
"Batalkan semua pemindahan barang inti ke apartemen Lex. Aku dan Sofia akan tinggal dirumahnya. Sebentar lagi kukirimkan alamatnya. Kami akan lebih dulu kesana." perintah Nando pada Alex kala panggilannya tersambung. Sofia tersenyum lebar mendengar keputusan sang suami. Akhirnya Nando bersedia tinggal disana setelah mendengar ceritanya.
Adalah Rosa yang ada dibalik semua ini. Betapa sang sahabat yang merasa khawatir akan kehidupan Sofia dikota besar tanpa siapapun. Hanya teman dan sahabat yang dia punya. Jika dulu Rosa membatunya hingga lulus kuliah, kali ini sahabatnya itu membatunya melihat dan memikirkan masa depannya jika Nando benar-benar menceraikan dirinya atau kala Sofia benar-benar sudah merasa lelah dan menyerah.
Sofia yang awalnya sangat takut berhutang menjadi nekat karena Rosa bersedia memberikan rumah hadiah dari sang papa yang awalnya hendak dia jual karena tak pernah ditempati pada Sofia dengan harga sama saat pembelian dengan cicilan yang sudah mereka sepakati. Rosa hanya tak ingin Sofia merasa sendiri atau hanya mengontrak karena untuk pindah ke desanya semula dia masih butuh waktu. Apalagi dia mengambil spesialis saat ini. Tak mungkin bagi dokter cantik itu untuk pergi dari kota itu sebelum lulus nanti.
"Mas, ayo turun. Taksi online kita akan datang sebentar lagi."
"hah???? taksi?" tanya Nando masih dengan ekapresi bingung dan tak terbaca. Sofia mendekat dan memeluknya.
"Ya. Mulai sekarang kau harus membiasakan diri memakai taksi jika harus kemana-mana mas. Mungkin nanti mobilmu juga akan disit bank juga."
"ehmm..ehhm.." Nando berdehem, menata hatinya lalu menatap istrinya lekat.
"Apa aku saja yang merasa jika kau terlihat bahagia dan bersemangat melihatku jatuh miskin? kau ini sebenarnya istriku atau musuhku Sofia?" ketus Nando. Sejak tadi dia memang melihat Sofia yang begitu antusias membawanya pulang ke rumahnya.
"Kenapa bilang begitu mas? istri mana yang bahagia melihat suaminya bersedih? wanita mana yang tidak menyukai banyak uang? tapi kita bisa apa jika yang maha kuasa sudah mengambil titipannya? harta hanya amanah bagi kita mas. Jika DIA mengambilnya, kita harus ikhlas, tetap bersyukur karena mungkin dengan begitu amanah yang kita pikul akan berkurang. Semangat saja, Tuhan pasti menggantinya dengan yang lebih baik."
"Hmmmmm...."
"Ayo. Nanti kita terlambat." Sofia menarik tangan Nando untuk keluar dari sana.
Beberapa kali Nando mengirimkan pesan pada sekretaris Alex. Entah apa isinya. Sofia tak begitu ambil pusing. Dia hanya fokus pada taksi online yang dipesannya.
Lain Sofia lain pula Fernando. Selain sibuk mengirimkan pesan, pria itu juga beberapa kali memberi isyarat pada pengawalnya untuk menjauh juga memberikan pelototan horor saat ada yang nekat ingin mendekat padanya.
"Mas, apa tidak sebaiknya kita kerumah dulu dan mengambil barang-barang kita? setidaknya kita harus bertemu dan minta maaf pada para pelayan dan pengawal karena terpaksa memberhentikan mereka." usul Sofia saat mereka tiba dilobi hotel.
"Tidak perlu. Alex sudah mengurusnya."
" Kita harus belajar melakukan semuanya sendiri mas. Kau..maaf...sudah pailit, tidak selamanya sekretaris Alex akan membantumu." Nando menoleh kesal. Wajahnya tertekuk sempurna. Menahan marah. Bisa-bisanya dokter cantik itu malah menceramahinya dari tadi. Padahal suasana hatinya sedang tidak baik.
