bisa dia lakukan hanya bersabar, berlatih dan terus berusaha. Tanpa kenal lelah dirinya melakukan semua saran dokter yang menanganinya. Semangat dan dukungan juga terus mengalir dari kedua mertua, ipar, adik dan orang tuanya. Tapi lebih dari semuanya, Fernando adalah sosok suami terbaik yang berada disisinya.
Suami dinginnya itu selalu memperhatikan dan memberi yang terbaik baginya. Dia tidak pernah lupa tugasnya memandikan istri dan juga menggendong putra tampannya setiap hari, tanpa keluhan sedikitpun.
Sore itu Alex mengantar sang tuan muda pulang ke kediamannya dan langsung membawa beberapa laporan ke ruang kerjanya. Sedang sang tuan muda masih setia memeluk istri cantiknya dengan segenap rasa syukur. Ya, hari ini pertama kalinya Sofia bisa melangkah tegak diatas kakinya sendiri tanpa pertolongan seseorang atau tongkat penopang seperti biasanya. Walau harus beberapa kali berhenti dan duduk di kursi yang terus menerus di seret Maria dibelakannya, namun dia sampai juga ke arah pintu dan menyambut kedatangan suaminya.
"Alhamdulilah sayang...usaha kita berhasil." pekik Nando. Seluruh pelayan yang berbaris di belakang Sofia juga tersenyum bahagia melihat perkembangan kesehatan sang majikan yang sudah teramat baik pada mereka.
"Capek ya??" Sofia menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak merasa capek. Hanya rasa ngilu yang berulang kali dia tahan. Dokter bilang itu hal yang wajar bagi penderita kelainan seperti dirinya. Hanya butuh terbiasa dan melamaskan otot saja.
"Bik, bisa tolong ambilkan minuman untuk kami?" Nando kembali menuntun istrinya ke sofa besar yang menghadap jendela taman samping rumah.
Bi Sarla pergi ke dapur disusul yang lainnya sedangkan Maria menuju kamar baby Rafa. Sudah kebiasaan Nando yang akan mencari putranya sepulang kerja.
"Silahkan tuan, nyonya." bi Sarla datang membawa dua cangkir teh hangat pada mereka.
"Terimakasih ya bi."
"Sama-sama nyonya. Apa anda butuh sesuatu?"
"Tidak bi."
"Kalau begitu saya kembali ke dapur nyonya. Permisi." Sofia mengiyakan. Maria datang dari kamar darurat mereka dilantai satu dan menyerahkan Rafa pada sang nyonya lalu berpamitan ke kamarnya. Nando memang tidak mau bersentuhan dengan wanita lain walau itu seorang pembantu rumah mereka. Jika ingin mengambil Rafa, itu harus dari tangan istrinya, atau dari tempat lainnya tanpa disentuh orang lain.
Hanya butuh beberapa detik ketika tubuh Rafa yang mulai gembul berpindah ke tangannya. Nando dengan gemas menciumi putranya yang juga tertawa lucu padanya.
"Minumlah tehnya dulu mas, nanti keburu dingin kalau kamu bermain dengan Rafa terus." Nando hanya melirik Sofia yang mengambil cangkirnya, lalu dengan isyarat penuh kemanjaan dia menyuruh sang istri mendekatkan cangkir ke bibirnya. Tiba-tiba ingin minum dari tangan istrinya.
"Tiba-tiba aku merasa punya dua bayi sekarang." gumam Sofia namun disambut tawa ringan Nando. Sejak Rafa lahir, suaminya itu jadi mudah sekali tertawa, bicara juga berekspresi. Dia yang biasanya hanya bicara seperlunya, memasang wajah datar dan sangat menjaga jarak dengan orang lain menjadi berubah 180 derajat. Sekarang dia sudah mulai berbagi senyum dengan penghuni rumah juga sangat intim dengan istrinya tanpa merasa risih atau menjaga imej yang seperti biasa dia lakukan.
"Bedanya Rafa minum susu langsung dari pabriknya, sedang aku yang sekarang harus minum susu dari gelas saja." Sofia mencubit kecil lengan suaminya karena gemas.
"Memangnya kamu mau rebutan sama Rafa mas?"
