
Masih terlalu pagi saat ponsel di samping tempat tidur Nando berdering. Sambil menahan kantuk, pria tampan rupawan itu meraihnya dan menempelkannya ditelinga. Sepagi ini jika ada yang berani meneleponnya, itu pasti sesuatu yang darurat.
"Ya Lex."
"Tuan muda, seseorang sudah membakar anak cabang terbesar perusahaan kita hingga ludes. Tak ada bukti ataupun saksi dari kejadian itu, sepertinya mereka melakukannya dengan sangat rapi dan mengkambing hitamkan konsleting listrik di area gudang." lapor Alex tegas. Seketika tubuh Nando menegang. Setelahnya dia hanya diam dan mencerna setiap laporan Alex sambil sesekali mengucek matanya. Sofia yang masih berada di pelukannya bangkit berlahan dan memilih duduk disamping suaminya.
"Bedebah!!" maki Nando dengan kemarahan penuh. Rahangnya mengeras.
"Mereka ingin bermain-main dengan kita tuan."
"Bersikaplah tenang Lex. Jangan membuat gerakan mencurigakan. Segera lapor polisi dan buat seolah-olah kita menderita kerugian yang amat besar. Juga ganti semua data dengan yang tidak falid. Kita harus tau apa motif mereka."
"Baik tuan muda." dan sambungan teleponpun terputus. Nando melirik Sofia yang masih menatapnya lekat.
"Ada apa sayang."
"Hubby...aku tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri seperti dulu. Tapi bisakah kau jujur tentang hal tadi padaku?" ujar Sofia selembut mungkin. Ini masih terlalu pagi untuk bersikap cerewet dan bertanya macam-macam pada suaminya. Nando merengkuhnya dalam pelukan.
"Ada yang membakar gudang kita."
"Aku tau itu. Tapi bisakah kau jelaskan kerugian kita? Ehhmm...itupun jika kau tak keberatan."
"Untuk apa aku keberatan? aku sangat tau jika istriku ini akan selalu menemaniku meski aku menjadi miskin sekalipun. Maafkan aku yang tidak bisa menyebutkan nominalnya sayang. Tapi satu hal yang harus kau tau...suamimu ini tidak akan menjadi miskin karena insiden itu. Jadi tenanglah." Nando memang tak ingin menyebut langsung kerugiaanya, takut Sofia kepikiran. Bayangan nominal bagi wanita sesederhana Sofia dan bagi pengusaha seperti dirinya sungguh jauh berbeda. Jadi sebisa mungkin dia akan tutup mulut.
"Hubby, apa kau punya gambaran tentang siapa pelakunya?"
"Sayang dengar, dunia bisnis itu seperti hukum rimba. Yang kuat yang berkuasa. Aku punya banyak musuh yang akan menyerang dan menjatuhkanku kapan saja. Kau hanya harus berdoa dan percaya padaku." Nando membelai lembut kepala istrinya lalu menyematkan sebuah kecupan dikening wanitanya penuh cinta.
"Kau mau mandi sekarang?" tanya Nando, Sofia mengangguk. Ada baiknya mereka mandi sebelum Rafa bangun. Dirinya yang baru bisa melangkah dua tiga kali juga perlu bantuan suaminya. Sofia tau Nando berada dalam masa sulit, sebisa mungkin dia tidak akan membebaninya.
Berkebalikan dengan sang istri, Nando malah lebih rileks menghadapi masalahnya. Ini nilai positif yang bisa diambil dari diri Fernando. Pria itu selalu tenang dalam menghadapi semua masalah. Dia juga selalu bertindak hati-hati dan berpikir jauh kedepan.
Hingga baby Rafa bangun dan menangis seperti biasa juga dady idaman itu tak menunjukkan emosi berlebihan atau wajah tertekan seperti orang yang dilanda masalah pada umumnya. Dia tetap bermain dan memandikan sang putra seperti biasa, sarapan, dan menikmati kopinya dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Sebagai seorang tuan muda keluarga besar dan memimpin perusahaan raksasa, dia memang dibekali wawasan dan pengendalian diri yang mumpuni.