"Kenapa tak kau suruh aku meminta bantuan pada momy dan dad agar usahaku tidak bangkrut hmm?" ketusnya diujung kesal.
" Kenapa? gengsi?" tanyanya dengan nada menyebalkan membuat Sofia jengah dan memutar bola matanya.
"Bukan. Aku hanya tak ingin kau terlihat lemah dan manja mas. Semua orang yang sudah menikah harus mengurus sendiri keluarganya. Jangan bergantung pada orang tua." Sofia kembali menarik halus tangan suaminya, mengajaknya masuk ke taksi yang barusan sampai.
"Kau pikir kita bisa hidup dengan hanya kau yang bekerja? aku hanya akan menganggur dan menambah bebanmu saja. Apalagi kau sedang kuliah dan butuh banyak biaya."
"Stop bersikap pesimis mas. Tangan dan kaki kita genap bukan? Rejeki itu haq Allah. Kehidupan dan rejeki kita sudah dijamin sejak kita belum lahir. Percaya dan berusaha saja mas. Satu lagi..jangan pernah menghawatirkan aku. Sudah biasa bagiku hidup susah." Diam. Hanya itu yang bisa Nando lakukan. Sekarang istrinya yang awalnya hanya diam dan menurut padanya menjadi berani dan berkata panjang lebar. Entah bagaimana mendeskripsikan perasaan Fernando. Tapi sungguh pria itu kembali tersenyum. Hubungan mereka menjadi lebih hidup karena sikap Sofia sekarang.
Taksi membawa mereka sesuai alamat yang tertera. Tepat jam 12 siang saat mereka tiba disana. Benar, rumah itu hanya berjarak beberapa blok dari kediaman keluarga Hutama yang ditempati Bella. Artinya Nando sangat mengenal daerah itu karena sejak kecil ada disana.
Rumah minimalis tipen 36 itu tampak bersih karena berdiri dilahan perumnas yang baru saja dirintis sang developer. Bangunanpun masih terlihat baru dan masih mempunyai sisa tanah disamping kanannya. Nando menggelengkan kepalanya saat tiba dan memasukinya. Rumah itu bahkan hanya berukuran seluas ruang tamu dirumah lamanya. Sang tuan muda mengikuti langkah Sofia kedalam.
Makin kesini dia makin bisa menerima. Walau tak luas, rumah itu sangat rapi dan punya kamar utama yang lumayan besar untuk ukuran rumah sederhana seperti itu. Satu set meja kursi sederhana namun nyaman menghiasi ruang tamu. Masuk kedalam, ada kamar yang langsung menghadap ruang bebas yang juga ada kamar lain disisi kirinya. Kamar mandi dan dapur yang menjadi satu. Ada sisa 2 meteran tanah disisi belakang dan samping kanan yang bisa digunakan menghirup udara sore atau bersantai.
" Lumayan." komentar singkat Nando setelah berkeliling. Sudah ada kulkas dan peralatan masak disana. Terlihat masih baru.
"Apa kau sudah berencana menempati rumah ini dari jauh hari?" Sofia hanya menggeleng singkat.
"Tidak. Aku malah masih mencicil beli beberapa barang saja kalau ada sisa uang."
"Kenapa tak pakai uangku Sofia?"
"Ini keperluanku mas, bukan kepentingan kita."
"Tapi itu juga nafkah dariku. Artinya kau bebas membelanjakannya."
"Nanti saja kalau kau kembali kaya aku akan membelanjakan atau mungkin menghabiskan uangmu sayang." balas Sofia seraya terkekeh geli. Nando yang melihatnya menjadi gemas dan menarik tubuh tinggi semampai itu dalam rengkuhannya, melabuhkan ciuman hangat dibibir merah mudanya.
"Apa aku juga harus kembali kaya untuk menyentuhmu sayang?" bisiknya sensual. Tak menjawab, dokter cantik itu malah mencium bibir Nando agresif. Membuat tuan muda Hutama itu kaget.
"Apa kau menginginkannya sayang." Bisikan itu kembali membuat bulu disekujur tubuh Sofia meremang. Apalagi saat Fernando mulai menelusuri tubuhnya dengan kecupan-kecupan lembutnya.