"Memangnya boleh?" hampir saja tawa Sofia meledak melihat ekspresi memohon Nando. Selama Rafa lahir hingga sekarang mereka memang belum pernah berhubungan. Nando tak tega melihat istrinya yang masih sakit apalagi masa nifasnya masih beberapa hari lagi.
"hmmmm."
"Bolehkan?" Sofia yang merasa geli melihat ekspresi suaminya menangkup kedua pipinya dan menatapnya dalam.
"Apa kau menginginkannya hubby?" bisiknya lirih. Seketika kesadaran Nando kembali. Dia tidak akan tega menggauli Sofia dalam kondisi demikian. Sudah menjadi komitmennya untuk menjaga Sofia hingga sembuh nanti meski dia juga pria normal yang punya hasrat. Tapi sampai kini dia masih bisa menahannya.
"Bukankah aku sudah berjanji menunggumu sembuh sayang?"
"Mau dipakai juga belum boleh hubby. Kamu harus bersabar beberapa hari lagi." Nando mengangguk. Dia cukup paham keadaan istrinya.
Hampir satu jam bercengkrama, mereka memutuskan masuk ke kamar. Nando harus membersihkan diri, Rafa juga harus ditidurkan karena sudah tertidur dalam gendongan dadynya. Entah kenapa si gembul mudah sekali tidur saat merasa kenyang.
Sofia menyiapkan pakaian ganti suaminya dengan bantuan sebuah tongkat yang menopang tubuhnya.
"Oohh mas, ini baju gantimu." Sofia mengulurkan satu stel pakaian ganti untuk Nando saat sang suami keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk saja. Sekarang sudah tidak ada lagi mandi dalam durasi lama seperti saat melajang atau menduda dulu. Mandi dalam versi Nando sekarang adalah cepat, bersih dan berangkat. Yang tadinya satu jam jadi sepuluh menit saja. Perubahan yang cukup drastis bukan?
Sebuah benda kenyal menempel di bibir Sofia, membuatnya melotot tak percaya. Ini ciuman intim mereka sejak punya bayi. Sebelumnya Nando hanya mencium kening atau pipi Sofia. Apa ini ada hubugannya dengan pembicaraan pabrik susu tadi?
"Sayang...kenapa diam?" bisik Nando tepat diatas bibir istrinya. Dia tau tak ada respon balik dari sang istri yang memang terlihat kaget.
"Balas." bisiknya lalu kembali memulai ciumannya. Nando mulai menekan tengkuk Sofia saat istrinya itu mulai membalas ciumannya.
"Bagaimana jika aku tidak kuat lagi?" desisnya dipenuhi kabut gairah. Menanggapi suaminya yang mulai agresif, Sofia hanya tersenyum simpul. Sebagai seorang dokter dia cukup tau penderitaan suaminya saat ini. Rentang waktu hampir dua bulan tak dapat jatah sejak hamil tua kemarin pasti membuatnya tersiksa dan butuh pelepasan.
"Sayang jawab aku." desisnya sambil menelusuri ceruk leher Sofia dan meninggalkan jejak kemerahan disana. Tangan besarnya juga sudah meraba-raba dada sintal Sofia yang masih dibungkus daster selutut warna pink. Ukurannya yang membesar karena menyusui tentu saja membuat Nando penasaran.
"Apa kau mau mencoba hal lain hubby?" gerakan nakan Nando seketika terhenti. Kedipan manja sang istri membuat hasratnya kembali berkobar dengan nafas tak beraturan.
"Apa itu?"
"Bawa aku ke ranjang kita." dan tanpa menunggu dua kali, Nando sudah membopong tubuh Sofia dan membaringkannya diranjang tanpa melepas tautan bibir keduanya. Handuk yang melingkar dipinggannya juga sudah raib entah kemana hingga Sofia bisa melihat jelas juniornya yang berdiri tegak menantang. Setelahnya hanya jemari dan bibir keduanya yang bergerak saling menyecap dan memuaskan. Yang terdengar hanya deru nafas Fernando yang memburu sebelum sebuah erangan kepuasan meluncur dari bibirnya. Dikecupnya lembut bibir sang istri yang tekena sedikit cairan cintanya.
"Maaf, aku terlambat menariknya." bisiknya sambil tersenyum puas dan memeluk tubuh istrinya penuh cinta.