"Sayang, apa kau keberatan jika hari ini dan besok aku akan ke luar kota mengurus insiden perusahaan?" tanya sang pria dengan wajah datar. Sudah lama Sofia tak melihat ekspresi ini di wajah tampan lelakinya. Sebaik apappun dia menyembunyikan kabar itu dari Sofia, dokter cantik itu tetap bisa membaca dari raut wajahnya jika sang pria tengah dikelilingi banyak pikiran. Sofia menyentuh punggung tangannya.
"Tentu saja tidak hubby. Kau lihat bukan, aku sudah banyak kemajuan. Disini juga banyak orang baik yang menjagaku." hibur Sofia agar suaminya tenang meninggalkannya.
"Aku akan minta Shandy dan Bella mengawasimu."
"Itu tidak perlu mas."
"Sofia dengarkan aku. Kau bukan istri pria biasa. Menargetkan aku berarti juga dirimu dan Rafa ikut terdaftar di dalamnya. Selama aku pergi jangan kemana-mana. Kumohon dengarkan aku Sofia." pinta Nando dengan wajah amat serius. Sofia hanya mengangguk setuju.
"Satu jam lagi."
"ke..kenapa mendadak sekali?" Nando memengang kedua pundak Sofia lembut.
"Makin cepat makin baik Sofia." bisiknya penuh keyakinan.
"Baiklah, aku akan menyiapkan keperluanmu." Sofia baru akan bangkit saat lengan kekar itu sudah menggendongnya masuk ke kamar sementara mereka.
"Hubby, kau selalu saja membuatku kaget." pekiknya, namun ditanggapi tawa sang suami.
"Akan terlalu lama jika aku menunggumu berjalan. Kau harus lebih rajin berlatih selama aku tidak ada. Aku akan sangat merindukanmu sayang." lirihnya sambil menggigit daun telinga istri cantiknya hingga wajahnya berubah memerah. Tentu saja Nando dibuat gemas karenanya.
"Apa boleh aku mengulang yang semalam sayang?" bisiknya sensual sambil terus mengecupi leher dan dada sang istri.
"Hanya dua hari bukan? Setelah kau pulang, aku akan memberi yang kau inginkan. Bersabarlah hubby."
"Bagaimana jika aku tidak tahan sayang?" kali ini wajah Nando berubah cemberut. Sofia tersenyum dan menenangkan bayi besarnya.
"Kau pasti bisa."
"Kau yakin sekali."
"Aku percaya padamu hubby." dan Sofia memeluk lelakinya erat. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga tidak ingin ditinggal walau hanya dua hari saja. Dia yang sudah biasa dengan kehadiran, kasih sayang dan perhatian Nando pasti akan merasa kesepian. Tapi dia juga tak bisa terlalu egois melarangnya pergi.
"Tapi...aku masih boleh menyusukan?" Senyum lebar menghiasi wajah sofia saat suaminya terlihat malu-malu saat mengatakan keinginanya.
"kenapa tertawa?" tanya Nando dengan raut wajah tak berdosa.
"Tidak."
"lalu??" tanyanya lagi penuh harap. Sofia tak menjawab. Dia hanya menunduk dan membuka resleting depan gaunnya, menampakkan dua gundukan kenyal yang membuat Nando menelan ludahnya dengan susah payah.
"Cepatlah, sebelum Rafa menangis dan merebutnya darimu." dan tanpa ba bi bu Nando menyergap dua bongkahan itu dan menghisapnya bergantian hingga puas.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Dalam kesempatan ini author hanya ingin mengucapkan rasa bela sungkawa yang teramat dalam kepada para korban insiden di stadion kanjuruhan yang menewaskan 129 orang yang menjadi sejarah kelam dalam dunia sepak bola Indonesia. Semoga amal ibadah mereka semua diterima oleh Allah SWT dan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, Allahumma amin.